From: rm_maryo 

"Aku percaya bahwa Engkaulah Mesias"
(1Yoh 4:7-16; Yoh 11:19-27)

" Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk 
menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar, 
bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. 
Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku 
pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Tuhan akan memberikan 
kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." Kata Yesus kepada 
Marta: "Saudaramu akan bangkit." Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan 
bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman."
 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia 
akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya 
kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" 
Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Tuhan, Dia 
yang akan datang ke dalam dunia."(Yoh 11:19-27), demikian kutipan Warta Gembira 
hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Marta, Maria 
dan Lazarus, Sahabat Tuhan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana 
sebagai berikut:
. Sahabat sejati memang dapat dipercaya dan mempercayai yang lain atau hidup 
dalam persahabatan sejati berarti saling percaya satu sama lain.
Kehadiran sahabat atau pertemuan dengan sahabat pasti akan membahagiakan, 
menggairahkan dan menyelamatkan, apalagi jika sahabat tersebut lebih dari kita 
dalam hal segala sesuatu. Dalam rangka mengenangkan para sahabat Tuhan hari 
ini, kita semua sebagai orang beriman juga dipanggil untuk menjadi 
sahabat-sahabat Tuhan.
Sebagaimana Yesus, Tuhan, mengunjungi sahabat-sahabatNya serta membangkitkan 
Lazarus, sahabatNya, yang telah meninggal dunia, maka kita sebagai sahabat 
Tuhan juga dipanggil meneladan Dia, dimana kedatangan kita kemanapun dan 
kapanpun akan membangkitkan dan menggairahkan mereka yang letih, lesu, tak 
bergairah atau putus asa
dan mereka yang kita datangi atau kunjungi akan berkata "Aku percaya bahwa 
engkau datang untuk membahagiakan, menggairahkan dan menyembuhkan aku". Baiklah 
kita galang dan perteguh atau perdalam persahabatan antar kita, entah di dalam 
keluarga, tempat kerja,
masyarakat maupun dalam aneka kebersamaan hidup. Untuk itu kiranya 
masing-masing dari kita harus dengan rendah hati membuka hati, jiwa, akal budi 
dan tubuh kita masing-masing serta senantiasa siap sedia dan siap siaga 
menerima aneka sapaan, sentuhan atau perlakuan dari yang lain. Marilah kita 
sadari dan hayati bahwa aneka bentuk sapaan, sentuhan atau perlakuan dari orang 
lain merupakan perwujudan kasihnya kepada kita. Jika mereka tidak mengasihi 
kita kiranya akan mendiamkan kita dan tidak menyapa, menyentuh atau 
memperlakukan kita sesuai dengan keinginannya. 
. "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih 
itu berasal dari Tuhan; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Tuhan dan 
mengenal Tuhan.Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Tuhan, sebab 
Tuhan adalah kasih.Dalam hal inilah kasih
Tuhan dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Tuhan telah mengutus 
Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya" (1Yoh 4:7-9). 
"Kasih itu berasal dari Tuhan", demikian seruan Yohanes. Kasih itu tidak lain 
adalah masing-masing dari kita,
yang diciptakan oleh Tuhan dengan kerjasama dengan orangtua kita masing-masing 
yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan 
segenap tenaga/tubuh. Karena masing-masing dari kita adalah kasih, maka 
panggilan untuk saling mengasihi kiranya mudah, karena bertemu atau berjumpa 
dengan siapapun berarti `kasih'
bertemu/berjumpa dengan `kasih' dan dengan demikian secara otomatis akan saling 
mengasihi. Sebaliknya jika kita tidak saling mengasihi atau merasa tidak 
dikasihi ketika bertemu dengan yang lain, hemat saya hal itu berarti `tidak 
mengenal Tuhan', tidak beriman. Maka baiklah hidup saling mengasihi ini 
pertama-tama dan terutama hendaknya dihayati secara mendalam oleh para 
orangtua/bapak-ibu, sehingga dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya. Jika 
seluruh anggota keluarga dapat saling mengasihi secara mendalam kiranya akan 
berdampak ke masyarakat atau pergaulan umum, apa yang diperoleh atau dinikmati 
di dalam keluarga pada umumnya akan tersebarluaskan ke luar, kepada sesamanya.
Kesaksian atau keteladanan hidup berkeluarga yang baik dan bagus kiranya akan 
menjadi sarana atau alat kerasulan yang tangguh dan tak tergantikan di dalam 
kehidupan bersama pada masa kini. Keluarga adalah dasar dan modal hidup 
bermasyarakat, bernegara, berbangsa maupun menggereja.

"Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di 
dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah 
hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, 
marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu 
Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku "(Mzm 34:2-5)

Jakarta, 29 Juli 2008
====================================================
From: rm_maryo 

"Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah." 
(Yer 15:10.16-21; Mat 13:44-46)

"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan 
orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual 
seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu 
seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya 
mutiara yang sangat berharga,
ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."(Mat 13:44-46), 
demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
. Seorang pedagang pada umumnya bekerja keras serta cerdik dalam usahanya guna 
memperoleh laba atau keuntungan sebesar-besarnya demi kesejhateraan hidup 
pribadi maupun keluarganya. Ia sering juga memanfaatkan kesempatan dalam 
kesempitan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Para pedagang pada 
umumnya juga`mengerahkan seluruh harta kekayaannya,termasuk cari 
pinjaman/kredit' untuk mengembangkan usahanya. Mereka yang bekerja keras dan 
cerdik pasti akan memperoleh apa yang diinginkan atau dicita-citakan. Sebagai 
orang beriman kiranya kita semua dipanggil untuk bermental dan bersikap seperti 
para pedagang, kerja keras dan cerdik, untuk menemukan dan menjumpai Tuhan di 
dalam kehidupan sehari-hari, dalam seluruh atau semua ciptaanNya di dunia/di 
bumi ini. Tuhan bekerja terus menerus, siang malam tiada henti, dalam semua 
ciptaanNya dengan menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan menuju ke 
kesempurnaan hidup. KaryaNya antara lain nampak dalam apa yang indah, luhur, 
mulia dan baik di dunia ini, sebagaimana dikatakan bahwa "Tuhan melihat bahwa 
semuanya itu baik" (Kej 1:25). 
Apa yang menjadi `harta terpendam atau mutiara' dalam hidup kita masing-masing 
maupun hidup bersama? Apakah harta atau mutiara tersebut masih kita kuasai dan 
nikmati atau telah hilang? Jika hidup pribadi atau bersama kita kacau balau, 
frustrasi, bingung, lesu, dst.. kiranya `harta atau mutiara' telah terlepas 
dari diri kita, maka marilah kita cari dan temukan kembali dengan kerja.keras 
dan cerdik.
Harta atau mutiara tersebut tidak lain adalah spiritualitas, charisma atau visi 
(pedoman, arah, tujuan) hidup atau panggilan dan tugas perutusan kita 
masing-masing. Jika kita merasa kacau balau, frustrasi, bingung dan lesu, 
marilah `back to basic', kembali ke semangat semula ketika kita mengawali hidup 
atau panggilan atau tugas perutusan.
. "Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan di 
hadapan-Ku, dan jika engkau mengucapkan apa yang berharga dan tidak hina, maka 
engkau akan menjadi penyambung lidah bagi-Ku.
Biarpun mereka akan kembali kepadamu, namun engkau tidak perlu kembali kepada 
mereka. Terhadap bangsa ini Aku akan membuat engkau sebagai tembok berkubu dari 
tembaga; mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, 
sebab Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau, 
demikianlah firman TUHAN"(Yer 15:19-20), demikian firman Tuhan kepada Yeremia, 
sang nabi. Sebagai
orang beriman kita juga memiliki cirikhas kenabian, maka marilah apa yang 
difirmankan Tuhan kepada Yeremia ini kita hayati atau laksanakan dalam hidup 
kita. Nabi antara lain berfungsi sebagai `corong atau penyambung lidah' suara 
atau kehendak Tuhan, dan dengan demikian dirinya sendiri senantiasa bersatu dan 
bersama dengan Tuhan, menghayati dan melaksanakan kehendak Tuhan sepenuhnya. 
Bersama dan bersatu dengan Tuhan tiada ketakutan sedikitpun dalam menghadapi 
berbagai macam tantangan dan hambatan dalam kehidupan, termasuk mereka yang 
memerangi kita demi keuntungan sendiri atau karena egoismenya  
Agar kita kuat dan tagguh dalam menghadapi aneka tantangan dan hambatan, 
marilah kita kenakan senjata-senjata Tuhan pada diri kita yaitu: "berikat 
pinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan 
untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah 
perisai iman, sebab dengan perisai
itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah 
ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Tuhan, dalam segala doa dan 
permohonan."(Ef 6:15-18). Dengan senjata-senjata Tuhan ini kita akan mampu 
memerangi dan mengalahkan berbagai godaan dan kejahatanyang mendatangi atau 
mengancam hidup kita. Marilah kita
hidup dan bertindak sebagai`pelayan-pelayan Tuhan' yang dapat hidup dan 
bertindak dengan baik jika senantiasa bersenjatakan senjata-senjata Tuhan dalam 
hidup maupun bekerja.

