From: [EMAIL PROTECTED] HR SP MARIA DIANGKAT KE SURGA : Why 11:19a; 12:1.3-6a.10ab; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56
"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu." Setiap kali mengenangkan pesta Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, saya senantiasa teringat akan pengalaman pribadi, ketika sebagai pastor muda (baru kurang lebih 7 bulan ditahbiskan menjadi imam), bertugas sebagai Direktur Perkumpulan Strada-Jakarta, menghadapi seseorang untuk berkonsultasi. Orang tersebut sebut saja namanya Pak Anton (samaran), kepala sekolah SMP Katolik Strada, ketua dewan paroki dan juga boleh dikatakan sebagai tokoh masyarakat. Di suatu pagi hari Pak Anton telah menunggu di depan kamar kerja saya, maka begitu saya bertemu langsung saling mengucapkan `Selamat Pagi'. Setelah kami duduk di kursi Pak Anton langsung berkata dengan nada yang lemah: "Romo, saya ingin keluar dari Strada, saya malu dan tak layak lagi bekerja di Strada". "Ada apa?", pertanyaan saya. Dengan panjang lebar Pak Anton menceriterakan frustrasi dan kebingungannya selama satu minggu yang telah berlalu. Anak sulungnya, laki-laki, mahasiswa semester enam di sebuah perguruan tinggi menghamili seorang gadis Muslim, anak seorang haji. Pak haji menuntut agar kedua anak itu segera dinikahkan secara Muslim. Ia sangat marah terhadap anak sulungnya itu, bahkan bernada mengusir sehingga telah tiga hari anaknya itu pergi, entah ke mana. Dua adiknya, gadis-gadis/ perempuan juga memarahi kakaknya dengan gaya mereka masing-masing. Mendengarkan kisah ceritera itu saya menanggapi sambil bertanya: "Ibu bagaimana?". "Ibu, isteri saya hanya menangis, melelehkan air mata dan tidak berkata apa-apa", demikian jawaban Pak Anton. Maka kemudian saya menasihati Pak Anton: "Pak carilah anak sulung anda, dan setelah ditemukan kemudian ajaklah seluruh keluarga untuk makan bersama di rumah makan. Selanjutnya nanti kita lihat apa yang terbaik untuk dilakukan". Saya berkata dan menasihati demikian karena saya merasa sang ibu pasti tidak marah dan ingin memeluk anak sulungnya, hati dan jiwanya penuh dengan kasih pengampunan. Singkat cerita semua telah dilaksanakan dan masalah anak sulungnya diselesaikan secara pastoral. "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."(Luk 1:42-45) Ibu atau seorang perempuan memiliki rahim, dimana di dalam rahim tumbuh berkembang buah kasih bersama atau karena penyelenggaraan Ilahi, karya penciptaan Tuhan. Dari kata rahim dapat menjadi kata kerahiman, yang berarti belas kasih dan kasih pengampunan yang tidak ada batasnya. Seorang ibu kiranya dapat menikmati betapa luhur, mulia dan indahnya karya penciptaan Tuhan yang terjadi di dalam rahimnya, namun sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata kenikmatan yang dialami tersebut. Tetesan air mata ibu pada umumnya merupakan perwujudan kasih pengampunan yang sulit diungkapkan dengan atau melalui kata-kata. Maka kiranya apa yang dikatakan oleh Elisabeth kepada saudarinya, Bunda Maria, sebagaimana saya kutipkan di atas kiranya juga kena atau berlaku bagi para ibu yang baik, sebaliknya saya juga mengajak dan mengingatkan para ibu atau rekan perempuan untuk meneladan Bunda Maria, yang juga menjadi teladan bagi kaum beriman, menjadi perempuan yang terberkati serta senantiasa membuat orang lain melonjak kegirangan. "Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana", demikian seruan Elisabeth kepada Bunda Maria. "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Tuhan kita" (Why 12:10b), demikian kata penulis Kitab Wahyu. Ada pepatah atau rumor bahwa `surga ada di telapak kaki ibu'. Pepatah ini kiranya mau mengatakan bahwa setiap langkah atau gerak seorang ibu