From: Suzianty Herawati
KEGIATAN DAN PENGERTIAN YANG BENAR Pdt. Dr. Stephen Tong
Renungan ini ditranskrip dan diedit kembali dari khotbah seri Surat Roma
oleh Pdt. Dr. Stephen Tong di Gereja Reformed Injili Indonesia di Jakarta.
Roma 10:1-6
Mengapa orang kafir yang tidak mencari justru diberikan, tetapi orang
Israel yang mencari tidak memperoleh. Bukankah hal ini berlainan dengan yang
dikatakan oleh Kristus, barangsiapa yang minta akan diberikan; yang mencari
akan mendapat; yang mengetuk pintu akan dibukakan baginya (Mat. 7:7). Bukankah
yang mencari, meminta dan mengetuk pintu adalah orang Yahudi? Alkitab
mengatakan, mereka mencari, tetapi tidak mendapatkan, suatu paradoks yang sulit
kita mengerti (Rm. 9:30-32). Tetapi yang penting bagi orang yang mencari adalah
cara dan pengertian yang sejati, yang ditetapkan dalam prinsip firman dan jalan
yang Tuhan nyatakan, bukan pada berapa menggebu-gebu, berapa hangat, berapa
sungguh-sungguh api yang ada padanya untuk mencari. Demikian juga banyak orang
yang sudah beragama, yang baru meraba-raba, baru mengena pada bagian kulitnya
saja, tetapi mereka merasa sudah cukup, sudah menemukan. Akhirnya, mereka terus
bertumbuh atas fondasi yang tidak beres. Ini merupakan suatu peringatan yang
penting bagi kita.
Orang Israel meskipun memiliki Taurat tetapi tetap tidak mendapat.
Sebab Taurat yang diberikan Tuhan kemudian diteliti dan dikupas oleh orang
Yahudi melalui para rabbi telah menjadi perintah yang makin lama makin
membebani orang beragama, dan akhirnya Taurat itu diuraikan menjadi 613
dalil-dalil yang harus dipatuhi (248 perintah, 365 larangan). Kalau tidak bisa
menjalankan semua itu, maka tidak ada keselamatan; kalau tidak melunasi semua
tuntutan Taurat, mereka tidak akan berkenan kepada Tuhan. Tetapi pada waktu
orang bertanya kepada Yesus Kristus, oh, Tuhan Yesus perintah manakah yang
paling utama? Pertanyaan ini untuk mencobai Tuhan Yesus sekaligus mereka sadar
untuk mengikuti semuanya itu begitu sulit, untuk menjalankan Taurat dan
perintah-perintah yang begitu rumit, kompleks dan begitu banyak serta tidak
mudah. Yesus Kristus mengatakan, perintah yang terbesar adalah kasihilah Tuhan
dengan sekuat tenaga, sebulat hati, seluruh pikiranmu dan budimu, dan yang
kedua, yang sepadan dengan itu adalah kasihilah sesamamu manusia (Mat.
22:37-42). Inilah kali pertama, wahyu ditujukan pada satu fokus, untuk
membereskan segala ketidakberesan dalam sistem Yahudi yang bergantung pada
Tauratisme.
Pada waktu orang Yahudi dan rabi-rabi mereka telah memaparkan segala
kerumitan dan kesulitan, mereka telah kehilangan fondasi dan prinsip yang
terpenting. Betapa banyaknya peraturan-peraturan yang membuat manusia benci.
Peraturan-peraturan itu bahkan mungkin menggoda manusia untuk melawannya.
Semakin banyak peraturan, semakin membuat manusia berani melawan. Yesus Kristus
menyimpulkan peraturan, perintah hanya dua, yaitu: kasihilah Tuhan Tuhanmu dan
kasihilah sesamamu manusia. Ini melampaui semua peraturan. Ini merupakan
prinsip yang mendasari semua prinsip, merupakan hukum di atas segala hukum, dan
merupakan hukum yang menjadi dasar bagi semua hukum.
