From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>

Edisi 53 -- Ceritakan pada Dunia Untukku

PENGANTAR

  Ingin diingat seperti apa Anda, oleh orang-orang di sekeliling Anda,
  jika Anda tidak berada di dunia ini lagi? Tentunya sebagai seorang
  yang baik, bukan? Akan tetapi sebagai orang percaya, hal itu saja
  tidaklah cukup. Kita tentu ingin dikenang sebagai orang yang
  memiliki hidup yang beriman kepada-Nya sampai akhir hayat.
  Harapannya, melalui hidup tersebut, kita dapat menjadi terang dan
  menjadi contoh yang baik sehingga iman orang lain dapat bertumbuh
  karena kehidupan kita. Simaklah kisah berikut, bagaimana tokoh di
  dalamnya ingin kita menceritakan kepada dunia tentang iman percayanya. Jangan 
  lupa untuk sejenak berdoa dengan panduan pokok doa di kolom terakhir.

  Pimpinan Redaksi KISAH,
  Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

                     CERITAKAN PADA DUNIA UNTUKKU
                     ============================
  Sekitar empat belas tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para
  mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama
  tentang teologi iman. Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku
  melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai
  sekitar dua puluh sentimeter di bawah bahunya. Penilaian singkatku:
  dia seorang yang aneh -- sangat aneh.

  Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-menerus
  mengajukan keberatan. Dia juga melecehkan tentang kemungkinan Tuhan
  mencintai secara tanpa pamrih. Ketika dia muncul untuk mengikuti
  ujian pada akhir kuliah, dia bertanya dengan agak sinis, "Menurut
  Pastor, apakah saya akan dapat menemukan Tuhan?"

  "Tidak," jawabku dengan sungguh-sungguh.
  "Oh," sahutnya. "Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan
  bagaimana menemukan Tuhan."

  Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu
  kupanggil. "Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya
  yakin Dialah yang akan menemukanmu." Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku 
  merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku.

  Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan aku bersyukur. Namun,
  kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang
  sudah parah. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu
  menemui saya. Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya
  sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena
  pengobatan dengan kemoterapi. Namun, matanya tetap bercahaya dan
  suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas.

  "Tommy! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?" tanyaku langsung.
  "Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya 
   tinggal beberapa minggu lagi."
  "Kamu mau membicarakan itu?"
  "Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?"
  "Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?"

  Jawabnya, "Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur lima puluh
  tahun, namun mengira bahwa minum-minuman keras, bermain perempuan,
  dan memburu harta adalah hal-hal yang 'utama' dalam hidup ini."

  Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku. "Sesuatu yang Pastor
  pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. Saya
  bertanya waktu itu apakah saya akan dapat menemukan Tuhan, dan
  Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya.
  Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya.
  Saya sering memikirkan kata-kata Pastor itu, meskipun pencarian
  Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh."

  "Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal
  paha saya," Tommy melanjutkan, "dan mengatakan bahwa gumpalan itu
  ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Dan ketika tumor ganas
  itu menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar
  menggedor-gedor pintu surga. Tapi tak terjadi apa pun. Lalu, saya
  terbangun pada suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras
  mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu."

  "Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan,
  kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu."

  "Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan
  hal-hal penting," lanjut Tommy. "Saya teringat tentang Pastor dan
  kata-kata Pastor yang lain: "Kesedihan yang paling utama adalah
  menjalani hidup tanpa mencintai." Tapi hampir sama sedihnya,
  meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang kaucintai bahwa kau 
  mencintai mereka. Jadi, saya memulai dengan orang yang tersulit; ayah saya."

  Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya.
  "Pa, aku ingin bicara."
  "Bicara saja."
  "Pa, ini penting sekali."
  Korannya turun perlahan delapan centimeter. "Ada apa?"
  "Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu."

  Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu. "Korannya jatuh ke
  lantai. Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah
  dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol
  semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya."

  "Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah," sambung Tommy. "Mereka
  menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang
  kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya
  harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang
  kematian dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang
  sebenarnya dekat dengan saya."

  "Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ. Ia tidak
  datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut
  kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar.
  Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya."

  "Tommy," aku tersedak. "Menurutku, kata-katamu lebih universal
  daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti
  untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik
  pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan
  membuka diri pada cinta kasih."

  "Tommy," saya menambahkan, "boleh saya minta tolong? Maukah kamu
  datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa
  saya apa yang baru kamu ceritakan?"

  Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Tentu
  saja, karena ia harus berpulang.

  Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang
  jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata manusia atau yang
  pernah dibayangkan. Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali.

  "Saya tak akan mampu hadir di kuliah Bapak," katanya.
  "Saya tahu, Tommy."
  "Maukah Bapak menceritakannya untuk saya? Maukah Bapak
  menceritakannya pada dunia untuk saya?"
  "Ya, Tommy. Saya akan melakukannya."

  (Sebarkan kesaksian ini untuk membantu Pater John menyebarkan cerita
  Tommy pada dunia).

  Nama situs        : Praise Him
  Judul asli artikel: Ceritakan pada Dunia Untukku
  Penulis           : John Powell, S.J.
  Alamat URL        : 
http://www.geocities.com/situskris/s004_ceritakan_pada_dunia_untukku.htm
______________________________________________________________________

   "Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN,
    dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu
          dari antara segala bangsa dan dari segala tempat
    ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN,
      dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana
              Aku telah membuang kamu." (Yeremia 29:14)
           < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Yeremia+29:14 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

  1. Setiap orang memerlukan tujuan dan arti hidup yang benar. Mari
     berdoa agar kita dapat memilikinya sehingga kita dapat memanfaatkan 
anugerah 
     kehidupan yang telah diberikan untuk hal-hal yang berguna.

  2. Doakan setiap orang percaya, khususnya mereka yang meragukan
     cinta kasih Tuhan, minta agar Tuhan memulihkan dan menjamah hati mereka.

  3. Berdoalah agar setiap orang percaya memiliki keberanian untuk
     menyaksikan perbuatan yang sudah Tuhan lakukan bagi kehidupan
     mereka. Doakan pula agar setiap orang yang membaca atau mendengar
     kesaksian tersebut mendapatkan berkat sehingga mereka juga
     terbeban untuk menyebarkan kabar baik tersebut kepada orang lain.
===============================================
From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>

Edisi 54 -- Titanic: DR. Robert Bateman


PENGANTAR

  Pada awal tahun baru kemarin, apakah Anda telah membuat berbagai
  target dan rencana sebagai acuan atas apa yang akan kita lakukan
  tahun ini? Target dan rencana itu bisa saja berupa target lama yang
  belum bisa terlaksana maupun target dan rencana baru. Jika sampai
  saat ini Anda belum membuat target dan rencana sama sekali,
  bergegaslah untuk membuatnya. Dan satu hal yang perlu kita ingat
  sebagai orang percaya, jangan pernah melupakan Tuhan. Libatkanlah
  Dia untuk menyatakan kehendak-Nya melalui rencana yang kita buat,
  supaya kita terus bisa menjadi bagian dari rencana-Nya. Cobalah
  menyimak kisah di bawah ini. Kiranya melaluinya, kita dapat belajar untuk 
memiliki pandangan yang benar akan setiap target dan rencana yang telah kita 
buat.

  Pimpinan Redaksi KISAH,
  Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

                      TITANIC: DR. ROBERT BATEMAN
                      ===========================
  Dr. Robert Bateman dengan lembut membantu saudara iparnya naik ke
  perahu penyelamat. "Jangan takut, Annie. Hal ini adalah ujian bagi
  iman kita. Aku harus tinggal dan menolong yang lain. Kalau kita
  tidak dapat bertemu lagi di bumi ini, kita akan bertemu di surga."
  Bateman menjatuhkan sapu tangannya ketika perahu itu turun menuju air yang 
dingin dan gelap di bawah. "Ikatkan di lehermu, Annie. Kamu akan kedinginan."

  Dr. Bateman kemudian mengumpulkan sekitar lima puluh orang di
  buritan kapal dan berkata kepada mereka untuk bersiap-siap
  menghadapi kematian. Sebelumnya pada hari itu juga, dia telah
  memimpin satu-satunya kebaktian yang ada di kapal yang besar itu, kebaktian 
yang diakhiri dengan himne kesukaannya, "Allahku, lebih dekat kepada-Mu".

  Robert Bateman telah mendirikan Central City Mission di
  Jacksonville, Florida, sebuah mercusuar rohani di kota yang dipenuhi
  pelaut-pelaut yang mabuk. Dia dikenal dengan sebutan "orang yang
  telah memberikan terang kemanusiaan lebih daripada semua orang di
  Jacksonville". Bateman pergi ke Inggris untuk mempelajari pekerjaan sosial 
kristiani dan kembali ke Amerika Serikat untuk mempraktikkan apa yang telah 
dipelajarinya.

  Namun, pada malam hari tanggal 14 April 1912, kapal Bateman menabrak
  bongkahan es. Bateman memimpin orang-orang yang ada bersamanya di
  buritan kapal untuk berdoa Doa Bapa Kami. Saat band menggemakan lagu, 
"Allahku, lebih dekat kepada-Mu," kapal Titanic itu diterjang gelombang besar.
                                 *****

  Ada pepatah mengatakan bahwa untuk membuat Allah tertawa adalah
  dengan mengatakan rencana-rencana kita kepada-Nya! Ketika menerima
  Kristus, kita sedang memasuki petualangan terbesar dalam hidup kita.
  Supaya perjalanan ini berhasil, kita harus menyerahkan diri kita
  sepenuhnya di bawah perintah-Nya, Sang Kapten Kapal. Dia mengatur
  hidup kita sesuai kehendak-Nya, mengarahkan semua keinginan dan
  keluhan kita untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Ada saat-saat,
  bahkan pada saat yang paling buruk, di mana peta-Nya tampak terlalu
  tua dan kita menduga-duga jika kita telah kehilangan arah. Batu-batu
  tajam tiba-tiba muncul dari kedalaman yang tak terduga. Malam-malam
  tanpa bulan membungkus kita dalam kegelapan. Kita menjadi tergoda
  untuk mengambil alih kontrol atas rencana hidup kita. Perjalanan ini
  adalah perjalanan iman, untung-untung kalau ada hasilnya. Rencana
  Allah bagi hidup kita membawa kita ke arah yang kita sendiri tidak
  akan memilih. Namun, Dia tahu apa yang terbaik.
                                *****

  Diambil dan diedit seperlunya dari:
  Judul buku   : Devosi Total
  Judul asli   : Extreme Devotion
  Judul artikel: Titanic: DR. Robert Bateman
  Penulis      : The Voice of The Martyrs
  Penerbit     : KDP, Surabaya 2005
  Halaman      : 19
______________________________________________________________________

                "Banyaklah rancangan di hati manusia,
             tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." (Amsal 19:21)
              < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Amsal+19:21 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

  1. Doakan setiap orang percaya supaya memiliki kerinduan untuk
     mengenal Allah dengan benar, serta sungguh-sungguh percaya dan
     berserah kepada Allah, Sang Pemberi Hidup.

  2. Rancangan Tuhan adalah yang terbaik bagi hidup kita dan pasti
     digenapi dalam kehidupan kita. Berdoalah agar setiap orang
     percaya hidup dalam terang firman-Nya dan tidak sedikit pun
     meragukan janji yang telah Allah nyatakan bagi mereka.

  3. Menyerahkan kehidupan kita kepada Tuhan Yesus, Sang Nakhoda,
     berarti kita membiarkan hidup kita dipimpin oleh-Nya. Doakan agar
     setiap orang percaya berani mengambil tindakan tersebut dan
     berani memercayai Yesus sebagai Kapten dalam kehidupan mereka.
______________________________________________________________________

       Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
             Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                        Copyright(c)2008 YLSA
                YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
                      http://katalog.sabda.org/
                    Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                 No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________

Pimpinan Redaksi: Pipin Kuntami
Staf Redaksi    : Novita Yuniarti
Kontak          : < kisah(at)sabda.org >
Berlangganan    : < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Berhenti        : < unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Arsip KISAH     : http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL     : http://kekal.sabda.org/

Kirim email ke