From: <[EMAIL PROTECTED]>
Ke kanak kanakan
1 Korintus 13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak,
aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang
sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Saat menunggu bus jemputan kantor, dari halte aku melihat pemandangan yang
sangat tidak patut untuk dicontoh ! Beberapa anak lelaki, sekitar sepuluh
sampai dua belas tahun balapan motor, bergaya seperti pembalap yang biasa kita
lihat ditayangkan di televisi. Sementara banyak Bus yang berukuran besar [bus
berukuran bus untuk parawisata], truk, mobil kecil dan motor berlalu lalang di
jalanan yang lebarnya tiga meter dan satu arah.
Tentu saja apa yang mereka lakukan, tidak hanya bisa melukai diri mereka
sendiri tapi juga melukai pejalan kaki yang melintas dijalan itu.
Sambil ketawa-ketawa, mereka ber adu ketangkasan; berdiri di atas motor sambil
membuka tangannya lebar-lebar dalam kondisi motor berjalan dengan kencang
[seperti di film Titanic], yang lainnya, tiduran di kursi motor dan kakinya
yang dipakai untuk mengatur jalannya motor, dan beraneka ragam gaya yang dapat
membahayakan diri mereka sendiri.
Orang yang ada dihalte pada geleng-geleng kepala, antara gemas dan jengkel aku
berkata kepada teman yang biasa menunggu bus di halte,"anak remaja itu tidak
tau, orang tuanya akan menangis kalau dia sampai celaka atau meninggal karena
kelakukan konyol kayak gitu !".
Kalau saja para remaja itu menyalurkan bakatnya di waktu dan tempat yang benar,
di arena sirkuit yang memang tempat untuk mengasah ketampilan, serta menekuni
hobby balap di jalur yang tepat maka ceritanya pasti jauh berbeda, ada peluang
mendapatkan prestasi yang membanggakan. Para remaja ini mencari perhatian tapi
dengan cara yang salah dan merugikan diri sendiri.
Sahabat,
Orang dewasapun sering bertindak seperti anak laki-laki yang saya lihat di
jalanan, berbuat sesuatu tanpa melihat resiko yang ada didepan mata.Bayak
diantara orang dewasa, usia kepala tiga atau kepala empat, tapi kelakuan masih
seperti anak remaja yang berumur dua belas tahun !
Kita memang tidak balapan motor di jalan raya, bergaya seperti pembalap tapi
kelakuan kita sama tidak jauh berbeda dari anak-anak itu. Mencari perhatian dan
berprilaku kekanak-kanakan.
Pulang kerumah setelah terdengar ayam berkokok; lebih memilih berlama-lama di
Pub atau diskotik dari pada dirumah bersama keluarga. Mabuk-mabukan, main judi
dan sampai dirumah istri dan anak-anak jadi korban kekerasan.
Bukan hanya anak kecil yang berlari-lari sambil menangis, mencari Ayah atau
Ibunya saat kakinya terluka karena terjatuh diparit. Orang dewasapun sering
seperti itu, kalau sudah dapat masalah baru Histeris berteriak-teriak cari
pertolongan dari Tuhan.
Rasul Paulus berkata,"Sekarang, sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan
sifat kanak-kanak itu". . . .
Mari kita bercermin, apakah kita sudah dewasa atau masih kanak-kanak ?
========================================
From: <[EMAIL PROTECTED]>
Sahabat yang baik, tidak mengenal istilah BOSAN
Yohanes 15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang
memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
Aku mengenal Pia tidak hanya dalam kurun waktu satu atau dua bulan, tapi sudah
lima tahunan kami menjalin persahabatan.Selama ini baik Pia atau saya tidak
pernah ada rahasia, buat saya pribadi Pia sudah seperti saudara sendiri dan
Pia pun mempunyai perasaan yang sama.
Sekitar dua tahun yang lalu Pia pergi meninggalkan kota dimana kami dipertemu
kan,tapi sekalipun kami dipisahkan oleh jarak yang lumayan jauh untuk
ditempuh, kami tetap menjalin komunikasi yang baik ; baik lewat email, sms
atau telephone.
Pia termasuk orang yang sulit bergaul, dan tertutup pada orang sekitarnya.
Aku sangat tau sifatnya, karena itu diawal kepindahannya, aku sering kali
menerima telephone atau sms yang judulnya, "KESEPIAN".
Dalam satu minggu ini, Pia bisa menelhponku tiga sampai empat kali dalam satu
hari. Saat ini Pia sedang terluka ! tanpa dia berceritapun aku tau sahabatku
sedang terluka, dari isak tangisnya aku bisa merasakan sahabatku sedang
kehilangan pegangan, sepanjang percakapan kami dia lebih banyak menangis
dibanding berbicara.
"Aku tidak punya teman disini",jelas Pia disela-sela tangisnya
"Aku punya kakak di sini, tapi dia sama sekali tidak mengerti isi hatiku",
tambah Pia dan masih tetap menangis
Setelah Pia mulai tenang aku berkata,"kamu lupa kalau kamu punya aku, sahabatmu
! tidak benar kalau kamu katakan bahwa saat ini kamu sendirian".
