Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney tgl
15 Juni 2008
RAHASIA HIDUP BERKEMENANGAN-1
oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
(gembala sidang GRII Sydney yang meraih gelar Sarjana Theologi dari Seminari
Alkitab Asia Tenggara—SAAT Malang)
Nats: 2 Kor.4:1-2,7-12, 2 Kor.1:8« Hide
“Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini, karena itu kami
tidak tawar hati.” (2Kor. 4:1) “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah
liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah,
bukan dari diri kami.” (2Kor. 4:7)
Saudara masih ingat bagaimana Paulus dalam 2Kor. 1:8 begitu jujur mengaku
padahal pengakuan ini mengandung resiko yang besar. Paulus seorang hamba Tuhan
yang besar, seorang yang dipakai oleh Tuhan, namun dengan jujur berani
mengatakan ekspresi hatinya, bahwa di dalam pelayanannya kesulitan dan
tantangan yang dia hadapi itu berat luar biasa, dia tidak malu berkata bahwa
dia telah putus asa. Sebagai manusia kita menghadapi tantangan kesulitan,
adalah lumrah kita merasa tidak kuat. Karena kita bukan robot, kita kadang
merasa begitu putus asa menghadapi kesulitan hidup.
Namun di pasal 4 Paulus menyatakan kalimat yang seolah-olah paradoks dan
bertentangan dengan feeling yang dia nyatakan tadi. Dia mengatakan, meskipun
kami ditindas, dianiaya, dihempaskan, kami tidak merasa tersendiri. Di dalam
segala hal kami mengalami tantangan namun kami tidak putus asa.
Bagaimana bisa di dalam saat yang sama dia dengan jujur berkata telah putus
asa dan juga berkata dia tidak putus asa? Dia bukan bertentangan di sini,
tetapi melalui pernyataannya mari kita belajar beberapa hal yang menarik
mengapa sampai dia seperti itu. Sama seperti buah olive yang ketika ditekan dan
diperas namun dengan segala cara akhirnya dia mengeluarkan minyak. Di dalam
situasi yang berat itu Paulus telah putus asa tetapi dia tetap berusaha mencari
jalan. Ini hidup kita. Ini realita kita. Apakah kita sanggup berani bisa
mencari jalan untuk bisa keluar, walaupun di tengah-tengah hal itu kita
tersendiri, kita sanggup bisa keluar menyatakan kekuatan dan penghiburan bagi
diri sendiri? Pada waktu saudara dan saya ditinggalkan, berada di dalam kondisi
seperti ini, kekuatan yang besar yang paling penting di situ adalah sanggupkah
kita mencari jalan?
Pada waktu anak kita mengalami kesulitan, apakah kita mengeluarkan
kalimat-kalimat seperti ini bagi dia? Kadang sebaliknya yang keluar dari mulut
kita adalah sikap menyalahkan dia, bukan mengajaknya mencari jalan keluar. Saya
percaya kalimat ini adalah kalimat yang paling indah keluar dari mulut kita
memberikan pengharapan kepadanya. Bagi saya, itu yang membuat hidup Paulus
menjadi hidup yang berkemenangan. Kami telah putus asa, tetapi di tengah-tengah
itu dia mengatakan kami tidak putus asa, kami sanggup untuk mencari jalan, kami
meng-encourage diri kami sendiri. Seringkali pada waktu kita menghadapi
tantangan dan kesulitan, kita mengharapkan ada orang lain yang bisa bersimpati
dan memberi caring kepada kita. Tetapi jujur kadang kita tidak mendapatkan hal
seperti itu, bukan?
Harus cari jalan keluar. Artinya, saudara dan saya tidak bisa tenggelam
terus. Ada fakta realita penderitaan dan kesulitan yang secara ukuran standar
kekuatan kita mungkin kita rasa tidak sanggup. Tetapi di dalam tekanan dan
tindisan yang berat itu Paulus bisa mencari jalan keluar dan mengatakan ‘saya
tidak putus asa.’ Maka saya mengatakan seperti ini kepada anak muda, “Failure
is not falling down but failure is staying down.” Kegagalan terjadi waktu kita
tetap terus tidak mau bangun pada waktu kita sudah jatuh.
Dietrich Bonhoeffer di dalam surat-suratnya dari penjara mengatakan
kalimat-kalimat yang begitu luar biasa. “Pada waktu aku begitu tersendiri, aku
tidak tahu kepada siapa harus mendapatkan pertolongan dan kekuatan. Itu sebab
aku mengarahkan mataku dan melihat pengharapan dari Tuhan yang memberikan
kekuatan kepadaku.”
