From: rm_maryo "Aku percaya bahwa Engkaulah Mesias" (1Yoh 4:7-16; Yoh 11:19-27)
" Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Tuhan akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Tuhan, Dia yang akan datang ke dalam dunia."(Yoh 11:19-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Marta, Maria dan Lazarus, Sahabat Tuhan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Sahabat sejati memang dapat dipercaya dan mempercayai yang lain atau hidup dalam persahabatan sejati berarti saling percaya satu sama lain. Kehadiran sahabat atau pertemuan dengan sahabat pasti akan membahagiakan, menggairahkan dan menyelamatkan, apalagi jika sahabat tersebut lebih dari kita dalam hal segala sesuatu. Dalam rangka mengenangkan para sahabat Tuhan hari ini, kita semua sebagai orang beriman juga dipanggil untuk menjadi sahabat-sahabat Tuhan. Sebagaimana Yesus, Tuhan, mengunjungi sahabat-sahabatNya serta membangkitkan Lazarus, sahabatNya, yang telah meninggal dunia, maka kita sebagai sahabat Tuhan juga dipanggil meneladan Dia, dimana kedatangan kita kemanapun dan kapanpun akan membangkitkan dan menggairahkan mereka yang letih, lesu, tak bergairah atau putus asa dan mereka yang kita datangi atau kunjungi akan berkata "Aku percaya bahwa engkau datang untuk membahagiakan, menggairahkan dan menyembuhkan aku". Baiklah kita galang dan perteguh atau perdalam persahabatan antar kita, entah di dalam keluarga, tempat kerja, masyarakat maupun dalam aneka kebersamaan hidup. Untuk itu kiranya masing-masing dari kita harus dengan rendah hati membuka hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita masing-masing serta senantiasa siap sedia dan siap siaga menerima aneka sapaan, sentuhan atau perlakuan dari yang lain. Marilah kita sadari dan hayati bahwa aneka bentuk sapaan, sentuhan atau perlakuan dari orang lain merupakan perwujudan kasihnya kepada kita. Jika mereka tidak mengasihi kita kiranya akan mendiamkan kita dan tidak menyapa, menyentuh atau memperlakukan kita sesuai dengan keinginannya. . "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Tuhan; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Tuhan dan mengenal Tuhan.Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Tuhan, sebab Tuhan adalah kasih.Dalam hal inilah kasih Tuhan dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Tuhan telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya" (1Yoh 4:7-9). "Kasih itu berasal dari Tuhan", demikian seruan Yohanes. Kasih itu tidak lain adalah masing-masing dari kita, yang diciptakan oleh Tuhan dengan kerjasama dengan orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga/tubuh. Karena masing-masing dari kita adalah kasih, maka panggilan untuk saling mengasihi kiranya mudah, karena bertemu atau berjumpa dengan siapapun berarti `kasih' bertemu/berjumpa dengan `kasih' dan dengan demikian secara otomatis akan saling mengasihi. Sebaliknya jika kita tidak saling mengasihi atau merasa tidak dikasihi ketika bertemu dengan yang lain, hemat saya hal itu berarti `tidak mengenal Tuhan', tidak beriman. Maka baiklah hidup saling mengasihi ini pertama-tama dan terutama hendaknya dihayati secara mendalam oleh para orangtua/bapak-ibu, sehingga dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya. Jika seluruh anggota keluarga dapat saling mengasihi secara mendalam kiranya akan berdampak ke masyarakat atau pergaulan umum, apa yang diperoleh atau dinikmati di dalam keluarga pada umumnya akan tersebarluaskan ke luar, kepada sesamanya. Kesaksian atau keteladanan hidup berkeluarga yang baik dan bagus kiranya akan menjadi sarana atau alat kerasulan yang tangguh dan tak tergantikan di dalam kehidupan bersama pada masa kini. Keluarga adalah dasar dan modal hidup bermasyarakat, bernegara, berbangsa maupun menggereja. "Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku "(Mzm 34:2-5) Jakarta, 29 Juli 2008 ==================================================== From: rm_maryo "Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah." (Yer 15:10.16-21; Mat 13:44-46) "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."