From: rm_maryo 

 5 Okt

"Barangsiapa mendengarkan kamu ia mendengarkan Aku" (Bar 1:15-22; Luk 10:13-16)

"Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan 
di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, 
sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, 
tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau 
Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan 
diturunkan 
sampai ke dunia orang mati! Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; 
dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia 
menolak Dia yang mengutus Aku." (Luk 10:13-16), demikian kutipan Warta Gembira 
hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
. Seorang pemimpin atau atasan tidak mungkin mengerjakan semuanya, melainkan 
dalam rangka melaksanakan tugas perutusan atau memfungsikan jabatan senantiasa 
mendelegasikan berbagai tugas kepada para pembantunya. Apa yang dikerjakan oleh 
para pembantu sering kurang dipercaya atau dilecehkan, begitulah yang sering 
terjadi; 
tentu saja mereka yang kurang percaya ini akan dirugikan. "Barangsiapa 
mendengar kan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia 
menolak, dan barangsiapa menolak Aku; ia menolak Dia yang mengutus Aku", 
demikian sabda Yesus. Maka bercermin dari sabda Yesus ini marilah kita dengan 
rendah hati dan 
lembut menerima berbagai utusan yang mendatangi kita, lebih-lebih utusan Tuhan 
yang mendatangi kita berupa permohonan, saran, nasehat, kritik dst. Para utusan 
itu antara lain mereka yang hidup dakat dengan dan bersama kita, entah di dalam 
keluarga maupun tempat kerja. Jika kita dapat dan terampil mendengarkan dan 
menerima aneka bentuk sapaan yang tidak lain merupakan perwujudan kasih dari 
sesama dan saudara kita, maka kita juga dengan mudah mendengarkan dan menerima 
kehendak Tuhan yang disampaikan melalui RohNya. "Sing ora katon wae ora biso 
nggarap ojo maneh sing ora katon" = "Yang kelihatan saja tidak dapat 
mengerjakan apalagi yang tidak 
kelihatan", demikian nasehat bapak saya alm pada suatu hari ketika saya masih 
kecil. Nasehat itu begitu mengesan pada diri saya yang lemah dan rapuh ini. 
Marilah kita wujudkan kebersamaan hidup dan kerja kita sungguh manusiawi, dan 
dengan demikian kita akan lebih mudah terbuka pada Yang Ilahi serta saling 
mengasihi; kita junjung 
tinggi dan hormati harkat martabat manusia sesama dan suadara-saudari kita, 
yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan. 
Dengan kata lain marilah kita temukan dan jumpai Tuhan yang hidup dan berkarya 
dalam diri sesama dan saudara kita, tanpa pandang bulu atau SARA. 
. "Kami tidak mendengarkan suara Tuhan, Tuhan kami, sesuai dengan firman para 
nabi yang telah Tuhan utus kepada kami. Bahkan kami telah pergi berbakti kepada 
Tuhan lain, masing-masing menurut angan-angan hati jahatnya, dan kami melakukan 
apa yang durjana dalam pandangan Tuhan, Tuhan kami."(Bar 1:21-22). 
Kutipan ini rasanya inspiratif bagi kita semua. Merenungkan kutipan ini saya 
teringat 
pernyataan Konggregasi Jendral SJ ke 32 yang antara lain berbunyi: "Yesuit 
ialah orang yang mengakui dirinya pendosa, tetapi tahu bahwa dipanggil menjadi 
sahabat Yesus seperti Ignatius dahulu; Ignatius minta kepada Santa Perawan , 
`agar menempatkan dia di samping Putranya', dan kemudian Ignatius melihat Bapa 
sendiri minta kepada Yesus yang memanggul Salib agar menerima si musafir ini 
dalam kalangan sahabatnya" . Kita adalah musafir-musafir, orang-orang yang 
sedang dalam perjalanan menghayati panggilan dan melaksanakan tugas perutusan 
atau memfungsikan jabatan dan kedudukan kita masing-masing Sadar atau tidak 
kita kiranya dalam perjalanan ini dengan mudah mengesampingkan `suara Tuhan' 
dan ` berbakti kepada Tuhan lain', menjadi materialistis, lebih berbahasa 
politik atau bisnis daripada bahasa kebenaran dan cintakasih. Semakin tambah 
usia dan berpengalaman semakin berdosa dan meninggalkan Tuhan, begitulah yang 
terjadi. Kita sadari dan hayati kelemahan dan kerapuhan kita serta kemudian 
dengan rendah hati membuka diri atas panggilan untuk 
menjadi sahabat-sahabat Yesus. Memang untuk itu kita harus siap sedia untuk 
`memanggul Salib' setiap hari alias dengan setia dan taat menghayati panggilan 
dan melaksanakan tugas perutusan atau kewajiban. Setia dan taat pada panggilan 
dan tugas perutusan tak akan terlepas dari penderitaan, sebagai bentuk 
partisipasi kita pada Yesus, Sahabat kita, yang telah menderita dan wafat di 
kayu salib demi keselamatan dunia, kebahagiaan dan kesejahteraan seluruh umat 
manusia. "Pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang 
akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan 
Tuhan" (1Kor 1:18).

"Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya 
rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami. Tolonglah 
kami, ya Tuhan penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan 
ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu" (Mzm 79:8-9)

Jakarta, 5 Oktober 2007
============================================
 6 Okt

"Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai"
(Bar 4:5-12.27-29; Luk 10:17-24)

"Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, 
juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." 
Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari 
langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak 
ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak 
ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena 
roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar 
di sorga." 
Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku 
bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau 
sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada 
orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan 
kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain 
Bapa, 
dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan 
menyata kan hal itu." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya 
tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. 
Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang 
kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, 
tetapi tidak mendengarnya."
(Luk 10:17-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
. Ketika saya berkarya di Keuskupan Agung Semarang dan tinggal di Wisma 
Keuskupan, kami mempunyai pembantu rumah tangga yang tidak lulus SD alias 
nampak bodoh, tetapi jujur, cekatan, rajin dan setia dalam melaksanakan tugas 
pekerjaannya setiap hari. Ia juga nampak bersyukur dan berterima kasih boleh 
`melayani' di Wisma Keuskupan. 
Mengingat hal itu sungguh menyentuh hati apa yang disabdakan/didoakan oleh 
Yesus: ": "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena 
semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi 
Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.". 
Orang pandai dan 
bijak pada umumnya hanya ngomong saja, jarang bertindak secara praktis sesuai 
dengan apa yang dibutuhkan dalam hidup sehari-hari. 
Apa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari agar kita bahagia dan sejahtera 
rasanya adalah hal-hal atau perkara-perkara kecil dan sederhana, bukan yang 
besar dan sulit berbelit-belit, misalnya makan, minum, tidur, istirahat, 
kebersihan kamar dan lingkungan dst.., dan yang mengusahakan atau mengerjakan 
hal-hal kecil dan 
sederhana tersebut adalah `orang-orang kecil'. Dari pembantu rumah tangga yang 
sederhana tersebut saya pribadi belajar dalam hal kejujuran, kecekatan, 
kerajinan dan kesetiaan serta kegairahan dan kegembiraan dalam melaksanakan 
tugas pekerjaan, dan tentu saja syukur dan terima kasih atas apa yang dialami 
dan sedang terjadi. 
Maka marilah kita perhatikan mereka yang kecil, hal-hal atau perkara-perkara 
kecil setiap hari. Orang-orang kecil pada umumnya mendengarkan dan 
memperhatikan kebutuhan hidup sehari-hari yang kecil dan sederhana 
tersebut."Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam 
perkara-perkara besar. Dan barang siapa tidak benar dalam perkara-perkara 
kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Luk 16:10)
. "Kuatkanlah hatimu, anak-anakku, berserulah kepada Tuhan; Dia yang mengirim 
bencana itu akan teringat kepadamu pula. Seperti dahulu angan-angan hatimu 
tertuju untuk bersesat dari Tuhan, demikian hendaklah kamu sekarang berbalik 
untuk mencari Dia dengan sepuluh kali lebih rajin."(Bar 4:27-29). Kutipan ini 
rasanya tidak hanya untuk anak-anak saja melainkan bagi kita semua. Apa yang 
dikatakan dalam kitab Barukh tentang bagaimana angan-angan dan gairah kita 
ketika hendak berbuat jahat atau berdosa, kiranya pernah kita alami atau 
lakukan juga. Dengan penuh gairah dan semangat, entah sadar atau tidak sadar, 
kita melakukan dosa atau kejahatan, 
sehingga kita menderita dan sengsara seperti saat ini. Tidak ada kata 
terlambat, marilah kita bertobat atau memperbaharui diri, `berbalik untuk 
mencari Dia dengan sepuluh kali lebih rajin' dibandingkan ketika berbuat jahat 
atau berdosa. Mungkin ketika berbuat dosa atau jahat kita sendirian saja, 
tetapi jika mau bertobat atau emperbaharui diri pasti banyak orang siap 
membantu kita, itulah artinya `sepuluh kali lebih rajin'. Percayalah dan 
imanilah jika kita sungguh berkehendak untuk bertobat atau 
memperbaharui diri pasti kasih karunia dan kemurahan hati Tuhan mengalir 
melimpah ruah melalui kebaikan dan kemurahan hati sesama dan saudara-saudari 
kita, dan dengan demikian kita akan berbalik kepada Tuhan dengan mudah dan 
ringan. Kutipan diatas kiranya juga merupakan ajakan atau panggilan bagi kita 
semua untuk tidak hidup sendiri/menyendiri atau berjuang sendirian, melainkan 
bekerjasama atau bergotong-royong, saling membantu dan mengasihi sampai mati. 

"Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang 
mencari Tuhan, biarlah hatimu hidup kembali! Sebab TUHAN mendengarkan 
orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan. 
Biarlah langit dan bumi memuji-muji Dia, lautan dan segala yang bergerak di 
dalamnya" (Mzm 69:33-35)

Jakarta, 6 Oktober 2007
==========================================
7 Okt

Mg Biasa XXVIIc: Hab 1:2-3;2:2-4; 2Tim 1:6-8.13-14; Luk 17:5-10
"Kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." 
"Selamat malam", begitulah salam saya melalui pesawat tilpon begitu penerima 
tilpon mengangkat gagang tilponnya. Dan jawaban spontan serta jelas langsung 
muncul dari penerima tilpon: "Wonten dawuh Romo" (=Ada perintah/tugas untuk 
saya Romo). Jawaban yang begitu spontan, jelas dan tulus itu sungguh mengesan 
bagi saya. Jawaban senada juga sering kami peroleh dari para pembantu rumah 
tangga. 
Pribadi-pribadi tersebut begitu pasrah, menyerahkan diri tanpa syarat atas 
nasihat, perintah, permohonan dst.. dari yang lain, dengan kata lain begitu 
beriman mendalam. Dan memang apa yang diminta untuk dikerjakan olehnya segera 
dilaksanakan serta berhasil dengan baik alias sukses. Maka marilah kita mawas 
diri perihal hidup 
keimanan kita sesuai dengan Warta Gembira hari ini.

"Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat 
berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam 
laut, dan ia akan taat kepadamu."(Luk 17:6) 
Biji sesawi memang sangat kecil, namun begitu tumbuh menjadi pepohonan 
bergerombol dan tidak begitu tinggi dengan daun hijau dan bunga 
kekuning-kuningan begitu indah untuk dilihat dan dinikmati, dan memang 
burung-burung kecil banyak bertengger di atas bunga-bunga tersebut untuk 
mencari makanan: biji-biji sesawi yang kecil-kecil. Maka jika Yesus mengajarkan 
"Kalau sekiranya kamu mempunyai iman 
sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: 
Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu", 
kiranya mengingatkan dan mengajak kita untuk sungguh beriman. Jika kita sungguh 
beriman, maka apa yang kita kehendaki atau ingini pasti segera menjadi 
kenyataan atau terwujud. 

Beriman berarti mempercayakan diri seutuhnya kepada Tuhan dan percaya pada 
karya Roh Kudus yang dianugerahkan kepada kita. Maka sebenarnya jika kita 
sungguh beriman Roh Kudus atau Roh Tuhan sendirilah yang hidup dan berkarya 
dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, dan kita juga boleh atau dapat 
berkata seperti Paulus: "Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas 
kelemahanku"(2Kor 11:30)., menanggapi sabda Tuhan :"Cukuplah kasih karunia-Ku 
bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2Kor 
12:9). Tuhan Tuhan maha segalanya, maka jika Roh Tuhan sungguh hidup dan 
berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, kita bagaimanapun akan hidup 
dan berkarya atau bertindak sesuai dengan suara Roh atau kehendak Tuhan. Hidup, 
bertindak atau berkarya sesuai kehendak Tuhan antara lain saling mengasihi. 
"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak 
memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan 
tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan 
kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena 
kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan 
segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (1Kor 13:4-7) 
Keutamaan-keutamaan kasih ini kiranya harus dihayati oleh siapapun yang mengaku 
diri beriman; dan kami yakin keutamaan-keutamaan tersebut di atas sungguh 
kuat-kuasa untuk menghadapi dan mengatasi aneka persoalan atau masalah 
kehidupan sehari-hari. 

