From: donnie123s ludi hasibuan 

The Lost Tomb of Jesus

Sutradara film ternama James Camerron (Titanic, Terminator) telah menyelesaikan 
film dokumenter dan untuk pertama kali ditayangakan di Discovery Channel di 
Amerika Serikat, awal maret lalu. 
(http://dsc.discovery.com/convergence/tomb/tomb.html)

Film dokumenter ini tidaklah mengisahkan tentang kapal Titanic atau penemuan 
Robot dari masa depan. Tapi lebih mengundang kontroversi dikalangan umat 
Nasrani.

Film dokumenter ini berdasarkan buku The Lost Tomb of Jesus ini ditemukan 
sebuah gua yang didalamnya terdapat tulang-tulang manusia yang berusia 2000 
tahun. Tulang ini diduga milik manusia yang bernama Yesus.

Ia tidak menghilang/bangkit dari mati seperti yang dikisahkan dalam Alkitab 
tapi ia diambil dan disembunyikan oleh Maria Magdalena (?). Bahkan yang 
kontroversi adalah ditemukannya tulang anak-anak dalam peti mati dengan tulisan 
Judah Putra Jesus (?).

Film dokumenter ini mulai menuai protes dari kalangan pemuka agam Nasrani, 
seperti cerita fiksi dari Dan Brown, The Da Vinci Code. Dikisahkan kalau Jesus 
menikah dengan Maria Magdalena.

Para ahli arkeologpun beranggapan bahwa The Lost Tomb of Jesus hanyalah isapan 
jempol belaka. Hanya sensasi seperti bukunya Dan Brown. Menggabungkan fiksi si 
pengarang dengan kisah di Alkitab serta naskah Gnostik lainnya.

Sayang film dokumenter ini belum tahu kapan bisa kita saksikan melalui 
tevekabel di Indoensia...
==========================================
From: Parbada Marine Corps 

2 PEMAHAMAN ALKITAB PRIBADI DAN PENAFSIRAN PRIBADI
Kategori: Artikel - Kitab Suci

Orang beranggapan di setiap rumah di Amerika ada Alkitab. Buku yang paling 
laris di Amerika masih tetap Alkitab. Mungkin banyak Alkitab hanya berfungsi 
sebagai dekorasi, atau sebagai tempat menyimpan foto-foto dan mengepres 
bunga-bunga. Juga diletakkan di tempat khusus supaya terlihat oleh pendeta 
yang sedang berkunjung. Karena Alkitab mudah didapat, mudah bagi kita untuk 
melupakan betapa besar pengorbanan di balik kesempatan istimewa memiliki 
Alkitab dalam bahasa kita sendiri, yang dapat kita tafsirkan sendiri.

MARTIN LUTHER DAN PENAFSIRAN PRIBADI
Dua warisan yang kita peroleh dari gerakan Reformasi adalah prinsip penafsiran 
pribadi dan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa setempat. Kedua prinsip tersebut 
bergandengan tangan dan baru diselesaikan setelah dua perdebatan sengit dan 
penganiayaan. Banyak orang menjadi martir dengan menjalani hukuman dibakar 
hidup-hidup (terutama di negeri Inggris) karena berani menerjemahkan Alkitab ke 
dalam bahasa mereka sendiri. Salah satu pencapaian Luther yang terbesar adalah 
terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Jerman sehingga setiap orang yang melek 
huruf dapat membacanya sendiri. Luther sendirilah yang meruncingkan persoalan 
penafsiran Alkitab secara pribadi pada abad ke-16.

Di balik respons Bapak Reformasi itu terhadap penguasa-penguasa gereja dan 
negara di Majelis Worms, sebenarnya terdapat prinsip penafsiran pribadi. 

