Keabsolutan Kebenaran Alkitab Sebagai Firman Allah  Allah sendiri berfirman 
bahwa Alkitab tersebut ditulis untuk tujuan:kita dapat mengenal Allah dan 
AnakNya Yesus Kristus dengan pengenalan sejati yang mendatangkan hidup yang 
kekal (Yohanes 17:3), inilah pernyataan Diri Allah secara pribadi. Pranata, 
2002:31 memaparkan bahwa secara proposisional, Tuhan Allah menyatakan Diri-Nya 
secara verbal, melalui perkataan atau informasi yang dapat dipahami manusia. 
Ini merupakan perbuatan supranatural Allah yang menyatakan kebenaran-Nya dengan 
sifat kognitif, artinya dapat ditangkap oleh rasio manusia. Mengenai hal ini 
Arthur F. Holmes juga menerangkan dalam Segala Kebenaran Adalah Kebenaran Allah 
bahwa:
  Hubungan yang sama antara kebenaran proposisional dan kebenaran personal juga 
terlihat berkenaan dengan penyataan khusus. Kebenaran proposisional didasarkan 
pada kebenaran personal Allah. (2000:64).
   
  Siapapun yang percaya akan kemahakuasaan Allah meyakini bahwa Allah adalah 
sumber segala kebenaran tentang segala sesuatu, dan bahwa pengetahuanNya adalah 
sempurna itu merupakan sumber pengetahuan kita. Sehingga apapun yang kita kejar 
demi memperoleh kebenaran adalah bersumber daripadaNya. Hal ini memberi 
gambaran kepada kita bahwa kebenaran itu bersifat absolut dan bahwa kebenaran 
itu hanya milik Allah saja.
   
  Holmes (2000:59-60, 62, 128, 136) juga menyampaikan bahwa kebenaran bersifat 
absolut, yang artinya bahwa kebenaran itu tak dapat berubah, sekaligus bersifat 
universal, jadi selalu tetap dan tak berubah di manapun dan kapanpun. Kebenaran 
hanya milik Allah membuktikan bahwasanya kebenaran itu bersifat personal dan 
bukan bersifat otonom. Hal ini juga menjelaskan bahwa kebenaran Allah itu 
meliputi seluruh aspek rasional (nyata terlihat dalam alam semesta) maupun 
aspek kognitif manusia. Kebenaran yang dapat diperoleh manusia dari Allah itu 
bukan bersifat teoritis melainkan sangat personal, yaitu melibatkan hati dan 
pikiran manusia itu sendiri. Ini pun diungkapkan oleh David Cupples dalam 
bukunya Beriman Dan Berilmu bahwa:
   
  Allah bukan suatu obyek penelitian, begitu juga Firman-Nya. Salahlah sikap 
kita kalau kita ingin mendekati Allah dan Firman-Nya tanpa iman (Ibrani 11:6). 
Dialah Allah yang hidup, yang harus kita muliakan, percayai, dan puja. Oleh 
sebab itu, Alkitab pun sebagai Firman Allah, tidak boleh diperlakukan sebagai 
buku biasa yang hanya diteliti secara obyektif dan akademis saja. Sikap netral 
terhadap Firman Allah sama dengan sikap netral terhadap Allah sendiri. Cara 
kita meneliti Firman Allah harus sesuai dengan cara kita bersekutu dengan Allah.
   
  Dalam teknis pelaksanaannya, tidak boleh ada perbedaan mutlak antara cara 
kita mempelajari Alkitab dalam ibadah pribadi dan dalam ruang kuliah. Kapan 
saja kita membaca Alkitab, akal budi dan hati harus terlibat. Kita akan selalu 
berusaha untuk makin mengerti suatu nats Alkitab serta makin menghayati dan 
menghormati arti nats tersebut sebagai Firman yang berasal dari Allah. (1996:29)
   
  Lebih lanjut, Frame (2002:128-131) menceritakan pemikiran Cornelius Van Til 
bahwa pesan Alkitab adalah suatu pesan mengenai anugerah Allah yang mutlak 
berdaulat dan berbicara dengan otoritas mutlak juga. Karena Alkitab adalah 
Firman Allah, dalam hal ini Alkitab menyampaikan otoritas ultimat Allah yang 
bersifat inerrancy (ketidakbersalahan Alkitab) sebagai bentuk komitmen teologis 
yang berdasarkan pada Pribadi Allah dan pengajaran Alkitab. Ini berarti bahwa 
Alkitab dalam naskah dan bahasa aslinya, menyajikan pernyataan-pernyataan yang 
benar sepenuhnya, meliputi berbagai bidang di antaranya bidang iman, etika, 
sejarah, dan alam semesta.
   
