From: Denny Teguh Sutandio 

Resensi Buku : LECTURES ON CALVINISM (Prof. DR. ABRAHAM KUYPER)

 
  
.Dapatkan segera.

Buku

LECTURES ON CALVINISM
(Ceramah-ceramah Mengenai Calvinisme)

oleh : Prof. DR. DS. ABRAHAM KUYPER

Penerbit : Momentum Christian Literature (Fine Book Selection) 2005

Penerjemah : Yulvita Hadiyarti.

"Calvinisme" adalah istilah yang begitu kaya akan makna. Dalam pengertiannya 
yang paling luas, sebagaimana tercermin dalam enam ceramah yang tersaji dalam 
buku ini, Calvinisme merupakan sebuah sistem kehidupan -sebuah wawasan dunia- 
yang komprehensif dan memiliki pengaruh yang begitu luas. Calvinisme menawarkan 
jawaban bagi tiga pertanyaan mendasar dalam kehidupan seitap manusia : 
Bagaimana seorang manusia berhubungan dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan 
dunia sekarang ?

Calvinisme walaupun berakar di dalam masa lampau, namun tetap memiliki 
kekuatannya bagi masa kini dan masa yang akan datang, jika visinya dapat 
kembali ditangkap - inilah penekanan dari ceramah-ceramah yang diberikan dalam 
buku ini. Dr. Abraham Kuyper memmperkenalkan Calvinisme sebagai sebuah sistem 
kehidupan, mendiskusikan relasinya dengan agama, politik, sains, dan seni, dan 
membahas prospeknya di masa yang akan datang.

Ceramah-ceramah Mengenai Calvinisme ini merupakan pernyataan yang tegas dan 
visioner dari iman Reformed. Rangkaian ceramah ini disampaikan di Princeton 
Theological Seminary pada tahun 1898 dalam Stone Lectures yang sangat 
bergengsi, dan kebenaran yang disampaikan Kuyper tidak pernah usang karena 
isu-isu yang dibicarakannya tetap hangat dan jawaban Calvinisme tetap relevan.

Profil DR. ABRAHAM KUYPER :
Prof. DR. DS. ABRAHAM KUYPER yang lahir pada tanggal 29 Oktober 1837 di 
Maassluis dan meninggal pada tanggal 8 November 1920 di The Hague; nama 
resminya "Kuijper") adalah seorang politikus, jurnalis, negarawan dan theolog 
Belanda. Beliau mendirikan Anti-Revolutionary Party dan menjadi Perdana Menteri 
Belanda antara tahun 1901 dan 1905.
Pada tahun 1855, beliau lulus dari Gymnasium of Keiden dan mulai belajar 
literatur, filsafat dan theologia di Leiden University. Beliau lulus dari 
literatur pada tahun 1857 dengan predikat summa cum laude, dan filsafat pada 
tahun 1858 juga dengan predikat summa cum laude. Pada tahun 1862, beliau 
mendapat dukungan akan gelar doctor di bidang theologia berdasarkan disertasi, 
"Disquisitio historico-theologica, exhibens Johannis Calvini et Johannis à 
Lasco de Ecclesia Sententiarum inter se compositionem" (Theological-historical 
dissertation showing the differences in the rules of the church, between John 
Calvin and John Laski).
Pada tahun 1863, beliau menjadi pendeta di Dutch Reformed Church untuk jemaat 
di Beesd. Pada tahun yang sama, beliau menikah dengan Johanna Hendrika Schaay 
dan mendapatkan 5 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Beliau 
dianggap sebagai bapak dari Neo-Calvinisme Belanda.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
.
 =============================================
From: Denny Teguh Sutandio 


HIKMAH SEBUAH TEGURAN
oleh : Ir. Herlianto, M.Th.

!  
"Beritakan firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa 
yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. 
Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, 
tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan 
keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan 
membukanya bagi dongeng. Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah 
menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas 
pelayananmu!" (2 Timotius 4:2-5)

Ada yang mengatakan agar kita jangan mengkritik dosa orang lain karena kitapun 
orang berdosa, sebaiknya kita mendoakan mereka saja. Perlukah sebuah kritik 
atau teguran? Memang kritik atau teguran yang dikarenakan hawa nafsu dan 
egoisme tidak benar sekalipun ada kebenarannya, tetapi kritik yang tulus untuk 
menuju perbaikan kelihatan nya disuruh Tuhan karena mengingatkan orang-orang 
yang terpeleset agar tegak kembali.

