>From : Dewi 

Baju Compang-camping Sang Pengemis 

Seorang pengemis tinggal dekat istana raja. Suatu hari, ia melihat pengumuman 
dipasang di luar gerbang istana. Raja mengadakan suatu perjamuan besar. Siapa 
saja yang berpakaian kerajaan diundang ikut serta dalam perjamuan. 

Si pengemis pergi dengan sedih. Ia memandang baju compang-camping yang 
dikenakannya dan mendesah. Tentu saja hanya para raja dan keluarga kerajaan 
yang mengenakan jubah kerajaan, begitu pikirnya. Sekonyong-konyong suatu ide 
muncul di benaknya. Memikirkannya saja telah membuat tubuhnya gemetar. 
Beranikah ia? 

Si pengemis kembali ke istana. Ia menghampiri penjaga gerbang istana. Tolong 
saya, pak, saya mohon bicara dengan Sri Baginda.Tunggulah di sini, jawab 
penjaga. Beberapa menit kemudian ia telah kembali. Sri Baginda berkenan 
menemuimu, demikian katanya, lalu menghantar si pengemis masuk.   

Kamu ingin menemuiku? tanya raja. Ya, Tuanku raja. Hamba begitu ingin ikut 
serta dalam perjamuan yang Tuanku selenggarakan, tetapi hamba tidak memiliki 
jubah kerajaan untuk dikenakan pada perjamuan tersebut. Sudilah Tuanku, maafkan 
kelancangan hamba, sudilah Tuanku memberikan kepada hamba salah satu jubah 
usang Tuanku, sehingga hamba dapat datang ke perjamuan. 

Tubuh sang pengemis bergetar begitu hebat hingga ia tak sempat melihat sekilas 
senyum di wajah sang raja. Engkau sungguh bijaksana datang kepadaku, kata raja. 
Raja memanggil putranya, sang pangeran. Ajaklah ia ke kamarmu dan berilah ia 
pakaian dari pakaianmu. 

Pangeran melakukan apa yang diperintahkan ayahnya dan segera saja sang pengemis 
telah berdiri di depan sebuah cermin, mengenakan jubah yang tak berani ia 
berharap untuk memilikinya. Sekarang engkau layak ikut ambil bagian dalam 
perjamuan raja esok malam, kata pangeran. Tetapi, yang lebih penting dari itu, 
engkau tidak akan pernah memerlukan baju lagi. Jubah yang engkau kenakan itu 
akan tahan untuk selamanya. Sang pengemis jatuh tersungkur, Oh, terima kasih, 
serunya. 

Tetapi, sementara ia pergi meninggalkan kamar, terlihat olehnya tumpukan baju 
dekilnya di atas lantai. Ia ragu-ragu. Bagaimana jika yang dikatakan pangeran 
itu tidak benar? Bagaimana jika ia membutuhkan baju lamanya lagi? Segera 
dipungutnya baju compang-campingnya. 

Perjamuan itu jauh lebih mengagumkan daripada yang dapat dibayangkannya. Namun 
demikian, ia tak dapat menikmati perjamuan seperti seharusnya. Ia telah 
menggulung baju compang-campingnya menjadi suatu buntalan, dan buntalan itu 
berkali-kali jatuh dari pangkuannya. Hidangan berlalu cepat dan sebagian 
hidangan paling lezat itu terlewatkan olehnya. 

Waktu membuktikan bahwa pangeran benar. Jubah pemberian pangeran tahan untuk 
selamanya. Tetapi, tetap saja pengemis yang malang itu merasa sayang untuk 
membuang baju compang-campingnya. Dengan berlalunya waktu, orang mulai lupa 
akan jubah kerajaan yang dikenakan nya. Mereka hanya melihat buntalan baju 
compang-camping yang ia bawa kemanapun ia pergi. Mereka bahkan menyebutnya 
sebagai pak tua dengan baju compang-camping. 

Suatu hari, sementara ia terbaring mendekati ajalnya, raja mengunjunginya. Si 
pengemis melihat wajah sedih raja ketika raja melihat buntalan dekil baju 
compang-camping di sisi pembaringan nya. Tiba-tiba teringatlah sang pengemis 
akan ucapan pangeran dan ia menjadi sadar bahwa buntalan dekil itu telah 
membuatnya kehilangan kesempatan menikmati kerajaannya yang sebenarnya 
sepanjang hidupnya. Ia pun menangis pilu mengingat kebodohannya. 

Dan raja ikut menangis bersama dia. 
Kita telah diundang masuk ke dalam keluarga kerajaan - yaitu kerajaan Allah. 
Agar dapat ikut ambil bagian dalam perjamuan Tuhan, yang perlu kita lakukan 
hanyalah menanggalkan baju lama kita dan mengenakan baju baru iman yang telah 
disediakan oleh Putra Allah, Yesus Kristus. 

Namun demikian, kita tidak dapat menahan terus baju lama kita. Ketika kita 
mengenakan iman akan Kristus, kita harus melepaskan dosa-dosa dalam hidup kita 
dan cara hidup kita yang lama. Yang lama harus ditinggalkan, jika kita rindu 
menikmati kerajaan yang sejati dan hidup berlimpah dalam Kristus.   

sumber : The Beggar's Rags; author unknown 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: 
diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya 
============================================
>From : Dewi P 

GOD NEVER LEAVE US

Ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara yang unik untuk mendewasa 
kan anak laki-laki dari suku mereka. Jika seorang anak laki-laki tersebut 
dianggap sudah cukup umur untuk di dewasakan, maka anak laki-laki tersebut akan 
di bawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata 
tertutup.