  Pengilhaman Alkitab juga bersifat infallibility. Ini tercakup dalam 
kedaulatan ilahi. Allah berdaulat di dalam kekuasaan-Nya atas umat manusia yang 
rasional, yang berarti juga bahwa Ia berdaulat di dalam wahyu-Nya mengenai 
diri-Nya sendiri kepada umat manusia tersebut. Secara otomatis Allah yang 
berdaulat di dalam hal keberadaan, maka pastilah Ia juga berdaulat dalam bidang 
pengetahuan.
   
  Allah perlu mengilhamkan Alkitab sebagai Firman-Nya yang tertulis kepada 
manusia. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia tidak dapat dibiarkan 
sendiri, karena manusia berdosa ’sudah pasti akan salah menginterpretasikan’ 
tindakan-tindakan Allah yang menyelamatkan mereka itu. Oleh karena itu 
keberadaan Alkitab sangat penting, sehingga pesan Allah yang menyelamatkan 
tersebut dapat: 1) tetap ada sepanjang masa; 2) menjangkau semua umat manusia; 
3) ditawarkan kepada manusia secara obyektif; dan 4) menyaksikan kebenaran-Nya 
di dalam diri-Nya sendiri.
   
  Secara naturnya Alkitab berotoritas, yang menyampaikan klaim Allah akan 
otoritas mutlak yaitu Ketuhanan-Nya atas manusia. Dan hal itu menjadi penantang 
klaim manusia akan otonomi. Sehingga tidak ada yang bisa ditambahkan kepada 
Alkitab sebagai suatu otoritas yang setara dengan Alkitab. Di sinilah terbukti 
bahwa Alkitab memiliki kecukupan.
   
  Alkitab yang sangat jelas penyataan-Nya, membuatnya tidak memerlukan 
‘penengah’ antara Alkitab dengan penerimanya. Menyangkali kejelasan Alkitab 
berarti juga menyangkali otoritasnya. Seandainya pengajaran manusia diperlukan 
agar Alkitab bisa dipergunakan sebagaimana seharusnya, maka otoritas manusia 
tersebut menjadi otoritas ultimat di dalam gereja. Sekali lagi Alkitab tidak 
memiliki ketidakmampuan tersebut, sehingga sangat jelaslah bahwa Alkitab tidak 
memerlukan perantara agar dapat diterima targetnya.
   
  Penyataan Alkitab sendiri terhadap diri-Nya sendiri itulah yang membuatnya 
pantas untuk dipercayai. Dalam 2 Timotius 3:16; 1 Korintus 2:13 dan 2 Petrus 
1:20-21 nyata mengenai hal itu. Pengilhaman dalam penulisan Alkitab memberikan 
pengertian bahwa inisiatif penulisan itu datang dari Allah dan dikendalikan 
oleh Allah sendiri. Demikian juga bahwasanya nubuat-nubuat yang terdapat dalam 
Alkitab tidak berasal dari kehendak para penulis. Para penulis tersebut 
benar-benar hanyalah menyampaikan apa yang diperintahkan Allah (dengan gerakan 
dan kuasa dari Roh Kudus) kepada mereka sehingga mereka dikendalikan dan 
dihindarkan dari kemungkinan melakukan kesalahan pada saat menuliskannya, 
dengan tidak meninggalkan kepribadian dan gaya penulisan para penulis itu 
sendiri (Haan, 2000:7-8).
   
  Sementara itu banyak sekali penemuan sains dewasa ini yang justru mendukung 
kebenaran Alkitab. Di antaranya kebenaran mengenai penciptaan yang dibuktikan 
adanya:umur bumi yang masih muda; adanya sisa bencana air bah sebagai peristiwa 
katastropik yang mengubah seluruh kondisi fisik bumi; runutan silsilah manusia 
atas bangsa-bangsa maupun kenyataan jumlah manusia yang sekarang memenuhi bumi; 
pengkopian sifat jenis mahluk hidup; penurunan kondisi bumi dan alam semesta 
yang membawa dampak global keseluruhan aspek manusia yang sejalan dengan hukum 
termodinamika II; catatan historis atas tokoh pelaku yang terdapat dalam 
Alkitab; ketepatan, keefektifan, maupun keakuratan segala sistem yang 
dijalankan tokoh-tokoh pelaku Alkitab sebagai bentuk pengilhaman oleh Allah. 
Semuanya yang menyangkut bidang ilmu pengetahuan alam, sosial, tatanegara, 
ekonomi, sejarah, dan lainnya ini telah membuktikan kebenaran Alkitab yang tak 
terbantahkan oleh siapapun dan apapun juga. Kebenaran Alkitab
 Sebagai Firman Allah adalah Absolut.
        Perspektif Iman Kristen  Fokus utama ilmu dan iman adalah kebenaran 
yang bermuara pada Pribadi Allah sebagai sumber segala kebenaran. Kehidupan 
iman dan profesi keilmuan harus dikembangkan dalam relasi pribadi dengan Allah 
sebagai sumber kehidupan dan kebenaran. Dinyatakan dalam kehidupan yang 
bermoral, mengasihi, dan menjadi berkat bagi semua.
   
