From: mangucup88
Satu Detik setelah Loe Koit !
Bukan artikel rohani ! Kewajiban setiap manusia di dunia ini entah ia itu wong
Tionghoa, wong Londo, wong Indo semuanya harus koit ! Saya menyadari bahwa
generasi mang Ucup adalah generasi kloter berikutnya yang akan yang akan
mendapatkan "last call for departure".
Pokoknya rekan-rekan ato para pembaca yang usianya udah diatas GOcap-GO, harus
siap-siap lah untuk dipanggil, bahwa tidak lama lagi "Loe kudu GO to heaven" or
to Hell pulang kampuang begitu. Hanya orang-orang belegug ato dalam bahasa
Inggrisnya GO-Block azah yang tidak mau membuat persiapan dari sekarang
Tiap orang udah nyaho, bahwa mereka itu harus kojor, tetapi sangat jarang
sekali yang mo mikirin, seakan-akan mereka itu bisa hidup kekal didunia ini
seperti juga Highlander. Apabila kita akan berangkat pergi liburan tentu kita
ingin mengetahui tempat yang akan kita tuju, tetapi pernahkah Anda ingin
mengetahui "What next?"
setelah kematian itu datang!
Apa yang akan terjadi "One second after you die" – "Satu detik setelah Loe
koit!"
Orang-orang disekitar saya memiliki tiga pandangan mengenai kematian itu:
- berakhir s/d disini saja alias jadi seongok debu ato abu
- dilahirkan kembali entah jadi kecoak, cacing ato manusia ato jadi buaya
- melanjutkan kehidupan ini dengan tubuh baru yang kekal dan abadi
Yang sudah pasti setelah si Ucp mampus! Manusia yang namanya Ucup itu udah di
setip alias dibusek di dunia ini dan digantikan dengan nama Ucup Almarhum.
Semua kewajiban duniawi, mulai dari utang yang berjibun s/d segala macam
kontrak perjanjian pun akan berakhir dengan sendirinya, begitu juga dengan
kontrak perkawinan kita. Hal positiv lainnya ialah semua rasa nyeri, rasa
takut, maupun penderitaan duniawi kita pun akan berakhir, jadi benar-benar
bebas tulen!
Sedangkan dari sisi negativ nya apa saja yang menjadi miliki kita di dunia ini,
akan hilang pada saat itu juga, entah ini mobil Jaguar, uang simpanan di Swis
Bank, istri simpanan di Jkt, gelar, jabatan maupun kekuasaan akan menguap dalam
sedetik setelah si Ucup koit.
Begitu juga dengan tubuh jasmani, kita tidak akan bisa balik kembali ketubuh
itu lagi, karena ini sdh bukan menjadi milik kita lagi, bahkan kita sdh
kehilangan kontrol terhadap diri kita sendiri.
Sejak si Ucup mati, maka ia sdh akan tidak berfungsi lagi, sama seperti juga
robot yang kehabisan baterie. Yang ada hanya seongok daging yang tidak lama
lagi akan menjadi busuk ato jadi abu! Setelah Loe mati, Loe akan kehilangan
semua hak yang Loe miliki, kita tidak memiliki hak kebebasan untuk memilih
ataupun menentukan ini ato itu lagi, it is over my friend!
Ada dua macam tipe manusia di dunia ini, yang satu emoh ato enggan pulang
kampuang, dengan alasan karena anak-anaknya masih kecil lah, ato merasa tugas
ini ato itu belum selesai, tetapi ini semuanya hanya sekedar alasan monafik,
alasan yang sebenarnya sih "Gue masih belum puas merengguk kehidupan di dunia
ini, sehingga Gue masih betah di dunia yang pabaliut ini, walaupun banyak orang
kere, sengsara dan menderita sekalipun, itu kan bukan urusan Owe, yang penting
Gw bisa hidup sehat, makan enak dan hidup enak, yang lain sih masa bodo, so
what gitu loh!"