Sama seperti Viktor Frankl yang juga di dalam camp konsentrasi bisa
mengeluarkan kalimat ini, “Nazi bisa mengambil kebebasan fisikku, tetapi Nazi
tidak bisa memenjarakan hatiku yang penuh dengan pengharapan.”
Pada waktu kita berada di dalam keadaan tersendiri, gampang sekali di tengah
kesulitan dan himpitan itu kita mungkin bisa mempersalahkan orang lain. Tetapi
pada waktu kita mempersalahkan orang lain, apakah kemudian itu sanggup menolong
kita keluar dari kesulitan? Paulus mencari jalan keluar sendiri untuk bisa
mendapatkan penghiburan itu di hadapan Tuhan.
Saya mengajak saudara melihat dua bagian ayat yang penting di dalam
Perjanjian Lama. Pertama, di dalam Mzm. 73 yang merupakan mazmur pergumulan
orang benar yang bertanya di hadapan Tuhan, mengapa nasib orang yang sudah
berjalan dengan tulus, jujur dan bersih di hadapan Tuhan justru hidupnya jauh
lebih sengsara dan jauh lebih sulit dibandingkan dengan orang fasik yang
hidupnya tidak jujur bahkan tidak mempedulikan Tuhan? “I’m bitter o Lord,” itu
seruan Asaf kepada Tuhan. Menghadapi kesulitan yang begitu berat, aku telah
putus asa.
Yang kedua, kisah seorang bernama Yabes yang terdapat di dalam 1Taw. 4:9-10.
Nama Yabes diberikan oleh ibunya karena kepahitannya. Kita tidak tahu apa yang
menjadi bitterness dan sorrow dari ibu Yabes. Mungkin waktu mengandung anak
ini, suaminya meninggal. Mungkin waktu mengandung anak ini, usahanya hancur.
Mungkin waktu mengandung anak ini suaminya meninggalkan dia. Atau mungkin waktu
melahirkan anak ini dia mengalami penderitaan fisik yang luar biasa sehingga
dia tidak ingin melupakan penderitaan dan kepahitan yang menimpanya. Dan untuk
selalu mengingat penderitaan itu, dia memberi nama “Yabes” kepada anaknya.
Yabes artinya sorrow, bitter and pain. Setiap kali memanggil nama Yabes,
kira-kira seperti memanggil anak, “Hai celaka, hai derita…” Saya percaya ada
masa dalam hidupnya, anak itu datang dan bertanya kepada ibunya mengapa memberi
nama ini kepadanya.
Apa bedanya anger dan bitterness? Anger adalah reaksi atas apa yang terjadi.
Ketika sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi, normal kita bereaksi marah.
Tetapi bitterness adalah satu perasaan marah terhadap apa yang sudah kita
alami, yang masih terus kita bawa sampai sekarang. Itulah bitterness. Kita
menjadi marah dan kecewa, ini reaksi feeling kita terhadap situasi itu, tetapi
akhirnya kita terus menjadikan pengalaman kepahitan masa lampau membuat kita
tidak pernah bangun-bangun lagi. Carilah jalan, lihatlah terang yang masih
bersinar di balik kegelapan, itu yang Paulus ajarkan kepada kita pada pagi ini.
Buang hal yang pahit yang sudah lewat, yang tidak lagi boleh menjadi penghambat
di dalam hidup kita.
Yabes bisa mempersalahkan ibunya pada waktu dia hidup di dalam penderitaan
dan kesulitan dan kegagalan. Terus celaka gara-gara nama. Mencari kambing
hitam, blame-game, itu gampang sekali. Tetapi saya ingin bertanya, apa
untungnya kalau kita salah dan gagal lalu kita mempersalahkan orang lain? Salah
satu keuntungannya mungkin hati kita bisa sedikit lebih bahagia waktu
menyalahkan orang lain, tetapi selain itu tidak ada lagi, selain kerugian yang
lebih banyak. Pada waktu kita gagal kita menyalahkan orang lain, memberi
excuses terhadap kesalahan dan kegagalan kita, kita akhirnya menjadi part of
the problem, bukan part of solution. Coba taruh attitude itu di dalam hidup
kita. Jangan terlalu cepat mempersalahkan orang, mem-blame situasi,
mempersalahkan hal yang lain, tetapi keluarkan kalimat ini, “There is still a
way,” masih ada jalan. John Andrews mengeluarkan kalimat yang indah sekali,
“Our past will always be part of our history, but it does not have to be part of
our today and our tomorrow.” Tidak ada orang yang bisa merubah masa lampaunya.
