From: [EMAIL PROTECTED]

HR SP MARIA DIANGKAT KE SURGA : Why 11:19a; 12:1.3-6a.10ab; 1Kor 15:20-26; Luk 
1:39-56

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu."  
Setiap kali mengenangkan pesta Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, saya 
senantiasa teringat akan pengalaman pribadi, ketika sebagai pastor muda (baru 
kurang lebih 7 bulan ditahbiskan menjadi imam), bertugas sebagai Direktur 
Perkumpulan Strada-Jakarta, menghadapi seseorang untuk berkonsultasi. Orang 
tersebut sebut saja namanya Pak Anton (samaran), kepala sekolah SMP Katolik 
Strada, ketua dewan paroki dan juga boleh dikatakan sebagai tokoh masyarakat. 
Di suatu pagi hari Pak Anton telah menunggu di depan kamar kerja saya, maka 
begitu saya bertemu langsung saling mengucapkan `Selamat Pagi'. Setelah kami 
duduk di kursi Pak Anton langsung berkata dengan nada yang lemah: "Romo, saya 
ingin keluar dari Strada, saya malu dan tak layak lagi bekerja di Strada".
"Ada apa?", pertanyaan saya. 
Dengan panjang lebar Pak Anton menceriterakan frustrasi dan kebingungannya 
selama satu minggu yang telah berlalu. Anak sulungnya, laki-laki, mahasiswa 
semester enam di
sebuah perguruan tinggi menghamili seorang gadis Muslim, anak seorang haji. Pak 
haji menuntut agar kedua anak itu segera dinikahkan secara Muslim. Ia sangat 
marah terhadap anak sulungnya itu, bahkan bernada mengusir sehingga telah tiga 
hari anaknya itu pergi, entah ke mana.
Dua adiknya, gadis-gadis/ perempuan juga memarahi kakaknya dengan gaya mereka 
masing-masing. Mendengarkan kisah ceritera itu saya menanggapi sambil bertanya: 
"Ibu bagaimana?". "Ibu, isteri saya hanya menangis, melelehkan air mata dan 
tidak berkata apa-apa", demikian jawaban Pak Anton. Maka kemudian saya 
menasihati Pak Anton: "Pak carilah anak sulung anda, dan setelah ditemukan 
kemudian ajaklah seluruh keluarga untuk makan bersama di rumah makan. 
Selanjutnya nanti kita lihat apa yang terbaik untuk dilakukan". Saya berkata 
dan menasihati demikian karena saya merasa sang ibu pasti tidak marah dan ingin 
memeluk anak sulungnya, hati dan jiwanya penuh dengan kasih pengampunan. 
Singkat cerita semua telah dilaksanakan dan masalah anak sulungnya diselesaikan 
secara pastoral. 

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. 
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam 
rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab 
apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."(Luk 1:42-45) 
Ibu atau seorang perempuan memiliki rahim, dimana di dalam rahim tumbuh 
berkembang buah kasih bersama atau karena penyelenggaraan Ilahi, karya 
penciptaan Tuhan. Dari kata rahim dapat menjadi kata kerahiman, yang berarti 
belas kasih dan kasih pengampunan yang tidak ada batasnya. Seorang ibu kiranya 
dapat menikmati betapa luhur, mulia dan indahnya karya penciptaan Tuhan yang 
terjadi di dalam rahimnya,
namun sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata kenikmatan yang dialami 
tersebut. Tetesan air mata ibu pada umumnya merupakan perwujudan kasih 
pengampunan yang sulit diungkapkan dengan atau melalui kata-kata. Maka kiranya 
apa yang dikatakan oleh Elisabeth kepada saudarinya, Bunda Maria, sebagaimana 
saya kutipkan di atas kiranya juga kena atau berlaku bagi para ibu yang baik, 
sebaliknya saya juga mengajak dan
mengingatkan para ibu atau rekan perempuan untuk meneladan Bunda Maria, yang 
juga menjadi teladan bagi kaum beriman, menjadi perempuan yang terberkati serta 
senantiasa membuat orang lain melonjak kegirangan.
 
"Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari 
Tuhan, akan terlaksana", demikian seruan Elisabeth kepada Bunda Maria.  
"Sekarang telah tiba  keselamatan dan kuasa  dan pemerintahan Tuhan kita" (Why 
12:10b), demikian kata penulis Kitab Wahyu. Ada pepatah atau rumor bahwa `surga 
ada di telapak kaki ibu'.
Pepatah ini kiranya mau mengatakan bahwa setiap langkah atau gerak seorang ibu 
senantiasa menyelamatkan dan membahagiakan sesama atau saudara-suadarinya, 
sebagaimana dari rahim Bunda Maria lahirkan Penyelamat Dunia. Kita semua telah 
hidup dalam kasih dan damai di dalam rahim ibu, dan dilahirkan serta 
dibesarkan/dididik oleh ibu dalam dan oleh kasih sehingga dapat tumbuh 
berkembang seperti saat ini. Bukankah kelahiran seorang anak, yang keluar dari 
rahim merupakan warta gembira, tentu saja bagi siapapun yang sungguh beriman. 
Namun demikian kami berharap semoga semua langkah, gerak, cara hidup dan cara 
bertindak para ibu maupun rekan perempuan membuat siapapun melonjak kegirangan, 
bergembira lahir dan batin. 

"Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang 
mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.Sebab sama 
seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang 
mati datang karena satu orang manusia"(Rm 15:20-21)    

Yesus adalah Tuhan yang menjadi Manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa, 
maka setelah Ia wafat di kayu salib pada saat itu juga `dibangkitkan dari 
mati'. Wafat dan kebangkitan Yesus tidak dapat dipisahkan dan hanya dapat 
dibedakan. Ia `telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung 
dari orang-orang yang telah meninggal', dan kemudian disusul atau diikuti oleh 
ia yang sangat dekat denganNya, yaitu Bunda Maria, yang kemudian menyusul juga 
siapapun yang hidup meneladan Bunda Maria, teladan umat beriman. Maka marilah 
kita meneladan Bunda Maria, yang taat dan setia kepada kehendak Tuhan serta 
senantiasa `mendengarkan dan merenungkan dalam hati alias menghayati' 
sabda-sabda Tuhan.    

Keunggulan hidup beriman adalah dalam penghayatan atau pelaksanaan bukan dalam 
wacana atau omongan. "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu 
pada hakekatnya adalah mati."(Yak 2:17), maka marilah kita hayati iman kita 
dalam hidup sehari-hari, dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan 
kapanpun sesuai dengan panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing. 
Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan: hati, jiwa, akal 
budi dan tubuh/ tenaga atau kekuatan, yang menjadi nyata atau terwujud dalam 
cara-cara melihat,merasa, berpikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan 
kehendak Tuhan, bukan kehendak atau keinginan diri sendiri.
Sebagai contoh kiranya dapat saya angkat di sini bagian doa dari St.Fransiskus 
Assisi: "Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih,  Bila 
terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan,   Bila terjadi 
perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan, Bila terjadi kebimbangan, 
jadikanlah aku pembawa kepastian,
 Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran, Bila terjadi 
kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan, Bila terjadi kegelapan, 
jadikanlah aku pembawa terang,"  

Damai sejahtera lahir batin, jasmani dan rohani, merupakan impian atau dambaan 
semua orang. Maka jika kita sungguh hidup dalam damai sejahtera sejati kiranya 
kita telah mendakati hidup mulia di surga atau memiliki modal dan kekuatan 
ketika dipanggil Tuhan alias mati atau meninggal dunia pada saat itu juga kita 
dimuliakan di surga,  menikmati hidup mulia bersama Bapa, Tuhan Pencipta dan 
Yesus, Penyelamat Dunia dan Pembawa Damai di  surga untuk selama-lamanya.
Untuk mendukung dan mengusahakan damai sejahtera sejati rasanya kita harus 
senantiasa memperhatikan iman, gizi maupun pendidikan dalam hidup dan tindakan 
kita. 
"Di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir. Dengarlah, 
hai puteri, lihatlah, dan sendengkanlah telingamu, lupakanlah bangsamu dan 
seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi gairah karena keelokanmu, sebab dialah 
tuanmu!"(Mzm 45:10bc-12ab)

Jakarta, 10 Agustus 2008
==================================================
From: rm_maryo 

"Jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini." (Yeh 2:8-3:4; Mat 
18:1-5.10.12-14)

"Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya:
"Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang 
anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku 
berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti 
anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan 
barangsiapa merendah kan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang 
terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti 
ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."
 Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena 
Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah 
Bapa-Ku yang di sorga. "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus 
ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang 
sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 
Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih 
besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh 
sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak 
menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang."(Mat 18:1-5.10.12-14) 
, demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
• Yang terbesar dalam arti kwalitas dalam hidup bersama adalah pejabat tinggi 
atau pemimpin, tetapi yang terbesar dalam arti kwantitas atau jumlah adalah 
rakyat dan anak-anak. Yang terbesar didalam Kerajaan Sorga atau Kerajaan Tuhan 
adalah anak-anak kecil, anak-anak kecil lebih suci daripada orang dewasa atau 
orangtua. Yang terbesar dalam Kerajaan Sorga adalah yang tersuci, maka Yesus 
bersabda: "barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, 
dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang 
anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." 
Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku 
berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah 
Bapa-Ku yang di sorga". Maka dengan ini kami berharap dan mengajak kita semua, 
orang dewasa maupun para orangtua untuk senantiasa menjunjung tinggi dan 
menghormati anak-anak, antara lain dengan memperhatikan pendidikan, iman dan 
gizi mereka. Pendidikan, iman dan gizi merupakan `akar' bagi pertumbuhan dan 
perkembangan anak untuk menjadi pribadi cerdas beriman. Secara khusus di sini 
saya mengingatkan para ibu (muda) untuk memperhatikan anak-anak balita secara 
memadai, antara lain memberi ASI secukupnya, selama enam bulan atau satu tahun, 
boros waktu dan tenaga bagi anak-anak balita. 
Gejala yang saya cermati di kota-kota besar seperti Jakarta pada saat ini ada 
kecenderungan anak-anak balita dengan mudah ditinggalkan oleh ibunya, entah 
diasuh oleh pembantu atau nenek atau dititipkan di tempat penitipan anak-anak. 
Memang ketika masih bayi atau kanak-kanak dengan mudah dapat ditinggalkan, 
namun ingat nanti kalau dewasa ia akan `balas dendam' dengan meninggalkan 
orangtuanya atau ibunya alias kurang taat kepada mereka. 
• "Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang 
Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu." 
Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku." (Yeh 3:3).
Gulungan kitab berisi firman-firman atau sabda-sabda Tuhan, dan kiranya semua 
firman atau sabda Tuhan dapat dipadatkan menjadi `perintah untuk saling 
mengasihi satu sama lain'. Bukankah `kasih' terasa manis seperti madu di mulut, 
dan kiranya akan menjadi nikmat
sekali jika dihayati atau dilaksanakan. Bukankah kasih yang dihayati oleh 
mereka yang sedang berpacaran atau bertunangan, antara lain dengan saling 
bergandengan tangan, saling menyentuh dan membelai, saling mencium dst.. 
sungguh manis dan nikmat rasanya, sebagaimana menjadi judul salah satu lagu 
yang berbunyi "Jatuh cinta sejuta rasanya"?. Sekali lagi saya ingatkan: marilah 
kasih itu kita berikan kepada anak-anak kecil atau bayi secara memadai. Ketika 
masa kanak-kanak menerima dan menikmati kasih tersebut kiranya kelak ketika 
menjadi dewasa akan hidup penuh syukur dan terima kasih dengan saling mengasihi 
satu sama lain. Ingat rumor "masa kecil tidak bahagia, maka ketika dewasa nakal 
dan kurang ajar". Masa kecil tidak bahagia berarti pada masa kecil kurang kasih 
atau cinta dari orangtuanya. Sebaliknya saya mengajak kita semua: marilah kita 
sadari dan hayati bahwa pada masa kecil sebenarnya kita telah menerima kasih 
melimpah ruah dari Tuhan melalui orangtua dan sesama atau saudara-saudari kita. 
Jika tidak dikasihi kiranya kita tidak mungkin tumbuh berkembang seperti saat 
ini. Masing-masing dari kita adalah `buah kasih', yang terkasih, maka secara 
otomatis perjumpaan antar kita akan saling mengasihi dan dengan demikian 
semuanya menjadi `manis rasanya'. 

"Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala 
harta. Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi 
penasihat-penasihatku aurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari 
pada ribuan keping emas dan perak" (Mzm 119:14.24.72) 

Jakarta, 12 Agustus 2008 
=================================================
From: L Hutabalian 

SIAPAKAH SAYA SESUNGGUHNYA?
Oleh : St. L. Hutabalian

I. Pendahuluan.
Pertanyaan ini sangat penting dalam kehidupan kekristenan karena menyangkut 
identitas atau jati diri. Apabila seseorang kurang mengerti identitasnya 
sebagai seorang kristen maka dia tidak dapat mempraktekkan kehidupan kristiani 
dengan baik, apalagi kalau seseorang tidak mengerti identitasnya sebagai 
seorang kristen maka dapat dipastikan bahwa dia akan gagal mempraktekkan gaya 
hidup sebagai seorang kristen yang sejati.

