From: rm_maryo 

"Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi"(Yer 13:1-11; Mat 13:31-35)

"Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal 
Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di 
ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi 
apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, 
bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada 
cabang-cabangnya." 
Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga 
itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung 
terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya." Semuanya itu disampaikan Yesus 
kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak 
disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh 
nabi: "Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal 
yang tersembunyi sejak dunia dijadikan."(Mat 13:31-35), demikian kutipan Warta 
Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
. Sperma begitu kecil dan tak mungkin terlihat oleh mata telanjang, namun 
begitu bertemu dengan sel telor, membuahi, dalam waktu kurang lebih sembilan 
bulan telah menjadi `anak manusia' dengan berat kurang lebih 4 (empat) 
kilogram. Itulah salah satu karya agung Tuhan
Pencipta, Tuhan yang meraja, dan demikian pula adanya tentang Kerajaan Tuhan/ 
Sorga. Kerajaan Sorga atau Kerajaan Tuhan berarti Tuhan yang meraja atau 
berkuasa. Sebagai murid atau orang Kristen atau Katolik di Indonesia kiranya 
kita boleh dikatakan `kecil' dalam hal jumlah atau kuantitas. Namun hendaknya 
tidak menjadi takut atau gentar untuk bersaksi sebagai murid Yesus Kristus atau 
menghayati iman kita dalam hidup sehari-hari. Jika kita sungguh dirajai atau 
dikuasai Tuhan, artinya hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan dengan 
mentaati dan melaksanakan sabda-sabdaNya atau meneladan cara hidup dan
cara bertindak Yesus, maka percayalah bahwa akan semakin banyak orang bergabung 
dengan kita, semakin banyak orang lebih beriman. Kita juga dipanggil sebagai 
`ragi', yang fungsinya antara lain membuat enak dan bahagia apapun atau 
siapapun yang kita datangi atau bergaul dengan kita. Maka baiklah kita mawas 
diri apakah selama ini kehadiran atau
sepak terjang kita membuat lingkungan hidup semakin enak dan membahagiakan 
untuk didiami dan semua orang yang menerima dampak cara hidup atau cara 
bertindak kita semakin bahagia, damai sejahtera dan selamat? Ingatlah dan 
hayatilah bahwa kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan, 
yang berarti kemanapun pergi dan dimanapun kita berada senantiasa menyelamatkan 
dan membahagiakan: membuat yang tidak selamat menjadi selamat, yang tidak 
bahagia menjadi bahagia, yang tidak bergairah menjadi bergairah, yang sakit 
sembuh, yang malas rajin, dst.. "Veni, vidi, vici" ( =Aku datang, aku melihat, 
aku menang), tentu saja menang atas setan, kejahatan dan kebejatan moral. 

. "Bangsa yang jahat ini, yang enggan mendengarkan perkataan-perkataan-Ku, yang 
mengikuti kedegilan hatinya dan mengikuti Tuhan lain untuk beribadah dan sujud 
menyembah kepada mereka, akan menjadi seperti ikat pinggang ini yang tidak 
berguna untuk apa pun"
(Yer 13:10), demikian kutipan firman Tuhan melalui nabi Yeremia kepada 
bangsanya, kepada kita semua. Ikat pinggang antara lain berfungsi untuk 
membantu penampilan diri yang lebih menarik dan menawan. Maka jika dikatakan 
bahwa `bangsa yang jahat bagaikan ikat pinggang yang tidak berguna untuk 
apapun', dengan demikian akan dibuang ke tempat
sampah alias menjadi sampah, menjadi orang yang tidak menarik dan menawan 
melainkan yang menjengkelkan dan membuat busuk lingkungan hidup. Marilah 
menjadi `ikat pinggang' yang baik, artinya kehadiran dan sepak terjang kita 
kapanpun dan dimanapun semakin membuat menarik dan menawan bagi lingkungan 
hidup serta siapapun yang ada di dalamnya.

