From: mangucup88 

Satu Detik setelah Loe Koit !

Bukan artikel rohani ! Kewajiban setiap manusia di dunia ini entah ia itu wong 
Tionghoa, wong Londo, wong Indo semuanya harus koit ! Saya menyadari bahwa 
generasi mang Ucup adalah generasi kloter berikutnya yang akan yang akan 
mendapatkan "last call for departure". 

Pokoknya rekan-rekan ato para pembaca yang usianya udah diatas GOcap-GO, harus 
siap-siap lah untuk dipanggil, bahwa tidak lama lagi "Loe kudu GO to heaven" or 
to Hell pulang kampuang begitu. Hanya orang-orang belegug ato dalam bahasa 
Inggrisnya GO-Block azah yang tidak mau membuat persiapan dari sekarang

Tiap orang udah nyaho, bahwa mereka itu harus kojor, tetapi sangat jarang 
sekali yang mo mikirin, seakan-akan mereka itu bisa hidup kekal didunia ini 
seperti juga Highlander. Apabila kita akan berangkat pergi liburan tentu kita 
ingin mengetahui tempat yang akan kita tuju, tetapi pernahkah Anda ingin 
mengetahui "What next?" 
setelah kematian itu datang!

Apa yang akan terjadi "One second after you die" – "Satu detik setelah Loe 
koit!"
Orang-orang disekitar saya memiliki tiga pandangan mengenai kematian itu:
- berakhir s/d disini saja alias jadi seongok debu ato abu
- dilahirkan kembali entah jadi kecoak, cacing ato manusia ato jadi buaya
- melanjutkan kehidupan ini dengan tubuh baru yang kekal dan abadi

Yang sudah pasti setelah si Ucp mampus! Manusia yang namanya Ucup itu udah di 
setip alias dibusek di dunia ini dan digantikan dengan nama Ucup Almarhum. 
Semua kewajiban duniawi, mulai dari utang yang berjibun s/d segala macam 
kontrak perjanjian pun akan berakhir dengan sendirinya, begitu juga dengan 
kontrak perkawinan kita. Hal positiv lainnya ialah semua rasa nyeri, rasa 
takut, maupun penderitaan duniawi kita pun akan berakhir, jadi benar-benar 
bebas tulen!

Sedangkan dari sisi negativ nya apa saja yang menjadi miliki kita di dunia ini, 
akan hilang pada saat itu juga, entah ini mobil Jaguar, uang simpanan di Swis 
Bank, istri simpanan di Jkt, gelar, jabatan maupun kekuasaan akan menguap dalam 
sedetik setelah si Ucup koit. 
Begitu juga dengan tubuh jasmani, kita tidak akan bisa balik kembali ketubuh 
itu lagi, karena ini sdh bukan menjadi milik kita lagi, bahkan kita sdh 
kehilangan kontrol terhadap diri kita sendiri. 

Sejak si Ucup mati, maka ia sdh akan tidak berfungsi lagi, sama seperti juga 
robot yang kehabisan baterie. Yang ada hanya seongok daging yang tidak lama 
lagi akan menjadi busuk ato jadi abu! Setelah Loe mati, Loe akan kehilangan 
semua hak yang Loe miliki, kita tidak memiliki hak kebebasan untuk memilih 
ataupun menentukan ini ato itu lagi, it is over my friend!

Ada dua macam tipe manusia di dunia ini, yang satu emoh ato enggan pulang 
kampuang, dengan alasan karena anak-anaknya masih kecil lah, ato merasa tugas 
ini ato itu belum selesai, tetapi ini semuanya hanya sekedar alasan monafik, 
alasan yang sebenarnya sih "Gue masih belum puas merengguk kehidupan di dunia 
ini, sehingga Gue masih betah di dunia yang pabaliut ini, walaupun banyak orang 
kere, sengsara dan menderita sekalipun, itu kan bukan urusan Owe, yang penting 
Gw bisa hidup sehat, makan enak dan hidup enak, yang lain sih masa bodo, so 
what gitu loh!"

