RECYCLE BIN

>From : Debbyrini 

Filipi 4 : 8 
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang 
adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang 
disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. 

Apabila harddisk komputer kita sudah terisi penuh, maka kita tidak dapat 
memasukkan program2 baru ke dlm komputer tsb. Bahkan file yang ukurannya kecil 
sekalipun. 
Jika anda suatu ketika mendapat sebuah file yang isinya sangat bagus, lebih 
bagus daripada yg pernah ada di komputer anda, apa yang akan anda lakukan 
dengan kondisi harddisk yg sudah terisi penuh? 
Membuang sebagian file yang tidak penting lagi dan melakukan uninstall program2 
yg sudah tidak terpakai adalah jawaban yang paling tepat. 

Sama juga halnya dengan pikiran. Firman Tuhan atau kabar gembira tidak dapat 
masuk kedalam pikiran jika pikiran kita sudah penuh dengan kekhawatiran, 
kekecewaan, kepahitan, keputusasaan dsb. Bukan hanya Firman Tuhan, namun 
berbagai macam ‘good knowledge’ yang dapat membawa kita menuju ke puncak 
keberhasilan pun tidak akan bisa kita serap dengan baik. 

Salah satu saran yang baik adalah : ‘Buang kenangan buruk di pikiran kita dan 
simpan yang bagus’. Benahi ingatan anda dengan baik. Terlalu banyak di antara 
kita yang mengingat hal yang seharusnya dilupakan dan melupakan hal yang 
seharusnya kita ingat. 
Jadilah seperti Daud yang memandang Goliat sebagai perkara kecil, sebab ia 
tidak mengingat kegagalan2nya, namun ia mengingat keberhasilan2nya dulu sewaktu 
mengalahkan binatang2 buas di padang rumput saat mengembalakan domba.

Are you sure want to send “your bad memories” to the recycle bin ? 
===========================================
>From : Lany 
from milis tetangga 

DITINGGAL OLEH SAHABAT
Kategori : Cerita – Persahabatan 

Hampir tiap orang di dunia ini pernah mempunyai seorang sahabat karib, entah 
pada saat kita masih kecil maupun saat sekarang ini. 
Bagaimana kalau Anda di tinggal mati oleh sahabat karib Anda? Tempat dimana 
Anda bisa berbagi suka maupun duka.
Hal inilah yg terjadi pada saat ini dengan diri saya, sobat karib saya, Ben 
kemarin telah meninggal dunia dalam usia 46 th, karena penyakit kanker. 
Hal ini mengingatkan kembali ketika saya di tinggal mati oleh si Udin.

Sejak usia 2 th saya telah di tinggal ayah, karena ia ditawan oleh tentara 
Jepang. Ibu harus berkerja keras untuk bisa membiayai hidup anak-anaknya. Ibu 
sering melakukan puasa, karena tidak cukup makanan dirumah, bahkan kamipun 
sering tidur dengan perut lapar. 

Hal inilah yg mendorong saya untuk minggat dari rumah, karena ingin meringankan 
bebannya Ibu. Padahal waktu itu usia saya baru 6 th dengan rasa berat hati dan 
air mata terlinang saya berangkat meninggakan kampung halaman dengan tujuan 
pergi ke kota besar Bandung, karena ingin mencoba mencari nafkah sendiri

Saya berangkat berdua dengan sobat karib saya si Udin yg usianya 3 th lebih tua 
daripada saya. Ber-jam-jam kami berjalan kaki seharian tanpa makan, sedangkan 
uang tidak kami miliki, satu-satunya harta yang kami miliki ialah sehelai baju 
yang melekat dibadan kami. Karena sudah tidak tertahankan lagi, saya 
mengusulkan kepada si Udin untuk mencuri buah-buahan di kebun orang, tetapi si 
Udin walaupun ia anak yatim, ia sangat taat sekali kepada agama, ia melarang 
saya untuk mencuri, ia bilang lebih baik kita mengemis daripada mencuri.

Kami melewati satu gedung besar, dan kami berpikir disinilah kita bisa mengemis 
untuk memohon sesuap nasi, tetapi belum saja kami bisa masuk ke halaman rumah, 
kami telah dikejar oleh anjing sipemilik rumah, kami lari terbirit-birit, 
tetapi dengan kaki yg masih kecil, saya belum bisa berlari cepat, sehingga saya 
jatuh tersungkur dan anjing menggigit saya. Akhirnya si Udin datang melindungi 
dan menghalau anjing tersebut.