Menarik bukan karena kecantikan atau ketampanan tubuh, kekayaan, pakaian, 
pangkat dan kedudukan, melainkan karena kita adalah orang yang baik, suci dan 
rendah hati, sebagai-mana terjadi dalam diri Bunda Maria, teladan hidup beriman 
bagi kita semua. Banyak datang untuk berdoa, memuji dan memuliakan Tuhan dengan 
berziarah di tempat suci, seperti tempat peziarahan Bunda Maria, sebagaimana 
terjadi di Lourdes serta tempat-tempat peziarahan lainnya. Sepulang dari 
ziarah, berdoa di hadapan Bunda Maria, banyak orang semakin diteguhkan dan 
dikuatkan iman dan panggilan hidupnya, disembuhkan dari aneka macam bentuk 
penyakit , dst. Kita semua dipanggil untuk meneladan Bunda Maria, dimana antara 
lain semakin banyak orang "mendatangi' kita dan setelahnya digairahkan hidup, 
iman dan panggilannya atau disembuhkan dari berbagai macam penyakit yang 
disandangnya. 

"Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan 
Tuhan yang melahirkan engkau. Ketika TUHAN melihat hal itu, maka Ia menolak 
mereka, karena Ia sakit hati oleh anak-anaknya lelaki dan perempuan" (Ul 
32:18-19). 

Jakarta, 28 Juli 2008 
======================================================
From: "Hadi Kristadi" <[EMAIL PROTECTED]>

 A Junction Boy - Proyek Membagikan Alkitab oleh Seorang Anak Umur 6 Tahun

 
Terinspirasi oleh mimpi ilahi, seorang anak dari kota Junction mengirimkan 
Alkitab-Alkitab kepada para korban Topan Katrina - Oleh Herb Brock - Penulis di 
kota Junction.

Para pengungsi akibat kunjungan topan Katrina yang melanda Gulf Coast telah 
menerima berton-ton makanan dan bergalon-galon air minum dari pemerintah dan 
organisasi-organisasi sosial. Namun beberapa ratus dari antara mereka telah 
menerima kiriman makanan rohani juga. Dan makanan rohani itu datangnya dari 
sumber yang unik: seorang anak laki-laki berusia 6 tahun dari kota Junction 
yang bertindak berdasarkan ilham dari mimpi ilahi. "Tuhan mengatakan kepada 
saya dalam suatu mimpi untuk menolong (para pengungsi)," kata Tyler Mattingly.

Ibunya, Jody Mattingly, menjelaskan lebih lanjut. "Tyler bangun pada suatu pagi 
hari dan menceritakan bahwa Tuhan telah berkata kepadanya dalam suatu mimpi,"  
katanya. "Tyler berkata bahwa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa topan itu 
seperti seorang kaya yang telah mengambil semua harta benda  orang miskin. 
Tuhan berkata bahwa Tyler perlu menjadi seperti seekor anjing dan menjilati 
luka-luka orang miskin itu. Tetapi Tuhan memiliki misi di dalam pikiran-Nya 
bagi Tyler yang melampaui sekedar menjilati luka-luka, atau bahkan 
membagi-bagikan makanan dan minuman bagi para pengungsi," kata Nyonya Mattingly.
 "Tyler berkata bahwa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa Tyler harus menyediakan 
sesuatu yang lebih dari pada makanan dan minuman. Ia ingin agar Tyler 
menyediakan Firman-Nya kepada para pengungsi itu," kata Nyonya Mattingly lebih 
lanjut.

Dengan nasihat dari ibunya dan ayahnya, Robbie Mattingly, Tyler dengan segera 
mulai bekerja untuk mewujudkan impian itu menjadi kenyataan, mengubah perintah 
Tuhan dalam mimpinya menjadi tindakan nyata. "Tyler bertanya kepada Opanya, Jim 
Cutter, dari kota Junction,  apakah gerejanya, Pleasant Run Baptist, dapat 
menyumbang Alkitab-Alkitab," kata Jody Mattingly. "Ia
kemudian mengontak pendeta kami (Pendeta David Fralix dari New Hop Baptist 
Church), apakah ia mau menyumbang hal yang sama."