Hidup beriman disamping diperdalam dan diwujudkan dalam dan melalui 
keutamaan-keutamaan kasih tersebut, kiranya juga diwarnai upaya atau kegiatan 
verbal atau vocal artinya bertindak seperti para nabi yang menyuarakan atau 
menyampaikan kehendak Tuhan, antara berupa kebenaran-kebenaran yang harus 
diwartakan atau menghayati perintah Yesus :"Ajarlah mereka melakukan segala 
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" (Mat 28:20), yaitu cintakasih. 
Rasanya untuk menyuarakan kebenaran dan cinta kasih pada masa kini tidak akan 
terlepas dari aneka macam tantangan, ancaman dan hambatan yang dapat membuat 
kita frustrasi dan kemudian mundur teratur alias 
kurang atau tidak beriman lagi. Jika kita harus menghadapi tantangan, ancaman 
dan hambatan, marilah kita renungkan dan hayati peringatan Paulus kepada 
Timotius ini. . 

"Janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, 
seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh 
kekuatan Tuhan"(2Tim 1:8) 

Dalam situasi hidup bersama yang masih diwarnai aneka macam bentuk kemerosotan 
moral saat ini, rasanya untuk menyuarakan kebenaran dan cintakasih menghadapi 
tantangan dan ancaman berat, bahkan ancaman kematian. Pada masa Orde Baru para 
pembawa dan pejuang kebenaran dengan mudah disingikrkan atau dihabisi oleh 
penguasa, sedangkan di masa Reformasi ini sering harus menghadapi teror-teror 
pembunuh bayaran dst.. Dalam jajaran birokrasi di pemerintahan pada umumnya 
para pembawa dan pejuang kebenaran juga tersingkir dari percaturan dan ketika 
ia tetap setia pada iman dan kebenaran yang dihayatinya pada umumnya menjadi 
sorotan tajam dan orang yang bersangkutan sering merasa berada di ujung tanduk. 
"Janganlah malu bersaksi tentang Tuhan dan ikutilah menderita bagi InjilNya 
oleh kekuatan Tuhan", demikian nasihat Paulus kepada Timotius, kepada kita 
semua.

Kiranya cukup banyak kesempatan dan cara untuk "bersaksi tentang Tuhan kita" 
dalam hidup, kesibukan dan tugas perutusan kita setiap hari, dan sebagai contoh 
saya sampaikan sbb:
1) Di sekolah-sekolah atau dunia pendidikan rasanya masih marak tindakan 
menyontek dalam ulangan maupun ujian. Hemat saya menyontek merupakan pendidikan 
untuk korupsi, maka marilah kita berantas tindakan menyontek di sekolah-sekolah 
dan tidak perlu takut menghadapi komentar atau tekanan-tekanan. SMP-SMA Kolese 
Kanisius di Jakarta telah melaksanakan hal ini dan memang pernah menghadapi 
protes.
2) Di kantor-kantor dan perusahaan-perusahaan cukup banyak anggaran belanja 
yang di `mark-up' atau laporan keuangan/kwitansi palsu. Maka kami berharap 
adanya tindakan tegas dan berani untuk meluruskan hal ini. Memang mengurus atau 
mengelola uang sarat dengan godaan atau rayuan untuk korupsi alias mencari 
keuntungan bagi diri sendiri sebanyak-banyaknya dengan cara apapun. Uang memang 
dapat menjadi jalan ke sorga atau ke neraka, dan kita dipanggil untuk mengurus 
atau mengelola uang sebagai jalan ke sorga. Untuk itu hendaknya mengurus atau 
mengelola uang dengan pedoman `intentio dantis' = maksud pemberi. Uang sekolah 
berarti untuk memajukan 
sekolah, uang proyek berarti untuk melaksanakan proyek sebaik mungkin dst.. dan 
tidak ada yang dikorupsi. 
3) Di tengah-tengah kehidupan masyarakat saat ini juga masih sarat dengan judi 
dan mabuk-mabukan dengan minuman keras atas narkoba. Kami berharap ada tindakan 
tegas dalam memberantas judi dan narkoba yang merusak masa depan generasi muda 
dan bangsa. Akibat dari judi dan narkoba ini antara lain juga kehancuran hidup 
berkeluarga, dasar hidup bermasyarakat dan berbangsa. 
4) Kebersihan lingkungan hidup merupakan tantangan tersendiri. 
Akibat orang membuang sampah seenaknya maka banjir bandang yang menelan korban 
manusia maupun harta benda dapat terjadi sepanjang masa. Lingkungan bersih dan 
sehat akan membuahkan manusia yang sehat dan bersih juga. Maka marilah kita 
jaga dan rawat lingkungan hidup kita tetap bersih, kita tegor dan peringatkan 
dengan rendah hati dan tegas mereka yang mengotori lingkungan hidup seenaknya. 

"Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadi 
kan kita.Sebab Dialah Tuhan kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan 
domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! 
Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di 
padang gurun, pada 
waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat 
perbuatan-Ku " (Mzm 95:6-9)

Jakarta, 7 Oktober 2007 

Kirim email ke