From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 28 -- Badai Membawaku ke Jalan Tuhan
PENGANTAR
Ada banyak cara yang Tuhan pakai supaya kita dapat mengetahui
kehendak-Nya. Kalau tidak peka, bisa jadi kita tidak mengetahui
kehendak-Nya tersebut. Bisa saja Tuhan berbicara melalui orang lain,
mungkin melalui keluarga, teman, atau malah melalui orang yang tidak
kita kenal sekalipun. Mungkin juga Dia berbicara melalui keadaan
hidup kita, baik senang, maupun susah. Berikut kesaksian dari
seorang anak Tuhan yang berusaha untuk mendengarkan suara Tuhan di
dalam hidupnya. Semoga setelah menyimaknya, kita dapat merefleksi
kehendak Tuhan di dalam hidup kita. Selamat menyimak.
Pimpinan redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
BADAI MEMBAWAKU KE JALAN TUHAN
==============================
Badai besar dapat menghantam bahtera rumah tangga siapa saja. Dia
tidak peduli apakah yang dihantamnya itu pejabat, konglomerat,
militer, pengacara, artis, pemulung, atau wartawan. Badai hanya bisa
mengamuk dan tak ada manusia yang bisa mengendalikannya.
Badai besar pernah menghantam perahu murid-murid Yesus. Murid-murid
sempat hilang kendali. Mereka tidak sadar bahwa ada Yesus yang
sedang tidur di dalam perahu itu. Sepertinya, Yesus mengizinkan
badai itu terjadi untuk melihat apakah murid-murid-Nya masih percaya
kepada-Nya.
Badai besar juga pernah aku alami. Betapa hancurnya hatiku ketika
badai besar itu datang. Ia datang dalam rumah tanggaku secara
tiba-tiba. Keadaanku seperti murid-murid Yesus -- terkejut, panik,
dan tidak mampu lagi mengendalikan diri. Ketika itu, aku tidak punya pegangan.
Aku tidak pernah membayangkan akan adanya lagi mentari yang terbit
bagiku -- hidup baru yang penuh harapan. Aku tidak pernah
membayangkan bahwa di balik badai itu Tuhan ingin berbicara
kepadaku. Tuhan ingin mengubah jalan hidupku, dari seorang pewarta
dunia (wartawan) menjadi pewarta kerajaan Allah.
Badai besar itu menghempaskan keluargaku pada tahun 1998. Ia datang
tiba-tiba bagai gelombang tsunami, menghancurkan semuanya, hubungan
suami, istri, serta anak-anak.
Sepertinya tidak ada lagi sinar harapan untuk mempertahankan
keluarga. Pengacara, sahabat, keluarga, dan uang sepertinya sama
sekali tidak bisa menyelamatkanku.
Semua jalan menjadi buntu. Aku telah berusaha semaksimal mungkin
menyelamatkan keluargaku. Siang dan malam aku mencoba meyakinkan
istriku bahwa keluarga ini bisa dipertahankan. Tapi hasilnya nihil.
Aku lupa ada Tuhan yang bisa mengatasinya. Maklum, aku tidak pernah
mengenal siapa Yesus dengan sesungguhnya. Aku tidak pernah tahu
bahwa sebenarnya Tuhan punya suatu rencana yang indah atas tiap
makhluk ciptaan-Nya. Tuhan juga punya rencana atas diriku. Tapi
walaupun sejak lahir aku sudah terdaftar sebagai orang Kristen, aku
tidak pernah tahu itu. Dan saat badai itu datang pun, aku masih
tetap tercatat di KTP sebagai orang Kristen.
Meskipun setiap minggu aku rajin ke gereja, aku masih menyimpan
opo-opo atau jimat di sakuku. Kalau mau masuk ke dalam gereja,
opo-opo itu aku simpan di dalam mobil. Setelah mendengar khotbah
yang masuk telinga kiri keluar telinga kanan, aku ambil lagi opo-opo itu.
Dalam suatu pertemuan keluarga, aku baru tahu bahwa diriku pernah
mengalami suatu penyakit yang parah. Ketika itu, aku yang masih
berusia enam bulan, pernah diserahkan kepada Tuhan oleh keluarga
karena aku mengalami suatu penyakit diare yang menurut dokter tidak
bisa disembuhkan. Tahun 60-an, teknologi medis belum secanggih sekarang ini.
Keluargaku mendengar dokter lepas tangan alias tidak sanggup
mengobatiku. Tentu saja keluargaku sudah siap membawaku ke kuburan.
Ternyata setelah didoakan, mujizat Tuhan terjadi, aku hidup. Tapi
kakek dan kedua orang tuaku tidak pernah bercerita bahwa aku telah
diserahkan kepada Tuhan untuk kemuliaan-Nya.
Sudah menjadi kebiasaan bagi orang Kristen untuk berjanji pada
Tuhan, tapi setelah aku pulih, aku lupa segalanya. Tapi Tuhan telah
mendengarkan janji itu dan akan menggenapinya. Sampai kedua orang
tuaku meninggal, aku tidak pernah tahu janji mereka itu kepada Tuhan.