Sedang manusia tipe lainnya ingin buruan pulang, karena mereka udah nyaho bahwa 
masa hidupnya udah di itung oleh kalkulatornya sang Dr, ato penderitaan yang 
datang tak ada abis2nya, ato rasa nyeri yang tak kujung berakhir. Tetapi yang 
menjadi masalah adalah what next? 
Satu detik setelah Loe koit! Apakah api neraka yang udah nunggu Loe disono? Ato 
pager betis yang terdiri dari malaikat2 yang geulis dan bahenol sedang menunggu 
kita?

Hal inilah yang membuat orang jadi takut kojor dan bimbang untuk memilih hidup 
atau kematian, ketika Hamlet dalam drama Shakespeare mau bunuh diri ia merenung 
dalam2 dan berkata: "To be or not to be: that is the question"

Whether 'tis nobler in the mind to suffer the slings and arrows of outrageous 
fortune, 
or to take arms against a sea of troubles, and by opposing end them? 
To die: To sleep; no more; ….
: (Shakespeare, Hamlet, Act III, Scene I)

Manakah yang lebih luhur, menerima dengan rela panah atau batu pelontar nasib 
buruk yang ganas, ataukah menempuh lautan bencana menentangnya serta 
mengakhirinya? Mati – tidur – tak lebih.

Hamlet bersedia untuk melakukan bunuh diri karena menurut dia ini akan bisa 
membebaskan dia dari lautan bencana, tetapi dilain pihak ia khawatir akan 
kerajaan maut, dari mana musafir tak pernah kembali dengan selamat. Hal inilah 
yang membuat dia jadi bingung dan lieur!

Lucu bin nyata, sebenarnya di dunia ini tidak ada manusia hidup satupun juga, 
yang pernah mengadakan tour ke dunia orang mati, tetapi anehnya kok buaaa…anyak 
sekali travel office yang menawarkan tour ke sorga indah. Para calo-calo Firman 
itu begitu pinternya menjual angin sorga sehingga banyak sekali manusia yang 
tergiur, sehingga mereka bersedia untuk membayar uang dimuka untuk mendapatkan 
ticket ke sorga indah ini. Ingin nyaho dongeng lanjutannya baca oret-oretan 
liuer nya mang Ucup esok.

Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net
==============================================
From: Bagus Pramono 

Siapa tahu kitapun salah memahami Tuhan…

"Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan 
yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!" 
(Markus 11:9-10) 

…Namun mereka makin keras berteriak: "Salibkanlah Dia!" (Markus 15:14)

Keempat Injil mencatat Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem dengan sambutan meriah 
sebagai Raja. Namun kisah ini mengawali perjalanan sengsara yang akan ditempuh 
oleh Yesus. Ia tidak datang dengan kuda yang merupakan simbol dari seorang 
Raja/ Panglima Perang yang memasuki kota yang berhasil direbutnya. Tetapi Yesus 
memasuki kota Yerusalem dengan cara yang unik ia menunggang keledai muda yang 
belum pernah mengangkat beban. Mungkin para murid berpikir, kok aneh Yesus 
memilih naik keledai ?, ya daripada tidak sama-sekali para murid menurutiNya 
juga. Para Murid menolong Yesus naik keledai dan menghamparkan jubah mereka di 
jalan yang dilalui Yesus. Perbuatan ini adalah simbol dari penyerahan diri 
kepada sang Raja. Para murid menyambut gembira perbuatan Yesus, mereka merasa 
moment itu adalah awal dari pernyataan Guru mereka setelah mengadakan banyak 
sekali mujizat dan kesembuhan, saatnya telah tiba bahwa Guru mereka menyatakan 
diriNya sebagai Raja Mesias dan juga Raja Politis yang segera akan membebaskan 
mereka dari jajahan Romawi. Peristiwa ini adalah pemenuhan nubuat nabi Zakharia 
yang berkata: "Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, 
bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; Ia adil 
dan jaya. Ia lemah-lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban 
yang muda" (Zakharia 9:9). Dengan menggunakan keledai beban yang muda, Tuhan 
Yesus menyatakan diriNya di depan khalayak ramai bahwa kedatanganNya 
semata-mata untuk menciptakan damai-sejahtera (Kerajaan Shalom). Dia adalah 
Raja Damai; Raja yang bukan datang dengan kendaraan perang siap bertempur, 
tetapi datang dengan damai sejahtera. 