"Lepaskanlah aku dari pada musuhku, ya Tuhanku; bentengilah aku terhadap 
orang-orang yang bangkit melawan aku. Lepaskanlah aku dari pada orang-orang 
yang melakukan kejahatan dan selamatkanlah aku dari pada penumpah-penumpah 
darah. Sebab sesungguhnya, mereka menghadang nyawaku; orang-orang perkasa 
menyerbu aku, padahal aku tidak melakukan pelanggaran, aku tidak berdosa, ya 
TUHAN, aku tidak bersalah, merekalah yang lari dan bersiap-sia"(Mzm 59:2-5a)

Jakarta, 30 Juli 2008
=======================================================
From: [EMAIL PROTECTED] 

TUJUH PEREMPUAN

"Pada waktu itu tujuh orang perempuan akan memegang seorang laki-laki, serta 
berkata: "Kami akan menanggung makanan dan pakaian kami sendiri; hanya biarlah 
namamu dilekatkan kepada nama kami; ambillah aib yang ada pada kami!" Pada 
waktu itu tunas yang ditumbuhkan TUHAN akan menjadi kepermaian dan kemuliaan, 
dan hasil tanah menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi orang-orang Israel yang 
terluput [yaitu suatu sisa menurut pilihan kasih karunia]. Dan orang yang 
tertinggal di Sion dan yang tersisa di Yerusalem akan disebut kudus, yakni 
setiap orang di Yerusalem yang tercatat untuk beroleh hidup"  (Yesaya 4:1-3)

Tujuh perempuan yang ada dalam ayat ini diperkenalkan dengan tujuh gereja yang 
disebutkan dalam kitab Wahyu pasal 2 dan 3. Ke-tujuh gereja ini menggambarkan 
semua organisasi gereja dan jemaat setempat yang ada di sepanjang masa kerja 
gereja. Gereja-gereja ini disebut sebagai perempuan karena di dalamnya ada 
orang-orang percaya sejati yang adalah para pengantin Kristus.

Dan sekarang ketika masa kerja organisasi gereja-gereja sudah berakhir mereka 
ditampilkan sebagai perempuan yang memegang laki-laki. Yaitu, mereka 
menginginkan Anak Manusia, Yesus Kristus, untuk menjadi Raja dan Juruselamat 
mereka. Tetapi mereka tidak menginginkan Dia sebagai roti rohani mereka, dan 
mereka tidak ingin untuk menggunakan "jubah kebenaran-Nya". Mereka hanya ingin 
roti dan pakaian mereka sendiri-sendiri. Mereka hanya menginginkan nama 
Kristus, mereka mau diperkenalkan bersama dengan Kristus, tetapi mereka hanya 
menginginkan program keselamatan mereka sendiri-sendiri. Mereka menginginkan 
kewenangan terakhir untuk ada di tangan mereka. Mereka tidak ingin untuk 
memperdulikan kebenaran dari Alkitab.

Oleh karenanya, ini adalah tuduhan atas organisasi gereja-gereja yang ada pada 
masa kita sekarang ini. Mereka tidak mau melepaskan doktrin-doktrin gereja atau 
denominasi mereka, walaupun melalui pemeriksaan yang berhati-hati, bisa 
disingkapkan bahwa banyak dari pengajaran mereka itu bertentangan dengan 
Alkitab.

