From: rm_maryo 

"Menurut kamu siapakah Aku ini?" (Pkh 3:1-11; Luk 9:18-22)

"Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya 
kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: "Kata orang banyak, siapakah Aku 
ini?" Jawab mereka: "Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada 
pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit." Yesus 
bertanya kepada mereka:
"Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Elohim."
Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan 
hal itu kepada siapa pun. Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung 
banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli 
Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga."(Luk 9:18-22), demikian 
kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
. Seandainya suami atau isteri anda bertanya pada anda "menurut kamu siapakah 
aku ini", apa jawaban anda? Seandainya anak-anak anda bertanya kepada anda 
sebagai orangtua "merurut bapak ibu, siapa aku ini", apa jawaban atau reaksi 
anda? Dst.Saya yakin ketika pada suatu saat kita memperoleh pertanyaan macam 
itu dari anak-anak, suami/isteri, saudara-saudari kita, maka reaksi kita 
terkejut dan mungkin marah-marah. Para murid ditanyai oleh Yesus "Menurut kami, 
siapakah Aku ini?" dan Petrus menjawab "Mesias dari Elohim". 
Mendengar jawaban ini "Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan
memberitahukan hal itu kepada siapapun". Mengapa? Kiranya para murid masih 
bersifat egois, sehingga pengakuan iman dengan kata-kata itu belum hidup dan 
menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak mereka, yaitu meneladan Yesus 
yang "harus menanggung banyak penderitaan", karena Ia datang ke dunia untuk 
mempersembahkan Diri bagi keselamatan seluruh dunia dan untuk itu harus 
menghadapi tokoh-tokoh masyarakat yang egois serta menentangNya. Maka marilah 
dengan rendah hati kita mengakui dan menghayati diri sebagai orang yang lemah 
dan rapuh, yang kiranya kurang atau tidak setia pada tugas perutusan atau 
panggilan kita. Kita mengakui diri sebagai
suami/isteri, orangtua, guru, anak, murid/peserta didik, imam, bruder atau 
suster, pemimpin atau pejabat dst..namun cara hidup dan cara bertindak kita 
masih egois, bukan atau belum menjadi man or woman for/with othsrs. Jika kita 
mengakui diri sebagai orang beriman, maka kita memperoleh tugas perutusan atau 
panggilan untuk menjadi man or woman for/ with others, hidup dan bertindak demi 
kebahagiaan dan keselamatan yang lain, dan dengan demikian kita sendiri bahagia 
dan selamat. Sebaliknya jika kita egois, maka kita tidak bahagia dan tidak 
selamat dan cara hidup atau cara bertindak kita senantiasa menyengsarakan atau 
membuat menderita yang lain. Marilah kita didik, bina dan dampingi anak-anak 
kita untuk tumbuh berkembang menjadi man or woman for/with others, tentu saja 
harus disertai atau dijiwai dengan keteladanan kita. 
. "Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? Aku 
telah melihat pekerjaan yang diberikan Elohim kepada anak-anak manusia untuk 
melelahkan dirinya.Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia 
memberikan kekekalan dalam hati mereka.
Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Elohim dari awal 
sampai akhir" (Pkh 3:9-11). Kutipan ini rasanya bagus untuk kita renungkan atau 
refleksikan. Apa yang sedang kita kerjakan dengan susah payah?, itulah 
pertanyaan yang harus kita jawab. Apakah kita mengerjakan sesuatu yang bukan 
menjadi tugas pekerjaan kita, melainkan
pekerjaan sendiri, misalnya: di kantor/tempat kerja mengerjakan pekerjaan 
pribadi sedangkan di rumah mengerjakan pekerjaan kantor, di sekolah tidak 
belajar dan diluar sekolah les privat, dst.. "
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada 
waktunya."(Pkh 3:1), demikian peringatan Pengkotbah yang harus kita renungkan 
dan hayati. Peringatan ini mengajak kita untuk senantiasa setia pada tugas 
perutuan atau pekerjaan yang dibebankan kepada kita, setia pada panggilan dan 
tugas perutusan kita masing-masing. Maka jauhkan dan berantas aneka bentuk 
penyelewengan atau penyalah-gunaan waktu, sarana-prasarana, jabatan, kedudukan, 
fungsi , dst..
Berdisiplin itulah yang diharapkan dari kita semua. Berdisiplin berarti 
"kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri, sesuai 
dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan 
yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan. Ini 
diwujudkan dengan perilaku yang konsisten, taat asas menuju pada tujuan tanpa 
perlu pengawasan dan dorongan secara terus menerus. Perilaku ini diwujudkan 
dalam hubungannya dengan Tuhan dan diri sendiri" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: 
Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka - Jakarta 1997, hal 10).
Berdisiplin rasanya merupakan keutamaan yang mendesak dan up to date masa kini 
mengingatkan masih maraknya ketidak-disiplinan dalam hidup bersama, antara lain 
korupsi, manipulasi atau mark-up , dst., juga ketidak-disiplinan di jalanan 
yang dilakukan oleh pengendara maupun pejalan kaki. 
 