senantiasa menyelamatkan dan membahagiakan sesama atau saudara-suadarinya, sebagaimana dari rahim Bunda Maria lahirkan Penyelamat Dunia. Kita semua telah hidup dalam kasih dan damai di dalam rahim ibu, dan dilahirkan serta dibesarkan/dididik oleh ibu dalam dan oleh kasih sehingga dapat tumbuh berkembang seperti saat ini. Bukankah kelahiran seorang anak, yang keluar dari rahim merupakan warta gembira, tentu saja bagi siapapun yang sungguh beriman. Namun demikian kami berharap semoga semua langkah, gerak, cara hidup dan cara bertindak para ibu maupun rekan perempuan membuat siapapun melonjak kegirangan, bergembira lahir dan batin. "Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia"(Rm 15:20-21) Yesus adalah Tuhan yang menjadi Manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa, maka setelah Ia wafat di kayu salib pada saat itu juga `dibangkitkan dari mati'. Wafat dan kebangkitan Yesus tidak dapat dipisahkan dan hanya dapat dibedakan. Ia `telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal', dan kemudian disusul atau diikuti oleh ia yang sangat dekat denganNya, yaitu Bunda Maria, yang kemudian menyusul juga siapapun yang hidup meneladan Bunda Maria, teladan umat beriman. Maka marilah kita meneladan Bunda Maria, yang taat dan setia kepada kehendak Tuhan serta senantiasa `mendengarkan dan merenungkan dalam hati alias menghayati' sabda-sabda Tuhan. Keunggulan hidup beriman adalah dalam penghayatan atau pelaksanaan bukan dalam wacana atau omongan. "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati."(Yak 2:17), maka marilah kita hayati iman kita dalam hidup sehari-hari, dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun sesuai dengan panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan: hati, jiwa, akal budi dan tubuh/ tenaga atau kekuatan, yang menjadi nyata atau terwujud dalam cara-cara melihat,merasa, berpikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan kehendak atau keinginan diri sendiri. Sebagai contoh kiranya dapat saya angkat di sini bagian doa dari St.Fransiskus Assisi: "Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih, Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan, Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan, Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian, Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran, Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan, Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang," Damai sejahtera lahir batin, jasmani dan rohani, merupakan impian atau dambaan semua orang. Maka jika kita sungguh hidup dalam damai sejahtera sejati kiranya kita telah mendakati hidup mulia di surga atau memiliki modal dan kekuatan ketika dipanggil Tuhan alias mati atau meninggal dunia pada saat itu juga kita dimuliakan di surga, menikmati hidup mulia bersama Bapa, Tuhan Pencipta dan Yesus, Penyelamat Dunia dan Pembawa Damai di surga untuk selama-lamanya. Untuk mendukung dan mengusahakan damai sejahtera sejati rasanya kita harus senantiasa memperhatikan iman, gizi maupun pendidikan dalam hidup dan tindakan kita. "Di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir. Dengarlah, hai puteri, lihatlah, dan sendengkanlah telingamu, lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi gairah karena keelokanmu, sebab dialah tuanmu!"(Mzm 45:10bc-12ab) Jakarta, 10 Agustus 2008 ================================================== From: rm_maryo "Jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini." (Yeh 2:8-3:4; Mat 18:1-5.10.12-14) "Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendah kan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga. "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang."(Mat 18:1-5.10.12-14) , demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: • Yang terbesar dalam arti kwalitas dalam hidup bersama adalah pejabat tinggi atau pemimpin, tetapi yang terbesar dalam arti kwantitas atau jumlah adalah rakyat dan anak-anak. Yang terbesar didalam Kerajaan Sorga atau Kerajaan Tuhan adalah anak-anak kecil, anak-anak kecil lebih suci daripada orang dewasa atau orangtua. Yang terbesar dalam Kerajaan Sorga adalah yang tersuci, maka Yesus bersabda: "barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga". Maka dengan ini kami berharap dan mengajak kita semua, orang dewasa maupun para orangtua untuk senantiasa menjunjung tinggi dan menghormati anak-anak, antara lain dengan memperhatikan pendidikan, iman dan gizi mereka. Pendidikan, iman dan gizi merupakan `akar' bagi pertumbuhan dan perkembangan anak untuk menjadi pribadi cerdas beriman. Secara khusus di sini saya mengingatkan para ibu (muda) untuk memperhatikan anak-anak balita secara memadai, antara lain memberi ASI secukupnya, selama enam bulan atau satu tahun, boros waktu dan tenaga bagi anak-anak balita. Gejala yang saya cermati di kota-kota besar seperti Jakarta pada saat ini ada kecenderungan anak-anak balita dengan mudah ditinggalkan oleh ibunya, entah diasuh oleh pembantu atau nenek atau dititipkan di tempat penitipan anak-anak. Memang ketika masih bayi atau kanak-kanak dengan mudah dapat ditinggalkan, namun ingat nanti kalau dewasa ia akan `balas dendam' dengan meninggalkan orangtuanya atau ibunya alias kurang taat kepada mereka. • "Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu." Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku." (Yeh 3:3). Gulungan kitab berisi firman-firman atau sabda-sabda Tuhan, dan kiranya semua firman atau sabda Tuhan dapat dipadatkan menjadi `perintah untuk saling mengasihi satu sama lain'. Bukankah `kasih' terasa manis seperti madu di mulut, dan kiranya akan menjadi nikmat sekali jika dihayati atau dilaksanakan. Bukankah kasih yang dihayati oleh mereka yang sedang berpacaran atau bertunangan, antara lain dengan saling bergandengan tangan, saling menyentuh dan membelai, saling mencium dst.. sungguh manis dan nikmat rasanya, sebagaimana menjadi judul salah satu lagu yang berbunyi "Jatuh cinta sejuta rasanya"?. Sekali lagi saya ingatkan: marilah kasih itu kita berikan kepada anak-anak kecil atau bayi secara memadai. Ketika masa kanak-kanak menerima dan menikmati kasih tersebut kiranya kelak ketika menjadi dewasa akan hidup penuh syukur dan terima kasih dengan saling mengasihi satu sama lain. Ingat rumor "masa kecil tidak bahagia, maka ketika dewasa nakal dan kurang ajar". Masa kecil tidak bahagia berarti pada masa kecil kurang kasih atau cinta dari orangtuanya. Sebaliknya saya mengajak kita semua: marilah kita sadari dan hayati bahwa pada masa kecil sebenarnya kita telah menerima kasih melimpah ruah dari Tuhan melalui orangtua dan sesama atau saudara-saudari kita. Jika tidak dikasihi kiranya kita tidak mungkin tumbuh berkembang seperti saat ini. Masing-masing dari kita adalah `buah kasih', yang terkasih, maka secara otomatis perjumpaan antar kita akan saling mengasihi dan dengan demikian semuanya menjadi `manis rasanya'. "Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta. Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku aurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak" (Mzm 119:14.24.72) Jakarta, 12 Agustus 2008 ================================================= From: L Hutabalian SIAPAKAH SAYA SESUNGGUHNYA? Oleh : St. L. Hutabalian I. Pendahuluan. Pertanyaan ini sangat penting dalam kehidupan kekristenan karena menyangkut identitas atau jati diri. Apabila seseorang kurang mengerti identitasnya sebagai seorang kristen maka dia tidak dapat mempraktekkan kehidupan kristiani dengan baik, apalagi kalau seseorang tidak mengerti identitasnya sebagai seorang kristen maka dapat dipastikan bahwa dia akan gagal mempraktekkan gaya hidup sebagai seorang kristen yang sejati. Apakah identitas itu? Identitas adalah segala sesuatu yang menunjukkan keberadaan seseorang. Identitas jasmani lahiriah terdiri dari nama, garis keturunan (mis. Marga atau nama ayah dan ibu), tempat dan tanggal lahir, golongan darah, status, alamat, agama, pekerjaan, dan lain-lain. Intinya, segala sesuatu yang menunjukkan keberadaan seseorang, itulah identitas. Apabila seseorang tidak mengetahui identitasnya sendiri, maka dapat dipastikan dia akan menghidupi kehidupan yang kurang baik bahkan mungkin kehidupan yang kacau, apalagi ditengah-tengah kehidupan jaman ini. Demikian halnya dalam kehidupan rohani sebagai seorang kristen. Kita bukan saja perlu, tapi memang harus mengerti identitas kita. Karena hanya dengan mengetahui identitas itulah kita dapat mempraktekkan kehidupan kristen yang sejati. II. Identitas Yang Baru. Pertanyaan “Siapakah Saya Sesungguhnya?” tentu dimaksudkan bukan untuk mengetahui identitas atau keberadaan saudara secara jasmani melainkan untuk mengetahui identitas saudara secara rohani. Ketika saudara percaya kepada Kristus dan menerima Dia menjadi Juruselamat maka saudara mendapatkan identitas yang baru di dalam Kristus. Untuk menjawab pertanyaan diatas, maka sumber jawaban adalah Firman Tuhan. Dari Firman Tuhan kita dapat mengetahui identitas kita, siapakah kita sesungguhnya. 1. Saudara Adalah Ciptaan Baru. Ketika Tuhan menciptakan segala sesuatu, firman Tuhan katakan bahwa semua baik. Manusia diciptakan dengan kemuliaan Tuhan dalam kekudusan dan kebenaran. Tetapi ketika manusia yang pertama itu jatuh kedalam dosa, mereka kehilangan kemuliaan Tuhan demikian juga keturunannya. Kejadian 2:17 yang berkata,”pada hari engkau memakannya, engkau akan mati”, tidak berarti mereka akan mati secara jasmani melainkan secara rohani dimana mereka akan menjadi terpisah dari Tuhan. Dosa manusia pertama sesungguhnya adalah bukan dosa ketidakpatuhan melainkan dosa ketidak percayaan. Ketika iblis menggoda dia, dia lebih percaya kepada perkataan iblis daripada perkataan Tuhan sehingga ia memakan buah terlarang itu. Ketidak percayaan itulah yang membuat Adam dan Hawa tidak patuh pada perkataan Tuhan untuk tidak memakan buah terlarang itu. Tetapi karena kasih Tuhan yang besar, Dia mau mengembalikan hubungan yang terputus dengan manusia, sekaligus mengembalikan hakekat kemuliaan dan kekudusan manusia itu. Untuk itulah Dia mengutus Pribadi Kristus sebagai penebus dosa manusia untuk memulihkan hubungan antara Tuhan dengan manusia. Namun sama seperti Adam dan Tuhan berdasarkan pada hubungan kepercayaan, demikian juga antara manusia dengan Kristus. Yohanes 3:16,”Karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” 2 Korintus 5:17,”Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ayat ini menunjukkan bahwa ketika seseorang percaya kepada Yesus, maka pada saat itu terjadi “penciptaan kembali” dalam diri manusia. Namun yang diciptakan kembali bukanlah daging dan jiwa melainkan roh manusia itu. Menurut 1 Tesalonika 5:23, kita adalah suatu makhluk yang terdiri dari tiga bagian yaitu tubuh, jiwa dan roh. Roh manusia inilah yang diganti dengan roh yang baru dan yang kudus, yang berasal dari Roh Tuhan yang memungkinkan Roh Tuhan berdiam di dalamnya. Epesus 4:24,“Dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Tuhan di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.“. Bandingkan Yohanes 3:5-6,” Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Tuhan. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Juga 1 Korintus 3:16 :”Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Tuhan dan bahwa Roh Tuhan diam di dalam kamu?” Jadi di dalam roh kita yang baru itulah dimungkinkan Roh Tuhan berdiam dan membawa serta segala kebaikan-Nya ke dalam roh kita. 2. Saudara adalah orang benar. Tidak sedikit orang yang mengaku sudah lama menjadi orang kristen tidak mengerti identitasnya sebagai orang benar. Mereka berupaya giat beribadah, juga giat mengikuti pelayanan-pelayanan bukan untuk mewujudkan ucapan syukur mereka kepada Tuhan, melainkan untuk menyandang predikat sebagai orang benar atau setidaknya supaya dianggap sebagai orang benar. Maka tidak heran sering kita mendengar orang berkata: “saya belum layak, kehidupan saya belum benar, saya belum pantas, saya begini, saya begitu, masa lalu saya hitam, dll” Tapi kita harus menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa ketika kita percaya kepada Kristus, dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru selamat dalam hidup kita, maka saat itu juga kita menjadi orang benar, betapapun hitam atau gelamnya masa lalu kita. Ketika Yesus mengambil rupa seorang manusia maka Dia menjadi sama dengan manusia dengan tujuan agar manusia turut ambil bagian di dalam segala karya-Nya dan identitasnya. Mereka yang percaya kepada Kristus juga dapat bagian dari Kekudusan-Nya dan Kebenaran-Nya. Oleh karena itu bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus, mereka telah dikuduskan dan dibenarkan. Dengan kata lain dimata Tuhan saudara sama kudus dan sama benarnya dengan Yesus. Karena Yesus telah mengambil dosa kita dan memberikan kebenaran-Nya bagi kita. 2 Korintus 5:21,”Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Tuhan. Yohanes 17:19 dalam doa-Nya Yesus berkata,” dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun di kuduskan dalam kebenaran,” Juga 1 Korintus 1:30 berkata,”Tetapi oleh Dia kamu berada di dalam Kristus Yesus, yang oleh Tuhan telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.” Predikat sebagai orang benar ini adalah pemberian cuma-cuma dari Tuhan, bukan karena usaha kita atau karena kebaikan kita melakukan ibadah-ibadah atau karena keberhasilan kita meninggalkan kebiasaan masa lalu. Kebaikan apapun yang dilakukan oleh orang berdosa, tetaplah dipandang dosa karena penglihatan Tuhan yang utama bukan pada perbuatan baiknya melainkan pada statusnya sebagai orang berdosa. Jadi hanya karena anugerah Tuhan lewat penebusan yang dikerjakan Kristus kita dibenarkan. Roma 3:23-24 berkata :”Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Tuhan, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Rasul Paulus adalah orang yang mempunyai keyakinan yang teguh kepada Taurat sebelum dia menerima Yesus. Fanastismenya kepada Taurat telah menjadikan dia seorang teroris yang membunuh banyak pengikut Kristus. Tetapi ketika dia mengenal Kristus, suatu kali dia berkata bahwa apa yang dulu dianggapnya keuntungan dianggapnya suatu kerugian atau sampah karena pengenalannya kepada Kristus. (Filipi 3:7-8). Tetapi kita lihat, bahwa Paulus tidak menjadikan masa lalunya yang jahat sebagai beban yang harus terus dipikul. Masa lalunya tidak membuat dia merasa bersalah dalam penyesalan yang berkepanjangan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena dia mempunyai keyakinan bahwa dia telah dibenarkan dan dosanya telah dihapus. Yesaya 1: 8 mengatakan:”...sekalipun dosamu merah seperti kermiji akan menjadi putih seperti salju..” Jadi betapapun gelapnya masa lalumu, hitam pekatnya sepekat-pekatnya latar belakang kehidupanmu, detik dimana saudara percaya detik itu juga saudara menjadi orang benar dihadapan Tuhan. Let by gone be by gone.