Orang berdosa cenderung melawan hukum. Lao Tze, pada 2.600 tahun yang
lalu, seorang yang lebih dahulu dari Kong Hu Cu sudah pernah mengatakan bahwa,
semakin ketat suatu hukum, semakin berani manusia melawannya. Semakin banyak
peraturan, semakin banyak menyatakan kesalahan. Jangan mengira, kalau kita
memerintah bawahan kita dengan banyak peraturan, maka mereka akan merasa takut
dan menjadi yang paling baik. Tetapi justru paksaan untuk mematuhi perintah dan
peraturan yang ketat membuat orang merasa hidup tidak berarti, dan akhirnya
mereka menjadi orang yang berani melawan dan mencari alasan untuk melawan
peraturan. Ketika hukum negara ditetapkan, apakah itu berarti manusia yang
sudah mengerti hukum tidak akan melawan hukum? Tidak, justru terbalik, orang
yang berani melawan hukum adalah orang yang paling tahu seluk beluk hukum.
Orang yang paling mengerti hukum akan mencari jalan untuk melawan hukum lalu
membela diri supaya setelah mereka berdosa, mereka tidak perlu dihukum. Itulah
yang disebut ahli hukum. Ahli hukum adalah ahli-ahli yang mengetahui
seluk-beluk hukum lalu berbuat dosa dan melanggar hukum, kemudian mencari
alasan untuk menutupi segala kesalahan, sehingga setelah mereka berbuat dosa,
mereka tidak perlu dihukum. Tempat yang paling tidak adil, adalah tempat yang
memasang palang pengadilan. Tempat yang paling tidak adil adalah tempat di mana
para ahli menegakkan keadilan, tetapi mereka sendiri tidak menjalankan keadilan
tersebut.
Orang cenderung sombong dengan hukum. Orang Israel menuntut dan
mencari, tetapi mereka tidak mendapatkan. Bukankah ini merupakan satu ironis,
satu singgungan, satu pukulan yang berat bagi seluruh bangsa dan satu hal yang
mempermalukan kebudayaan mereka yang sudah ribuan tahun itu? Tafsiran yang
kurang jelas dan penyelewengan yang terus menerus sampai zaman Rabbi Hilel,
bahkan sampai zaman Yesus, menyebabkan orang Israel tidak memperoleh
keselamatan yang dijanjikan oleh Tuhan. Mereka hanya memperoleh suatu
kemungkinan untuk mengetahui berapa banyak Taurat, hukum, peraturan, yang
membuat mereka bisa membanggakan diri: "kami adalah bangsa yang berhukum
Taurat, kamu bangsa yang tidak mengerti apa-apa. Kamu bangsa yang masih barbar,
kamu seperti anjing adanya." Orang Israel menjadi sombong, congkak, egosentris,
mereka menjadi penghina segala bangsa dalam dunia internasional. Kalau
demikian, apakah Tuhan akan berkata, inilah bangsa yang paling mengerti
Taurat-Ku, bangsa yang paling sempurna? Tidak, Tuhan berkata, mereka mencari,
tetapi mereka tidak memperoleh. Mengapa demikian? Karena ada satu kunci yang
tidak mereka ketahui, yaitu batu yang menjadi sandungan itu telah Tuhan
letakkan di Sion. Batu ini akan menjadi batu karang bagi bangunan yang berada
di atasnya, tetapi batu ini juga akan menjadi batu yang menyandung semua orang
yang tidak berjalan menurut perintah dan prinsip Tuhan.
Kasih menjadi dasar pembuatan hukum. Jika kita membuat
peraturan-peraturan apapun hanya bermotivasikan untuk mengikat, membatasi orang
lain, untuk menyatakan diri kita mempunyai hak yang istimewa dan otoritas yang
tinggi, maka motivasi itu adalah motivasi yang sangat berlawanan dengan
kehendak Tuhan Tuhan. Kita membuat peraturan seharusnya kembali pada satu hal
yang mendasar: saya membuat peraturan ini demi cinta kepada mereka yang diatur.
Jikalau seseorang tidak mempunyai cinta kasih kepada yang dipimpinnya, maka
tidak tidak berhak menjadi pemimpinnya. Ini prinsip Alkitab. Tuhan memerintah
dunia, karena Dia mengasihi dunia. Tuhan kasih, maka Dia memerintah. Kita yang
menjadi boss, kepala sekolah, ketua, atau pimpinan, jika kita tidak mencintai
mereka yang kita pimpin, bagaimana kita bisa memimpin? Kita perlu kembali
kepada ajaran Alkitab, yang mengatakan karena Tuhan itu kasih adanya, maka Dia
memberikan peraturan. Peraturan-peraturan berdasarkan atas kasih, peraturan
menjalankan kasih, esensi yang terpenting di dalam peraturan adalah kasih.
