From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>

Edisi 83 -- Kesombongan yang Menghancurkan

PENGANTAR

   Pernahkah Anda mengalami satu masa di mana tidak ada lagi jalan
   keluar? Bagi kita, orang percaya, siapa yang kita cari? Bersyukur
   jika Anda memilih Tuhan yang akan Anda andalkan. Lantas, apakah
   demikian juga jika keadaan Anda baik-baik saja? Jika Anda tidak
   membutuhkan siapa pun untuk melakukan setiap pekerjaan Anda? Apakah
   Anda masih akan tetap mencari Tuhan dan berserah penuh kepada-Nya?

   Mari simak kisah di bawah ini, kita akan bersama-sama belajar untuk
   semakin mengandalkan Tuhan dan berserah penuh kepada-Nya justru di
   saat kita merasa kuat dan merasa mampu mengerjakan semuanya sendiri.
   Selamat membaca dan semoga iman Anda semakin diteguhkan.

   Redaksi Tamu,
   Hilda Dina Santoja
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

                    KESOMBONGAN YANG MENGHANCURKAN
   Tuhan memercayakan kepadaku sebuah pekerjaan yang bagus dan aku
   sangat yakin bahwa apa yang Dia berikan itu adalah yang terbaik.
   Suatu kali, pihak perusahaan memberikan tanggung jawab kepadaku
   untuk memimpin salah satu anak perusahaan yang baru didirikan. Tahun
   pertama merupakan sebuah kegemilangan. Semuanya berjalan dengan luar
   biasa karena pertolongan Tuhan. Dalam masa jaya itu, berulang-ulang
   aku menyatakan kepada beberapa teman, bahwa sama seperti raja-raja
   Yehuda, selama aku taat dan setia kepada Tuhan, maka pekerjaan yang
   dipercayakan Tuhan kepadaku akan diberkati-Nya dengan luar biasa.

   Aku percaya bahwa konsep itu merupakan kebenaran. Namun ternyata,
   setelah tahun pertama yang sukses, tahun kedua muncul banyak kendala
   sehingga pada semester pertama, aku meleset jauh dari target yang
   ditetapkan. Aku mulai bertanya kepada Tuhan. Dalam kebingunganku,
   dengan cara-Nya yang sangat unik, Tuhan menyadarkan aku bahwa
   keberhasilan tidaklah ditentukan oleh kemampuanku sendiri, apalagi
   hanya sekadar oleh ketaatanku. Konsepku ternyata mengandung sebuah
   kesombongan karena di dalamnya tersirat kalau aku berhasil itu
   karena aku sendiri, yang bekerja keras dan taat. Sekalipun aku
   bekerja keras untuk melakukan yang terbaik bagi perusahaan,
   sekalipun aku habis-habisan taat dan berusaha hidup berkenan kepada
   Tuhan, Tuhanlah yang berhak menentukan hasilnya.

   Kemudian aku sadar dan mengakui bahwa segala keberhasilan adalah
   berasal dari Tuhan. Kerja keras dan taat adalah tugas dan tanggung
   jawabku. Aku tidak berhak menuntut apapun dari kewajiban yang
   kutunaikan itu. Karena dengan cara itulah Tuhan ingin menyatakan
   bahwa Dia berkuasa, Dia yang menentukan. Haleluya.

   Setelah kuakui bahwa Tuhanlah yang mengendalikan segala sesuatu
   bagiku, maka Tuhan mulai mengerjakan yang terhebat bagiku. Yang
   Tuhan kerjakan ternyata jauh lebih hebat daripada yang aku
   bayangkan. Pekerjaanku dan hidupku diberkati-Nya luar biasa setelah
   aku mengakui bahwa aku ini tidak berarti, hanya debu, hamba yang tidak 
berharga.

   Diambil dan diedit seperlunya dari:
   Nama situs: Glorianet
   Penulis: Yesaya Christian Oenas, Jakarta
   Alamat URL: http://www.glorianet.org/kesaksian/ksak_177.html
______________________________________________________________________

   "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita 
doakan atau 
    pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita," 
(Efesus 3:20)  
   < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Efesus+3:20 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

   1. Bersyukur untuk iman yang Sdr. Yesaya miliki, bahwa hanya
      Tuhanlah yang lebih hebat dari segala sesuatu yang hebat yang
      mampu dilakukannya. Kiranya iman dan percayanya ini terus
      terjaga. Bahkan melalui kesaksiannya ini, banyak orang terketuk
      dan kembali diingatkan pada kekuatan-Nya yang mampu melakukan
      banyak perkara jauh lebih hebat dari apa yang manusia sanggup lakukan.

