From: konseling_lk3
Kesaksian tentang ibu ku
Salam konseling
Ketika saya sedang mengedit buku kami Mencinta Hingga Terluka yang akan
diterbitkan Gramedia, saya tergerak mengirimkan satu kesaksian pribadi saya
tentang Ibu dan keluarga kami. Pengalaman ini pula yang mendorong saya menekuni
profesi sebagai konselor. Moga menjadi berkat.
Salam
Julianto Simanjuntak
INSTITUT KONSELING LK3
021-70555705
Cinta Sejati Nurmala [1]
Oleh: Julianto Simanjuntak
Nurmala berkenalan dengan Theo tatkala dia sedang bertugas sebagai
perawat di sebuah rumahsakit. Cinta mereka berkembang bak sinetron. Ketika itu
si cantik Nur juga "ditaksir" pria lain. Sampai-sampai Theo dan sang pesaing
sempat "duel" memperebutkan cinta Tiurma. Alhasil, Theo-lah pemenangnya,
walaupun dia harus mengorbankan telinganya yang robek dalam duel.
Sejak hari itu Theo selalu memperingati hari "ulangtahun kuping". Peristiwa ini
juga diceriterakan kepada ketujuh anak-anak mereka, yang lahir dari perkawinan
Nurmala dan Theo kemudian. Sayangnya, romantisme ini tidak berlangsung lama.
Theo punya kebiasaan judi dan minum. Seperti umumnya mereka yang punya
kebiasaan demikian, kekerasan menjadi sesuatu yang akrab. Kalau dia sudah
marah, semua yang dalam rumah kena Nurmala pun diperlakukan sewenang-wenang
oleh suaminya. Hal-hal kecil saja seringkali memicu amarah pria yang bekerja
sebagai polisi ini. Kalah judi, marah. Tiap hari Theo pulang dari kantor, makan
siang, lantas pergi ke rumah teman-temannya. Kadang-kadang, teman-teman mereka
bertandang ke rumah. Itu berarti judi dan mabuk. Dalam situasi ini, Nurmala
harus selalu waspada, jangan sampai membuat suaminya marah.
Selain mendampingi suaminya sebagai istri polisi dan aktif di persatuan ibu-ibu
Bhayangkara, Nurmala membuka toko kelontong di sebelah rumah mereka. Bakat Nur
sebagai pedagang mulai nampak. Kehidupan ekonomi keluarga mereka membaik.
Mereka membeli televisi, yang membuat rumah mereka selalu ramai dengan
anak-anak tetangga yang ikut menonton. Kaum kerabat pun kerap menumpang di
rumah dan beberapa bahkan disekolahkan. Mereka dikenal sebagai keluarga yang
pandai bergaul dan murah hati.
Pasangan Nurmala dan Theo dikaruniai delapan anak, laki-laki semua. Waktu anak
pertama lahir, laki-laki, tidak terkatakan sukacita mereka. Sudah ada penerus
marga. Dalam waktu yang tidak lama lahir berturut-turut lima anak laki-laki.
Theo mulai berpikir, "Tidak ada boru (anak perempuan)-ku?" Theo sendiri adalah
anak bungsu dari tiga bersaudara laki-laki semua.
"Anak ini harus perempuan," kata Theo kepada istrinya ketika Nurmala hamil
untuk keenam kalinya. "Kalau tidak, kuceraikan kamu!"
Aduh, Tuhan! teriak Nurmala dalam hati. Bagaimana ini? Apa aku yang menentukan
kelamin anak ini? Bagaimana kalau suamiku benar-benar menceraikan aku? Apa kata
keluarga? Betapa malunya! Tidak ada yang bercerai dalam keluarga kami. Ke mana
aku harus berlindung?
Sepanjang masa kehamilannya yang sembilan bulan sepuluh hari, Nur hidup dalam
ketakutan akan diceraikan oleh Theo. Belum lagi tekanan-tekanan dan kekerasan
yang dilakukan suaminya kalau kalah judi atau pulang dalam keadaan mabuk.
Akhir Juli 1963 Nurmala melahirkan anak laki-laki lagi. Stress berat yang
dialaminya selama ini membuat Nurmala mengalami pendarahan hebat dan hampir
meninggal. Atas saran dokter, semua keluarga sudah berkumpul, siap "melepas"
Nurmala mengakhiri penderitaannya. Tapi Tuhan belum memanggilnya. Beberapa hari
kemudian, Nurmala sembuh dan boleh membawa bayinya pulang. Melihat keadaan
istrinya demikian, Theo tidak jadi menceraikan Nurmala.