Hujan telah turun dgn deras, badan kami menggigil kedinginan, karena telah tak 
tertahankan lagi, kami mencari makan di tempat sampah, ternyata disitu masih 
ada sisa sepotong roti kecil, dan beberapa genggam nasi. Karena badan saya 
telah lemah lunglai apalagi telah digigit anjing, si Udin memberikan roti 
maupun nasi tersebut semuanya untuk saya, makanlah ia bilang, karena saya lagi 
puasa, walaupun kenyataannya tidaklah demikian, tetapi ia mengikhlaskannya 
untuk saya.

Malam hari itu kami tidur di emperan rumah orang, tepatnya di depan sebuah 
kelenteng. Malam-malam saya terbangun, karena saya mendengar si Udin mengeluh 
kesakitan, badannya menggigil, tak satu katapun bisa ia ucapkan tetapi matanya 
kelihatan sayu. Saya mengetahui ia sakit, karena lapar, ia sudah tidak makan 
sejak lebih dari dua hari, dan bagian makanannya selalu diberikan kepada saya, 
sehingga badannya menjadi sedemikian lemahnya.

Dari luar kelenteng masih kelihatan cahaya api lilin remang-remang diatas meja 
sesajen, tanpa pikir panjang saya memanjat pagar dan pintu kelenteng untuk bisa 
masuk ke dalam, akhirnya saya berhasil mencuri sesajen berupa dua potong kueh. 
Saya berlari kepada si Udin cepat-cepat untuk memberikannya kepada dia, karena 
saya merasa takut sekali kehilangan dia.

Ketika saya tiba, saya berusaha memeluk badannya si Udin yang gemetaran dan 
mencoba menyuapkan kueh ke dalam mulutnya, tetapi rupanya telah terlambat. Sang 
Pencipta telah memanggil dia balik kepangkuan-Nya.

Apakah Anda bisa membayangkan betapa perasaan seorang bocah berusia 6 th yang 
di tinggal mati oleh kawan dan sobat satu-satunya yg pada saat itu tidak 
memiliki siapapun juga, karena jauh dari kampung halaman? Bagaimana perasaan 
Anda apabila sobat karib Anda meninggal dalam pelukan tangan Anda?

Dibawah hujan rintik-rintik dengan badan menggigil kedinginan, saya menangis 
terseduh-seduh. Saya mendekap badannya si Udin erat-erat dan dengan suara 
tersendat-sendat saya mengucapkan: "Jangan tinggalkan saya, Din! Jangan 
tinggakan saya seorang diri......”

Hal inilah yg terulang dan teringat kembali, bagaimana sakitnya perasaan dan 
hati saya di tinggal oleh seorang sobat karib. Dengan air mata terlinang saya 
menyanyikan lagu: "What we have a friend in Jesus!”

Selamat jalan Ben!
A brother may not be a friend, but a friend will always be a brother. 
====================================================
From: Mang Iyus <[EMAIL PROTECTED]>

Dikotomi Musibah Manusia: Cobaan Dari Allah Atau Bukan ?

Tradisi Yudaistik atau Tauratik berpendapat bahwa segala penyakit dan 
malapetaka yang menimpa manusia adalah bentuk-bentuk hukuman dari Yahwe. Untuk 
menyikapinya secara benar maka mereka harus membangun sikap mental yang pasrah. 
Mereka harus menerimanya sebagai semacam ujian atau cobaan dari Yahwe karena 
mereka telah “tidak setia” (baca: berdosa)  terhadap Yahwe. Dalam tradisi 
mereka itu juga tidak dikenal konsep keselamatan kekal di surga maupun 
malapetaka kekal di api neraka. Yang mereka kenal ialah “konsep berkat dan 
kutuk”. Bila patuh kepada firman Yahwe maka mereka akan dikaruniai berkat yang 
melimpah di dunia ini. Sebaliknya, bila tidak setia dan menyembah kepada illah 
lain selain kepada Yahwe maka mereka akan mendapat kutuk. Kutuk itu dapat 
berupa penyakit, musibah, malapetaka bahkan kematian. Kematian - sesuai isi 
Kitab Kejadian - masuk ke dalam sejarah kemanusiaan karena Adam dan Hawa telah 
“tidak setia” kepada Yahwe dengan memakan buah yang terlarang. 