Alkitab-Alkitab mulai berdatangan begitu perkataan misi Tyler mendatangi gereja 
demi gereja, komunitas demi komunitas dan dari tetangga ke tetangga.
Alkitab-Alkitab datang sebanyak 800 buah dalam tempo beberapa minggu saja.
Dan Alkitab-Alkitab itu bukan saja datang dari gembala gereja atau anggota 
gereja saja, namun juga dari individu-individu yang bukan anggota gereja.

"Pada suatu hari seorang pria dengan sepeda motor datang ke rumah kami dan 
bertanya, 'Apakah di sini tempat tinggal Tyler?'" kata Jody. "Ia membawa dua 
kotak  penuh berisi Alkitab. Dan seorang tetangga yang tidak suka pergi ke 
gereja membeli lima Alkitab baru dan membawanya kepada Tyler," katanya lagi.
Selain itu, para guru dan murid-murid di sekolah Tyler, Danville Christian 
Academy, juga telah menyumbangkan banyak Alkitab. Suatu kotak khusus telah 
disediakan di gang menuju aula sekolah itu tempat menyimpan Alkitab yang 
disumbangkan. "Alkitab-Alkitab itu masih datang, dan kami telah membagikannya 
pada beberapa minggu terakhir ini," kata Mattingly.
Alkitab-Alkitab itu telah dikirim ke dua tempat, sebuah gereja di daerah Gulf 
Coast di selatan Alabama dan sebuah sekolah di Houston,  Texas, dimana banyak 
tinggal pengungsi dari daerah Gulf Coast di Lousiana. "Untuk memberikan 
gambaran kepada anda tentang besarnya proyek ini, dalam salah satu pengiriman, 
Pendeta David Fralix dan Robbie membawa 327 Alkitab ke gereja di Alabama itu." 
kata Jody.

Tuhan telah memberi mereka karunia-karunia yang unik. Jody berkata bahwa ia dan 
suaminya percaya bahwa Tyler dan dua puteranya yang lain, Jesse (12 tahun) dan 
Jake (6 bulan), masing-masing memiliki karunia-karunia yang istimewa yang 
diberikan kepada mereka dari Tuhan. Ia berkata bahwa karunia yang dimiliki 
Tyler nampaknya "kepekaan" dan "kerohanian" yang merupakan karunia yang tak 
lumrah bagi seorang anak seusianya, karunia-karunia yang
telah diperlihatkan melalui proyek Alkitab ini.

Tyler itu seperti anak-anak laki-laki seumurnya. Ia suka main "flag football" 
(semacam permainan rugby bagi anak-anak) dan T-Ball (semacam permainan 
baseball) dan ia suka main video games, dan seperti kebanyakan anak-anak 
laki-laki, ia juga bisa nakal," kata Jody. "Tetapi ia juga merupakan seorang 
anak yang sensitif, selalu," katanya. "Ia banyak
memikirkan tentang setiap orang dan setiap hal.  Ketika kami melewati daerah 
bencana, ia mengkhawatirkan orang-orang yang terkena bencana dan berdoa bagi 
mereka," katanya. "Memang, topan Katrina telah menyebabkan kerusakan yang 
besar, dan anak saya, Tyler, telah berdoa bagi orang-orang di daerah Gulf Coast 
itu. Tetapi ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari hanya 
berdoa saja. Ia memutuskan, oh bukan, Tuhan memutuskan baginya untuk membagikan 
firman Tuhan kepada para korban topan Katrina itu. Proyek ini telah 
menggerakkan seluruh keluarga kami. Sangat mengagumkan melihat bagaimana Tuhan 
telah bekerja melalui Tyler."

Tetapi proyek Alkitab ini bukanlah pertama kalinya Tyler memperlihatkan 
kepekaan dan kerohaniannya serta menggerakkan seluruh keluarga. "Alasan mengapa 
kami pergi ke gereja beberapa tahun yang lalu juga karena Tyler," kata Jody. 
"Dulu ia mulai bertanya soal-soal kerohanian, tentang Tuhan dan malaikat dan 
kehidupan dan hal-hal semacam itu. Robbie dan saya tidak dapat menjawab 
pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu kami memutuskan bahwa gereja adalah tempat yang 
dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Tyler.  Tetapi dalam proyek
Alkitab ini, Tyler menjadi orang yang membawa jawaban - jawaban terhadap sebuah 
impian, suatu tanggapan terhadap misi khusus yang ia dan ibunya percaya 
datangnya langsung dari Tuhan.