Theo masih tetap menantikan hadirnya seorang anak perempuan. Dua tahun kemudian
Nurmala hamil anak ketujuh. Tetapi yang datang laki-laki. Tidak sampai
setahun, Tuhan memanggil si Bungsu ini. Tiurma sangat sedih. Entah mengapa,
perasaannya kepada putra bungsunya sangat mendalam, sehingga dia merasa
kehilangan sekali. Teddy dimakamkan tidak jauh dari rumah mereka, di
pemakaman umum.
Suatu kali dalam keadaan mabuk, Theo marah besar. Entah apa masalahnya,
Nurmala tidak ingat. Tapi demikian marahnya suaminya sampai dia tidak puas
hanya menendang dan menempeleng istrinya sampai ke luar rumah. Waktu Theo masuk
untuk mengambil gagang sapu, Nurmala melarikan diri dari rumah. Malam itu
Nurmala tidur di atas nisan (kuburan) Teddy.
"Nak, mengapa kau tidak mengajak Mama?" tangisnya terisak-isak, sambil membelai
batu itu. "Mengapa aku tidak mati saja, Tuhan?" Dia tidak peduli kegelapan
malam. Paginya, anak-anaknya melihat Ibu mereka pulang masih dengan wajah babak
belur.
"Mama dari mana?" tanya si anak nomor enam.
"Dari kuburan adikmu."
Waktu terus berjalan. Anak-anak mereka tumbuh dewasa. Sifat buruk Theo
"menurun" kepada anak-anak mereka. Judi dan mabuk dengan mudah mereka pelajari
dari ayahnya. Rumah mereka seperti hotel. Anak-anak tidak pernah di rumah,
kecuali untuk mandi, makan dan tidur. Dalam situasi seperti ini, lahirlah anak
ke delapan tahun 1968.
Tidak lama setelah itu, karier Theo di kepolisian mengalami masalah. Rupanya
selama lima tahun terakhir Theo menggunakan gaji polisi yang dipercayakan
kepadanya untuk main judi. Negara dirugikan puluhan juta rupiah pada tahun
1975. Kepadanya diberi pilihan: mengembalikan uang negara atau dibui selama dua
tahun dan dipecat dari kepolisian. Theo memilih yang pertama.
Dalam tempo singkat mereka jatuh miskin. Linglung, seperti tidak berpijak di
tanah, Nurmala membawa ke pegadaian, emas dan berlian yang dikumpulkannya
selama puluhan tahun, dalam sebuah kaleng biskuit. Beratnya hampir 20 kilogram.
Ini dilakukannya untuk menebus suaminya dari penjara. Semua tanah dijual. Toko
kelontong bangkrut. Keluarga yang tadinya sering dibantu, memalingkan diri.
Mereka tidak memiliki apa-apa lagi. Gaji pun masih dipotong untuk membayar sisa
hutang.
Tetapi kehidupan mesti jalan terus. Anak-anak baru satu yang bekerja. Maka,
Nurmala kembali menjadi penyelamat. Dia membuka usaha jualan warung nasi soto
di pasar bagi penjual sayur dan kuli pasar. Nurmala menanggalkan semua
kebanggaannya sebagai istri perwira polisi. Dia turun ke pasar, bergaul dengan
tukang becak dan kuli.
Bertahun-tahun, dia berjuang. Saat orang-orang mulai lelap di peraduan, Nurmala
bangun, dan mulai memasak, subuh sudah jualan. Lepas tengah hari Nurmala
pulang sambil membawa belanjaan untuk didagangkan besoknya. Tidak sempat
istirahat, Nurmala masih harus mengurus suami dan ketujuh anaknya; membersihkan
rumah, mencuci, dan semua pekerjaan rumahtangga lainnya. Selain itu, Nurmala
juga melayani kekejaman suaminya yang menghebat sejak Theo mengalami masalah
di kantor. Nurmala juga harus menghadapi masalah anak-anaknya. Mereka tidak
serius belajar sehingga mendapat pendidikan seadanya. Kebiasaan buruk yang
sudah menurun membuat tiga anak-anaknya yang terbesar seringkali pulang dalam
keadaan mabuk.