Dalam menghadapi malapetaka di luar kemampuannya manusia dapat bersikap dua 
hal.  Pertama, ia akan memberontak dan mempertanyakan tentang keadilan Tuhan 
(teodisia). Kedua, mencoba “menelan” penderitaan tersebut. Ada yang menelannya 
dengan terpaksa – dan pahit - karena tidak mampu berbuat lain. Tetapi ada pula 
yang menerimanya dengan pasrah sebagai bentuk ujian atau percobaan dari Allah.
Pandangan bahwa malapetaka merupakan percobaan dari Allah ditolak oleh rasul 
Yakobus:
“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari 
Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak 
mencobai siapapun.” 
(Yak.1: 13). 

Jenis “pencobaan” di sini tidak terbatas berupa godaan berbagai hawa nafsu 
semata-mata tetapi juga cobaan dalam bentuk penyakit, musibah atau bencana.
Yang lebih jahat ialah pandangan serta-merta paham masyarakat Yudaistik bahwa 
orang yang terkena musibah - berupa penyakit ataupun malapetaka - pastilah 
karena mereka itu telah berdosa dan karena itu dihukum berat atau dikutuk oleh 
Yahwe. Dan jauh lebih jahat lagi ialah pandangan bahwa – karena faktanya mereka 
sendiri tidak mengalami penyakit atau malapetaka seperti itu maka mereka merasa 
dirinya benar, atau tidak bersalah di hadapan Allah.  Pandangan puas diri 
semacam inilah yang ditentang keras oleh Yesus sendiri.

Pada bacaan Injil Lukas Bab 13 Minggu ini dikisahkan bagaimana Pilatus 
mencampur kan darah para pemberontak Galilea dengan darah korban. Dikisahkan 
juga bagaimana 18 orang mati ditimpa menara dekat kolam Siloam di perifer 
Yerusalem. Kisah Pilatus mencampurkan darah pemberontak itu sangat heboh 
sehingga ada sekelompok orang yang membawa berita hangat itu kepada Yesus. 
Paradigma berpikir mereka ialah bahwa para pemberontak itu telah melakukan dosa 
besar (sedangkan diri mereka sendiri suci dan tidak melakukan dosa besar 
seperti itu) karena itu terkena kutukan Yahwe.

Jawaban Yesus adalah di seberang dikotomi soal suatu malapetaka – entah itu 
dibunuh dan darahnya dijadikan darah korban atau mati konyol ditimpa menara – 
sama sekali tidak ada urusannya dengan ujian, pencobaan atau hukuman dari 
Allah. Yesus justru mengalihkan fokus perhatian mereka itu ke dalam batin 
mereka sendiri supaya melakukan introspeksi secara internal. Mengajak mereka 
untuk tidak memusatkan perhatian mereka kepada urusan batin manusia lain – 
apalagi untuk menghakimi mereka secara batiniah.

Yesus berkata:  “Sangkamu orang-orang Galiela ini lebih besar dosanya dari pada 
dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak ! 
kataKu kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa 
atas cara demikian.” (Luk. 13: 2)

Hal itu diulangi lagi dengan kalimat yang mirip untuk kasus mereka yang ditimpa 
menara di Siloam, bahwa penduduk Yerusalem akan mengalami petaka yang sama bila 
tidak bertobat.  Fakta sejarah menunjukkan bahwa memang Kenisah Allah di kota 
Yerusalem dihancurkan bangsa Romawi pada tahun 60 M dan bangsa itu kemudian 
berserakan ke seluruh penjuru dunia.

