From: james widodo 

Ketika Penderitaan tak Tertanggung & Tuhan tak Terpahami

Kita tahu sekarang, bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk 
mendatang kan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang 
terpanggil sesuai dengan rencana Tuhan. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari 
semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan 
gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara 
banyak saudara. 

(Roma 8:28-29)
Ayat ke 28 mengatakan bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk 
mendatangkan kebaikan bagi kita. Saudara, berdasarkan pernyataan tsb, 
perkenankan lah saya mengajukan dua buah pernyataan, tolong dijawab di dalam 
hati saja:
Pertama: ‘Karena Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup 
saya, maka berarti hidupku pastinya jadi mudah dan lancar’; atau yang kedua: 
‘Sekalipun Tuhan mereka-rekakan yang baik dalam hidup saya, hal itu tidak 
berarti hidupku menjadi mudah dan lancar’.

Mari kita berdoa. 
Saudara, sepintas ayat 28 kelihatannya mudah dipahami, Penekanan ayat 28 adalah 
‘Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu dalam hidup kita bagi kebaikan kita’. 
Ketika berada dalam keadaan yang baik dan lancar, kesehatan baik, anak-anak 
baik, bisnis lancar, o saudara sangat mudah untuk mengaminkan pernyataan Paulus 
tsb bukan?. Namun di sisi lain ketika hidup menjadi berat dan menekan, ketika 
semua rencana-rencana pecah berkeping-keping dan dunia rasa-rasanya terbalik 
menimpa kepala kita, bukankah dengan mudah pula kita mempertanyakan kebenaran 
ayat tersebut. 
Berapa banyak di antara kita yang berpikir bahwa orang kristen yang baik dan 
benar kebal terhadap penderitaan dan malapetaka dan orang yang mati karena 
penyakit atau kecelakaan, adalah orang yang berdosa besar sehingga dihukum 
Tuhan. Kira-kira satu bulan sebelum pesawat Adam Air jatuh dan menewaskan semua 
penumpangnya, yang termasuk di dalamnya ada sekeluarga pendeta, ada sebuah 
kotbah di radio kristen di Surabaya: saya yakin...orang benar tidak akan 
terbunuh, tidak akan mati dalam kecelakaan pesawat. Mungkin si pengkotbah 
berpendapat bahwa Tuhan memberikan kita segala sesuatu yang baik saja dan yang 
jelek-jelek, yang nggak enak pasti bukan berasal dari Tuhan. Mungkin dia 
mendasarkan keyakinannya pada Matius 7:11 ‘Jadi jika kamu yang jahat tahu 
memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! 
Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.’ Bukankah 
asal kita meminta hal-hal yang baik kepada Tuhan
pasti dikabulkan sesuai janji Tuhan sendiri?. Sekarang mari kita menggali lebih 
dalam, apa sebenarnya yang dimaksud oleh Matius dengan kata “Baik” dalam 
perikop paralelnya dalam Lukas 11:13: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi 
pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan 
memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
Jadi ternyata saudara, yang dimaksud dengan ‘baik’ oleh Matius di jelaskan 
dengan gamblang oleh Lukas sebagai Roh Kudus. Tuhan berjanji memberikan Roh 
Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya, bukan hal-hal lainnya. Untuk 
hal-hal lainnya Tuhan tidak pernah berjanji untuk selalu mengabulkannya, walau 
saya percaya Tuhan pasti mengabulkan permintaan kita sepanjang hal itu sesuai 
dengan kehendak-Nya, sesuai dengan cara dan waktu-Nya. Amin saudara?. Tuhan 
tidak pernah berjanji langit selalu biru, hidup tanpa kesulitan dan penderitaan 
bagi orang kristen, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak dapat 
terlepas dari yang namanya problem, masalah, kesulitan, sakit penyakit dan 
segala macam penderitaan yang lain. Ada seorang yang pernah berkata: hanya 
orang gila atau orang mati yang hidup tanpa pernah merasakan penderitaan. Jika 
demikian keadaannya muncul beberapa pertanyaan sbb: penderitaan orang kristen 
berasal dari mana? Apa maksud Tuhan dengan penderitaan, dan mengapa Tuhan 
kadang-kadang berdiam diri saja, seakan-akan tak perduli dengan penderitaan 
manusia? Penderitaan hidup berasal dari mana?
Saudara, ternyata Alkitab banyak mencatat penderitaan yang dialami anak-anak 
Tuhan bahkan hamba-hamba Tuhan yang baik dan setia. Dengan mudah kita menemukan 
contoh seperti Yusuf yang dibuang ke dalam sumur, difitnah, masuk penjara, 
Stefanus yang mati dirajam sampai Petrus yang mati syahid disalibkan secara 
terbalik, bahkan Alkitab mencatat bagaimana para rasul mati syahid dan hanya 
Yohanes yang matinya paling enak, yaitu ketika lanjut usianya di pulau Patmos. 
Sebenarnya kalau dikatakan enak juga ndak saudara karena Yohanes berada di 
pulau Patmos sebagai orang buangan bukan nginap di resort hotel bintang 5. Nah, 
jika demikian faktanya, kita menjadi heran, sebenarnya penderitaan manusia 
berasal dari mana? Dalam menyikapi hal ini kita harus mengerti bahwa 
penderitaan yang kita alami berasal dari dua macam sumber, pertama adalah 
pencobaan dan yang kedua adalah ujian. Pencobaan berasal dari iblis karena 
Tuhan tidak pernah mencobai manusia sedangkan iblis senantiasa mencobai manusia 
dengan maksud untuk menjatuhkan manusia. Di pihak lain, ujian berasal dari 
Tuhan dan kadang-kadang atau sering kali Dia memberikan ujian kepada manusia 
agar manusia bertumbuh dalam kehidupan rohaninya menjadi semakin mirip Kristus. 
Ujian menjadikan karakter kita menjadi lebih baik sedangkan pencobaan yang 
berasal dari iblis bertujuan untuk menjatuhkan manusia. Contoh dalam Alkitab 
adalah ketika setan mencobai Yesus setelah Dia berpuasa 40 hari. Contoh 
pencobaan masa kini adalah narkoba dan seks bebas. Saudara, narkoba dan seks 
bebas adalah dosa yang menimbulkan efek kecanduan di mana setan cuma cukup 
menggoda kita sekali saja karena setelah itu kita jalan sendiri. Dosa ini 
seperti patung kucing yang tangan kanannya maju ke depan dan ke belakang. 
Saudara tahu itu kan? Untuk menggerakkan tangan itu, berapa kali yang 
dibutuhkan? Cuma sekali!! Setelah itu setan berkata: berikutnya udah nggak 
perlu di goda, tidak perlu dicobai lagi, dia sudah otomatis akan jalan 
sendiri!!. 

Mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan? 
Ada banyak alasan mengapa Tuhan mengijinkan penderitan menimpa orang kristen, 
berikut tiga di antaranya:
• Kesebelasan Indonesia baru saja gagal masuk babak semi final di Asian Games 
di Thailand. Kegagalan itu bukan sebuah kejutan bagi orang yang mengerti 
bagaimana melatih dengan benar. Kesebelasan Indonesia dipersiapkan hanya dalam 
beberapa bulan termasuk berlatih di Argentina dan dari persiapan singkat tsb 
diharapkan sebuah keberhasilan. Dapatkah hal ini terjadi?. Demikian pula dengan 
karakter. Manusia yang tidak pernah melewati pergumulan apapun, yang tidak 
pernah menghadapi kemalangan dalam hidupnya, yang tidak pernah kehilangan 
apapun tidak akan pernah mempunyai sebuah karakter yang kuat. 
Penderitaan melalui ujian diperlukan demi kebaikan kita untuk memproses, 
mentransformasi karakter kita agar semakin mirip dengan karakter Kristus. Max 
Lucado pernah menulis, "Tuhan mau menerima kita apa adanya, (tak perduli 
bagimana jahat, rusaknya diri kita) tapi Dia tak pernah mau membiarkan kita 
tetap seperti apa adanya; Artinya seperti yang dinyatakan pada ayat 29, Tuhan 
ingin kita makin bertumbuh menyerupai Yesus." Memang ujian bukanlah sesuatu 
yang enak untuk dijalani. Kita ingin dalam kehidupan sehari-hari tidak usah ada 
penderitaan, tidak usah ada ujian. Tetapi ingat saudara, seperti buah anggur 
yang tidak akan pernah menjadi minuman anggur kecuali digencet, diperas, 
seperti tanah liat yang akan pernah menjadi keramik yang indah tanpa dibentuk 
dan dibakar, demikian juga tanpa kesulitan karakter kita tidak akan pernah 
berkembang menjadi serupa dengan Kristus. Secara jujur kita tidak suka keluar 
dari comfort zone kita dan kita lebih suka kalau Tuhan berfungsi sebagai jin 
botol yang selalu memenuhi semua permintaan kita. Kesaksian pengemis. Dengan 
jujur saya mengaku kadang-kadang saya hanya mengejar berkat-Nya saja tanpa 
perduli pada Pribadi yang memberikan berkat tsb. Kadang-kadang kita berlaku 
seperti anak kecil yang menunggu ortunya pulang dari luar kota, di mana yang 
ditunggu oleh anak itu adalah hadiah yang kita bawa tanpa perduli pada diri 
kita sendiri. Itulah yang kadang kita lakukan, kita mendekati Tuhan untuk 
mendapatkan sesuatu dari-Nya dan kita tidak mendekati-Nya karena Diri-Nya 
sendiri.