Suatu ketika di tahun 1981, Nurmala dirawat di Rumah Sakit, tak lama setelah
Tuhan menjamah anak keenamnya. Anak yang masih kelas 2 SMU ini bertobat.
Hatinya yang baru disentuh Injil menggebu-gebu untuk melayani keluarganya,
terutama Mama yang dikasihinya. Saat Nurmala dalam keadaan putus asa karena
penyakit yang tidak kunjung sembuh, putranya berkata, "Ma, berdoalah. Minta
kesembuhan dari Tuhan."
"Tuhan tidak ada!" jawab Nurmala ketus. "Kalau Tuhan ada, saya mau
Dia mengeluarkan saya dari sini."
"Yakinlah," tantang putranya. "Dia akan memberi."
Walaupun ragu-ragu, Nurmala berdoa. Dia memohon Tuhan
mengasihaninya. Tuhan menjawab. Malam itu dokter menemui Nurmala dan berkata,
"Besok Ibu boleh pulang.Nurmala berubah.
Anugerah Tuhan belum berhenti. Dia juga menjamah Theo. Melihat perubahan besar
dalam diri istri dan putranya, Theo digerakkan mencari Tuhan. Dia mengalami
pembaruan dalam sebuah kebangunan rohani di Medan. Theo menjadi sangat rajin
membaca Alkitab, melayani dan banyak memberitakan Injil. Buah pertobatannya
membuat anak-anaknya ikut berubah dan akhirnya menerima Kristus.
Sejak itu kehidupan rumahtangga mereka berubah. Kesabaran Nurmala membuahkan
hasil. Anak-anak mereka dan banyak anggota keluarga lain akhirnya mengenal
Kristus melalui pertobatan mereka. Beberapa tahun kemudian Theo sakit keras.
Nurmala melakukan komitmennya, berjuang mengurus suaminya yang sakit. Suami
yang dulu sering menyiksa hidupnya. Itulah kuasa cinta. Menebus
keluarga. Itulah yang dilakukan Nurmala. Ia menjadi agen penebus di tengah
keluarga, terutama bagi suaminya yang pernah menyakiti hatinya. Cinta sejati
membutuhkan pengorbanan dan harga yang mahal. Seandainya, di tengah perjalanan
Nurmala menjadi putus asa dan bercerai dari Theo, tentu keluarga, tetangga, dan
anak-anaknya tidak akan menyaksikan akhir cerita yang demikian dramatis. Banyak
orang bersyukur. Pengorbanan Nurmala menjadi teladan bagi putra-putranya dan
generasi yang akan datang. (*)
Nurmala berkenalan dengan Theo tatkala dia sedang bertugas sebagai
perawat di sebuah rumahsakit. Cinta mereka berkembang bak sinetron. Ketika itu
si cantik Nur juga "ditaksir" pria lain. Sampai-sampai Theo dan sang pesaing
sempat "duel" memperebutkan cinta Tiurma. Alhasil, Theo-lah pemenangnya,
walaupun dia harus mengorbankan telinganya yang robek dalam duel.
Sejak hari itu Theo selalu memperingati hari "ulangtahun kuping". Peristiwa ini
juga diceriterakan kepada ketujuh anak-anak mereka, yang lahir dari perkawinan
Nurmala dan Theo kemudian. Sayangnya, romantisme ini tidak berlangsung lama.
Theo punya kebiasaan judi dan minum. Seperti umumnya mereka yang punya
kebiasaan demikian, kekerasan menjadi sesuatu yang akrab. Kalau dia sudah
marah, semua yang dalam rumah kena Nurmala pun diperlakukan sewenang-wenang
oleh suaminya. Hal-hal kecil saja seringkali memicu amarah pria yang bekerja
sebagai polisi ini. Kalah judi, marah. Tiap hari Theo pulang dari kantor, makan
siang, lantas pergi ke rumah teman-temannya. Kadang-kadang, teman-teman mereka
bertandang ke rumah. Itu berarti judi dan mabuk. Dalam situasi ini, Nurmala
harus selalu waspada, jangan sampai membuat suaminya marah.
