From: [EMAIL PROTECTED] 

 

THE GOLDEN COMPASS

Beberapa bulan sebelum ditayangkan perdana di layar lebar, film The Golden 
Compass telah mendatangkan kontroversi pro-kontra, dari yang bilang sangat 
bagus dan setuju banget sampai yang melarang anak-anak menonton bahkan 
memboikot film itu. Ada organisasi Katolik yang semula mengacungkan jempolnya 
menghargai film itu namun kemudian manarik kembali dukungannya. Pasalnya, film 
The Golden Compass yang ditayangkan secara perdana di USA pada tanggal 7 
Desember 2007 itu sebenarnya bukunya sudah terbit pada tahun 1995 oleh penulis 
Philip Pullman dan isinya memang sarat promosi atheisme dan anti gereja yang 
secara jujur diakui oleh penulisnya. Di Indonesia film ini ditayangkan perdana 
dalam midnight show pada hari Sabtu, 29 Desember 2007 setelah sebelumnya DVD 
tidak resmi film itu sudah beredar luas di kios-kios DVD di tanah air.

Philip Pullman terkenal dengan triloginya yang disebut His Dark Materials yang 
sarat misteri dan sihir. Yang pertama dari trilogi itu berjudul Northern Light 
(1995) yang bercerita tentang dunia paralel seperti dunia ini tetapi berbeda, 
kedua The Subtle Knife yang bercerita tentang dunia ini, dan yang ketiga The 
Amber Spyglasses yang bercerita tentang antar dunia. Northern Light kemudian 
dikemas baru oleh penulisnya dengan tambahan 16 halaman buku dan diberi nama 
The Golden Compass (2006) dan kemudian diangkat ke layar lebar (2007). Cuma, 
untuk lebih memasyarakat, beberapa isu kontroversial yang ekplisit dalam 
novelnya, dalam filmnya isu-isu itu dikaburkan atau diberi nama berbeda. Namun 
serial ke dua dan ketiga lebih kasar dalam menyatakan sikap anti agama Pullman, 
bahkan Chris Weitz, sutradara film itu, menyatakan akan lebih jujur dalam 
mengekspos naskah asli novelnya yang kedua dan ketiga yang rencananya mulai 
dirilis pada tahun 2009.

Ceritanya dimulai dengan kehadiran seorang gadis yatim-piatu yang tinggal di 
Oxford, Inggeris, bernama Lyra Belacqua. Oxford di sini tidak seperti Oxford 
yang dikenal karena Lyra menyadari dunianya berbeda dimana setiap orang 
memiliki daemon pribadi (dalam bentuk binatang yang menggambarkan bentuk luar 
jiwa yang berubah-ubah bentuk sampai mencapai kedewasaan). Ia berteman dengan 
pelayan dapur Roger, dimana bersamanya ia bermain-main di kota itu. Cerita 
berubah ketika Lyra dan daemonnya bernama Pantalaimon menghalangi pembunuhan 
terhadap pamannya Lord Asriel dan ikut mendengar rahasia tentang sesuatu yang 
misterius bernama Dust. Sejak itulah banyak anak menghilang ditangan Gobblers 
tanpa diketahui hilang kemana.

Sebelum Lyra mencari Roger, ia dikenalkan dengan Nyonya Coulthier seorang 
penyihir cantik. Ia diajak berekspedisi ke kutub utara. Sebelum berangkat, 
kepala sekolahnya memberikan kepada Lyra sebuah aletheometer (kompas emas) 
sebuah alat yang mempu mengungkap kebenaran semua hal. Dibawah bimbingan Nyonya 
Coulthier, ia belajar mengenai peran Ny. Coulthier dalam gereja, yang disebut 
'Gobler' yang bertanggung jawah akan hilangnya anak-anak. Anak-anak yang 
diculik ternyata dibawa ke Bolvanger suatu tempat di kutub utara untuk 
dijadikan percobaan oleh Dust dimana mereka dipisahkan dari daemon mereka 
melalui proses intercission. Lyra juga mengetahui bahwa gereja juga menculik 
dan menawan Lord Asriel ke wilayah Arctic di Bolvanger yang menjalankan ujicoba 
sendiri untuk kepentingan Dust.