(Mat 13:44-46), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Seorang pedagang pada umumnya bekerja keras serta cerdik dalam usahanya guna memperoleh laba atau keuntungan sebesar-besarnya demi kesejhateraan hidup pribadi maupun keluarganya. Ia sering juga memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Para pedagang pada umumnya juga`mengerahkan seluruh harta kekayaannya,termasuk cari pinjaman/kredit' untuk mengembangkan usahanya. Mereka yang bekerja keras dan cerdik pasti akan memperoleh apa yang diinginkan atau dicita-citakan. Sebagai orang beriman kiranya kita semua dipanggil untuk bermental dan bersikap seperti para pedagang, kerja keras dan cerdik, untuk menemukan dan menjumpai Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari, dalam seluruh atau semua ciptaanNya di dunia/di bumi ini. Tuhan bekerja terus menerus, siang malam tiada henti, dalam semua ciptaanNya dengan menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan menuju ke kesempurnaan hidup. KaryaNya antara lain nampak dalam apa yang indah, luhur, mulia dan baik di dunia ini, sebagaimana dikatakan bahwa "Tuhan melihat bahwa semuanya itu baik" (Kej 1:25). Apa yang menjadi `harta terpendam atau mutiara' dalam hidup kita masing-masing maupun hidup bersama? Apakah harta atau mutiara tersebut masih kita kuasai dan nikmati atau telah hilang? Jika hidup pribadi atau bersama kita kacau balau, frustrasi, bingung, lesu, dst.. kiranya `harta atau mutiara' telah terlepas dari diri kita, maka marilah kita cari dan temukan kembali dengan kerja.keras dan cerdik. Harta atau mutiara tersebut tidak lain adalah spiritualitas, charisma atau visi (pedoman, arah, tujuan) hidup atau panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing. Jika kita merasa kacau balau, frustrasi, bingung dan lesu, marilah `back to basic', kembali ke semangat semula ketika kita mengawali hidup atau panggilan atau tugas perutusan. . "Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan di hadapan-Ku, dan jika engkau mengucapkan apa yang berharga dan tidak hina, maka engkau akan menjadi penyambung lidah bagi-Ku. Biarpun mereka akan kembali kepadamu, namun engkau tidak perlu kembali kepada mereka. Terhadap bangsa ini Aku akan membuat engkau sebagai tembok berkubu dari tembaga; mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN"(Yer 15:19-20), demikian firman Tuhan kepada Yeremia, sang nabi. Sebagai orang beriman kita juga memiliki cirikhas kenabian, maka marilah apa yang difirmankan Tuhan kepada Yeremia ini kita hayati atau laksanakan dalam hidup kita. Nabi antara lain berfungsi sebagai `corong atau penyambung lidah' suara atau kehendak Tuhan, dan dengan demikian dirinya sendiri senantiasa bersatu dan bersama dengan Tuhan, menghayati dan melaksanakan kehendak Tuhan sepenuhnya. Bersama dan bersatu dengan Tuhan tiada ketakutan sedikitpun dalam menghadapi berbagai macam tantangan dan hambatan dalam kehidupan, termasuk mereka yang memerangi kita demi keuntungan sendiri atau karena egoismenya Agar kita kuat dan tagguh dalam menghadapi aneka tantangan dan hambatan, marilah kita kenakan senjata-senjata Tuhan pada diri kita yaitu: "berikat pinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Tuhan, dalam segala doa dan permohonan."(Ef 6:15-18). Dengan senjata-senjata Tuhan ini kita akan mampu memerangi dan mengalahkan berbagai godaan dan kejahatanyang mendatangi atau mengancam hidup kita. Marilah kita hidup dan bertindak sebagai`pelayan-pelayan Tuhan' yang dapat hidup dan bertindak dengan baik jika senantiasa bersenjatakan senjata-senjata Tuhan dalam hidup maupun bekerja. "Lepaskanlah aku dari pada musuhku, ya Tuhanku; bentengilah aku terhadap orang-orang yang bangkit melawan aku. Lepaskanlah aku dari pada orang-orang yang melakukan kejahatan dan selamatkanlah aku dari pada penumpah-penumpah darah. Sebab sesungguhnya, mereka menghadang nyawaku; orang-orang perkasa menyerbu aku, padahal aku tidak