From: rm_maryo 

"Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 
(Yeh 24:15-24; Mat 19:16-22)

"Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah 
yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 
Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? 
Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, 
turutilah segala perintah Tuhan." Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang 
mana?"
 Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan 
mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu 
manusia seperti dirimu sendiri." 
Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang 
masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, 
juTuhan segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka 
engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah 
Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, 
sebab banyak hartanya"(Mat 19:16-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
. Setiap orang atau manusia kiranya menghendaki `hidup kekal', hidup mulia dan 
bahagia di sorga bersama Tuhan Pencipta setelah mati atau meninggal dunia. 
Hemat saya sesuai dengan sabda Yesus hari ini `hidup kekal' sudah dapat kita 
cicipi atau rintis pada masa kini, selama hidup di dunia ini, yaitu dengan 
`menjual segala milik dan memberikannya kepada orang-orang miskin dan kemudian 
mengikuti Yesus, yang walaupun kaya telah menjadi miskin bagi keselamatan 
seluruh dunia'. 
`Menjual segala milik dan kemudian memberikannya kepada orang-orang miskin' 
kiranya tidak mungkin kita hayati apa adanya, tetapi menurut saya berarti 
memfungsikan atau menggunakan segala milik atau harta kekayaan tidak hanya 
untuk diri sendiri atau keluarga dan kelompok sendiri tetapi juga harus 
memperhatikan mereka yang miskin dan ber-kekurangan, sehingga tidak kemiskinan 
lagi di dunia ini. "Tuhan menghendaki, supaya bumi beserta segala isinya 
digunakan oleh semua orang dan sekalian bangsa, sehingga harta benda yang 
tercipta dengan cara yang wajar harus mencapai semua orang, berpedoman pada 
keadilan, diiringi cintakasih" (Vatikan II: GS no 69). Seruan atau ajaran dari 
Konsili Vatikan II ini kiranya layak menjadi pedoman atau acuan kita dalam 
mengelola dan mengurus harta benda atau segala milik kita, dan hal ini rasanya 
lebih kena pada orang-orang kaya, entah yang tinggal di desa atau di kota-kota. 
Maka kami berharap kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang untuk 
bersifat sosial, antara memperhatikan saudara-saudarinya yang miskin dan 
berkekurangan, entah yang tinggal di lingkungan masyarakat maupun tempat kerja. 
Jika anda yang kaya kurang atau tidak sosial pasti akan merasa diri tidak aman 
atau tidak bahagia atau sejahtera sejati serta senantiasa merasa was-was dan 
terancam, dan dengan demikian tak mungkin mulai merintis atau mencicipi `hidup 
kekal' di dunia ini. 
. "Hai anak manusia, lihat, Aku hendak mengambil dari padamu dia yang sangat 
kaucintai seperti yang kena tulah, tetapi janganlah meratap ataupun menangis 
dan janganlah mengeluarkan air mata. Diam-diam saja mengeluh, jangan mengadakan 
ratapan kematian; lilitkanlah destarmu dan pakailah kasutmu, jangan tutupi 
mukamu dan jangan makan roti
perkabungan" (Yeh 24:16-17). 
Apa yang difirmankan Tuhan kepada nabi Yeheskiel ini kiranya juga terarah 
kepada kita semua. Apapun atau siapapun yang sangat kita cintai di dunia ini 
pada dasarnya tidak abadi atau tidak kekal, dan pada suatu saat akan musnah 
atau hilang; khususnya ketika kita mati atau dipanggil Tuhan semuanya itu harus 
kita tinggalkan. Orang yang lekat tak teratur pada harta benda, uang atau 
saudara-saudarinya pasti akan merasa tidak rela atau kurang mempersembahkan 
diri seutuhnya ketika dipanggil Tuhan: marah-marah atau dalam bahasa Jawa 
disebut `mecati'. Sebaliknya orang yang mengambil sikap lepas bebas terhadap 
semuanya itu ketika akan dipanggil Tuhan ia akan tersenyum gembira, 
mem-persembahkan diri seutuhnya dengan ceria, dan ketika telah mati, menjadi 
mayat, nampak lebih tampan atau cantik, senyum terus. Marilah mengambil sikap 
lepas bebas terhadap segala sesuatu: jika harta benda, uang, kekayaan, 
kedudukan, jabatan atau pangkat tidak menolong kita dalam mengejar tujuan kita 
diciptakan, yaitu keselamatan jiwa, hendaknya semuanya itu dilepaskan atau 
dibuang saja. Bersikap lepas bebas terhadap semua yang kita cintai berarti yang 
kita cintai senantiasa mendorong kita untuk menjadi lebih suci, lebih mengasihi 
dan dikasihi oleh Tuhan dan semua orang, sebagaimana terjadi dalam diri Yesus 
"bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Tuhan ada 
pada-Nya."(Luk 2:40) 
"Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan 
Tuhan yang melahirkan engkau. Ketika TUHAN melihat hal itu, maka Ia menolak 
mereka, karena Ia sakit hati oleh anak-anaknya lelaki dan perempuan. Ia 
berfirman: Aku hendak menyembunyi kan wajah-Ku terhadap mereka, dan melihat 
bagaimana kesudahan mereka, sebab mereka itu suatu angkatan yang bengkok, 
anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan"(Ul 32:18-20)