Selain mendampingi suaminya sebagai istri polisi dan aktif di persatuan ibu-ibu
Bhayangkara, Nurmala membuka toko kelontong di sebelah rumah mereka. Bakat Nur
sebagai pedagang mulai nampak. Kehidupan ekonomi keluarga mereka membaik.
Mereka membeli televisi, yang membuat rumah mereka selalu ramai dengan
anak-anak tetangga yang ikut menonton. Kaum kerabat pun kerap menumpang di
rumah dan beberapa bahkan disekolahkan. Mereka dikenal sebagai keluarga yang
pandai bergaul dan murah hati.
Pasangan Nurmala dan Theo dikaruniai delapan anak, laki-laki semua. Waktu anak
pertama lahir, laki-laki, tidak terkatakan sukacita mereka. Sudah ada penerus
marga. Dalam waktu yang tidak lama lahir berturut-turut lima anak laki-laki.
Theo mulai berpikir, "Tidak ada boru (anak perempuan)-ku?" Theo sendiri adalah
anak bungsu dari tiga bersaudara laki-laki semua.
"Anak ini harus perempuan," kata Theo kepada istrinya ketika Nurmala hamil
untuk keenam kalinya. "Kalau tidak, kuceraikan kamu!"
Aduh, Tuhan! teriak Nurmala dalam hati. Bagaimana ini? Apa aku yang menentukan
kelamin anak ini? Bagaimana kalau suamiku benar-benar menceraikan aku? Apa kata
keluarga? Betapa malunya! Tidak ada yang bercerai dalam keluarga kami. Ke mana
aku harus berlindung?
Sepanjang masa kehamilannya yang sembilan bulan sepuluh hari, Nur hidup dalam
ketakutan akan diceraikan oleh Theo. Belum lagi tekanan-tekanan dan kekerasan
yang dilakukan suaminya kalau kalah judi atau pulang dalam keadaan mabuk.
Akhir Juli 1963 Nurmala melahirkan anak laki-laki lagi. Stress berat yang
dialaminya selama ini membuat Nurmala mengalami pendarahan hebat dan hampir
meninggal. Atas saran dokter, semua keluarga sudah berkumpul, siap "melepas"
Nurmala mengakhiri penderitaannya. Tapi Tuhan belum memanggilnya. Beberapa hari
kemudian, Nurmala sembuh dan boleh membawa bayinya pulang. Melihat keadaan
istrinya demikian, Theo tidak jadi menceraikan Nurmala.
Theo masih tetap menantikan hadirnya seorang anak perempuan. Dua tahun kemudian
Nurmala hamil anak ketujuh. Tetapi yang datang laki-laki. Tidak sampai
setahun, Tuhan memanggil si Bungsu ini. Tiurma sangat sedih. Entah mengapa,
perasaannya kepada putra bungsunya sangat mendalam, sehingga dia merasa
kehilangan sekali. Teddy dimakamkan tidak jauh dari rumah mereka, di
pemakaman umum.
Suatu kali dalam keadaan mabuk, Theo marah besar. Entah apa masalahnya,
Nurmala tidak ingat. Tapi demikian marahnya suaminya sampai dia tidak puas
hanya menendang dan menempeleng istrinya sampai ke luar rumah. Waktu Theo masuk
untuk mengambil gagang sapu, Tiurma melarikan diri dari rumah. Malam itu Tiurma
tidur di atas nisan (kuburan) Teddy.
"Nak, mengapa kau tidak mengajak Mama?" tangisnya terisak-isak, sambil membelai
batu itu. "Mengapa aku tidak mati saja, Tuhan?" Dia tidak peduli kegelapan
malam. Paginya, anak-anaknya melihat Ibu mereka pulang masih dengan wajah babak
belur.
"Mama dari mana?" tanya si anak nomor enam.
"Dari kuburan adikmu."
Waktu terus berjalan. Anak-anak mereka tumbuh dewasa. Sifat buruk Theo
"menurun" kepada anak-anak mereka. Judi dan mabuk dengan mudah mereka pelajari
dari ayahnya. Rumah mereka seperti hotel. Anak-anak tidak pernah di rumah,
kecuali untuk mandi, makan dan tidur. Dalam situasi seperti ini, lahirlah anak
ke delapan tahun 1968.