• Kadang-kadang penderitaan diperlukan untuk menegur kita. Penderitaan adalah 
salah satu sarana yang dipakai Tuhan ketika kita menulikan hati dan pikiran 
kita terhadap teguran Tuhan. Ketika jalan kita melenceng dan kita menutup hati 
kita terhadap panggilan Tuhan, kadang Tuhan memakai penderitaan untuk memanggil 
kita pulang. Ketika James Baker ditangkap karena penyelewengan dan penipuan 
sehingga masuk penjara, maka semua teman-temannya meninggalkan dia bahkan juga 
istrinya. Ketika Billy Graham ditanya komentarnya akan James Baker, dia hanya 
mengucapkan sebuah kalimat singkat: memang dia pantas masuk penjara. Selama 
satu tahun lebih Billy Graham diam tidak berkomentar lebih lanjut. Satu tahun 
kemudian saat James Baker sedang mengepel lantai, seorang sipir memanggilnya 
dan mengatakan: ada seorang pengunjung. Jawabnya, aku tidak mau ketemu 
siapa-siapa. ‘apa kamu yakin? Orang ini berbeda’ akhirnya dengan malas-malasan 
sambil membanting pelnya dia keluar
ke ruang tamu. Ternyata pengunjungnya adalah Billy Graham; tanpa berkata 
sepatah katapun Billy Graham memeluk erat James Baker dan mereka berdua 
menangis. Momen itulah adalah momen pertobatan sejati seorang James Baker, dan 
dari dalam penjara ia menulis sebuah buku: I was wrong, saya menyesal. Saudara, 
melalui penderitaan, Tuhan menyelamatkan James Baker. 

• Melalui penderitaan, nama Tuhan dimuliakan.
Mungkin saudara bertanya, apa hubungan penderitaan dan kemuliaan Tuhan.
Kesaksian penginjil di India. Berhenti sampai kematiannya.
Saudara reaksi si anak sangat wajar dan manusiawi. Bagaimana mungkin Tuhan 
membiarkan hamba-Nya mati mengenaskan sedemikian rupa? Dia adalah orang yang 
taat yang bahkan meninggalkan kehidupan duniawinya yang nyaman di Amerika untuk 
menjadi misionaris. Lanjutan cerita. 
Mengapa Tuhan seakan diam, tak perduli pada penderitaanku?
Saudara, pernahkah saudara mengalami sebuah penderitaan yang begitu besar, 
pernahkah hati saudara disakiti demikian hebat sampai air mata habis tercurah? 
Di manakah Tuhan saat itu? Ada dua hal yang ingin saya sampaikan kepada saudara:

• Matius 25: 40 mengatakan: ‘Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata 
kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang 
dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.’ Tuhan 
Yesus menyatakan bahwa Ia tetap hadir dalam penderitaan yang kita alami. Itulah 
sebabnya ketika Yesus menampakkan diri pada Saulus, Ia tidak berkata: Saulus, 
Saulus mengapa engkau menganiaya umat-Ku? Yesus berkata: Saulus, mengapa engkau 
menganiaya Aku? Perkataan yang sama diulangi ketika Saulus bertanya: siapakah 
Engkau Tuhan? Yesus menjawab: ‘Akulah Yesus yang engkau aniaya’. Saudara, Yesus 
tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan selamanya. Dalam setiap pergumulan 
dan jerit tangis kita, Dia ada di situ. Darah yang dicurahkan-Nya di bukit 
Golgota masih tetap tercurah bagi saudara dan saya. Penderitaan yang 
ditanggung-Nya di Kayu Salib masih tetap menyertai kita. Seorang teolog yang 
bernama R.C Sproul berkata:
tidak pernah ada manusia yang diminta Tuhan untuk menderita lebih berat 
daripada penderitaan yang Ia timpakan kepada anak tunggal-Nya sendiri. Teolog 
lain, John Piper menulis bahwa penderitaan Yesus adalah unik karena kedalaman 
dan ketuntasan penderitaan-Nya. Yesus melewati setiap pencobaan dan penderitaan 
di mana penderitaan itu datang dari waktu ke waktu dengan intensitas kekuatan 
yang semakin dahsyat sampai akhirnya datang dengan kekuatan yang maksimal. 
Penderitaan Yesus terus bertambah karena Dia tidak pernah menyerah. Jika saja 
Ia menyerah maka penderitaan dan cobaan itu tidak akan pernah mencapai tingkat 
yang tertinggi. Inilah perbedaan Yesus dengan kita karena tidak ada seorangpun 
yang pernah bertahan terhadap siksaan seperti yang diterima-Nya di Kayu Salib 
dan keluar sebagai pemenang.

• Ketika kita menderita, ketika kita disakiti orang lain, marilah kita 
mengingat bahwa sebenarnya kita melakukan hal yang sama bahkan lebih berat 
kepada Yesus, setiap kali kita melakukan dosa. Apa maksudnya? kira-kira satu 
tahun yang lalu saya pernah difitnah oleh sorang saudara seiman. Dengan kejam 
tak berperasaan dia memfitnah saya dan keluarga saya. Ketika saya klarifikasi, 
semua yang dituduhkan terbukti fitnah belaka, tapi dia tidak mau mengaku salah 
secara gentelman ‘face to face’ melainkan hanya mengirim SMS yang isinya minta 
maaf kalau perkataannya menyingung saya. Kata-kata ini luar biasa saudara, 
artinya apa? Artinya jika saya tersinggung karena kata-katanya, ya sorry, tapi 
dia sendiri tidak merasa bersalah. Wah...wah saudara berhari-hari hati saya mau 
meledak, saya marah-marah, rasanya ingin balas, belum balas belum puas. Kalo 
mau balas gampang sekali karena istri saya tahu banyak rahasia-rahasia 
kemunafikan dia. Sampai beberapa lama kemudian Tuhan tegur saya melalui kotbah 
seorang pendeta yang mengatakan bahwa jika kita ingin tahu betapa sakitnya hati 
Yesus, ingatlah sebuah peristiwa yang paling menyakitkan dalam hidupmu, kalikan 
10 kali, itulah rasanya hati Yesus yang kita sakiti melalui perbuatan kita yang 
berdosa. Dari penderitaan itu, Tuhan mengajar saya untuk mengampuni dan 
menyatakan bahwa saya tidak sendiri dalam penderitaan dan melaluinya saya 
belajar memperdalam pengenalan pribadi akan Tuhan.
Apapun penderitaan yang saudara alami saat ini, ingatlah bahwa Yesus hadir dan 
perduli, Ia ikut merasakan dan menyertai penderitaan anak-anak-Nya. Serahkanlah 
semua penderitaan saudara dengan penyerahan diri secara total dan biarkan Tuhan 
bekerja karena Tuhan kita adalah Tuhan yang perduli dan mengerti. Memang jalan 
Tuhan yang tak terbatas sering kali tidak kita pahami dengan otak kita yang 
terbatas. Seperti James Baker yang ketika di penjara merasa semua pintu telah 
tertutup baginya, ternyata Tuhan membuka sebuah jendela baginya. Saudara, hari 
natal sudah menjelang, mari kita review kehidupan kita. Jika saat ini kita 
sedang menghadapi penderitaan dan kesulitan, mari kita renungkan apakah 
penderitaan kita timbul dari pencobaan iblis atau ujian dari Tuhan. Bila 
penderitaan itu timbul dari pencobaan, cepat-cepat bertobat saat ini juga dan 
Tuhan pasti mengampuni apapun dosamu. Bila kesulitan timbul dari ujian, 
bertekunlah dalam ujian itu karena ketekunanmu akan menghasilkan buahnya pada 
waktunya. “Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan 
ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya 
kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun”. (Yakobus 1 : 
3-4).