Pada waktu Luther diminta untuk menarik kembali tulisan-tulisannya, ia 
menjawab, "Kecuali kalau saya diyakinkan oleh Kitab Suci atau oleh alasan yang 
nyata, saya tidak dapat menarik diri. Karena hati nurani saya ditawan oleh 
Firman Tuhan, maka tidak benar dan tidak aman melawan hati nurani itu. Di sini 
saya berdiri. Saya tidak dapat berbuat lain. Tuhan menolong saya." Perhatikan, 
Luther berkata, "kecuali kalau saya diyakinkan..." Pada perdebatan-perdebatan 
yang lebih awal di Leipzig dan Augsburg, Luther telah berani menafsir Alkitab 
berlawanan dengan interpretasi-interpretasi atau penafsiran-penafsiran Paus dan 
majelis-mejelis gereja. Begitu beraninya ia, sehingga dituduh congkak oleh 
pejabat-pejabat gereja. Luther tidak menganggap enteng tuduhan-tuduhan itu, 
melainkan menderita sekali karena mereka. Ia berpendapat ia dapat saja salah, 
namun ia juga bersikeras mengatakan bahwa Paus dan majelis-majelis juga bisa 
salah. Bagi dia hanya satu saja sumber kebenaran yang bebas dari salah. Ia 
berkata, "Alkitab tidak pernah salah." Jadi, kecuali jika pemimpin-pemimpin 
gereja dapat menyakinkan dia mengenai kesalahannya, ia merasa diikat oleh 
kewajiban untuk mengikuti apa yang hati nuraninya diyakinkan oleh ajaran 
Alkitab. Melalui perdebatan ini lahirlah konsep penafsiran pribadi, yang 
langsung dibaptis oleh api.
Setelah deklarasi Luther yang berani dan menyusul karyanya menerjemahkan 
Alkitab ke dalam bahasa Jerman di Wartburg, Gereja Roma Katolik tidak 
tergelimpang mati. Gereja itu memobilisasikan kekuatannya untuk serangan 
balasan seolah-olah dengan tombak berujung tiga. Serangan balasan ini dikenal 
sebagai "Counter Reformation." Salah satu ujung tombak yang ditikamkan adalah 
seperangkat formulasi melawan Protestanisme oleh Konsili Trent. Trent berbicara 
melawan banyak pokok bahasan yang dikemukakan oleh Luther dan tokoh-tokoh 
Reformasi lainnya. Di antara pokok-pokok bahasan itu ada yang mengenai 
penafsiran. Trent berkata; Untuk mengekang semangat-semangat liar, Konsili 
Trent menetapkan bahwa tidak ada seorang pun diperbolehkan menafsirkan secara 
pribadi persoalan-persoalan iman dan moral yang berhubungan dengan pembangunan 
doktrin Kristen. Itu berarti membengkokkan Kitab Suci menurut pemikirannya 
sendiri dan berani melawan penafsiran Gereja Induk Suci (Katolik Roma). Hak 
menafsirkan makna Kitab Suci yang sebenarnya ada pada Gereja Induk Suci, 
meskipun penafsiran itu berlawanan dengan pengajaran yang telah disepakati 
bersama oleh Bapak-bapak gereja. Tidak seorang pun boleh menafsirkan Kitab Suci 
secara pribadi meskipun tafsirannya itu tidak untuk diterbitkan.