"Terpujilah TUHAN, yang menjadi tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, 
kota bentengku dan penyelamatku, perisaiku dan tempat aku berlindung!"(Mzm 
144:1a.2abc)

==================================================
From: rm_maryo 

Mg Biasa XXVI: Yeh 18:25-28; Flp 2:1-11; Mat 21: 28-32
"Anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi 
juga". 

Pada umumnya ketika orang mengucapkan atau mengikrarkan janji, dengan penuh 
semangat dan antusias mengatakannya, misalnya: janji baptis, janji perkawinan, 
janji imamat/kaul, janji pegawai atau pelajar, sumpah jabatan, dst.. Namun 
dalam perjalanan waktu di dalam menghayati panggilan atau melaksanakan tugas 
perutusan, karena harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan serta godaan, 
apa yang dijanjikan dengan mantap, tegas dan antusias tersebut mengalami erosi 
alias yang berjanji tidak melaksanakan janji yang telah diucapkannya. 
Janji-janji tinggal janji, tidak pernah dihayati dan dengan demikian hanya 
bersifat formal atau liturgi saja. Hidup beragama hanya dihayati secara 
liturgis atau formal; para pelajar atau mahasiswa belajar hanya menjelang ujian 
atau ulangan umum saja, para pegawai/pekerja hanya disiplin mengisi absensi dan 
tidak bekerja sebagaimana dijanjikan melainkan ngobrol atau omong-omong saja 
pada jam kerja, para pejabat yang berjanji melayani dan memperhati-kan rakyat 
menjadi pemeras dan penindas rakyat, dst.. Sebaliknya mereka yang tidak pernah 
berjanji, misalnya para buruh atau pekerja kasar atau pembantu rumah tangga 
yang baik , sungguh melaksanakan tugas pekerjaan yang dibebankan kepada mereka 
dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau 
tubuh. Keunggulan hidup beriman ada dalam penghayatan atau pelaksanaan bukan 
dalam wacana atau omongan, maka marilah kita menyadari dan menghayati kelemahan 
serta kerapuhan maupun dosa-dosa kita dan kemudian menyesal dengan berusaha 
seoptimal mungkin menghayati atau melaksanakan apa yang pernah kita janjikan. 