Kesimpulan dari segala Taurat adalah cinta kasih. Bukan saja motivasinya
demikian, tujuannya juga melalui cinta kasih melindungi, membimbing, membangun,
dan menguatkan orang yang dipimpin. Itu seharusnya membawa manusia kepada hidup
yang kekal.
Musa mengatakan satu kalimat yang penting sekali di dalam Kitab Imamat,
jika kau menjalankan ini, engkau mendapatkan hidup. Justru kalimat itulah yang
membuat kesalahpahaman orang Yahudi. Mereka mengira, kalau mereka akan
memperoleh hidup yang kekal. Sebenarnya bukanlah demikian. Sebab Tuhan
memberikan Taurat bukan supaya orang dapat melunaskan semuanya, juga bukan
supaya orang melanggarnya. Watchman Nee dalam bukunya "Dua Belas Bakul"
memberikan satu konsep yang salah. Watchman Nee berkata, Tuhan menciptakan
manusia justru supaya manusia melanggar, supaya manusia berdosa. Seolah-olah
motivasi Tuhan adalah menginginkan manusia berdosa. Ini adalah satu hal yang
terlalu berani memakai istilah atau terlalu berani mengutarakan konsep yang
tidak beres. Sebenarnya Tuhan tidak memberikan Taurat supaya manusia berbuat
dosa, juga tidak memberikan Taurat supaya manusia bisa menjalankan semuanya dan
menjadi sempurna. Tuhan memberikan Taurat, memang seperti yang dituliskan dalam
Imamat 18:5, kau menjalankan ini, supaya memperoleh hidup. Tetapi ketika
manusia mau betul-betul, sungguh-sungguh menjalankan, barulah dia insyaf, bahwa
hal ini tidak mungkin dilakukan. Coba jalankan! Pada waktu kau menjalankan
barulah kau tahu tidak mungkin. Kalau tidak mungkin, tetapi tetap disuruh
menjalankan, lalu bagaimana? Akhirnya berkata, Tuhan, memang seharusnya aku
menjalankan, tetapi tidak mungkin. Cara yang terakhir adalah kembali kepada
Tuhan: Tuhan, mengapa Kau menyuruh aku menjalan sesuatu yang tidak mungkin
dapat aku jalankan? Tuhan, mengapa Kau menyuruh aku menjalankan sesuatu yang
tidak mungkin dapat aku jalankan? Tuhan, mengapa Kau menyuruh aku mematahui
sesuatu yang tidak mungkin aku patuhi? Tuhan, kalau memang hal itu tidak
mungkin aku jalankan, Kau tetap menyuruh aku menjalankannya? Kadang-kadang kita
mengemban tugas yang jauh dari kemampuan kita untuk menjalankan, kadang-kadang
kita mengemban satu mandat yang tidak mungkin dapat kita laksanakan, pada saat
itu, barulah kita tahu, bahwa sasaran terakhir dan tujuan yang mungkin dicapai
adalah merendahkan diri dan kembali kepada Dia yang memberikan mandat. Inilah
Taurat.
Segala perintah yang dari Tuhan di dalam Perjanjian Lama adalah
memberikan pengajaran terakhir, supaya orang yang mau menjalankan, mau
melaksanakan. Waktu dia menjalankan di sini tertutup, di sana tertutup, barulah
kemudian mengetahui, itu tidak mungkin; itu impossible. Jadi Taurat diberikan
bukan supaya manusia melanggar, juga bukan supaya mereka bisa menggenapinya.
Taurat diberikan supaya manusia mengetahui betapa terbatas dirinya, betapa
lemah dirinya, betapa tidak mampu dirinya, betapa dia berada di dalam limitasi.
