From: hesti biaktika ENTREPREUNEURSHIP
Baru-baru ini seorang pengusaha besar Kristen gembar gembor soal entrepreneurship. Saya bertanya, apakah yang diajarkan dalam mata kuliah itu ? Apakah mereka mengajar begini : 1. Mari kita hancurkan reputasi competitor kita dengan cara apapun termasuk memfitnah 2. Lalu kita rampas klien-kliennya 3. Lalu kita rampas modal kerjanya, dari mulai buku-bukunya, peralatan proyek seperti gergaji mesin, bor dll,computer sampai mobil pick upnya Dan, inilah “kesuksesan”. Kalau bukan begitu yang mereka ajarkan, maka mereka sudah salah memilih murid. Karena bagaimanapun para mahasiswa sudah mampu memilih jalan yang benar untuk mencapai apa yang mereka cita-citakan, yaitu KULIAH. Selama kuliah itu, mereka sudah dilatih untuk belajar, untuk kerja keras, kerja dalam team, dan mereka tahu, tanpa kerja keras, mereka tidak dapat mendapatkan nilai bagus. Nilai bagus tidak bisa didapatkan dari merusak reputasi teman lain, menyontek karya orang lain, apalagi sampai memacari dosen, sampai tidur dengan dosen. Setidaknya itulah ketatnya kuliah di UI. Ada teman yang kuliahnya rangkap, 2 jurusan, dan keduanya di UI Salemba. Suatu hari saya tanya, mana yang lebih berat, jurusan Arsitektur atau jurusan Ekonomi ? Dia jawab, keduanya berat, hanya titik beratnya berbeda. Kuliah arsitektur itu beratnya secara fisik, sedangkan kuliah ekonomi itu beratnya di ngotaknya. Saya bilang tepat, apa yang dikatakannya. Mungkin kuliah arsitektur dan ekonomi, butuh begadang juga, tetapi berbeda. Di arsitektur kami begadang untuk menggambar, artinya adalah kerja keras secara fisik, sedang mahasiswa ekonomi begadang untuk membaca buku dan berpikir keras. Tetapi artinya, kami sudah biasa dengan kerja keras, apapun jurusannya. Seorang teman lain, yang sekarang sudah menjadi pemusik terkenal, pernah berkata begini : “Kalau saya punya anak perempuan, saya akan larang dia kuliah arsitektur, karena nantinya jadi jelek-jelek seperti kalian”. Memang benar apa kata teman ini. Karena oleh karena kesibukan kuliah dan tugas-tugasnya, kami yang perempuan-perempuan tidak sempat berdandan. Kami hanya pakai T-shirt dan jeans, dan selapis bedak dan lipstick, supaya tidak kelihatan terlalu pucat, lalu rambut diikat, karena tidak sempat keramas. Bahkan kadang-kadang kami mandi sekedarnya, kalau habis begadang, daripada sakit. Dari 53 orang seangkatan kami yang masuk melalui Proyek Perintis II (UMPTN sekarang), yang bertahan sampai lulus sarjana adalah sekitar 40 orang dan yang drop out sekitar 13 orang. Kasus-kasus drop out macam-macam, ada yang karena memang tidak bisa menggambar sama sekali, ada yang karena keras kepala, tidak mau mengikuti saran asisten dosen, artinya adalah “bertahan dengan kebenarannya sendiri”., dan tidak mau belajar. Ada juga kasus teman yang didiskualifikasi dalam Proyek Akhir, karena mencontek karya orang lain, dan dia harus mengulang semester berikutnya. Jadi, mahasiswa sudah terlatih untuk kerja keras untuk mencapai cita-citanya. Sesudah saya bekerja, dan kemudian belajar punya proyek sendiri, seorang teman kuliah saya yang perempuan sampai berkata begini ; “Hes, pakailah topi kalau keproyek atau belanja bahan bangunan panas-panas, karena sinar matahari itu merusak kulit wajah dan rambut kita.” Saya bilang “Gak usahlah, sudah biasa kok.” Dan seorang mantan adik ipar saya yang dari FISIP UI juga berkata : “Dari dulu saya gak suka arsitektur, karena gak pernah bisa tampil cantik, kerjanya selalu ber-panas-panas dan berdebu, seperti mbak Hesti.” Saya tidak bisa menjawab apa-apa. Jadi, kalau para konglomerat Kristen itu mau mengajar tentang entrepreneurship, ajarkanlah para pelacur itu dari pelacur jalanan sampai pelacur hotel berbintang, yang kelasnya adalah simpanan orang kaya. Karena mereka tidak biasa dengan apa yang namanya kerja keras, maunya gampang saja. Mereka berpikir bahwa cita-cita bisa dicapai dengan jadi simpanan orang kaya dan memfitnah. Dan setelah menjadi simpanan orang kaya, selain memfitnah kerjanya adalah ke salon, shopping, menemani bossnya ke disco sampai pagi, dan di kantor main game ‘Solitaire’. Merekalah yang harus diajar ‘entrepreneurship’. Para konglomerat