From: rm_maryo 

PESTA SALIB SUCI: Bil 21:4-9; Flp 2:6-11; Yoh 3:13-17
"Elohim mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, 
melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia"

Para pengikut Yesus Kristus atau orang-orang Kristen dalam "Jemaat Awal/Purba" 
dikenali melalui tanda salib. Gedung atau bangunan dikenali sebagai gereja atau 
kapel (tempat ibadat orang-orang Kristen atau Katolik) ketika di puncak 
bangunan terpasang `salib'. Salib
dipasang di tembok rumah /kamar menunjukkan bahwa pemilik atau penghinya adalah 
orang Kristen atau Katolik, beriman pada Yesus Kristus. Salib dipasang sebagai 
assesori, entah sebagai kalung atau ditempel di baju bagian dada menunjukkan 
bahwa pribadi yang
bersangkutan percaya kepada Yesus Kristus. Masing-masing dari kita dilahirkan 
dalam dan melelalui penderitaan dan pengorbanan ibu kita masing-masing alias 
dalam `salib'. Anak-anak kecil atau bayi yang digendong oleh ibunya sering 
mohon berkat dari pastor atau imam dan mereka diberkati disertai pemberian 
tanda salib di dahinya/kepalanya.
Kita, orang katolik membuka dan menutup doa dengan membuat tanda salib dengan 
berkata "Dalam Nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus" sambil menepok/ menyentuh 
dahi/kepala , dada serta kedua bahu. Salib dipasang di atas peti jenasah serta 
di `pusara makam/kuburan', sebagai tanda atau permohonan agar almarhum atau 
almarhumah meninggal dunia atau mati bersama dengan Yesus yang wafat di kayu 
salib. Sejak dilahirkan sampai mati atau dipanggil Tuhan kiranya kita yang 
beriman atau percaya kepada Yesus Kristus tidak pernah terlepas atau 
terbebaskan dari salib, maka marilah dalam rangka mengenangkan Pesta Salib Suci 
hari ini kita renungkan atau refleksikan sejauh mana kita hidup dan bertindak 
dengan atau dalam `panji-panji salib'

"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang 
terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Elohim, tidak 
menganggap kesetaraan dengan Elohim itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang 
hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia 
telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu 
salib" (Fil 2:5-7) 

Keutamaan `rendah hati' itulah kiranya yang harus kita hayati serta 
sebarluaskan dalam hidup sehari-hari. "Rendah hati" adalah "sikap dan perilaku 
yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang 
perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat 
menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya. Ini diwujudkan dalam perilaku, 
yang penuh perhatian, mau mendengar dan mengakui eksistensi (kebenaran) orang 
lain, yang bahkan lebih rendah dari dirinya" (Prof Dr.Sedyawati(edit): Pedoman 
Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka Jakarta 1997, hal 24), atau 
meneladan Yesus yang `telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahhan 
sampai mati di kayu salib". "Rendah hati" dan "taat" bagaikan mata uang bermuka 
dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan, maka baiklah kita renungkan 
atau refleksikan perihal `ketaatan'.

Penghayatan keutamaan `ketaatan' masa kini sungguh memprihatinkan, entah dalam 
hidup beriman, beragama, membiara atau imamat, berkeluarga, bermasyarakat, 
berbangsa dan bernegara. Gejala yang nampak atau dapat diinderai setiap hari 
antara lain apa yang terjadi
di jalanan, dimana para pejalan kaki, pengendara sepeda motor atau mobil 
kurang/ tidak mentaati aturan berlalu lintas; cukup banyak orang melanggar 
rambu-rambu lalu lintas seenaknya, sehingga menimbulkan kecelakaan dan korban 
manusia. "Jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh Tanah 
Air tercatat cukup tinggi. Jumlahnya
mencapai 11 ribu orang dari 20 ribu kecelakaan per tahun."
(www.detiknews.com) Kecelakaan ini kiranya dapat terjadi karena pengemudi tidak 
mentaati aturan berlalu lintas, tidak mentaati aturan perawatan dan pemafaatan 
kendaraan sehingga kendaraan sebenarnya tidak layak jalan, dst.. Apa yang 
terjadi di jalanan hemat saya dapat
menjadi cermin kwalitas bangsa atau masyarakat. 