Itu akan terus menjadi bagian dari sejarah hidupnya. Tetapi kita bisa untuk
tidak membiarkan masa lampau itu meng-infeksi hidupmu sekarang dan di masa yang
akan datang. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak mungkin menghadapi
kesulitan dan tantangan. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak mungkin
mengalami depresi. Paulus sendiri menyatakan itu. Tetapi dia bisa mengajar kita
untuk keluarkan hal yang baik dari situasi seperti ini.
Tahun 1960-an dunia kedokteran melakukan kesalahan yang fatal dengan
mengeluarkan satu obat bernama thalidomide untuk meredakan “morning sickness”
yang diderita oleh ibu-ibu yang hamil. Ternyata belakangan baru diketahui efek
samping dari obat ini menyebabkan bayi-bayi yang lahir mengalami cacat tidak
punya kaki dan tangan. Ada seorang bernama Brian Gould lahir dengan cacat
seperti ini dan dia mengatakan kalimat ini, “I believe that God will use my
disabilities to help others come to faith in the God who never makes mistakes.”
Saya percaya Tuhan bisa mempergunakan kecacatan tubuh saya untuk menolong orang
bisa sampai kepada Tuhan yang tidak pernah berbuat salah di dalam segala hal.
Apakah Tuhan berbuat salah dengan menciptakan dia seperti ini? Tidak.
Seorang ibu pernah datang kepada saya dengan mencucurkan air mata, dia tidak
mengerti kenapa dia bisa mempunyai seorang anak yang tidak pernah bisa
bersyukur untuk segala yang dia miliki. Anaknya sekarang sudah besar, sudah
dewasa, tetapi tidak pernah mature seperti usianya. Dia bekerja, tidak berapa
lama kemudian meninggalkan pekerjaannya dengan mempersalahkan boss,
mempersalahkan situasi dan lingkungan. Waktu kuliah, ibunya membelikan dia
mobil bekas yang masih cukup baru, tetapi bukannya bersyukur dia malah marah
dan mengatakan kenapa dia tidak dilahirkan oleh orang tua yang kaya. Sikapnya
terus seperti itu.
Yabes bisa saja mem-blame orang tua, lingkungan dan situasi yang dihadapinya.
Demikian engkau juga bisa terus seperti itu dan tinggal di dalam keputusasaan.
Semua bisa seperti itu. Tetapi saudara dan saya tidak akan memiliki hidup
berkemenangan selamanya. Brian Gould bisa mem-blame kenapa ibunya makan obat
thalidomide. Terlalu banyak yang bisa kita persalahkan di dalam hidup ini.
Tetapi tidak ada untungnya. Dan pada waktu kita mempersalahkan orang lain
mungkin kita merasa masalah kita bisa selesai, tetapi kita kalah terus-menerus.
Hidup kita tidak akan maju.
Ini prinsip yang penting yang diajarkan Paulus dalam hidup kita, bagaimana
kita bisa membedakan antara anger dan bitterness. Kita lumrah bisa bereaksi
marah terhadap hal-hal yang menurut pikiran kita tidak seharusnya terjadi di
dalam hidup kita. Tetapi Tuhan tidak pernah menjanjikan kepada anak-anaknya
bahwa kita tidak akan mengalami penderitaan dan kesulitan dan kegagalan dalam
hidup ini sama seperti orang lain. Tetapi Dia memberikan janji dan kekuatan
bahwa kita sanggup bisa hidup berkemenangan melewati hal itu. Di mana letak
kemenangan Paulus? Dia menyatakan bahwa dia bisa meng-encourage diri sendiri.
Situasi bisa men-discourage kita, orang di sekitar bisa men-discourage hidup
kita. Bahkan you bisa men-discourage dirimu sendiri. Tetapi daripada seperti
itu, ambil keputusan untuk meng-encourage diri sendiri, no matter what. Orang
lain mau mengatakan apa, situasi begitu berat memberikan kesulitan
bagaimanapun, saya cari jalan keluar. Saya tidak putus asa. Kedua, dalam
2Kor. 4:1 Paulus mengeluarkan kalimat yang luar biasa, “By the mercy of God,
we do not lose heart.” Kami tidak kehilangan harapan. Ayat 2 menjadi dasar
mengapa sampai Paulus mengeluarkan kalimat ini. Paulus mengalami kritikan dan
fitnahan. Bahwa dia seorang yang memalsukan firman Tuhan, punya motivasi yang
tidak jujur, dia menggunakan cara-cara yang licik. Itu fitnahan yang datang
kepada dia. Dari ayat-ayat ini kita bisa menyaksikan beberapa hal. Pertama,
Paulus mengalami fitnahan seperti ini. Tetapi Paulus berani mengatakan bahwa di
hadapan Allah hati nuraninya bersih dan nanti di hari penghakiman kita akan
terbuka dengan jujur. Paulus menghadapi kritikan dan tekanan dari orang lain
terhadap dia, dia harus membuktikan bahwa semua tuduhan itu tidak benar adanya.