Ngeri melihat hal-hal itu, Lyra dan Pantalaimonnya melarikan diri dari rumah 
Ny. Coulthier dibantu dua orang gipti yang baik. Orang-orang gipti hidup 
sebagai manusia perahu yang hidup dalam kesukaran namun mereka mengajarkan arti 
kekeluargaan, kesetiaan dan cinta. Orang-orang gipti ini berkepentingan karena 
anak-anak mereka banyak yang diculik Gobbler, dan Lyra dengan pengetahuannya 
membantu para gipti membebaskan tawanan di utara itu dan kemudian ia menjumpai 
ayahnya yang terpenjara. Melalui penuturan tetua gipti ia kaget mengetahui 
bahwa ternyata ayahnya adalah Lord Asriel dan Ny. Coulthier sebenarnya adalah 
ibunya sendiri. Dibalik rasa kagetnya, Lyra membaca alethiometer dan menyadari 
apa pesannya. Sekalipun althiometer mengungkapkan kebenaran disekelilingnya, 
Lyra tidak sadar mengenai perannya dalam nasib alam semesta. Lyra dinubuatkan 
akan berperan besar untuk memerankan penghianatan tak terhindarkan yang akan 
menentukan masa depan dunia-dunia.

Agar berhasil menyelamatkan anak-anak, orang-orang gipti mengajak tiga orang 
untuk membantu, yaitu Serafina Pekhala, ratu sihir yang mengungkapkan bahwa 
masa depan semesta berada di tangan Lyra, Lee Scoresby, aeronaut dan komandan 
balon udara panas, dan Ioreck Byrnisson, beruang kutub berbaju baja yang 
sebagai raja kelompoknya dibuang oleh saudaranya. Dalam perjalan ke kutub utara 
itu Lyra dan Pantalaimonnya diculik oleh para pemburu yang membawa mereka ke 
Bolvangar tempat dimana anak-anak yang diculik ditawan. Akhirnya Lyra bertemu 
dengan Roger, namun ia menyaksikan kengerian melihat uji-coba pemisahan 
anak-anak dari daemon mereka. Bersama-sama anak-anak itu kemudian melarikan 
diri dari kengerian Bolvangar, melarikan diri dalam lindungan para gipti dan 
ketiga kawan mereka. Sekalipun mereka telah selamat, perjalanan Lyra dan Roger 
belum selesai (disinilah The Golden Compass berakhir). 

Pada bagian kedua triloginya, Lyra menemukan ayahnya yang melakukan uji-coba 
bersama Dust yang menemukan cara menembus batas penghalang ke dunia lain. 
Mereka telah membangun jembatan ke dunia lain, tetapi untuk melalui jembatan 
itu dibutuhkan energi yang dihasilkan pemisahan anak dari daemonnya melalui 
proses intercission. Tidak mampu mengorbankan anaknya sendiri, Lord Asriel 
mengorban kan Roger dan menghilang ke dunia lain. Dunia dihancurkan dan Roger 
mati, tetapi Lyra bersumpah untuk membalas dendam dan membongkar kejahatan Dust.

Kandungan atheisme dan anti gereja dalam novel ini bisa dilihat dari 
penggambaran tentang gereja yang dianggap si jahat dan tentang kematian Tuhan 
dimana surga akan diperintah oleh Republik Surgawi yang tidak memerlukan raja. 
Pullman mengatakan kepada surat kabar Australia bahwa memang "Bukunya itu 
tentang membunuh Tuhan" dan ia juga mengaku bahwa "Saya mencoba menggoyahkan 
dasar agama Kristen."  Secara ekplisit trilogi Pullman menceritakan a.l. Dr. 
Mary Malone yang mantan biarawati yang mengaku bahwa "Tidak ada Tuhan" dan ia 
meninggalkan iman Kristen karena "Agama Kristen adalah kesalahan yang 
meyakinkan dan berkuasa". 