melakukan pelanggaran, aku tidak berdosa, ya TUHAN, aku tidak bersalah, merekalah yang lari dan bersiap-sia"(Mzm 59:2-5a) Jakarta, 30 Juli 2008 ======================================================= From: [EMAIL PROTECTED] TUJUH PEREMPUAN "Pada waktu itu tujuh orang perempuan akan memegang seorang laki-laki, serta berkata: "Kami akan menanggung makanan dan pakaian kami sendiri; hanya biarlah namamu dilekatkan kepada nama kami; ambillah aib yang ada pada kami!" Pada waktu itu tunas yang ditumbuhkan TUHAN akan menjadi kepermaian dan kemuliaan, dan hasil tanah menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi orang-orang Israel yang terluput [yaitu suatu sisa menurut pilihan kasih karunia]. Dan orang yang tertinggal di Sion dan yang tersisa di Yerusalem akan disebut kudus, yakni setiap orang di Yerusalem yang tercatat untuk beroleh hidup" (Yesaya 4:1-3) Tujuh perempuan yang ada dalam ayat ini diperkenalkan dengan tujuh gereja yang disebutkan dalam kitab Wahyu pasal 2 dan 3. Ke-tujuh gereja ini menggambarkan semua organisasi gereja dan jemaat setempat yang ada di sepanjang masa kerja gereja. Gereja-gereja ini disebut sebagai perempuan karena di dalamnya ada orang-orang percaya sejati yang adalah para pengantin Kristus. Dan sekarang ketika masa kerja organisasi gereja-gereja sudah berakhir mereka ditampilkan sebagai perempuan yang memegang laki-laki. Yaitu, mereka menginginkan Anak Manusia, Yesus Kristus, untuk menjadi Raja dan Juruselamat mereka. Tetapi mereka tidak menginginkan Dia sebagai roti rohani mereka, dan mereka tidak ingin untuk menggunakan "jubah kebenaran-Nya". Mereka hanya ingin roti dan pakaian mereka sendiri-sendiri. Mereka hanya menginginkan nama Kristus, mereka mau diperkenalkan bersama dengan Kristus, tetapi mereka hanya menginginkan program keselamatan mereka sendiri-sendiri. Mereka menginginkan kewenangan terakhir untuk ada di tangan mereka. Mereka tidak ingin untuk memperdulikan kebenaran dari Alkitab. Oleh karenanya, ini adalah tuduhan atas organisasi gereja-gereja yang ada pada masa kita sekarang ini. Mereka tidak mau melepaskan doktrin-doktrin gereja atau denominasi mereka, walaupun melalui pemeriksaan yang berhati-hati, bisa disingkapkan bahwa banyak dari pengajaran mereka itu bertentangan dengan Alkitab. Akan tetapi, ayat 2 di Yesaya pasal 4 mengungkapkan bahwa pada masa kita, pada masa ketika kondisi yang menyedihkan ini ada dalam organisasi gereja-gereja, tunas yang ditumbuhkan TUHAN (yakni Kristus) akan menjadi kepermaian dan kemuliaan, dan hasil tanah (yakni orang-orang yang menjadi diselamatkan) menjadi kebanggaan dan kehormatan. Mereka adalah orang-orang yang menjadi diselamatkan karena mereka telah melarikan diri dari organisasi gereja-gereja dan jemaat-jemaat setempat dan terus memberitakan Injil yang sejati di luar lingkungan gereja. Ayat 3 berbicara tentang mereka-mereka yang tetap berada di Yerusalem surgawi dan disebut kudus. Mereka yang telah luput dan memberitakan Injil di luar lingkungan gereja masih menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Yerusalem yang kekal yang tidak terlihat oleh mata yang diperkenalkan sebagai gereja surgawi (Bait Tuhan rohani). Oleh karenanya, mereka adalah kudus karena mereka telah dikuduskan oleh Tuhan. Dan Yerusalem yang daripadanya mereka telah meloloskan diri kemungkinannya hanya dapat menunjuk kepada organisasi gereja eksternal yang diperkenalkan dengan gereja-gereja dan jemaat-jemaat ketika Masa Siksaan Yang Dahsyat terjadi. Tetapi mereka-mereka yang sudah meloloskan diri masih tetap berada dalam Yerusalem yang kekal. Mereka yang telah lolos, yakni, yang sudah keluar dari organisasi gereja-gereja dan jemaat-jemaat setempat, tidak meninggalkan Sion ataupun Yerusalem surgawi yang kekal. Mereka aman selama-lamanya di dalam Yerusalem surgawi milik Kristus. Nama-nama mereka ada di dalam "kitab kehidupan Anak Domba" yang telah ditulis sejak sebelum dunia dijadikan. Ada lagi ayat-ayat penting dalam Injil Matius, Markus, Lukas yang menekankan