From: Jeanne Kaligis 

Mengasihi Tanpa mengatakan Sesuatu
Saya ditraktir makan mie di kedai mie yang terkenal. Harganya tidak mahal dan 
rasanya sangat lezat sekali. Kami duduk di depan meja panjang yang dapat 
menampung sekitar sepuluh orang bila mengelilingi meja. Meja sudah terisi enam 
orang, saya, teman saya dan empat orang pengunjung.

Ketika asyik makan, satu keluarga baru duduk di dekat kami. Tepatnya diantara 
teman saya dan pengunjung lainnya. Mereka telah memesan mie dan sedang 
menunggu. Keluarga tersebut terdiri dari sepasang suami istri yang masih muda 
dan seorang anak yang berusia sekitar enam tahun. Mereka keluarga yang jauh 
dari sederhana. Pakaiannya agak kusam dan berbau. Si anak kelihatannya baru 
sembuh dari suatu penyakit yang tidak kami ketahui dan sedang menarik ingusnya 
keluar masuk. Ingusnya seperti angka sebelas dan terkadang seperti angka satu 
dengan warna kuning kehijau-hijauan. Si ibu dengan penuh kasih sayang mengelap 
ingus yang tidak berhenti keluar masuk hidung anaknya. Pasangan itu sangat 
bahagia melihat anaknya bermain sambil tertawa. Sepertinya makan mie merupakan 
perayaan menyambut kesembuhannya. Saat mie datang keluarga tersebut makan 
dengan lahap.

Keadaan tersebut tidak berlaku bagi kami semua terkecuali teman saya. Bagi kami 
berlima (termasuk saya) keadaan tersebut merupakan bencana dan penyiksaan. 
Bayangkan aja, bagaimana rasanya makan mie dengan mencium satu keluarga yang 
bau badannya tidak enak. Belum lagi melihat dan mendengar ingus yang ditarik 
keluar masuk dan seseka li dibersihkan oleh ibunya. Setiap kali memakan mie 
sambil meminum kuahnya, rasanya seperti ingus telah tercampur dengan makanan 
dan membuat selera makan hilang. Tidak berapa lama kemudian, keempat pelanggan 
yang duduk semeja dengan kami meninggalkan meja satu persatu- tanpa 
menghabiskan makanan. Melihat ini ada rasa kepahitan yang terpancar diwajah 
keluarga muda itu, seperti rasa rendah diri dan terasing melihat sikap saya dan 
empat pengunjung lainnya.

Tetapi itu tidak berlangsung lama, terutama saat mereka melihat teman saya, 
keceriaan mereka pulih kembali. Teman saya tetap menikmati mie dengan segala 
kecuekannya. Seolah-olah tidak ada bau disekitarnya dan tidak ada suara ingus 
yang didengar. Saya tidak bisa berbuat banyak selain belajar cuek dan 
menghabiskan sisa mie. Lagi pula saya ditraktir makan dan tidak berhak 
mengajukan hal-hal yang aneh-aneh dan tidak sopan.

Selesai makan, kami masih duduk dua puluh menit sebelum meninggalkan kedai 
makanan. Saya heran dengan tingkah teman saya yang diluar kebiasaannya. 
Biasanya setelah makan, ia hanya duduk paling lama sepuluh menit. Sekali lagi 
saya harus mengikuti kemauan teman saya dengan jengkel.

Akhirnya kami keluar meninggalkan kedai dan keluarga muda, saya merasa lega. 
Dalam perjalanan pulang, teman saya mengatakan ia sangat terganggu duduk di 
samping keluarga tersebut. Ia merasakan rasa bau dan merasa terganggu dengan 
suara ingus anaknya. Ia merasakan tepat seperti yang saya rasakan.

Teman saya juga mengatakan, jika ia meninggalkan keluarga tersebut di saat 
mereka bergembira, keluarga itu akan merasa terpukul, tidak berharga, terasing 
dan putus asa. Si suami sedang memberi yang terbaik bagi keluarganya. Mereka 
bersukacita merayakan kesembuhan anaknya. Si suami telah mengeluarkan uang yang 
bagi mereka cukup mahal dari hasil kerja keras hanya untuk memberikan yang 
terbaik bagi keluarganya. Uang itu tidak begitu banyak untuk ukuran kami tetapi 
tidak bagi keluarga itu.

