From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 16 -- Hati yang Luka
PENGANTAR
Bagaikan mata uang logam yang memiliki dua sisi, begitulah apa yang
dapat dirasakan oleh manusia selama masih hidup di dunia ini. Ada
yang baik, ada yang buruk. Ada suka, ada juga duka. Mungkin bagi
kita akan terasa mudah dalam menghadapi sisi yang kita anggap baik,
yang indah, dan akan terasa berat ketika menghadapi sisi yang kita
anggap buruk. Seperti kisah berikut ini yang menceritakan tentang
seorang ibu yang merasa kehilangan ketika anaknya harus pulang
selamanya ke rumah Bapa di surga dan tentang Allah yang senantiasa
menyertai langkah hidupnya. Mari kita simak.
Pimred KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
HATI YANG LUKA
==============
"Ibu, apakah orang lain yang melihat mukaku akan ngeri?" kata-kata
itu terlontar dari mulut anak laki-laki kesayanganku, yang mengalami
kanker rongga mulut dan telah meninggalkan aku untuk selama-lamanya.
Pertanyaan itu keluar pada saat ia mau keluar rumah dan melangkah
ragu karena menyadari keadaannya.
Ia pernah menjalani operasi terapi sinar dan minum obat untuk
memperingan sakitnya yang membawa banyak perubahan pada fisik dan
menyebabkan garis-garis luka pada wajahnya. Dengan menahan perasaan
dan air mata, aku menepuk-nepuk pundaknya dan dengan setengah
bercanda aku berkata, "Tidak sayang, kamu masih kelihatan sangat
tampan!" Kata-kata yang memberikan penghiburan dan semangat bagi
dia untuk berani melangkah keluar rumah bersamaku ke supermarket.
Pemuda yang bertubuh atletis, tampan dan menyenangkan, dengan
pekerjaan yang bagus, tetapi harus bergumul dengan penyakit yang
mengharuskan dia menderita secara lahir dan batin. Ia memiliki
teman, orang tua, adik, sanak famili, dan istri yang sangat
mencintai dan memerhatikannya. Ia memperoleh kehangatan, simpati,
perawatan dalam penderitaannya, walaupun ia tidak pernah menyatakan
keluh kesahnya pada orang lain.
Adakalanya anak lelakiku itu membuat kue untuk menyambut teman yang
datang mengunjunginya, memasak untuk istrinya yang pulang dari
kerja. Kasih mesra dengan istrinya tidak pernah terpengaruh oleh
kondisi tubuh yang sakit melainkan mereka bersama-sama menghadapi
penyakit yang dideritanya, walaupun akhirnya ia harus meninggalkan
aku dan istrinya untuk pulang ke rumah Bapa di surga.
Kepergian anak yang kusayangi meninggalkan luka yang sangat mendalam
dalam hatiku, tidak ada orang yang dapat menyelami perasaanku itu.
Aku pernah bertanya, "Bagaimana mungkin Tuhan tega memetik bunga
yang baru mekar itu?" dan "Mengapa Tuhan memberikan pencobaan itu
padaku?" Kesedihan itulah yang membuat aku marah pada Tuhan dan
beberapa tahun lamanya aku menjauhkan diri dari Tuhan.
Setelah sekian lama aku mengalami kesedihan, akhirnya aku sadar
bahwa Tuhan memiliki tujuan terhadap apa yang terjadi pada
orang-orang pilihan-Nya dan aku dapat menjadi lebih bersyukur dalam
penderitaan. Aku teringat peristiwa yang mengharuskanku membawa
seluruh keluargaku percaya pada Tuhan dan menerima dia sebagai Juru Selamat.
