From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>

Edisi 90 -- Karena Polio, Aku Dibuang Orang Tuaku

PENGANTAR
   Setiap kita pasti pernah disakiti, baik itu oleh orang terdekat kita
   maupun orang yang tidak pernah kita kenal sama sekali. Namun apakah
   reaksi kita ketika mereka menyakiti kita? Sebagai orang percaya,
   kita dituntut untuk tidak menyimpan rasa sakit hati, apalagi
   kepahitan dalam kehidupan kita, melainkan kita diminta untuk
   mengasihi dan mengampuni mereka yang telah menyakiti kita. Meskipun
   ini bukan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan, namun saat kita
   bersedia melepaskan pengampunan terhadap orang yang telah menyakiti
   kita, Tuhan pasti akan memampukan kita untuk melakukannya.

   Redaksi Tamu KISAH,
   Novita Yuniarti
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

                KARENA POLIO, AKU DIBUANG ORANG TUAKU
                   Diringkas oleh: Novita Yuniarti
   Pada usia enam bulan, tepatnya pada bulan Januari 1962, aku terkena
   demam. Rupanya saat itu penyakit polio menyerang tubuhku. Imunisasi
   polio belum terlalu dikenal, sedangkan suntikan dari dokter hanya
   mampu menurunkan panas badanku tanpa mematikan virus, sehingga virus
   tersebut menyerang dan membuat kedua kakiku lumpuh total. Orang
   tuaku kemudian memasukkan aku di panti rehabilitasi anak-anak cacat
   di Solo. Namun mereka meninggalkan identitas dan alamat palsu
   sehingga aku tidak bisa melacak keberadaan mereka. Aku pun hidup di
   lingkungan itu bersama 100 -- 150 anak cacat lainnya tanpa ada
   keluarga yang bertanggung jawab terhadapku. Anak-anak lain memiliki
   keluarga dan setiap kali mereka ditengok, orang tua mereka selalu
   memberikan uang kepada pengurus asrama sehingga mereka bisa jajan.
   Setiap tahun pula aku melihat anak-anak lain yang telah selesai masa
   tinggalnya di asrama, dijemput oleh orang tua mereka untuk pulang.
   Sedangkan aku? Aku tinggal di asrama dengan biaya dari Departemen
   Sosial karena tidak ada orang yang bertanggung jawab untuk membiayaiku.

   Setiap hari aku menerima perlakuan dan perkataan kasar dari para
   suster. Dengan kasarnya, mereka mencemooh dan mengejek aku, "Kamu
   tuh anak yang ditemukan di tong sampah." Jika aku sakit, aku
   membutuhkan orang yang benar-benar mengasihiku. Namun para suster
   masih saja menyiksaku dengan memberikan obat dalam bentuk puyer
   (tanpa air minum), atau aku disuruh menelan pil yang besar. Jika
   tidak, aku akan dipukul. Kalau aku didisiplin karena nakal atau
   pelanggaran, maka hukuman yang aku terima adalah antara tidak diberi
   makan atau diberi makan. Kalau aku menangis, pada waktu membutuhkan
   pembelaan ketika ada yang menyakitiku, mereka bukannya membujukku
   supaya diam, tapi justru memarahiku.

   Tahun-tahun pun berlalu. Usiaku saat ini sudah tujuh belas tahun.
   Saatnya bagiku meninggalkan asrama. Aku tidak tahu ke mana aku harus
   pergi. Kalau kondisiku normal, ada hal yang bisa aku lakukan. Tetapi
   dengan kondisi seperti ini, aku harus ke mana? Tanpa aku ketahui,
   ada seorang majelis gereja melihat potensiku dalam belajar. Aku
   disekolahkan di SMSR Yogyakarta dengan spesifikasi jurusan seni
   rupa. Mulai saat itu, aku menjalani hidup di lingkungan orang-orang
   yang secara fisik berbeda denganku.

   Saat ini, aku sudah bekerja di sebuah perusahaan percetakan. Ketika
   aku tengah sibuk dengan pekerjaanku, seorang pria setengah baya
   menghampiriku dan menanyakan tentang keberadaan bosku. Tanpa
   tertarik sedikit pun untuk bercengkerama lebih jauh, aku menjawab
   pertanyaannya sekenanya, bahwa bosku sedang tidak ada di tempat.
   Aneh, dia bukannya pergi, tapi malah tetap tinggal di tempat ini dan
   memerhatikanku. Dia mulai berbicara tentang Seseorang yang katanya
   punya kasih dan kasih itu diberikan untukku, nama-Nya Yesus. Kasih?
   Yesus? Omong kosong! Tanggapanku yang dingin ini mendorong dia untuk
   mendoakan aku. Aku hanya mengikuti tanpa ekspresi. Semula aku
   benar-benar tidak mengacuhkannya. Tapi saat dia mengatakan, "Sudah,
   kamu ikut saya saja, tinggal dengan keluarga kami!" Aku mulai
   tergerak. Tanpa pikir panjang, aku pun bersedia ikut bersamanya dan
   tinggal dalam keluarganya, sebuah keluarga lengkap, terdiri dari
   kedua orang tua dan anak, komunitas yang tidak pernah aku rasakan
   setelah lebih dari 24 tahun.

