From: Lisa Surjadi Aturan Penting Buat ayah sumber : www.jawaban.com
Siapa bilang mengasuh dan mendidik anak hanya tugas serta kewajiban ibu? Ayah juga harus berperan serta! Tanpa itu, segalanya akan berjalan pincang. Anak akan tumbuh tanpa tokoh panutan yang lengkap, apalagi jika ia anak laki-laki. Bagaimana ia bisa menjadi ayah yang baik nantinya jika tak pernah mendapat contoh serta pengalaman dari ayahnya? Meskipun maksudnya baik, seringkali cara yang kita gunakan sebagai orang tua salah, dan akibatnya anak pun menjadi semakin sulit diatur. Kolose 3:21, Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. Nah, berikut ini hal-hal yang sebaiknya dilakukan para ayah. 1. Jangan berharap kelewat banyak Bila anak tahu bahwa Anda berharap banyak padanya, ia akan berusaha memberikan semampunya. Namun di sisi lain, jangan berharap kelewat banyak karena jika anak tak sanggup memenuhinya, ia akan merasa sedih dan takut tak disayang ayah. 2. Menerima kesalahan Bila Anda yakin salah satu dari anak menimbulkan masalah di dalam rumah dan menyalahkannya, sadarilah, hal ini tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Memang puas rasanya memarahi dan menyalahkan, namun ini hanya akan memperburuk keadaan. Cintai dan terima anak bahwa mereka dapat berubah ke arah yang positif. 3. Kenali lebih dalam Cari tahu sedapat mungkin segala sesuatu mengenai anak Anda. Cari tahu mainan dan warna kesukaan mereka, siapa teman dekatnya, siapa tokoh pahlawan mereka, dan lainnya. Dengan memperlihatkan perhatian, Anda menunjukkan cinta Anda kepada mereka. Tanpa adanya pendekatan, Anda memperlihatkan sikap tidak peduli dan menganggap mereka tidak penting. 4. Katakan "TIDAK" Kini banyak hal berbahaya bagi anak di "luar sana" yang sangat menggoda mereka. Anak harus belajar disiplin, pengendalian diri, dan bagaimana menunda kepuasan bila Anda mengatakan "TIDAK" pada mereka. Mengatakan "TIDAK" berarti membantu Anda memiliki anak yang sehat, bahagia dan dapat bekerja sama. 5. Memukul karena tidak belajar Penelitian menunjukkan, tamparan atau pukulan membuat anak-anak memiliki rasa percaya diri yang rendah. Memukul atau menampar anak hanya akan meningkatkan rasa takut anak terhadap ayahnya. Apakah memang ini yang Anda inginkan? 6. Perlakukan istri dengan baik Bagaimana Anda memperlakukan istri merupakan petunjuk terpenting bagi anak tentang hubungan pria dan wanita. Usahakan tidak bertengkar di depan mereka. Bersikaplah dengan baik, daripada menunjukkan sikap bahwa Anda selalu benar. 7. Tindakan lebih keras daripada kata-kata Banyak orang tua mengancam anaknya bila tak dapat diajak kerja sama. Bila Anda tak mempraktikkan konsekuensi ancaman itu, ia akan menyepelekan ancaman Anda. Yang mereka pahami adalah tindakan. Bila hak-hak tertentu yang mereka miliki dilarang karena tidak adanya kerja sama mereka, mereka akan memahami dengan cepat bahwa Anda bersungguh-sungguh. 8. Dengarkan dengan sungguh-sungguh Jangan mendengarkan secara sepintas, tapi belajarlah mengerti apa yang mereka katakan. Refleksikan kembali apa yang dikatakannya. Bila Anda ingin ia mendengar apa yang Anda katakan, Anda pun harus mendengarkan apa yang dikatakannya. 9. Beri tanggung jawab sesuai usia Bila anak masih kecil, mungkin yang dapat dilakukannya hanya membereskan tempat tidur dan menjaga kamar tetap rapi. Bila mereka bertambah besar, tambahkan tanggung jawab. Katakan padanya, di dalam keluarga setiap anggota punya tanggung jawab masing-masing. Jangan beri hadiah untuk tanggung jawab yang memang harus mereka lakukan. 10. Katakan "LUAR BIASA" Puji dan katakan betapa luar biasanya ia bagi Anda. Hal ini terutama sangat penting untuk disampaikan pada saat anak memiliki masalah. Tunjukkan kepada anak, apa yang membuat dia luar biasa karena hal ini akan lebih mengena dan berarti baginya. ===================================================== From: "L Hutabalian" <[EMAIL PROTECTED]> LOMSER..HURRY UP! Kisah ini terjadi tahun 1995-1996 yang lalu. Sebagai seorang karyawan yang berprofesi sebagai Office Boy atau CS (Cleaning Service) yang di perusahaan tempat saya bekerja disebut "Janitor", saya harus selalu siap kalau ada staf atau karyawan yang lain meminta saya untuk mengerjakan sesuatu atau membantu mereka sekitar pekerjaan kantor. Pekerjaan utamaku sebagai seorang Janitor adalah membersihkan kantor mulai