Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney tgl
29 Juni 2008
RAHASIA HIDUP BERKEMENANGAN-3
oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
(gembala sidang GRII Sydney yang meraih gelar Sarjana Theologi dari Seminari
Alkitab Asia Tenggara—SAAT Malang)
Nats: 2Kor. 5:1-10
Seorang guru Sekolah Minggu bercerita kepada anak-anak mengenai betapa
indahnya sorga itu. Sorga digambarkan sebagai tempat yang sangat menyenangkan
di mana kita memuji Tuhan selama-lamanya. Setelah itu kemudian guru ini
bertanya, “Anak-anak, siapa yang mau pergi ke sorga?” Semua anak mengangkat
tangannya tinggi-tinggi, kecuali satu anak yang diam saja. “Tony, kenapa kamu
tidak mengangkat tangan? Apakah kamu tidak mau ke sorga?” tanya si guru. “Saya
tidak suka menyanyi,” kata Tony dengan sedih. “Kalau di sorga terus menyanyi,
kapan main playstation-nya?”
Sorga seringkali dilukiskan seperti itu, sehingga ada orang yang mengatakan
kalau di sorga hanya menyanyi saja, itu tempat yang boring. Ada juga sebagian
pengkhotbah menggambarkan sorga secara bombastis, khususnya mereka mengatakan
diri mempunyai rohani yang lebih tinggi daripada orang lain karena bisa
bolak-balik sorga berkali-kali. Seperti Todd Bentley, mengaku sudah bolak-balik
ke sorga, bahkan kalau you mau ikut, tinggal pegang tangan dia, dalam sekejap
sudah sampai di sorga. Hal-hal seperti ini membuat orang yang belum percaya
Tuhan hanya tertawa karena orang Kristen punya konsep mengenai sorga seperti
ini.
Maka Paulus di dalam 2Kor. 5 ini memberikan pengertian yang benar bagaimana
kita mengerti apa itu sorga dan kenapa kita harus berbicara mengenai sorga ini.
Pertama, janji Tuhan bahwa kelak kita akan bertemu Dia di sorga yang indah itu
boleh menjadi kekuatan untuk kita hidup di dalam dunia ini. Ini konsep yang
sama sekali berbeda. Paulus mengatakan dia berbangga karena pernah dibawa ke
sorga, tetapi bukan itu yang menjadi keinginan dia di dalam pelayanan. Justru
buat Paulus dia mengerti apa itu sorga membuat dia memiliki semangat
penginjilan yang harus lebih berani, lebih bersemangat dan lebih berjuang untuk
pekerjaan Tuhan. Itu pengertian yang benar.
Yang kedua, Paulus berbicara mengenai sorga di sini karena sangat besar
kemungkinan ada kesalahan perspektif dari orang Kristen. Dalam 1Kor. 15:12
Paulus harus bicara dengan terus terang mengenai kebangkitan orang mati. Di
dalam jemaat Korintus ada yang tidak percaya akan kebangkitan orang-orang yang
sudah mati. Paulus bertemu dengan satu ajaran yang salah yang sudah merembes ke
dalam gereja Korintus yang mengatakan kita tidak perlu menantikan kebangkitan
karena itu tidak ada. Yang ada, sorga itu sekarang ada di sini, kebangkitan itu
sudah terjadi. Paulus menghadapi tantangan seperti itu.
Kita sekarang menghadapi hal yang sama. Beberapa tokoh-tokoh Injili sangat
disayangkan, salah satunya ialah Brian McClaren, seorang hamba Tuhan yang cukup
terkenal di Amerika yang mengatakan tidak perlu tunggu sorga, sorga itu
sekarang. Sebab kalau orang Kristen menunggu sorga yang akan datang, itu
membuat orang Kristen menjadi hidup malas di dalam dunia ini, tidak mau
berusaha.
Maka hari ini kita akan belajar dari Paulus mengenai sorga dalam 2Kor. 5 ini.
Fungsinya apa Paulus bicara akan hal itu? Melalui itu, kata Paulus, aku rela
menderita demi supaya orang lain kelak bisa bertemu Tuhan. Itu pengertianku
mengenai sorga. Bahwa aku sendiri akan bertemu Tuhan, maka tujuan hidupku hanya
untuk menyenangkan Kristus. Maka kalau orang Kristen mengerti bahwa suatu kali
kita akan bertemu Tuhan di sorga nanti, itu harus memberikan efek yang dahsyat
bagaimana orang Kristen hidup sekarang di dalam dunia ini. Sorga bukan hanya
merupakan satu kenikmatan yang kelak akan kita nikmati secara egoistis. Justru
Paulus mengatakan karena itulah maka dia rela menderita, didera, dipukul, pergi
kesana kemari terus memberitakan Injil karena dia rindu orang-orang lain juga
akan menikmati sorga itu. Itu menyebabkan Paulus mengeluarkan dua kalimat ini,
“Kami tidak pernah tawar hati sekalipun hidup di dalam dunia ini penuh dengan
kesulitan, karena kelak sampai di sana semua
itu akan hilang lenyap diganti dengan sukacita.” Sorga memberi kekuatan bagi
kita hidup di dalam dunia. Sorga tidak boleh menjadi opium yang menina-bobokan
orang Kristen. Sorga menjadi insentif yang menggerakkan hidup rohani kita.