Grace by grace,
Hendra, 101207
Bibliografi:
Yohan Candawasa, Menapaki Hari Bersama Tuhan & Dukaku Tempat Kudus-Mu 
Yakub Susabda, Membawa Damai, Menjunjung Gelar
Tafsiran Alkitab Masa Kini 3, YKBK
Merrill C. Tenney, Survey Perjanjian Baru
Wahyu Pramudya (ed), Tribute to Dr. Jenny Wongka: Berjalan Bersama Tuhan
James M. Boice, Sure, I Believe, So What?
==============================================
From: Albert August Dewantoro 

SEBUAH KISAH DI HARI THANKSGIVING
(Sebuah pengalaman hidup)

Saat itu adalah hari sebelum Thanksgiving - anak ketiga baru lahir dan saya 
akan merayakan hari Thanksgiving tanpa ayah mereka yang meninggal beberapa 
bulan sebelumnya. Sekarang dua kakaknya sakit parah karena flu, dimana yang 
tertua harus istirahat di tempat tidur selama satu minggu. 

Hari sangat dingin, cuaca di luar kelabu, dan hujan gerimis turun. Saya sangat 
letih karena sibuk merawat anak-anak: memeriksa panas tubuh, memberikan merka 
jus dan mengganti pempers. Sementara itu susu untuk mereka juga mulai habis. 
Ketika saya memeriksa dompet, hanya tersisa 2,5 dollar - dan itu satu-satunya 
yang saya miliki sampai akhir bulan nanti. Saat sedang kebingungan, telpon 
berbunyi. 

Telpon itu dari sekretaris gereja. Dia berkata bahwa mereka sangat prihatin 
dengan musibah yang saya hadapi dan ada bantuan dari gereja untuk saya. Saya 
berkata bahwa saya akan pergi membeli susu dan sup untuk anak-anak, dan akan 
mampir ke gereja dalam perjalanan ke supermarket. 

Saya sampai di gereja sebelum makan siang. Ibu sekretaris telah menunggu 
saya di pintu gereja dan mengulurkan sebuah amplop. "Kami selalu memikirkan ibu 
dan anak-anak," dia meneruskan, "Ibu selalu ada dalam hati dan doa kami. Kami 
mengasihi ibu." Saat saya membuka amplop, di dalamnya ada dua voucer belanja 
dari gereja, masing-masing senilai dua puluh dollar. Saya sangat terharu, dan 
mulai menangis tersedu-sedu. 