dari ruangan-ruangan kantor, koridor sampai membersihkan WC. Juga menyediakan kopi atau teh, air minum dan kertas photo copy. Selain mengerjakan pekerjaan tersebut, saya juga sering diminta untuk membantu photo copy, mengantar surat , menyusun file/ drawing, dll yang bersifat clerical job. Tersebutlah seorang perempuan bernama ibu SM yang bekerja sebagai Front Officer di kantor itu. Ibu SM ini meski sudah tua tapi masih terlihat cantik dan energic. Jika para bosses ada yang menyuruh dia untuk mengerjakan sesuatu maka dia akan bereaksi extra cepat. Dia selalu ingin memberi the best service kepada semua orang dalam hal ini Client Representative, dimana kantor ini memang disediakan khusus untuk mereka. Para boss-boss itu kalau menginginkan sesuatu misalnya untuk photo copy, mengantar surat , atau butuh kopi/teh/softdrink, tissue kotak, dan lain sebaginya, biasanya mereka menyampaikannya kepada ibu SM. Dan sudah pasti ujung-ujungnya instruksi ini jatuhnya kepada saya juga sebagai "executor". Karena saya kerja rangkap-rangkap maka sering sekali kalau ibu SM ini membutuhkan saya, tidak selalu ada di hadapan dia secepat yang ia inginkan, sementara dia maunya selalu extra cepat. So, tidak mengherankan kalau dia selalu memanggil saya minimal dua kali. Yang pertama "Lomser." lalu kalau saya sudah jawab "ya. bu" maka akan disusul dengan panggilan kedua "Lomser.hurry up!". Sangat seringnya ibu SM ini memanggil saya dengan cara seperti itu, maka panggilan ini menjadi "istilah' atau "trade mark" untuk memanggil saya. Jadi sepanjang proyek berlangsung yang kurang lebih 2 tahun itu, setiap orang yang memanggil saya "Lomser..Hurry Up!". Sungguh aneh.!! Blessing Lomser Hutabalian http://hutabalian72.wordpress.com/2008/08/26/lomserhurry-up/ ================================================== From: rm_maryo Minggu Biasa XXIII: Yeh 33:7-9; Rm 13:8-10; Mat 18:15-20 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata" "Negative thinking" dan kebiasaan ngrumpi atau `ngrasani' rasanya cukup marak dalam kehidupan kita masa kini. Ngrumpi atau `ngrasani' pada umum membicarakan kekurangan, kejahatan atau kelemahan orang lain dan orang lain tersebut tidak ada dihadapan mereka alias mendengarkan apa yang sedang dibicarakan tentang dirinya. Sebagai contoh: (1) bus, kereta api atau pesawat terbang terlambat berangkat atau kedatangan kemudian membicarakan berbagai kekurangan dan kelemahan dari pengelola transportasi atau pemerintah, (2) merasa dikecewakan oleh saudara-saudarinya, rekan kerja dst.. kemudian dengan leluasa menjelek-jelekan orang yang bersangkutan, (3) makanan atau minuman tidak enak kemudian ngrasani yang memasak atau yang menyediakan, dst. Mereka yang suka ngrasani atau ngrumpi hemat kami berarti orang yang tidak pernah bahagia di dalam hidupnya, memboroskan pikiran dan tenaga yang tiada guna. Ngrasani atau ngrumpi juga melecehkan harta martabat orang lain alias melanggar hak azasi manusia. Orang yang memiliki hobby ngrasani atau ngrumpi juga tidak ksatria. Maka marilah kita renungkan dan refleksikan sabda-sabda atau warta gembira hari ini. "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata" (Mat 18:15a) Sabda Yesus di atas inilah kiranya yang menjiwai St.Ignatius Loyola, sebagaimana ia nasihatkan bagi siapapun yang menghendaki tumbuh berkembang sebagai orang beriman, cerdas spiritual: "Setiap orang kristiani yang baik tentu lebih bersedia membenarkan pernyataan sesamanya daripada mempersalahkanya. Jika tak dimengerti, yang menyatakan hendaklah ditanya apakah yang dimaksudkan; dan jika dia salah hendaklah dibetulkan dengan cintakasih; dan jika itu belum cukup hendaklah digunakan segala upaya yang sesuai, supaya sampai pada pemahaman yang benar, dan dengan demikian dijauhkan dari kesalahan" (St.Ignatius Loyola, LR no 22). . Jika kita berani mawas diri dengan benar dan cermat, kiranya masing-masing dari kita telah memiliki pengalaman ini, yaitu ketika kita masih anak-anak diberi nasihat oleh orangtua senantiasa membenarkan dan melaksana kan nasihat tersebut, ketika kita sedang belajar di sekolah (TK, SD, SMP, dst..) senantiasa membenarkan dan menerima apa yang diajarkan atau dikatakan oleh guru atau dosen kita. Dengan kata lain masing-masing dari kita memiliki modal atau kekuatan untuk menghayati sabda Yesus di atas. "Menegor saudara kita yang bersalah