Akan tetapi, ayat 2 di Yesaya pasal 4 mengungkapkan bahwa pada masa kita, pada 
masa ketika kondisi yang menyedihkan ini ada dalam organisasi gereja-gereja, 
tunas yang ditumbuhkan TUHAN (yakni Kristus) akan menjadi kepermaian dan 
kemuliaan, dan hasil tanah (yakni orang-orang yang menjadi diselamatkan) 
menjadi kebanggaan dan kehormatan. Mereka adalah orang-orang yang menjadi 
diselamatkan karena mereka telah melarikan diri dari organisasi gereja-gereja 
dan jemaat-jemaat setempat dan terus memberitakan Injil yang sejati di luar 
lingkungan gereja. 

Ayat 3 berbicara tentang mereka-mereka yang tetap berada di Yerusalem surgawi 
dan disebut kudus. Mereka yang telah luput dan memberitakan Injil di luar 
lingkungan gereja masih menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Yerusalem yang 
kekal yang tidak terlihat oleh mata yang diperkenalkan sebagai gereja surgawi 
(Bait Tuhan rohani). 

Oleh karenanya, mereka adalah kudus karena mereka telah dikuduskan oleh Tuhan. 
Dan Yerusalem yang daripadanya mereka telah meloloskan diri kemungkinannya 
hanya dapat menunjuk kepada organisasi gereja eksternal yang diperkenalkan 
dengan gereja-gereja dan jemaat-jemaat ketika Masa Siksaan Yang Dahsyat 
terjadi. Tetapi mereka-mereka yang sudah meloloskan diri masih tetap berada 
dalam Yerusalem yang kekal.

Mereka yang telah lolos, yakni, yang sudah keluar dari organisasi gereja-gereja 
dan jemaat-jemaat setempat, tidak meninggalkan Sion ataupun Yerusalem surgawi 
yang kekal. Mereka aman selama-lamanya di dalam Yerusalem surgawi milik 
Kristus. Nama-nama mereka ada di dalam "kitab kehidupan Anak Domba" yang telah 
ditulis sejak sebelum dunia dijadikan.

Ada lagi ayat-ayat penting dalam Injil Matius, Markus, Lukas yang menekankan 
kebenaran yang sama ini. Siapa atau apakah yang dimaksud ketika orang-orang 
diperintahkan untuk lari keluar dari Yerusalem? Siapakah yang dimaksud Tuhan 
ketika Ia memberikan perintah untuk mengungsi dan melarikan diri ke Pegunungan 
dan jangan masuk lagi ke dalam kota? Dalam kitab Lukas 21:20-21 kita membaca 
demikian:
"Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, 
bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di 
Yudea harus melarikan diri ke Pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam 
kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk 
lagi ke dalam kota"  

Ketika kita menyelidiki penuturan Alkitab dengan berhati-hati, kita akan 
menemukan bahwa Yerusalem dan Yudea yang dimaksud Tuhan tidak lain menunjuk 
kepada organisasi gereja-gereja eksternal. 

Gereja-gereja dan jemaat-jemaat setempat terdiri dari orang-orang percaya yang 
sejati yang telah aman berada di dalam Kristus untuk selama-lamanya, 
bersama-sama dengan banyak orang yang masih belum diselamatkan. Orang-orang 
yang belum diselamatkan ini percaya bahwa mereka telah diselamatkan, tetapi 
mereka itu seperti "kayu, rumput kering dan jerami" yang menjadi bagian dari 
bangunan Bait Tuhan, tetapi Hari Penghakiman nanti akan mengungkapkan bahwa 
mereka tidak pernah diselamatkan.

Jadi organisasi gereja yang terdiri dari jemaat-jemaat setempat di seluruh 
dunia itu serupa dengan Yehuda atau bangsa Israel pada zaman dahulu, dimana di 
dalamnya terdiri dari orang-orang yang diselamatkan bersama-sama dengan 
orang-orang yang tidak diselamatkan. Untuk alasan ini, Tuhan berbicara tentang 
mereka-mereka yang diselamatkan sebagai bangsa Israel atau orang-orang Yahudi 
dalam kitab Roma 2:28-29 yang berkata demikian: 

"Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang 
disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang 
Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat 
di dalam hati, secara rohani, bukan secara harafiah. Maka pujian baginya datang 
bukan dari manusia, melainkan dari Tuhan."