Sedang manusia tipe lainnya ingin buruan pulang, karena mereka udah nyaho bahwa
masa hidupnya udah di itung oleh kalkulatornya sang Dr, ato penderitaan yang
datang tak ada abis2nya, ato rasa nyeri yang tak kujung berakhir. Tetapi yang
menjadi masalah adalah what next?
Satu detik setelah Loe koit! Apakah api neraka yang udah nunggu Loe disono? Ato
pager betis yang terdiri dari malaikat2 yang geulis dan bahenol sedang menunggu
kita?
Hal inilah yang membuat orang jadi takut kojor dan bimbang untuk memilih hidup
atau kematian, ketika Hamlet dalam drama Shakespeare mau bunuh diri ia merenung
dalam2 dan berkata: "To be or not to be: that is the question"
Whether 'tis nobler in the mind to suffer the slings and arrows of outrageous
fortune,
or to take arms against a sea of troubles, and by opposing end them?
To die: To sleep; no more; ….
: (Shakespeare, Hamlet, Act III, Scene I)
Manakah yang lebih luhur, menerima dengan rela panah atau batu pelontar nasib
buruk yang ganas, ataukah menempuh lautan bencana menentangnya serta
mengakhirinya? Mati – tidur – tak lebih.
Hamlet bersedia untuk melakukan bunuh diri karena menurut dia ini akan bisa
membebaskan dia dari lautan bencana, tetapi dilain pihak ia khawatir akan
kerajaan maut, dari mana musafir tak pernah kembali dengan selamat. Hal inilah
yang membuat dia jadi bingung dan lieur!
Lucu bin nyata, sebenarnya di dunia ini tidak ada manusia hidup satupun juga,
yang pernah mengadakan tour ke dunia orang mati, tetapi anehnya kok buaaa…anyak
sekali travel office yang menawarkan tour ke sorga indah. Para calo-calo Firman
itu begitu pinternya menjual angin sorga sehingga banyak sekali manusia yang
tergiur, sehingga mereka bersedia untuk membayar uang dimuka untuk mendapatkan
ticket ke sorga indah ini. Ingin nyaho dongeng lanjutannya baca oret-oretan
liuer nya mang Ucup esok.
Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net
==============================================
From: Bagus Pramono
Siapa tahu kitapun salah memahami Tuhan…
"Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan
yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!"
(Markus 11:9-10)
…Namun mereka makin keras berteriak: "Salibkanlah Dia!" (Markus 15:14)
Keempat Injil mencatat Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem dengan sambutan meriah
sebagai Raja. Namun kisah ini mengawali perjalanan sengsara yang akan ditempuh
oleh Yesus. Ia tidak datang dengan kuda yang merupakan simbol dari seorang
Raja/ Panglima Perang yang memasuki kota yang berhasil direbutnya. Tetapi Yesus
memasuki kota Yerusalem dengan cara yang unik ia menunggang keledai muda yang
belum pernah mengangkat beban. Mungkin para murid berpikir, kok aneh Yesus
memilih naik keledai ?, ya daripada tidak sama-sekali para murid menurutiNya
juga. Para Murid menolong Yesus naik keledai dan menghamparkan jubah mereka di
jalan yang dilalui Yesus. Perbuatan ini adalah simbol dari penyerahan diri
kepada sang Raja. Para murid menyambut gembira perbuatan Yesus, mereka merasa
moment itu adalah awal dari pernyataan Guru mereka setelah mengadakan banyak
sekali mujizat dan kesembuhan, saatnya telah tiba bahwa Guru mereka menyatakan
diriNya sebagai Raja Mesias dan juga Raja Politis yang segera akan membebaskan
mereka dari jajahan Romawi. Peristiwa ini adalah pemenuhan nubuat nabi Zakharia
yang berkata: "Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion,
bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; Ia adil
dan jaya. Ia lemah-lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban
yang muda" (Zakharia 9:9). Dengan menggunakan keledai beban yang muda, Tuhan
Yesus menyatakan diriNya di depan khalayak ramai bahwa kedatanganNya
semata-mata untuk menciptakan damai-sejahtera (Kerajaan Shalom). Dia adalah
Raja Damai; Raja yang bukan datang dengan kendaraan perang siap bertempur,
tetapi datang dengan damai sejahtera.