di bawah empat mata" berarti ketika kita melihat saudara kita bersalah maka kita ajak saudara tersebut berduaan atau curhat. Didalam menyampaikan tegoran hendaknya dengan rendah hati dan lemah lembut: mohon kejelasan atas apa yang kita lihat sebagai yang salah, tanpa menuduh atau mengadilinya. Baiklah perjumpaan atau curhat tersebut diawali dengan doa bersama, agar pembicaraan atau curhat ada di dalam Tuhan. Dengan kata lain pembicaraan berdua menjadi pembicaraan rohani, atau `bimbingan rohani', dimana masing-masing pihak membuka diri atas bisikan dan sentuhan Roh Kudus dan Roh Kuduslah yang akan menunjukkan atau memperlihatkan kebenaran-kebenaran serta apa yang harus kita katakan atau bicarakan berdua/bersama. Jika dengan cara demikian gagal maka baiklah baru melangkah ke cara berikutnya, yaitu "bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan " (Mat 18:16), dan jika masih gagal baru melangkah cara terakhir, yang kiranya tidak kita kehendaki atau harapkan, yaitu: "Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Elohim atau seorang pemungut cukai."(Mat 18:17) Cara lain menegor mereka yang berbuat salah antara lain mendoakannya, sebagaimana pernah saya dengar sharing dari seorang bapak. Bapak tersebut membiasakan adanya doa bersama di dalam keluarga, serta melatih anak-anaknya untuk berdoa dan memimpin doa bersama. Bapak tersebut setiap hari berangkat ke kantor/tempat kerja dengan mengendarai sepeda motor: pada awal ia setia mengenakan helm tetapi kemudian, entah karena apa ia enggan lagi mengenakan helm ketika mengendarai sepeda motor. Di dalam doa bersama, salah seorang anaknya berdoa bagi sang bapak demikian: "Ya Tuhan kami berterima kasih atas bapak-ibu yang baik, lebih-lebih bapak yang bekerja keras untuk kami. Semoga bapak senantiasa mengenakan helm dalam mengendarai sepeda motor agar selamat di perjalanan. Amin". Sang bapak tersebut memang pernah berkata kepada anak-anaknya perihal pemakaian helm demi keselamatan, maka ketika mendengar doa anaknya ia melelehkan air mata, merasa ditegor dengan keras oleh anaknya. Ia bertobat dan kemudian tidak lupa mengenakan helm ketika mengendarai sepeda motor. Silahkan berdoa bagi siapapun yang kita nilai bersalah atau telah menyakiti kita. "Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat "(Rm 13:8-10) "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!", demikian peringatan atau nasihat Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua orang beriman. "Mengasihi diri sendiri" antara lain berarti senantiasa menjaga atau merawat diri agar tetap sehat wal'afiat lahir dan batin, cerdas spiritual: hati, jiwa, akal budi dan tubuh senantiasa segar bugar. Yang paling mudah, dalam arti kelihatan, namun belum tentu dilakukan oleh semua orang, adalah menjaga kesehatan tubuh: makan dengan berpedoman `empat sehat lima sempurna', tidur/istirahat cukup, sering berolahraga, misalnya erobik(jalan kaki, lari atau berenang), dst. Kesehatan dan kesegar-bugaran tubuh akan mendukung kesehatan jiwa, hati dan akal budi. Jika diri kita sehat wal'afiat maka kiranya kita dengan mudah untuk mengasihi sesama dan saudara-saudari kita. Sehat bugar antara lain memang `tidak berzinah, tidak membunuh atau melecehkan yang lain, tidak mencuri'. "Mengasihi sesama manusia" berarti mengajak, mendampingi atau mengingatkan sesama manusia untuk menjaga dan merawat dirinya agar tetap dalam keadaan segar bugar jiwa, hati, akal budi dan tubuh. Marilah kita renungkan dan hayati firman Tuhan yang disampaikan melalui nabi Yeheskiel ini: "Jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu" (Yeh 33:9). Firman ini baik menjadi permenungan bagi yang memperingatkan maupun yang diingatkan. Hendaknya baik yang memperingat kan maupun yang mengingatkan senantiasa bersikap rendah hati. Bagi `yang memperingatkan' rendah hati berarti menyapa `yang diingatkan' dengan lembut dan sabar, sedangkan bagi `yang diingatkan' rendah hati berarti membuka hati, jiwa, akal budi dan tubuh alias siap sedia untuk `disakiti' hati, jiwa, akal budi maupun tubuhnya. Untuk bertobat, tumbuh dan berkembang atau memperbaharui diri hemat saya harus siap sedia untuk `sakit', dan menderita. "Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Elohim kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku" (Mzm 95:6-9) Jakarta, 7 September 2008