Hal ini lebih lanjut dinyatakan dalam kitab Galatia 3:29 demikian:
"Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham 
[yaitu bangsa Israel] dan berhak menerima janji Tuhan."

Bangsa Israel yang ada di Timur Tengah secara lahiriah adalah keturunan darah 
Abraham. Akan tetapi, secara rohani, keturunan Abraham menunjuk kepada 
orang-orang percaya sejati dalam Kristus. Merekalah Israel rohani milik Tuhan 
(Galatia 6:16).

Dan dalam kitab Galatia pasal 4, Tuhan lebih lanjut mengarahkan pemikiran kita 
atas hal ini dengan berbicara tentang orang-orang percaya sebagai milik dari 
salah satu dari dua Yerusalem yang ada. Kita baca dalam kitab Galatia 4:26 
demikian:
"Tetapi Yerusalem surgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita."

Yerusalem ini adalah Yerusalem surgawi. Yaitu Yerusalem surgawi yang terdiri 
atas orang-orang yang secara rohani duduk bersama-sama dengan Kristus di dalam 
surga (Efesus 2:6). Inilah orang-orang percaya sejati. Sejak saat kita 
diselamatkan, kita telah menjadi penduduk resmi dari Yerusalem surgawi yang 
kekal selama-lamanya. Inilah Yerusalem yang darinya orang-orang yang 
diselamatkan tidak akan pernah dipisahkan.

Pada akhirnya itu akan datang sebagai Yerusalem yang baru, yaitu para pengantin 
Kristus, untuk tinggal di langit baru dan bumi yang baru yang akan diciptakan 
Tuhan nanti. Dan sepanjang masa kerja gereja, mereka adalah "emas, perak dan 
batu permata" yang menjadi bagian dari Bait Suci Tuhan.

Tetapi Galatia pasal 4 juga berbicara tentang Yerusalem yang lain dan Yerusalem 
itu menggambarkan semua orang yang tidak menjadi diselamatkan. Mereka adalah 
Yerusalem yang sekarang atau Yerusalem duniawi (Galatia 4:25). Mereka tidak 
mengalami kasih karunia Tuhan dan mereka digambarkan sebagai anak-anak yang 
berasal dari Hagar, yaitu anak-anak yang percaya kepada pekerjaan-pekerjaan 
mereka sendiri untuk menjadi diselamatkan.

Masalah utama mereka adalah sama persis seperti masalah yang terjadi pada 
bangsa Israel di masa Perjanjian Lama, mereka percaya bahwa pekerjaan-pekerjaan 
dan usaha-usaha tertentu mereka memiliki peranan yang sangat penting dalam 
keselamatan mereka. Mereka juga disebut sebagai Yerusalem, sama seperti 
orang-orang yang tidak percaya dalam Israel lahiriah disebut sebagai bangsa 
Israel. Dan sekarang mereka adalah "kayu, rumput kering dan jerami" yang ada di 
dalam Bait Suci Tuhan. 

Jadi kita harus mengerti bahwa organisasi gereja eksternal terdiri dari 
mereka-mereka yang menjadi bagian dari Yerusalem surgawi dan juga mereka-mereka 
yang menjadi bagian dari Yerusalem duniawi. Oleh karena itu, Yerusalem yang 
dibicarakan Tuhan di ayat-ayat seperti Lukas pasal 21 harus dimengerti sebagai 
organisasi gereja eksternal dimana di dalamnya ada dua Yerusalem tersebut.

Tidak ada bukti yang alkitabiah kalau yang dimaksud itu adalah kota Yerusalem 
secara lahiriah. Hanya ada sedikit sekali orang-orang yang percaya kepada 
Kristus yang menempati kota Yerusalem yang ada di Timur Tengah. Sebagai kota 
secara lahiriah, itu sama sekali tidak dapat dihubungkan dengan 
peristiwa-peristiwa global pada Masa Siksaan Yang Dahsyat terjadi.