   Aku pun mulai merasakan bagaimana hidup dalam sebuah keluarga.
   Hatiku mulai tersentuh oleh kehidupan sehari-hari sebagai seorang
   anak -- cara mereka memperlakukanku dan perkataan-perkataan mereka,
   membangun kepribadianku. Aku merasakan ada kasih yang mengalir.
   Merasakan semua itu membuatku rela membuka hatiku bagi Yesus dan
   mengundang-Nya untuk masuk dan menjadi Tuhan dan Juru Selamatku. Aku
   pun mulai merasakan suatu perubahan. Aku merasakan sukacita,
   kedamaian, dan suatu pengakuan dan kasih yang selama ini aku cari.
   Aku sadar, kekosongan jiwaku selama ini hanya dapat diisi oleh
   Yesus. Hidup kurasakan telah lebih baik dari sebelumnya. Namun entah
   mengapa, kekerasan hatiku masih saja ada. Aku masih suka memberontak
   dan belum bisa menerima kenyataan hidupku.

   Agar aku dapat bertumbuh dalam kasih Tuhan, Pak Pieter (orang yang
   telah mengangkatku menjadi anaknya) mengirimku untuk sekolah di DTS
   (Diciples Training School atau Youth With A Mission). Selama enam
   bulan, aku belajar banyak tentang makna pengampunan dan pemulihan
   luka-luka batin. Kini aku tahu bahwa persoalan terbesar dalam
   kehidupanku sesungguhnya adalah tidak bisa mengampuni. Ada tiga
   pihak yang tidak bisa kuampuni selama lebih dari 24 tahun, yaitu
   orang tuaku, para suster yang memperlakukanku dengan kasar ketika di
   panti rehabilitasi, dan diriku sendiri. Aku harus mengampuni kalau
   mau bertumbuh di dalam kasih. Setelah menerima pelajaran
   pengampunan, aku pun mampu berkata, "Tuhan, aku tidak mampu, tetapi
   aku mau bertumbuh. Tolong berikan aku kemampuan untuk melakukan ini
   semua." Selesai berdoa, ada perasaan lega dan damai dalam diriku.
   Setelah aku mengampuni mereka semua, aku mengalami suatu perubahan
   hidup. Aku pun mendapati pribadiku pulih kembali -- bukan secara
   fisik, tapi terjadi dalam hati dan rohku. Kini aku bisa menjalani
   hari-hariku dengan penuh arti karena telah merasakan kasih dan
   pengampunan dari Yesus Kristus. Kasih-Nya yang juga membuatku bisa
   mengampuni mereka yang telah bersalah kepadaku. Aku mulai percaya
   diri, berani tampil, dan melihat orang lain bukan sebagai ancaman
   yang akan menyakiti aku.

   Setelah aku merasakan pemulihan dalam hidupku, aku rindu bertemu
   dengan keluargaku. Aku berdoa, "Tuhan, masa sampai mati aku tidak
   bertemu dengan keluargaku?" Lalu aku menulis iklan di sebuah media
   massa. Tak lama kemudian, ada informasi mengenai keberadaan
   keluargaku. Setelah melalui proses yang cukup panjang, aku pun
   bertemu dengan keluargaku. Saat mereka datang, aku katakan, "Aku
   tidak menyalahkan mengapa kalian membuang aku. Aku tutup lembaran
   itu. Aku hanya ingin tahu apakah kalian sudah mengenal Tuhan?"
   Sambil berlinang air mata, aku memeluk mereka semua satu per satu.
   Selama 36 tahun berpisah, akhirnya kasih Tuhanlah yang memulihkan
   hubungan kekeluargaan ini. Kini aku memiliki keluarga yang kukasihi
   dan mengasihi aku. Aku memunyai seorang istri yang setia menantiku
   di rumah. Aku juga dikaruniai tiga orang anak -- buah dari pernikahan kami. 
Kami 
   menikmati kasih Tuhan dan hidup berbahagia bersama keluarga, dan aku sungguh 
   terpesona oleh karya-Nya yang luar biasa dalam hidupku.