Dalam trilogi ini juga Lyra menjumpai bahwa Ayahnya Lord Asriel membuka front 
perang melawan Tuhan, dan ia bertemu anak laki-laki bernama Billy yang memiliki 
pisau yang bisa memotong segala sesuatu termasuk batas penghalang antar 
semesta. Pisau itu memiliki nama nubuatan Aeshaeter yang berarti 'pemusnah 
Tuhan.'  Pada akhir trilogi digambarkan bahwa Tuhan mati, dan Will dan Lyra 
memerankan kembali kejatuhan manusia kedalam dosa di taman Eden, tetapi dengan 
berbuat demikian, mereka menyelamatkan dunia daripada menghancurkan dunia 
dengan dosa. Bila Alkitab menceritakan bahwa manusia telah jatuh dalam dosa dan 
membutuhkan penebusan Yesus agar selamat, maka trilogi Pullman menyebutkan 
bahwa Lyra dan Will akan mengubah kutuk dosa menjadi berkat dan membenarkan 
sikap Adam dan Hawa yang makan dari pohon pengetahuan.

Dalam trilogi Pullman, Tuhan Alkitab bukanlah pribadi pencipta langit dan bumi, 
namun sekedar malaekat pertama yang timbul dari yang disebutnya Dust, dan 
ketika malaekat-malaekat lain timbul, ia berbohong dengan mengatakan ialah yang 
menciptakan mereka. Ia kemudian mendirikan gereja-gereja di setiap semesta 
sebagai alatnya untuk berkuasa. Namun, malaekat ini yang disebut 'Sang 
Otoritas' makin menua dan lemah dan menghadapi pemberontakan para malaekat dan 
manusia. Sekalipun Wertz sudah mengganti istilah gereja dalam novel dengan 
Magisterium, justru kata pengganti ini lebih khusus tertuju kepada gereja 
Katolik Roma yang memang disebut demikian.

Dust dalam trilogi ini menggambarkan Dust sebagai debu/partikel kesadaran yang 
sumbernya berasal dari dunia lain dan membentuk malaekat dan roh/jiwa manusia. 
Dalam serial terakhir, roh orang mati akan dibebaskan dari kehidupan sesudah 
mati, partikel-partikelnya akan terurai dan melebur kembali ke sumbernya di 
alam semesta. Jelas tema film ini berbau mistik dan New Age, karena dalam 
konsep mistik/new age dan juga gnostik, keselamatan adalah meleburnya roh 
manusia kembali kepada sumbernya alam semesta sama halnya dengan daging manusia 
yang kembali kepada debu ketika mati.

Film The Golden Compass memang menarik karena menggunakan tehnik sinematografi 
mutakhir dan menghadirkan bintang-bintang tenar seperti Nicole Kidman yang 
mantan isteri Tom Cruise, dan Daniel Craig pemeran James Bond terakhir, tetapi 
yang lebih dikuatirkan orang tua adalah bahwa berbeda dengan semangat anti 
katolik novel 'The Da Vinci Code' yang merupakan bacaan orang dewasa, novel 
'The Golden Compass' yang juga anti katolik memang ditujukan untuk konsumsi 
anak-anak , anak-anak yang pada umumnya masih terbuka dan belum dibekali 
pengertian masalah baik dan buruk dan mana yang bermanfaat dan tidak, dan 
sekalipun filmnya sudah di'halus'kan tayangan atheismenya, anak-anak setelah 
nonton film demikian biasanya tertarik untuk membaca novelnya.

Melarang anak-anak menonton film dan membaca buku-buku Pullman tidaklah 
bijaksana karena larangan justru mendorong orang ingin tahu dan melihatnya, 
namun sebaliknya membiarkan anak-anak menonton dan membacanya juga tidak 
bijaksana karena kita menyerahkan anak-anak kepada sesuatu ajaran yang kita 
tahu bisa memperngaruhi iman mereka. Cara terbaik adalah memberikan bimbingan 
dan pengertian kepada anak-anak mengenai iman Kristen dan mengungkapkan 
bagaimana novel dan film ini bercerita sebaliknya, dengan sikap demikian kita 
dapat berusaha dan mendoakan agar anak-anak dan kita juga 'dijauhkan dari yang 
jahat.' 

Amin !