Apakah identitas itu? Identitas adalah segala sesuatu yang menunjukkan 
keberadaan seseorang. Identitas jasmani lahiriah terdiri dari nama, garis 
keturunan (mis. Marga atau nama ayah dan ibu), tempat dan tanggal lahir, 
golongan darah, status, alamat, agama, pekerjaan, dan lain-lain. Intinya, 
segala sesuatu yang menunjukkan keberadaan seseorang, itulah identitas. Apabila 
seseorang tidak mengetahui identitasnya sendiri, maka dapat dipastikan dia akan 
menghidupi kehidupan yang kurang baik bahkan mungkin kehidupan yang kacau, 
apalagi ditengah-tengah kehidupan jaman ini.

Demikian halnya dalam kehidupan rohani sebagai seorang kristen. Kita bukan saja 
perlu, tapi memang harus mengerti identitas kita. Karena hanya dengan 
mengetahui identitas itulah kita dapat mempraktekkan kehidupan kristen yang 
sejati.

II. Identitas Yang Baru.
Pertanyaan “Siapakah Saya Sesungguhnya?” tentu dimaksudkan bukan untuk 
mengetahui identitas atau keberadaan saudara secara jasmani melainkan untuk 
mengetahui identitas saudara secara rohani. Ketika saudara percaya kepada 
Kristus dan menerima Dia menjadi Juruselamat maka saudara mendapatkan identitas 
yang baru di dalam Kristus. Untuk menjawab pertanyaan diatas, maka sumber 
jawaban adalah Firman Tuhan. Dari Firman Tuhan kita dapat mengetahui identitas 
kita, siapakah kita sesungguhnya.

1. Saudara Adalah Ciptaan Baru.
Ketika Tuhan menciptakan segala sesuatu, firman Tuhan katakan bahwa semua baik. 
Manusia diciptakan dengan kemuliaan Tuhan dalam kekudusan dan kebenaran. Tetapi 
ketika manusia yang pertama itu jatuh kedalam dosa, mereka kehilangan kemuliaan 
Tuhan demikian juga keturunannya. Kejadian 2:17 yang berkata,”pada hari engkau 
memakannya, engkau akan mati”, tidak berarti mereka akan mati secara jasmani 
melainkan secara rohani dimana mereka akan menjadi terpisah dari Tuhan. Dosa 
manusia pertama sesungguhnya adalah bukan dosa ketidakpatuhan melainkan dosa 
ketidak percayaan. Ketika iblis menggoda dia, dia lebih percaya kepada 
perkataan iblis daripada perkataan Tuhan sehingga ia memakan buah terlarang 
itu. Ketidak percayaan itulah yang membuat Adam dan Hawa tidak patuh pada 
perkataan Tuhan untuk tidak memakan buah terlarang itu.

Tetapi karena kasih Tuhan yang besar, Dia mau mengembalikan hubungan yang 
terputus dengan manusia, sekaligus mengembalikan hakekat kemuliaan dan 
kekudusan manusia itu. Untuk itulah Dia mengutus Pribadi Kristus sebagai 
penebus dosa manusia untuk memulihkan hubungan antara Tuhan dengan manusia. 
Namun sama seperti Adam dan Tuhan berdasarkan pada hubungan kepercayaan, 
demikian juga antara manusia dengan Kristus. Yohanes 3:16,”Karena begitu besar 
kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang 
tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan 
beroleh hidup yang kekal.”

2 Korintus 5:17,”Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; 
yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ayat ini 
menunjukkan bahwa ketika seseorang percaya kepada Yesus, maka pada saat itu 
terjadi “penciptaan kembali” dalam diri manusia. Namun yang diciptakan kembali 
bukanlah daging dan jiwa melainkan roh manusia itu. Menurut 1 Tesalonika 5:23, 
kita adalah suatu makhluk yang terdiri dari tiga bagian yaitu tubuh, jiwa dan 
roh. Roh manusia inilah yang diganti dengan roh yang baru dan yang kudus, yang 
berasal dari Roh Tuhan yang memungkinkan Roh Tuhan berdiam di dalamnya. Epesus 
4:24,“Dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Tuhan 
di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.“. Bandingkan Yohanes 
3:5-6,” Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak 
dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Tuhan. Apa 
yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang
dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Juga 1 Korintus 3:16 :”Tidak tahukah kamu, 
bahwa kamu adalah bait Tuhan dan bahwa Roh Tuhan diam di dalam kamu?” Jadi di 
dalam roh kita yang baru itulah dimungkinkan Roh Tuhan berdiam dan membawa 
serta segala kebaikan-Nya ke dalam roh kita. 