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan 
perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Elohim" 
(Mat 21:31). 
Pemungut cukai dan perempuan sundal alias pelacur di dalam Injil menjadi symbol 
bagi para pendosa, orang-orang yang mengingkari janji atau tak tahu terima 
kasih. Mereka juga dinilai sebagai sampah masyarakat lebih-lebih para pelacur 
atau perempuan sundal, sebagaimana diusahakan untuk dibersihkan di bulan suci 
Ramadhan bagi umat Islam
bulan ini. Pada umumnya kiranya para perempuan sundal atau pelacur berprofesi 
demikian bukan karena kemauan atau cita-cita sendiri, melainkan karena tekanan 
atau telah menjadi korban dari orang-orang yang sok suci, benar dan baik; 
mereka juga semakin gencar menghayati profesinya karena kebecatan moral 
orang-orang yang gila kenikmatan
seksual, harta benda atau uang. Maka rasanya ketika ada kesempatan untuk 
bertobat mereka lebih mudah bertobat daripada para pejabat atau tokoh-tokoh 
hidup beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sebagaimana disabdakan 
oleh Yesus : "Sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan 
sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Elohim". Apa yang 
disabdakan ini telah menjadi kenyataan sebagaimana diwartakan dalam Injil 
ketika ada penjahat yang disalibkan
bersama dengan Yesus berdoa: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang 
sebagai Raja." Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari 
ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."(Luk 
23:42-43) 

Apa yang saya tulis di atas tidak berarti ajakan agar kita menjadi penjahat 
atau perempuan-perempuan sundal alias pelacur, melainkan ajakan bagi kita semua 
untuk menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa, lemah dan rapuh. 
Kesadaran dan penghayatan diri sebagai pendosa identik dengan kesadaran dan 
penghayatan diri sebagai yang
beriman. Menyadari dan menghayati diri sebagai pendosa berarti senantiasa 
membuka diri, hati, jiwa, akal budi dan tubuh terhadap aneka macam kemungkinan 
dan kesempatan untuk memperbaharui diri atau bertobat: siap sedia untuk 
dididik, dibina, dituntun, dilecehkan atau
direndahkan, dst.. Dengan kata lain kita dipanggil untuk rendah hati, 
sebagaimana diingatkan oleh Paulus kepada umat di Efesus.
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang 
terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Elohim, tidak 
menganggap kesetaraan dengan Elohim itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang 
hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia 
telah merendahkan diri-Nya dan taat
sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib"(Fil 2:5-8)

Sebagai manusia kita semua adalah sama-sama ciptaan Elohim, sama-sama beriman, 
sama-sama mendambakan atau mencita-citakan hidup bahagia, damai sejahtera. 
Perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita, entah SARA, usia, panggilan, 
jabatan/ kedudukan, tugas, dst.. bersifat fungsional sesuai dengan kesempatan 
dan kemungkinan yang dianugerahkan kepada kita dan bersifat sementara. Maka 
hendaknya kita tidak membesar-besarkan atau mengagung-agungkan yang sementara 
dan berbeda satu sama lain, melainkan apa yang sama di antara kita. Dengan kata 
lain kita dipanggil untuk meneladan Yesus "yang walaupun dalam rupa Elohim, 
tidak menganggap kesetaraan dengan Elohim itu sebagai milik yang harus 
dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa 
seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia". 

Rendah hati dan taat bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi 
tidak dapat dipisahkan, orang yang rendah hati berarti taat, sebaliknya orang 
yang mentaati aneka perintah, nasihat, saran, aturan atau tatanan hidup bersama 
akan semakin rendah hati. Maka marilah di dalam hidup bersama kita saling 
rendah hati dan mentaati. "Tujuan kita adalah menjadi semakin tersedia bagi 
kepentingan umum -terlebih terdorong untuk selalu magis, menjadi semakin lebih 
baik, demi kemuliaan Elohim yang lebih besar" (KJ SJ 35, Dekrit 2.16). Kita 
dipanggil meneladan Yesus, Penyelamat Dunia, yang mendunia dan menyelamatkan 
seluruh dunia. "Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman 
sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan 
kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga" (Vatikan 
II, GS no 1). 