Jakarta, 18 Agustus 2008
===================================================
From: rm_maryo 

"Bagi Tuhan segala sesuatu mungkin."
(Yeh 28:1-10; Mat 19:23-30)

"Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya 
sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi 
Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari 
pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Tuhan." 
Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika 
demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"
Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi 
bagi Tuhan segala sesuatu mungkin." 
Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan 
segala
sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" 
Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu 
penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, 
kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk 
menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku 
meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa 
atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat 
dan akan memperoleh hidup yang kekal.Tetapi banyak orang yang terdahulu akan 
menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."(Mat 
18:23-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
. "Selama kita memiliki kemauan, keuletan, dan keteguhan hati, besi batangan 
pun bila digosok terus-menerus, pasti akan menjadi sebatang jarum.Miliki 
keteguhan hati!", demikian salah satu motto Bapak Andrie Wongso, promotor 
Indonesia. Motto ini kiranya sangat dekat dengan sabda Yesus: "Aku berkata 
kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang 
kaya masuk ke dalam Kerajaan Tuhan.
Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Tuhan segala sesuatu mungkin.". 
Maka marilah dalam hidup maupun kerja kita setiap hari senantiasa kita bersatu 
dan bersama Tuhan agar dapat mengatasi atau menyelesaikan berbagai tantangan, 
hambatan atau rintangan. Kita dapat dibantu mawas diri dengan mencermati apa 
yang terjadi dalam pertumbuhan dan perkembangan `kecambah' atau `janin/ 
embriyo' , dimana nampak jelas sekali karya Tuhan yang menganugerahi 
pertumbuhan dan berkembangan, mengatasi berbagai macam tantangan dan hambatan. 
Dengan kata lain dalam diri kita masing-masing ada kekuatan Tuhan luar biasa 
besarnya, maka jangan ingkari kenyataan ini. Karya Tuhan dapat terwujud dalam 
keutamaan-keutamaan `kemauan, keuletan dan keteguhan hati', sebagaimana menjadi 
motto Bapak Andrie Wongso. Marilah kita hayati keutamaan-keutamaan ini dalam 
mengejar tujuan kita diciptakan, yaitu keselamatan jiwa kita, antara lain 
dengan setia menghayati dan melaksanakan panggilan dan tugas perutusan kita 
masing-masing, tetap saling mengasihi baik dalam untung maupun malang. Ingat, 
renungkan dan hayati visi-misi atau spiritualitas atau charisma yang menjadi 
jiwa hidup dan kinerja kita masing-masing, serta kita tinggalkan cara-cara yang 
tidak sesuai dengan visi-misi atau spiritualitas/charisma, lebih-lebih cara 
hidup dan cara bertindak yang hanya mengikuti keinginan atau selera pribadi. 
. "Karena hatimu menempatkan diri sama dengan Tuhan, maka, sungguh, Aku membawa 
orang asing melawan engkau, yaitu bangsa yang paling ganas, yang akan menghunus 
pedang mereka, melawan hikmatmu yang terpuja; dan semarakmu dinajiskan.Engkau 
diturunkannya ke lobang kubur, engkau mati seperti orang yang mati terbunuh di 
tengah lautan."(Yeh 28:6-8). Firman Tuhan melalui Yeheskiel ini layak menjadi 
refleksi atau permenungan bagi kita semua. Menyamakan diri sama dengan Tuhan 
berarti tidak beriman alias menjadikan dirinya `Tuhan', padahal diri kita 
adalah ciptaan atau buatan Tuhan. Dengan kata lain orang yang demikian adalah 
sombong serta melecehkan dan merendahkan sesama manusia maupun ciptaan-ciptaan 
lainnya. Orang sombong sebelum mati atau dibunuh orang lain, pada hemat saya 
sudah `terbunuh' alias tersingkir atau terhukum, karena ia pasti akan dijauhi 
oleh sesamanya.
Ia menderita karena kesombongannya. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka 
yang kaya, entah kaya akan harta benda/uang, ilmu pengetahuan, pengalaman, 
dst.. hendaknya tidak menjadi sombong, melainkan rendah hati, sebagaimana 
dikatakan oleh pepatah "padi semakin berisi semakin menunduk". Sadarilah dan 
hayatilah bahwa aneka kekayaan tersebut merupakan anugerah Tuhan yang kita 
terima melalui kebaikan sesama dan saudara-saudari kita, dan hendaknya aneka 
kekayaan tersebut difungsikan demi kebahagiaan bersama, sumbangkan dengan 
cuma-cuma kepada mereka yang lebih membutuhkan, yang miskin dan berkekurangan. 
Semakin kaya hendaknya semakin mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan maupun 
sesamanya. 

"Seharusnya Aku berfirman: Aku meniupkan mereka, melenyapkan ingatan kepada 
mereka dari antara manusia, tetapi Aku kuatir disakiti hati-Ku oleh musuh, 
jangan-jangan lawan mereka salah mengerti, jangan-jangan mereka berkata: Tangan 
kami jaya, bukanlah TUHAN yang melakukan semuanya ini. Sebab mereka itu suatu 
bangsa yang tidak punya pertimbangan, dan tidak ada pengertian pada mereka " 
(Ul 32:26-28) 

Jakarta, 19 Agustus 2008 
===================================================
From: rm_maryo 

"Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu"
(Yeh 34:1-11; Mat 20:1-16a)

"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar 
keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.
Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia 
menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada 
mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai 
dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka 
datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima 
masing-masing satu dinar.
Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih 
banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka 
menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang 
masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan 
kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. 
Tetapi tuan itu
menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap 
engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan 
pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti 
kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? 
Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir 
akan menjadi yang terdahulu" (Mat 20:1-2.8-16a), demikian kutipan Warta Gembira 
hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Bernardus, Abas dan 
Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai 
berikut:
. Iri hati kiranya merupakan penyakit yang sangat membahayakan.
Mengapa? Orang pandai dan kaya, merasa diri penting namun dalam kenyataan tidak 
memiliki peran atau kedudukan dalam hidup bersama, entah hidup bermasyarakat, 
berbangsa, bernegara atau beragama, ketika ia iri hati maka lalu melakukan 
aneka gerakan atau sabotase yang mengganggu hidup bersama. Orang kecil, miskin 
atau anak-anak iri hati ada kemungkinan menjadi `ngambek atau ndableg' atau 
mogok untuk
melakukan pekerjaan atau tugasnya. Sebaliknya orang rendah hati akan siap sedia 
dengan jiwa besar dan hati rela berkorban untuk melakukan apapun atau diberi 
tugas apapun. Iri hati memang erat kaiitannya dengan kesombongan, kebalikan 
dari rendah hati. Maka, menanggapi sabda Yesus "Orang yang terakhir akan 
menjadi yang terdahulu", marilah mawas diri perihal keutamaan kerendahan hati, 
meneladan Yesus yang rendah hati, "yang walaupun dalam rupa Tuhan, tidak 
menganggap kesetaraan dengan Tuhan itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 
melainkan telah mengosong kan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang 
hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia 
telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu 
salib"(Fil 2:6-8). Mengosongkan diri antara lain berarti tidak mempertahankan 
keinginan, minat, harapan atau cita-cita sendiri, melainkan senantiasa membuka 
diri dan siap sedia menerima dan melakukan segala kemungkinan yang lebih baik 
serta menyelamatkan jiwa. Itulah kiranya apa yang dilakukan atau dihayati oleh 
St.Bernardus, sehingga ia kaya akan pengalaman rohani yang sangat berguna bagi 
sesamanya. Kekayaan rohani atau menjadi orang baik kiranya lebih penting 
daripada kekayaan ilmu pengetahuan atau harta benda, pandai atau kaya. 
. "Aku sendiri akan menjadi lawan gembala-gembala itu dan Aku akan menuntut 
kembali domba-domba-Ku dari mereka dan akan memberhentikan mereka 
menggembalakan domba-domba-Ku. Gembala-gembala itu tidak akan terus lagi 
menggembalakan dirinya sendiri; Aku akan melepaskan domba-domba-Ku dari mulut 
mereka, sehingga tidak terus lagi menjadi makanannya. Sebab beginilah firman 
Tuhan YHWH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku 
dan akan mencarinya."(Yeh 34:10-11).Kutipan ini kiranya baik direnungkan oleh 
siapapun yang merasa diri menjadi `gembala' atau pemimpin.
St.Bernardus dalam perjalanan hidupnya juga mengingatkan para gembala, baik 
paus maupun uskup, antara lain agar tidak menggembalakan diri sendiri atau 
menurut selera pribadi, melainkan meneladan Gembala Sejati, Yesus, yang rendah 
hati. Para pemimpin di tingkat atau bidang pelayanan apapun dan dimanapun 
hendaknya mem-fungsikan atau menghayati kemimpinannya dengan rendah hati alias 
kepemimpinan partisipatif, yang mendengarkan serta menanggapi apa yang 
disuarakan oleh yang dipimpin melalui berbagai cara dan gaya. Dalam hal ini 
saya terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Bapa Suci, Paus Yohanes Paulus II, 
dalam kunjungan pastoral ke berbagai Negara, antara lain Indonesia. Yang Mulia 
menyampaikan kotbah bagus dalam Perayaan Ekaristi bersama umat Tuhan yang 
dikunjungi. Harap tahu bahwa kotbah tersebut ,sebagian besar atau tidak boleh 
dikatakan seluruhnya, disiapkan dan dibuat oleh mereka yang akan dikunjungi, 
tentu saja oleh beberapa orang yang kenal betul dengan umat, wilayah 
pemerintahan yang akan dikunjungi. Bukankah hal ini merupakan slah satu bentuk 
kerendahan hati seorang gembala/pemimpin, yang mendengarkan domba-domba/yang 
dipimpin? 

"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang 
yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan 
jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku 
berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau 
besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku."(Mzm 23:1-4)

Jakarta, 20 Agustus 2008

Kirim email ke