kebenaran yang sama ini. Siapa atau apakah yang dimaksud ketika orang-orang diperintahkan untuk lari keluar dari Yerusalem? Siapakah yang dimaksud Tuhan ketika Ia memberikan perintah untuk mengungsi dan melarikan diri ke Pegunungan dan jangan masuk lagi ke dalam kota? Dalam kitab Lukas 21:20-21 kita membaca demikian: "Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke Pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota" Ketika kita menyelidiki penuturan Alkitab dengan berhati-hati, kita akan menemukan bahwa Yerusalem dan Yudea yang dimaksud Tuhan tidak lain menunjuk kepada organisasi gereja-gereja eksternal. Gereja-gereja dan jemaat-jemaat setempat terdiri dari orang-orang percaya yang sejati yang telah aman berada di dalam Kristus untuk selama-lamanya, bersama-sama dengan banyak orang yang masih belum diselamatkan. Orang-orang yang belum diselamatkan ini percaya bahwa mereka telah diselamatkan, tetapi mereka itu seperti "kayu, rumput kering dan jerami" yang menjadi bagian dari bangunan Bait Tuhan, tetapi Hari Penghakiman nanti akan mengungkapkan bahwa mereka tidak pernah diselamatkan. Jadi organisasi gereja yang terdiri dari jemaat-jemaat setempat di seluruh dunia itu serupa dengan Yehuda atau bangsa Israel pada zaman dahulu, dimana di dalamnya terdiri dari orang-orang yang diselamatkan bersama-sama dengan orang-orang yang tidak diselamatkan. Untuk alasan ini, Tuhan berbicara tentang mereka-mereka yang diselamatkan sebagai bangsa Israel atau orang-orang Yahudi dalam kitab Roma 2:28-29 yang berkata demikian: "Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara harafiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Tuhan." Hal ini lebih lanjut dinyatakan dalam kitab Galatia 3:29 demikian: "Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham [yaitu bangsa Israel] dan berhak menerima janji Tuhan." Bangsa Israel yang ada di Timur Tengah secara lahiriah adalah keturunan darah Abraham. Akan tetapi, secara rohani, keturunan Abraham menunjuk kepada orang-orang percaya sejati dalam Kristus. Merekalah Israel rohani milik Tuhan (Galatia 6:16). Dan dalam kitab Galatia pasal 4, Tuhan lebih lanjut mengarahkan pemikiran kita atas hal ini dengan berbicara tentang orang-orang percaya sebagai milik dari salah satu dari dua Yerusalem yang ada. Kita baca dalam kitab Galatia 4:26 demikian: "Tetapi Yerusalem surgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita." Yerusalem ini adalah Yerusalem surgawi. Yaitu Yerusalem surgawi yang terdiri atas orang-orang yang secara rohani duduk bersama-sama dengan Kristus di dalam surga (Efesus 2:6). Inilah orang-orang percaya sejati. Sejak saat kita diselamatkan, kita telah menjadi penduduk resmi dari Yerusalem surgawi yang kekal selama-lamanya. Inilah Yerusalem yang darinya orang-orang yang diselamatkan tidak akan pernah dipisahkan. Pada akhirnya itu akan datang sebagai Yerusalem yang baru, yaitu para pengantin Kristus, untuk tinggal di langit baru dan bumi yang baru yang akan diciptakan Tuhan nanti. Dan sepanjang masa kerja gereja, mereka adalah "emas, perak dan batu permata" yang menjadi bagian dari Bait Suci Tuhan. Tetapi Galatia pasal 4 juga berbicara tentang Yerusalem yang lain dan Yerusalem itu menggambarkan semua orang yang tidak menjadi diselamatkan. Mereka adalah Yerusalem yang sekarang atau Yerusalem duniawi (Galatia 4:25). Mereka tidak mengalami kasih karunia Tuhan dan mereka digambarkan sebagai anak-anak yang berasal dari Hagar, yaitu anak-anak yang percaya kepada pekerjaan-pekerjaan mereka sendiri untuk menjadi diselamatkan. Masalah utama mereka adalah sama persis seperti masalah yang terjadi pada bangsa Israel di masa Perjanjian Lama, mereka percaya bahwa pekerjaan-pekerjaan dan usaha-usaha tertentu mereka memiliki peranan yang sangat penting dalam keselamatan mereka. Mereka juga disebut sebagai Yerusalem, sama seperti orang-orang yang tidak percaya dalam Israel lahiriah disebut sebagai bangsa Israel. Dan sekarang mereka adalah "kayu, rumput kering dan jerami" yang ada