Dalam Mat. 5 Yesus mengatakan janganlah bersumpah demi langit karena langit
adalah tahta Allah. Dalam Kej.1 dikatakan pada mulanya Allah menciptakan langit
dan bumi. Kata “langit” yang dipakai dalam bentuk plural, heavens. Dari situ
kita harus mengerti bagaimana konsepsi orang Yahudi bicara mengenai heavens,
sehingga waktu kita menemukan bagaimana Paulus menyebut “langit tingkat ke
tiga” kita mengerti apa maksudnya. Allah menciptakan langit dan bumi. Di dalam
konsepsi orang Yahudi langit itu punya tiga lapisan. Langit tingkat pertama
adalah atmosphere, lapisan di mana burung-burung terbang. Langit tingkat kedua
adalah di atas lapisan atmosphere yaitu wilayah space, di mana bulan, bintang
dan benda-benda langit berada. Lalu Tuhan ada di mana? Tuhan berada di luar
dari lapisan pertama dan kedua, yaitu di langit lapisan yang ketiga. Maka waktu
Salomo menahbiskan Bait Allah dan menyatakan doa, “kemuliaan Tuhan tidak bisa
dikungkung oleh Bait Allah yang terbatas ini
sebab Dia bertahta di langit yang mengatasi segala langit.” Heaven of heavens,
langit yang mengatasi segala langit, disitu Tuhan berada.
Maka Paulus mengatakan dia diangkat sampai langit tingkat ke tiga, maksudnya
dia pergi ke tempat di mana Tuhan berada. Sorga itu adalah satu tempat, sama
seperti neraka adalah satu tempat. Itu bukan perasaan. Itu tempat yang
diciptakan Tuhan. Bahkan tempat itu sendiripun tidak bisa menampung kebesaran
Tuhan. Tuhan itu terlalu dahsyat dan besar, sehingga kalau saudara membaca
kitab Yesaya, tahta Tuhan di sorga tetapi ujung jubahnya sampai ke bumi. Itu
artinya Tuhan hadir di mana-mana. Jadi sorga adalah tempat di mana Tuhan
menaruh kesuciaan, kemuliaan, kuasa-Nya yang sepenuhnya di situ. Tempat di mana
kehadiran Tuhan yang paling penuh, itulah yang namanya sorga. Kemuliaan Tuhan
hadir. Tahta Tuhan di sana. Nantinya kalau saudara membaca kitab Wahyu kita
bukan tinggal di awan-awan tempat yang namanya sorga itu. Alkitab
memberitahukan kelak terjadi pemulihan di dalam seluruh ciptaan Tuhan dan
terjadi keharmonisan, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan akan menjadi satu
dan
disebut “langit dan bumi yang baru.” Pada mulanya Allah menciptakan langit dan
bumi, pada hari terakhir jangan punya pikiran bahwa bumi itu akan dibuang dan
dihapus oleh Tuhan. Bumi ini akan tetap ada. Di langit dan bumi yang baru tidak
ada lagi separasi. Langit tempat kediaman Tuhan nanti akan hadir dan berada di
tengah-tengah kehidupan engkau dan saya di atas bumi ini.
Maka sekarang selama kita hidup di dalam daging dan darah ini kita masih jauh
dari Tuhan. Tetapi kelak Tuhan akan hadir di atas muka bumi yang diperbaharui
dan tidak ada dosa lagi, kehadiran-Nya akan nyata sepenuhnya. Satu tempat di
mana seluruh sifat Tuhan dan kehadiran-Nya dinyatakan di sini. Itu sebab kita
rindu ke surga, kita rindu kepada satu tempat di mana kita selama-lamanya
menikmati keseluruhan Tuhan di dalam kesucian kemurnian kasih Dia yang begitu
indah.