Akhirnya setelah tamat SMA, atas kemauan sendiri, aku mencoba masuk
ke Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta. Saat itu aku ditolak masuk
UI dan Akabri padahal aku sudah dua tahun menganggur. Aku malu tidak
kuliah. Akhirnya, aku ikut ujian masuk di STT Jakarta dan gagal.
Kemudian, aku masuk Sekolah Tinggi Publisistik (STP) Jakarta yang
kebetulan saat itu segedung dengan STT Jakarta.
Sejak itulah aku mulai terjun sebagai seorang jurnalis junior.
Sebagai langkah awal, pada tahun 1983, aku dipercayakan oleh Harian
Umum Sinar Harapan untuk menjadi koresponden di Depok, Jawa Barat,
di bawah komando Yuyu An Krisna. Pelbagai liputan aku sajikan. Tapi
dalam perjalanan karier itu, ibuku yang masih hidup saat itu selalu
mengatakan, "Ah,
kamu itu wartawan gadungan," katanya bercanda, namun agak serius.
Aku hanya mengartikan bahwa ibu berkata seperti itu mungkin karena
penghasilanku belum tetap di surat kabat besar itu. Artinya, aku
belum menjadi wartawan tetap alias masih sebagai honorer. Tulisan
masuk, baru terima uang.
Tapi ibu terus menyampaikan ucapan itu. Ternyata ia punya suatu
tujuan untukku yang tidak pernah dia nyatakan. Aku teringat akan
firman Tuhan yang berkata, "Apa yang kau katakan, itulah yang akan terjadi."
Ternyata kehidupanku sebagai wartawan hanya berlangsung selama enam
belas tahun. Pada usia muda, aku harus minta pensiun dari perusahaan
tempatku bekerja dan memenuhi panggilan Tuhan sebagai seorang hamba
lewat badai besar.
Tuhan bicara melalui badai besar itu. Aku teringat akan apa yang
dikatakan Nabi Yeremia, "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim
ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari
kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau
menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."
Setelah menjadi seorang hamba, aku baru mengerti bahwa Tuhan bisa
berbicara kepada seseorang melalui badai besar. Tuhan menggenapi
rencananya atas tiap orang yang mau berserah pada-Nya. Bukan hal
mudah bagi seorang wartawan yang pernah berkecimpung dalam dunianya
belasan tahun untuk tiba-tiba harus menjadi seorang hamba Tuhan.
Saat itu aku tidak siap, tapi Tuhan terus mengajari apa yang harus
aku lakukan. Perlahan-lahan badai itu berlalu dan air mataku pun
diubah menjadi sukacita. Ibu telah tiada dan tidak pernah bercerita
apa yang pernah terjadi saat aku masih balita.
Bagaimana ia menyerahkan hidupku pada rencana Tuhan. Kini tak ada
lagi perkataan: "Ah, kamu wartawan gadungan," tapi kini rencana
Tuhan atas diriku telah digenapi-Nya -- menjadi seorang hamba yang
setia. Hamba yang harus melewati badai besar dan tantangan besar.
Tuhan membawaku terbang tinggi seperti burung rajawali yang selalu
memanfaatkan badai besar untuk bisa terbang lebih tinggi lagi. Sebab
bersama Dia aku kuat di dalam kuat kuasa-Nya.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Nama situs : Sinar Harapan
Judul asli artikel: Badai Membawaku ke Jalan Tuhan
Penulis : Juniman S. Kembaren
Alamat URL : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0603/11/opi04.html
______________________________________________________________________
"Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan
kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan
maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan
kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman."
(2Timotius 1:9)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=2Timotius+1:9 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Ketika kita menyadari bahwa keberadaan kita adalah sebagai anak
Tuhan, naikkanlah syukur kepada Dia yang telah memilih kita.
Berdoalah agar predikat tersebut semakin memacu kita untuk
memuliakan Allah, Bapa kita senantiasa.
2. Meski Allah telah memilih kita, bukan berarti badai kehidupan
tidak akan menerpa hidup kita. Oleh karena itu, mohonkanlah
kesetiaan dan rasa bergantung yang tiada putus-putusnya kepada
Dia. Berdoalah agar di tengah badai yang kita alami, kita masih
dapat melihat tuntunan tangan-Nya sehingga kita bisa mengatasinya.
3. Berdoalah juga bagi setiap orang percaya yang saat ini tengah
mengalami badai kehidupan; doakan agar mereka tidak mengandalkan
dirinya maupun kuasa-kuasa lain, tetapi mengingat serta
mengandalkan Tuhan dan kuasa-Nya yang akan meneguhkan mereka.
4. Mohonkan pula kemampuan dan keberanian untuk menyaksikan karya
Tuhan yang memampukan kita mengakhiri sebuah badai kehidupan.
Berdoalah agar melalui kesaksian kita, orang-orang di sekitar
kita bisa diingatkan, betapa Tuhan akan senantiasa mengasihi dan
menolong mereka, bila mereka percaya dan bersandar hanya pada-Nya.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2007 YLSA
YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Pipin Kuntami
Staf Redaksi : Puji, Raka, Yulia
Kontak : < staf-kisah(at)sabda.org >
Berlangganan : < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Berhenti : < unsubcribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Arsip KISAH : http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL : http://kekal.sabda.org/