 (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. 
Sumber asli dalam Bahasa Inggeris: Kiriman Email dari Ibu Suharti 
Ali)================================================
From: "rudi mulia" <[EMAIL PROTECTED]>

Soal Game dan Makanan Sehat

Kita sedang berlomba dengan media. Kalau saya tanya, berapa skor antara 
keluarga dan media dalam berkomunikasi dengan anak-anak? Mungkin kalah telak. 
Jika media yang
menonjolkan kekerasan dan seks menjadi konsumsi anak-anak kita, maka suara
firman Tuhan makin lama akan makin redup bahkan padam.
(Pdt. Marthin Elvis, saat mengajar di Institut Konseling LK3 tahun 2005)

Sejak game anak-anak berkembang sedemikian rupa, kami berjuang bagaimana 
mendisiplin
anak-anak kami sehingga mereka tidak kecanduan game. Kami banyak membaca dampak 
negatif game. Kami tidak ingin hal itu menimpa mereka. Karena itu, kami mencoba 
berbagai cara, evaluasi, coba yang lain, evaluasi; demikian seterusnya. Mungkin 
nampaknya tidak begitu konsisten, tetapi kami coba terus. 

Salah satu cara kami adalah membatasi waktu main dan menonton mereka. Kalau 
sudah main game di depan TV, menonton film dibatasi atau ditiadakan. Untuk itu, 
kami berusaha mencari mainan pengganti. Kami juga menyeleksi game.
Ada game yang hanya untuk Jo (12 tahun), ada game yang bisa mereka mainkan 
berdua (Jo dan Je 8 tahun). Hal lain yang kami lakukan adalah mengharuskan 
mereka mengerjakan tugas sekolah atau membaca buku sebelum main game. Salah 
satu cara adalah dengan menyuruh anak-anak sendiri (bukan mbak) membereskan 
mainannya. Kalau mereka lalai, saya yang bertugas; itu berarti saya akan 
menyimpan PlayStation atau GameBoy itu beberapa hari. Kami juga mengharuskan 
anak-anak minta izin bermain (khususnya game) atau menonton TV; tidak boleh 
begitu saya menyalakan TV. Jadi, saya bisa memberi waktu sejenak, melihat 
tontonan mereka - saya menggunakan parental lock untuk TV. Ini semua kami 
sepakati di awal, termasuk semua sanksi.

Kalau libur seperti sekarang, mendisiplin ini jadi lebih sulit karena anak-anak 
punya banyak waktu.
Saya senang kalau teman-temannya (anak-anak tetangga) main di rumah. Walaupun 
itu membuat rumah saya seperti kapal pecah, saya tidak keberatan; karena untuk 
sementara perhatian anak-anak pada game dan TV bisa dialihkan. Mereka main 
petak umpet, sepeda, main air, dsb. Habis main, teman-teman pulang. Anak-anak 
mandi, duduk manis membaca atau main catur. Giliran saya membereskan rumah 
(mereka membantu di sana-sini). Peraturan lain yang berlaku jika libur adalah 
sebelum main (apa pun) harus mandi, sarapan, sikat gigi, baca Alkitab. "Jangan 
beri mama kesempatan atau alasan untuk melarang kalian main," kata saya. 

Beberapa hari lalu Jo minta izin main PS. 
"Sudah lakukan tugas minimal?" tanya saya. 
"Aduh! Aku sebel, deh sama Mama. Selalu itu yang dibilang kalau kami mau main 
game!" jawab Jo. 

"Kalian sudah tahu peraturan. Berusahalah lakukan apa yang baik untuk kalian, 
jangan apa yang enak saja," saya mengulangi kalimat yang sudah berulangkali 
saya katakan. Walaupun agak bersungut, anak-anak tetap melakukan hal-hal dasar 
itu.

Dari usaha-usaha mendisiplin yang kami lakukan beberapa tahun terakhir ini 
terhadap game
anak-anak, saya mendapat salah satu "benefit" beberapa minggu lalu. Ceritanya 
begini.

