From: rm_maryo 

8 Nov

"Akan ada sukacita pada para malaikat Tuhan karena satu orang berdosa yang 
bertobat." (Rm 14:7-12; Luk 15:1-10)

"Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk 
mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli 
Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan 
mereka." 
Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang 
mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, 
tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi 
mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, 
ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia 
memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: 
Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah 
kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga 
karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena 
sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." "Atau 
perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di 
antaranya, tidak 
menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia 
menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan 
tetangga-tetangganya serta berkata: 
Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah 
kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada 
malaikat-malaikat Tuhan karena satu orang berdosa yang bertobat." (Luk 
15:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
. Dalam setiap kehidupan bersama, entah di dalam keluarga atau masyarakat, 
tempat kerja/kantor/sekolah, dalam aneka macam organisasi, pada umumnya ada 
orang-orang atau pribadi-pribadi tertentu yang bermasalah, menghambat kehidupan 
dan kerja bersama. 
Ada kecenderungan besar untuk menyingkirkan orang-orang atau pribadi-pribadi 
bermasalah tersebut; hemat kami jika hal ini dilakukan berarti menyebarluaskan 
`penyakit'. Maka menanggapi sabda Yesus hari ini, "akan ada sukacita pada 
malaikat-malaikat Tuhan karena satu orang berdosa yang bertobat", marilah kita 
berusaha dengan rendah hati, sekuat tenaga dan seoptimal mungkin serta dengan 
bantuan rahmat Tuhan membantu pertobatan atau perbaikan saudara-saudari kita 
yang bermasalah. Rasanya yang bermasalah lebih sedikit daripada yang tidak 
bermasalah alias baik-baik saja, maka jika yang baik-baik bekerjasama membantu 
pertobatan atau perbaikan yang kurang baik atau bermasalah kiranya akan 
berhasil dengan baik. Kepada mereka yang 
berwenang atau berkuasa dalam hidup atau kerja bersama saya himbau dan harapkan 
untuk memberi kemungkinan dan kesempatan bagi yang bermasalah memperbaiki 
dirinya, dan tentu saja mereka juga perlu dibantu. Sekiranya karena 
keterbatasan dan kelemahan kita tidak mampu mempertahankan orang atau pribadi 
bermasalah tersebut dalam kehidupan dan kerja bersama alias terpaksa 
menyingkirkan baiklah bertindak dengan cintakasih, artinya mereka yang harus 
disingkirkan tidak menjadi sakit hati atau marah-marah. Namun demikian hemat 
saja akan lebih mulia dan menjadi warta gembira jika kita dapat membantu 
pertobatan atau perbaikan orang bermasalah daripada menyingkirkan. 
Maka baiklah jika secara phisik, sosial atau psikologis kita tidak mampu 
membantu perbaikan mereka, hendaknya kita mendoakannya seperti Yesus di puncak 
kerbatasan dan penderitaanNya di kayu salib berdoa: "Ya Bapa, ampunilah mereka, 
sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."(Luk 23:34)
. "Tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan 
tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, 
kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik 
hidup atau mati, kita 
adalah milik Tuhan" (Rm 14:7-8), demikian kesaksian dan peringatan Paulus 
kepada umat di Roma, kepada kita semua. Apa yang dikatakan oleh Paulus bahwa 
`tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri' rasanya 
telah kita alami dalam hidup sehari-hari, entah apa yang kita katakan atau 
lakukan , baik atau buruk , 
hemat saya senantiasa terarah bagi yang lain. Tentu saja sebagai orang beriman 
kita diharapkan agar apa yang kita katakan dan lakukan kepada atau bagi yang 
lain senantiasa baik, menyelamatkan dan membahagiakan baik bagi diri kita 
sendiri maupun orang lain yang menerima perkataan atau perlakuan kita. Marilah 
kita sadari dan hayati bahwa hidup kita serta segala sesuatu yang kita miliki 
atau kuasai saat ini adalah anugerah Tuhan, `titipan Tuhan', sehingga kita 
memfungsikan atau memanfaat kannya sesuai dengan kehendak Tuhan. 
Mari kita renungkan dan hayati Asas Dasar ini:"Manusia diciptakan untuk memuji, 
menghormati serta mengabdi Tuhan Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan 
jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk 
menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Karena itu manusia harus 
mempergunakannya, 
sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus melepaskan diri dari 
barang-barang tersebut, sejauh itu merintangi dirinya" (St.Ignatius Loyola, LR 
no 23).

" Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang 
yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, 
nantikanlah TUHAN" (Mzm 27:13-14)

Jakarta, 8 November 2007
==============================================
From: rm_maryo 

9 Nov

Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran: 1Kor 3:9c-11.16-17; Yoh 2:13-22
"Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat 
berjualan." 
Setelah makan siang bersama, di siang bolong, panas terik, hari itu saya 
berjalan-jalan di area halaman gereja dan pastoran. Tiba-tiba di anak tangga 
pintu gereja ada sepasang pemuda duduk termenung, saling diam dan tidak 
berbicara apapun. Saya tergerak mendekatinya dan kemudian menyapa mereka:" 
Selamat siang". "Selamat siang Pater", jawab mereka.
"Ada apa, siang-siang begini duduk di sini?", pertanyaan saya kepada mereka.
"Ya Pater, di rumah rasanya gerah dan panas, karena bapak-ibu bertengkar terus, 
maka saya merasa damai, tenang dan tentram duduk-duduk di sini", demikian 
jawaban 
mereka. Gedung gereja hanyalah batu-batu, semen dst.. yang `mati', namun dapat 
membuat orang yang dekat atau berada di dalamnya merasa damai, tenang dan 
tentram. Maka baiklah pada hari saya "Pesta Pemberkatan Gereja Basilik 
Lateran", yang menjadi gereja resmi Paus, hari ini saya sampaikan permenungan 
atau refleksi sederhana, semoga dapat menjadi bahan mawas diri bagi kita semua.

"Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat 
berjualan."(Yoh 2:16) 
Gedung gereja, seperti tempat-tempat ibadat lainnya, adalah tempat atau 
bangunan yang telah diberkati atau disucikan. Siapapun yang mendatangi, masuk 
ke dalam atau berada dalam bangunan sebagai tempat ibadat tersebut diharapkan 
semakin menjadi suci, semakin dikasihi oleh dan mengasihi Tuhan maupun 
sesamanya. Menjadi `suci' 
atau `disucikan' berarti dipersembahkan atau disisihkan sepenuhnya kepada 
Tuhan, sehingga apa atau siapa yang telah disucikan/diberkati diharapkan 
berfungsi sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan. Yang sering menjadi gangguan atau 
hambatan dalam rangka menghayati kehendak Tuhan dalam hal urusan dengan tempat 
ibadat ini antara lain `sikap terhadap uang atau harta benda'. Pada umumnya 
`tempat ibadat' juga lebih mudah `mendatangkan' uang atau harta benda, misalnya 
bantuan untuk membangun tempat ibadat atau sumbangan/ persembahan/ kolekte yang 
dipersembah kan selama beribadat. "Uang atau harta benda" memang dapat menjadi 
`jalan' ke neraka atau ke sorga, dan kiranya kita semua berharap dengan uang 
atau harta benda yang kita miliki dan kuasai kita kelak dapat masuk sorga, 
hidup mulia bersama Tuhan selama-lamanya. 