Para murid bergembira dengan peristiwa itu, namun kalau saja mereka mengingat 
apa yang dikatakan Yesus seperti misalnya yang dicatat dalam Lukas 18:31-33 
dimana Yesus telah menubuatkan masa sengsara yang segera akan dilaluiNya, 
mereka seharusnya tidak gembira. Dan benar kita melihat perubahan drastis 
setelah peristiwa dielu-elukannya Yesus Kristus di Yerusalem. Dua kutipan ayat 
diatas sangat berlawanan, setelah orang-orang Israel mengelu-elukan Yesus 
sebagai Raja dengan berteriak "Hosanna!" (Markus 11:9-10) tak lama kemudian 
mereka berteriak "Salibkan Dia!" (Markus 15:14). Bagaimana hal ini bisa 
terjadi? Karena mereka salah memahami Yesus. 

Yesus memang Mesias tetapi Ia bukan raja politis, sedangkan orang-orang Yahudi 
termasuk murid-muridNya sendiri berharap Yesus akan melakukan mujizat/ kuasa 
yang heboh dan mengusir penindasan Romawi secara politis. Khayalak ramai telah 
mengenal Yesus dari mujizat-mujizatnya; lima roti dan dua ikan "dengan mujizat" 
cukup memberi makan 5000 orang laki-laki belum termasuk anak-anak dan para 
wanita. Orang sakit disembuhkan, orang cacat menjadi normal. Nah Yesus memenuhi 
harapan-harapan mereka sebagai "Sang Pembuat Mujizat". Yesus Kristus punya nama 
besar, punya massa, punya pengagum. Orang-orang sebangsanya sudah mengenal-Nya, 
mengakui kharisma-Nya, menghormati-Nya. Tentu akan mudah bagiNya untuk memimpin 
massa dengan kuasaNya sebagai seorang Raja yang dapat melindungi rakyat secara 
politis. Mereka salah memahami Yesus, dan menganggap Yesus tidak juga tergerak 
untuk melakukan sesuatu bagi bangsa-Nya yaitu membebaskan bangsa-Nya, mereka 
kecewa. 

Murid-murid juga salah memahami, mereka mungkin mengenal Yesus sebatas sebagai 
rabbi atau nabi, sehingga merekapun kaget ketika kubur Yesus itu kosong. 
Padahal berita tentang kematian dan kebangkitanNya sudah diberikan lebih dahulu 
kepada mereka. 

Mari kita lihat dalam kasus ini bahwa murid-pengkianat itupun juga mencoba 
memancing reaksi Yesus secara politis. Yudas Iskariot menerima 30 keping uang 
perak bukan karena 'mata-duitan' (saja) namun ia mempunyai rencana yang lebih 
dari itu. Sebagai orang Yahudi, sama dengan kerinduan orang-orang lainnya, ia 
merindukan kemerdekaan dari penguasaan Romawi, Yudas menaruh harapan besar pada 
Yesus. Dan kita juga menemukan perubahan hati Yudas, apa yang menyebabkan Yudas 
menjadi seorang 'pengkhianat'? Jawabannya sama dengan orang kebanyakan itu… 
karena iapun kecewa. 

Rasa kecewa ini terjadi karena mereka tidak mengenalNya secara benar, karena 
tidak memahami Yesus. Rasa kecewa membuat mereka berubah secara drastis dalam 
memandang Yesus, sehingga dengan mudah kata "hosana" itu secara singkat berubah 
menjadi "salibkan Dia!". Demikianlah dalam kehidupan kita masa sekarang, apa 
yang menjangkiti umat di masa lalu, bisa juga menjangkiti umat masa sekarang. 

Kita-kitapun berfikir bahwa Tuhan itu bermujizat, penyembuh, pemberi sukses, 
pemberi berkat, penolong, dan konsep-konsep ini kita terapkan bahwa didalam Dia 
tidak seharusnya ada sakit-penyakit, pasti selalu ada kesuksesan, karena 
menganggap Tuhan "pasti begini atau pasti begitu". Kita hanya mencari Tuhan 
karena berkat (Yohanes 6:26). 
Dan kitapun bahkan "memancing" berkatnya dengan persembahan yang kita berikan 
dengan "maksud" persembahan itu pasti kembali dengan berlipat-lipat kali ganda. 