Pernah ketika menjadi dosen disatu universitas ada dua mahasi swa datang 
menghadap dan meminta restu untuk mengadakan acara pesta akhir tahun. Nasehat 
yang saya berikan adalah: "Tepatkah mengadakan acara demikian ditengah krisis 
universitas yang kala itu jatuh bangun dalam proses survivalnya?" Yang menjadi 
soal, pendeta mahasiswa mengatakan kepada mereka 'nggak apa-apa!' Alhasil, 
beberapa bulan kemudian keduanya mengalami musibah, yang satu bentrok dengan 
rektor dan dischors dan yang lainnya kedua orang tuanya mengalami tabrakan dan 
meninggal dunia. Dalam situasi demikian bersama seorang mahasiswa PMK, saya 
mengunjungi keduanya dan mendoakan dan menguatkan mereka menghadapi musibah 
sambil menghubungi rektor untuk meminta keringanan schorsing. Belasan tahun 
berlalu, yang satu pindah ke Jakarta dan ketika saya melayani salah satu kampus 
di Jakarta ia yang sudah lulus dikampus itu dan mengajar disitu menjumpai saya 
dan dengan senyum ramahnya menjabat tangan saya. Beberapa tahun yang lalu 
ketika saya berkotbah di salah satu gereja, yang kedua orang tuanya meninggal 
mengunjungi gereja itu dan menjabat tangan saya sambil mengundang menginap di 
rumahnya! Biasanya kalau dialami musibah, seseorang baru mengerti dengan benar 
makna sebuah teguran yang membangun!

Seorang pemuda saya tegur karena bermain-main dengan narkoba dan ia merasa 
tidak! enak berhadapan dengan sipengkritik ini. Beberapa tahun yang lalu ketika 
saya mengunjungi sebuah gereja Baptis dikota lain, kebetulan gereja itu sedang 
mengundang pengkotbah luar, pendeta itu berkotbah "Saya dulu pengisap narkoba 
dan bersyukur ada seorang pendeta menegur saya dan saya lihat malam ini duduk 
dibelakang bersama isterinya diruang gereja ini." Ia memang kemudian bertobat, 
dan menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan bahkan sampai melanjutkan studi di 
Amrik.

Buku 'Teologi Sukses' (sekarang cetakan ke-5) yang penuh kritik dimusuhi oleh 
pendeta-pendeta sebuah denominasi kharismatik yang besar, bahkan salah satu 
pendetanya yang punya gereja terbesa! r diatas mimbar mengumumkan agar membakar 
buku TS tersebut, alhasil bu ku malah laku keras dan dicetak berulang-ulang. 6 
bulan yang lalu, belasan tahun setelah buku itu terbit, saya diundang ceramah 
dalam pertemuan para pendeta sinoda itu yang sedang berkumpul di Jakarta dari 
seluruh Indonesia, dan sebelum ceramah banyak pendetanya menyalami saya dan 
mengatakan bahwa sudah membaca buku TS dan banyak mendapat berkat!

Beberapa hari setelah dirilisnya di beberapa milis artikel 'Tragedi Teologi 
Sukses' seorang ibu tokoh gereja di Semarang yang sering mendengar kotbah 
pendeta sukses yang diceritakan mengucapkan dukungannya atas artikel itu. Ia 
mengatakan kesedihan nya bahwa: "Sayang banyak pendeta dan jemaat tidak berani 
mengkrit! ik perilaku salah para pendeta/penginjil karena takut dan hanya 
mengatakan pujian saja atas perilaku penginjil KKR demikian, padahal itu 
diperlukan." Belum lama ini ada pendeta dengan gereja besar yang pernah 
berkotbah untuk mengubah batu menjadi berlian (asalkan seseorang memberikan 
persembahan uang yang besar) terlibat jerat hutang piutang miliaran rupiah. Ia 
terjerat daya tarik mamon dengan cara menggolangkan persembahan besar yang 
masuk agar berbunga-bunga!

Majalah 'Jakarta-Jakarta' (4-10 Maret 1988) pernah mengulas artikel berjudul 
'Agama, Uang dan Seks' ketika Jim Bakker dan Jimmy Swaggart jatuh dari 
singgasana mereka.

Tim Storey, seorang penginjil Amrik ketika berkotbah di Surabaya pada bulan 
Oktober 1997 menantang jemaat untuk "Memberi lebih besar dari yang sanggup 
mereka berikan!" Ia memberi sugesti bahwa "Dalam waktu tiga bulan Anda bakal 
mendapat mujizat keuangan yang besar!" Alhasil, tiga bulan kemudian terjadi 
krismon dimana kurs dolar naik enam kali lipat. Tentu hadirin KKR itu yang 
menyimpan uangnya dalam bentuk dolar berbunga-bunga karena uang mendadak 
menjadi 5 kali lebih besar, tetapi bagaimana dengan sebagian besar jemaat yang 
lebih cinta uang rupiah sebagai simpanannya? Kasus ini sempat menjadi reklame 
jelek bagi kekristenan karena dimuat sebuah harian dengan judul 'Mereka Tidak 
Kehilangan Bahkan akan Panen Besar' 
(Suara Indonesia, 7 Oktober 1997).