Pernyataan itu antara lain berkata bahwa Gereja Katolik Romalah yang 
berkewajiban menguraikan dan menyatakan makna Alkitab serta mengajarkannya. 
Pernyataan Trent ini jelas dirancang untuk melawan prinsip penafsiran pribadi 
pihak Reformasi. Namun jika kita memeriksa pernyataan di atas lebih teliti, 
kita dapat melihat salah pengertian yang serius tentang prinsip Reformasi. 
Apakah tokoh-tokoh Reformasi mengembangkan ide penafsiran liar? 
Apakah penafsiran pribadi berarti bahwa setiap orang berhak menafsirkan Alkitab 
sesuka hatinya, menuruti apa yang cocok dengan dirinya sendiri? Bolehkah orang 
menafsirkan Alkitab dengan cara tidak keruan, tidak konsisten, tanpa kendali? 
Apakah setiap pribadi harus menghargai penafsiran-penafsiran orang lain, 
misalnya yang berspesialisasi dalam mengajar Alkitab? Jawaban-jawaban 
pertanyaan-pertanyaan tersebut jelas. Tokoh-tokoh Reformasi juga berprihatin 
terhadap cara-cara dan sarana-sarana untuk mengekang semangat-semangat liar. 
Ini jugalah salah satu alasan mengapa mereka bekerja giat untuk menjelaskan 
prinsip-prinsip sehat penafsiran Alkitab sebagai pengekangan dan keseimbangan 
menghadapi penafsiran yang fantastis. Tetapi cara mereka berusaha mengekang 
semangat-semangat liar bukanlah dengan menyatakan bahwa pengajaran-pengajaran 
pemimpin-pemimpin gereja tidak bisa salah. Mungkin istilah yang paling penting 
yang muncul dalam deklarasi Trent tersebut ialah kata membengkokkan. Trent 
mengatakan bahwa tidak seorang pun memiliki hak pribadi untuk membengkokkan 
Alkitab. Para Reformasi dengan sebulat hati menyetujuinya. Penafsiran pribadi 
tidak pernah dimaksudkan agar setiap pribadi berhak membengkokkan Alkitab. 
Bersama dengan hak penafsiran pribadi adalah tanggung jawab yang penuh 
kesadaran untuk penafsiran akurat. Penafsiran pribadi memberikan izin menafsir 
tapi tidak memberikan izin membengkokkan Alkitab.

Jika kita melihat kembali pada zaman Reformasi beserta dengan respons kejam 
pihak Inkuisisi (suatu badan milik Gereja Katolik Roma di abad ke-13 untuk 
menyelidiki dan menghukum bidat-bidat) dan penganiayaan-penganiayaan terhadap 
orang-orang yang mengalihbahasakan Alkitab, kita menjadi ngeri. Kita heran 
bagaimana para pemimpin Gereja Katolik Roma dapat begitu jahat menyiksa 
orang-orang karena membaca Alkitab. Namun apa yang sering tidak dilihat dalam 
perenungan historis seperti itu adalah itikad baik orang-orang yang terlibat 
dalam tindakan tersebut. Roma yakin bahwa jikalau Alkitab diletakkan di tangan 
kaum awam yang tidak berpendidikan teologi dan membiarkan mereka menafsir 
Alkitab, maka pembengkokan-pembengkokan atau penyimpangan-penyimpangan besar 
akan terjadi. Hal ini akan menyesatkan domba-domba, mungkin juga akan membawa 
mereka ke neraka kekal.
Jadi untuk melindungi domba-domba supaya jangan memasuki jalan yang membawa 
kepada pemusnahan diri pada akhirnya, Gereja menempuh cara hukuman badan, 
bahkan sampai kepada hukuman mati. Luther menyadari bahaya-bahaya gerakan 
Alkitab di tangan awam, tapi yakin tentang kejelasan Alkitab. Jadi meskipun 
bahaya penyimpangan besar, ia berpendapat bahwa faedah memperlihatkan berita 
dasar Injil yang jelas kepada orang banyak akan pada akhirnya lebih banyak 
membawa orang kepada keselamatan daripada kepada kebinasaan. Luther bersedia 
mengambil resiko mendobrak pintu air yang akan mengakibatkan banjir kesalahan.