Tuhan sumber berkat dan mujizat! 
Ya, memang Dia sumber berkat dan mujizat, tetapi kita perlu mengenalnya lebih 
dari sekedar "Pemberi berkat dan mujizat". Kita telah melihat contoh akibat 
pengenalan konsep ini, orang dengan mudah mengutuki Yesus ketika mereka 
menganggap Yesus tak melakukan apa-apa sesuai mau mereka. Pengenalan akan Tuhan 
sebatas Dia sebagai penyedia berkat dan mujizat itu sangat berbahaya. Kita 
melihat betapa mudahnya orang-orang Yahudi yang sebelumnya mengelu-elukan Yesus 
bagai raja, kemudian dalam beberapa hari saja mudah terhasut imam-iman dan ahli 
Taurat dan menjadi 'murtad' (berbalik dan memusuhi) dan mengutuki Yesus. 

Pengenalan kepada Tuhan semacam itu menyebabkan kita salah dalam memahami 
Tuhan. Dan apabila kita tidak dikenal oleh Tuhan, itu juga lebih berbahaya 
lagi. Ada orang yang 'pekerjaannya' membuat mujizat dalam nama Tuhan, tetapi 
kemudian Yesus berkata "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, 
kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23). Dalam keadaan seperti ini, 
jelas neraka ada didepan mata, dan ini adalah akibat yang sangat mengerikan 
dari pengenalan dan pemahaman yang salah akan Tuhan. 

Ketika Musa ingin mengenal Tuhan, ia menanyakan namaNya, TUHAN Tuhan menjawab, 
bahwa nama-Nya adalah: "AKU ADALAH AKU", yang dalam bahasa Ibrani ditulis 
dengan "'EHEYEH 'ASHER 'EHEYEH" (Keluaran 3:14). 

'EHEYEH itulah nama-Nya yang pertama kali diucapkan kepada Musa. Kata 'EHEYEH, 
yang berarti AKU AKAN ADA berasal dari kata "HAYAH", yang menurut para ahli 
mewujudkan rangkuman dari kata-kata: berada, menjadi dan bekerja (to be, to 
become dan to work) . Hakekat TUHAN Tuhan adalah 'ADA'. Namun sifat 'ADA'-nya 
Tuhan itu jauh berada diluar jangkauan analisis filosofis manusia. Sehingga 
manusia 'bisa salah' memahamiNya. 
Namun yang harus diperhatikan dalam jawaban tentang namaNya itu ialah, bahwa 
nama TUHAN Tuhan diungkapkan dengan bentuk 'kata-kerja', kata yang hidup, bukan 
dengan kata-nama-benda, atau kata benda yang mati. Menurut beberapa ahli, 
secara bebas ungkapan ini dapat diterjemahkan dengan, "Aku akan hadir, 
berbuat", atau "Aku akan hadir dengan berbuat". Kehadiran TUHAN Tuhan bagi 
Israel bukan seperti kehadiran barang yang mati (batu, meja, kursi, dan 
sebagainya), melainkan suatu kehadiran yang di dalam perbuatan-Nya, umat akan 
mengenal Tuhan Tuhan dari perbuatan-perbuatan atau karya-karyaNya, yang 
ditujukan kepada kepentingan umat-Nya. TUHAN Tuhan bagi bukanlah TUHAN Tuhan 
yang tidak bergerak, bukanlah TUHAN Tuhan yang mati, melainkan TUHAN Tuhan yang 
hidup, yang bekerja, yang penuh dengan dinamika. 

Kita perlu tahu lebih dalam siapa Tuhan, janganlah kita membatasi diriNya 
dengan pandangan "Tuhan musti begini dan musti begitu". Kita dapat mengenal 
Tuhan sejauh Ia menyatakan diriNya kepada kita, dan manusia sangat terbatas 
sekali pengenalan kepadaNya. Dia lebih misterius daripada yang mampu kita 
kenal. Hakekat Tuhan tak cukup dibatasi dengan satu atau dua macam doktrin saja 
yang mampu dicerna manusia, Ia lebih dari itu! Ada banyak hal-hal tersembunyi 
tentang Tuhan (Ulangan 29:29); RancanganNya bukan rancangan kita, jalanNya 
bukan jalan yang kita tentukan (Yesaya 55:8-9). Jadi kita sama sekali tidak 
mempunyai hak menentukan "Tuhan musti begini dan musti begitu". 