Pada saat manusia masih belum pernah mengenal limitasi, dia selalu
mempermainkan diri dan berperan seperti Tuhan. Pada saat manusia mulai sadar
bahwa dirinya adalah manusia yang terbatas, dia tidak bisa, maka untuk pertama
kalinya dia sadar bahwa dirinya hanyalah manusia yang dicipta menurut peta dan
teladan Tuhan. Dalam hal ini, diperlukan satu keseimbangan antara kedua hal
yang kutub: yang pertama, berjuang, yang kedua, mengenali diri. Manusia yang
tidak mempunyai kekuatan untuk berjuang tidak mirip manusia, tetapi mirip
binatang. Karena binatang tidak mau berjuang. Sedangkan manusia yang berjuang
dan tidak mengenal limitasi, sampai dia mengira dirinya adalah Tuhan Tuhan,
adalah bahaya. Betapa banyak pemuda yang tadinya lancar, akhirnya jatuh total,
seumur hidup tidak bisa naik lagi, karena dia hanya berjuang, hanya mempunyai
imajinasi dan kekuatan yang luar biasa, tanpa mengenal dirinya hanyalah
manusia. Sambil kita berjuang, sambil menahan diri, sambil mengetahui saya
mempunyai keterbatasan, batasan di mana saya tidak bisa melampaui; hanya Tuhan
yang tidak terbatas.
Dari sini kita dapat simpulkan bahwa Taurat diberikan berdasarkan
kasih. Tujuan Taurat adalah supaya manusia mengenal akan limitasi. Kalau kedua
hal ini sudah jelas, akhirnya kau akan kembali kepada Tuhan dan berkata, Tuhan,
maafkan aku tidak bisa menjalankan. Waktu aku mau menjalankan, baru aku tahu,
bahwa itu tidak mungkin saya jalankan. Waktu aku mau mengerjakan, baru aku tahu
lebih dari kemampuanku untuk mengerjakan, waktu aku mau taat, baru aku tahu,
aku tidak mempunyai kekuatan untuk taat. Oh, Tuhan, aku kembali kepada-Mu dan
mengakui, bahwa diriku hanyalah manusia yang terbatas. Disitulah kau mulai
menemukan prinsip.
Setelah beribu-ribu tahun orang Yahudi mempunyai Taurat, mereka tidak
menyadari akan hal seperti ini, mereka tidak menyadari apakah motivasi Tuhan
memberikan Taurat, juga tidak menyadari bahwa motivasi itu menuju pada satu
tujuan sebenarnya yang bagaimana, mereka tidak mengetahui maksud Tuhan. Maksud
sedalam-dalamnya dari isi hati Tuhan yang selalu disalah mengerti oleh manusia
mengakibatkan kebudayaan menuju pada kebuntuan. Kalimat-kalimat terakhir dari
kesaksian Pdt. Jonathan Chao berbunyi, apa yang kurang di dalam kebudayaan? Apa
yang kurang di dalam zaman modern, apa yang kurang dalam humanisme yang paling
modern di abad ke-XX ini? Itulah pointnya. Pada waktu manusia sampai satu titik
dan mengenal diri hanyalah manusia yang terbatas, maka dia akan menuju ke mana?
Tetap memperilah diri atau kembali kepada Tuhan yang sejati? Waktu kau kembali
kepada Tuhan yang sejati, di situlah kau menemukan hidup baru, arah baru,
pengharapan baru, dan hari depan yang baru. Boleh saya katakan, bahwa kita
sudah berada pada 5 tahun terakhir dari abad XX, sekarang manusia belum mau
kembali pada Tuhan, manusia masih percaya bahwa aku mempunyai kekuatan, kalau
tidak bisa jadi di bidang ini ya bidang lain. Dan 20 tahun terakhir dari abad
XX ini, ekonomi seluruh dunia adalah permainan uang yang tidak berdasar. Banyak
orang yang mempunyai uang, uang itu adalah hasil dia mempermainkan manusia,
banyak orang mempunyai uang, uang itu bukan hasil menggali kembali sumber alam;
kekayaan yang Tuhan berikan kepada dunia, melainkan permainan uang, orang,
mempermainkan dan mempermainkan, ini akan collapse. Ekonomi abad XX sudah
berada di luar dasar ekonomi yang kuat. Karena apa? Karena ekonomi yang
sesungguhnya kuat itu mempunyai dua prinsip yang penting, pertama, produksi
yang didasarkan atas suatu kesolidan dan kekuatan yang sungguh-sungguh
berbobot, yang didasarkan atas sumber alam. Kedua, memberikan distribusi yang
rata dan dikelola dengan baik untuk menfaedahkan manusia. Sekarang kedua
prinsip ini sudah hilang. Kita melihat keadaan ekonomi sekarang ini, negara
yang disebut ekonominya paling kuat adalah Jepang, sebenarnya merupakan ekonomi
yang betul-betul sudah meledak, sudah tidak ada dasarnya lagi. Yen terus naik,
kau kira Jepang kaya? Berpuluh-puluh tahun lagi, orang Jepang harus bekerja 200
tahun tidak bisa membeli sebuah rumah yang cukup enak. Itu bukan ekonomi. Itu
akan merusak seluruh bangsa, orang Jepang yang sudah lulus universitas nantinya
harus bekerja 100, 200 tahun, uang yang mereka miliki bahkan tidak cukup untuk
membeli sebuah WC bagi dirinya sendiri. Ekonomi yang seperti ini adalah ekonomi
yang tidak berdasar. Jangan menghina negara Indonesia, negara kita, secara
sistem ekonomi modern sepertinya mau hancur, dan sekarang berada dalam keadaan
yang berbahaya sekali. Tetapi negara kita masih mempunyai sumber alam yang
menjadi dasar ekonomi yang Tuhan berikan. Pada suatu hari nanti, pada waktu
kesulitan tiba, orang Indonesia masih bisa hidup, mereka tidak akan mati.