Yang kedua, sorga bukan hanya satu tempat di mana setelah mati kita menuju
kepada satu kondisi yang tidak sama dengan dunia ini. Alkitab memberikan satu
dasar yang penting, pintu masuk tempat itu hanya bisa dicapai –tidak bisa
tidak- sentralitasnya adalah Yesus Kristus. Wahyu 21:23 mengatakan “The lamp of
Heaven is the Lamb of God.” Anak Domba Allah adalah lampu sorga. Tidak ada
jalan lain, tidak ada cahaya yang menuntun manusia untuk bisa masuk ke situ
tanpa melalui Yesus Kristus, Anak Domba Allah itu.
Itu sebab mengapa Paulus memiliki satu konsepsi mengenai sorga yang tidak di
dalam pengertian memberikan penghiburan saja kepada dia yang mengalami
penderitaan, bahkan sebaliknya keindahan sorga itulah yang membuat dia rela
menderita supaya banyak orang bisa datang ke sana. Justru karena itulah dia
rela dianiaya, dipukuli, lapar, telanjang, mengalami kapal karam, dsb. Itu yang
Paulus nyatakan selanjutnya, sebagai kontras dengan beberapa pengkhotbah yang
datang ke kota Korintus bicara mengenai sukacita sorgawi hanya untuk memegahkan
diri sebagai super spiritual. Seorang yang sungguh-sungguh mengerti arti sorga
adalah seorang yang sungguh-sungguh rindu dan mengerti betapa berharganya orang
masuk ke situ. Itu sebab saudara dan saya perlu memahami konsep yang benar
seperti ini.
Yang ketiga, 2Kor. 5:1-3 menjadi satu bagian yang memakai metafora kemah
menjadi tempat tinggal yang sementara di bumi ini, Allah akan menyediakan
tempat kediaman satu bangunan yang permanent dan memberikan kita “heavenly
clothes” supaya kita tidak telanjang. Paulus mengatakan di sorga kita
mendapatkan pakaian sorgawi, yang akhirnya menimbulkan beberapa penafsiran yang
tidak bisa ditolak. Setelah kita meninggal tubuh kita dikubur. Dan selama kita
menanti kebangkitan tubuh, kita diberi baju sorgawi sehingga tidak kelihatan
telanjang. Kata Paulus kepada jemaat di Tesalonika, kita semua yang sudah
meninggal akan langsung ke surga bersama dengan Tuhan Yesus, sehingga tepatlah
kalimat “Sudah berpulang ke rumah Bapa di sorga” setiap kali seorang Kristen
meninggal dunia. Namun berbeda dengan konsep The Seventh Day Adventist yang
mengatakan orang mati itu seperti tidur. Juga kita berbeda dengan konsep
Katolik yang mengatakan orang percaya tidak langsung ke surga seperti
para saint, tetapi berada di dalam purgatory untuk mengalami proses penyucian
dulu. Jelas dua konsep ini tidak kita terima. Tetapi walaupun kita menikmati
sukacita di sorga bersama Tuhan, itu masih belum sempurna karena kita berada di
dalam kondisi “intermediate state.” Salah satunya adalah masih ada sedikit
unsur cetusan tangisan yang ditulis dalam kitab Why. 6:9-11. It is not perfect
enjoyment, it is not fullness in happiness, sebab di dalam intermediate state
masih ada satu kondisi menangis, bukan karena benci dan dengki tetapi menanti
kapan Tuhan mengadili secara adil.
Maka berdasarkan konsep ini kita melihat bahwa sebenarnya nanti di langit dan
bumi yang baru jangan pikir kita hanya bernyanyi saja. Alkitab mencatat kelak
kita akan mengeksplorasi alam ini, dengan sukacita kita akan menikmati alam ini
dan ada bakat karunia yang dieksplorasi dan dikembangkan membuat kita menjadi
indah dan kagum luar biasa. Yang tidak ada lagi adalah kawin dan melahirkan,
tidak ada lagi hubungan darah family di antara kita. Yang ada ialah saudara dan
saudari di dalam keluarga Allah. Apakah kita masih makan di situ? Yesus waktu
sudah bangkit masih makan bersama murid-murid. Demikian juga nanti ada
“perjamuan Anak Domba” kita akan menikmati makan minum dalam sukacita. Tetapi
makan bukan lagi sebagai penunjang hidup melainkan sebagai enjoyment with God.