Siapakah Tuhan yang kukenal? 

Rasul Paulus memberikan contoh pengenalan akan Tuhan yang tidak dinilai dari 
berkat dan mujizat secara materi atau yang kasat mata saja, ia menulis "Yang 
kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam 
penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, 
(Filipi 3:10). Paulus menulis surat Filipi dalam keadaan sengsara dipenjara. 
Tetapi justru dalam surat ini rasul Paulus berbicara banyak mengenai suka-cita 
untuk itulah Efesus disebut 'The Book of Joy'. 

Maka kitapun perlu duduk diam, memeriksa diri kita didepan Tuhan, apakah kita 
hanya mengenalNya secara terbatas pada berkat dan mujizatNya saja? Siapa tahu 
kitapun salah dalam memahamiNya?. Jangan sampai karena kurang-kenalnya kita 
kepadaNya membuat kita mengkianatiNya, membuat kita mudah terhasut, membuat 
kita mudah kecewa pada keadaan dimana kita merasa Tuhan tidak berbuat apa-apa 
untuk kita. Tuhan Yesus selalu ingin kita mengenal Dia lebih dalam, perhatikan 
ayat ini : 

* Wahyu 3:20 
LAI TB, Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang 
mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku 
makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. 
KJV, Behold, I stand at the door, and knock: if any man hear my voice, and open 
the door, I will come in to him, and will sup with him, and he with me. 
TR, ιδου εστηκα επι την θυραν και κρουω εαν τις ακουση της φωνης μου και ανοιξη 
την θυραν εισελευσομαι προς αυτον και δειπνησω μετ αυτου και αυτος μετ εμου 
Translit interlinear, idou {perhatikan} estêka {Aku berdiri} epi {didepan} tên 
thuran {pintu} kai {dan} krouô {Aku terus mengetuk} ean {jikalau} tis {ada 
orang} akousê {mendengar} tês phônês {suara} mou {-Ku} kai {dan} anoixê 
{membuka} tên thuran {pintu} kai {lalu} eiseleusomai {Aku akan datang} pros 
{kepada} auton {dia} kai {lalu} deipnêsô {Aku akan makan (malam; 'supper')} met 
{bersama} autou {-nya} kai {dan} autos {ia} met {bersama} emou {Aku} 

Ayat diatas ditujukan kepada jemaat Laodikia. Jemaat ini cukup banyak disorot 
dalam Kitab Wahyu. Kota Laodikia didirikan oleh Antiokhus II dari Siria untuk 
istrinya, Laodike. Laodikia berkembang menjadi kota yang besar, ramai, dan 
terkenal. Ada tiga ciri khas kota ini yang membuatnya terkenal dimana-mana 
yaitu sebagai penghasil bulu domba yang lembut, mengkilap, serta berwarna hitam 
keungu-unguan, dan Laodikia ini juga tersohor karena mutu sekolah 
kedokterannya. Dua dokter dari kota ini, Zeuxis dan Aleksander Filalethes 
dikenal prestasi medis mereka dengan diproduksinya salep mata dan salep 
telinga. Dan Laodikia ini sangat makmur karena kota ini adalah salah satu pusat 
kegiatan perbankan. Dengan kehebatan perdagangan dan kemakmurannya, tentu saja 
kota ini sibuk. Jemaat Laodikia adalah jemaat yang besar, namun 
kelebihan-kelebihan yang membanggakan ini membuat mereka lupa, jemaat Laodikia 
adalah gambaran Kristen yang lahiriah (Wahyu 3: 17). Hal ini dapat mengambarkan 
situasi Gereja pada masa sekarang dimana mereka yang merasa kaya, tidak perlu 
bersandar kepada Tuhan. 