Sejak di kelas 3, Moze saya ikutkan jemputan. Yang membantu kami dalam hal ini 
adalah seorang tetangga, ibu Mung. Suatu kali, ibu ini "curhat" ke Moze tentang 
salah seorang keponakannya yang mulai nakal. Keponakan ini seorang remaja, 
malas sekolah, kerjanya main game terus. Nggak bisa dibilangin oleh ibunya yang 
single parent.

"Oh, kalau begitu gampang, Tante," kata Moze menanggapi. "Diambil saja PS-nya, 
simpan. Kalau mau nonton, satu jam saja. Seperti Papa-Mamaku di rumah. Kalau 
aku nggak belajar atau malas sekolah, PS-ku disimpan."

Ibu Mung datang dengan ibu si remaja beberapa hari kemudian untuk konseling. 
Dia menyatakan kekagumannya atas anjuran Moze. Kami mendengar cerita Ibu Mung 
sambil terbahak-bahak. Surprise juga, karena Moze tidak cerita apa pun tentang 
hal itu pada kami. Rupanya cara-cara kami selama ini, walaupun pada waktu 
melakukannya anak-anak sedikit bersungut, cukup membekas dalam hati Moze. Kalau 
dia menyampaikan pengalamannya pada orang lain, itu berarti disiplin kami masuk 
dalam hatinya. Jadi, jangan ragu mendisiplin anak. Yang penting, kita menjaga 
konsistensi dan menyediakan alternatif kegiatan bagi mereka. 

Menolong Anak Hidup Sehat

Beberapa hari lalu saya menelepon seorang teman. Dia ini dokter yang 
memperdalam ilmunya di bidang gizi. Saya menelepon dengan maksud menegaskan 
topik dan sasaran yang akan dibawakannya di Institut Konseling  LK3. Tidak 
disangka, pembicaraan kami menjadi panjang dan saya mendapatkan hal-hal baru di 
dalamnya. Topik yang akan dibawakan dokter Nani adalah "Memotivasi Anak Gemar 
Makanan dan Gaya Hidup Sehat". Dia bisa tangkap topik ini tapi kurang sreg 
dengan rumusan kalimatnya. "Silakan dimodifikasi,
Bu," kata saya, "asal intinya tidak berubah." 

Kemudian dokter Nani mengungkapkan bahwa topik ini sudah menjadi pergumulannya 
sekian lama. Dia sangat ingin mendorong para orangtua untuk tidak putus asa dan 
terus
melatih anak-anaknya makan secara sehat. "Dasarnya adalah kesadaran kita bahwa
anak itu adalah anak-anak Tuhan yang Dia titipkan pada kita," katanya, "Karena 
itu, kita tidak boleh sembarangan memperlakukan anak, termasuk dalam memberi 
makanan." Dari percakapan itu saya mencatat beberapa hal di bawah ini dangan 
penambahan di sana-sini. Kebanyakan orangtua mengerti bahwa anak-anak harus 
diajari kenal Tuhan, baca Alkitab, ke sekolah minggu, sampai menerima Kristus 
secara pribadi. Tetapi mereka tidak memikirkan hal yang juga sangat penting: 
MAKANAN. Bagaimanapun, makanan yang baik dan sehat akan menolong anak hidup 
dengan lebih baik, khususnya di masa depan. Bagaimana anak hidup di masa depan 
sangat tergantung pada cara kita melatih dia sewaktu kecil. Yang dimaksud bukan 
hanya mutu makanan, melainkan juga waktu pemberian dan cara pemberian.

Misalnya anak bayi sampai usia 6 bulan seharusnya hanya mendapatkan ASI. Kalau 
ini
sulit, bisa ditambahkan susu formula. Mulai bulan ketujuh anak diberi berbagai 
makanan tambahan menurut bimbingan dokter anak. Beberapa anak akan sulit makan 
pada bulan-bulan ini dan seterusnya. Ada anak tidak bisa makan makanan padat. 
Supaya mudah, oleh
orangtua diberi makanan cair/susu, padahal usianya tidak pada tahap itu. Anak 
lain minum susu di botol sampai sekolah (TK). Padahal anak-anak membutuhkan 
botol susu hanya sampai usia 2 tahun. Secara natural, anak-anak ingin makan 
sendiri sejak usia 8-9 bulan. Seharusnya sejak usia itu orangtua melatih 
anaknya untuk makan sendiri. 

