Manusia: Peta Teladan Allah-10:
“Omni-Science God”
Gereja seharusnya tidak menurunkan standar Alkitab demi menyenangkan banyak
orang agar mereka mau datang ke gereja. Gereja yang berbuat seperti itu,
semakin besar semakin malu; semakin banyak pengikutnya semakin mempermalukan
Tuhan, karena dia mengorbankan apa yang dituntut oleh Tuhan dan menyenangkan
manusia berdosa. Itu sebabnya Theologi Reformed tidak memakai metode pembuktian
untuk membawa manusia mengenal firman Tuhan tetapi memakai presuposisi[1] dan
dengan iman kepada wahyu Tuhan.
Dalam tema sebelumnya kita membicarakan bahwa Allah itu Mahakuasa. Oleh
karena itu Paulus mengatakan: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia
yang memberi kekuatan kepadaku” (Fil. 4:13). Inilah sebenarnya puncak
aktualisasi diri yang mungkin manusia kerjakan. Seluruh peta teladan Allah yang
digali berpuluh-puluh tahun dalam hidup kita akan bisa menjadi jelas di dalam
Alkitab. Kini kita akan masuk ke dalam tema berikut, yaitu Kemahatahuan Allah.
Kemahatahuan Allah menjadi landasan, sumber, rangsangan, dan potensi bagi
manusia untuk mau mengetahui segala sesuatu. Ada beberapa ayat yang membawa
kita kepada tema ini:
1. Mazmur 139:1-6
Ayat 6: “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup
aku mencapainya.” Aku tidak bisa mengetahui bagaimana Engkau mengetahui aku.
Jadi, pengetahuan Tuhan yang dipikirkan dan ditangkap oleh pemazmur adalah
akibat dari pewahyuan Roh Kudus atas dirinya, dan itulah yang membuat ia bisa
mengenal Allah. Dia tahu bahwa Tuhan tahu segala sesuatu, dan dia tahu bahwa
apa yang dia tahu tentang pengetahuan Tuhan itu, tidak mungkin dia tahu. Ini
kalimat paradoks yang besar.
Pengetahuan manusia yang berada di bawah pengetahuan Tuhan Allah adalah
pengetahuan yang mengetahui kemahatahuan Allah dengan pengetahuan manusia yang
terbatas. Manusia bisa tahu, tetapi bukan berarti manusia maha tahu. Tidak ada
agama atau kitab apapun yang memiliki kedalaman pengetahuan yang ditulis 1.000
tahun sebelum Kristus ini. Ini adalah pengertian manusia tentang Allah yang
paling puncak.
2. Yohanes 2:23-25
Ayat ini membicarakan pengetahuan Kristus terhadap manusia yang mau percaya
kepada Tuhan dengan segala motivasi yang tidak benar. Kristus tidak membutuhkan
saksi, tidak membutuhkan pengajaran atau pengertian dari orang lain tentang
diri seseorang di hadapan Allah. Ia mengetahui itu langsung dari hati mereka.
3. 1 Korintus 2:11
Yang mengetahui tentang Allah dengan akurat hanyalah Roh Allah. Roh Allah
memahami segala sesuatu dari Allah. Roh yang berasal dari Allah memberitahukan
pada kita apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Kita melihat bahwa
pengertian tentang Allah itu hanya melalui Roh Allah. Sebagaimana mengerti
manusia hanya melalui roh manusia yang mengenal manusia, demikian pula melalui
Roh Allah kita dapat mengenal Allah, karena Roh Allah mengerti dan masuk ke
dalam segala rahasia Ilahi itu sendiri.
Berdasarkan ayat-ayat ini kita melihat bahwa baik Allah Bapa, Allah Anak,
maupun Allah Roh Kudus adalah Allah yang mengetahui segala sesuatu. Pada ayat
yang ketiga memberitahukan kepada kita bahwa Roh menyelidiki dan Roh mengetahui
segala sesuatu tentang rahasia Allah, sehingga pengetahuan-pengetahuan yang
berada di dalam diri Allah Tritunggal adalah pengetahuan yang komprehensif.
Tuhan telah memberikan suatu unsur di dalam diri manusia untuk boleh mengetahui
sesuatu. Unsur ini adalah salah satu aspek peta teladan Allah. Manusia adalah
satu-satunya makhluk yang dicipta menurut peta dan teladan Allah, yang
mengetahui begitu banyak hal sebagaimana manusia telah menjadi wakil, menjadi
bayang-bayang, menjadi satu simbol, dan menjadi representatif daripada Allah
yang Mahatahu.