Satu-satunya Yerusalem yang lain yang dimaksudkan adalah Yerusalem rohani. Dan 
Yerusalem rohani terbagi atas Yerusalem surgawi dan Yerusalem duniawi. 
Yerusalem surgawi terdiri dari orang-orang percaya sejati saja dan bersifat 
kekal. Jika kita adalah warga dari Yerusalem surgawi, kita tidak dapat 
melarikan diri daripadanya walaupun kita mencoba. Hal ini demikian karena itu 
adalah kota yang kekal yang terdiri dari semua umat pilihan.

Oleh karena itu, hanya ada satu Yerusalem yang dimaksudkan ketika Alkitab 
berbicara tentang Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara Iblis. Itu adalah 
Yerusalem yang terdiri dari semua gereja-gereja dan jemaat-jemaat setempat yang 
ada di seluruh dunia. Ini adalah tubuh organisasi eksternal yang daripadanya 
kita harus melarikan diri. Ini adalah Yerusalem yang tidak boleh kita masuki 
lagi. Ini adalah tempat kudus yang dibicarakan dalam kitab Matius 24:15 sewaktu 
Tuhan memerintahkan kita untuk melarikan diri darinya. 
Itu disebut sebagai "tempat kudus" karena sepanjang masa kerja gereja, ini 
adalah tempat dimana orang-orang percaya sejati biasanya ditemukan. Ini adalah 
tempat dimana sepanjang masa kerja gereja, Roh Kudus hadir di dalamnya untuk 
menerapkan Firman Tuhan pada hati orang-orang yang Tuhan rencanakan untuk Ia 
selamatkan. Itu adalah tempat kudus karena Kristus memerintah di sana.

Dan dari kitab Wahyu pasal 2 kita mengetahui bahwa kita harus mengungsi 
daripadanya karena "kaki dian" (yaitu tempat lilin) sudah disingkirkan dari 
mereka. Yaitu, Roh Kudus sudah menyingkirkan diri-Nya dari sana. Oleh karena 
itu, tidak mungkin lagi orang-orang menjadi diselamatkan di dalam organisasi 
gereja-gereja itu, terlepas dari betapa taat dan setianya kumpulan jemaat itu 
mencoba untuk tetap setia terhadap Alkitab.

Setelah kita mengerti hal ini, kita bisa mulai mengerti penuturan yang 
membingungkan dalam kitab Zakharia 14:2 yang berkata demikian: 
 
"Aku akan mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yerusalem; kota itu akan 
direbut, rumah-rumah akan dirampoki dan perempuan-perempuan akan ditiduri. 
Setengah dari penduduk kota itu harus pergi ke dalam pembuangan, tetapi 
selebihnya dari bangsa itu tidak akan dilenyapkan dari kota itu."

Bagaimana mungkin kotanya akan direbut (yaitu dihancurkan), akan tetapi 
setengah dari penduduk kota itu harus pergi ke dalam pembuangan sedangkan 
selebihnya tidak akan dilenyapkan dari kota itu?

Ini bisa dimengerti jika kita ingat bahwa mereka yang pergi ke dalam pembuangan 
adalah seperti mereka yang pergi ke Babel sewaktu Yerusalem dihancurkan pada 
tahun 587 SM. Mereka menggambarkan orang-orang percaya sejati yang diselamatkan 
dari penghakiman Tuhan sewaktu Tuhan membawakan penghakiman atas gereja-gereja 
dan denominasi-denominasi pada Masa Siksaan Yang Dahsyat terjadi.

Orang-orang percaya yang sama ini tidak akan dilenyapkan dari Yerusalem 
surgawi. Ingatlah bahwa Yerusalem surgawi adalah Yerusalem yang kekal yang 
anggota warganya adalah orang-orang percaya yang sejati.

"Ye also, as lively stones, are built up a spiritual house, an holy priesthood, 
to offer up spiritual sacrifices, acceptable to God by Jesus Christ"  (1 Peter 
2:5)

May the grace of the Lord Jesus Christ be with your spirit.! 

Kirim email ke