Anak laki-laki tersebut di bawa jauh menuju hutan yang paling dalam.
Ketika hari sudah menjadi sangat gelap, tutup mata anak tersebut akan dibuka, 
dan orang yang menghantarnya akan meninggalkannya sendirian. Ia akan dinyatakan 
lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam suku tersebut jika ia tidak 
berteriak atau menangis hingga malam berlalu.

Malam begitu pekat, bahkan sang anak itu tidak dapat melihat telapak tangannya 
sendiri, begitu gelap sehingga ia begitu ketakutan. Hutan tersebut mengeluarkan 
suara-suara yang begitu menyeramkan, auman serigala, bunyi dahan bergemerisik, 
dan ia semakin ketakutan, tetapi ia harus diam, ia tidak boleh berteriak atau 
menangis, ia harus berusaha agar ia lulus dalam ujian tersebut.

Satu detik bagaikan berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun, ia tidak 
dapat melelapkan matanya sedetikpun, keringat ketakutan mengucur deras dari 
tubuhnya.

Cahaya pagi mulai tampak sedikit, ia begitu gembira, ia melihat sekelilingnya, 
dan kemudian ia menjadi begitu kaget, ketika ia mengetahui bahwa ayahnya 
berdiri tidak jauh dibelakang dirinya, dengan posisi siap menembakan anak 
panah, dengan golok terselip dipinggang, menjagai anaknya sepanjang malam, 
jikalau ada ular atau binatang buas lainnya, maka ia dengan segera akan 
melepaskan anak panahnya, sebelum
binatang buas itu mendekati anaknya sambil berdoa agar anaknya tidak berteriak 
atau menangis.

Dalam mengarungi kehidupan ini, sepertinya Tuhan "begitu kejam" melepaskan 
anak-anakNya kedalam dunia yang jahat ini. Terkadang kita tidak dapat melihat 
penyertaan Nya, namun satu hal yang pasti Tuhan setia, Tuhan mengasihi kita, 
dan Tuhan selalu berjaga-jaga bagi kita.

God is too wise to be mistaken.
God is too good to be unkind
So,
When you don't understand 
When you can't see God plan 
When you can't see God way
TRUST on GOD HEART
===================================================
Album Rohani Djaduk Ferianto: Mengkhianati Natal
Jumat, 05-01-2007 17:17:39 oleh: aloysius weha 
Kanal: Gaya Hidup 
Benar! Album baru musisi G. Djaduk Ferianto berjudul DIA SUMBER GEMBIRAKU 
benar-benar mengkhianati Natal. Lagu-lagu Natal yang milik orang Kristiani, 
dengan seenaknya dinyanyikan oleh Trie Utami, seorang penyanyi Muslim.

Benar! Mengkhianati Natal! Lagu-lagu gerejani yang suci digubah seenak udelnya 
oleh Djaduk Ferianto dengan penafsiran baru. Tiba-tiba ada yang mendadak 
dangdut, etnik, pop, keroncong, blues, jazz, dan sebagainya.

Benar! Mengkhianati Natal! Tapi itu kalau Anda memandangnya secara picik, 
fundamentalis, konservatif, dan kuno, seperti Farisi menafsir Yesus. Dengan 
cara pandang baru, justru Djaduk cs menghadirkan Natal dalam situasi yang 
kongkrit. 

Dan kalau Anda tergoda membelinya, keuntungannya bukan untuk menambah perutnya 
Djaduk cs yang sudah buncit, tapi untuk para korban gempa di Jawa Tengah dan 
Jogjakarta beberapa waktu lalu.

Saya mencari-cari CD ini sejak pertama kali mendengar Djaduk meluncurkan album 
itu. Tapi ternyata susahnya minta ampun. Ketika libur Natal di Jogja pun, saya 
mencarinya ke sana ke mari dengan harapan mendapatkan yang diidamkan itu. Nihil 
juga.

Ketika Natal sudah lewat dan tahun baru sudah menyingsing, seorang office boy 
kantor membawakan kotak bersampul biru berpita putih. Sudah ditebak isinya 
pasti CD. Tapi ketika dibuka isinya CD itu, Natal seolah hadir kembali. CD 
kiriman seorang sahabat baik itu benar-benar kado Natal paling indah yang 
pernah aku dapat. Kenapa? Dicari-cari tak ketemu, tak dinyana ia tiba di depan 
mata.

Di hari itu juga, kukontak sahabat si pemberi CD itu dan ia bercerita, betapa 
susahnya mencari CD itu. Ia mendapatkannya di mana? Di Centro! Kenapa CD itu 
hanya di situ? Karena Centro menjadi sponsor dari pembuatan CD itu (ini dugaan 
saya karena logo Centro ada di sampul CD). 

Album ini sendiri berisi 11 lagu, baik lagu jenis londo, jowo, bajawa, dan 
indonesia, yang digubah indah oleh Djaduk cs. Mulai dari Hark the Herald Angels 
Sing hingga Jinggle Bells, di tengahnya kita bisa temuka Ndherek Dewi Maria 
atau instrumentalia Tuhan Sumber Gembiraku, yang sekaligus menginspirasi judul 
album ini. 

Dan baru seminggu tahun baru lewat, tiba-tiba Natal datang lagi tatkala CD itu 
berputar di komputer kantor. Benar-benar membuat suasana Natal terkhianati, 
lantaran hadir setelah tahun baru lewat. Ya, terkhianati! Dengan indah tentu 
saja!

Sumber: www.wikimu.com

Kirim email ke