Maka menanggapi sabda Yesus yang keras di atas, kami mengajak anda sekalian 
untuk mawas diri perihal pemanfaatan uang atau harta benda yang diperoleh 
selama beribadat atau dalam rangka pembangunan/perawatan rumah ibadat. Dalam 
Gereja Katolik `uang atau harta benda' yang demkian itu disebut `harta benda 
gerejani' yang 
harus difungsikan untuk "tujuan-tujuan khas..terutama ialah: 
mengatur ibadat ilahi, memberi sustensi yang layak kepada klerus serta 
pelayan-pelayan lain, melaksanakan karya-karya kerasulan suci serta karya amal 
kasih, terutama terhadap mereka yang berkekurangan" (KHK kan 1254 $ 2):
. "Mengatur ibadat ilahi". Dalam beribadat kita membutuhkan aneka macam 
sarana-prasarana yang diharapkan mendukung kegiatan beribadat, misalnya: 
tempat/gedung dan peralatan liturgi,. Dalam hal tempat atau gedung sekiranya 
belum ada kiranya perlu diusahakan, sedangkan jika kita telah memiliki 
tempat/gedung hendaknya dirawat 
sebaik mungkin: kebersihan, keteraturan, keindahan dst.. Peralatan yang 
mendukung untuk beribadat misalnya: pakaian imam dan para pembantunya, tempat 
duduk, peralatan untuk perayaan ekaisti, sound system dst.. hendaknya juga 
diperhatikan dengan baik dan memadai. 
Terkait dengan ibadat kiranya juga perlu diperhatikan pembinaan cara berdoa 
maupun bernyanyi/koor, yang juga perlu beaya-beaya atau tempat khusus untuk 
pembinaan. 
. "Memberi sustensi yang layak kepada klerus serta pelayan-pelayan lain". 
"Sustensi" berasal dari kata bahasa Latin "sustento/ sustentare" yang antara 
lain berarti memegang tegak, menegakkan, menopang, menjunjung ke atas, mencegah 
jatuhnya. `Para klerus serta pelayan-pelayan lain' adalah pastor/imam, para 
pegawai pastoran maupun paroki ; mereka ini harus memperoleh perhatian dan 
dukungan yang baik dan memadai dalam hal kebutuhan hidup sehari-hari maupun 
sarana-sarana yang dibutuh kan dalam melaksanakan tugas perutusan atau 
pekerjaan. Jika mereka kurang memperoleh perhatian yang baik dan memadai 
kiranya ada bahaya atau godaan bagi mereka untuk korupsi atau menyeleweng, 
"berjualan di tempat ibadat atau komersial dalam melaksanakan tugas 
perutusannya". Para klerus serta pelayan-pelayan lain hendaknya hidup dengan 
sederhana serta tidak bermental bisnis atau materialistis, secara khusus para 
klerus hendaknya menjadi teladan bagi umat yang dilayani dalam hal 
kesederhanaan, menjadi saksi Yesus Kristus, "yang oleh karena kamu menjadi 
miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena 
kemiskinan-Nya."(2Kor 8:9). Kepada umat pada umumnya kami berharap juga tidak 
memanjakan para klerus/imam/pastor paroki.. 
. "Melaksanakan karya-karya kerasulan suci". Apa yang termasuk dalam kerasulan 
suci erat kaitannya dengan tugas Gereja untuk `mengajar dan menguduskan', 
seperti kotbah, retret/rekoleksi, katekese/pengajaran agama dan 
sakramen-sakramen. Dengan kata lain berbagai kegiatan atau usaha untuk 
pembinaan maupun pengembangan 
atau pendalaman iman umat. Karya-karya ini kiranya perlu memperoleh perhatian 
yang baik dan memadai sehingga umat semakin beriman, dan jika iman umat 
mendalam kiranya mereka juga rela dan dengan hati besar berkorban menyumbangkan 
sebagian kekayaan atau harta untuk kepentingan Gereja (ingat: uang atau harta 
benda gerejani berasal dari umat dan hendaknya juga difungsikan untuk 
pembinaan, pengembangan dan pendalaman iman umat). Secara konkret di dalam 
Gereja juga ada paguyuban umat seperti: Kharismatik, Legio Mariae, ME, Choice, 
Couple for Christ, Ibu-ibu paroki, muda-mudi paroki, PIA/Sekolah Minggu, 
kelompok-kelompok professional seperti guru, 
pengusaha, perawat, dst.. Paguyuban-paguyuban ini hendaknya memperoleh 
perhatian yang baik dan memadai, baik hal pendanaan maupun tenaga. 
. "Melaksanakan karya amal kasih, terutama terhadap mereka yang berkekurangan". 
Yang termasuk dalam karya amal kasih ini adalah karya-karya pelayanan bagi 
masyarakat umum seperti sosial, kesehatan dan pendidikan. Maka baiklah mereka 
yang berkarya di karya pelayanan ini hendaknya sungguh memperhatikan `mereka 
yang berkekurangan', termasuk mereka yang menjadi korban bencana alam maupun 
penggusuran di kota-kota besar. Uang atau harta benda yang diperoleh oleh 
lembaga/ yayasan yang mengelola karya-karya ini hendaknya difungsikan sesuai 
dengan `maksud pemberi' (`intentio dantis'), artinya uang atau harta benda 
yayasan/lembaga sosial hendaknya dimanfaatkan untuk pengembangan karya-karya 
sosial, uang atau harta benda yang diperoleh yayasan/ lembaga kesehatan harus 
dimanfaatkan untuk pengembangan karya-karya kesehatan dan uang atau harta benda 
yang diperoleh yayasan/ lembaga pendidikan harus dimanfaatkan untuk 
pengembangan karya pendidikan. 

"Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Tuhan dan bahwa Roh Tuhan diam di 
dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Tuhan, maka Tuhan akan 
membinasakan dia. Sebab bait Tuhan adalah kudus dan bait Tuhan itu ialah kamu 
"(1Kor 3:16-17) 

Dalam rangka mengenangkan Pemberkatan Gereja Basilik Lateran hari ini, baiklah 
kita juga mawas diri bahwa masing-masing dari kita adalah bait Tuhan dan Roh 
Tuhan diam di dalam diri kita. Kita, manusia diciptakan oleh Tuhan sesuai 
dengan gambar atau citraNya, dengan kata lain masing-masing dari kita dipanggil 
untuk menjadi `gambar atau citra Tuhan' serta melihat dan memperlakukan sesama 
sebagai `bait Tuhan'. 
. Kita sebagai "gambar atau citra Tuhan", yang juga berarti Roh Kudus diam di 
dalam diri kita, berarti dari kita diharapkan `lahir' buah-buah Roh seperti : 
"kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, 
kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal 5:22-23). Keutamaan-keutamaan ini harus 
menjadi nyata atau terwujud dalam cara berkata maupun cara bertindak setiap 
hari, dalam kesibukan, hidup bersama kita di manapun dan kapanpun. Sebagaimana 
kita imani bahwa Tuhan 
hadir dimana saja dan kapan saja, kiranya terutama dan pertama-tama Tuhan hadir 
dan berkarya dalam diri kita, manusia, ciptaan yang paling luhur di dunia ini. 
Tanda bahwa kita semua menjadi `gambar dan citra Tuhan' antara lain kehidupan 
bersama kita sungguh manusiawi, dan dengan demikian terbuka juga pada Yang 
Ilahi. Harkat 
martabat manusia dijunjung tinggi, dihormati dan diutamakan dalam berbagai 
kebijakan maupun kegiatan; secara konkret hemat saya, entah di tingkat keluarga 
atau pemerintahan pendidikan atau pembinaan manusia memperoleh perhatian utama, 
bukan uang, harta benda atau barang. 
. Kita dipanggil untuk `melihat dan memperlakukan sesama kita sebagai bait 
Tuhan". Rasanya kita ketika memasuki `bait Tuhan' atau tempat ibadat senantiasa 
bersikap rendah hati, tenang/hening dan penuh hormat, maka sikap-sikap ini juga 
menjadi nyata ketika kita berhadapan dengan sesama manusia, yang menjadi `bait 
Tuhan'. "Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului 
dalam memberi hormat."(Rm 12:10), demikian nasehat Paulus kepada umat di Roma, 
kepada kita semua. Hormat kiranya tidak hanya kita tujukan kepada para pejabat 
atau petinggi saja, tetapi kepada semua manusia, lebih-lebih mereka yang kecil, 
miskin dan 
berkekurangan. Dalam orang atau kelompok sesama manusia yang kecil, miskin dan 
berkekurangan kiranya lebih banyak dapat kita temukan keutamaan-keutamaan atau 
nilai-nilai kehidupan daripada dalam diri orang besar, kaya dan berkelebihan. 
"Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu 
Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan 
kepada orang 
kecil."(Mat 11:25). 

"Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku."( Yoh 2:17) 
Yang dimasksudkan dengan `rumah' di sini adalah tubuh Yesus sendiri, yang harus 
wafat di kayu salib untuk menyelamatkan dunia yang diciptakan oleh Tuhan dan 
menjadi tempat Tuhan hidup dan berkarya. Karena dunia tidak peduli alias 
meninggalkan Tuhan, sehingga menuju ke kehancuran, maka siapapun yang memiliki 
kepedulian untuk 
mengembalikan dunia seisinya menjadi `bait Tuhan' memang harus berani berjuang 
dan berkorban, termasuk mengorbankan diri sendiri, sebagaimana telah dihayati 
oleh para pahlawan, pejuang kebenaran dan perdamaian serta para santo-santa. 
Kita semua dipanggil untuk meneladan mereka, maka secara khusus pada pesta 
Pemberkatan Gereja Basilik Lateran ini kami mengajak kita semua untuk 
mengenangkan para 
santo-santa yang menjadi pelindung maupun nama baptis kita, dengan harapan kita 
dapat meneladannya agar kita sungguh semakin menjadi `bait Tuhan'. 

"Tuhan itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam 
kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi 
berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; Kota Tuhan, kediaman 
Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Tuhan ada di 
dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Tuhan akan menolongnya menjelang pagi" 
(Mzm 46:2-3.5-6)

"Ora pro mea"
Jakarta, 9 November 2007

Kirim email ke