Kehidupan:
Cinta Kasih di Hati Manusia

(Erabaru.or.id) - Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon 
dan Matrena. Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun 
hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya 
yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon. 
Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya. Kebanyakan berhutang 
ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan 
sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.

Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka 
sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = 
mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel. Maka  
Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah 
mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak 
satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.Dalam 
perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok 
manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja.Orang itu tak 
berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan.Simon ketakutan, "Siapakah 
dia?  Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja". 
Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia 
takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.

Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata, "HAI SIMON, TAK MALUKAH KAU? 
KAU PUNYA MANTEL MESKIPUN SUDAH BERLUBANG-LUBANG, SEDANGKAN ORANG ITU 
TELANJANG. PANTASKAH ORANG MENINGGALKAN SESAMANYA BEGITU SAJA?"
Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. 
Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh 
tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan 
tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat 
sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang  itu dan memapahnya 
berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan 
Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang. 

Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel 
baru dan membawa seorang pria asing. "Simon, siapa ini? Mana mantel barunya?" 
Simon mencoba menyabarkan Matrena, "Sabar, Matrena.... dengar dulu 
penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak 
sekalian pulang".
"Bohong!!  Aku tak percaya....sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! 
Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!! Usir saja 
dia!!"
"Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita 
masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan 
kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?" 
Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya 
makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat. "Silakan makan, hanya 
sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu?  Bagaimana 
ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?"

Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum 
untuk pertama kalinya. "Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak 
yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan 
semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih 
kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini."
"Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup 
menggajimu", demikian Simon menjawab.
Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja 
tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur." 
"Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja".

Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya.
"Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu?  Bagaimana jika Mikhail itu 
ternyata buronan?" Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon. Simon menjawab, 
"Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di 
sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak  baik, 
segera kuusir dia". 

Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di 
bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta 
menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail 
sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.

Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail 
yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon 
tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa 
bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini.
Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail 
ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia 
tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa 
senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.

Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, 
galak dan terlihat kejam. "Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang harus 
tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, 
kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan!! Ini, kubawakan kulit terbaik 
untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!"

Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba tersenyum. 
Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum. 
Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak menolak 
pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu.

Simon berkata, "Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku sudah 
mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. 
Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara."
Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon. 
"Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan itu 
orangnya tinggi besar?  Celaka, kita bisa masuk penjara karena...."

Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya. "Majikanku sudah 
meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta 
dibuatkan sepatu anak-anak saja".
"Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon", 
Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, 
tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu 
anak-anak itu.

Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali pada dua 
kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani 
menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan 
mereka.

Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu 
kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran 
sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak 
pernah begitu. Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu, 
"Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?" Ibu itu menjelaskan, 
"Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya 
meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga 
meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak 
dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak 
punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri."

"Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja 
manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya", kata Matrena.

Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. 
Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya. Sesudah 
tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil 
berkata, "Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat 
gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari 
ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit."

Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut, "Nanti dulu Mikhail, tolong 
jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?"
Mikhail menjawab sambil terus tersenyum, "Sebenarnya aku adalah adalah satu 
malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa 
ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi kuambil juga 
nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka ditinggal 
ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka
juga. Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke 
bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, 
'MIKHAIL, TURUNLAH KE BUMI DAN PELAJARI KETIGA KEBENARAN INI HINGGA KAU 
MENGERTI:

PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA?
KEDUA, APA YANG TAK DIIJINKAN PADA MANUSIA?
KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN MANUSIA?'

"Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan 
membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat 
maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti 
mati malam itu. Tapi Simon berkata, "Tidakkah di hatimu ada sedikit belas 
kasih?" Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran 
pertama:
"YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH"

"Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil 
marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah 
dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. 
Saat itulah aku tahu kebenaran kedua:
"MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI 
TANGAN TUHAN"

"Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si 
kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan aku melihat 
si kembar  dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum untuk ketiga 
kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga:
"MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP 
TANPA TUHANNYA."

Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui 
ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa 
menyertai kalian sepanjang hidup." Mikhail kembali ke surga. (Kristamedia)


GBU Always

Fran'z

"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,  maka semuanya itu akan 
ditambahkan kepadamu."

Kirim email ke