Para murid bergembira dengan peristiwa itu, namun kalau saja mereka mengingat
apa yang dikatakan Yesus seperti misalnya yang dicatat dalam Lukas 18:31-33
dimana Yesus telah menubuatkan masa sengsara yang segera akan dilaluiNya,
mereka seharusnya tidak gembira. Dan benar kita melihat perubahan drastis
setelah peristiwa dielu-elukannya Yesus Kristus di Yerusalem. Dua kutipan ayat
diatas sangat berlawanan, setelah orang-orang Israel mengelu-elukan Yesus
sebagai Raja dengan berteriak "Hosanna!" (Markus 11:9-10) tak lama kemudian
mereka berteriak "Salibkan Dia!" (Markus 15:14). Bagaimana hal ini bisa
terjadi? Karena mereka salah memahami Yesus.
Yesus memang Mesias tetapi Ia bukan raja politis, sedangkan orang-orang Yahudi
termasuk murid-muridNya sendiri berharap Yesus akan melakukan mujizat/ kuasa
yang heboh dan mengusir penindasan Romawi secara politis. Khayalak ramai telah
mengenal Yesus dari mujizat-mujizatnya; lima roti dan dua ikan "dengan mujizat"
cukup memberi makan 5000 orang laki-laki belum termasuk anak-anak dan para
wanita. Orang sakit disembuhkan, orang cacat menjadi normal. Nah Yesus memenuhi
harapan-harapan mereka sebagai "Sang Pembuat Mujizat". Yesus Kristus punya nama
besar, punya massa, punya pengagum. Orang-orang sebangsanya sudah mengenal-Nya,
mengakui kharisma-Nya, menghormati-Nya. Tentu akan mudah bagiNya untuk memimpin
massa dengan kuasaNya sebagai seorang Raja yang dapat melindungi rakyat secara
politis. Mereka salah memahami Yesus, dan menganggap Yesus tidak juga tergerak
untuk melakukan sesuatu bagi bangsa-Nya yaitu membebaskan bangsa-Nya, mereka
kecewa.
Murid-murid juga salah memahami, mereka mungkin mengenal Yesus sebatas sebagai
rabbi atau nabi, sehingga merekapun kaget ketika kubur Yesus itu kosong.
Padahal berita tentang kematian dan kebangkitanNya sudah diberikan lebih dahulu
kepada mereka.
Mari kita lihat dalam kasus ini bahwa murid-pengkianat itupun juga mencoba
memancing reaksi Yesus secara politis. Yudas Iskariot menerima 30 keping uang
perak bukan karena 'mata-duitan' (saja) namun ia mempunyai rencana yang lebih
dari itu. Sebagai orang Yahudi, sama dengan kerinduan orang-orang lainnya, ia
merindukan kemerdekaan dari penguasaan Romawi, Yudas menaruh harapan besar pada
Yesus. Dan kita juga menemukan perubahan hati Yudas, apa yang menyebabkan Yudas
menjadi seorang 'pengkhianat'? Jawabannya sama dengan orang kebanyakan itu…
karena iapun kecewa.
Rasa kecewa ini terjadi karena mereka tidak mengenalNya secara benar, karena
tidak memahami Yesus. Rasa kecewa membuat mereka berubah secara drastis dalam
memandang Yesus, sehingga dengan mudah kata "hosana" itu secara singkat berubah
menjadi "salibkan Dia!". Demikianlah dalam kehidupan kita masa sekarang, apa
yang menjangkiti umat di masa lalu, bisa juga menjangkiti umat masa sekarang.
Kita-kitapun berfikir bahwa Tuhan itu bermujizat, penyembuh, pemberi sukses,
pemberi berkat, penolong, dan konsep-konsep ini kita terapkan bahwa didalam Dia
tidak seharusnya ada sakit-penyakit, pasti selalu ada kesuksesan, karena
menganggap Tuhan "pasti begini atau pasti begitu". Kita hanya mencari Tuhan
karena berkat (Yohanes 6:26).