Karl Barth mengatakan manusia ingin menginjakkan kaki di atas gunung
tertinggi, ingin menembus lautan yang paling dalam, dan manusia ingin
mengetahui segala sesuatu. Tetapi pengetahuan-pengetahuan ini tidak lebih
penting daripada pengetahuan mengetahui diri sendiri untuk bagaimana diri hidup
di dalam Tuhan Allah. Socrates mengatakan, “Manusia ingin menyelidiki segala
sesuatu, tetapi apa gunanya jikalau manusia tidak mengenal diri sendiri.” Semua
buku yang ditulis para filsuf sebelum Socrates mempunyai 2 tema yang paling
besar: 1) on the nature, dan 2) on the principle. Keduanya mencakup seluruh
pengertian yang ingin diketahui manusia. Manusia belajar tentang Fisika,
Astronomi (Ilmu Perbintangan), Fauna, bahkan Aristotle menulis buku yang
berjudul ‘On the Move of Animal’. Dia mempelajari bagaimana kuda melangkah,
atau ikan berenang, sampai bagaimana kucing mencakar. Tetapi jika hal ini
dikaitkan dengan kalimat Socrates tentang “mengetahui dirimu sendiri”,
setelah mengetahui diri dan segala sesuatu yang bergerak di dalam dunia
binatang, maka ada perubahan yang besar di dalam arah epistemologi. Sebelum
Socrates, manusia terlalu sedikit mengetahui diri, tetapi mengetahui di luar
terlalu banyak. Manusia makin mengetahui yang di luar semakin terkait dan
berbaur dengan lingkungan.
Semakin mengetahui ada kemungkinan melepaskan atau men-disintegrasi-kan hidup
manusia dengan lingkungannya, makin tidak ada tempat di dalam dirinya untuk
mengetahui diri. Seperti suatu ruangan kamar semakin diisi barang banyak
semakin sedikit untuk oksigennya. Semakin studi banyak makin kehilangan arah,
semakin mengetahui science, teknologi, semakin kehilangan diri. Itu sebab
pentingnya Socrates untuk mengembalikan pengetahuan kepada satu arah yang
sangat mendasar, yaitu mengetahui diri sendiri terlebih dahulu. Mengetahui diri
sendiri akan menjadi dasar menemukan kunci dan pondasi pengetahuan yang lain.
Ini adalah rangsangan dari Socrates. Orang Gerika sebelumnya tidak menyadari
pentingnya hal ini, baru sejak saat itu dimulainya anthropologi, introspeksi
diri dari anthropologi, pengertian-pengertian tentang makna hidup etika dan
menuju ke mana arti hidup di dalam dunia ini. Semua ini menjadi suatu
penggalian baru, wilayah yang baru. Seperti juga Søren Kierkegaard membuka
lembaran baru sistem epistemologi setelah dipuncakkan oleh Hegel. Ia
membongkar dan membawa kembali kepada pemikiran yang mendasar. Kedua orang ini
mempunyai persamaan di dalam memutarkan seluruh arah dari zaman menuju kepada
hal yang paling mendasar yaitu Kenallah Dirimu.
Alkitab mengatakan bahwa, “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.”