  Selanjutnya dipaparkan bahwa dalam perspektif iman Kristen, orang Kristen 
mengimani Tuhan Yesus Kristus sebagai Jalan dan Kebenaran dan Hidup (Yohanes 
14:6). Artinya, demensi iman dan ilmu dalam kehidupan seorang Kristen, dibangun 
dalam relasi pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Sebab dari sinilah kunci 
seluruh jalan keluar bagi terjadinya pemisahan atau dikotomi bangunan iman 
Kristen. Baik iman dan maupun ilmu, keduanya dihayati sebagai karunia Allah 
yang harus dikembangkan sesuai dengan kehendakNya. Karena Tuhanlah yang 
memberikan hikmat, dari mulutNya datang pengetahuan dan kepandaian (Amsal 2:6).
   
  Ilmu dalam kehidupan orang Kristen adalah sebagai ibadah dan tanggung jawab 
orang Kristen terhadap kehidupan dan alam semesta yang dikaruniakan Allah. 
Sedangkan iman Kristen yang berdasarkan Alkitab dan berpusat pada pribadi Yesus 
Kristus, menjiwai dan menjadi perspektif hidup orang Kristen terhadap realita 
hidup. Karena itu sesungguhnya iman Kristen bersifat dinamis, aktif, dan 
senantiasa relevan dengan realita kehidupan. Sebab orang Kristen yang 
sungguh-sungguh, seluruh aspek hidupnya terikat dalam relasi/persekutuan 
pribadi dengan Kristus, Penguasa alam semesta sepanjang jaman.
   
   
  Daftar Pustaka
  Cupples, David, terj. Beriman dan Berilmu. Jakarta: PT. BPK. Gunung Mulia, 
1996.
  Frame, John M. Cornelius Van Til: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya. Terj. 
Irwan Tjulianto. Surabaya: Penerbit Momentum, 2002.
  Haan II, Martin R. De. Apakah Alkitab Dapat Dipercaya (Seri Mutiara Iman). 
Terj. Okdriati Handoyo. Yogyakarta:Yayasan Gloria, 2000. 
  Herlianto. Nisbah Antara Iman Kristen Dengan Ilmu Pengetahuan, dalam Sahabat 
Gembala edisi April 1991
  Holmes, Arthur F. Segala Kebenaran Adalah Kebenaran Allah. Surabaya: Penerbit 
Momentum, 2000. 
  Little, Paul E. Akal dan Kekristenan. Terj. Inggriani Samuel. Bandung: 
Yayasan Kalam Hidup, 1999.
  Pranata S., Magdalena. Tt Integrasi Iman dan Ilmu (Bahan Referensi Pembina 
PTPAMB 1996 dan kuliah Sains Penciptaan 2001 UK. Petra Surabaya)
  Pranata S., Magdalena. Agama Kristen (Buku pegangan untuk kuliah agama 
Kristen UK Petra Surabaya) 2002.
  Tong, Stephen. Iman, Rasio, dan Kebenaran. Jakarta: Institut Reformed dan 
Stephen Tong Evangelistic Ministries International, 1996.
   
   
  Sumber: http://www.tiranus.net/?cat=5
   
   
   
   
  Profil Penulis:
  Anna Mariana Poedji Christanti, S.Si., M.Si., M.A. adalah dosen Sains 
Penciptaan di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Beliau menamatkan studi 
Master of Arts (M.A.) di Institut Alkitab Tiranus, Bandung.
   
   
   
  Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio


"God is most glorified in us when we are most satisfied in Him" 
(Rev. John Stephen Piper, D.Theol.)




       
---------------------------------
  Dapatkan alamat Email baru Anda!  
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!

Kirim email ke