Berrefleksi perihal kerendahan hati dan ketaatan pada hemat saya kita dapat 
belajar dari apa yang terjadi di dalam tubuh kita masing-masing.
Tubuh kita terdiri dari banyak anggota, misalnya yang kelihatan: mata, mulut, 
telinga, tangan, kaki, hidung dst.. Masing-masing anggota ditempatkan oleh 
Elohim sedemkian rupa, pada tempatnya, senantiasa siap sedia menjalankan 
fungsinya, tidak ada yang iri hati terhadap yang lain, saling tanggap akan 
kebutuhan masing-masing, dst.. Yang paling nampak rendah hati dan taat rasanya 
`leher': ia siap sedia dilewati apapun alias siap sedia melaksanakan perintah, 
tidak korupsi, tidak menyakiti ,dst.. Meneladan kerendahan hati dan ketaatan 
Yesus, yang mengosongkan diri dan merendahkan diri sampai wafat di kayu salib, 
hemat saya kita dapat berfungsi seperti `leher' dalam tubuh kita.
`Leher' menjadi jalan/penyalur kebutuhan seluruh tubuh, senantiasa rendah hati 
dan taat serta tidak korupsi. Dengan rendah hati dan taat kita dipanggil untuk 
menjadi `penyalur-penyalur' rahmat atau berkat Tuhan bagi sesama serta `keluh 
kesah, dambaan, kerinduan, harapan sesama' bagi Tuhan. Ia selalu `telanjang', 
tidak pernah atau jarang menutupi dirinya 

"Elohim mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, 
melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia"(Yoh 3:17) 

Beriman kepada Yang Tersalib berarti datang atau masuk `ke dalam dunia bukan 
untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkan dunia'. 
Beriman kepada Yang Tersalib berarti harus hidup mendunia, berpartisipasi dalam 
seluk-beluk kehidupan duniawi. Dimana ada bagian dunia yang tidak selamat para 
murid Yesus Kristus, orang Kristen/Katolik, dipanggil untuk mendatangi dan 
menyelamatkannya, entah bagian dunia tersebut ada di dalam keluarga, masyarakat 
ataupun tempat kerja kita. Ingatlah dan sadarilah bahwa mayoritas waktu, tenaga 
dan perhatian kita setiap hari terarah kepada seluk-beluk duniawi, hal-hal 
duniawi.

Agar kita dapat menyelamatkan dunia kiranya kita sendiri harus dalam keadaan 
selamat, antara lain berarti dapat mengelola dan mengurus tubuh kita, diri kita 
serta segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai dengan baik, sesuai dengan 
kehendak Elohim, Sang Pencipta. "Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait 
Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Elohim, -- 
dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?"
 (1Kor 6:19), demikian peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita 
semua orang yang beriman kepada Yesus Kristus. Karena tubuh kita adalah `bait 
Roh Kudus atau bait Elohim' maka selayaknya derap langkah atau setiap gerakan 
dari tubuh kita senantiasa menyelamatkan dan membahagiakan diri kita sendiri 
maupun orang lain yang kena dampak langkah atau gerakan tubuh kita. Untuk itu 
diharapkan setiap langkah atau gerakan tubuh kita mennghasilkan buah-buah Roh 
seperti: : "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, 
kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri"(Gal 5:22-23). 
Kata-kata yang keluar dari mulut kita berinspirasikan atau senada dengan 
sabdaNya atau doaNya di puncak kayu salib:"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab 
mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."(Luk 23:34). 
Dengan demikian siapapun yang bertemu dengan kita, melihat kita, bersama hidup 
dan bekerja dengan kita `akan menunduk, merendahkan diri dan bersembah sujud 
kepada Yang Ilahi', atau mereka akan berdoa seperti yang didoakan oleh `bangsa 
terpilih':
"Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; 
berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami." 
(Bil 21:7) 

"Apabila Ia membunuh mereka, maka mereka mencari Dia, mereka berbalik dan 
mengingini Elohim; mereka teringat bahwa Elohim adalah gunung batu mereka, dan 
bahwa Elohim Yang Mahatinggi adalah Penebus mereka. Tetapi mereka memperdaya 
Dia dengan mulut mereka, dan dengan lidahnya mereka membohongi Dia.Hati mereka 
tidak tetap pada Dia, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya"  (Mzm 
78:34-37)