   2. Kiranya masalah yang sering terjadi dalam pergulatan pekerjaan
      sehari-hari dapat membuat kita semakin mengandalkan Tuhan.
      Bersyukur pula karena melalui setiap masalah, kita semakin
      diingatkan bahwa kita ini manusia yang lemah tanpa Tuhan. Biarlah
      kita tidak bermegah diri atas apa yang telah kita lakukan,
      melainkan memuliakan Tuhan karena kasih karunia-Nya.

   3. Jika saat ini kita sedang terlena dan melupakan kekuatan Tuhan,
      mari kita berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan membelokkan
      kita pada kesadaran yang benar. Biarlah kita terus menyadari dan
      mengingat bahwa untuk mengerjakan pekerjaan-Nya dalam hidup kita,
      Dia menganugerahkan kekuatan dan kasih karunia-Nya.
______________________________________________________________________
  
From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>

Edisi 84 -- Tuhan yang Memanggil, Tuhan yang Mencukupkan

 
PENGANTAR

   Saat kita memutuskan untuk taat akan panggilan Tuhan, bukan berarti
   perjalanan kita akan selalu mulus tanpa hambatan. Bagaimanapun,
   Tuhan pasti mengizinkan banyak hal terjadi pada kita guna membentuk
   setiap pelayan-Nya menjadi hamba yang benar-benar setia dan
   memuliakan nama-Nya. Meskipun hambatan terjadi di sana-sini dan
   tantangan datang dari segala penjuru, tetaplah taat akan
   panggilan-Nya. Jangan menyerah karena Tuhan selalu terlibat dalam
   setiap perjalanan hidup kita menuju rencana dan kehendak-Nya. Tuhan
   selalu bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap hamba-Nya  yang setia.

   Kesaksian berikut ini merupakan satu dari sekian banyak kisah
   mengenai keterlibatan Tuhan dalam menuntun anak-anak-Nya yang taat
   akan panggilan untuk bekerja di ladang-Nya. Kiranya menjadi berkat
   bagi kita semua dan semakin menguatkan kita untuk tetap setia akan
   panggilan Tuhan dalam hidup kita. Amin!

   Redaksi Tamu,
   Evie Wisnubroto
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

             TUHAN YANG MEMANGGIL, TUHAN YANG MENCUKUPKAN
                            Oleh: Davida

   Yohanes, seorang putra petani miskin berhasil meraih peringkat kedua
   siswa terbaik sekabupaten dan berhak mendapatkan beasiswa penuh dari
   pemerintah kabupaten untuk melanjutkan kuliahnya di pulau Jawa.
   Sebuah kesempatan emas yang selalu dinanti-nantikan oleh siswa yang lain.

   Penghargaan ini bukanlah kegembiraan bagi Yohanes, tapi pergumulan
   berat. Keluarga sangat ingin dia menerima tawaran beasiswa tersebut,
   namun di lain pihak, Yohanes sudah bernazar kepada Tuhan untuk
   menjadi hamba-Nya dan masuk ke sekolah teologi. Dia juga memiliki
   keyakinan akan panggilan Tuhan untuk bekerja di ladang-Nya. Tetapi
   jika Yohanes masuk sekolah teologi, keluarga Yohanes tidak menjamin
   bisa membiayai, walaupun dalam hati pihak keluarga sebenarnya ingin
   juga anak lelaki satu-satunya itu menjadi hamba Tuhan.

   Yohanes yakin Tuhan tahu keadaan ekonomi keluarganya. Sejak kelas 1
   SMA, Yohanes telah menggumulkan hal ini. Tetapi Tuhan malah
   memberikan jawaban yang lain. Beasiswa merupakan jawaban yang dia
   inginkan, tetapi mengapa bukan untuk sekolah teologi? Apakah ini
   bukan kehendak Tuhan, Yohanes menjadi hamba-Nya? Akan tetapi
   pergumulan itu tetap tidak melemahkan suara panggilan Tuhan dalam
   dirinya. Yohanes melepaskan beasiswa ke sekolah umum dan memilih
   bersekolah di sebuah sekolah teologi di ibu kota provinsinya.