Yang umum dan lebih banyak dalam hidup bersama di dunia ini adalah rakyat, 
orang kebanyakan, mereka yang hidup social-ekonominya pas-pasan atau 
berkekurangan alias miskin. Maka dengan ini kami berharap dan mengajak siapapun 
atau mereka yang berada di `badan publik' atau `bisnis', yang berpengaruh dan 
minoritas dalam jumlah, hendaknya berpihak pada `komunitas'/rakyat atau 
anggota., bukan hidup dan berjuang demi kepentingan atau keuntungan diri 
sendiri. Untuk itu hendaknya sungguh hidup dan bekerja dengan rendah hati, 
merakyat, `turun kebawah' hidup bersama dengan rakyat. Anda atau mereka yang 
berada di `badan publik' atau `bisnis' memiliki kuasa, maka hendaknya
menghayati kuasa bukan sebagai keuatan paksa melainkan sebagai efektivitas. 
"Kuasa sebagai efektvitas merupakan konsep yang lebih luas. Pengertian ini 
mencakup kapasitas atau kemampuan untuk menyelesaikan segala sesuatu dengan 
mempengaruhi orang lain atau memiliki akses pada sumber daya" (Dr.Anthony 
D'Souza SJ: "Proactive Visionary", terjemahan Trisewu, Jakarta 2007, hal 3). 
Aneka kuasa, kesempatan dan kemungkinan yang dimiliki hendaknya difungsikan 
untuk
memberdayakan orang lain atau rakyat atau anggota. Untuk itu pertama-tama harus 
mengenal orang lain, rakyat atau anggota dengan baik, kiranya cara satu-satunya 
adalah dengan hidup bersama dengan orang lain, rakyat atau anggota, menjadi 
sama dengan mereka serta tidak mempertahankan pangkat, kedudukan, jabatan atau 
fungsi.
Hendaknya boros waktu dan tenaga untuk `curhat' dengan orang lain, rakyat atau 
anggota. Marilah kita renungkan seruan nabi Yeheskiel ini: "Kalau orang fasik 
bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan 
kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari segala 
durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup,
ia tidak akan mati" (Yeh 18:27-28) 

"Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu 
kepadaku.Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab 
Engkaulah Elohim yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang 
hari. Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya 
itu sudah ada sejak purbakala.Dosa-dosaku pada waktu muda dan 
pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi
ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya 
TUHAN" (Mzm 25:4-7)

====================================================
From: rm_maryo 

"Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."
(Pkh 11:9-12:8; Luk 9:43b-45)

"Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus 
berkata kepada murid-murid-Nya: "Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku 
ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia." Mereka tidak 
mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka 
tidak dapat memahaminya. Dan
mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya" (Luk 9:43b-45), 
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Vinsensius de Paul, 
imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
. Salah satu bentuk pelayanan pastoral-sosial yang dikelola oleh orang-orang 
yang peka akan penderitaan sesama manusia antara lain berupa `panti asuhan': 
orang jompo, anak-anak terlantar/cacat, penyayang kehidupan/anti pengguguran, 
dst.. Memang ada panti asuhan yang sedikit banyak berwarna komersial, namun 
pada umumnya sugguh sosial, dimana para pengurus, pengelola atau pelaksana 
`panti asuhan' berusaha meneladan Yesus yang `diserahkan ke dalam tangan 
manusia'.
Apa yang dikerjakan oleh Vinsensius de Paul serta para pengkutnya merupakan 
salah satu gerakan pastoral-sosial yang inspiratif bagi kita semua. Kiranya 
cukup banyak orang, yang bersikap mental materialistis atau bisnis tidak 
memahami gerakan-gerakan pelayanan pastoral-sosial macam itu; mereka tidak 
mampu memahami apa arti dan makna pelayanan
bagi mereka yang miskin dan menderita. Maka kami mengajak anda sekalian untuk 
merenungkan sabda ini: "Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak 
Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia". Sebagai orang beriman, yang 
berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, kiranya serentak juga 
mempersembah kan diri kepada sesama manusia, saudara-saudari kita, lebih-lebih 
dan terutama yang miskin, berkekurangan serta menderita. Kepada mereka yang 
sulit memahami pelayanan pastoral-sosial ini kami persilahkan untuk mengunjungi 
atau mendatangi langsung `panti sosial' di daerah atau kota anda. Di Jakarta 
ada beberapa panti asuhan, antara lain: 
(1) Yayasan Amalia (panti asuhan anak-anak jalanan) - JilKebon Bawang Raya
1, Tanjung Priuk, 
(2) Pondok Si Boncel (panti asuhan balita) - Lenteng Agung, Pasar Minggu, 
(3) Panti Asuhan Mekar Lestari, Jl.Commercial III Blok1 no 1-1A, Sektor 1,5 BSD 
-Tangerang, dst..