Salam kasih dari Herlianto www.yabina.org 

P.S. Pada tanggal 26 Januari akan diselenggarakan ceramah-powerpoint tentang 
'The Golden Compass and His Dark Materials' di GII Plaza Semanggi lt.12, jam 
18.00.
.
 ================================================
From: james widodo 

'From Alcatraz to White House'
(Genesis 37; 39-41, The Story of Joseph)

Suatu hari seorang pelatih sepak bola dengan sangat marah berkata, 'kalah tiga 
kali berturut-turut sudah cukup buruk, tetapi yang paling buruk adalah kita 
membuat kesalahan yang sama berulang kali. Ternyata kita tidak belajar dari 
kesalahan kita'. Seseorang pernah berkata bahwa ada tiga jenis manusia di dunia 
yaitu 
pertama: manusia yang bodoh, yang tidak pernah mau belajar dari kesalahan yang 
pernah dibuatnya; 
kedua: manusia biasa, yang mau dan mampu belajar dari kesalahannya; dan 
ketiga: manusia pandai yaitu manusia yang mau dan mampu belajar dari kesalahan 
orang lain sehingga tidak melakukan kesalahan yang pernah dilakukan orang lain. 
Saya katakan 'mau dan mampu' karena kemauan tanpa kemampuan atau kemampuan tanpa
kemauan adalah sia-sia. 

Salah satu tantangan terbesar bagi orang kristen adalah keluar dari comfort 
zone dan menjadikan pengalaman pahit, menyakitkan, dan penuh air mata sebagai 
guru kehidupan. Sikap yang paling mudah dilakukan ketika kesulitan dan 
penderitaan menimpa kita adalah mencari kambing hitam dan menyalahkan orang 
lain. Sikap yang benar tapi sulit dilakukan adalah melakukan evaluasi secara 
objektif dan menggunakan rasa kecewa, sakit hati, perasaan gagal menjadi sarana 
untuk mengetahui kesalahan dan kekurangan kita. Di mana lagi tempat terbaik, 
guru terbaik untuk mempelajari kehidupan jika bukan berguru kepada Sang 
Pencipta kehidupan itu sendiri?. Sarana
yang disediakan Tuhan adalah melalui Alkitab yang merupakan Wahyu Khusus yang 
diberikan Tuhan khusus hanya kepada orang kristen. Malam ini kita belajar 
kebenaran Firman Tuhan melalui jatuh bangun kehidupan seorang Yusuf. Bagaimana 
Tuhan memproses hidup Yusuf melalui keadaan-keadaan yang luar biasa sulit untuk 
mengatasi tantangan hidup. Saat ini marilah kita bersama-sama mohon belas 
kasihan dan kekuatan dari Tuhan agar kita dapat memetik pelajaran-pelajaran 
penting dari hidup Yusuf. Mari kita berdoa.

Latar belakang keluarga Yusuf (Kej. 37)
Yakub mempunyai 4 orang istri dimana dua di antaranya adalah kakak beradik 
yaitu Lea dan Rahel. Dua orang lainnya adalah Zilpa dan Bilha, yang adalah 
pembantu
Lea dan Rahel yang diberikan mereka kepada Yakub untuk dijadikan istrinya. 
. Proses hidup Yusuf sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kita yaitu dimulai 
dari kesalahan demi kesalahan. Bagaimana bisa? Ada tiga ciri kurang baik yang 
kental dalam keluarga besar Yakub, yaitu 
1. kebiasaan menggunakan dusta untuk menyelesaikan masalah (ingat bagaimana 
Yakub 'mencuri' hak kesulungan Esau?);
 2. menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan (bagaimana Lea dan Rahel 
bersaing memperebutkan cinta Yakub sampai rela memberikan budaknya kepada Yakub 
untuk di nikahi); 
3. Favoritisme (Yakub lebih cinta kepada Rahel dan Yusuf) 

Dari mana datangnya kebencian dan iri hati?
Yakub mempunyai 12 orang anak dari istri-istrinya dan Yusuf adalah anak 
kesayangannya, yang ironisnya justru dibenci oleh saudara-saudaranya. Apa 
sebabnya?
Ayat 2: Yusuf suka melaporkan kejahatan (taf: kemalasan) saudaranya. 
Ayat 3-4: Kita lihat kesalahan pertama dilakukan oleh Yakub sebagai seorang 
ayah adalah mengasihi Yusuf lebih dari saudara-saudaranya dan memberikan jubah 
maha indah hanya kepada Yusuf. Sebuah tafsiran mengatakan bahwa jubah itu 
adalah simbol pengakuan hak anak sulung kepada Yusuf (anak sulung Yakub adalah 
Ruben). 
Ayat 5 &8: Yusuf menceritakan dua kali mimpinya kepada saudara-saudaranya bahwa 
mereka akan menyembah Yusuf. 
Ayat 11: Sebagai orang tua dan pemimpin Yakub gagal untuk bertindak adil 
terhadap keluarganya. Akibatnya timbul perpecahan dalam keluarga dimana saudara 
yang
lain benci kepada Yusuf. 
. Ayat 13-14: Yakub menyuruh Yusuf untuk mencari tahu kabar saudara-saudaranya 
yang menggembalakan domba di dekat Sikhem (~100km dari Hebron). Artinya mereka
semua kerja, Yusuf tidak. Hal inilah yang menjadi pencetus ide bagi saudaranya 
untuk membunuh Yusuf tapi atas intervensi Tuhan akhirnya Yusuf hanya dijual ke 
saudagar Midian yang kemudian menjual Yusuf pada Potifar di Mesir sebagai 
budak. Saudara, proses hidup Yusuf "baru" saja dimulai.

Proses hidup Yusuf (Kej. 39-41)
. Ayat 2-5; 22-23 menyatakan bahwa Tuhan menyertai Yusuf dalam setiap perkara. 
Hal ini juga disadari Potifar sehingga ia meng-kuasakan segala miliknya kepada 
Yusuf dan Tuhan memberkati rumah Potifar karena Yusuf. Bagaimana mungkin semua 
yang dikerjakan Yusuf berhasil jika hal itu tidak sesuai dengan kehendak 
Tuhan?. Artinya Yusuf telah berubah dari seorang yang mengandalkan diri dan 
ayahnya menjadi seorang yang mengandalkan Tuhan.
. Ayat 6-12 mengatakan bahwa Yusuf manis sikapnya.
Inilah transformasi karakter seorang anak manja, tidak tahu kerja menjadi 
seorang yang manis sikapnya dan berkomitmen tinggi. Sebagai seorang manusia 
dapat dikatakan bahwa hidup Yusuf telah berhasil, sukses besar. Seorang budak 
menjadi kuasa semua harta majikannya. Secara manusia kita mengatakan bahwa 
proses hidup Yusuf telah selesai. Saudara kata yang tepat adalah SATU proses 
hidup telah selesai dan Tuhan
kembali memproses Yusuf lebih lanjut. Pada suatu hari Yusuf difitnah oleh 
istrinya Potifar karena menolak untuk berzinah dengan-nya sehingga Yusuf 
dijebloskan
ke penjara. 
Ayat 7 menulis 'ia memandang Yusuf dengan birahi'. Sesungguhnya istri Potifar 
bukan sosok asing dalam dunia modern bukan? Sebuah survey terhadap 60.000 
wanita Amerika oleh sebuah majalah beberapa tahun yang lalu mengungkapkan: 47% 
menyetujui seks pra-nikah dan 27% menyetujui perselingkuhan. Ini survey mungkin 
sudah 10 tahun yang lalu dan khusus wanita. Bisa kita bayangkan hasilnya jika 
survey itu dilakukan hari ini dengan responden pria. Saudara, dalam kasus Yusuf 
kita melihat pemeliharaan Tuhan nyata karena pada jaman itu kesalahan yang 
dituduhkan kepada seorang budak seperti Yusuf pasti mendatangkan hukuman mati. 
Atas anugerah Tuhan, Yusuf hanya dipenjara dan kembali Yusuf menjadi kesayangan 
kepala penjara. Inilah proses hidup Yusuf yang kedua. 
. Kej 40-41 menyatakan di dalam penjara Yusuf menolong mengartikan arti mimpi 
juru minuman raja Mesir dan kemudian meminta tolong kepadanya untuk menceritakan
persoalannya kepada firaun untuk mendapatkan keadilan.
Saudara, ternyata Yusuf dilupakan oleh sang juru minuman sampai 2 tahun. 
Setelah lewat dua tahun, firaun bermimpi dimana tidak ada seorang manusiapun 
yang mampu meng-artikannya. Barulah sang juru minuman ingat kepada Yusuf dan 
menceritakannya kepada firaun yang segera memanggil Yusuf keluar dari penjara.
Kemudian dengan tepat Yusuf meng-artikan mimpi firaun dan semua yang dikatakan 
Yusuf tepat terjadi di Mesir. Pasal 41:38-39 menyatakan bahwa firaun mengetahui
bahwa Yusuf penuh dengan Roh Tuhan sehingga ia menjadikan Yusuf sebagai kuasa 
di Mesir (perdana menteri). 

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari proses hidup Yusuf?
. Tiga ciri jelek keluarga Yakub di atas yang harus kita hindari dan sebenarnya 
poligami sudah dilarang Tuhan dalam kej 2:18. 
. Sebenarnya apa sih maksud Tuhan dengan hidup Yusuf?
Jawabannya ada pada ps 45: untuk memelihara kehidupan, untuk menjamin 
kelanjutan keturunan bangsa Israel.
Dalam rangka 'tugas suci' inilah Yusuf disiapkan menjadi pemimpin, bukan 
sembarang pemimpin tapi seorang pemimpin yang berjiwa hamba, seorang pemimpin 
yang melayani bukan menuntut untuk dilayani. Berapa banyak pemimpin yang kita 
temui hari ini, termasuk pemimpin di gereja yang sangat berbeda dengan Yusuf 
bukan?. Tahukah saudara bahwa Mahatma Gandi setiap hari selalu membaca 
Alkitab?. Suatu hari dia mengambil keputusan untuk menjadi orang kristen. Dalam 
perjalanan ke gereja naik trem dia mendapat perlakuan rasialis dari seorang 
kulit putih. Hal itu mengecewakan hatinya sehingga dia batal menjadi kristen. 
Seorang misionaris pernah bertanya kepadanya: 'bagaimana caranya agar rakyat 
India menerima Kristus.
Jawabnya: jika kalian orang kristen berlaku seperti Yesus berlaku. Saya jamin 
semua rakyat India akan menjadi orang kristen'. 
Yusuf dengan sabar dan sadar MAU memberi dirinya untuk diproses oleh Tuhan 
secara berkesinambungan dan bertahap-progresif. Pada tahap pertama Yusuf di 
jual oleh saudaranya sebagian karena "kesalahan" Yusuf sendiri, yaitu sikap 
sombong dan kemalasannya. Pada proses tahap kedua, di rumah Potifar, Yusuf 
tidak melakukan kesalahan apapun melainkan difitnah. Pada proses tahap 
berikutnya dengan juru minuman raja, bukan saja Yusuf tidak bersalah, melainkan 
Yusuf melakukan kebaikan dengan menolong sang juru minuman, tetapi Yusuf 
dilupakan oleh juru minuman. Di sini kita belajar bahwa seorang yang tidak 
bersalah bahkan melakukan kebaikan juga tidak lepas dari kesulitan dan 
penderitaan hidup. Jadi jika ada orang yang sakit atau
mengalami penderitaan, jangan kita dengan gampang mengatakan: dia berdosa 
sehingga di hukum Tuhan.
. Tuhan memilih Yusuf bukan karena 'kebaikan diri' 
Yusuf melainkan hanya semata-mata anugerah. Pada waktu proses Yusuf dimulai, ia 
hanyalah seorang anak berusia 17 tahun kesayangan 'babe Yakub' yang sombong dan
naif. Dalam beberapa atau banyak segi Yusuf banyak kesamaan dengan kita bukan?. 
Yusuf mau hidup diproses Tuhan selangkah demi selangkah seperti sebuah 
kupu-kupu indah yang berasal dari ulat kepompong yang bentuknya aneh dan agak 
menjijikkan.
. Yusuf setia kepada Tuhan. Di tengah-tengah bangsa kafir, Yusuf tetap kokoh 
memegang kepercayaannya kepada Tuhan.