Saya sangat terkejut mendengar penuturan teman saya. Dan tidak menyangka teman 
saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi keluarga itu. Dengan caranya 
yang khas, bertahan makan mie sampai habis dan menunggu dua puluh menit setelah 
makan, telah memberi semangat baru bagi keluarga itu.

Saya teringat bagaimana rasa kepahitan, rendah diri dan terasing di wajah kedua 
suami istri ketika melihat pelanggan yang lain meninggalkan meja tanpa 
menghabiskan makanan dan melihat tingkah saya. Saya juga teringat bagaimana 
pasangan ini kembali ceria begitu melihat sikap teman saya yang cuek.

Pertama kali dalam hidup ini, saya menyadari dan menyaksikan bagaimana 
mengasihi sesama tanpa mengatakan sesuatu benar-benar tidak mustahil. Ini 
benar-benar keajaiban. Ajaib bagaimana semua ayat-ayat di dalam Alkitab tentang 
mengasihi sesama dapat diwujudkan tanpa perkataan dalam waktu sesingkat itu. 
Cukup hanya dengan meneruskan makan mie sampai habis. Masa bodoh dengan sikap 
saya dan pengunjung lain yang tidak terpuji. Menunggu dua puluh menit setelah 
selesai makan. Yang terakhir menahan rasa bau untuk menyempurnakan segalanya 
telah menunjukkan suatu keajaiban kasih dan dilakukan oleh seorang teman.

Ajaib bagaimana teman saya menegor saya tanpa mengatakan sesuatu. Ia tidak 
menuduh tetapi cukup telak memukul saya. Saya merasa sangat terpukul, malu 
tetapi tidak marah. Saya kembali mengingatkan diri sendiri bagaimana mudahnya 
mengatakan mengasihi sesama tetapi tidak melakukannya.

===========================================

From: [EMAIL PROTECTED] 

Lakukan semuanya untuk Tuhan

Dalam firman Tuhan... 
Mukjizat besar inkarnasi jatuh dalam kehidupan biasa dari seorang Anak 
Manusia... 
Mukjizat besar dari permuliaan digunung pudar dalam lembah sengsara dan 
kematian dalam kegelapan dosa... 
Kemuliaan kebangkitan turun dalam suatu sarapan pagi di tepi danau... 
Naik ke Sorga berganti pada Roh yang turun kepada sekelompok nelayan... 

Manusia memiliki kecenderungan untuk mencari keajaiban dalam pengalaman 
hidupnya sehari-hari, dan pengalaman kehidupan dari seorang manusia kemudian 
banyak mengambil alih 'keyakinan iman' yang sebenarnya, dan menutupnya dengan 
kesalahan akan arti 'kehidupan bersama Allah' yang sebenarnya... 

Ini yang saya alami, dan saya sadar bahwa akhirnya saya salah dalam menerapkan 
'kehidupan bersama Allah' yang sebenarnya... 
Sebagian besar diri saya [ dan juga manusia umumnya ], hidup hanya sebatas 
kesadaran --- dengan sadar melayani dan mengabdi kepada Allah --- 
Hal ini ternyata menunjukkan ketidak dewasaan dan kenyataan bahwa saya [ dan 
mungkin juga saudara ] belum menghayati kehidupan kekristenan 
yang sebenarnya... 

Dalam perjalanan hidup saya, saya dengan sadar melayani dan mengabdi kepada 
Tuhan... dan dalam perjalanan iman itu saya menjumpai kenyataan-kenyataan hidup 
yang 'ajaib' dan merupakan mukjizat Tuhan bagi saya... Saya menyadari dan 
menikmati kehidupan yang selalu dalam penyertaan tangan Tuhan... dan saya 
melihat pengalaman hidup saya dalam penyertaan tanganNya... bahkan sampai pada 
tahap pengorbanan yang harus kita lakukan dalam berjalan kepada Tuhan... 