2. Saudara adalah orang benar.
Tidak sedikit orang yang mengaku sudah lama menjadi orang kristen tidak 
mengerti identitasnya sebagai orang benar. Mereka berupaya giat beribadah, juga 
giat mengikuti pelayanan-pelayanan bukan untuk mewujudkan ucapan syukur mereka 
kepada Tuhan, melainkan untuk menyandang predikat sebagai orang benar atau 
setidaknya supaya dianggap sebagai orang benar. Maka tidak heran sering kita 
mendengar orang berkata: “saya belum layak, kehidupan saya belum benar, saya 
belum pantas, saya begini, saya begitu, masa lalu saya hitam, dll” Tapi kita 
harus menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa ketika kita percaya kepada 
Kristus, dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru selamat dalam hidup kita, maka 
saat itu juga kita menjadi orang benar, betapapun hitam atau gelamnya masa lalu 
kita.

Ketika Yesus mengambil rupa seorang manusia maka Dia menjadi sama dengan 
manusia dengan tujuan agar manusia turut ambil bagian di dalam segala karya-Nya 
dan identitasnya. Mereka yang percaya kepada Kristus juga dapat bagian dari 
Kekudusan-Nya dan Kebenaran-Nya. Oleh karena itu bagi setiap orang yang percaya 
kepada Kristus, mereka telah dikuduskan dan dibenarkan. Dengan kata lain dimata 
Tuhan saudara sama kudus dan sama benarnya dengan Yesus. Karena Yesus telah 
mengambil dosa kita dan memberikan kebenaran-Nya bagi kita. 2 Korintus 
5:21,”Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, 
supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Tuhan.

Yohanes 17:19 dalam doa-Nya Yesus berkata,” dan Aku menguduskan diri-Ku bagi 
mereka, supaya merekapun di kuduskan dalam kebenaran,” Juga 1 Korintus 1:30 
berkata,”Tetapi oleh Dia kamu berada di dalam Kristus Yesus, yang oleh Tuhan 
telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus 
kita.”

Predikat sebagai orang benar ini adalah pemberian cuma-cuma dari Tuhan, bukan 
karena usaha kita atau karena kebaikan kita melakukan ibadah-ibadah atau karena 
keberhasilan kita meninggalkan kebiasaan masa lalu. Kebaikan apapun yang 
dilakukan oleh orang berdosa, tetaplah dipandang dosa karena penglihatan Tuhan 
yang utama bukan pada perbuatan baiknya melainkan pada statusnya sebagai orang 
berdosa. Jadi hanya karena anugerah Tuhan lewat penebusan yang dikerjakan 
Kristus kita dibenarkan. Roma 3:23-24 berkata :”Karena semua orang telah 
berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Tuhan, dan oleh kasih karunia telah 
dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”

Rasul Paulus adalah orang yang mempunyai keyakinan yang teguh kepada Taurat 
sebelum dia menerima Yesus. Fanastismenya kepada Taurat telah menjadikan dia 
seorang teroris yang membunuh banyak pengikut Kristus. Tetapi ketika dia 
mengenal Kristus, suatu kali dia berkata bahwa apa yang dulu dianggapnya 
keuntungan dianggapnya suatu kerugian atau sampah karena pengenalannya kepada 
Kristus. (Filipi 3:7-8). Tetapi kita lihat, bahwa Paulus tidak menjadikan masa 
lalunya yang jahat sebagai beban yang harus terus dipikul. Masa lalunya tidak 
membuat dia merasa bersalah dalam penyesalan yang berkepanjangan. Mengapa hal 
ini bisa terjadi? Karena dia mempunyai keyakinan bahwa dia telah dibenarkan dan 
dosanya telah dihapus. 

Yesaya 1: 8 mengatakan:”...sekalipun dosamu merah seperti kermiji akan menjadi 
putih seperti salju..” Jadi betapapun gelapnya masa lalumu, hitam pekatnya 
sepekat-pekatnya latar belakang kehidupanmu, detik dimana saudara percaya detik 
itu juga saudara menjadi orang benar dihadapan Tuhan. Let by gone be by gone. 

Kirim email ke