Penafsiran pribadi membuka Alkitab untuk kaum awam, tapi tidak membuang 
prinsip pendidikan rohaniwan. Kembali kepada zaman-zaman Alkitab, para 
Reformasi mengakui bahwa dalam praktik dan pengajaran Perjanjian Lama dan 
Perjanjian Baru ada kedudukan penting untuk para rabi (guru), ahli Taurat dan 
pelayanan di bidang pengajaran. Bahwa para guru harus ahli dalam bahasa-bahasa 
asli Alkitab, adat istiadat zaman Alkitab, sejarah suci dan analisis sastra, 
masih menjadi ciri penting gereja Kristen. Doktrin Luther yang terkenal, 
"imamat rajani" sering disalahfahami. Doktrin ini tidak berarti tidak ada 
perbedaan antara rohaniwan dan awam. Doktrin ini hanya menegaskan bahwa setiap 
orang Kristen harus berperan dan berfungsi untuk melangsungkan pelayanan gereja 
secara keseluruhan. Kita semua dipanggil untuk menjadi "Kristus bagi sesama 
kita" dalam pengertian tertentu. Namun ini tidak berarti bahwa gereja tidak 
memiliki gembala-gembala atau guru-guru.
Banyak orang telah dikecewakan oleh gereja yang terorganisasi di zaman 
kebudayaan masa kini. Sebagian di antara mereka bereaksi melampaui batas ke 
arah anarki gereja. Muncul dari revolusi budaya tahun 60-an dengan kedatangan 
"Jesus movement"  (gerakan Yesus) dan gereja "bawah tanah" muncul pada 
slogan-slogan pemuda, "Saya tidak perlu mencari pendeta. Saya tidak mempercayai 
gereja yang terorganisasi ataupun pemerintahan tubuh Kristus yang berstruktur." 
Di tangan orang-orang seperti itu prinsip penafsiran pribadi dapat menjadi izin 
untuk subjektivisme radikal.

OBJECTIVITAS DAN SUBJECTIVITAS 
Bahaya penafsiran pribadi yang besar adalah bahasa subjectivisme dalam 
penafsiran Alkitab masa kini. Bahayanya lebih meluas daripada yang dapat kita 
lihat secara langsung. Saya telah melihat bahaya yang sulit dilihat oleh 
sembarang orang pada waktu saya ikut serta dalam diskusi dan perdebatan 
teologis.

Baru-baru ini saya ikut diskusi panel bersama dengan para ahli Alkitab. Kami 
sedang mendiskusikan pro dan kontra mengenai Perjanjian Baru tertentu yang 
makna dan penerapannya mengundang perdebatan. Dalam pernyataan pembukaannya, 
seorang ahli Perjanjian Baru berkata, "Saya berpendapat bahwa kita harus 
terbuka dan jujur mengenai bagaimana metode pendekatan kita terhadap Perjanjian 
Baru. Pada analisis terakhir kita akan membacanya seperti apa yang kita ingin 
baca. Itu tidak menjadi soal." Hampir saya khawatir salah dengar. Saya begitu 
kaget sehingga tidak membantahnya.

Keterkejutan saya bercampur dengan perasaan kesia-siaan dalam mengusahakan 
kemungkinan bertukar pendapat yang cukup berarti. Jarang sekali mendengar ahli 
yang menyatakan prasangkanya begitu terang-terangan di depan umum. Kita semua 
mungkin bergumul melawan kecenderungan yang berdosa melawan keinginan membaca 
Alkitab sesuai dengan keinginan kita, namun saya harap kita tidak selalu 
memakai cara itu. Saya percaya ada sarana-sarana yang tersedia bagi kita untuk 
mengekang kecenderungan itu.