Saudara akan mengeluarkan segala bakat yang Tuhan kasih di dalam fellowship
bersama Tuhan di dalam keharmonisan ciptaan-Nya. Ini penting. Itulah yang
menyebabkan mengapa kita tidak boleh melalaikan
kehidupan kita sekarang. Ayat 10 mengatakan kelak kita akan bertemu Tuhan dan
akan mempertanggung-jawabkan hidup kita di hadapan Dia. Apakah ada reward di
sorga? Saya percaya ada. Demikian juga akan ada derajat orang yang lebih
dihormati di sana. Sama seperti ada derajat perbedaan hukuman di neraka. Yesus
Kristus mengatakan nanti pada hari penghakiman, hukuman kepada kota Betsaida
akan lebih berat daripada kota Sidon karena kalau mereka melihat mujizat Yesus
mereka pasti akan bertobat, tetapi engkau akan mengalami hukuman yang lebih
berat karena engkau sudah melihat dan tidak percaya. Paulus mengatakan kita
semua akan menerima di hadapan Tuhan seturut dengan apa yang sudah kita
perbuat. Itu yang menjadi satu motivasi kita, motivasi untuk supaya melalui
pengertian someday di sorga saya akan mengerjakan dan melakukan semua karunia
dan bakat dengan enjoyment sepenuhnya, itu membuat saudara dan saya sekarang
tidak menyia-nyiakan apa yang Tuhan berikan kepada kita.
Yang terakhir, melalui konsep “New Heavens and Earth” kita akan bersama
dengan Tuhan selama-lamanya sekaligus menjadi penghiburan bagi Paulus. Dia
mengatakan kelak kemah yang sementara ini akan dibongkar dan Tuhan akan memberi
bangunan yang tidak dibuat oleh tangan manusia. Kelak air mata kita akan
dihapus oleh Tuhan dan kita akan memiliki tubuh kebangkitan yang tidak lagi
terkorupsi, tidak lagi binasa, tidak lagi mempunyai kelemahan, dsb. Kalau
saudara dan saya sakit hari ini, itu tidak lagi akan menjadi penghalang
sukacita kita di hadapan Tuhan karena sakit itu tidak akan ada lagi. Pada waktu
kita mengalami penderitaan dan kesulitan di dalam dunia ini, kelak kita akan
bertemu Tuhan dan semua itu tidak akan ada lagi. Yang buta akan melihat, yang
timpang akan berjalan, semua menjadi sempurna dan indah. Itu yang menjadi
kekuatan dan penghiburan bagi Paulus. Di dalam dunia ini tubuh kita mengalami
corruption, saudara dan saya hari demi hari mengalami degradasi. Nanti di
sorga tubuh kita tidak akan mengalami corruption, tidak dimakan habis oleh
proses waktu sekalipun waktu tetap ada di sana.
Paulus mengatakan, tubuhku makin lama makin tua dan rusak tetapi jiwaku terus
diperbaharui. Nanti di sorga kita akan mengalami proses yang kita tidak bisa
mengerti. Bahkan pemahaman dan pengenalan kita akan Tuhan pun akan terus
mengalami perkembangan. Itu yang akan terjadi. Itu sebab Paulus mengatakan di
2Kor. 5:9 “…hati kami senantiasa tabah dan kami terus berusaha…” dalam
terjemahan bahasa Inggris, “I have a good courage” atau “I have a good
ambition…” itu menjadi ambisi kami yang suci dan murni selama kami hidup di
dalam dunia ini, yaitu untuk memperkenankan Tuhan, I want to please God.
Saudara dan saya adalah orang-orang yang hidup di dalam dunia ini, kita
groaning, kita berkeluh-kesah, kita mengalami pengalaman-pengalaman yang sama
dengan orang lain. Tetapi yang membedakan kita adalah kepastian dan janji
sorgawi yang indah bersama Tuhan itu seharusnya memberikan spirit yang baru
terus-menerus dari hari ke sehari. Ayub berkata, “Sekalipun dagingku hancur
lebur tetapi selama aku hidup di dalam dunia ini aku tidak akan pernah membuang
integritasku. Penderitaan, kesusahan, kesulitan tidak membuatku membuang
integritas itu karena Penebusku hidup selamanya. Kelak aku akan bertemu dengan
Dia.”
Dan pada waktu engkau dan saya bertemu Tuhan, bagaimana respons dan sikap
kita? Apakah kita dengan lega akan mengatakan, Tuhan, aku sudah menyelesaikan
tugas dan panggilanku sebagai orang Kristen di atas muka bumi ini dan
menyenangkan Tuhan selama-lamanya. Bahkan mari kita mengambil sikap yang lebih
baik seperti Paulus, aku mengalami kesulitan dan penderitaan tetapi aku tidak
ingin orang-orang tidak melihat dan mengerti betapa indahnya bertemu dengan
Tuhan di dalam sorga yang kekal. Mari kita memiliki hati dan kerinduan seperti
ini pada waktu kita bertemu dengan orang-orang di sekitar kita.
Sumber:
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/06/29/rahasia-hidup-berkemenangan-3/
"Faith does not depend on miracles, or any extraordinary sign, but is the
peculiar gift of the spirit, and is produced by means of the word … There is to
which the flesh is more inclined than to listen to vain revelation."
(Dr. John Calvin)
---------------------------------
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!