=====================================================
From: rm_maryo 

"Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik" (1Kor 
10:14-22a; Luk 6:43-49)

"Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan 
juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab 
setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik 
buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik 
mengeluarkan barang yang baik dari perbendahara-an hatinya yang baik dan orang 
yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. 
Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya." "Mengapa kamu berseru 
kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? 
Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta 
melakukannya -- Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan 
--, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali 
dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan 
banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu 
kokoh dibangun. Akan tetapi barang siapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak 
melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa 
dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah 
kerusakannya." (Luk 6:43-49), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes Krisostomus 
hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
. Krisostomus dalam bahasa Yunani "chrysostomos" berarti `mulut emas'.
Ayah dari Krisostomus adalah seorang jendral dan ahli hukum, maka cara hidup 
Yohanes Krisostomus kiranya terpengaruh oleh ayahnya: ia dengan berani 
mewartakan apa yang baik dan menegor atau memberantas apa yang jelek atau 
buruk, tanpa pandang bulu. Kotbah-kotbahnya baik dan tepat secara pastoral 
maupun teologis, maka ia dinamai `mulut emas'. "Karena tidak ada pohon yang 
baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan
juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.
Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya", demikian sabda Yesus. Apa yang 
terjadi dalam dan dialami oleh Yohanes Krisostomus serta sabda Yesus ini 
kiranya baik menjadi permenungan bagi para orangtua maupun anak-anaknya. 
(1) Sebagai orangtua marilah menjadi teladan apa yang baik dalam hidup sehari- 
hari bagi anak-anak serta membiasakan anak-anak untuk senantiasa berbuat baik 
bagi sesamanya atau teman-temannya.. Untuk itu sebagai orangtua hendaknya 
sungguh `mendengarkan, merenungkan dan menghayati' sabda-sabda Tuhan 
sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci serta aneka tatanan atau aturan hidup 
yang terkait dengan panggilan dan tugas perutusan sebagai orangtua, anggota 
masyarakat, orang beriman/beragama, dst.. 
(2) Sebagai anak-anak hendaknya hidup dan bertindak tidak memalukan atau 
mencemar kan nama orangtua maupun keluarga, melainkan hendaknya `mikul dhuwur, 
mendhem jero' aneka macam nasihat, petuah atau saran orangtua. Tanda atau 
gejala bahwa sebagai anak `mikul dhuwur, mendhem jero' orangtua antara lain 
sebagai anak kita tumbuh berkembang menjadi orang yang `melebihi' apa yang 
dimiliki oleh orangtua. Sebagai contoh kiranya kita dapat mengamati dan 
mencermati para tokoh/pemimpin hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara 
maupun beragama dan menggereja:
cukup banyak tokoh yang berhasil dan terkenal pengabdian dan pelayanannya 
berasal dari keluarga-keluarga miskin, sederhana dan baik seperti guru, petani, 
buruh, dst.. 
. "Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana.
Pertimbangkanlah sendiri apa yang aku katakan! Bukankah cawan pengucapan 
syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah 
Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh 
Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu 
tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu" (1Kor 
10:15-17).
Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi kita semua. 
"Kita, sekali pun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian 
dalam roti yang satu itu", demikian kata-kata Paulus yang kiranya baik menjadi 
pedoman atau tuntunan hidup kita. Membangun, memperdalam dan menyebarluakan 
persaudaraan atau persahabatan sejati itulah yang menjadi panggilan dan tugas 
perutusan kita semua.
Mencermati masih maraknya kebencian, balas dendam, taburan, kekerasan dst.. 
yang masih marak dalam kehidupan bersama masa kini kiranya persahabatan atau 
persaudaraan sejati sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan 
sebarluaskan. Rasanya hal ini pertama-tama dan terutama harus menjadi nyata 
dalam hidup berkeluarga: persaudaraan atau persahabatan sejati yang telah 
terjadi dan dinikmati di dalam keluarga akan menjadi modal atau kekuatan untuk 
membangun, memperdalam dan menyebarluas kan persaudaraan/persahabatan sejati 
dalam masyarakat, tempat kerja atau aneka pergaulan hidup bersama. Keluarga 
adalah dasar atau basis hidup beriman, beragama, bermasyarakat, berbangsa dan 
bernegara. 

"Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?
Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN" (Mzm 
116:12-13) 

Kirim email ke