From: Jeanne Kaligis 
 
Berikan semangat kepada yang letih lesu!

Udara Jakarta sangat panas. Sabtu siang itu aku pulang dari kantor dan memakai 
payung untuk melindungi kepalaku dari matahari yang menyengat. 
 
Di jalan di dekat rumah, seseorang yang sedang berjalan di belakangku 
memanggil: "Ci, Ci!" 
Aku menoleh. Seorang perempuan gemuk dengan wajah kuyu dan letih memanggilku. 
Rasanya aku pernah melihatnya. 
"Enci masih ingat pada saya? Saya ini Ani (bukan nama sebenarnya). Dulu Enci 
pernah memperkenalkan saya sama bos di kantor Enci waktu saya sedang mencari 
pekerjaan!" katanya bertubi-tubi. 
"Ya, saya ingat. Bagaimana kabarmu, Ani?" tanyaku. 
"Sekarang saya sudah menikah dan mempunyai dua anak. Saya sedang dalam 
kesulitan!" demikian kata Ani. 
"Lebih baik bicara di rumah saya saja!" kataku, lalu mengajak Ani ke rumahku.
 
Betapa cepatnya waktu berlalu. Betapa cepatnya manusia berubah. Terakhir aku 
bertemu dengannya ia sudah mendapat pekerjaan di sebuah kantor. Waktu itu ia 
memakai blazer dan make up wajah yang rapi. Wajahnya pun berseri-seri. Sekarang 
ia begitu hitam dan lusuh. 
Di rumah kuberikan ia minum. Lalu aku mendengarkan ceritanya. Ia sudah berhenti 
bekerja karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Ia tinggal di rumah 
kontrakan di Bekasi dengan suami dan kedua anaknya yang masih kecil. Suaminya 
juga menganggur. Dulu mereka ke gereja, sekarang tidak lagi. Tadi ia baru ke 
rumah familinya untuk minta bantuan, tapi tidak berhasil. 
Mendengar kisah sedihnya, diam-diam aku berdoa untuknya. 
Kemudian aku menasihatinya agar sabar dan jangan menjauhi Tuhan. Pertolongan 
Tuhan selalu tersedia untuk anak-anak-Nya. Juga kuberikan uang semampuku untuk 
biaya transport pulang ke rumahnya dan sekedar untuk membeli sedikit makanan. 
Lalu bersama-sama kami berdoa. Aku berdoa agar Tuhan mengirimkan pertolongan, 
memberikan pekerjaan untuk dia dan suaminya, memberinya harapan. Aku berjanji 
akan mendoakannya setiap hari. 
Kemudian ia mengucapkan terima kasih dan berjalan pulang. 
Setiap hari aku mendoakannya dengan sungguh-sungguh. 
Dua minggu kemudian ia menelponku. Dengan suara gembira ia mengucapkan terima 
kasih dan berkata bahwa ia sudah mendapat pekerjaan. Aku sungguh mengucap 
syukur pada Allah yang sudah mendengar doaku. 
Namun, ada kata-katanya yang membuat aku tertegun. Kata-kata itu berbunyi: "Ci, 
pada waktu ketemu Enci, sebetulnya saya sudah pada titik putus asa. Saya sudah 
berpikir untuk bunuh diri. Tapi, setelah didoakan dan bercakap-cakap, saya 
merasa Tuhan masih mengasihi saya dan saya tidak boleh bunuh diri." 
Tak terasa air mata saya mengalir. Saya ini bukan apa-apa, hanya seorang ibu 
yang sederhana, namun Tuhan mau memakai saya untuk memberi harapan pada 
anak-Nya. 
Dua minggu kemudian Ani menelpon lagi. Katanya suaminya juga mendapat pekerjaan 
dan mereka mulai datang lagi ke gereja. Dia mengatakan bahwa ia dan keluarganya 
bertekad akan setia kepada Tuhan Yesus. Pertolongan Tuhan sungguh luar biasa. 
Teringat aku akan firman Tuhan dalam Yesaya 50:4 "Tuhan Allah telah memberikan 
kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi 
semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi ia mempertajam 
pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid." 
Kita tidak tahu apa yang terjadi esok. Namun dengan segala kelemahan dan 
keterbatasan kita, setiap hari kita bisa melaksanakan firman Tuhan tersebut, 
yaitu memberi semamgat baru pada yang letih lesu. 
Kita bisa menjadi berkat pada setiap orang yang kita jumpai dengan segala 
keberadaan kita. 
Apa yang akan terjadi besok kita tidak tahu. Namun, hari ini Tuhan memberi 
kesempatan kepada kita untuk menjadi terang-Nya di dunia yang kacau balau ini.
GBU. 
======================================================
From: hesti biaktika 