Tidak lama setelah itu, karier Theo di kepolisian mengalami masalah. Rupanya
selama lima tahun terakhir Theo menggunakan gaji polisi yang dipercayakan
kepadanya untuk main judi. Negara dirugikan puluhan juta rupiah pada tahun
1975. Kepadanya diberi pilihan: mengembalikan uang negara atau dibui selama dua
tahun dan dipecat dari kepolisian. Theo memilih yang pertama.
Dalam tempo singkat mereka jatuh miskin. Linglung, seperti tidak berpijak di
tanah, Nurmala membawa ke pegadaian, emas dan berlian yang dikumpulkannya
selama puluhan tahun, dalam sebuah kaleng biskuit. Beratnya hampir 20 kilogram.
Ini dilakukannya untuk menebus suaminya dari penjara. Semua tanah dijual. Toko
kelontong bangkrut. Keluarga yang tadinya sering dibantu, memalingkan diri.
Mereka tidak memiliki apa-apa lagi. Gaji pun masih dipotong untuk membayar sisa
hutang.
Tetapi kehidupan mesti jalan terus. Anak-anak baru satu yang bekerja. Maka,
Nurmala kembali menjadi penyelamat. Dia membuka usaha jualan warung nasi soto
di pasar bagi penjual sayur dan kuli pasar. Nurmala menanggalkan semua
kebanggaannya sebagai istri perwira polisi. Dia turun ke pasar, bergaul dengan
tukang becak dan kuli.
Bertahun-tahun, dia berjuang. Saat orang-orang mulai lelap di peraduan, Nurmala
bangun, dan mulai memasak, subuh sudah jualan. Lepas tengah hari Nurmala
pulang sambil membawa belanjaan untuk didagangkan besoknya. Tidak sempat
istirahat, Nurmala masih harus mengurus suami dan ketujuh anaknya; membersihkan
rumah, mencuci, dan semua pekerjaan rumahtangga lainnya. Selain itu, Nurmala
juga melayani kekejaman suaminya yang menghebat sejak Theo mengalami masalah
di kantor. Nurmala juga harus menghadapi masalah anak-anaknya. Mereka tidak
serius belajar sehingga mendapat pendidikan seadanya. Kebiasaan buruk yang
sudah menurun membuat tiga anak-anaknya yang terbesar seringkali pulang dalam
keadaan mabuk.
Suatu ketika di tahun 1981, Nurmala dirawat di Rumah Sakit, tak lama setelah
Tuhan menjamah anak keenamnya. Anak yang masih kelas 2 SMU ini bertobat.
Hatinya yang baru disentuh Injil menggebu-gebu untuk melayani keluarganya,
terutama Mama yang dikasihinya. Saat Nurmala dalam keadaan putus asa karena
penyakit yang tidak kunjung sembuh, putranya berkata, "Ma, berdoalah. Minta
kesembuhan dari Tuhan."
"Tuhan tidak ada!" jawab Tiurma ketus. "Kalau Tuhan ada, saya mau
Dia mengeluarkan saya dari sini."
"Yakinlah," tantang putranya. "Dia akan memberi."
Walaupun ragu-ragu, Nurmala berdoa. Dia memohon Tuhan
mengasihaninya. Tuhan menjawab. Malam itu dokter menemui Nurmala dan berkata,
"Besok Ibu boleh pulang.Nurmala berubah.
Anugerah Tuhan belum berhenti. Dia juga menjamah Theo. Melihat perubahan besar
dalam diri istri dan putranya, Theo digerakkan mencari Tuhan. Dia mengalami
pembaruan dalam sebuah kebangunan rohani di Medan. Theo menjadi sangat rajin
membaca Alkitab, melayani dan banyak memberitakan Injil. Buah pertobatannya
membuat anak-anaknya ikut berubah dan akhirnya menerima Kristus.
Sejak itu kehidupan rumahtangga mereka berubah. Kesabaran Nurmala membuahkan
hasil. Anak-anak mereka dan banyak anggota keluarga lain akhirnya mengenal
Kristus melalui pertobatan mereka. Beberapa tahun kemudian Theo sakit keras.