Karena masih banyak pisang, apel, buah-buahan, tumbuh-tumbuhan, tanah. Ini
merupakan pikiran yang berbeda dengan mereka yang tergila-gila dengan ekonomi
modern. Maafkan saya, karena saya memberikan sesuatu yang berlainan. Sebab saya
tidak bisa menjadi orang yang menurut zaman, dunia, sistem dan semua
pengetahuan. Saya adalah hamba Tuhan yang harus membangun zaman di mana saya
berada. Kita harus minta Tuhan memberikan pengertian kepada kita, dan semakin
menyadari keterbatasan diri, semakin kita merasa dan menginsyafi bahwa saya
memerlukan Tuhan. Mengapa orang Israel mempunyai Taurat, tetapi gagal? Bukankah
Taurat itu menjadikan mereka bangsa yang paling bersifat agama, bangsa yang
menerima wahyu khusus dari Tuhan, bangsa yang paling hebat dalam mengerti akan
isi hati Tuhan, justru bangsa itu menjadi bangsa yang paling tidak mengerti isi
hati Tuhan. Dari mana kita tahu hal itu? Pada waktu Yesus diberikan kepada
mereka, bukan orang kafir yang membenci Dia, tetapi merekalah yang memakukan
Dia di atas kayu salib. Sebab itu, Alkitab mengatakan, mereka mencari tetapi
tidak mendapatkan, mereka menuntut tapi akhirnya gagal, kosong. Orang yang
betul-betul paling kaya adalah orang yang mungkin kantongnya betul-betul tidak
mempunyai banyak uang, tetapi hidupnya mempunyai kemerdekaan, dia mengerti
kebenaran, dan mempunyai kekuatan untuk menghadapi situasi yang sulit. Tetapi
orang-orang yang betul-betul miskin mungkin adalah mereka yang mempunyai banyak
uang, tetapi tidak pernah merasa puas dan terus menerus menggunakan cara yang
tidak habis-habisnya untuk mengisi kekosongan diri, karena dia terlalu miskin.
Paradoks. Tuhan berkata, mereka menuntut tetapi tidak mendapatkan, tetapi orang
kafir yang tidak menuntut malah mendapatkan. Ini dikarenakan orang Israel
menuntut tetapi tidak melalui prinsip. Sekali lagi saya terpaksa harus
mengulangi prinsip itu, orang benar akan hidup melalui iman. A righteousness
will live by faith; dengan apakah kita mendapatkan hidup? Dengan menjalankan
segala Taurat? Tidak, melainkan beriman kepada Tuhan. Iman merupakan satu
jendela, yang membukan keterbatasan kita kepada ketidakterbatasan Tuhan Tuhan.
Iman merupakan satu jendela yang menyambut cahaya dari atas ke dalam kegelapan
kamar kita. Iman merupakan satu pandangan, yang boleh menembus pada pandangan
yang paling jauh melalui teleskop rohani. Iman adalah menyadari bahwa
keterbatasan itu perlu, untuk dikoreksi dan diisi oleh yang tidak terbatas itu.