Dan dia mengeluarkan kalimat ini, “I do not lose heart.” Saudara dan saya di
dalam hidup ini tidak bisa immune dari kemungkinan orang memfitnah, memberi
penilaian dan perspektifnya kepada kita. Tetapi yang
hanya bisa kita lakukan adalah kita buktikan dengan kesungguhan, dengan
keberanian, dengan konsistensi bahwa apa yang dituduhkan kepada kita itu tidak
benar. Tetapi sebelum membuktikan itu, saudara jangan kehilangan aspek ini: do
not lose heart.
Banyak kali di dalam hidup kita sekarang kita dipengaruhi oleh budaya ingin
segala sesuatu dengan cepat, yang instant dan cepat membuat kita lupa bahwa
perjalanan kita harus ditempuh dan dijalani seperti seorang pelari marathon
yang membutuhkan konsistensi hidup yang terus jalan dengan teliti, dengan tulus
dan jujur, dan itu menjadi ajaran Paulus bagi kita. I do not lose heart, saya
akan membuktikan bahwa semua tuduhan orang tidak benar. Kemudian Paulus
mengatakan bagaimana dia rela menderita dan mati demi untuk Injil. Itu sudah
menjadi satu bukti yang indah bahwa dia menjalani hidup tidak seperti apa yang
mereka katakan. Namun Paulus ingatkan kita pada waktu kita menghadapi
tantangan, atau mungkin kalimat yang sangat menyedihkan dan menyakitkan dari
orang lain, do not lose heart, jangan tawar hati.
Yang terakhir, dalam pasal 3 dan 4 Paulus berulang kali menyatakan satu hal
yang bagi saya luar biasa. It is always God’s grace and it is always God’s
strength. Saya sanggup, saya mampu menghadapi segala kesulitan seperti ini
melampaui hati saya yang sudah putus asa, semuanya karena kekuatan yang Tuhan
beri. Puji Tuhan, kita memiliki Tuhan yang sanggup melampaui apa yang kita
doakan dan minta dari-Nya. Kita memiliki Tuhan yang berjanji memberikan
kekuatan untuk sanggup bisa menanggung segala beban yang ada di pundak kita.
Kita bersyukur kepada Tuhan, karena Dia adalah Gembala yang tidak pernah
meninggalkan kita sekalipun kita berjalan di dalam lembah kekelaman.
Pulang kembali lagi kepada hadirat Tuhan, pada waktu menghadapi kesulitan dan
tantangan hidup, kekuatan dan penghiburan dari Tuhan akan datang kepada kita.
Pada waktu Paulus menyatakan perasaannya dengan tulus dan jujur, “tidak ada
jalan keluar sudah, saya putus asa.” Mungkin saudara dan saya bisa bereaksi
seperti itu ketika hal yang tidak adil terjadi di dalam hidup kita. Tetapi
kalau kita berhenti, mempersalahkan situasi, menyalahkan orang lain dan tidak
berani bangkit dari situ, kita akan kehilangan kekuatan dari firman Tuhan ini.
Ditindas, ditekan, saya tidak putus asa. Hati saya tidak kehilangan kehangatan.
Ini memang disiplin yang tidak gampang.
Berapa sering di dalam pelayanan, hamba-hamba Tuhan karena tekanan dan
kesulitan dan karena pandangan orang lain akhirnya kehilangan api seperti itu?
Biarlah kita balik kembali kepada fakta ini, tidak ada seorangpun di dalam
dunia yang tidak pernah menghadapi tantangan dalam hidupnya. Yang bisa kita
kerjakan dan lakukan di dalam hidup ini adalah buktikan dengan jujur dan
konsisten bahwa kita tidak hidup seperti fitnahan dan tuduhan mereka. Yang
terakhir, semua karena anugerah Tuhan kita bisa melewati semua ini dan tidak
kehilangan harapan.
Sumber:
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/06/15/rahasia-hidup-berkemenangan-1/
"God is most glorified in us when we are most satisfied in Him"
(Rev. John Stephen Piper, D.Theol.)
---------------------------------
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.