 Panti-panti asuhan ini sungguh dengan rendah hati, bantuan rahmat Tuhan serta 
kemurahan hati banyak orang, berusaha meneladan Yesus yang menyerahkan Diri ke 
tangan manusia. Manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan citra Elohim, maka
beriman kepada Elohim hendaknya mempersembahkan diri kepada sesama manusia, dan 
dengan demikian kita saling mempersembahkan diri atau saling mengasihi. 
. "Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang 
malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: "Tak ada kesenangan bagiku di 
dalamnya!"(Pkh 12:1). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau 
refleksi bagi kita semua. Marilah kita ingat dan kenangkan masa kanak-kanak 
kita, dimana dengan kasih segenap hati,
segenap jiwa, segenap akal budi dan tubuh atau tenaga masing-masing dari kita 
dikasihi oleh banyak orang, terutama orangtua atau bapak-ibu kita 
masing-masing, sebagai partisipasi terhadap Elohim Pencipta, yang menciptakan 
segala sesuatu yang ada di dunia ini. Tanpa kasih yang luar biasa dari 
bapak-ibu kita masing-masing kiranya kita tidak dapat hidup dan ada seperti 
saat ini. Jika ada rumor, yang menyindir orang kurangajar atau tidak bermoral, 
bahwa masa kecil tidak bahagia, hemat saya hal ini tidak benar. Kepada mereka 
yang merasa bahwa pada masa kecil tidak bahagia alias kurang dikasihi, 
hendaknya menyadari dan menghayati bahwa tanpa kasih kita tidak dapat hidup, 
tumbuh dan
berkembang seperti saat ini. Maka silahkan pertama-tama mengenangkan ketika 
anda masih berada di dalam kandungan atau rahim ibu, ketika sedang dilahirkan, 
dst.. , kiranya dengan kasih mesra dan seutuhnya orangtua, terutama ibu kita 
masing-masing sangat mengasihi kita. Jika kita tidak dikasihi kiranya kita 
tidak pernah lahir di dunia ini alias telah digugurkan ketika masih berada di 
dalam kandungan atau rahim, atau kita tidak dapat hidup seperti saat ini karena 
begitu dilahirkan langsung dibunuh atau dibuang sebagaimana terjadi di 
sana-sini, yang dilakukan oleh perempuan atau ibu yang tak bertanggung-jawab 
dan tak tahu kasih. Jika anda tidak berani menyadari dan menghayati kasih dari 
orangtua atau bapak ibu, kiranya anda akan menjadi manusia atau orang yang 
terus-menerus tertimpa kemalangan atau penderitaan, senantiasa merasa tidak 
aman dan terus terancam dalam hidup sehari-hari. Kita dengan mudah akan berkata 
seperti kata Pengkotbah ini: "Kesia-siaan atas kesia-siaan, ., segala sesuatu 
adalah sia-sia" (Pkh 12:8). 
"Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai 
anak-anak manusia!"Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, 
apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau 
menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,di 
waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu
petang lisut dan layu" (Mzm 90:3-6)

Jakarta, 27 September 2008

Kirim email ke