Iman membuka, mengaitkan, dan mengkoneksikan kita dengan Tuhan yang terbatas
dengan jendela dan cahaya dari sana, dengan pengertian.
Pada waktu orang Yahudi membuat Taurat menjadi suatu close-system, pada
waktu mereka terus berada di dalam Taurat dan menganggapnya sebagai
self-sufficient; kecukupan diri di dalam sistem Taurat. Sebenarnya mereka terus
berkeliling di padang belantara, tidak pernah tembus, tidak pernah mencapai
tempat yang dijanjikan Tuhan. Demikian juga orang Kristen, kalau kau tidak
menemukan prinsip Alkitab, kau akan terus berkeliling di dalam kerutinanmu.
Tahun 1974, saya berkhotbah di sebuah gereja di Singapura. Ketika saya
berkhotbah sampai separuh, saya melihat seorang yang tidak mendengar seluruh
khotbah, hanya terus menghitung berapa banyak jumlah orang yang hadir. Kalau
saya sedang berkhotbah di sana, tetapi majelisnya tidak mau mendengar khotbah,
bagaimana? Saya berkata kepada dia, "Silakan duduk dan jangan menghitung-hitung
orang lagi, ini adalah kebaktian, saudara perlu firman Tuhan, sebab itu, setiap
kalimat harus didengar dengan baik, kalau tidak, kau tidak akan pernah maju."
Ketika saya mengatakan kalimat ini, dia jengkel luar biasa. Tetapi orang lain
senang sekali. Karena menurut mereka, orang tersebut memang sudah 30 tahun
hanya begitu-begitu saja. Jadi, dia menganggap diri paling baik, melayani
gereja, setia menghitung jumlah orang yang hadir, tetapi sebenarnya, mati dalam
kerutinan dan tidak maju-maju, mati oleh close-system yang dibuat sendiri.
Banyak orang Kristen merasa bangga, saya paling rajin ke gereja, setiap minggu
saya hadir dan selalu duduk di baris ke 4, kursi ke 5. Kalau diabsen, saya
pasti yang paling setia. Tetapi dia duduk disana, hanya mengantuk, tertidur
atau melihat kanan kiri. Lalu datang kebaktian bukan untuk mencari Tuhan,
melainkan mencari pedagang besar, untuk coba lihat kalau-kalau ada bisnis yang
bisa dia peroleh. Di dalam gereja sering ada orang-orang yang datang kebaktian
hanya mau mencari pedagang besar, tetapi tidak mau datang kebaktian doa, juga
tidak ada kemajuan dalam bidang lain. Tetapi harus diingat bahwa Tuhan akan
menyeleksi mereka yang tidak beres. Biarlah kita datang kepada Tuhan dan mau
maju. Jangan membiasakan diri di dalam kerutinan-kerutinan, dan berkata saya
beribadah kepada Tuhan, saya cinta Tuhan, tetapi sebenarnya tidak maju. Orang
Israel berjalan di padang belantara selama 40 tahun dan mengalami banyak
kesusahan, tetapi apakah Tuhan berkata, kamu memang setia? Tidak. Tuhan
mengatakan, nenek moyangmu mencobai Aku di padang belantara selama 40 tahun.
Itu adalah kalimat kesimpulan.
Mereka menjalankan Taurat, menjalankan ibadah, mereka berpuasa, seperti
orang Farisi yang berkata, ya Tuhan, aku tidak lebih jelek, bahkan lebih baik
dari semua, khususnya pemungut cukai ini. Setiap minggu aku berpuasa dua kali,
aku memberikan perpuluhan, aku tidak berzinah, aku tidak menipu uang orang, ya
Tuhan! Yesus berkata, dia berkata-kata kepada dirinya sendiri. Tuhan tidak
mendengar doanya. Orang Israel itu mencari dan mempunyai Taurat, mempunyai
hidup yang beribadah, tetapi ibadah yang mengikat mereka di dalam kerutinan
yang mematikan, tidak memberikan jalan untuk beriman kepada Tuhan. Padahal
orang benar hanya hidup oleh iman, bukan oleh jasa atau kehebatan diri.
Children of Light - Serving with LOVE through FAITH Apapun juga yang kamu
perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk
manusia Kol 3:23 Karena bagiku hidup adalah Kristus & mati adalah keuntungan
Fil 1:21