Socrates, yang menerima wahyu umum, hanya bisa mencapai pengertian “mengenal
diri adalah awal pengetahuan.” Bijaksana adalah menguasai pengetahuan,
mengarahkan pengetahuan, dan melampaui pengetahuan. Pengetahuan hanya merupakan
inti dari bijaksana, dan bijaksana adalah arah bagi inti. Dengan demikian, kita
kembali kepada seluruh pengertian yang begitu hakiki tentang sifat manusia yang
dicipta oleh Tuhan. Tuhan yang mengetahui segala sesuatu, maka Tuhan lebih
mengenal diri manusia. Mengenal diri manusia melalui Allah yang lebih mengenal
diri manusia menjadi suatu keharusan mutlak (the absolute necessity). Ketika
saya merancang gedung gereja, maka sayalah yang paling mengetahui seluruh
bentuk dan kekuatannya. Demikian juga Tuhan mendesain manusia, Dia jauh lebih
mengetahui diri manusia daripada manusia mengetahui dirinya sendiri. Inilah
kelemahan anthropologi. Saya pikir, semua filsuf adalah
orang-orang yang menganggap diri pandai dan mereka berusaha menulis sesuatu
yang mereka ketahui, tanpa standar dan tanpa pengesahan dari Tuhan. Karena
mereka mengetahui sedikit lebih daripada orang-orang yang mengetahui tentang
dirinya, maka mereka dianggap hebat, dikagumi, dan dianggap guru bijaksana
untuk memimpin diri manusia. Setelah saya menyelidiki lebih dalam lagi, saya
mengetahui semua filsuf gagal mengetahui banyak hal, bahkan gagal mengetahui
diri mereka sendiri, karena mereka tidak mengikuti prinsip dan tidak mencakup
pengertian sesungguhnya tentang apa yang telah dibuat oleh Tuhan di dalam
pengertian epistemologi bagi umat manusia. Itulah sebabnya begitu banyak orang
menilai diri secara samar, kesalahan diri sendiri secara samar, dan mereka
menghabiskan hidup, nanti setelah mati baru tahu bahwa apa yang diketahui
tentang diri, Allah, alam, dan relasi semuanya adalah menyeleweng. Itulah
sebabnya Theologi Reformed, yang berusaha mengembalikan iman kita kepada
prinsip-prinsip dasar di dalam Alkitab, yang berusaha memberikan perbedaan
kualitatif antara mengerti dari sudut pandangan Tuhan dan dari sudut pandangan
manusia yang berdosa. Di Reformed Institute Washington, saya mengatakan bahwa
ada tiga hal yang menyebabkan manusia tetap berada dalam kelemahan yang tidak
mungkin diterobos, yaitu: Kita semua created, limited, polluted (dicipta,
terbatas, tercemar). Maka, bagaimanapun juga rasio pengertian kita tidak akan
dapat menerobos ketiga kelemahan ini. Ini bukan untuk melemahkan kita, tetapi
memotivasi supaya kita mengenal dengan akurat keadaan kita dan tidak menembus
batas menjadi congkak, dan merampas kemuliaan Allah.
Dengan pengertian ini kita kembali kepada Tuhan dan kita mengatakan: saya mau
tahu segala sesuatu. Keinginan mengetahui segala sesuatu adalah ekspresi peta
teladan Allah, tetapi juga sesuatu ambisi yang perlu diberi kesadaran oleh
Tuhan, sehingga kita tetap berada di dalam keterbatasan sebagai manusia.
Kecuali Tuhan yang mengetahui secara mutlak, tidak ada manusia yang mahatahu
secara mutlak. Mazmur mengatakan: Aku tahu bahwa Engkau tahu; Aku mengetahui
bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu di dalam diriku, tetapi aku mengetahui
pengetahuan semacam ini terlalu tinggi bagiku sehingga aku tidak dapat
melampaui, tidak bisa mencapai.
Kita sadar bahwa kita perlu wahyu, tanpa wahyu tidak ada penerobosan
pengertian kita. Wahyu yang disebut die Enthüllung (Jerman), revelatio (Latin),
revelation (Inggris), dan apokaliptus (Gerika) berarti dibukanya rahasia. Wahyu
berarti dibukanya sesuatu yang menutupi, sehingga kita melihat. Di hadapan
Tuhan kita tidak mungkin mengetahui diri kita sendiri, karena kita sudah
terpolusi. Sebagai ciptaan, kualitas kita berbeda dengan Allah Pencipta.
Limitasi menjadikan kita tidak mungkin sama dengan Allah yang tidak terbatas.
Dan polusi mengakibatkan kita tidak mungkin kembali kepada zaman sebelum Adam
berbuat dosa. Mau tidak mau kita membawa ketiga kondisi ini ke dalam dunia
epistemologi, sehingga kita selalu berada di dalam kurang tepat, kurang akurat,
kurang sempurna, dan seterusnya, dan kita tidak mengetahui dengan baik.
Allah bukan mengetahui segala sesuatu yang dicipta saja melainkan Allah juga
mengetahui tentang segala sesuatu yang akan terjadi. Allah bukan saja
mengetahui keseluruhan umat tetapi juga sampai kejadian detik terakhirnya.