Tapi ternyata betapa bodohnya saya, yang hanya menganggap kehidupan yang 
'ajaib' itu yang merupakan batasan dalam 'kehidupan di dalam Tuhan'... Betapa 
bodohnya saya menganggap 'berjalan bersama Tuhan' padahal Tuhanlah yang 
berjalan bersama saya... Dan betapa beraninya saya berkata 'berkorban bagi 
Yesus' padahal Yesuslah yang berkorban bagi saya.... Saya telah diselamatkan 
dari neraka dan kehancuran total, dan kemudian saya masih bisa berbicara 
tentang berkorban... 
Apa saya bisa membayar pengorbanan Yesus, dengan pengorbanan saya...? 

Saya sadar, ketika kehidupan saya berjalan didalam Yesus atau ketika saya 
berkorban bagiNya... itu tidaklah berarti apa-apa dan tidak membayar apa apa... 
Itu semua bukan saya yang melakukan, tetapi Tuhan yang melakukan... 

Melewati suatu krisis kehidupan dengan cara yang istimewa adalah suatu impian 
bagi saya dalam berjalan bersama Yesus... 
Menikmati pengalaman-pengalaman hebat dalam Kristus itu adalah impian bagi 
siapapun dan kita yang mendengarnya akan merasa dikuatkan... 
Tetapi cara 'hebat' itu tidaklah lebih baik dari melewati hari demi hari sambil 
memuliakan Tuhan dimana tidak ada saksi, tidak ada sorotan, tidak ada pujian, 
dan bahkan tidak ada seorangpun yang memberikan perhatian sekecil apapun kepada 
kita... 

Saya tahu sekarang, bila saya benar benar mengabdi kepada Tuhan, maka saya 
telah sampai pada ketinggian iman yang menakjubkan dimana tidak ada seorangpun 
yang akan memperhatikan saya secara pribadi... Tidak ada orang yang akan memuji 
saya, dan membicarakannya... 
bahkan tidak ada seorangpun yang akan berkata " Betapa menakjubkannya saya..." 
atau " Betapa besar iman yang saya punya... " 
Yang diperhatikan hanya Tuhan saja dan kuasanya yang bekerja dalam hidup 
saya... 

Saya ingin dapat berkata, "Oh, Tuhan bekerja dalam hidup saya..." 
atau " Tuhan telah berbicara pada saya..." bahkan " Saya telah mendapat 
pengelihatan dariNya..." 
Akan tetapi, bahkan untuk melakukan tugas yang paling rendahpun untuk kemuliaan 
Allah, harus ada campur tangan Tuhan untuk bekerja di dalam saya... 
dan bukti kehidupan saya sebagai orang yang percaya, bukanlah keberhasilan 
diatas, tetapi pada kesetiaan saya pada kehidupan hari demi hari... 
Saya cenderung untuk menempatkan keberhasilan dalam pekerjaan Kristiani dan 
kehidupan Kristiani yang 'ajaib' sebagai tujuan dan impian saya, padahal tujuan 
saya seharusnya adalah menghayati kemuliaan Tuhan dan menempatkan Tuhan yang 
terutama dalam hidup saya bukan keajaibanNya... 
Saya harus terus berjalan dalam kehidupan 'yang tersembunyi bersama dengan 
Kristus di dalam Allah' dalam kondisi kehidupan saya sehari-hari... 

Adalah sebuah anti klimaks dalam Iman Kristen saya, ketika saya merasa 
kehidupan saya yang ajaib dan pengorbanan yang saya lakukan adalah hal yang 
menunjukkan Kesuksesan Iman dalam hidup saya bersama Tuhan... Karena pada saat 
itulah, diri dan tubuh saya menggantikan posisi Tuhan yang menjadi sentral 
dalam hidup saya... 'Kejadian-kejadian istimewa' yang saya alami dan menjadi 
kekuatan bagi saya, 
ternyata justru melemahkan saya... 

Regards, 

==============================================

From: "-= Henky =-" <[EMAIL PROTECTED]>

Berita Sorgawi Edisi Keduabelas


Shalom,

Majalah Berita sorgawi edisi 12 sudah bisa anda download secara Gratis melalui 
situs kami di www.beritasorgawi.com

Demikian infonya, Yesus Kristus memberkati kita,
Beritasorgawi.com

Kirim email ke