Kristen ini berpikir “kami sedang membangun orang lain”, tetapi sebenarnya yang sedang mereka lakukan adalah “MEMBUNUH ORANG LAIN”, perlahan tapi pasti. Saya tanya kepada teman-teman di milis ini, apakah untuk membahagiakan istri kalian, kalian harus membuat penderitaan wanita lain ? Tetapi itulah yang saya alami. Teman saya itu bisa beli buku-buku arsitektur untuk diberikan pada istri simpanannya, tetapi ia harus merampas buku-buku saya. Ia bisa memberi proyek apa saja untuk istri simpanannya, tapi ia harus merampas klien-klien saya. Ia bisa memberi computer tercanggih untuk istri simpanannya, tetapi ia harus merusak computer saya. Ia bisa memberi mobil apa saja bagi istri simpanannya, tapi ia harus merampas mobil pick up saya. Dan ketika sekarang saya sudah dapat mobil lagi, mobil itupun harus dirusaknya juga, dan dia terus berkata : “Saya sedang berbuat baik”. Saya tidak tahu sampai kapan saya dapat bertahan. Di Koran mereka gembar-gembor soal entrepreneurship, tetapi juga rajin menghancurkan reputasi orang lain. Saya tahu banyak teman mengasihi saya, tetapi tidak seorangpun mempercayai saya. Lebih ringan bagi saya, kalau mereka diam saja dan hanya berdoa “Segala sesuatu yang tersembunyi dalam gelap, akan dinyatakan dalam terang.” Amin. Terima kasih atas berbagai tanggapannya, tetapi untuk menceritakan latar belakang tulisan itu akan memakan waktu lama, tapi akan saya usahakan juga dengan mencicil. Sebenarnya saya sudah lelah melihat ulah para pengusaha besar itu. Selalu saja mereka membuat solusi yang salah, karena datanya saja salah, maka analisa salah, kesimpulan juga salah, dan solusi juga pasti salah. Berkali-kali saya sudah teriak, selidiki datanya dulu, baru bisa dilakukan proses ilmiah selanjutnya. Tetapi mereka tidak pernah mendengar, karena ungkapan ‘BOSS CAN DO NO WRONG’ itu. Kemarin waktu saya berangkat ke kantor, saya mendapatkan mobil saya rusak, yaitu tiba-tiba persnellingnya tidak masuk. Saya terpaksa naik bus, dan di kantor saya dapatkan teman kerja saya satu team, pergi keluar, katanya meeting. Tentu saja saya tidak dapat melakukan apa-apa tanpa dia, karena tugas saya adalah menghitung volume berdasarkan gambar teman saya itu. Dan saya mulai bertanya-tanya, apa sih maunya mereka ? Kenapa mereka begitu ingin melihat saya naik bus, karena sebelumnya banyak teman mengatakan pada saya, ‘naik bus dong’, dan saya tidak mengerti kenapa. Jangan katakan kerusakan mobil saya tidak ada urusannya dengan mereka, karena saya melihat teman saya yang konglomerat ini dapat bekerja sama dengan seisi rumah saya, bahkan pembantu-pembantu dan supir saya. Dan semua itu dilakukannya dengan alasan “ini untuk mendidik”, tetapi semua yang dilakukannya berdasarkan fitnah-fitnah tentang saya. 10 tahun saya sudah bersabar, dan sekarang saya mau teriak. Cukup segala kekonyolan ini ! Oleh karena fitnah-fitnah kepada saya UI dihujat. Seorang mantan dosen saya pernah berkata, bahwa minat orang masuk ke Jurusan Arsitektur UI sempat turun, dan terdongkrak lagi setelah masuknya Nicolas Saputra yang bintang sinetron itu. Rupanya butuh bintang sinetron untuk menarik minat para pelajar SMA untuk masuk jurusan Arsitektur. Selain itu GBI dan gereja-gereja kharismatik juga dihujat, dianggap tidak becus mengajar jemaatnya. Gereja-gereja kharismatik dianggap hanya ‘hura-hura rohani’ karena pakai tepuk tangan segala. Pelajar-pelajar SD-SMP-SMA yang juara-juara di teliti, jangan-jangan nanti gedenya seperti hesti, karena dulunya saya juga juara. Pokoknya kasus hesti bikin heboh Indonesia. Dan tidak seorangpun pernah terpikir untuk menyelidiki datanya dulu, tetapi langsung pada solusi. Mungkin ini karena paham ‘Manunggal kawula Gusti” itu. Itulah yang menjadi dasar pemikiran para pengusaha besar itu memasukkan mata kuliah ‘entrepreuneurship’di universitas-universitas, maksudnya supaya tidak mencetak “hesti-hesti baru”, yang katanya sesudah lulus kuliah jadi pelacur, penari bugil, punya anak dibuang, pembunuh dan lain-lain, saya tidak ingat satu persatu saking banyaknya. Dan saya tidak bisa tuliskan satu persatu pelecehan seksual yang harus saya hadapi, verbal abuse adalah makanan sehari-hari, belum