From: rm_maryo "Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi"(Yer 13:1-11; Mat 13:31-35)
"Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya." Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya." Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: "Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan."(Mat 13:31-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Sperma begitu kecil dan tak mungkin terlihat oleh mata telanjang, namun begitu bertemu dengan sel telor, membuahi, dalam waktu kurang lebih sembilan bulan telah menjadi `anak manusia' dengan berat kurang lebih 4 (empat) kilogram. Itulah salah satu karya agung Tuhan Pencipta, Tuhan yang meraja, dan demikian pula adanya tentang Kerajaan Tuhan/ Sorga. Kerajaan Sorga atau Kerajaan Tuhan berarti Tuhan yang meraja atau berkuasa. Sebagai murid atau orang Kristen atau Katolik di Indonesia kiranya kita boleh dikatakan `kecil' dalam hal jumlah atau kuantitas. Namun hendaknya tidak menjadi takut atau gentar untuk bersaksi sebagai murid Yesus Kristus atau menghayati iman kita dalam hidup sehari-hari. Jika kita sungguh dirajai atau dikuasai Tuhan, artinya hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan dengan mentaati dan melaksanakan sabda-sabdaNya atau meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus, maka percayalah bahwa akan semakin banyak orang bergabung dengan kita, semakin banyak orang lebih beriman. Kita juga dipanggil sebagai `ragi', yang fungsinya antara lain membuat enak dan bahagia apapun atau siapapun yang kita datangi atau bergaul dengan kita. Maka baiklah kita mawas diri apakah selama ini kehadiran atau sepak terjang kita membuat lingkungan hidup semakin enak dan membahagiakan untuk didiami dan semua orang yang menerima dampak cara hidup atau cara bertindak kita semakin bahagia, damai sejahtera dan selamat? Ingatlah dan hayatilah bahwa kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan, yang berarti kemanapun pergi dan dimanapun kita berada senantiasa menyelamatkan dan membahagiakan: membuat yang tidak selamat menjadi selamat, yang tidak bahagia menjadi bahagia, yang tidak bergairah menjadi bergairah, yang sakit sembuh, yang malas rajin, dst.. "Veni, vidi, vici" ( =Aku datang, aku melihat, aku menang), tentu saja menang atas setan, kejahatan dan kebejatan moral. . "Bangsa yang jahat ini, yang enggan mendengarkan perkataan-perkataan-Ku, yang mengikuti kedegilan hatinya dan mengikuti Tuhan lain untuk beribadah dan sujud menyembah kepada mereka, akan menjadi seperti ikat pinggang ini yang tidak berguna untuk apa pun" (Yer 13:10), demikian kutipan firman Tuhan melalui nabi Yeremia kepada bangsanya, kepada kita semua. Ikat pinggang antara lain berfungsi untuk membantu penampilan diri yang lebih menarik dan menawan. Maka jika dikatakan bahwa `bangsa yang jahat bagaikan ikat pinggang yang tidak berguna untuk apapun', dengan demikian akan dibuang ke tempat sampah alias menjadi sampah, menjadi orang yang tidak menarik dan menawan melainkan yang menjengkelkan dan membuat busuk lingkungan hidup. Marilah menjadi `ikat pinggang' yang baik, artinya kehadiran dan sepak terjang kita kapanpun dan dimanapun semakin membuat menarik dan menawan bagi lingkungan hidup serta siapapun yang ada di dalamnya. Menarik bukan karena kecantikan atau ketampanan tubuh, kekayaan, pakaian, pangkat dan kedudukan, melainkan karena kita adalah orang yang baik, suci dan rendah hati, sebagai-mana terjadi dalam diri Bunda Maria, teladan hidup beriman bagi kita semua. Banyak datang untuk berdoa, memuji dan memuliakan Tuhan dengan berziarah di tempat suci, seperti tempat peziarahan Bunda Maria, sebagaimana terjadi di Lourdes serta tempat-tempat peziarahan lainnya. Sepulang dari ziarah, berdoa di hadapan Bunda Maria, banyak orang semakin diteguhkan dan dikuatkan iman dan panggilan hidupnya, disembuhkan dari aneka macam bentuk penyakit , dst. Kita semua dipanggil untuk meneladan Bunda Maria, dimana antara lain semakin banyak orang "mendatangi' kita dan setelahnya digairahkan hidup, iman dan panggilannya atau disembuhkan dari berbagai macam penyakit yang disandangnya. "Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Tuhan yang melahirkan engkau. Ketika TUHAN melihat hal itu, maka Ia menolak mereka, karena Ia sakit hati oleh anak-anaknya lelaki dan perempuan" (Ul 32:18-19). Jakarta, 28 Juli 2008 ====================================================== From: "Hadi Kristadi" <[EMAIL PROTECTED]> A Junction Boy - Proyek Membagikan Alkitab oleh Seorang Anak Umur 6 Tahun Terinspirasi oleh mimpi ilahi, seorang anak dari kota Junction mengirimkan Alkitab-Alkitab kepada para korban Topan Katrina - Oleh Herb Brock - Penulis di kota Junction. Para pengungsi akibat kunjungan topan Katrina yang melanda Gulf Coast telah menerima berton-ton makanan dan bergalon-galon air minum dari pemerintah dan organisasi-organisasi sosial. Namun beberapa ratus dari antara mereka telah menerima kiriman makanan rohani juga. Dan makanan rohani itu datangnya dari sumber yang unik: seorang anak laki-laki berusia 6 tahun dari kota Junction yang bertindak berdasarkan ilham dari mimpi ilahi. "Tuhan mengatakan kepada saya dalam suatu mimpi untuk menolong (para pengungsi)," kata Tyler Mattingly. Ibunya, Jody Mattingly, menjelaskan lebih lanjut. "Tyler bangun pada suatu pagi hari dan menceritakan bahwa Tuhan telah berkata kepadanya dalam suatu mimpi," katanya. "Tyler berkata bahwa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa topan itu seperti seorang kaya yang telah mengambil semua harta benda orang miskin. Tuhan berkata bahwa Tyler perlu menjadi seperti seekor anjing dan menjilati luka-luka orang miskin itu. Tetapi Tuhan memiliki misi di dalam pikiran-Nya bagi Tyler yang melampaui sekedar menjilati luka-luka, atau bahkan membagi-bagikan makanan dan minuman bagi para pengungsi," kata Nyonya Mattingly. "Tyler berkata bahwa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa Tyler harus menyediakan sesuatu yang lebih dari pada makanan dan minuman. Ia ingin agar Tyler menyediakan Firman-Nya kepada para pengungsi itu," kata Nyonya Mattingly lebih lanjut. Dengan nasihat dari ibunya dan ayahnya, Robbie Mattingly, Tyler dengan segera mulai bekerja untuk mewujudkan impian itu menjadi kenyataan, mengubah perintah Tuhan dalam mimpinya menjadi tindakan nyata. "Tyler bertanya kepada Opanya, Jim Cutter, dari kota Junction, apakah gerejanya, Pleasant Run Baptist, dapat menyumbang Alkitab-Alkitab," kata Jody Mattingly. "Ia kemudian mengontak pendeta kami (Pendeta David Fralix dari New Hop Baptist Church), apakah ia mau menyumbang hal yang sama." Alkitab-Alkitab mulai berdatangan begitu perkataan misi Tyler mendatangi gereja demi gereja, komunitas demi komunitas dan dari tetangga ke tetangga. Alkitab-Alkitab datang sebanyak 800 buah dalam tempo beberapa minggu saja. Dan Alkitab-Alkitab itu bukan saja datang dari gembala gereja atau anggota gereja saja, namun juga dari individu-individu yang bukan anggota gereja. "Pada suatu hari seorang pria dengan sepeda motor datang ke rumah kami dan bertanya, 'Apakah di sini tempat tinggal Tyler?'" kata Jody. "Ia membawa dua kotak penuh berisi Alkitab. Dan seorang tetangga yang tidak suka pergi ke gereja membeli lima Alkitab baru dan membawanya kepada Tyler," katanya lagi. Selain itu, para guru dan murid-murid di sekolah Tyler, Danville Christian Academy, juga telah menyumbangkan banyak Alkitab. Suatu kotak khusus telah disediakan di gang menuju aula sekolah itu tempat menyimpan Alkitab yang disumbangkan. "Alkitab-Alkitab itu masih datang, dan kami telah membagikannya pada beberapa minggu terakhir ini," kata Mattingly. Alkitab-Alkitab itu telah dikirim ke dua tempat, sebuah gereja di daerah Gulf Coast di selatan Alabama dan sebuah sekolah di Houston, Texas, dimana banyak tinggal pengungsi dari daerah Gulf Coast di Lousiana. "Untuk memberikan gambaran kepada anda tentang besarnya proyek ini, dalam salah satu pengiriman, Pendeta