Pada zaman sekarang peringatan Yesus itu masih tetap aktual. Jangan sampai ada 
– dengan parafrasa Yesus – manusia Indonesia yang mengira bahwa dosa mereka 
yang tertimpa gelombang tsunami di Aceh atau Nias, gempa di Yogyakarta atau 
Solok, atau tanah longsor di berbagai tempat di negara ini lebih besar dosanya 
dari dosa rakyat Indonesia lainnya seperti di Jakarta atau daerah-daerah lain 
yang tidak terkena gelombang tsunami, gempa, longsor atau terakhir ini puting 
beliung. Malapetaka itu bukan berasal dari Allah dan bukan merupakan ujian dari 
pada Allah.  Faktanya adalah manusia sendiri yang telah mendatangkan bencana 
bagi manusia lainnya. Banjir dan longsor adalah akibat perbuatan penggundulan 
hutan semena-mena yang disebabkan oleh keserakahan manusia. Atau karena mau 
enak sendiri membangun tanpa izin di daerah tinggi tanpa mempedulikan akibat 
tindakannya bagi manusia lain. 

Naiknya suhu akibat pemanasan global juga disebabkan oleh perilaku manusia yang 
menggundulkan sebagian besar rimba tropis dan terlalu banyak mengkonsumsi gas 
CFC untuk mesin-mesin pendingin udara. Tenggelamnya kapal dan pesawat terbang 
sebagian juga karena faktor kelalaian manusia sendiri yang melanggar prosedur 
baku dan resmi yang berlaku. Baik karena sikap yang meremehkan peraturan, 
menyuap petugas ataupun melakukan penghematan yang dapat berakibat buruk 
terhadap keselamatan penumpang. Misalnya ada badai perjalanan dipaksakan terus. 
Dipakai jalur alternatif lintasan yang lebih singkat sehingga bahan bakar dapat 
dihemat tetapi menempuh kawasan yang relatif berbahaya. Pendanaan suku cadang 
yang tidak sampai kepada tujuan karena direbut di tengah jalan sehingga 
kendaraan publik – seperti kereta api - menjadi tidak lagi laik jalan. 
Lalu atas dasar logika yang bagaimana manusia menganggap semuanya itu sebagai 
ujian dari Allah kepada manusia Indonesia?

Alih-alih terjebak pada dikotomi musibah itu cobaan Allah atau bukan, manusia 
diajak untuk mampu mentransendensikan dikotomi itu. Caranya ialah dengan 
“mengalihkan fokus” kepada kondisi batiniah manusia itu sendiri dan 
masing-masing. Cobaan dari Allah ataupun bukan – apa gunanya dijadikan wacana 
pepesan kosong? Jauh lebih penting ialah wacana apakah manusia itu sendiri SIAP 
menghadapi musibah semacam itu,  termasuk bila harus mengalami kematian itu 
sendiri? Cobaan dari Allah atau bukan adalah soal yang tidak penting. Lebih 
penting lagi ialah perlu adanya sikap pertobatan setiap saat. Mengapa?  Karena 
maut itu bisa datang kapan saja seperti maling. Ia datang tanpa permisi. 

Konon ada yang sesumbar tidak bakalan mati akibat jatuh dari pesawat karena ia 
miskin dan tidak mampu naik kapal terbang. Tahu-tahu pesawat terbang jatuh di 
atas rumahnya dan membakarnya hidup-hidup. Ia memang tidak mati karena jatuh 
dari kapal terbang tetapi justru mati karena kejatuhan kapal terbang.
Ada yang sesumbar tidak akan mati dimakan buaya karena ia tidak tinggal di 
dekat danau yang ada buayanya dan tidak bisa berenang. Tahu-tahu di rumahnya 
sendiri ia kejatuhan kopor dari kulit buaya sehingga mati konyol. Ia tidak mati 
karena masuk ke sungai yang ada buayanya tetapi ia mati karena kulit buaya 
dijadikan kopor yang masuk ke rumahnya.

Soal cara bagaimana manusia akan mati tetap menjadi misteri Allah. Andy F. Noya 
dalam acara Kick Andy juga hanya berani mengajukan pertanyaan retorika kepada 
mama Laurent – yang tidak usah dijawab – apakah paranormal tahu kapan ia akan 
mati dan bagaimana caranya ia akan mati? Seorang sahabat saya di Bandung – Andy 
juga namanya – pernah menceritakan bagaimana kakeknya sendiri suatu saat 
mengundang anak cucunya pada tanggal tertentu ke rumahnya yang terletak jauh di 
atas perbukitan. Pada hari itu ternyata mereka menjumpai bahwa sang kakek 
meninggal dunia. Dan yang mempesona ialah mereka menemukan ssesuatu benda yang 
dibungkus kain putih. Dan setelah dibuka rupanya adalah sekeping papan nisan 
lengkap dengan nama dan tanggal kematian sang kakek tersebut. Kakek saktikah 
dia? Entahlah dan tidak penting dibahas.
Harapan para cucu dan buyutnya tentunya ia juga telah benar-benar siap 
menghadap sang khaliknya dan hidup dalam pertobatan yang sejati. Perilaku tobat 
lebih penting dari segala jenis perdebatan kosong terlebih yang merupakan 
bagian dari misteri ilahi.

