From: [EMAIL PROTECTED] ISTERI YANG SALEH
"Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya" (1 Petrus 3:1) Konteks dari ayat ini berbicara tentang suatu keadaan yang sering terjadi dimana sang isteri sudah diselamatkan tetapi sang suami belum diselamatkan. Bukti dari hal ini terlihat dalam pernyataan: " ... jika ada di antara mereka yang tidak taat [apeitheo] kepada Firman" Untuk "tidak taat" adalah bentuk lain dari "ketidak-percayaan". Ini adalah bagaimana kata Yunani untuk ungkapan ini seringkali diterjemahkan dalam Perjanjian Baru. Indahnya, Tuhan dapat merubah situasi ini dimana Tuhan mampu untuk memberikan keselamatan yang berasal daripada-Nya kepada suami yang tidak percaya dengan menggunakan "percakapan" (atau kelakuan) dari sang isteri sebagai saksi "bisu" (yang berarti "...tanpa perkataan...") sebagai lawan dari "khotbah" secara langsung kepada suaminya. Sekarang bagaimana kita mengerti arti dari ungkapan "dimenangkan" [kerdaino] dalam kitab 1 Petrus 3:1 ini? Kata Yunani yang sama lebih sering diterjemahkan sebagai ungkapan "memperoleh", jadi kita dapat mengganti ungkapan "memenangkan" dengan "memperoleh". Dan dalam kitab Filipi 3:8-10 kita membaca demikian: "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh [atau memenangkan] Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus [yaitu kepercayaan milik Kristus], yaitu kebenaran yang Tuhan anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya" Perhatikan bagaimana kepercayaan atau "iman milik Kristus" dan bukan iman kita yang memulai keselamatan kita. Ingatlah bahwa pada dasarnya manusia adalah "mati secara rohani" sejak mereka berada di dalam kandungan, dan manusia tidak memiliki iman sebelum mereka diselamatkan. Kitab Ibrani 12:2a menjelaskan kepada kita demikian: "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman [yaitu sang pengarang iman kita], dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan [yaitu penyelesai iman kita] ...." Lebih jauh dalam ayat 2 dari kitab 1 Petrus 3 kita baca lagi demikian: "jika mereka melihat, bagaimana murni [percakapannya] dan salehnya hidup isteri mereka itu." Dalam bahasa aslinya kita menemukan kata "percakapan" (anastrophe) di ayat ini. Dan sesungguhnya ini menunjuk pada kelakuan atau "kebiasaan" seseorang, dan Tuhan juga menggunakan dua kata yang lain dalam ayat ini yang harus kita periksa, yaitu "murni" (hagnos) dan "saleh" (phobos). Kata Yunani untuk ungkapan "murni" ditemukan dalam kitab Titus 2:5 sebagai ungkapan "suci", dalam ayat itu kita membaca demikian: "hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Tuhan jangan dihujat orang." Dan dalam kitab 1 Petrus 2:18 kita melihat kata Yunani untuk ungkapan "saleh" diterjemahkan sebagai "takut". Dalam ayat itu kita membaca demikian: "Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis." Ini adalah ayat yang sangat bagus untuk mengingatkan para isteri yang diberkati untuk melayani suami mereka dalam cara yang memuliakan Tuhan. Dan selanjutnya ayat ini adalah nasihat bagi kita semua yang telah diberkati dengan keselamatan untuk mengenali fakta bahwa secara sederhana kita hanyalah hamba-hamba atau pelayan-pelayan yang melayani "Raja dari segala raja dan Tuan dari segala tuan" yang kepada-Nya kita harus takut, setia, dan patuh dengan segenap hati kita. Selanjutnya ayat 3 - 4 dari 1 Petrus 3 menyatakan demikian: "Perhiasanmu janganlah secara lahiriah [yaitu penampilan luar], yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa [yaitu kekal] yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Tuhan." Sekarang kita mau memeriksa kata Yunani untuk ungkapan "perhiasan" [kosmos]. Kata ini muncul dalam Perjanjian Baru sebanyak 187 kali, dan di-terjemahkan 186 kali sebagai ungkapan "dunia". Hanya dalam kitab 1 Petrus 3:3 kata ini di-terjemahkan sebagai ungkapan "perhiasan". Dan disini Tuhan sedang membuat kontras tentang apakah yang "lahiriah" (jasmani atau daging) sebagai lawan dari "batiniah" (roh), yaitu "sifat yang tersembunyi di dalam hati", yang disebut juga