Kalau anak sulit makan waktu usia 1-2 tahun, kemudian menjadi mudah di usia 3 
tahun ke atas, biasanya orangtua cenderung memberikan apa saja yang anak mau. 
Ini juga salah. Anak mesti diajari disiplin makan. Porsi yang secukupnya dengan 
ada selang waktu 2-3 jam. Saya (Roswitha) pernah hampir terjebak dalam pola 
demikian untuk Moze, anak saya yang berusia 8 tahun. Setelah 5 tahun hanya mau 
sawi rebus/tumis tanpa daging/telur dan apa
pun, Moze menjadi kekurangan kalsium dan gizinya tidak seimbang. Maka, saya 
mulai lagi membimbingnya makan (sampai menyuapinya) dengan variasi sayur dan 
daging giling. Setelah 2-3 bulan, Moze bisa makan sendiri dengan daging giling.
Karena sangat senang, saya mengizinkan dia makan, makan, dan makan. Berat 
badannya bertambah dalam waktu singkat. Dokter Nani mengingatkan saya, 
bagaimanapun, waktu makan harus diatur. Selain waktu makan dan cara pemberian, 
mutu makanan juga harus
diperhatikan. Anak-anak jangan hanya diberi susu jika sudah tiba masanya harus 
dilatih dengan makanan padat. Kalau sudah besar, akan terlambat. Anak-anak 
tertentu bahkan muntah jika diberi nasi dan lauk-pauknya. Kita harus berusaha 
memberi anak makanan sehat dan sempurna, jangan makanan olahan yang tinggal 
goreng. Ini memerlukan latihan, baik bagi orangtua, terlebih untuk anak-anak. 

Saya teringat kata-kata Dr Wimpie Pangkahila dalam suatu seminar di LK3, 
"Makanan olahan akan meningkatkan kadar estrogen pada manusia. Kalau anak-anak 
sebelum remaja sering-sering makan yang demikian, yang putri cepat menstruasi 
(dan cepat menopause), sedangkan anak pria akan kewanita-wanitaan."Kalau bicara 
soal parenting, saya selalu mengingatkan diri saya bahwa apa yang saya lakukan 
sekarang, melatih anak-anak saya, akan berguna bagi mereka di masa depan. Saya 
bilang pada Jo dan Moze, "Kalau kalian makan dan hidup secara sehat mulai 
kecil, menantu dan cucu mama akan sangat berbahagia; karena mereka punya suami 
dan ayah yang sehat dan tidak cepat sakit. Bayangkan saja kalau 20 tahun 
mendatang kalian sudah kena penyakit diabetes, asam urat, belum lagi jika kena 
kanker akibat cara hidup yang sembarangan ... alangkah kasihan anak dan istri 
kalian. Uang kalian nanti akan habis untuk obat dan rumahsakit."

Kalimat-kalimat ini saya sampaikan berkali-kali pada anak-anak untuk mendorong 
mereka hidup sehat, menghindari junk food. Anak-anak saya suka mi instan, 
kentang goreng, dsb. Saya membatasi mi instan sekali dua minggu satu bungkus. 
Saya goreng kentang asli yang saya beli di pasar. Saya membuat sendiri chicken 
nugget untuk bekal Jo ke sekolah. (*)

Motto: Orang Bijak Peduli Konseling
Kami senang jika anda bergabung dengan kami komunitas peduli konseling. 
Kunjungi kegiatan kami di www.peduli konseling.or.id
Kursus Konseling Reguler Jakarta, setiap Rabu pkl. 10-14 di Landmark Building 
mulai bulan Agustus - November.

Bersama Pdt. Julianto Simanjuntak & Tim.
Info & Pendaftaran: 
Kantor LK3 021.5608477, 5636815. Fax 021.5644129 (Selasa-Sabtu 9am-5pm)
Rudi Mulia 087877179387

Kirim email ke