di dalam Bait Suci Tuhan. Jadi kita harus mengerti bahwa organisasi gereja eksternal terdiri dari mereka-mereka yang menjadi bagian dari Yerusalem surgawi dan juga mereka-mereka yang menjadi bagian dari Yerusalem duniawi. Oleh karena itu, Yerusalem yang dibicarakan Tuhan di ayat-ayat seperti Lukas pasal 21 harus dimengerti sebagai organisasi gereja eksternal dimana di dalamnya ada dua Yerusalem tersebut. Tidak ada bukti yang alkitabiah kalau yang dimaksud itu adalah kota Yerusalem secara lahiriah. Hanya ada sedikit sekali orang-orang yang percaya kepada Kristus yang menempati kota Yerusalem yang ada di Timur Tengah. Sebagai kota secara lahiriah, itu sama sekali tidak dapat dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa global pada Masa Siksaan Yang Dahsyat terjadi. Satu-satunya Yerusalem yang lain yang dimaksudkan adalah Yerusalem rohani. Dan Yerusalem rohani terbagi atas Yerusalem surgawi dan Yerusalem duniawi. Yerusalem surgawi terdiri dari orang-orang percaya sejati saja dan bersifat kekal. Jika kita adalah warga dari Yerusalem surgawi, kita tidak dapat melarikan diri daripadanya walaupun kita mencoba. Hal ini demikian karena itu adalah kota yang kekal yang terdiri dari semua umat pilihan. Oleh karena itu, hanya ada satu Yerusalem yang dimaksudkan ketika Alkitab berbicara tentang Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara Iblis. Itu adalah Yerusalem yang terdiri dari semua gereja-gereja dan jemaat-jemaat setempat yang ada di seluruh dunia. Ini adalah tubuh organisasi eksternal yang daripadanya kita harus melarikan diri. Ini adalah Yerusalem yang tidak boleh kita masuki lagi. Ini adalah tempat kudus yang dibicarakan dalam kitab Matius 24:15 sewaktu Tuhan memerintahkan kita untuk melarikan diri darinya. Itu disebut sebagai "tempat kudus" karena sepanjang masa kerja gereja, ini adalah tempat dimana orang-orang percaya sejati biasanya ditemukan. Ini adalah tempat dimana sepanjang masa kerja gereja, Roh Kudus hadir di dalamnya untuk menerapkan Firman Tuhan pada hati orang-orang yang Tuhan rencanakan untuk Ia selamatkan. Itu adalah tempat kudus karena Kristus memerintah di sana. Dan dari kitab Wahyu pasal 2 kita mengetahui bahwa kita harus mengungsi daripadanya karena "kaki dian" (yaitu tempat lilin) sudah disingkirkan dari mereka. Yaitu, Roh Kudus sudah menyingkirkan diri-Nya dari sana. Oleh karena itu, tidak mungkin lagi orang-orang menjadi diselamatkan di dalam organisasi gereja-gereja itu, terlepas dari betapa taat dan setianya kumpulan jemaat itu mencoba untuk tetap setia terhadap Alkitab. Setelah kita mengerti hal ini, kita bisa mulai mengerti penuturan yang membingungkan dalam kitab Zakharia 14:2 yang berkata demikian: "Aku akan mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yerusalem; kota itu akan direbut, rumah-rumah akan dirampoki dan perempuan-perempuan akan ditiduri. Setengah dari penduduk kota itu harus pergi ke dalam pembuangan, tetapi selebihnya dari bangsa itu tidak akan dilenyapkan dari kota itu." Bagaimana mungkin kotanya akan direbut (yaitu dihancurkan), akan tetapi setengah dari penduduk kota itu harus pergi ke dalam pembuangan sedangkan selebihnya tidak akan dilenyapkan dari kota itu? Ini bisa dimengerti jika kita ingat bahwa mereka yang pergi ke dalam pembuangan adalah seperti mereka yang pergi ke Babel sewaktu Yerusalem dihancurkan pada tahun 587 SM. Mereka menggambarkan orang-orang percaya sejati yang diselamatkan dari penghakiman Tuhan sewaktu Tuhan membawakan penghakiman atas gereja-gereja dan denominasi-denominasi pada Masa Siksaan Yang Dahsyat terjadi. Orang-orang percaya yang sama ini tidak akan dilenyapkan dari Yerusalem surgawi. Ingatlah bahwa Yerusalem surgawi adalah Yerusalem yang kekal yang anggota warganya adalah orang-orang percaya yang sejati. "Ye also, as lively stones, are built up a spiritual house, an holy priesthood, to offer up spiritual sacrifices, acceptable to God by Jesus Christ" (1 Peter 2:5) May the grace of the Lord Jesus Christ be with your spirit.!