Dan kitapun bahkan "memancing" berkatnya dengan persembahan yang kita berikan
dengan "maksud" persembahan itu pasti kembali dengan berlipat-lipat kali ganda.
Tuhan sumber berkat dan mujizat!
Ya, memang Dia sumber berkat dan mujizat, tetapi kita perlu mengenalnya lebih
dari sekedar "Pemberi berkat dan mujizat". Kita telah melihat contoh akibat
pengenalan konsep ini, orang dengan mudah mengutuki Yesus ketika mereka
menganggap Yesus tak melakukan apa-apa sesuai mau mereka. Pengenalan akan Tuhan
sebatas Dia sebagai penyedia berkat dan mujizat itu sangat berbahaya. Kita
melihat betapa mudahnya orang-orang Yahudi yang sebelumnya mengelu-elukan Yesus
bagai raja, kemudian dalam beberapa hari saja mudah terhasut imam-iman dan ahli
Taurat dan menjadi 'murtad' (berbalik dan memusuhi) dan mengutuki Yesus.
Pengenalan kepada Tuhan semacam itu menyebabkan kita salah dalam memahami
Tuhan. Dan apabila kita tidak dikenal oleh Tuhan, itu juga lebih berbahaya
lagi. Ada orang yang 'pekerjaannya' membuat mujizat dalam nama Tuhan, tetapi
kemudian Yesus berkata "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku,
kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23). Dalam keadaan seperti ini,
jelas neraka ada didepan mata, dan ini adalah akibat yang sangat mengerikan
dari pengenalan dan pemahaman yang salah akan Tuhan.
Ketika Musa ingin mengenal Tuhan, ia menanyakan namaNya, TUHAN Tuhan menjawab,
bahwa nama-Nya adalah: "AKU ADALAH AKU", yang dalam bahasa Ibrani ditulis
dengan "'EHEYEH 'ASHER 'EHEYEH" (Keluaran 3:14).
'EHEYEH itulah nama-Nya yang pertama kali diucapkan kepada Musa. Kata 'EHEYEH,
yang berarti AKU AKAN ADA berasal dari kata "HAYAH", yang menurut para ahli
mewujudkan rangkuman dari kata-kata: berada, menjadi dan bekerja (to be, to
become dan to work) . Hakekat TUHAN Tuhan adalah 'ADA'. Namun sifat 'ADA'-nya
Tuhan itu jauh berada diluar jangkauan analisis filosofis manusia. Sehingga
manusia 'bisa salah' memahamiNya.
Namun yang harus diperhatikan dalam jawaban tentang namaNya itu ialah, bahwa
nama TUHAN Tuhan diungkapkan dengan bentuk 'kata-kerja', kata yang hidup, bukan
dengan kata-nama-benda, atau kata benda yang mati. Menurut beberapa ahli,
secara bebas ungkapan ini dapat diterjemahkan dengan, "Aku akan hadir,
berbuat", atau "Aku akan hadir dengan berbuat". Kehadiran TUHAN Tuhan bagi
Israel bukan seperti kehadiran barang yang mati (batu, meja, kursi, dan
sebagainya), melainkan suatu kehadiran yang di dalam perbuatan-Nya, umat akan
mengenal Tuhan Tuhan dari perbuatan-perbuatan atau karya-karyaNya, yang
ditujukan kepada kepentingan umat-Nya. TUHAN Tuhan bagi bukanlah TUHAN Tuhan
yang tidak bergerak, bukanlah TUHAN Tuhan yang mati, melainkan TUHAN Tuhan yang
hidup, yang bekerja, yang penuh dengan dinamika.
Kita perlu tahu lebih dalam siapa Tuhan, janganlah kita membatasi diriNya
dengan pandangan "Tuhan musti begini dan musti begitu". Kita dapat mengenal
Tuhan sejauh Ia menyatakan diriNya kepada kita, dan manusia sangat terbatas
sekali pengenalan kepadaNya. Dia lebih misterius daripada yang mampu kita
kenal. Hakekat Tuhan tak cukup dibatasi dengan satu atau dua macam doktrin saja
yang mampu dicerna manusia, Ia lebih dari itu! Ada banyak hal-hal tersembunyi
tentang Tuhan (Ulangan 29:29); RancanganNya bukan rancangan kita, jalanNya
bukan jalan yang kita tentukan (Yesaya 55:8-9). Jadi kita sama sekali tidak
mempunyai hak menentukan "Tuhan musti begini dan musti begitu".
