From: rm_maryo 

"Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Elohim sebab untuk itulah Aku diutus." 
(1Kor 3:1-9; Luk 4:38-44)

"Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon.
Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya 
menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, 
dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani 
mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang 
sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya 
atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar 
juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Elohim." 
Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, 
karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Ketika hari siang, Yesus berangkat 
dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu 
menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. 
Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan 
Injil Kerajaan Elohim sebab untuk itulah Aku diutus." Dan Ia memberitakan Injil 
dalam rumah-rumah ibadat di Yudea" (Luk 4:38-44), demikian kutipan Warta 
Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Gregorius Agung, 
Paus dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana 
sebagai berikut:
. Gregorius Agung adalah gembala umat dan negarawan ulung. Ia mendirikan 
biara-biara serta mengutus anggota-anggota tarekat yang bersangkutan menjadi 
misionaris, menulis buku dan homili yang bagus, mendamaikan yang bermusuhan, 
dst.. Ia sungguh `memberitakan Injil Kerajaan Elohim' di dalam melaksanakan dan 
menghayati panggilan serta tugas perutusannya. Gregorius Agung juga gembala 
yang menghayati panggilannya sebagai `servus servorum Dei' ( hamba dari para 
hamba Tuhan), yang kemudian menjadi motto dari para paus berikutnya sampai 
kini. Kiranya kita semua juga dipanggil untuk "memberitakan Injil Kerajaan 
Elohim", dengan rendah hati, semangat melayani tanpa kenal
lelah. `Injil Kerajaan Elohim' berarti warta atau kabar gembira, maka melalui 
hidup dan kerja kita semua dipanggil untuk senantiasa menggembirakan orang 
lain, siapapun yang hidup bersama kita atau kita jumpai. Memang untuk itu 
pertama-tama kita sendiri harus selamat atau gembira; dalam keadaan gembira 
berarti sehat wal'afiat, bergairah, penuh harapan, dinamis, selalu senyum 
dst.., dan dengan demikian kita akan tahan atau kebal terhadap aneka ancaman 
dan serangan virus penyakit. Kegembiraan ini sangat penting dalam proses 
pendidikan atau pembelajaran baik di dalam keluarga maupun di sekolah. "Para 
guru hendaknya menjadikan ruangan kelas lebih menyenangkan. Mereka cukup 
membantu para siswa agar mengetahui bagaimana caranya belajar dan menganalisa, 
belajar secara mandiri, , mengatur pengalaman-pengalamannya yang nyata, dan 
memberikan respons pada apa yang ingin dipelajari oleh para siswa dan kebutuhan 
belajar mereka" (Rung Kaewdang Ph.D: Suatu Cara Reformasi Pembelajaran yang 
mangkus, BELAJAR DARI MONYET, Grasindo - Jakarta 2002, hal 71). Untuk itu guru 
atau pendidik memang harus rendah hati, berjiwa melayani; hal yang sama hemat 
saya juga perlu dihayati oleh orangtua dalam mendidik dan mendampingi 
anak-anaknya. 
. "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Elohim yang memberi pertumbuhan. Karena 
itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Elohim 
yang memberi pertumbuhan" (1Kor 3:6-7), demikian kesaksian Paulus kepada umat 
di Korintus, kepada kita semua.
Yang menanam atau menyiram, bapak atau ibu, guru/pendidik, gembala (pemimpin, 
pastor, ketua dst..) adalah pelayan-pelayan atau pekerja-pekerja yang hina, 
pekerjasama-pekerjasama Elohim yang menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan. 
`Menanam' dalam arti hanya menaruh atau menancapkan kiranya mudah tetapi 
`menyiram'dalam arti merawat dan mengurus rasanya sulit, sarat dengan tantangan 
dan hambatan. Banyak orang dengan mudah menanam (membeli, menghamili, dst..) 
tetapi tidak dapat merawat atau mengurus dengan baik apa yang telah ditanam. 
Merawat dan mengurus segala sesuatu, lebih-lebih yang hidup seperti manusia, 
tanaman dan binatang, hemat saya perlu dijiwai oleh cintakasih dan kerendahan 
hati. Entah manusia, tanaman atau binatang `diadakan' dalam dan oleh cintakasih 
dan kerendahan hati, maka hanya akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik 
jika senantiasa `disirami' dengan cintakasih dan kerendahan hati.
Pengalaman `menyiram' (merawat dan mengurus) dengan baik kiranya telah terjadi 
dalam diri para ibu dalam mengandung, melahirkan dan merawat anak-anaknya, maka 
baiklah jika para ibu atau perempuan dapat menjadi teladan dalam perawatan dan 
pengurusan segala sesuatu dengan baik. Perawatan dan pengurusan yang baik 
antara lain akan berbuah
`penghematan' serta aneka macam keutamaan yang pada gilirannya akan mendukung 
untuk menjadi perawat atau pengurus yang handal. 