Nurmala melakukan komitmennya, berjuang mengurus suaminya yang sakit. Suami
yang dulu sering menyiksa hidupnya. Itulah kuasa cinta. Menebus
keluarga. Itulah yang dilakukan Nurmala. Ia menjadi agen penebus di tengah
keluarga, terutama bagi suaminya yang pernah menyakiti hatinya. Cinta sejati
membutuhkan pengorbanan dan harga yang mahal. Seandainya, di tengah perjalanan
Nurmala menjadi putus asa dan bercerai dari Theo, tentu keluarga, tetangga, dan
anak-anaknya tidak akan menyaksikan akhir cerita yang demikian dramatis. Banyak
orang bersyukur. Pengorbanan Nurmala menjadi teladan bagi putra-putranya dan
generasi yang akan datang. (*)
[1] Kesaksian pribadi Julianto Simanjuntak
=====================================================
From: Adi Kurniawan
Bagaimana aku yakin bahwa aku sungguh-sungguh anak Tuhan ?
Grace and peace,
Artikel berikut ini diterjemahkan dengan sedikit pengeditan dari artikel/ How
May I Have the Assurance that I am a True Child of God?
/(http://pilgrimcovenant.com/publication/main_articles/2000/wklyArt_000116.htm),
Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 16 Januari 2000. Artikel ini ditulis
oleh Pastor Lim Jyh Jang. Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel
Sungguhkah Aku?
(http://reposeinthee.blogspot.com/2008/06/sungguhkah-aku.html).
*Bagaimana aku yakin bahwa aku sungguh-sungguh anak Tuhan?*
Di artikel yang sebelumnya
(http://reposeinthee.blogspot.com/2008/06/sungguhkah-aku.html), kita menekankan
pentingnya mengetahui apakah kita sungguh-sungguh orang Kristen. Seorang
Kristen yang sejati adalah seseorang yang telah dilahirkan kembali
(regenerasi). Tuhan Yesus Kristus memberi tahu Nikodemus: "Sesungguhnya jika
seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Tuhan"
(Yohanes 3:3). Tidak ada yang namanya orang Kristen yang belum lahir baru. Ia
entah sudah lahir baru atau mati---mati rohani!
Sekarang, jika Anda tahu bahwa Anda sungguh-sungguh, Anda dapat yakin bahwa
Anda akan bertekun dalam iman. Kristus Tuhan kita berkata:
"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka
mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka
pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut
mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar
dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa"
(Yohanes 10:27-29). Penulis surat Ibrani memberi tahu kita bahwa janji Tuhan
akan keselamatan kekal kita tidak dapat digagalkan---karena Tuhan telah
mengadakan kovenan dengan Abraham di mana Ia melewati potongan-potongan daging
dan dengan itu menjamin dengan seluruh diri-Nya bahwa Ia akan menepati
janji-Nya (Ibrani 6:13-20; bdk. Kejadian 15:8-21). Karena itu Rasul Paulus
menyatakan dengan yakin bahwa tidak ada yang "dapat memisahkan kita dari kasih
Tuhan, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Roma 8:34-39).
Ada orang-orang Kristen Arminian yang menolak melihat bahwa janji-janji ilahi
ini absolut dan tidak tergantung kepada manusia, dan karena itu mereka tidak
punya dasar kepastian keselamatan. Mereka percaya mereka dapat kehilangan
keselamatan mereka kapan saja, dan karena itu mereka haruslah hidup dalam
ketakutan karena hati manusia begitu mudahnya diombang-ambingkan. Orang-orang
Arminian yang malang! Akan tetapi Alkitab jelas, keselamatan kita sepenuhnya
bergantung kepada Tuhan.
Bahkan iman kita adalah pemberian Tuhan (Efesus 2:8), dan Firman Tuhan mengajar
kita dengan jelas bahwa Tuhan akan memelihara iman kita sehingga kita akan
tetap selalu menjadi orang percaya. Bagaimana dengan mereka yang murtad? Mereka
tidak pernah dilahirbarukan pada awalnya.
Rasul Yohanes berkata: "Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka
tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh
termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita" (1Yohanes
2:19a).
Namun demikian, pertanyaan yang kita harus tanyakan kepada diri kita yaitu:
Bagaimana saya tahu bahwa iman saya dalam Kristus itu sejati?
Bagaimana saya tahu saya tidak sekedar membodohi diri saya sendiri seperti
Simon Magus? Bagaimana saya tahu dengan yakin bahwa saya sungguh-sungguh
percaya? "Adalah satu hal bagi saya untuk percaya, dan adalah hal yang lain
bagi saya untuk percaya saya percaya" (Thomas Brooks).