Aku teringat suatu sore tahun 1985; seusai pulang kerja aku naik bus
dan setelah sampai tujuan aku turun, tatkala menyeberang jalan ada
truk dengan kecepatan tinggi menerjang aku tanpa aku sempat
menghindar. Aku hanya bisa berkata, "Tamatlah riwayatku!" Tapi
sungguh mengherankan dalam keadaan yang sangat kritis tiba-tiba truk
itu berhenti. Meskipun demikian truk itu sempat menyenggol tangan
kananku dan mengakibatkan luka-luka ringan. Aku bersyukur atas
perlindungan Tuhan yang tepat waktu sehigga aku terhindar dari
kematian. Sesampai di rumah, kami sekeluarga mengucap syukur atas
perlindungan Tuhan. Sejak itu, timbul pemikiran bahwa anak
laki-lakiku dan istrinya serta anak perempuanku belum percaya pada
Tuhan, sedangkan aku dan suamiku sudah percaya pada Tuhan. Aku
berpikir, seandainya aku meninggal dalam kecelakaan itu, bagaimana
aku punya muka untuk bertemu muka dengan Tuhan? Padahal waktu itu
dokter telah menemukan penyakit yang diderita anakku.
Aku semakin bersungguh-sungguh berdoa agar Roh Kudus bekerja di
tengah-tengah keluargaku sehingga satu persatu keluargaku percaya
kepada Tuhan. Aku memohon agar Tuhan menolong supaya pada masa tuaku
dapat memberitakan kuasa Tuhan kepada semua orang. Aku ingat
menjelang hari Natal, aku meminta tolong seorang pendeta untuk
membelikan dua Alkitab sebagai hadiah Natal bagi kedua anakku.
Pendeta menasihatkan supaya aku banyak berdoa memohon bimbingan Roh
Kudus agar anakku mengenal kebenaran.
Aku sungguh bersyukur pada Allah yang menyayangi hamba-Nya dan Roh
Kudus yang telah bekerja. Karena tidak lama kemudian anak
perempuanku dan pacarnya bukan hanya ikut kebaktian, tapi juga
menerima baptisan. Sedangkan anak lelakiku yang sedang gawat karena
kanker rongga mulut -- segala pengobatan yang telah dilakukan
tidak dapat meringankan penyakitnya, Tuhan membuka mata hatinya
sehingga mau menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadinya.
Dan yang sangat menggembirakan, istrinya pun ikut percaya sehingga
mereka bersama-sama menerima baptisan kudus.
Luka hati yang sangat dalam karena ditinggalkan seseorang yang kita
cintai, tidak akan mudah untuk dilupakan. Tapi aku yakin bahwa Allah
yang aku percaya akan selalu berada di sampingku, memimpin dan
melindungi sepanjang hidupku yang penuh kelelahan dan penderitaan.
Bahan diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Jalan Tuhan Terindah
Judul artikel: Hati yang Luka
Penulis : Pdt. Paulus Daun, M. Div, Th. M
Penerbit : Yayasan Daun Family Manado
Halaman : 3 -- 6
______________________________________________________________________
"Benarlah perkataan ini:
'Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia'" (2 Timotius
2:11)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=2Tim+2:11 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Bersyukurlah kepada Tuhan yang telah memilih dan memanggil kita
untuk menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus.
2. Berdoalah bagi mereka yang belum pernah mendengar berita
keselamatan, supaya Tuhan menyayangkan jiwa mereka dan memberi
kesempatan kepada mereka untuk mendengarnya melalui hamba-hamba
Tuhan, para penginjil yang Tuhan kirim.
3. Berdoalah juga agar Tuhan memampukan kita yang telah menerima
keselamatan ini untuk turut mengabarkan kehidupan kekal di dalam
Kristus; kapan pun Ia memberi kesempatan untuk bersaksi.
4. Doakan pula setiap orang yang kehilangan orang yang mereka
kasihi. Doakan agar mereka mengingat kasih Tuhan yang telah
berkarya dalam hidup orang-orang terkasih mereka; bahwa Tuhan
akan mempertemukan mereka kelak.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2007 YLSA
YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati