From: Jeffrey Lim
Dosa besar memanipulasikan kebenaran
Renungan dari Hakim-hakim 17 dan 18
Jeffrey Lim
Mikha ini mempunyai kuil. Dibuatnyalah efod dan terafim,
ditahbiskannya salah seorang anaknya laki-laki yang menjadi imamnya. Pada zaman
itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar
menurut pandangannya sendiri. ( Hak 17:5-6 )
! Lalu kata Mikha kepadanya "TinggTuhan padaku dan jadilah bapak
dan imam bagiku; maka setiap tahun aku akan memberikan kepadamu sepuluh uang
perak, sepasang pakaian serta makananmu" ( Hak 17:10)
Tetapi jawab mereka kepadanya "Diamlah, tutup mulut, ikutlah kami
dan jadilah bapak dan imam kami. Apakah yang lebih baik bagimu : menjadi imam
untuk seisi rumah satu orang atau menjadi imam untuk suatu suku dan kaum
diantara Israel ? Maka gembiralah hati imam itu, diambilmyalah efod, terafim
dan patung pahatan itu, lalu masuk ke tengah-tengah orang banyak ( Hak 18:19-20
)
Kalau kita merenungkan cerita mengenai Hakim-hakim 17 dan 18, kita
bisa memilah cerita ini dan melihat alur, karakter dan latar belakang. Latar
belakangnya adalah Di dalam peristiwa jaman Hakim-hakim, Alkitab mencatat bahwa
setiap orag berbuat apa yang "benar" menurut pandangannya sendiri. Standard
kebenaran menjadi kabur dan setiap orang berpandangan bahwa pandangannyalah
kebenaran. Apakah standard kebenaran ? Yaitu diri. Ini adalah semangat
anthroposentris dan semangat mau melawan Tuhan. Seperti ada pepatah homo
mensura = man is the measure of all things maka manusia menilai segala sesuatu
menurut pandangannya sendiri. Di jaman hakim-hakim ini semua kebenaran menjadi
relatif karena otoritas kebenaran tidak ditegakkan. Tidak ada raja adalah salah
satu tema kitab hakim-hakim. Fungsi raja di dalam Perjanjian Lama bagi orang
Israel adalah untuk menegakkan keadilan dan kebenaran Tuhan. Ketika tidak ada
kuasa dan bijaksana yang mengatur kehidupan manusia maka semuanya menjadi kacau.
Kemudian kita bisa melihat karakter-karakter yang ada dan bisa
mempelajari pelajaran rohani dari setiap karakter.
I. Dari Mikha
Mikha mempunyai karakter yang menjijikkan. Dia hendak memanipulasikan kebenaran
dengan cara menjadikan anaknya imam bahkan menjadikan satu orang Lewi menjadi
imam.
Mengapa karakter Mikha begitu rusak ? Kelihatannya sepertinya perbuatan yang
dilakukan adalah rohani. Dia seakan-akan mementingkan hal-hal rohani dan
melakukan hal-hal rohani. Tetapi sesungguhnya yang dilakukan adalah motivasinya
tidak beres.
Pelajaran 1 : Hal-hal rohani belum tentu rohani
Fenomena hal-hal yang kelihatannya rohani belum tentu rohani. Sebab
motivasi adalah penting. Motivasi untuk memuliakan nama Tuhan adalah penting.
Dan kedua yaitu prinsip untuk melakukan hal rohani juga penting.
Mikha dalam hal ini tidak motivasinya tidak beres yaitu ingin
memperoleh keuntungan dari kegiatan keagamaan. Begitu banyak orang yang
kelihatannya rohani dan ke gereja tetapi sebenarnya mau memanipulasikan Tuhan
dan kebenaran demi kepentingan dan egoisme pribadi. Orang seperti ini
menjijikkan di mata Tuhan. Orang seperti ini berjubah rohani tetapi hatinya
jahat. Orang ini lebih jahat daripada orang jahat karena orang jahat luarnya
kelihatan jahat tetapi orang ini luarnya kelihatan baik tetapi dalamnya jahat.
Motivasinya kelihatan di dalam ayat 13 : "Lalu kata Mikha : "Sekarang tahulah
aku, bahwa Tuhan akan berbuat baik kepadaku, karena ada seorang Lewi menjadi
imamku". Motivasi dia melakukan adalah memanipulasi Tuhan dengan menggunakan
imam. Ini adalah motivasi dari agama dan bukan motivasi dari iman Kristen.
Motivasi ini antroposentris dan jahat.
Pelajaran 2 : Melakukan hal rohani harus dengan prinsip rohani
Kemudian Mikha juga tidak melakukan hal rohani dengan prinsip yang
benar. Yang memilih seseorang menjadi imam untuk melayani Tuhan adalah Tuhan
sendiri dan Tuhan sudah menetapkan orang Lewi untuk menjadi imam. Tetapi Mikha
menetapkan anaknya sendiri menjadi imam. Ini prinsip yang sudah dia langgar.
Mikha juga mendirikan kuil. Dia membuat efod dan terafim. Dia melakukan ini
tetapi sebenarnya dia tidak mempunyai hak dan otoritas dari Tuhan Tuhan untuk
melakukan hal ini. Selain dari itu Mikha juga tidak ada hak dan kuasa untuk
memilih seorang Lewi untuk menjadi imam. Bahkan dikatakan imamku ( ay 13 )
Siapakah dia ? dan apakah hak dia ? Dia sudah mengambil posisi otoritas seperti
Tuhan. Apakah imam adalah milik dia ?
Seringkali banyak orang hendak melakukan hal "rohani" tetapi dia
tidak belajar dari Firman Tuhan bahwa segala sesuatu harus dilakukan menurut
prinsip kebenaran. Melakukan hal "rohani" tanpa belajar akan mengakibatkan
kesesatan. Kesesatan itu karena tidak mau belajar Firman dan tidak mau taat
kepada Firman. Di dalam hal ini dosa yang ada adalah : Sombong, Tidak mau
belajar, Tidak taat dan ceroboh dalam hal rohani. Sebenarnya membuktikan bahwa
orang yang melakukan tidak takut kepada Tuhan.
Pelajaran 3 : Memanipulasikan hamba Tuhan
Mikha dalam hal ini juga sudah memanipulasikan hamba Tuhan. Dia
mempunyai uang dan kuasa dan dia mau menguasai hamba Tuhan. Di dalam realita
hidup bergerejawi betapa banyak orang yang berkuasa dan beruang yang mau
menguasai gereja. Yang celaka bila mereka tidak berprinsip dan egois. Ini
adalah pengacau-pengacau gereja dan kebenaran. Orang yang berkuasa dan beruang
harus takluk kepada kebenaran. Orang yang berkuasa dan beruang harus rendah
hati dan mengerti posisi mereka. Mereka hanya seseorang yang dipercayakan
mempunyai materi dan kuasa. Tetapi mereka tidak boleh memanipulasikan gereja
dengan tujuan dan ambisi pribadi. Ini adalah dosa besar di dalam rumah Tuhan.
Jangan seperti Mikha yang tidak menghormati hamba Tuhan dan dia tidak
menghormat Tuhan.
II. Ibu Mikha.
Kalau kita merenungkan kisah Mikha, kita mungkin heran mengapa Mikha mempunyai
karakter seperti ini ? Tetapi Alkitab memberikan kita informasi bahwa ibunya
pun seorang yang tidak beres.
Pelajaran 4 : Orang tua mempengaruhi karakter anak.
Ada prinsip di dalam Alkitab bahwa Tuhan membalaskan kejahatan
kepada tiga dan empat generasi dari orang yang membenciNya. Ini berarti bahwa
orang yang membenci Tuhan maka keturunannya bisa mewarisi watak dari orang tua
mereka. Merekapun menjadi orang yang membenci Tuhan.
Seperti iman bisa menurun maka kejahatanpun bisa menurun. Bila kita
membandingkan dengan Timotius maka Timotius mempunyai nenek yang bernama Eunike
dan mempunyai ibu yang bernama Louis yang adalah wanita saleh. Ini menurun
kepada Timotius. Namun pada kasus Mikha adalah sebaliknya. Ibu Mikha adalah
seorang yang kelihatannya rohani tetapi tidak rohani.
Karakter seperti apakah yang bisa kita pelajari dari ibu Mikha ?
a. Ibu Mikha mengetahui anaknya mengambil uang peraknya. Kemudian dia mengutuk
Mikha. Perkataan kutuk tidak boleh sembarang dikeluarkan. Dan Alkitab mencatat
bahwa Mikha mengembalikan uangnya karena kutuk itu. Dia mengaku dosanya bukan
karena menyadari kesalahannya tetapi karena takut akan kutukan.
b. Ibu Mikha ketika uangnya dikembalikan maka dia mengucapkan berkat. Kutuk dan
berkat Ibu Mikha ini bergantung kepada hal materi. Sungguh hal yang rendah.
Sepertinya Ibu Mikha mengeluarkan hal dan perkataan yang indah yaitu
"Diberkatilah kirannya anakku oleh Tuhan". Ini kalimat yang indah bukan ?
Biasanya orang yang mendengar kalimat ini mempunyai pengertian bahwa yang
mengucapkannya adalah seorang yang baik. Lalu yang mengucapkannya adalah
seorang yang mengasihi anaknya. Dan yang mengucapkannya adalah seorang yang
dekat dengan Tuhan. Tetapi sesungguhnya tidak begitu. Alkitab mencatat bahwa
setelah memberkati anaknya maka Ibu Mikha berkata dengan kelihatannya seperti
rohani yaitu dia hendak menguduskan uang bagi Tuhan untuk dibuat patung pahatan
dan patung tuangan daripada uang itu. Kemudian patung itu dijadikan sesuatu
simbol keagamaan yang disimpan di rumah Mikha. Seperti Mikha maka ibu Mikha
juga memanipulasi kebenaran dengan prinsip yang tidak benar. Membuat patung
untuk keagamaan sudah melanggar 10 perintah Tuhan perintah kedua. Ibu Mikha
tidak beres dan menghasilkan anak yang tidak beres.
III. Imam Lewi yang dipilih oleh Mikha
Imam Lewi ini juga mempunyai teladan yang tidak baik sebagai seorang hamba
Tuhan. Dia mau dimanipulasi sebab dia juga memanipulasi.
Pelajaran 5 : Integritas hamba Tuhan
Hamba Tuhan adalah hamba yang melayani Tuhan. Dia bukan takluk
kepada uang, kepada kenyamanan, kepada kenikmatan, kepada kuasa. Tetapi hamba
Tuhan harus takluk kep! ada Tuhan. Dia bukan melayani manusia tetapi melayani
Tuhan sendiri. Imam yang tidak dicatat namanya ini melakukan hal-hal yang tidak
beres sebagai seorang hamba Tuhan.
a. Pertama : Hamba Tuhan ini takluk pada materi dan mengabaikan prinsip
Alkitab mencatat di dalam ayat 9 bahwa Mikha bertanya kepada orang Lewi ini :
"Engkau dari mana ?" Jawabnya : "Aku orang Lewi dari Betlehem-Yehuda, dan aku
pergi untuk menetap sebagai pendatang dimana saja aku mendapat tempat"
Hamba Tuhan ini hendak mencari nafkah untuk menghidupi hidupnya yang
mengembara. Dia tidak bersandar kepada Tuhan dengan hidup sebagai seorang imam
yang taat dan bergantung pada anugerah Tuhan untuk kecukupan hidupnya. Dia
sudah menjual hak kesulungannya sebagai hamba Tuhan dan menjadi hamba manusia.
Ketika Mikha menawarkan materi dan posisi yang mapan untuk menjadi bapak dan
imamnya Mikha maka hamba Tuhan ini menurut.
Ada satu pelajaran bahwa seorang hamba Tuhan mungkin hidup miskin
tetapi dia tidak boleh menjual hak kesulungan kepada ketidakbenaran. Tidak
boleh takluk kepada materi dan meninggalkan prinsip kebenaran. Ini adalah satu
penyembahan berhala dimana hamba Tuhan takluk kepada materi dan tidak kepada
Tuhan. Bila kita seorang hamba Tuhan maka kita harus bergantung kepada Tuhan
untuk kecukupan hidup kita. Walaupun tidak kaya tetapi hamba Tuhan harus sadar
bahwa dia dicukupi Tuhan karena Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang
bertanggung jawab. Dalam hal ini hamba Tuhan sudah menghina Tuhan karena tidak
percaya kepada Tuhan
b. Kedua : Hamba Tuhan ini haus akan posisi dan kedudukan
Alkitab mencatat bahwa ketika bani Dan datang untuk menawarkan dia
melayani suku Dan daripada hanya melayani Mikha maka hamba Tuhan ini gembira.
Apakah yang seharusnya membuat hamba Tuhan gembira ? Hamba Tuhan harus gembira
kalau dia tahu Tuhan gembira. Tetapi hamba Tuhan ini gembira karena dia
mendapatkan materi, kedudukan, nama, status dan kemapanan yang lebih.
Pelajaran dari hamba Tuhan ini adalah bahwa dia tidak mempunyai
integritas sebagai seorang hamba Tuhan. Selain kuatir dan tidak percaya kepada
pemeliharaan Tuhan ternyata dia juga haus kekuasaan dan haus posisi.
Pelajaran 6 : Melayani manusia atau Tuhan ?
Bagi seorang hamba Tuhan, dia harus merenung bahwa dia sedang
melayani Tuhan atau sedang melayani manusia ? Melakukan kegiatan kerohanian itu
fenomenanya bisa sama tetapi esensinya bisa lain. Bila seorang hamba Tuhan mau
melayani Tuhan maka dia harus menyerahkan hidup, motivasi, tujuan, kemauan,
pikiran, emosi, kehendak semuanya sesesuai dengan kehendak Tuhan. Dia harus
percaya pada pemeliharaan Tuhan dan hidup melayani Tuhan.
IV. Bani Dan
Pelajaran terakhir adalah dari Bani Dan. Mereka pertama menanyakan
keberhasilan kepada orang yang salah. Mereka seharusnya tahu bahwa tidak boleh
ada imam bagi satu pribadi. Tetapi mereka menanyakan keberhasilan mereka kepada
imam yang dipilih Mikha. Dalam hal ini bani Dan sedang menganggap imam itu
seperti dukun. Ini adalah memanipulasi juga.
Pelajaran lain dari Bani Dan adalah karena keberhasilan mereka
seperti yang dikatakan imam itu maka mereka hendak menjadikan imam itu imam
bagi suku mereka. Di dalam hal ini mereka hendak memanfaatkan imam itu supaya
menjadi berkat bagi mereka. Mereka hendak menggunakan imam itu supaya mereka
sukses dan makmur. Dalam hal ini bani Dan tidak bergantung kepada Tuhan sumber
berkat tetapi hendak memanipulasi kuasa "ilahi" yang ada di dalam imam itu. Ini
persis seperti seseorang yang mau berkat dan mencari berkat di dalam cara yang
salah.
Di dalam hidup ada orang yang kelihatannya mencari Tuhan tetapi
sebenarnya ! dia mencari berkat dan memanfaatkan Tuhan serta hamba Tuhan. Dia
menganggap hamba Tuhan seperti dukun dan Tuhan seperti sosok yang bisa
dimanipulasi. Ini adalah dosa besar
Kesimpulan
Di dalam seluruh cerita ini kita bisa belajar makna moral dari
setiap karakter. Namun yang terutama pesan yang Alkitab mau sampaikan adalah
bahwa semua kerusakan moral ini karena semua berbuat seperti apa yang dipandang
baik bagi dirinya sendiri.
Di jaman postmodern dimana orang berpandangan tidak ada standard
yang mutlak maka manusia berbuat seperti yang dipandang baik menurut dirinya
sendir! i. Manusia yang tidak mau diikat oleh kebenaran Firman Tuhan dan menya
ngka dirinya bebas akan menyeleweng dan menjadi diikat oleh dosa. Karena itu
maka manusia butuh Firman Tuhan sebagai arah dan petunjuk untuk hidup. Manusia
perlu kuasa Tuhan juga untuk hidup. Manusia perlu kebenaran dan Yesus
mengatakan :"Akulah jalan, kebenaran dan hidup". Manusia butuh Kristus
Seperti Alkitab mencatat bahwa karena tidak ada raja maka orang
Israel berbuat semaunya maka kita juga butuh raja untuk memerintah di dalam
hati kita. Kita memerlukan Kristus untuk meraja di dalam hati kita supaya kita
bisa melayani Tuhan, menjadi hamba Tuhan, menjadi anak Tuhan yang berkenan
kepadaNya dan yang melayaniNya dengan prinsip yang benar.
Jeffrey Lim
Jakarta 24 Januari 2008
Institut Reformed
http://limpingen.blogspot.com
Dapat berkat dari saat teduh pribadi
Soli Deo Gloria
Jeffrey Lim
Blog : http://limpingen.blogspot.com