Pada tingkat umum, kemudahan untuk menerima semangat subjectivisme penafsiran 
Alkitab ini juga sama lazimnya. Sering terjadi, setelah saya selesai membahas 
makna suatu pasal, orang mendebat pernyataan saya dengan mengatakan, "Ah, itu 
kan pendapatmu." Komentar itu menunjukkan apa? 
Pertama, jelas sekali bagi semua orang yang hadir di situ bahwa tafsiran yang 
saya kemukakan adalah pendapat saya sendiri. Saya hanya seseorang yang baru 
saja mengemukakan pendapat. Tetapi bukan demikian pendapat orang lain. 
Kedua, mungkin komentar itu menunjukkan perdebatan tanpa suara dengan memakai 
asosiasi yang salah. Dengan cara menunjuk bahwa pendapat yang saya kemukakan 
itu hanya pendapat saya sendiri, mungkin orang tersebut merasa bahwa itu saja 
yang diperlukan untuk mendebat, karena setiap orang beranggapan sama mengenai 
saya meskipun tidak dikatakan, yaitu begini: apa saja pendapat yang ke luar 
dari mulut R.C. Sproul pasti salah karena ia tidak pernah dan tidak akan pernah 
betul. Betapapun bermusuhannya mereka terhadap pendapat-pendapat saya, saya 
tidak yakin bahwa itulah yang mereka maksudkan ketika mereka berkata, "Ah, itu 
kan pendapatmu." Saya kira alternatif yang paling mungkin dapat digambarkan 
dengan kata-kata ini, "Itu penafsiranmu yang baik untukmu saja. Saya tidak 
menyetujuinya, tetapi tafsiran saya sama absahnya.

Meskipun tafsiran-tafsiran kita bertentangan, keduanya mungkin betul. Apa yang 
saya sukai itu betul bagi saya dan apa yang saya sukai itu betul bagimu." 
Inilah 
subjektivisme. Subjektivisme tidak sama dengan subjektivitas. Mengatakan 
bahwa kebenaran memiliki elemen subjektif, lain daripada mengatakan bahwa 
kebenaran itu sepenuhnya subjektif. Supaya kebenaran atau kepalsuan dapat 
bermakna untuk hidup saya, haruslah diterapkan kepada hidup saya dengan cara 
tertentu. Pernyataan, "Hujan turun di tempat itu" pada kenyataannya boleh benar 
secara objektif, tetapi tidak relevan dengan hidup saya. Saya baru dapat 
melihat 
relevansinya, misalnya, kalau ditunjukkan bahwa hujan itu begitu derasnya 
sehingga banjir dan merusakkan sawah ladang saya di dekat situ yang baru saja 
saya tanami. Baru waktu itu pernyataan itu mempunyai relevansi subjektif dengan 
hidup saya.
Pada waktu kebenaran suatu proposisi memukul dan mencekam saya, barulah 
persoalannya menjadi subjektif. Penerapan teks Alkitab kepada kehidupan saya 
mungkin bernada sangat subjektif. Tapi ini bukan yang kita maksudkan dengan 
subjektivisme. Subjektivisme terjadi jikalau kita membengkokkan makna objektif 
istilah-istilah supaya cocok dengan minat-minat kita sendiri. Mengatakan, 
"Hujan 
turun di tempat itu" mungkin tidak berelevansi dengan hidup saya di sini, 
tetapi 
perkataan itu tetap bermakna. Perkataan itu bermakna bagi kehidupan manusia di 
sana, bagi tanaman-tanamannya dan binatang-binatangnya.

Subjektivisme terjadi apabila kebenaran suatu pernyataan tidak hanya diperluas 
atau diterapkan pada subjeknya, tetapi apabila kebenaran itu secara mutlak 
ditetapkan oleh subjeknya. Jika kita ingin menghindarkan diri dari pembengkokan 
atau penyimpangan Alkitab dari awal kita sudah harus menghindari subjektivisme.

Dalam usaha memahami Alkitab secara objektif, kita tidak dapat menciutkan 
Alkitab menjadi sesuatu yang dingin, abstrak dan mati. Yang harus kita lakukan 
adalah berusaha memahami apa yang dikatakan olehnya di dalam konteksnya sebelum 
kita melaksanakan tugas yang sama pentingnya, yaitu menerapkan pada diri kita 
sendiri. Suatu pernyataan tertentu boleh saja mempunyai kemungkinan adanya 
sejumlah penerapan-penerapan pribadi, tetapi pernyataan itu hanya dapat 
memiliki satu arti saja yang benar. Penafsiran-penafsiran yang berlain-lainan 
yang saling kontradiksi dan tidak dapat disatukan, tidak mungkin benar, kecuali 
kalau Tuhan berbicara dengan lidah bengkok. Kita akan membahas persoalan 
kontradiksi dan makna tunggal pernyataan-pernyataan secara lebih lengkap 
belakangan.

Namun sekarang ini kita membahas penetapan sasaran-sasaran penafsiran 
Alkitab yang sehat. Sasaran pertama ialah kepada makna Alkitab yang objectif 
dan menghindari perangkap-perangkap pembengkokan yang disebabkan oleh 
membiarkan penafsiran-penafsiran dikuasai oleh subjektivisme.

Ahli-ahli Alkitab membuat perbedaan penting antara apa yang mereka sebut 
sebagai eksegesis dan eisogesis. Eksegesis berarti menerangkan apa yang 
dikatakan oleh Alkitab. Kata itu berasal dari kata Yunani yang berarti, 
"memimpin ke luar." Kunci kepada eksegesis ada pada awalan "eks" yang berarti 
"dari" atau "ke luar dari". Melakukan eksegesis kepada Alkitab berarti 
mengeluarkan makna yang terdapat pada kata-katanya, tanpa ditambahi dan tanpa 
dikurangi. Sebaliknya kata eisogesis berasal dari akar kata yang sama, tetapi 
dengan awalan yang berlainan. Awalan eis, juga berasal dari bahasa Yunani yang 
berarti "ke dalam". Jadi, eisogesis menyangkut memasukkan ide sendiri ke dalam 
teks yang sebenarnya sama sekali tidak terdapat dalam kata-kata teks tersebut. 
Eksegesis adalah usaha yang objektif. Eisogesis menyangkut praktik 
subjektivisme.

Kita semua harus bergumul dengan problem subjektivisme. Alkitab sering 
mengatakan hal-hal yang tidak ingin kita dengar. Dalam hal ini kita dapat 
menutup telinga dan mata kita. Jauh lebih mudah dan jauh lebih tidak 
menyakitkan untuk tidak mengkritik Alkitab daripada dikritik oleh Alkitab. 
Tidak heran Yesus sering menutup pembicaraan-Nya dengan, "Siapa mempunyai 
telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" (Luk. 8:8; 14:35).

Subjektivisme tidak saja menghasilkan kesalahan dan penyimpangan, tetapi juga 
kesombongan. Mempercayai apa yang saya percayai hanya karena saya mempercayai 
nya, atau mempertahankan kebenaran pendapat saya hanya karena itu adalah 
pendapat saya, adalah contoh kesombongan. Jikalau pandangan-pandangan saya 
tidak dapat lulus ujian analisis subjektif dan pembuktian, kerendahan hati 
menuntut supaya saya meninggalkan pandangan itu. Seorang penganut subjektivisme 
memiliki kesombongan untuk mempertahankan pendapatnya tanpa dukungan atau 
bukti-bukti objektif. 
Perkataan, "jika kau ingin mempercayai apa yang kau percayai, baiklah. Saya 
akan ingin mempercayai apa yang saya percayai," kedengarannya hanya rendah hati 
di kulit saja.

Pandangan-pandangan pribadi harus dinilai dengan bukti dan pendapat di luar 
karena kita cenderung membawa kelebihan bobot kepada Alkitab. Tidak ada 
seorang pun di bumi ini yang memiliki pengertian tentang Alkitab dengan 
sempurna. Kita semua berpegang pada pandangan-pandangan dan menyukai ide-ide 
yang bukan dari Tuhan. Mungkin jika kita tahu secara tepat pandangan-pandangan 
kita yang mana yang salah itu sulit. Jadi pandangan-pandangan kita memerlukan 
peralatan yang dapat mengeceknya, yaitu berupa riset dan keahlian orang-orang 
lain.

PERANAN GURU
Dalam gereja-gereja Reformed pada abad ke-16 diadakan perbedaan antara dua 
macam tua-tua: tua-tua pengajar dan tua-tua pengatur. Tua-tua pengatur 
dipanggil untuk memerintah dan mengurus persoalan-persoalan jemaat. Tua-tua 
pengajar, atau gembala-gembala, terutama bertanggung-jawab untuk mengajar dan 
melengkapi orang-orang suci untuk pelayanan.

Kira-kira dekade terakhir ini mengalami waktu yang luar biasa dalam pembaruan 
di banyak tempat. Organisasi-organisasi para gereja (organisasi-organisasi 
Kristen yang tidak dapat disebut gereja tetapi menjalankan aktivitas-aktivitas 
yang sejajar dengan gereja) telah berbuat banyak untuk memulihkan fungsi 
penting kaum awam bagi gereja lokal. Konperensi-konperensi pembaruan kaum awam 
sudah umum. Penekanannya tidak lagi pada pengkhotbah-pengkhotbah besar, tapi 
pada program-program besar untuk dan oleh kaum awam. Ini bukan zaman untuk 
pengkhotbah besar, tetapi zaman untuk jemaat besar.

Salah satu perkembangan penting gerakan pembaruan kaum awam ialah 
munculnya sejumlah kelompok pemahaman Alkitab kecil-kecil yang dilaksanakan 
di rumah-rumah tangga. Di sini suasana keakraban dan informalitas terasa. Orang-
orang yang dengan cara lain di tempat lain tidak akan tertarik kepada Alkitab 
di 
sini maju dalam hal mempelajari Alkitab. Dinamika kelompok dalam bentuk kecil 
pada dasarnya merupakan kunci untuk membuka hati kaum awam. Kaum awam 
saling mengajar atau mengumpulkan ide-ide mereka sendiri dalam 
kelompok-kelompok pemahaman Alkitab seperti itu. Kelompok-kelompok seperti itu 
telah berhasil membarui gereja. Mereka akan lebih berhasil waktu mereka makin 
ahli memahami dan menafsir Alkitab. Bahwa orang mulai membuka Alkitab dan 
mempelajarinya bersama-sama adalah hal yang luar biasa besar. Tetapi ini juga 
sangat berbahaya.

Mengumpulkan pengetahuan membangun gereja. Mengumpulkan ketidaktahuan 
merusak gereja dan menunjukkan problem orang buta memimpin orang buta. 
Meskipun kelompok-kelompok kecil pemahaman Alkitab di rumah-rumah tangga 
dapat menjadi sarana sangat efektif untuk pembaruan gereja dan perubahan 
masyarakat, ada waktunya mereka harus menerima pengajaran sehat dari pihak 
yang dapat dipertanggungjawabkan. Saya tetap yakin bahwa gereja memerlukan 
rohaniwan yang telah terdidik. Studi pribadi dan interpretasi pribadi harus 
diimbangi oleh kebijaksanaan guru-guru secara kolektif. Jangan salah paham. 
Saya tidak memanggil gereja untuk kembali pada situasi pra-Reformasi waktu 
Alkitab ditawan oleh para rohaniwan. Saya bergembira melihat orang mulai 
mempelajari Alkitab secara berdikari. Dengan demikian darah para martir tidak 
percuma tumpah. Tapi saya ingin mengatakan bahwa orang awam itu bijaksana kalau 
mengadakan pemahaman Alkitab yang tidak lepas dari otoritas gembala-gembala 
atau guru-guru mereka. Kristus sendirilah mengaruniai gereja-Nya dengan karunia 
mengajar. Karunia itu dan jawatan itu harus dihormati kalau umat Kristus ingin 
menghormati Kristus.