... selengkapnya, baca di
http://reposeinthee.blogspot.com/2008/06/bagaimana-aku-yakin-bahwa-aku-sungguh.html
Grace and peace,
Adi
http://reposeinthee.blogspot.com
===================================================
From: ivana indahwati
Si Kepiting Sirik
Ayub 5:2 - Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal
dimatikan oleh iri hati.
Matius 23:12 - Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan
barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.
Apakah Anda pernah memperhatikan tingkah laku kawanan kepiting yang terjebak
dalam sebuah kotak atau wadah? Beberapa diantara mereka akan berusaha memanjat
agar bisa keluar dari wadah tersebut. Tetapi jangan harap bahwa
kepiting-kepiting lainnya akan membiarkannya terus naik keatas. Dengan capitnya
mereka akan menarik temannya agar turun kembali.
Ini merupakan gambaran dari sifat iri hati, yaitu perasaan tidak senang melihat
kelebihan, keuntungan atau keberhasilan orang lain. Kata lain yang bisa
disamakan dengan kata iri hati ini adalah sirik dan dengki. Karena sifat saling
mengiri ini maka semua kepiting diatas mengakhiri hidup mereka dipanci yang
sama. Perasaan iri hati tidak akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Firman
Tuhan mengatakan bahwa, "Iri hati membusukkan tulang" (Ams 14:30), bahkan
didalam ilustrasi kepiting diatas, iri hati membinasakan!
Meskipun sifat iri hati ini dapat terjadi dimanapun dan bisa dialami oleh siapa
saja, tetapi yang umum terjadi bahwa iri hati berkembang biak dengan cepat
ditempat pekerjaan atau dikantor. Bagaimana perasaan Anda ketika atasan selalu
membanggakan teman sekantor sementara Anda sendiri diremehkan padahal anda
sudah bersusah payah dan patut mendapatkan penghargaan? Atau sebaliknya anda
yang menjadi sasaran iri hati dari rekan sekerja karena Anda mendapatkan
promosi dikantor. Pernahkan Anda merasakan dimana teman sekantor melengos dan
keluar ruangan ketika anda sedang bersukacita menikmati pujian dan penghargaan
dari atasan atas hasil kerja Anda yang bagus?
Ada beberapa cara untuk menghadapi rasa iri dari teman sekerja atau dari diri
kita sendiri:
Pusatkan perhatian sebagai anggota tim.
Betapa sering kita berusaha mendapatkan promosi, kepercayaan dan pujian dari
atasan yang membuat kita lupa terhadap teman-teman kita. Tunjukkan perhatian
kepada mereka, misalnya dengan memakai kata "kami" dan bukan "saya" ketika
sedang rapat. Meskipun anda menjadi bintang dikantor, berilah pujian atas hasil
kerja teman-teman Anda. Hal ini akan menciptakan suasana yang lebih nyaman.
Tunjukkan rahasia kesuksesan Anda.
Hasil kerja yang memuaskan adalah alasan mengapa seseorang bisa mendapatkan
promosi dan kepercayaan yang lebih. Jika rekan-rekan Anda mau berusaha, mereka
pun mempunyai peluang untuk sukses.
Hadapi secara professional.
Keinginan untuk menanggapi secara negatif sifat orang yang iri hanya akan
memperparah keadaaan. Tetap lakukan pekerjaan Anda sebaik-baiknya sambil terus
mendoakan rekan Anda agar Tuhan mengubahkannya.
Percaya pada kasih dan keadilan Tuhan.
Setiap orang memiliki berkat masing-masing dan peninggian dari Tuhan pada
waktunya, sesuai usaha dan kelayakan setiap orang. Jadi, jangan iri pada berkat
dan keberhasilan orang lain. Jika Anda bekerja dengan baik dan setia, Tuhan
akan memperhitungkan dan meninggikan Anda pada waktunya (Mat 23:12).
DOA:
Terangilah hati kami Tuhan sehingga kami tidak membiarkan perasaan iri
bertumbuh didalamnya. Terpujilah namaMu, dalam Nama Tuhan Yesus aku memohon.
Amin.
KATA-KATA BIJAK:
Rasa iri seperti peluru nyasar yang ditembakkan kepada orang lain, tetapi
berbalik melukai diri si penembak.