AMBISI DAN PERSAINGAN

Orang berkata : 'Dimana ada kemauan, disitu ada jalan'. Ini memang benar, 
apapun yang diinginkan manusia, apapun ambisi manusia, pasti dapat dicapai, 
jika manusia mau berusaha, karena Tuhan telah mengaruniakan akal pikiran kepada 
setiap manusia. Sehingga mereka berkata : 'sky is the limit'. Manusia berambisi 
untuk dapat menginjak kan kakinya di bulan, dan itu tercapai. Penemuan listrik, 
telepon, mobil, pesawat dan lain-lain dimulai dari ambisi.

Di dalam dunia sekuler, ambisi karyawan disebut sebagai 'aset perusahaan' dan 
banyak perusahaan menerapkan 'persaingan' antar karyawan untuk memicu etos 
kerja karyawannya. Para pengambil keputusan sering mentargetkan dead line yang 
ambisius, untuk memperlihatkan kepada atasannya : 'betapa hebatnya aku', atau 
'betapa hebatnya teamku', lalu tentu ia mendapat pujian, kenaikan pangkat 
ataupun kenaikan gaji, tidak perduli apakah targetnya yang ambisius itu 
menyusahkan bawahannya atau tidak. Mereka juga menggunakan 'persaingan' untuk 
memicu etos kerja bawahannya. Mereka berkata : "Lihatlah si anu, dia bisa 
mengerjakan ini itu dengan lebih baik dan lebih cepat dari kamu. Ayo, jangan 
mau kalah, kamu bisa lebih baik dari dia." Sehingga banyak orang berkata : 'Apa 
yang salah dengan ambisi dan persaingan, bukankah itu memajukan perusahaan ?'

Mari kita belajar Firman Tuhan di bawah ini :
'Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan 
yang menuju kepada kebinasaan dan banyak orang yang masuk melaluinya, karena 
sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit 
orang yang mendapatinya. (Mat 7; 13-14)

Dikatakan bahwa ada 2 jalan. Yang satu adalah pintu yang lebar dan jalan yang 
luas, artinya jalan yang tanpa hambatan karena luas dan lebarnya. Dan yang lain 
adalah 'pintu yang sesak dan jalan yang sempit', artinya adalah jalan yang 
sesak dan penuh rambu-rambu (Firman Tuhan), itu dapat berarti jalan 
penderitaan. Dan oleh sebab ambisi dan persaingan, banyak orang salah memilih 
jalan.

Pernah seseorang mengatakan kepada saya : "Bu, ibu harus punya jimat dan 
dukun-dukun, karena semua orang memakainya. Kalau tidak, ibu tidak bisa 
bertahan!"

Ini artinya, demi ambisi dan persaingan, banyak orang menggunakan dukun dan 
jimat-jimat. Mereka pakai 'ilmu pelet atau pengasihan', untuk disayang atasan. 
Mereka pakai jimat untuk menggolkan usaha mereka, dan lain-lain. Artinya, 
mereka lakukan segala cara untuk mencapai apa yang mereka mau, mereka tidak 
sadar bahwa itu adalah 'jalan yang lebar yang menuju kebinasaan'. Mereka memang 
bisa bertahan dengan jabatannya, karirnya maju, usahanya sukses, tetapi tanpa 
sadar mereka sedang berjalan menuju kebinasaan.