termasuk direndahkan dan dilarang bekerja selama 6 tahun, direkayasa supaya saya tidak punya uang, dan seterusnya. Dan sampai sekarang saya dilarang bekerja sebagai arsitek, dan di kantor saya sekarang saya disuruh bekerja sebagai Quantity Surveyor, dengan segala cemooh yang mengikutinya. Tiba-tiba saya menjadi orang terkenal. Sudah tiga kali saya naik bus, dan orang-orang mengenali saya. Ada yang bilang begini : “Apa ibu tidak takut mati ? Setiap orang pasti akan mati”. Saya tahu ini pembicaraan berdasarkan fitnah. Ada yang bilang “Mau ibadah di Plaza Semanggi ya ?” Lho kok tau ? Ada juga yang memberi bangku pada saya dalam perjalanan dari Blok M Plaza menuju Ciputat. Ketika ada orang lain menginginkan bangku kosong itu, ibu itu berkata : “Ini buat ibu itu (maksudnya saya), karena ibu itu rumahnya jauh.” Lho, tau darimana rumah saya jauh ? Di kantor, salah satu tugas saya adalah mengumpulkan data harga dari supplier. Suatu hari saya harus menelpon seorang sales dari suatu produk. Ketika saya katakan, bahwa saya adalah ‘hesti dari Encona’, sales itu langsung berkata ‘Oh, ibu Hesti ya?’. Padahal saya sama sekali tidak mengenalnya. Dan sales itu langsung beralasan “Besok saya dua hari seminar, besoknya lagi baru bisa datang, itupun belum tentu.” Langsung saya tidak mau menghubungi sales itu lagi Dan banyak fax saya kepada banyak supplier tidak dibalas. Saya tahu semua ini diblokir, karena para boss konglomerat ini sedang menyelidiki saya. Saya tidak tahu sampai kapan mereka puas, yang pasti selama mereka masih berpikir ini-itu tentang saya, maka saya tidak akan bisa bekerja secara optimal. Tadinya saya shock dengan keadaan ini, lama-lama jadi biasa. Tapi tentunya saya tidak mau mobil saya terus-terusan mereka rusak, karena itu adalah privacy saya, daripada terus harus menghadapi orang banyak dengan pikirannya masing-masing. Di gereja pernah saya disuruh bergeser, pindah ke bangku sebelah, oleh seorang bapak, padahal saya sudah duduk duluan di situ dan tidak tahu bahwa sebelah saya adalah laki-laki. Ketika saya bergeser, bangku itu langsung dipakai untuk tempat tas. Lalu waktu pemimpin pujian meminta jemaat saling berjabat tangan, bapak itu sempat menolak untuk berjabat tangan dengan saya. Di kemudian hari, saya tidak mau menyalami jemaat laki=laki, kalau orangnya tidak mengulurkan tangan duluan. Daripada ditolak ? Di situ saya sadar, bahwa reputasi saya sudah dihancurkan, entah dengan cara apa, membuat saya sangat terkenal, dan sudah dianggap sama dengan sampah seperti Paulus. Sejak saat itu saya selalu berpikir, setiap kali saya memasuki ruang kebaktian, bahwa dimata orang lain saya adalah ‘pelacur masuk gereja’. Jadi saya hati-hati untuk tidak bersikap ramah, karena keramahan saya bisa dengan mudah diartikan lain. Lebih baik saya tidak lihat kiri kanan. Masih banyak yang ingin saya tuliskan, tetapi sementara ini dulu, karena saya sedang banyak pekerjaan kantor. Tapi itulah kira-kira penderitaan yang saya alami akibat fitnah-fitnah itu. Dan menurut saya, menyebar luaskan fitnah-fitnah itu adalah kekejaman luar biasa, dan itulah yang dilakukan oleh ‘para orang Kristen terpandang’ itu. Cuma Tuhan Jesus yang membuat saya bisa bertahan. GBU Hesti ========================================= From: "kezia wong" <[EMAIL PROTECTED]> Sungguh indah Kau Tuhan Kucari wajahMu temukan kasihMu Kau bukan Tuhan yang jauh dariku Kupanggil namaMu, kudengar jawabMu Kau Tuhan yang slalu dengar seruan hatiku Sungguh indah Kau Tuhan Penuh kasih dan sayang Kau tempat penghiburan Bagi setiap hari yang terluka Sungguh indah Kau Tuhan Menara perlindungan Kau sumber kekuatan Bagi semua orang yang membutuhkan AJARKU 'TUK MENGERTI Ajarku 'tuk mengerti jalan-jalanMu TUHAN Ajarku 'tuk mengerti rencanaMu di hidupku Sekalipun ku berjalan dalam lembah yang kelam Ku tahu pasti Engkau besertaku Ajarku 'tuk bersyukur dalam segala keadaan Ajarku merasakan kasihMu yang sempurna Sekalipun banyak hal yang takkan kupahami ku akan tetap percaya Kau setia JalanMu adil dan benar RencanaMu sungguh sempurna Gunung batuku yang tak akan goyah Kau memegang hari esokku dan menuntun setiap jalanku bersamaMu ku tak akan goyah.