   Berbekal sedikit tabungan hasil memanenkan cengkeh dari kebun
   tetangganya dan sedikit pemberian uang dari orang tua, Yohanes
   mendaftarkan diri di sekolah teologi. Satu tahun pertama dia lewati,
   dan puji Tuhan, walau entah dengan cara apa, orang tuanya bisa
   mengiriminya sedikit uang untuk bertahan hidup di asrama. Sampai
   akhirnya tidak ada kiriman lagi dari kampung dan utang di sekolah
   pun menumpuk. Yohanes tidak patah semangat, dia yakin Tuhan tidak pernah 
diam.

   Libur panjang tiba. Dapur asrama tutup, tetapi asrama tetap boleh
   ditempati. Uang Yohanes hanya cukup untuk membeli sabun dan odol
   selama liburan. Untuk mendapat makan siang, Yohanes membantu sebuah
   warung kecil sebagai pencuci piring. Jika warung itu sudah tutup,
   Yohanes pergi ke rumah dosen yang ada di kompleks kampusnya untuk
   menyapu halaman, atau memotong rumput, atau mencucikan mobil, atau
   melakukan apa saja yang bisa dikerjakannya. Dosen-dosen yang melihat
   kerajinannya itu pun dengan sukacita memberikan uang saku ala
   kadarnya, walaupun Yohanes tidak memintanya.

   Saat ada tawaran dari sebuah distributor kecil untuk menjajakan
   kecap ke pelosok kota, walaupun hanya dengan berjalan kaki, Yohanes
   pun tidak menolak. Dia melakukan itu semua karena yakin itulah cara
   Tuhan memberikannya berkat. Upah dari menjajakan kecap itu, walaupun
   tidak banyak, diharapkan dapat dipakai untuk mencicil utang kuliahnya.

   Liburan usai. Saatnya pembayaran uang kuliah. Tabungan Yohanes jauh
   dari cukup untuk membayar uang kuliah. Orang tuanya pun tetap tidak 
mengirimkan uang.

   Suatu siang, dia mendapatkan surat peringatan dari pengurus sekolah.
   Jika dalam satu minggu utang kuliah tidak dibayar, dia harus
   meninggalkan asrama. Mulai sejak diterimanya surat peringatan
   tersebut, dia tidak boleh lagi mengikuti kuliah dan tidak lagi mendapat 
jatah makan.

   Tulang-tulang Yohanes lemas. Rasa sakit dalam hatinya menggeliat.
   Ingin protes, tetapi mengingat seluruh kebaikan Tuhan dalam hidupnya
   membuat Yohanes yakin bahwa Tuhan pasti sedang merancangkan sesuatu
   yang indah baginya. Dia tetap yakin ini panggilan Tuhan sehingga
   rasa sakit, rasa kuatir, dan rasa cemas itu tidak membuatnya menyerah.

   Sejak diterimanya surat itu, Yohanes tidak keluar kamar kecuali ke
   kamar kecil. Dia hanya mengisi perutnya dengan air putih. Hari kedua
   pergumulannya, pintu kamarnya diketuk. Dua orang temannya masuk
   membawakan sepiring nasi dan sayur. Yohanes kaget mengapa temannya
   itu bisa membawakan dia makanan, karena nasi, sayur, serta lauk
   sudah dijatah dari dapur, jadi tidak mungkin ada yang lebih.
   Ternyata teman-temannya mengumpulkan seorang demi seorang satu
   sendok makan nasi dan sayur jatah mereka untuk Yohanes. Air mata
   Yohanes kembali menetes karena keindahan yang sudah Tuhan tunjukkan pada dia.

   Karena tidak boleh lagi mengikuti kuliah, Yohanes menghabiskan waktu
   untuk berdoa dan mempersiapkan hati untuk meninggalkan kampus
   tercintanya itu. Tuhan mungkin ingin aku menjadi hamba-Nya tanpa
   berlama-lama menghabiskan waktu di sekolah teologi ini. Begitu
   pikir Yohanes selama masa pergumulannya.

   Hari berlalu. Besok dia harus segera meninggalkan asrama ini.
   Yohanes sudah berusaha meminta keringanan dari pengurus sekolah,
   tetapi tidak ada jalan keluarnya. Dia mengemasi pakaian dan bukunya
   ke dalam kopor tua yang terbuat dari kayu, bikinan ayahnya.
   Ketegaran seorang Yohanes runtuh saat dia harus memasukkan semua
   buku pelajaran dan Alkitab tuanya. "Tuhan, apakah memang Engkau
   tidak berkenan jika aku ingin belajar banyak lagi tentang Engkau dan
   firman-Mu? Tetapi Tuhan, jika ini kehendak-Mu, tolong kuatkan
   hatiku. Aku tidak mengharapkan mukjizat, hanya kekuatan dan topangan
   tangan-Mu," doa Yohanes dalam hatinya.