sebagai "roh yang lemah lembut dan rendah hati" yang sangat berhubungan dengan keselamatan yang sejati. Ayat ini membuat perbedaan yang sangat besar antara yang "lahiriah" (yaitu penampilan luar) dengan yang "tersembunyi" (yaitu penampilan dalam). Kata Yunani untuk ungkapan "lahiriah" [exothen] juga digunakan dalam kitab Matius 23:27 demikian: "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya [exothen] memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran." Dalam ayat yang cukup tajam ini Tuhan sedang menekankan prioritas rohani. Apakah gunanya untuk bersih, sehat, dan menarik secara fisik tetapi sesungguhnya sakit secara rohani dan sedang berjalan menuju hukuman yang kekal? Selanjutnya ungkapan "mengepang" [emploke] dalam frasa kata "mengepang rambut" hanya ditemukan di ayat ini dalam Perjanjian Baru, akan tetapi akar katanya [yaitu empleko] ditemukan dalam ayat-ayat berikut ini sebagai ungkapan "memusingkan" dan "terlibat": Kitab 2 Timotius 2:4 menasihatkan kita demikian: "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan [empleko] dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya." Dan kitab 2 Petrus 2:20 mengajarkan demikian: "Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia [kosmos], tetapi terlibat [empleko] lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula." [Dan dalam ayat ini ungkapan "dunia" adalah bagaimana kata kosmos biasanya diterjemahkan] Jadi ayat-ayat ini membuat kita melihat bahwa seorang isteri yang merupakan seorang yang percaya "dunia-nya" (dan juga dunia suaminya) seharusnya berfokus pada perluasan dari Kerajaan Tuhan, dan bukan menjadi tawanan dari "keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup" (1 Yohanes 2:16). Dan kitab 1 Timotius 2:9-10 menasihatkan sbb: "Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan [kosmeo] dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah." "With good will doing service, as to the Lord, and not to men" (Ephesians 6:7) May the grace of the Lord Jesus Christ be with your spirit. ================================================ From: [EMAIL PROTECTED] SUKSES YANG SEJATI "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:8) Adalah sangat mengagumkan bahwa Tuhan telah memberikan hadiah yang sangat berharga ini kepada umat manusia, yaitu Alkitab. Dan hal ini hanya dapat disamakan dengan inkarnasi dan kematian, penguburan serta kebangkitan dari Anak Tuhan, Tuhan Yesus Kristus, yang adalah fokus dan juga penggenapan dari seluruh isi Kitab Suci. Dalam kitab Mazmur 40:7-8 kita membaca demikian: "Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Tuhanku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." Selain daripada "keselamatan jiwa" tidak ada sukses yang sejati lainnya walaupun seseorang telah menjadi sangat kaya, sangat terkenal, ataupun sangat berkuasa di dunia ini. Kitab Yeremia 9:23-24 mengajarkan kepada kita demikian: "Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaan nya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN." Dan kitab Matius 16:26 mengajarkan demikian: "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" Keselamatan yang sejati sangat-sangat berhubungan dengan Alkitab, seperti yang kita baca dalam kitab Yesaya 29:18 demikian: "Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar perkataan-perkataan sebuah kitab, dan lepas dari kekelaman dan kegelapan mata orang-orang buta akan melihat." Dan kitab Ulangan 32:45-47 menyatakan demikian: "Setelah Musa selesai menyampaikan segala perkataan itu kepada seluruh orang Israel, berkatalah ia kepada mereka: "Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkannya kepada anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala [yaitu semua] perkataan hukum Taurat ini. Sebab perkataan ini bukanlah perkataan hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu ... " Dalam ayat ini Tuhan menekankan bahwa kita harus berfokus kepada Firman Tuhan dengan segenap hati kita. Semua -- bukan beberapa -- kata-kata dari Alkitab harus dipatuhi. Alkitab