Penting bagi para guru untuk mendapatkan pendidikan yang memadai. Sudah 
barang tentu kadangkadang muncul guru-guru yang meskipun tidak mendapatkan 
pendidikan formal, namun memiliki wawasan ke dalam Alkitab yang luar biasa. 
Namun orang-orang seperti itu jarang sekali. Lebih sering kita menghadapi 
problem dari orang-orang yang mengaku dirinya guru tapi sama sekali tidak 
berkualitas mengajar. Seorang guru yang baik harus memiliki pengetahuan yang 
sehat dan keahlian-keahlian yang diperlukan untuk menguraikan bagian-bagian 
Alkitab yang sulit. Di sini diperlukan penguasaan bahasa asli, sejarah dan 
teologi, bahkan amat diperlukan.

Jika meneliti sejarah orang Yahudi zaman Perjanjian Lama, kita melihat bahwa 
ancaman yang paling keras dan terus menerus adalah ancaman dari pihak nabi atau 
guru palsu. Israel lebih sering jatuh ke dalam kekuasaan guru pembohong yang 
membujuk mereka daripada jatuh ke dalam tangan orang Filistin. Perjanjian Baru 
menyaksikan problem yang sama dalam Gereja Kristen awal. Nabi palsu itu seperti 
gembala upahan yang hanya berminat kepada upahnya sendiri daripada kepada 
kesejahteraan domba-domba nya. Tidak semua bermaksud menyesatkan umat Tuhan, 
atau memimpin mereka untuk berbuat kesalahan atau kejahatan. Banyak yang 
melakukannya karena tidak tahu. Kita harus lari dari pemimpin-pemimpin yang 
tidak berpengetahuan dan tidak berpikir panjang.

Sebaliknya, salah satu berkat besar bagi Israel ialah waktu Tuhan mengutus 
kepada mereka nabinabi dan guru-guru yang mengajar mereka sesuai dengan 
pikiran Tuhan. Dengarlah peringatan yang sungguh-sungguh yang Tuhan 
sabdakan kepada nabi Yeremia: "Aku telah mendengar apa yang dikatakan oleh 
para nabi, yang bernubuat palsu demi nama- Ku dengan mengatakan: Aku telah 
bermimpi, aku telah bermimpi! Sampai bilamana hal itu ada dalam hati para nabi 
yang bernubuat palsu dan yang menubuatkan tipu rekaan hatinya sendiri, yang 
merancang membuat umat -Ku melupakan nama-Ku dengan mimpi-mimpinya 
yang mereka ceritakan seorang kepada seorang, sama seperti nenek moyang 
mereka melupakan nama-Ku oleh karena Baal? Nabi yang beroleh mimpi, biarlah 
menceritakan mimpinya itu, dan nabi yang beroleh firman-Ku, biarlah 
menceritakan 
firman-Ku itu dengan benar! Apakah sangkut-paut jerami dengan gandum? 
demikianlah firman TUHAN. Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman 
TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?" (Yer. 23:25-29).

Dengan perkataan penghakiman seperti ini, tidak heran kalau Perjanjian Baru 
mengingatkan, "Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau 
menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut 
ukuran yang lebih berat" (Yak. 3:1). Kita membutuhkan guru-guru yang memiliki 
pengetahuan sehat dan hatinya tidak melawan Firman Tuhan. Pemahaman Alkitab 
pribadi adalah sarana anugerah yang sangat penting bagi orang Kristen. Itu 
adalah hak istimewa dan kewajiban kita semua. Dalam anugerah-Nya dan 
kebaikan-Nya kepada kita, Tuhan tidak saja menyediakan guru-guru yang 
berkarunia dalam gereja -Nya untuk menolong kita. Ia juga menyediakan Roh 
Kudus-Nya sendiri untuk menerangi Firman-Nya dan untuk menunjukkan 
penerapan-Nya kepada kehidupan kita. Tuhan memberkati pengajaran sehat dan 
studi yang rajin.

Dikutip dari buku: Mengenali Alkitab
Oleh: R.C. Sproul
Penerbit: Seminari Alkitab Asia Tenggara 
Halaman 26-39

Sent by: Parbada Marine Corps

Kirim email ke