   Diringkas dari:
   Judul buku: 10 Mukjizat yang Terjadi Pada Orang Biasa
   Penulis: Markus Kristiyanto
   Penerbit: CBN Indonesia, Jakarta 2001
   Halaman: 69 -- 80
______________________________________________________________________

   "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka 
yang 
    menganiaya kamu." (Matius 5:44) < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Matius+5:44 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

   1. Mengucap syukur atas pengampunan yang telah kita terima dari
      Yesus, sehingga pengampunan tersebut memulihkan kita dari
      kepahitan dan memampukan kita semua untuk dapat mengampuni
      pihak-pihak yang telah menyakiti kita.

   2. Doakan untuk setiap orang percaya yang hingga saat ini belum
      bisa mengampuni orang-orang yang telah menyakiti mereka, agar
      Tuhan memampukan dan memberi mereka hati untuk dapat melepaskan
      pengampunan kepada orang-orang yang menyakiti mereka.

   3. Berdoa untuk keluarga Markus Kristiyanto, agar Tuhan senantiasa
      melindungi dan memberkati keluarga ini sehingga dapat menjadi
      berkat bagi keluarga-keluarga lainnya, serta agar karakter dan
      kasih Kristus dapat terpancar melalui kehidupan mereka.
 
====================================================
From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>

Edisi 91 -- Kubiarkan Impianku Sirna

   PENGANTAR
   Apakah Anda sudah menikmati hasil jerih payah Anda? Apakah Anda
   sedang menanti jawaban Tuhan untuk sebuah keputusan yang menjadi
   pergumulan? Atau pernahkah Anda ingin mengulang kembali hidup ini
   untuk dapat mengambil jalan lain yang lebih baik menurut keyakinan Anda?

   Setiap saat kita perlu bertanya kepada Tuhan mengenai segala
   keputusan yang hendak kita ambil, kadang itu bukan merupakan pilihan
   kita, seperti yang berhubungan dengan arah hidup kita. Seperti yang
   sudah banyak kita dengar bahwa setiap orang dipanggil oleh Tuhan,
   tetapi tidak semua orang dipilih-Nya. Apakah Tuhan pernah menyatakan
   panggilan-Nya kepada Anda? Kisah ini dapat membantu Anda mengerti
   jelas mengenai sebuah panggilan Tuhan. Semoga menjadi berkat.

   Redaksi Tamu KISAH,
   Hilda Dina Santoja
______________________________________________________________________
  KESAKSIAN

                         KUBIARKAN IMPIANKU SIRNA
   Aku dibesarkan di sebuah peternakan di California Selatan.

   Pagi-pagi sekali sebelum orang lain bangun, biasanya aku memanggil
   anjing kami, Laddie, untuk berjalan-jalan melalui lembah dan bukit
   melewati tanah kami yang luasnya empat ratus hektar untuk
   menyaksikan matahari terbit. Pakis Spanyol yang berenda-renda lembut
   terjurai dari pohon-pohon Oak, kelihatan seperti berasal dari dunia
   lain dalam cahaya pagi yang remang-remang itu; begitu juga warna
   kuning dari bunga semak-semak, tampak bertambah indah.

   Aku sering memimpikan rumah yang kelak akan kumiliki; sebuah rumah
   pertanian besar dan indah dengan pagar putih. Beberapa ekor sapi
   makan rumput di bukit-bukit yang mengelilinginya. Yang paling
   menyenangkan adalah, rumahku akan dipenuhi dengan orang dan semuanya
   bahagia. Sesekali, begitulah di dalam khayalku, aku akan
   meninggalkan rumah dan teman-temanku untuk pergi ke rumah sakit
   tempatku bekerja sebagai perawat, sebagaimana pekerjaan ibuku
   sekarang. Bagiku, itulah hidup yang sempurna!

   Begitu kembali ke dunia nyata, aku berlari pulang ke rumah, membantu
   menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh keluarga serta mengambil
   bagian dalam tugas-tugas pekerjaan yang lain sebelum berangkat sekolah.

   Pada suatu hari, sewaktu aku berumur tujuh tahun, aku bersama ayah
   berada di ladang mencabut rerumputan. Sambil meluruskan badannya,
   ayah menyuruhku kembali ke rumah untuk mengambil mobil "pick up".
   aku memprotes, "Tetapi ... tetapi ..., aku belum tahu bagaimana membawanya."