Dalam Yesaya dikatakan satu tantangan yang besar dari Tuhan Allah kepada umat
Israel, “Dengan ilah (dewa) mana engkau membandingkan Aku.” Kalimat tantangan
yang kedua, “Siapa di antara semua dewa seperti Aku, sehingga Akulah
satu-satunya yang mengetahui segala sesuatu secara pasti sampai pada hari
terakhir.” Ini menjadi tantangan yang berbeda sekali dibanding semua dewa dan
agama. Tuhan mengetahui dari permulaan sampai detik terakhir. Ini adalah
Epistemologi Komprehensif yang melintasi keterbatasan zaman. Pengetahuan Sejati
yang lebih tinggi daripada proses sejarah.
Allah mengatakan Akulah Alfa dan Omega. Pada umumnya, pengetahuan kita
berkait dengan kuantitas, tetapi pengetahuan Allah meliputi totalitas dari awal
sampai akhir. Akibatnya, manusia yang dicipta mempunyai kesadaran sejarah dan
kesadaran melampaui waktu. Kesadaran ini akan menimbulkan pengharapan.
Kesadaran ini menyebabkan manusia tidak puas dan mau menuju ke kesempurnaan
yang dijanjikan Tuhan. Alkitab mau supaya orang Kristen memiliki pengetahuan
melampaui pengetahuan-pengetahuan yang terbatas. Dalam satu edisi Reader’s
Digest dikatakan: “Syukurlah Da Vinci tidak masuk sekolah saat itu, karena
dengan demikian dia tidak dibatasi.” Da Vinci mengatakan bahwa pengetahuan
berasal dari pengamatan yang teliti. Manusia mempunyai kemungkinan menggali
diri, mengamati segala sesuatu dan mendapatkan pengetahuan yang luar biasa
banyaknya dan luar biasa kayanya, karena ini potensi yang diberikan Tuhan.
Ada tiga wilayah besar pengetahuan yang harus kita garap: 1) Di bawah
manusia; 2) Di dalam diri manusia; 3) Di atas diri manusia. Ketiganya harus
diselidiki bersamaan. Pengertian-pengertian kebenaran itu adalah kekayaan.
Pengetahuan yang Tuhan ingin untuk dimiliki oleh anak-anak-Nya adalah kekayaan
yang sejati. Alkitab mengatakan: “Simpanlah baik-baik segala sesuatu tentang
Kristus dengan kaya di dalam hatimu. Dengan segala bijaksana, dengan segala
cara engkau menyimpan tentang bijaksana Kristus ke dalam hatimu. Bertumbuhlah
di dalam anugerah dan kebenaran.” Kristus datang ke dalam dunia membawakan iman
kepercayaan yang sejati, kebenaran, dan anugerah. Satu lukisan Paul Gaugin di
Boston Museum diberi judul: “Engkau dari Mana? Siapa Engkau? Ke mana Engkau
Pergi?” Ini sebenarnya kalimat theologis, pertanyaan anthropologi yang paling
mendalam dan hanya mungkin dijawab oleh firman Tuhan. Tidak ada filsuf yang
bisa menjawab, hanya Tuhan Allah yang bisa menjawab. Secara
makna sains terlalu rendah. Untuk mengetahui dunia ciptaan (di bawah manusia)
kita bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih akurat; untuk mengerti diri dan
sesama, itu lebih sulit; dan untuk mengetahui Tuhan Allah adalah pengetahuan
yang tertinggi dan tersulit.
Paulus memuncakkan satu kalimat: “aku mengenal Siapa yang aku percaya”
sebagai solusi terakhir di dalam epistemologi orang Kristen. Agustinus
mengatakan bahwa dia ingin mengetahui dua hal saja: ‘Siapa Allah’ dan ’Apa itu
jiwa’. Calvin mengatakan dalam Institute of Christian Religion: “Antara
mengenal Allah dan mengenal diri, aku tidak tahu mana yang harus lebih dahulu,
tetapi keduanya terkait sangat erat.” Paulus menyimpulkan: “Aku tahu siapa yang
kupercaya dan aku tahu Dia akan memelihara apa yang kuserahkan kepada Dia
sampai hari Tuhan.” Ini mengingatkan kita bahwa tidak ada batasnya kita mencari
kebenaran. Orang yang rendah hati akan terus menerus tidak membatasi diri mau
mencari kebenaran. Amin.
---------------------------------
[1] suatu pra-anggapan berdasarkan firman Tuhan.
"God is most glorified in us when we are most satisfied in Him"
(Rev. John Stephen Piper, D.Theol.)
---------------------------------
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.