adalah intisari dari hidup kekristenan seperti yang Tuhan ajarkan dalam kitab Ulangan 8:3 demikian: "Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN." Kita juga melihat bahwa nabi Ayub "tidak melanggar", yang adalah ungkapan Ibrani yang sama dengan ungkapan "tidak lupa", dalam kitab Ayub 23:12 kita membaca demikian: "Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya." Ini bukan berarti bahwa nabi Ayub tidak pernah berbuat dosa, sedikit banyak Ayub pernah berbuat dosa di dalam hidupnya yang baik akan tetapi seluruh dosa-dosanya telah ditebus seperti yang kita baca dalam kitab Ayub 19:25 demikian: "Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu." Dalam hal yang sama umat Kristen yang sejati juga dijaga sampai akhir oleh "kasih karunia" Tuhan seperti yang kita baca dalam kitab Ibrani 12:2 demikian: "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman [yaitu sang Pengarang iman kita], dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Tuhan." Dan kitab Lukas 9:62 lebih jauh menjelaskan konsep ini demikian: "Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Tuhan." Dan kitab Matius 6:30-33 menambahkan demikian: "Jadi jika demikian Tuhan mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Tuhan dan KEBENARANNYA, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Hal ini juga terlihat dalam kehidupan Yosua pengganti Musa untuk memimpin bangsa Israel, seperti yang Tuhan tunjukkan dalam kitab Keluaran 33:11 demikian: "Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu." Dalam ayat yang mirip dengan Mazmur pasal 1, kitab Yeremia 17:8 menggunakan kata Ibrani untuk ungkapan "tidak lupa" sebagai "tidak berhenti". Dalam ayat itu kita membaca demikian: "Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang TIDAK BERHENTI menghasilkan buah." Sekali lagi, Tuhan mengingatkan kepada kita dalam kitab Yohanes 15:8 bahwa ini adalah tujuan dari kasih karunia-Nya untuk anak-anak yang dikasihinya, dalam ayat itu kita membaca demikian: "Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." Dan kitab Yesaya 59:21 menunjukkan bahwa Firman-Nya, atau hukum-Nya untuk selalu berada di mulut kita, dalam ayat itu kita membaca demikian: "Adapun Aku, inilah perjanjian-Ku dengan mereka, firman TUHAN: Roh-Ku yang menghinggapi engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN." Ungkapan "mulut" menunjuk kepada keperluan rohani kita sebagai tambahan dari makanan fisik, seperti yang dijelaskan dalam kitab Matius 4:4 demikian: "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan." Dan kitab Mazmur 119:131 menyatakan demikian: "Mulutku kungangakan dan megap-megap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu." Ini juga menunjuk kepada prinsip alkitabiah yang lain seperti yang ditemukan dalam kitab Matius 12:34b yang berkata demikian: "... Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati." Dan kitab 1 Petrus 3:15 menasihatkan kepada kita demikian: " ... Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat" "Let the word of Christ dwell in you richly in all wisdom; teaching and admonishing one another in psalms and hymns and spiritual songs, singing with grace in your hearts to the Lord" (Colossians 3:16) May the grace of the Lord Jesus Christ be with your spirit. ============================================== From: [EMAIL PROTECTED] NASIHAT KEPADA ISTERI "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya." (Efesus 5:31-33) Seorang isteri Kristen diharuskan untuk "menghormati" suaminya, yang berarti dia harus menghargai suaminya dan mengakui bahwa sang suami adalah kepala keluarga. Ini tidak berarti bahwa suaminya adalah "tuan besar", tetapi pada akhirnya sang suami-lah yang harus bertanggung-jawab kepada Tuhan atas apa yang terjadi di dalam keluarganya. Oleh sebab itu, seorang suami harus mempunyai keprihatinan yang besar tentang bagaimana kehidupan isterinya dalam mengenal Tuhan. Disisi yang sama, seorang isteri Kristen harus menghargai suaminya walaupun suaminya bukanlah seorang yang percaya. Kitab 1 Petrus 3 berbicara mengenai isteri dengan suami yang belum diselamatkan, yaitu seseorang yang tidak mengasihi Tuhan, dan Tuhan berkata dalam kitab 1 Petrus 3:1 sbb: "Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya," Isteri harus tunduk dalam segala hal yang sah menurut hukum kepada suaminya. Tetapi jika suaminya meminta dia untuk berbuat sesuatu yang berdosa, dia harus menurut kepada Tuhan daripada menuruti keinginan suaminya. Selama sang suami meminta sesuatu yang tidak berdosa, sekalipun isterinya tidak perduli untuk itu, sang isteri sebaiknya berusaha untuk menurut. Isteri harus mempunyai rasa hormat yang besar terhadap atasannya sama seperti ia menghormati Tuhan. Dalam kitab Kolose 3:23 kita membaca demikian: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." Penekanan yang mirip juga kita temukan dalam kitab Efesus 5:22 yang berkata demikian: "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan" Orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus harus berpikir, berbicara dan bertindak dengan tujuan untuk memuliakan sang Tuan atau Juruselamat mereka. Tentu saja, hal ini adalah benar baik untuk laki-laki, perempuan maupun anak-anak. Akan tetapi dalam ayat ini dan juga ayat-ayat lainnya, para isteri diperintahkan untuk tunduk kepada suaminya "seperti kepada Tuhan". Dalam kitab Kolose 3:18 kita membaca demikian: "Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan." Hal ini menunjuk pada keinginan yang tulus dari seorang isteri untuk menempatkan dirinya dibawah otoritas sang suami, sama seperti isteri harus tunduk kepada Tuhan sendiri. Tindakan yang seperti itu dicatat dan di-demonstrasikan dalam kitab 1 Petrus 3:6 yang kita baca demikian: "sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya ... " Kata Yunani yang di-terjemahkan sebagai ungkapan "tundukkanlah" juga kita temukan dalam kitab 1 Petrus 2:13 yang menegaskan tugas dari seorang warga negara Kristen untuk mematuhi hukum yang berlaku di tempat ia tinggal (kecuali kalau hukum tersebut melanggar ketentuan Kitab Suci). Dalam ayat itu kita membaca demikian: "Tunduklah, karena Tuhan, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi" Dan kitab 1 Korintus 11:3 menegaskan kenyataan ini demikian: "Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki ..... " Sang isteri harus tunduk atau taat, atau menjadi subjek dari sang suami "seperti kepada Kristus", dan pada gilirannya sang suami juga harus mengasihi isterinya sama seperti Kristus mengasihi gereja yang kekal. Kitab Efesus 5:25 dengan jelas bersaksi demikian: "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya" Secara alami, adalah lebih mudah bagi sang isteri untuk tunduk kepada suaminya ketika sang suami menunjukkan pengorbanan yang besar untuk isterinya. Akan tetapi bagaimanapun juga, jika ini bukanlah kasusnya, sang isteri tetap harus tunduk kepada sang suami "seperti kepada Tuhan". Ayat 24 dari kitab Efesus 5 mengajarkan kepada kita demikian: "Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu." Dan kitab 1 Petrus 2:18 menasihatkan demikian: "Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis." Lebih jauh kitab Roma 8:7 menjelaskan perang rohani (perseteruan) yang terjadi antara orang-orang yang belum diselamatkan dengan Tuhan, dan hal itu menekankan ketidak-mampuan sifat dasar manusia untuk tunduk kepada Firman Tuhan sebelum ia benar-benar diselamatkan. Dalam ayat itu kita membaca demikian: "Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Tuhan, karena ia tidak takluk kepada hukum Tuhan; hal ini memang tidak mungkin baginya." Nah, Firman Tuhan yang ingin anda baca berulang kali adalah kitab Efesus 5:21-25 yang berkata demikian: "dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya." Mintalah kepada Tuhan untuk menolong anda untuk saling mengasihi dan ikutilah peraturan dalam kitab Filipi 4:8 yang kita baca demikian: "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." "Give us day by day our daily bread." (Luke 11:3) May the grace of the Lord Jesus Christ be with your spirit.