Ada lagi seorang pembantu rumah tangga yang berambisi menjadi 'nyonya besar'. 
Ayahnya dukun dan ia belajar ilmu hitam, entah apa saja yang sudah dikuasainya, 
ilmu pelet, ilmu santet, 'meraga sukma' dan lain-lain. Ia berusaha setidaknya 
menjadi istri simpanan tuannya, dan berhasil. Tetapi sudah berhasilpun, itu 
tidak membahagiakan dan memuaskan dirinya, karena ia tidak pernah dinikahi 
sebagai istri yang sah. Dia sudah banyak membantu tuannya dalam segala usaha 
tuannya, tetapi ketika ia meminta sebuah mobil saja, tuannya tidak 
memberikannya. Kemudian dibunuhnyalah tuannya itu, dengan memfitnah orang lain 
tentunya.

Kemudian ia mendekati putra pertama tuannya itu, dan berhasil menjadi istri 
simpanannya. Itupun tidak membuatnya puas, karena bagaimanapun ia tidak juga 
dijadikan sebagai istri yang sah. Ia berusaha menjebak tuannya dengan 
kehamilan, tetapi harus digugurkan. Ia tetap berambisi menjadi 'nyonya besar' 
dan sekaligus menjadi seorang arsitek, tanpa sekolah! Maka ia membunuh istri 
tuannya, dengan memfitnah tentunya. Akhirnya ia berhasil menjadi 'nyonya besar' 
dan arsitek sekaligus, karena suaminya adalah seorang boss property. Tetapi 
inipun tidak lama, karena Tuhan 'menghentikan'nya, di usia 34 tahun.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya ? Dan 
apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya ? (Mat. 16;26)

Ambisi dan persaingan, keluar dari 'kepahitan', dan dari ambisi dan persaingan 
keluar 'egois dan mementingkan diri sendiri'. Jika kita bertanya pada seorang 
istri simpanan begini : "Bagaimana istrinya, karena suaminya tidak pernah 
pulang karena asyik dengan kamu ?". Maka jawabnya pasti begini : "Masa bodoh, 
itu bukan urusan saya, yang penting saya happy!". Inilah yang disebut 'egois 
dan mementingkan diri sendiri'.

Anehnya, banyak orang mengagumi jalan hidup 'pembantu yang menjadi nyonya 
besar' ini, tidak perduli berapa banyak penderitaan telah ia buat kepada 
orang-orang disekelilingnya. Mungkin saking pintarnya ia bicara, atau oleh ilmu 
pelet yang dimilikinya sehingga dapat membuat seseorang tampil 'kharismatik'. 
Tidak tahu, tetapi saya melihat bahwa 'ambisi dan persaingan' justru diajarkan 
di mana-mana, dan banyak orang tidak memikirkan resikonya. Dan banyak orang 
tidak sadar bahwa banyak penderitaan dan kesusahan bagi dirinya sendiri mereka 
buat sendiri, ketika mereka mengejar 'ambisi dan persaingan'. 

Jadi saya berharap sebagai anak Tuhan, kita mau meletakkan ambisi kita di kaki 
Tuhan supaya kita tidak nyasar ke 'jalan yang luas yang menuju kebinasaan'. Dan 
sebagai anak Tuhan, kita mau bersyukur dengan segala keberadaan kita yang telah 
diberikan Tuhan kepada kita, sehingga kita tidak akan terjebak dalam 
persaingan, yang hanya akan membuat penderitaan diri sendiri, bahkan orang lain.

Hesti, 21 Agustus 2008
==================================================
From: Eulia S 

BuddyTV

Come check out the shows I love and see if we have any in common. Or just get 
the latest inside scoop on your own favorite shows. 

You'll also get a gift if you join. 
- Eulia S

Become Eulia S's friend and get your gift: 
http://www.buddytv.com/register.aspx?cf=1048585&referer=100140002&name=Revival+Mailing++List&[EMAIL
 PROTECTED]&correlator=2036156957 

WHAT IS BuddyTV?
It's a site where you can watch free TV online, get the latest scoop on your 
favorite shows, play free games, and connect with friends and fans around the 
world like Eulia S. 

Kirim email ke