Dalam Wahyu 3:20 ini jelas bahwa pengenalan akan Tuhan tidak dapat dipisahkan 
dengan inisiatif untuk membuka pintu hati. Yesus menyatakan ingin masuk ke 
dalam pintu hati jemaatNya dan disambung dengan kalimat 'Ia akan makan bersama 
umatNya jika sudah dibukakan'. Kata yang dipakai dalam ayat diatas adalah 
"makan-malam" (Yunani, "deipneo"), bukan sarapan dan bukan makan siang. Ini 
tentu saja mempunyai makna sendiri. Zaman dahulu maupun sekarang, orang akan 
sarapan dan makan siang dengan waktu yang terbatas. Namun, dalam suasana 
makan-malam itu terdapat persekutuan yang indah karena kita tidak diburu waktu 
karena banyaknya kegiatan dari pagi hingga sore hari. Orang bisa melakukan 
makan-malam dengan waktu yang lebih panjang. Persekutuan inilah yang didambakan 
Yesus Kristus kepada kita. Dan dalam suasana seperti ini kita bisa lebih 
memahami Dia dan menikmati Dia. 

Betapa kita ini seringkali walaupun dimulut mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, 
tapi hal ini sebatas kata "diakui ada", padahal Tuhan itu kita anggap sebatas 
pemberi berkat saja, sehingga Tuhan lah yang melayani kita. Belum tentu kita 
sudah benar-benar menempatkan Dia sebagai Tuan/Lord (Kurios). Betapa kitapun 
kadang lebih menganggap bisnis sebagai "kurios", entertainment sebagai 
"kurios", asset sebagai "kurios", berkat sebagai "kurios", mujizat sebagai 
"kurios", pendeta sebagai "kurios"; orang yang menjabat sebagai 'penguasa' 
gereja/ 'pemilik' gereja sebagai "kurios" dan ibadah kita dalam Gereja tertuju 
hal-hal tersebut, bukan kepada Yesus Kristus – Tuhan – Tuan diatas segala tuan, 
Kurios yang sesungguhnya. 

Yesus Kristus, Sang Tuan ini sangat sopan, Ia tak pernah memaksa, Ia mengetuk 
(dan terus mengetuk) menunggu dibukakan. Ia senantiasa menyediakan waktu bagi 
kita untuk mengenalNya dalam persekutuan jamuan makan-malam yang akrab. Jikalau 
kita menyempatkan diri mengenalNya lebih dalam, niscaya kita tak akan mudah 
kecewa karena kita tak lagi membatasiNya untuk berbuat "musti begini dan musti 
begitu" dan kita tidak akan mudah kecewa atau bahkan sampai mengutuki Tuhan 
jikalau kita menghadapi hal-hal yang tidak sesuai kemauan kita. Pengenalan yang 
benar terhadap Dia, tidak akan membuat kita berubah hati secara drastis dari 
"Hosanna!" kepada "Salibkan Dia!". 

Tuhan tahu apa yang Ia rencanakan, dan rencanaNya untuk kebaikan kita. Kita 
telah melihat contoh dimana ada banyak orang kecewa karena kurangnya pengenalan 
kepada Tuhan dan menganggap Yesus tidak melakukan apa-apa secara politis, 
menumpas penjajahan Romawi secara ukuran manusia. Tetapi ukuran Tuhan lebih 
dari itu, karena Yesus Kristus menumpas penjajahan dosa secara menyeluruh yang 
membuat manusia dan Tuhan diperdamaikan dan kita semua menikmati keselamatan 
yang ditawarkanNya. Gereja Tuhan pun tak perlu lagi menekankan berkat dan 
mujizat saja sebagai pengenalan akan Tuhan. Kita yang telah menikmati 
keselamatan yang diberikanNya, hendaklah senantiasa mau mengenal Dia, untuk 
lebih memahami Dia, dan tunduk terhadap apa yang Ia rancangkan untuk kita. 
Seperti seorang bapak tahu dan paham kebutuhan anaknya. Demikianlah Tuhan tahu 
kapan waktu yang tepat dalam memberi berkat. Kenalilah Dia bukan terbatas pada 
berkat dan mujizatNya saja. Hosanna senantiasa bagi Tuhan! 

Blessings in Christ, 
Bagus Pramono 
April 2, 2007
http://www.sarapanpagi.org/siapa-tahu-kitapun-salah-memahami-tuhan-vt1053html#3353

 

Kirim email ke