"Kamu memang sahabatku, tapi suatu waktu kamu pasti akan BOSAN mendengar
ceritaku", jawab Pia dengan suara pelan.
Sambil menarik nafas aku berkata dengan tegas padanya,"seorang sahabat yang
baik, tidak mengenal kata BOSAN; seorang sahabat yang baik selalu punya hati
terhadap sahabatnya !".
Sahabat,
Setiap orang pasti punya sahabat bukan ? ada yang membina persahabatan sejak
mereka masih belum masuk sekolah dan berlanjut hingga memasuki sekolah, atau
bahkan sampai menikah dan punya anak, persahabatan tetap dijaga dengan baik.
Bersama sahabat kita mampu mencurahkan isi hati kita melebihi kepada orang
tua atau pasangan kita sekalipun ! Menangis bersama sahabat ; tertawa
bersama-sama dan bagi anak kos, makan sepiring dengan sahabat pun bisa saja
terjadi. Kita tidak punya rasa malu dan khawatir menceritakan semua rahasia
kita kepada sahabat, walau tidak menutup kemungkinan ada saja sahabat yang
menusuk kita dari belakang.
Anda dan saya adalah SAHABAT KRISTUS, ketika kita melakukan perintahNya,
mengakui Dia sebagai Juru Selamat dan Tuhan, maka OTOMATIS anda dan saya
sudah TERDAFTAR menjadi sahabat Tuhan Yesus.
Betapa luar biasa sahabat kita yang bernama Yesus Kristus ! Seorang sahabat,
yang memberikan nyawaNya untuk setiap sahabatNya.
Sahabatku,
Mari renungkan, perjalanan hidup anda dengan orang yang pernah menjadi
sahabat anda ; apakah ada yang lebih setia dari pada Tuhan Yesus ? yang
rela mati bagi anda dan saya !
Yohanes 15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa
yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah
memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
===============================================
From: <[EMAIL PROTECTED]>
Dasar PELACUR ! ! !
Yohanes 4:17 -18 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus
kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau
sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu.
Dalam hal ini engkau berkata benar."
Aku masih mampu tersenyum, tapi sejujurnya kakiku gemetar dan tidak kuasa
menahan berat tubuhku, aku bersyukur ketiga sahabatku dengan sigap memegang
tanganku, mengantisipasi kalau aku sampai jatuh.
"Dasar pelacur ! ! ", terdengar makian seorang wanita di telephone.
Mendengar kata-kata SAKTI seperti itu, aku bingung sesaat dan terkesima,
pikirku tega-teganya wanita yang tidak mengenalku dan sebaliknya tidak aku
mengenal dia, tapi mampu memberikan sebuah nama baru buatku, PELACUR ! :)
Melihat wajahku pucat, teman-teman serempak bertanya,"apa kata orang gila itu
?". Dengan senyum pahit dan suara pelan aku menjawab,"dia bilang aku pelacur".
[koq wanita itu bisa tau kalau aku pelacur ya ? .. .he.he.he, aku mencoba
bercanda dengan teman-temanku yang kelihatan begitu tegang dan emosi ! )
Kejadian itu telah berlalu lama, empat tahun yang lalu, amarah yang tak
terkendali, akhirnya dengan seenaknya wanita itu memaki orang lain.
Teman-teman yang tau penyebab kemarahan wanita itu, tidak terima aku
dimaki-maki seperti itu, tapi aku katakan pada mereka,"kayaknya ngak perlu deh,
aku melakukan JUMPA PERS ? biar saja Tuhan yang mengambil alih semua ini"
Sahabat,
Dalam kehidupan bermasyarakat, predikat seorang pelacur ditempatkan di level
yang paling rendah, menjijikkan, timbul paradigma dalam masyarakat "SEKALI
PELACUR AKAN TETAP MENJADI PELACUR ! ! ".
Ketika Yesus masih ada didunia, Yesus tidak milih-milih siapa yang harus
dilayani ; mulai dari pemungut cukai, peminta-minta dan pelacur, tetap Tuhan
Yesus layani dengan kasih. Aku takut membayangkan, jika saja Yesus pilih-pilih
melayani seseorang, dan Yesus hanya mau mampir kalau orang itu kaya, jadi
banyak ampaunya :).
Kalau dilihat dari status ekonomi, status dalam masyarakat, "barangkali" kita
berada di level terhormat, disegani dan punya kekuawaan, tetapi jika berbicara
soal MORAL dan KASIH, kita belum tentu lebih MULIA dari seorang PELACUR !.
Di Alkitab, yang meminyaki kaki Tuhan Yesus dengan minyak yang mahal bukanlah
orang kaya, bukanlah orang terhormat, dan yang pasti juga bukan murid-murid
Yesus yang selama ini selalu bersama-sama dengan Dia, tapi justru wanita yang
selama ini dianggap sampah masyarakat.
Yesus memberikan contoh teladan yang luar biasa bagi kita semua, KASIH TANPA
BATAS ! KASIH TANPA PANDANG BULU.
Saya undang teman-teman, untuk punya rasa "malu" untuk BERHENTI
PILIH-PILIH KASIH !
Jika Tuhan Yesus saja tidak pilih "kasih", APA PANTAS kita yang berdosa
menghakimi orang lain ?.