"Terima kasih banyak," saya berkata sambil memeluk ibu sekretaris. "Tolong 
sampaikan terima kasih kami kepada semua jemaat." Saya segera memacu mobil 
ke toko dekat rumah dan membeli semua kebutuhan untuk merawat anak-anak. 

Di kasir, barang-barang dihitung seharga 14 dollar, dan saya memberikan satu 
voucer belanja dari gereja kepada wanita yang bertugas. Setelah menerima voucer 
itu, dia membalikkan badannya cukup lama. Saya berpikir mungkin ada yang salah 
dengan voucer itu. 

Akhirnya dia berkata, "Voucer belanja dari gereja ini benar-benar merupakan 
sebuah anugerah. Saya juga pernah menerimanya dari gereja, ketika saya menjadi 
orang tua tunggal dan harus memenuhi semua kebutuhan keluarga seorang diri." 

Wanita petugas di kasir itu berbalik, dan terlihat air mata mengalir di 
matanya, dan meneruskan, "Sayang, ini baik sekali. Apakah kamu punya ayam 
kalkun?"

"Tidak bu. Tapi tidak apa-apa, karena anak-anak saya sedang sakit flu parah."

Dia bertanya lagi, "Apakah kamu punya makanan atau kue-kue untuk merayakan 
Thanksgiving? "

Saya menjawab, "Tidak bu."

Setelah memberikan uang kembalian dari voucer yang saya berikan, dia memandang 
wajah saya, "Sayang, saya tidak bisa memberitahumu sekarang ini. Tetapi saya 
ingin kamu kembali lagi ke toko untuk membeli ayam kalkun, saus kranberi, pai 
labu atau apa saja yang kamu inginkan untuk merayakan Thanksgiving. "

Saya terkejut dan mata mulai sembab. "Apa ibu bersungguh-sungguh? " saya 
bertanya. 

"Tentu saja sayang ! Ambillah apa yang kamu inginkan. Dan beli juga permen dan 
minuman ringan untuk anak-anak."

Saya merasa canggung saat harus kembali masuk lagi untuk berbelanja. Saya 
memilih sebuah ayam kalkun yang segar, kentang dan kue-kue, serta minuman 
untuk anak-anak. Kemudian saya mendorong kereta belanja ke kasir yang sama. 
Saat saya meletakkan barang-barang di kasir, wanita penjaga itu memandang saya 
sekali lagi dengan air mata yang mengalir dan mulai bercerita.

"Sekarang saya akan menceritakan sesuatu. Pagi ini saya berdoa supaya hari 
ini saya bisa menolong seseorang, dan sekarang kamu berdiri di depan saya." Dia 
mengambil dompetnya dan mengambil bon senilai 20 dollar. Dia membayar semua 
barang-barang itu dan masih memberikan uang kembaliannya pada saya. Sekali lagi 
air mata haru mengalir di pipi saya. 

Wanita penjaga kasir yang baik itu kemudian berkata, "Saya orang Kristen. 
Ini nomer telpon saya yang bisa dihubungi jika kamu membutuhkan bantuan apa 
pun." Dia mencium pipi saya dan berkata, "Tuhan memberkatimu, sayang."

Ketika berjalan ke mobil, saya sangat bersyukur karena kasih orang asing itu. 
Saya menyadari bahwa itu semua adalah cinta Tuhan kepada keluarga saya, yang 
dinyatakan melalui wanita penjaga kasir dan ibu sekretaris gereja.. 

Walaupun masih menderita flu, anak-anak merayakan Thanksgiving penuh sukacita. 
Keadaan mereka semakin membaik, dan kami semua menikmati semua makanan yang 
merupakan hadiah yang diberikan oleh Tuhan - dan kasih dari orang-orang di 
sekitar kami. Hati kami benar-benar penuh dengan ucapan syukur. 
------------ --------- --------- --------- -
(Oleh Andrea Nannette Mejia) 

* * * * * 
"Freely ye have received, freely give - Kamu telah memperolehnya dengan 
cuma-cuma, karena itu berikanlah dengan cuma-cuma" 

Kirim email ke