Siapakah Tuhan yang kukenal?
Rasul Paulus memberikan contoh pengenalan akan Tuhan yang tidak dinilai dari
berkat dan mujizat secara materi atau yang kasat mata saja, ia menulis "Yang
kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam
penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
(Filipi 3:10). Paulus menulis surat Filipi dalam keadaan sengsara dipenjara.
Tetapi justru dalam surat ini rasul Paulus berbicara banyak mengenai suka-cita
untuk itulah Efesus disebut 'The Book of Joy'.
Maka kitapun perlu duduk diam, memeriksa diri kita didepan Tuhan, apakah kita
hanya mengenalNya secara terbatas pada berkat dan mujizatNya saja? Siapa tahu
kitapun salah dalam memahamiNya?. Jangan sampai karena kurang-kenalnya kita
kepadaNya membuat kita mengkianatiNya, membuat kita mudah terhasut, membuat
kita mudah kecewa pada keadaan dimana kita merasa Tuhan tidak berbuat apa-apa
untuk kita. Tuhan Yesus selalu ingin kita mengenal Dia lebih dalam, perhatikan
ayat ini :
* Wahyu 3:20
LAI TB, Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang
mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku
makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
KJV, Behold, I stand at the door, and knock: if any man hear my voice, and open
the door, I will come in to him, and will sup with him, and he with me.
TR, ιδου εστηκα επι την θυραν και κρουω εαν τις ακουση της φωνης μου και ανοιξη
την θυραν εισελευσομαι προς αυτον και δειπνησω μετ αυτου και αυτος μετ εμου
Translit interlinear, idou {perhatikan} estêka {Aku berdiri} epi {didepan} tên
thuran {pintu} kai {dan} krouô {Aku terus mengetuk} ean {jikalau} tis {ada
orang} akousê {mendengar} tês phônês {suara} mou {-Ku} kai {dan} anoixê
{membuka} tên thuran {pintu} kai {lalu} eiseleusomai {Aku akan datang} pros
{kepada} auton {dia} kai {lalu} deipnêsô {Aku akan makan (malam; 'supper')} met
{bersama} autou {-nya} kai {dan} autos {ia} met {bersama} emou {Aku}
Ayat diatas ditujukan kepada jemaat Laodikia. Jemaat ini cukup banyak disorot
dalam Kitab Wahyu. Kota Laodikia didirikan oleh Antiokhus II dari Siria untuk
istrinya, Laodike. Laodikia berkembang menjadi kota yang besar, ramai, dan
terkenal. Ada tiga ciri khas kota ini yang membuatnya terkenal dimana-mana
yaitu sebagai penghasil bulu domba yang lembut, mengkilap, serta berwarna hitam
keungu-unguan, dan Laodikia ini juga tersohor karena mutu sekolah
kedokterannya. Dua dokter dari kota ini, Zeuxis dan Aleksander Filalethes
dikenal prestasi medis mereka dengan diproduksinya salep mata dan salep
telinga. Dan Laodikia ini sangat makmur karena kota ini adalah salah satu pusat
kegiatan perbankan. Dengan kehebatan perdagangan dan kemakmurannya, tentu saja
kota ini sibuk. Jemaat Laodikia adalah jemaat yang besar, namun
kelebihan-kelebihan yang membanggakan ini membuat mereka lupa, jemaat Laodikia
adalah gambaran Kristen yang lahiriah (Wahyu 3: 17). Hal ini dapat mengambarkan
situasi Gereja pada masa sekarang dimana mereka yang merasa kaya, tidak perlu
bersandar kepada Tuhan.
