From: rm_maryo 

 17 Nov

"Jika Anak Manusia itu datang adakah Ia mendapati iman di bumi?"
(Keb 18:14-16; Luk 18:1-8)

"Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa 
mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata- Nya: "Dalam sebuah 
kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Tuhan dan tidak menghormati 
seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim 
itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim 
itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut 
akan Tuhan dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini 
menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia 
datang dan akhirnya menyerang aku." Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan 
hakim yang lalim itu! Tidakkah Tuhan akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya 
yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum 
menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan 
tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"(Luk 
18:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Elisabeth dari 
Hungaria, biarawati, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai 
berikut:
. Doa merupakan bagian hakiki hidup beriman dan beragama, orang yang mengaku 
diri sebagai beriman atau beragama tetapi jarang berdoa kiranya bagaikan `tong 
kosong berbunyi nyaring', suara atau gaungnya keras tetapi tidak `berisi'. 
Untuk mendukung dan memperdalam hidup doa menurut hemat saya perlu diperdalam 
dan dikembangkan keutamaan `mendengarkan', tidak hanya secara phisik tetapi 
juga secara rohani atau spiritual, mendengarkan dengan hati. 
Jika kita dapat `mendengarkan' apa yang terjadi dalam lingkungan hidup kita, 
kiranya kita akan dapat melihat dan menikmati karya agung Tuhan dalam 
ciptaan-ciptaanNya, yang acapkali tak mungkin dapat dipikirkan atau dimengerti 
oleh otak kita yang serba terbatas ini, dan dengan demikian orang akan 
cenderung tergerak untuk berdoa: 
memuji dan memuliakan Tuhan dengan sepenuh hati. Doa-doa kita, entah yang 
terungkap melalui kata atau gerakan hemat saya merupakan tanggapan atas kasih 
dan karya agung Tuhan dalam ciptaan-ciptaanNya, terutama dalam diri kita 
manusia yang lemah dan rapuh ini. Maka salah satu isi utama dari doa-doa kita 
adalah terima kasih dan syukur, itulah tanda hidup orang beriman. Syukur dan 
terima kasih tersebut tidak hanya terungkap dalam dan melalui kata-kata tetapi 
juga menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku terhadap sesama atau orang 
lain. Dengan demikian jika kita mengaku diri sebagai orang beriman, kita akan 
saling bersyukur dan berterima kasih. Baiklah 
syukur dan terima kasih ini selain kita hayati dalam hidup kita sehari-hari, 
sedini mungkin juga diajarkan dan dibinakan kepada anak-anak di dalam keluarga. 
Jika anak-anak dibiasakan bersyukur dan berterima kasih, maka kelak kemudian 
hari ia akan semakin beriman yang ditandai oleh keutamaan syukur dan terima 
kasih ini. 
. "Sementara sunyi senyap meliputi segala sesuatu dan malam dalam peredarannya 
yang cepat sudah mencapai separuhnya, maka firman-Mu yang mahakuasa laksana 
pejuang yang garang melompat dari dalam sorga, dari atas takhta kerajaan ke 
tengah tanah yang celaka. 
Bagaikan pedang yang tajam dibawanya perintah-Mu yang lurus" (Keb 18:14-15). 
Tuhan, Sang Pencipta, terus berkarya tanpa kenal batas waktu dan tempat; 
sementara kita tertidur atau beristirahat Ia terus berkarya, sebagaimana kita 
alami dan hayati dalam dan melalui `denyut jantung' kita. Selain `jantung', 
anggota tubuh kita yang kelihatan dan terus berfungsi antara lain `leher' yang 
menjadi `penyalur udara' yang menghidup kan.  "Leher" sebagaimana anggota tubuh 
kiranya senantiasa berfungsi dengan baik serta tidak pernah menyakiti yang lain 
atau korupsi alias `berjalan lurus'. 
Alangkah indahnya kehidupan bersama ini , jika anggota-anggota tubuh kita yang 
lain juga berfungsi seperti leher, yang tidak pernah menyakiti yang lain atau 
korupsi. Masing-masing dari kita juga dipanggil untuk menjadi `leher' bagi 
sesama atau saudara-saudari kita, dimana kehadiran dan fungsinya senantiasa 
demi keselamatan dan kebahagiaan seluruh tubuh, semua orang. "Leher" juga 
bagaikan Salib yang berdiri di ketinggian bumi, menjadi penghubung bumi dan 
langit, sorga dan dunia; penderitaan yang menyelamatkan dan membahagiakan. 
Menjadi `leher' bagi orang lain atau dalam hidup bersama memang harus rendah 
hati dan lemah lembut, tidak sombong dan garang. Betapa pentingnya `leher' 
kiranya dapat digambarkan demikian: potong kaki orang masih hidup, potong 
tangan orang masih hidup, cukil matanya orang masih hidup dst.., tetapi potong 
leher maka orang yang 
bersangkutan mati, tak berdaya lagi. Menjadi biarawati atau anggota Lembaga 
Hidup Bakti hemat kami harus menjadi `leher', penyalur berkat/rahmat Tuhan bagi 
sesama dan doa-doa sesama kepada Tuhan.

"Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala 
perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah 
bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN" (Mzm 105:2-3)

Jakarta, 17 November 2007
=============================================
From: rm_maryo 

18 Nov

Mg Biasa XXXIIIc: Mal 4:1-2a; 2Tes 3:7-12; Luk 21:5-19
"Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu." 
Para calon orangtua siswa sebelum tahun ajaran sekolah berlangsung dikumpulkan 
untuk diajak bebicara bersama hal pokok yang perlu diperhatikan oleh para 
orangtua, itulah yang diselenggarakan oleh `Kolese Kanisius'. Bahan pembicaraan 
antara lain anggaran belanja sekolah dan janji orangtua calon siswa. Para calon 
orangtua 
antara lain menandatangi 2 janji, yaitu: 
(1) hadir sendiri alias tidak diwakili ketika ada undangan pertemuan di sekolah 
dan
(2) menarik anaknya dari sekolah jika anaknya kedapatan `menyontek' dalam 
ulangan atau ujian. Memang di SMP dan SMA Kanisius ada aturan keras `dilarang 
menyontek', dan para siswa atau peserta didik yang taat atau setia pada aturan 
ini akan selamat atau sukses sampai ujian akhir alias menyelesaikan tugas 
belajar di Kanisius dengan 
selamat. Godaan atau rayuan untuk menyontek kiranya ada dalam diri para peserta 
didik atau siswa, namun mereka tidak berani menyontek dan kiranya mereka 
sungguh menghayati sabda Yesus ini: "Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan 
memperoleh hidupmu". Hari ini, hari Minggu Biasa XXXIII, adalah minggu terakhir 
dalam kalendarium liturgy atau minggu terakhir dalam lingkaran hidup beragama 
atau beriman secara 
katolik. Maka baiklah pada minggu terakhir ini kita mawas diri atau 
berrefleksi: sejauh mana kita tetap bertahan dalam iman kepercayaan kita, setia 
pada janji-janji yang pernah kita ikhrarkan, 
misalnya: janji baptis, janji perkawinan, janji imamat atau kaul hidup 
membiara. 

"Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu 
dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu 
akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. 
Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap 
bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu." (Luk 21:16-19) 

"Dalam untung dan malang, di waktu sehat maupun sakit, saya berjanji akan 
mencintai dan menghormati engkau seumur hidup saya", demikian kutipan janji 
perkawinan. "Saya berjanji untuk hidup murni, taat dan miskin untuk 
selama-lamanya", demikian kurang lebih janji kaul hidup membiara. Janji-janji 
tersebut kiranya merupakan bentuk lebih konkret dan radikal dari janji baptis, 
dasar dari janji-janji hidup terpanggil lainnya, yaitu "menolak semua bentuk 
godaan setan dan hanya mengabdi pada Tuhan Tuhan saja". Hemat saya yang 
pertama-tama dan utama untuk dihayati atau dilaksanakan dengan taat dan setia 
adalah janji baptis, karena jika janji baptis sungguh dihayati 
dengan setia dan penuh maka janji-janji lain yang mengikutinya lebih mudah 
untuk dihayati. Maka marilah kita saling membantu dalam menghayati janji baptis 
dalam hidup sehari-hari, dalam pergaulan, tugas perutusan maupun pekerjaan 
kita. 

Godaan setan ada di mana-mana dan setiap waktu, setan melayang-layang di udara 
di setiap tempat dan sembarang waktu, "sebab itu ambillah seluruh perlengkapan 
senjata Tuhan, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu 
dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah 
tegap, berikat pinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu 
berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala 
keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat 
memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan 
dan pedang Roh, yaitu firman Tuhan, 
dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan 
berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya 
untuk segala orang Kudus" (Ef 6:13-14) Agar kita tetap bertahan dan setia dalam 
janji baptis kita harus mengenakan senjata-senjata Tuhan tersebut, yaitu 
kebenaran, keadilan, kerelaan, iman, Roh dan firman Tuhan serta doa. Baiklah di 
sini saya mengangkat dan mengingatkan salah satu senjata Tuhan ini yaitu 
perihal berdoa. 

Doa-berdoa hemat saya merupakan cirikhas hidup beriman dan beragama, hidup 
beriman dan beragam tanpa doa akan terasa hambar dan kering. 
Berdoa dapat dilaksanakan oleh siapa saja dan kapan saja: orang sakit di rumah 
sakit, orang dalam perjalanan, orang bisu atau tuli atau buta, dst.. Berdoa 
berarti berkomunikasi atau bercakap-cakap dengan Tuhan yang menciptakan dan 
senantiasa menyertai dan menghidupi kita. Karena aneka macam janji yang kita 
ikhrarkan juga 
kita sadari dan hayati sebagai rahmat atau anugerah Tuhan, maka kita dapat 
bertahan dan setia pada janji-janji tersebut jika kita senantiasa menjalin 
relasi akrab dan mesra dengan Tuhan antara lain dalam dan melalui doa. 
Hendaknya jangan melupakan doa-doa harian dan doa-doa lainnya sesuai dengan 
panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing agar kita tetap bertahan serta 
memperoleh hidup. Di samping berdoa, lebih-lebih jika masih dalam keadaan sehat 
dan kuat, kiranya kita juga bekerja, maka baiklah kita renungkan peringatan 
Paulus di bawah ini. 

"Kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, 
melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian 
kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap 
tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri " 
(2Tes 3:11-12) 

Orang yang melupakan hidup doa pada umumnya "tidak tertib hidupnya dan tidak 
bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna". Ia mungkin 
bagaikan benalu, dimana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan merampok dan 
merampas milik orang lain. 
Kepada orang yang demikian ini diperingatkan untuk tetap "tenang melakukan 
pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri". Maka baiklah kita 
dengan rendah hati, setia dan tekun melaksanakan tugas perutusan atau pekerjaan 
kita masing-masing secara effisien dan effektif , apapun tugas perutusan atau 
pekerjaan 
kita. 

Effisien berasal dari akar kata bahasa Latin efficio, yang antara lain berarti 
mengada kan/ menjadikan sesuatu, menciptakan, mencapai hasil, mengusahakan, 
maka bekerja dengan effisien kurang lebih berarti orang bekerja bekerja keras 
dan menghasilkan sesuatu. 
Sesuatu ini diharapkan effektif. Effektif barasal dari kata bahasa Latin 
effectio , yang antara lain berarti hal mempraktekkan, hal mengamalkan, maka 
sesuatu atau hasil yang effektif kurang lebih sesuatu atau hasil tersebut 
sungguh berkualitas demi keselamatan atau kesejahteraan hidup kita sendiri 
maupun sesama kita. Maka apa 
yang effektif hendaknya juga affektif, sesuatu atau hasil tersebut mendorong 
orang untuk mewujudkan cinta kepada atau bagi sesamanya. 

Untuk mempersiapkan dan membina diri maupun sesama agar dapat hidup dan bekerja 
secara effisien, effektif dan affektif, antara lain sebagaimana saya contohkan 
di atas, hendaknya dalam dunia pendidikan atau sekolah-sekolah aturan `dilarang 
menyontek' diberlakukan dengan setia dan tekun. Membiarkan tindakan menyontek 
dalam ulangan atau ujian di sekolah pada para peserta didik atau murid hemat 
saya berarti mendukung dan menyuburkan tindakan korupsi, orang tidak tertib 
hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. 
Sedini mungkin hendaknya anak-anak, entah di dalam keluarga maupun sekolah 
dididik untuk disiplin, jujur, percaya 
diri, tekun, tertib dst.. dalam hidup maupun kesibukan atau tugasnya. Biarlah 
mereka tumbuh berkembang sampai mati hidup dengan tertib, dengan tenang 
melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. 

"Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring, 
dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, 
yakni TUHAN! Biarlah gemuruh laut serta isinya, dunia serta yang diam di 
dalamnya! Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung 
bersorak-sorai bersama-sama di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi 
bumi. Ia akan menghakimi 
dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kebenaran" (Mzm 98:5-9)

Jakarta, 18 November 2007
============================================
From: Dewi Kriswanti 

MENGAPA HANYA DEKAT TUHAN SAJA AKU TENANG

Mazmur 62 : 2 - 9
"Hanya dekat Tuhan saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku." (ayat 2)
Dalam menghadapi tekanan hidup, kita harus berbeda dengan orang dunia, kita 
harus tetap tenang karena kita mempunyai Tuhan yang penuh kuasa. Tetap tenang 
bukan berarti kita tidak punya masalah, akan tetapi karena kita selalu dekat 
dengan Tuhan yang sanggup mencurahkan berkat-berkatNya kepada kita. 

Mengapa hanya dekat Tuhan saja aku tenang ?
1. Karena Tuhan tahu waktu yang tepat (Yesaya 60:22).
Jika kita senantiasa hidup dekat dengan Tuhan, kita akan tahu rencana-rencana 
Tuhan dalam hidup kita. Sehingga kita akan tetap tenang karena kita tahu 
pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. 

2. Karena Tuhan akan memberitahukan kita hal-hal yang belum terjadi dan yang 
akan terjadi (Amos 3:6-7).
Kalau kita dekat dengan Tuhan tidak akan ada yang menjadi rahasia. Ketika Tuhan 
akan menghukum Sodom dan Gomora, Tuhan memberitahukan terlebih dahulu kepada 
Abraham, yang hidup berkenan kepada Tuhan. 

3. Karena Tuhan akan mengalahkan yang jahat bagi kita (Mazmur 91:7-11).
Sebagai manusia kita tidak akan luput dari keadaan yang bisa saja membahayakan 
keselamatan kita. Tetapi sebagai orang yang bergaul dekat dengan Tuhan, sesuai 
firmanNya, Tuhan akan menghalau semua itu dari kehidupan kita. 

4. Karena Tuhan memberkati tanpa membedakan manusia (Mazmur 115:12-13).
Semua manusia sama dihadapan Tuhan. Yang paling penting dan paling utama bagi 
Tuhan adalah apakah kita takut akan Dia dan senantiasa mendekat dengan Dia.
Doa: 

Kirim email ke