Jakarta, 11 Maret 2007.
Mang Iyus
==================================================
From: "Maslinati Hendargo" <[EMAIL PROTECTED]>

Tuhannya orang Kristen sama dgn Tuhan agama lain ? 
Allah yang disembah umat kristen dan umat agama lain (muslim, buddha, hindu, 
dll) sama sekali tidak sama. Ini sebenarnya suatu prinsip fundamental yang 
seringkali disalahpahami.
Entah karena prinsip pancasila di indonesia yang secara tidak langsung
menyatakan tuhan semua agama adalah 'esa' atau satu, atau sebab-sebab
lain yang menyebabkan 'mass-misunderstanding'  tentang ini.

Di bawah ini saya kutip tulisan Josh Tuhan (and Don Stewart) dalam bukunya: 
"Answers to Tough Questions skeptics ask about the Christian faith."  (saya 
tuliskan terjemahan bebasnya di bawah)

"All religions cannot be true at the same time, because they teach many things 
completely opposite from one another. They all may be wrong, but certainly they 
all cannot be right, for the claims of one will exclude the other.
   As to matters of salvation and the person of Jesus Christ, only historic 
Christianity recognizes Him as the eternal God becoming a man who died for the 
sins of the world and arose again the third day.

Salvation is obtained only by putting one's trust in this Jesus.
   The Jesus of Islam is not the Son of God who died for the sins of the world; 
neither is the Jesus of Mormonism or Christian Science the same Jesus as 
revealed in the Bible.
   Salvation is not by grace and through faith in these religions, but it is a 
matter of works. .It can then be observed that we are dealing with different 
religious ideas that are not compatible with one another.
   Even though many religions seem to be the same on the surface, the closer 
one gets to the central teachings the more apparent the differences become. It 
is totally incorrect to say that all religions are the same.
   The God of the Christians is not the same God as that of the Mormons, 
Muslims or Christian Scientists.  If the God of the Bible is the only true God, 
then the other gods are nonexistent and should not be worshipped."

Terjemahan bebas:
Semua agama tidak bisa semuanya benar, karena mereka mengajarkan banyak hal 
yang bertentangan satu sama lain. Mungkin semuanya salah, tapi yang pasti tidak 
bisa semuanya benar, karena pernyataan yang satu akan mengesimpangkan yang lain.
   Dalam hal keselamatan dan tentang Yesus Kristus, hanya 'historic 
Christianity' menyatakan Dia sebagai Allah yang menjadi manusia, yang mati 
untuk menebus dosa dunia dan bangkit lagi hati ketiga.
Keselamatan diperoleh hanya dengan percaya kepada Yesus ini.
   Yesus yang di agama Islam bukanlah Anak Allah yang mati untuk menebus dosa, 
demikian juga dengan Yesus dari Mormonism atau Christian Science, tidak sama 
dengan Yesus yang disebut di dalam Alkitab.
   Dalam agama-agama ini keselamatan tidak didapat karena kemurahan Tuhan dan 
karena iman, melainkan melalui perbuatan kita. Dengan demikian bisa 
diperhatikan bahwa ide-ide agama ini berbeda dan tidak seimbang satu sama lain.
   Walaupun banyak agama kelihatannya sama di permukaannya, semakin kita 
mendekati inti ajarannya, semakin kelihatan perbedaannya. Sangat tidak benar 
untuk menyatakan bahwa semua agama adalah sama.
   Tuhan orang kristen bukan lah tuhan yang sama di Mormons, Muslims, atau 
Christian Scientists. Kalau Tuhan yang disebut di alkitab adalah satu-satunya 
Tuhan yang benar, dengan demikian tuhan-tuhan lain adalah tidak ada, dan tidak 
seharusnya di sembah.

Salam,
Maslinati

Kirim email ke