Dalam Wahyu 3:20 ini jelas bahwa pengenalan akan Tuhan tidak dapat dipisahkan
dengan inisiatif untuk membuka pintu hati. Yesus menyatakan ingin masuk ke
dalam pintu hati jemaatNya dan disambung dengan kalimat 'Ia akan makan bersama
umatNya jika sudah dibukakan'. Kata yang dipakai dalam ayat diatas adalah
"makan-malam" (Yunani, "deipneo"), bukan sarapan dan bukan makan siang. Ini
tentu saja mempunyai makna sendiri. Zaman dahulu maupun sekarang, orang akan
sarapan dan makan siang dengan waktu yang terbatas. Namun, dalam suasana
makan-malam itu terdapat persekutuan yang indah karena kita tidak diburu waktu
karena banyaknya kegiatan dari pagi hingga sore hari. Orang bisa melakukan
makan-malam dengan waktu yang lebih panjang. Persekutuan inilah yang didambakan
Yesus Kristus kepada kita. Dan dalam suasana seperti ini kita bisa lebih
memahami Dia dan menikmati Dia.
Betapa kita ini seringkali walaupun dimulut mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan,
tapi hal ini sebatas kata "diakui ada", padahal Tuhan itu kita anggap sebatas
pemberi berkat saja, sehingga Tuhan lah yang melayani kita. Belum tentu kita
sudah benar-benar menempatkan Dia sebagai Tuan/Lord (Kurios). Betapa kitapun
kadang lebih menganggap bisnis sebagai "kurios", entertainment sebagai
"kurios", asset sebagai "kurios", berkat sebagai "kurios", mujizat sebagai
"kurios", pendeta sebagai "kurios"; orang yang menjabat sebagai 'penguasa'
gereja/ 'pemilik' gereja sebagai "kurios" dan ibadah kita dalam Gereja tertuju
hal-hal tersebut, bukan kepada Yesus Kristus – Tuhan – Tuan diatas segala tuan,
Kurios yang sesungguhnya.
Yesus Kristus, Sang Tuan ini sangat sopan, Ia tak pernah memaksa, Ia mengetuk
(dan terus mengetuk) menunggu dibukakan. Ia senantiasa menyediakan waktu bagi
kita untuk mengenalNya dalam persekutuan jamuan makan-malam yang akrab. Jikalau
kita menyempatkan diri mengenalNya lebih dalam, niscaya kita tak akan mudah
kecewa karena kita tak lagi membatasiNya untuk berbuat "musti begini dan musti
begitu" dan kita tidak akan mudah kecewa atau bahkan sampai mengutuki Tuhan
jikalau kita menghadapi hal-hal yang tidak sesuai kemauan kita. Pengenalan yang
benar terhadap Dia, tidak akan membuat kita berubah hati secara drastis dari
"Hosanna!" kepada "Salibkan Dia!".
Tuhan tahu apa yang Ia rencanakan, dan rencanaNya untuk kebaikan kita. Kita
telah melihat contoh dimana ada banyak orang kecewa karena kurangnya pengenalan
kepada Tuhan dan menganggap Yesus tidak melakukan apa-apa secara politis,
menumpas penjajahan Romawi secara ukuran manusia. Tetapi ukuran Tuhan lebih
dari itu, karena Yesus Kristus menumpas penjajahan dosa secara menyeluruh yang
membuat manusia dan Tuhan diperdamaikan dan kita semua menikmati keselamatan
yang ditawarkanNya. Gereja Tuhan pun tak perlu lagi menekankan berkat dan
mujizat saja sebagai pengenalan akan Tuhan. Kita yang telah menikmati
keselamatan yang diberikanNya, hendaklah senantiasa mau mengenal Dia, untuk
lebih memahami Dia, dan tunduk terhadap apa yang Ia rancangkan untuk kita.
Seperti seorang bapak tahu dan paham kebutuhan anaknya. Demikianlah Tuhan tahu
kapan waktu yang tepat dalam memberi berkat. Kenalilah Dia bukan terbatas pada
berkat dan mujizatNya saja. Hosanna senantiasa bagi Tuhan!
Blessings in Christ,
Bagus Pramono
April 2, 2007
http://www.sarapanpagi.org/siapa-tahu-kitapun-salah-memahami-tuhan-vt1053html#3353