"Berbahagialah bangsa, yang Elohimnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya 
menjadi milik-Nya sendiri! TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak 
manusia; dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi. Dia yang 
membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka" 
(Mzm 33:12-15)
==========================================================
From: rm_maryo 

"Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya"
(1Kor 12:31-13:13; Luk 7:31-35)

"Kata Yesus: "Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan
ini dan dengan apakah mereka itu sama?Mereka itu seumpama anak-anak
yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling
bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi
kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan
roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan.
Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata:
Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan
orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang
menerimanya." (Luk 7:31-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
. Kebanyakan orang dengan mudah menyampaikan kritik atau mengomentari apa yang 
dilakukan oleh orang lain seenaknya, asal omong atau komentar saja. Apapun yang 
dilihat atau didengar dikomentari atau dikritik dengan nada sinis alias 
melecehkan atau merendahkan. Orang-orang yang bertindak demikian hemat saya 
merasa dirinya adalah yang terbaik dan termutu sedangkan yang lain ada `di 
bawah'nya. Mereka tertutup akan aneka kemungkinan dan kesempatan untuk berubah 
atau tumbuh-berkembang.
Maka marilah dengan rendah hati, sabar dan lemah lembut kita tunggu dan 
kemudian kita cermati apa yang dilakukan oleh orang yang berkata-kata: apakah 
yang mereka katakan juga mereka hayati atau laksanakan. Dengan kata lain 
hendaknya kita menyampaikan kritik atau penilaian terhadap tindakan atau 
perilaku, bukan kata-kata atau omongan. Dengan besar hati dan rendah hati kita 
terima dahulu sepenuhnya apa yang dikatakan oleh siapapun kepada kita atau apa 
yang kita dengarkan. Penilaian atau evaluasi kita laksanakan atas 
perbuatan-perbuatan atau perilaku-perilaku, antara lain dengan metode 
`pemeriksaan batin'. Langkah-langkah untuk pemeriksaan batin kurang lebih 
sebagai berikut: 
(1) pertama-tama kita berdoa mohon terang/rahmat Tuhan agar dapat melihat 
dengan tajam dan benar apa yang terjadi, entah yang dihayati maupun yang 
bergerak di dalam batin atau
hati,
(2) kemudian dalam rahmat/terang Tuhan kita melihat apa yang/kecenderungan baik 
dan buruk; kami percaya pasti akan lebih banyak apa yang/kecenderungan baik 
daripada buruk, 
(3) selanjutnya kita bersyukur dan berterima kasih atas apa yang baik dan kita 
imani
sebagai anugerah Elohim serta menyesali apa yang buruk,
(4) mohon rahmat dan bantuan Tuhan untuk memperdalam dan mempertahankan apa yang
baik serta memperbaiki apa yang buruk atau bertobat, dan 
(5) akhirnya bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas segala sesuatu yang
telah terjadi dan dinikmati. Kami percaya jika kita memiliki kebiasaan 
`pemeriksaan batin' yang baik, maka kita tidak akan begitu mudah memberi kritik 
atau komentar murahan atau asal-asalan, dan kita senantiasa hidup dalam dan 
oleh kasih. Apa itu kasih?
. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan 
diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari 
keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang 
lain. Ia tidak bersukacita karena
ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya 
segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala 
sesuatu.Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan 
berhenti; pengetahuan akan lenyap" (1Kor 13:4-8), demikian ajaran kasih yang 
disampaikan oleh Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua. Dari uraian 
perihal kasih di atas, rasanya yang mendesak dan up to date untuk kita hayati 
dan sebarluaskan pada masa kini adalah `tidak pemarah dan tidak menyimpan 
kesalahan orang lain'.
Marah berarti melecehkan atau merendahkan yang lain, menginjak-injak harkat 
martabat manusia alias melanggar hak-hak asasi manusia.
Sedangkan `menyimpan kesalahan orang lain' berarti yang ada di hati dan otak 
kita adalah kesalahan dan kekurangan orang lain, dengan kata lain hati dan otak 
orang yang bersangkutan sungguh kotor dan gelap.
Marah dan `menyimpan kesalahan orang lain' bagaikan mata uang bermuka dua, 
dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Maka marilah kita tidak mudah marah 
dan menyimpan kesalahan orang lain, agar kita tetap ceria, gembira dan sehat 
wal'afiat, segar bugar, dan dengan demikian kita dapat menghayati ajaran kasih 
sebagaimana dikatakan oleh Paulus dalam kutipan di atas. Marilah kita `percaya 
segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu dan sabar menanggung segala 
sesuatu'. 

" Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus 
sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik 
dengan sorak-sorai! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya 
dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih 
setia TUHAN " (Mzm 33:2-5)
===================================================
From: Wiempy 

SENI MENGENAL PRIBADI YESUS 

Dalam kitab Perjanjian Lama kita semua sudah dikenalkan dgn pribadi yg bernama 
Elohim. Elohim yg Maha Perkasa, Maha Adil, Maha Tahu serta Maha Segalanya, yg 
menuntun umat-Nya
bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian.
Kitab Perjanjian Lama menubuatkan kedatangan Yesus Kristus sbg Anak Domba 
Elohim, dimana semuanya tsb sudah dinubuatkan dalam Kitab Nabi Besar mulai dari 
nabi Yesaya, Yeremia,  Yehezkiel dan Daniel. Sedangkan kitab Perjanjian Baru 
menggenapi nubuat kitab Perjanjian Lama sebagaimana sudah tercantum dalam Kitab 
Nabi Besar. Baik kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru memberitakan 
tentang suatu pribadi yg sama yaitu Yesus Kristus. Mari kita buka Lukas 24 ayat 
27 yg menulis demikian:
"Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh 
Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi"

Terdapat keharmonisan antara kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru 
sehingga melalui pendalaman Alkitab selama ini kita mengetahui bahwa kedua 
kitab PL dan PB saling melengkapi satu dgn yg lain. Jika kita ingin mengenal 
pribadi Yesus secara utuh dan mendalam, kita harus membaca dan merenungkan 
serta membahas pokok2 ajaran Kristiani mulai dari kitab PL sampai dgn kitab PB. 
Tanpa adanya PL kita semua tdk akan bisa mengetahui dan memahami tulisan2 yg 
terdapat di PB, begitu juga tanpa adanya PB maka nubuatan ttg akan lahirnya 
Yesus Sang Juru Selamat yg terdapat di Kitab Nabi Besar (yg terdapat di dlm 
kitab PL) menjadi sia2 dan kita tdk akan mengetahui bahwa nubuatan tsb akhirnya 
benar2 digenapi di dlm kitab PB.

Dalam hal mengenal pribadi Yesus Kristus kita harus memiliki pedoman hidup dari 
pengenalan akan Alkitab. Alkitab merupakan pedoman hidup tertinggi bagi umat 
Kristiani. Kita harus selalu memusatkan iman yg kita miliki hanya kepada Yesus 
Kristus saja. Iman yg hanya tertuju pada Yesus Kristus menandakan bahwa kita 
mempercayakan segala sesuatu
yg terjadi dlm kehidupan yg kita jalani ke dlm bimbingan dan kekuatan Yesus 
Kristus. Iman yang sejati adalah pengetahuan yang pasti tentang Elohim, dan 
tentang janji2-Nya yang telah dinyatakan kepada kita semua dalam Injil, dan 
juga keyakinan yang teguh bahwa kita semua telah memperoleh pengampunan atas 
segala dosa2 yg telah kita lakukan. 

Oleh karena itu utk mengenal pribadi Yesus secara mendalam, kita harus 
mengutamakan pengenalan akan Alkitab, baik itu Kitab PL dan Kitab PB. Kita 
harus menerima Alkitab atau Injil sbg kabar gembira, percaya dgn kabar gembira 
Injil dan mau menerima Injil yg memuat berita ttg lahirnya Yesus Kristus Anak 
Domba Elohim dgn iman yg sejati, dgn demikian kita semua akan dikaruniai hidup 
yg kekal.

Mari kita buka Roma 10 ayat 14 s/d 15 yg menulis demikian:
"Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya 
kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak 
mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada 
yang memberitakan-Nya? 
Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti 
ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!" 

Mempercayakan iman yg kita miliki kepada Kristus adalah pemberian Elohim secara 
cuma2 seperti tertulis dlm Efesus 2 ayat 8:  "Sebab karena kasih karunia kamu 
diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Elohim"
Dan juga terdapat dlm Filipi 1 ayat 29 yg menulis demikian: "Sebab kepada kamu 
dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk 
menderita untuk Dia"

Iman yg kita miliki tsb dikerjakan oleh Roh Kudus, seperti yg tertulis dlm 1 
Korintus 12 ayat 3 demikian:
"Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yg berkata-kata 
oleh Roh Elohim, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada seorangpun, 
yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus"

Roh Kudus memiliki cara agar kita dapat mengerjakan iman tsb, yaitu dgn cara 
kita mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan yg tercantum dlm Alkitab. Selain 
lewat Firman Tuhan, kita juga dikuatkan imannya lewat Sakramen2 Kudus. Lewat 
sakramen, Yesus memberi kepastian kepada kita semua, bahwa Dia menganugerahkan 
kepada kita
pengampunan dosa dan hidup yg kekal hanya berdasarkan rahmat saja, karena Yesus 
satu2nya anak Domba Elohim yg telah mengurbankan diri-Nya di kayu salib demi 
membebaskan kita semua dari belenggu dosa.

Alkitab didalamnya terkandung firman Elohim karena Alkitab menunjukkan 
keluhuran dan kemurniannya, melalui keselarasan semua bagiannya serta tujuan 
keseluruhannya (dgn cara memberi segala kemuliaan Elohim), serta melalui cahaya 
terangnya dan kekuatannya dlm hal meyakinkan org2 berdosa, sehingga akhirnya 
mereka bertobat. Serta menghibur dan
membangun org2 percaya demi keselamatan. Hanya Roh Elohim sajalah yg melalui 
dan bersama Alkitab memberi kesaksian tentang dalamnya hati manusia, yg dapat 
meyakinkan sepenuhnya bahwa Alkitab itu adalah Firman Elohim sendiri.

JBU,
Wiempy Wijaya
Buitenzorg, 09-Mar-2008

Kirim email ke