Seorang penginjil sukses di Jakarta pernah mal! am-malam tertangkap polisi 
ketika naik taksi karena kedapatan membawa uang dolar palsu sekoper penuh yang 
katanya titipan jemaat yang orang asing! Dengan permainan uang kasusnya 
dilupakan polisi! Seorang ekonom beken yang bermukim di Amrik menanggapi 
artikel 'Tragedi Teologi Sukses' mengungkapkan keprihatinannya mengenai adanya 
'konspirasi' dibalik KKR-KKR yang berisi 'fund-raising'. Diceritakan bahwa di 
US pernah ada film berjudul 'Leap of Faith' (dibuat di tahun 1992 ketika 
ramainya skandal Jim Bakker dan Jimmy Swaggart) dibintangi Steve Martin 
(komedian) sebagai pendeta dengan "miracle' yang fake, tapi di akhir cerita 
muncul miracle beneran, anak yang jalan pakai tongkat bisa berjalan sendiri dan 
hujan turun setelah dinantikan suatu kota kecil. Tapi disitu juga dibongkar 
tentang "pasien yang pura pura sakit, sembuh karena miracle" tapi semua adalah 
"gangnya si pendeta".

Banyak lagi kasus-kasus 'jerat mamon' dialami pendeta/penginjil yang 
bermain-main dengan 'persembahan jemaat,' soalnya penekanan pada hukum 'tabur 
tuai' dan 'perpuluhan' menyebabkan jemaat terhipnotis secara masal dalam KKR 
Teologi Sukses dan memberikan persembahan yang luar biasa banyak dan sesudah 
itu 'uang panas' itu akan meminta korban, apakah arogansi, apakah jerat 
pencucian uang, atau korupsi, yang jelas jemaat akan gigit jari karena ia tetap 
terkena PHK dan banyak pengusaha perusahaannya pailit, sedangkan 
pendeta/penginjil itu tabungannya membengkak!

Jonggi Cho yang ditahun 1980 dan 90-an sempat dielu-elukan orang-orang 
Indonesia karena kotbah-kotbahnya yang menekankan berkat materi (banyak 
dikritik dalam buku Teologi Sukses) dan membangun gereja terbesar di dunia, 
pernah disebutkan seorang teman baik yang menjadi bendahara panitia KKRnya di 
Jakarta, tersinggung dan marah ketika panitia tidak berhasil menginapkannya di 
hotel bintang lima yang sedang penuh. Ketika Krismon melanda Korea di tahun 
1997, jemaatnya yang statistiknya naik terus itu tiba-tiba mengalami stagnasi 
dan banyak jemaatnya mundur dari gereja itu dan kembali kepada ajaran agama 
tradisional. Soalnya kala itu banyak perusahaan pendukungnya palit dan banyak 
jemaat terkena PHK massal! Mereka menyadari bahwa 'Tuhan Cho' ternyata tidak 
lebih besar dari 'dewa-dewi' nenek moyang mereka.

Seperti keluhan tokoh wanita di Semarang itu, memang benar banyak orang takut 
mengkritik pendetanya sekalipun pendeta itu berbuat salah (yang umum jerat 
kekayaan dan seksual), tetapi melihat makin banyaknya skandal menimpa para 
pendeta dan penginjil, sudah tiba saatnya jemaat bangun untuk berani 
mengingatkan dan menegur penginjil dan pendeta mereka dan menjadikan gereja 
bukan sebagai tempat berjual beli melainkan sebagai tempat berdoa dan 
mendengarkan firman Tuhan, bukan dengan semangat iri-hati atau dengki, tetapi 
dengan semangat agar kerajaan Tuhan makin bersih dari penyalah gunaan para 
penginjil/pendeta yang mengatas namakan Tuhan tetapi memeras jemaat, sebelum 
makin banyaknya korban yang terus menerus akan berjatuhan. Jemaat yang 
terus-menerus memuja penginjil/pendeta yang kotbahnya mengenai berkat Tuhan 
menarik hati dan menyenangkan telinga mereka justru akan menjatuhkan 
pendeta/penginjil tersebut.

Saudara-saudara, doakanlah kami." (1 Tesalonika 5:25)

Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org 

Ir. Herlianto, M.Th. adalah pemimpin umum Yayasan Bina Awam (YABINA) dan dosen 
di Sekolah Tinggi Theologia Bandung. Beliau meraih gelar Insinyur (Ir.) dari 
Institut Teknologi Bandung, Bachelor of Theology (B.Th.) dari Seminari Alkitab 
Asia Tenggara (SAAT) Malang dan Master of Theology (M.Th.) dari Princeton 
Theological Seminary, USA.

Kirim email ke