   Yohanes masih berkemas saat pintu kamarnya diketuk. "Nes, kamu
   dipanggil Pak bendahara," teriak sebuah suara dari luar pintu
   kamarnya. "Pak bendahara pasti mau nagih utang karena besok hari
   terakhir tenggang yang diberikan. Ah ..., saya sudah siap. Tuhan,
   Engkau yang panggil saya kemari, dan Engkau pula yang meminta saya
   untuk meninggalkan kampus ini. Tetapi aku akan terus melayani-Mu
   walau tanpa sekolah teologi sekalipun."

   "Selamat siang, Pak," salam Yohanes dengan suara pelan.

   "Siang, Yohanes!" sahut pak bendahara dengan suaranya yang berwibawa.

   "Saya tidak bisa melunasi utang saya, Pak. Dan sekalian saya mau
   pamit. Besok subuh saya akan meninggalkan kampus ini," kata Yohanes
   lagi dengan suara yang kali ini lebih tegar.

   "Mengapa kamu mau pergi? Kamu tidak percaya Tuhan pasti tolong
   kamu?" tanya pak bendahara sembari menyerahkan sebuah amplop surat.
   "Buka dan bacalah surat itu," pinta pak bendahara.

   Dengan tangan sedikit gemetar, Yohanes membuka surat itu. Dibacanya
   setiap kalimat di dalamnya sampai berulang kali.

   Sebuah yayasan penginjilan di Jakarta menulis surat kepada pengurus
   sekolah. Mereka mengatakan akan melunasi semua utang perkuliahan
   Yohanes dan membiayai seluruh kebutuhan kuliahnya sampai lulus!

   Keindahan itu sungguh memesonakan Yohanes. Tuhan sungguh luar
   biasa. Sekali lagi, diperkenankan-Nya Yohanes mengenal Dia, yang
   sudah memanggilnya dengan cara yang sungguh indah.

   Yohanes akhirnya dapat melanjutkan kuliahnya sampai lulus.

   Siapa yang sudah memberitahukan tentang kesulitan Yohanes kepada
   para pengurus yayasan tersebut? Para pengurus sekolah tidak mau
   memberitahukan rahasia itu kepada Yohanes. Sampai hari ini, rahasia
   itu tetap menjadi rahasia bagi Yohanes, yang saat ini telah menjadi
   seorang pendeta dan menjadi ketua sinode sebuah organisasi gereja di 
Indonesia.

   *) Kesaksian ini ditulis berdasarkan kesaksian Bapak Yohanes kepada penulis.
______________________________________________________________________

   "Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus,
   Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan
   pelayanan ini kepadaku." (1Timotius 1:12)
   < http://sabdaweb.sabda.org/?p=1Timotius+1:12 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

   1. Banyak anak muda yang merasa terpanggil untuk melayani Tuhan dan
      masuk ke sekolah teologi. Namun, tidak sedikit pula yang
      terhambat karena kurangnya biaya. Mari berdoa bagi mereka agar
      tetap mengikuti panggilan Tuhan dan tidak mundur dari panggilan
      karena tantangan dan hambatan yang ada. Biarlah mereka terus
      menanggapi panggilan tersebut dan beriman penuh bahwa Tuhan
      yang memanggil, Tuhan pula yang mencukupkan.

   2. Berdoa bagi setiap anak-anak Tuhan yang saat ini tetap teguh
      dalam panggilan mereka. Biarlah mereka dapat memenangkan
      pertandingan iman mereka sampai akhir dan menghasilkan buah
      dari ketaatan mereka terhadap panggilan Tuhan tersebut.

   3. Mengucap syukur bagi setiap donatur yang Tuhan gerakkan hatinya
      untuk membantu mahasiswa-mahasiswa sekolah teologi yang
      membutuhkan bantuan biaya untuk menyelesaikan pendidikannya.
      Biarlah pula setiap mahasiswa bertanggung jawab penuh atas
      setiap berkat yang telah Tuhan berikan kepada mereka melalui para donatur 
tersebut.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2008 YLSA
YLSA -- http://www.ylsa.org/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Pipin
Kontributor: Davida
Kontak: < kisah(at)sabda.org >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/

Kirim email ke