Kesimpulan:
1. Proses Tuhan terjadi untuk kebaikan kita seumur hidup kita. Jika kita 
menghadapi tantangan, itu berarti Tuhan sayang kepada kita karena berarti Tuhan 
masih memproses kita. Proses Yusuf dijual sampai menjadi penguasa Mesir terjadi 
selama kurun waktu 13 tahun dan kita lihat bahwa proses Tuhan masih berlanjut 
kepada Yusuf sampai ia mati. Abraham Lincoln adalah sebuah contoh klasik. Ia 
gagal dalam dua bisnisnya, mengalami gangguan syaraf, ditinggal mati 
kekasihnya, kalah dalam pemilihan untuk kedudukan dalam pemerintahan kira-kira 
10 kali dalam kurun waktu 30 tahun, barulah ia terpilih sebagai presiden. 
Ketidak-adilan yang bertubi-tubi, kegagalan, penyakit
dan tragedi pribadi tidak mengalahkan Lincoln, tetapi malah menguatkan karakter 
dan komitmennya. Hal yang sama terjadi pada Yusuf. 

2. Hidup berserah kepada Tuhan adalah kunci keberhasilan seseorang. Untuk dapat 
berserah total, kita mau tidak mau harus mengalami proses demi proses seperti 
emas yang dimurnikan. Tuhan menginginkan kita menjadi emas yang murni bukan 
'gold plated'. Adakah yang tahu caranya memurnikan emas? Beberapa tahun yang 
lalu saya pernah melihat teman saya memurnikan emas dengan cara membakar emas 
batangan dengan sebuah alat seperti las sampai mencair. Nah setelah cairan emas 
itu menjadi mengkilap sampai kita dapat bercermin padanya, artinya emas itu 
telah murni. Jadi pembakaran tersebut dimaksudkan untuk membuang unsur-unsur 
logam lain yang bukan emas. Dalam kehidupan, Tuhan ingin "membakar" 
kelemahan-kelemahan kita untuk merubah karakter kita semakin mirip dengan-Nya. 
Tentu saja proses pembakaran itu rasanya menyakitkan karena kita ditarik keluar 
dari kenyamanan hidup kita dan proses itu adalah proses seumur hidup kita.

Renungan malam ini saya tutup dengan sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh 
Charles Spurgeon tentang seorang anak berusia 7 tahun bernama Richard. Suatu
hari ayahnya mengajaknya pergi ke luar kota. Pada saat mereka sampai di luar 
pintu gerbang kota yang dituju, ayahnya menyuruh Richard untuk menunggu karena 
ia
tidak akan lama melakukan urusannya di kota itu.
Ternyata di sana sang ayah bertemu dengan teman-teman lamanya sampai ia lupa 
waktu dan lupa kalau ia meninggalkan Richard di pintu gerbang kota. Ketika 
dengan letih ia bermaksud untuk pulang, sang ayah menerima tawaran seorang 
temannya untuk menumpang kereta kudanya. Hari sudah malam ketika dia sampai di 
rumah, setelah mandi ia memangil anaknya: 'Richard, kemari nak! Ayah akan 
menceritakan pengalaman ayah hari ini'. Ia tidak mendengar jawaban anaknya dan 
dengan terkejut ia baru menyadari bahwa ia meninggalkan anaknya di pintu 
gerbang kota. Saat itu juga ia cepat-cepat kembali ke tempat itu. Ia merasa 
sangat terharu mendapati Richard duduk dengan terkantuk-kantuk di sudut pintu 
gerbang kota. Ia memeluk anaknya dengan penuh rasa bersalah dan kasih dan 
membawanya pulang.
Manusia bisa lupa, bisa melakukan banyak kesalahan.
Bila seorang anak 7 tahun dapat begitu mempercayai ayahnya yang terbatas, yang 
penuh kelemahan, maukah kita meneladani sikapnya untuk tetap setia dan 
mempercayakan hidup kita bukan sekedar pada manusia, tetapi kepada Tuhan yang 
begitu mengasihi kita? Martin Luther pernah berkata bahwa Tuhan tidak pernah 
meminta
maaf bukan karena kesombongan tetapi memang Dia Tuhan yang tidak pernah berbuat 
salah. Mari kita berdoa.

Hendra, 110108

Bibliografi:
1. David Wong, Meninggalkan Kenyamanan Meraih Kemenangan
2. Bill Crowder, Joseph: Overcoming Life's Challenges
3. Jenny Wongka, Berkenan di Hati Tuhan
4. Samin H. Sitohang, Kasus-kasus dalam PL
5. Tafsiran Alkitab Masa Kini 1

Kirim email ke