David Fralix dan Robbie membawa 327 Alkitab ke gereja di Alabama itu." kata Jody. Tuhan telah memberi mereka karunia-karunia yang unik. Jody berkata bahwa ia dan suaminya percaya bahwa Tyler dan dua puteranya yang lain, Jesse (12 tahun) dan Jake (6 bulan), masing-masing memiliki karunia-karunia yang istimewa yang diberikan kepada mereka dari Tuhan. Ia berkata bahwa karunia yang dimiliki Tyler nampaknya "kepekaan" dan "kerohanian" yang merupakan karunia yang tak lumrah bagi seorang anak seusianya, karunia-karunia yang telah diperlihatkan melalui proyek Alkitab ini. Tyler itu seperti anak-anak laki-laki seumurnya. Ia suka main "flag football" (semacam permainan rugby bagi anak-anak) dan T-Ball (semacam permainan baseball) dan ia suka main video games, dan seperti kebanyakan anak-anak laki-laki, ia juga bisa nakal," kata Jody. "Tetapi ia juga merupakan seorang anak yang sensitif, selalu," katanya. "Ia banyak memikirkan tentang setiap orang dan setiap hal. Ketika kami melewati daerah bencana, ia mengkhawatirkan orang-orang yang terkena bencana dan berdoa bagi mereka," katanya. "Memang, topan Katrina telah menyebabkan kerusakan yang besar, dan anak saya, Tyler, telah berdoa bagi orang-orang di daerah Gulf Coast itu. Tetapi ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari hanya berdoa saja. Ia memutuskan, oh bukan, Tuhan memutuskan baginya untuk membagikan firman Tuhan kepada para korban topan Katrina itu. Proyek ini telah menggerakkan seluruh keluarga kami. Sangat mengagumkan melihat bagaimana Tuhan telah bekerja melalui Tyler." Tetapi proyek Alkitab ini bukanlah pertama kalinya Tyler memperlihatkan kepekaan dan kerohaniannya serta menggerakkan seluruh keluarga. "Alasan mengapa kami pergi ke gereja beberapa tahun yang lalu juga karena Tyler," kata Jody. "Dulu ia mulai bertanya soal-soal kerohanian, tentang Tuhan dan malaikat dan kehidupan dan hal-hal semacam itu. Robbie dan saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu kami memutuskan bahwa gereja adalah tempat yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Tyler. Tetapi dalam proyek Alkitab ini, Tyler menjadi orang yang membawa jawaban - jawaban terhadap sebuah impian, suatu tanggapan terhadap misi khusus yang ia dan ibunya percaya datangnya langsung dari Tuhan. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Sumber asli dalam Bahasa Inggeris: Kiriman Email dari Ibu Suharti Ali)================================================ From: "rudi mulia" <[EMAIL PROTECTED]> Soal Game dan Makanan Sehat Kita sedang berlomba dengan media. Kalau saya tanya, berapa skor antara keluarga dan media dalam berkomunikasi dengan anak-anak? Mungkin kalah telak. Jika media yang menonjolkan kekerasan dan seks menjadi konsumsi anak-anak kita, maka suara firman Tuhan makin lama akan makin redup bahkan padam. (Pdt. Marthin Elvis, saat mengajar di Institut Konseling LK3 tahun 2005) Sejak game anak-anak berkembang sedemikian rupa, kami berjuang bagaimana mendisiplin anak-anak kami sehingga mereka tidak kecanduan game. Kami banyak membaca dampak negatif game. Kami tidak ingin hal itu menimpa mereka. Karena itu, kami mencoba berbagai cara, evaluasi, coba yang lain, evaluasi; demikian seterusnya. Mungkin nampaknya tidak begitu konsisten, tetapi kami coba terus. Salah satu cara kami adalah membatasi waktu main dan menonton mereka. Kalau sudah main game di depan TV, menonton film dibatasi atau ditiadakan. Untuk itu, kami berusaha mencari mainan pengganti. Kami juga menyeleksi game. Ada game yang hanya untuk Jo (12 tahun), ada game yang bisa mereka mainkan berdua (Jo dan Je 8 tahun). Hal lain yang kami lakukan adalah mengharuskan mereka mengerjakan tugas sekolah atau membaca buku sebelum main game. Salah satu cara adalah dengan menyuruh anak-anak sendiri (bukan mbak) membereskan mainannya. Kalau mereka lalai, saya yang bertugas; itu berarti saya akan menyimpan PlayStation atau GameBoy itu beberapa hari. Kami juga mengharuskan anak-anak minta izin bermain (khususnya game) atau menonton TV; tidak boleh begitu saya menyalakan TV. Jadi, saya bisa memberi waktu sejenak, melihat tontonan mereka - saya menggunakan parental lock untuk TV. Ini semua kami sepakati di awal, termasuk semua sanksi. Kalau libur seperti sekarang, mendisiplin ini jadi lebih sulit karena anak-anak punya banyak waktu. Saya senang kalau teman-temannya (anak-anak tetangga) main di rumah. Walaupun itu membuat rumah saya seperti kapal pecah, saya tidak keberatan; karena untuk sementara perhatian anak-anak pada game dan TV bisa dialihkan. Mereka main petak umpet, sepeda, main air, dsb. Habis main, teman-teman pulang. Anak-anak mandi, duduk manis membaca atau main catur. Giliran saya membereskan rumah (mereka membantu di sana-sini). Peraturan lain yang berlaku jika libur adalah sebelum main (apa pun) harus mandi, sarapan, sikat gigi, baca Alkitab. "Jangan beri mama kesempatan atau alasan untuk melarang kalian main," kata saya. Beberapa hari lalu Jo minta izin main PS. "Sudah lakukan tugas minimal?" tanya saya. "Aduh! Aku sebel, deh sama Mama. Selalu itu yang dibilang kalau kami mau main game!" jawab Jo. "Kalian sudah tahu peraturan. Berusahalah lakukan apa yang baik untuk kalian, jangan apa yang enak saja," saya mengulangi kalimat yang sudah berulangkali saya katakan. Walaupun agak bersungut, anak-anak tetap melakukan hal-hal dasar itu. Dari usaha-usaha mendisiplin yang kami lakukan beberapa tahun terakhir ini terhadap game anak-anak, saya mendapat salah satu "benefit" beberapa minggu lalu. Ceritanya begini. Sejak di kelas 3, Moze saya ikutkan jemputan. Yang membantu kami dalam hal ini adalah seorang tetangga, ibu Mung. Suatu kali, ibu ini "curhat" ke Moze tentang salah seorang keponakannya yang mulai nakal. Keponakan ini seorang remaja, malas sekolah, kerjanya main game terus. Nggak bisa dibilangin oleh ibunya yang single parent. "Oh, kalau begitu gampang, Tante," kata Moze menanggapi. "Diambil saja PS-nya, simpan. Kalau mau nonton, satu jam saja. Seperti Papa-Mamaku di rumah. Kalau aku nggak belajar atau malas sekolah, PS-ku disimpan." Ibu Mung datang dengan ibu si remaja beberapa hari kemudian untuk konseling. Dia menyatakan kekagumannya atas anjuran Moze. Kami mendengar cerita Ibu Mung sambil terbahak-bahak. Surprise juga, karena Moze tidak cerita apa pun tentang hal itu pada kami. Rupanya cara-cara kami selama ini, walaupun pada waktu melakukannya anak-anak sedikit bersungut, cukup membekas dalam hati Moze. Kalau dia menyampaikan pengalamannya pada orang lain, itu berarti disiplin kami masuk dalam hatinya. Jadi, jangan ragu mendisiplin anak. Yang penting, kita menjaga konsistensi dan menyediakan alternatif kegiatan bagi mereka. Menolong Anak Hidup Sehat Beberapa hari lalu saya menelepon seorang teman. Dia ini dokter yang memperdalam ilmunya di bidang gizi. Saya menelepon dengan maksud menegaskan topik dan sasaran yang akan dibawakannya di Institut Konseling LK3. Tidak disangka, pembicaraan kami menjadi panjang dan saya mendapatkan hal-hal baru di dalamnya. Topik yang akan dibawakan dokter Nani adalah "Memotivasi Anak Gemar Makanan dan Gaya Hidup Sehat". Dia bisa tangkap topik ini tapi kurang sreg dengan rumusan kalimatnya. "Silakan dimodifikasi, Bu," kata saya, "asal intinya tidak berubah." Kemudian dokter Nani mengungkapkan bahwa topik ini sudah menjadi pergumulannya sekian lama. Dia sangat ingin mendorong para orangtua untuk tidak putus asa dan terus melatih anak-anaknya makan secara sehat. "Dasarnya adalah kesadaran kita bahwa anak itu adalah anak-anak Tuhan yang Dia titipkan pada kita," katanya, "Karena itu, kita tidak boleh sembarangan memperlakukan anak, termasuk dalam memberi makanan." Dari percakapan itu saya mencatat beberapa hal di bawah ini dangan penambahan di sana-sini. Kebanyakan orangtua mengerti bahwa anak-anak harus diajari kenal Tuhan, baca Alkitab, ke sekolah minggu, sampai menerima Kristus secara pribadi. Tetapi mereka tidak memikirkan hal yang juga sangat penting: MAKANAN. Bagaimanapun, makanan yang baik dan sehat akan menolong anak hidup dengan lebih baik, khususnya di masa depan. Bagaimana anak hidup di masa depan sangat tergantung pada cara kita melatih dia sewaktu kecil. Yang dimaksud bukan hanya mutu makanan, melainkan juga waktu pemberian dan cara pemberian. Misalnya anak bayi sampai usia 6 bulan seharusnya hanya mendapatkan ASI. Kalau ini sulit, bisa ditambahkan susu formula. Mulai bulan ketujuh anak diberi berbagai makanan tambahan menurut bimbingan dokter anak. Beberapa anak akan sulit makan pada bulan-bulan ini dan seterusnya. Ada anak tidak bisa makan makanan padat. Supaya mudah, oleh orangtua diberi makanan cair/susu, padahal usianya tidak pada tahap itu. Anak lain minum susu di botol sampai sekolah (TK). Padahal anak-anak membutuhkan botol susu hanya sampai usia 2 tahun. Secara natural, anak-anak ingin makan sendiri sejak usia 8-9 bulan. Seharusnya sejak usia itu orangtua melatih anaknya untuk makan sendiri. Kalau anak sulit makan waktu usia 1-2 tahun, kemudian menjadi mudah di usia 3 tahun ke atas, biasanya orangtua cenderung memberikan apa saja yang anak mau. Ini juga salah. Anak mesti diajari disiplin makan. Porsi yang secukupnya dengan ada selang waktu 2-3 jam. Saya (Roswitha) pernah hampir terjebak dalam pola demikian untuk Moze, anak saya yang berusia 8 tahun. Setelah 5 tahun hanya mau sawi rebus/tumis tanpa daging/telur dan apa pun, Moze menjadi kekurangan kalsium dan gizinya tidak seimbang. Maka, saya mulai lagi membimbingnya makan (sampai menyuapinya) dengan variasi sayur dan daging giling. Setelah 2-3 bulan, Moze bisa makan sendiri dengan daging giling. Karena sangat senang, saya mengizinkan dia makan, makan, dan makan. Berat badannya bertambah dalam waktu singkat. Dokter Nani mengingatkan saya, bagaimanapun, waktu makan harus diatur. Selain waktu makan dan cara pemberian, mutu makanan juga harus diperhatikan. Anak-anak jangan hanya diberi susu jika sudah tiba masanya harus dilatih dengan makanan padat. Kalau sudah besar, akan terlambat. Anak-anak tertentu bahkan muntah jika diberi nasi dan lauk-pauknya. Kita harus berusaha memberi anak makanan sehat dan sempurna, jangan makanan olahan yang tinggal goreng. Ini memerlukan latihan, baik bagi orangtua, terlebih untuk anak-anak. Saya teringat kata-kata Dr Wimpie Pangkahila dalam suatu seminar di LK3, "Makanan olahan akan meningkatkan kadar estrogen pada manusia. Kalau anak-anak sebelum remaja sering-sering makan yang demikian, yang putri cepat menstruasi (dan cepat menopause), sedangkan anak pria akan kewanita-wanitaan."Kalau bicara soal parenting, saya selalu mengingatkan diri saya bahwa apa yang saya lakukan sekarang, melatih anak-anak saya, akan berguna bagi mereka di masa depan. Saya bilang pada Jo dan Moze, "Kalau kalian makan dan hidup secara sehat mulai kecil, menantu dan cucu mama akan sangat berbahagia; karena mereka punya suami dan ayah yang sehat dan tidak cepat sakit. Bayangkan saja kalau 20 tahun mendatang kalian sudah kena penyakit diabetes, asam urat, belum lagi jika kena kanker akibat cara hidup yang sembarangan ... alangkah kasihan anak dan istri kalian. Uang kalian nanti akan habis untuk obat dan rumahsakit." Kalimat-kalimat ini saya sampaikan berkali-kali pada anak-anak untuk mendorong mereka hidup sehat, menghindari junk food. Anak-anak saya suka mi instan, kentang goreng, dsb. Saya membatasi mi instan sekali dua minggu satu bungkus. Saya goreng kentang asli yang saya beli di pasar. Saya membuat sendiri chicken nugget untuk bekal Jo ke sekolah. (*) Motto: Orang Bijak Peduli Konseling Kami senang jika anda bergabung dengan kami komunitas peduli konseling. Kunjungi kegiatan kami di www.peduli konseling.or.id Kursus Konseling Reguler Jakarta, setiap Rabu pkl. 10-14 di Landmark Building mulai bulan Agustus - November. Bersama Pdt. Julianto Simanjuntak & Tim. Info & Pendaftaran: Kantor LK3 021.5608477, 5636815. Fax 021.5644129 (Selasa-Sabtu 9am-5pm) Rudi Mulia 087877179387