   Ayah tidak terpengaruh. Kakak-kakakku telah belajar mengemudi pada
   usia tujuh tahun. Ayah percaya dua hal: "Kamu tidak perlu tahu
   bagaimana melakukannya, tetapi kamu harus melakukannya" dan "engkau
   akan dapat melakukan apa saja, asal engkau berusaha keras". Hal yang
   tidak mungkin? Tidak ada yang tak mungkin. Dia pantang menyerah dan
   tidak juga mengizinkan kami menyerah. Tidak pernah.

   Oleh karena itu, meski gemetaran, aku berlari ke tempat truk kecil
   itu dengan hati yang berdebar sambil terengah-engah. Entah
   bagaimana, aku berhasil menghidupkannya dan truk itu berjalan menuju
   Ayah. aku hanya melakukan hal itu karena diperintah. Sejak usia
   muda, aku belajar untuk taat kepada yang berwenang.

   Ayah menunjukkan kasihnya kepada kami sesuai dengan kemampuannya --
   dengan jalan mempersiapkan kami menghadapi tantangan-tantangan hidup
   ini dan mengatasinya. Warisan ini sangat berharga bagiku.

   Aku menghormati ayah, namun juga sedikit takut kepadanya. Aspek ini
   juga merupakan bagian warisan dari ayah. Kalau Ayah berkata,
   "Loncat!", aku akan bertanya, "Setinggi mana?" Lalu dengan otomatis
   perasaan seperti itu aku berlakukan juga terhadap Tuhan.

   Namun aku belajar sesuatu tentang Elohim yang kemudian mengubah rasa
   takut itu menjadi rasa hormat penuh hikmat kepada-Nya; Elohim memakai
   segala sesuatu. Bahkan yang tampaknya seperti kotoran sapi pun,
   diambil-Nya dan diubah-Nya menjadi bahan yang berguna bagi-Nya.
   Kalau kita simpan, tumpukan itu akan berbau busuk. Kalaupun ada
   noda-noda hitam dalam hidup Anda; tidak mengapa, aku yakin semua
   orang memunyainya. Namun satu-satunya cara untuk mendapatkan karunia
   Elohim adalah dengan bekerja melalui noda-noda hitam tersebut.

   Di sekolah, sering aku merasa diri aneh dan lain daripada yang lain,
   aku memang seorang gadis jangkung yang berpakaian karung tepung
   bekas dengan rambut lurus kaku. Seusai sekolah, kakak-kakak dan aku
   selalu harus segera pulang dengan bus sekolah. Ada tugas memerah
   susu sapi, memberi makan ayam, menyiangi rumput, dan mengangkat kayu
   bakar. Bila berada bersama dengan anak-anak dari kota yang selalu
   tampak begitu rapi dengan pakaian jadi yang dibeli, aku selalu merasa kikuk.

   Akan tetapi, pada usia sebelas tahun aku sudah tahu apa yang
   seharusnya aku lakukan ketika mendengar bahwa Elohim menawarkan
   pengampunan atas dosa dan kehidupan kekal bagi yang meminta
   kepada-Nya. Ketika guru kelas Alkitab bertanya siapa yang mau
   menerima Kristus sebagai Juru Selamat, tanganku kuangkat
   tinggi-tinggi. Itu adalah berita terindah yang pernah aku dengar --
   rasanya seperti menemukan emas.

   Bersama kedua kakakku, aku mulai mengikuti suatu kelas Alkitab,
   terlebih karena pendeta kami menawarkan diri untuk mengantar kami
   pulang dengan mobilnya setiap pulang dari kelas itu. Dalam
   perjalanan-perjalanan mengantar kami pulang itulah ia menunjukkan
   kepada kami sifat-sifat Elohim. Pendeta Brown senang kepada kami! Ia
   tertawa, melucu, dan berbicara tentang firman Elohim.

   Oleh karena aku menghormati wewenang, maka tidak sulit bagi aku
   untuk percaya pada firman Elohim. Akan tetapi aku terusik oleh
   perintah untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Kabar Baik
   serta mengajar orang tentang Elohim. Pada suatu hari Minggu, seorang
   misionaris datang ke gereja kami; ia berkata bahwa 90% dari yang
   "pergi", yang "memberitakan", serta "memuridkan", hanya memusatkan
   perhatian kepada yang 10% dari seluruh penduduk dunia.

   Aku duduk tegak di kursi. Itu berarti hanya 10% dari mereka yang
   "pergi", "memberitakan", dan "memuridkan". Itulah yang, entah dengan
   cara bagaimana, menjangkau 90% dari dunia ini. Logika itu membuat
   aku terkesima, namun memang masuk akal. Aku harus menjadi misionaris
   -- apa pun itu artinya.

   Kemudian, dalam satu perkemahan musim panas, seorang misionaris yang
   menjadi pembicara berkata bahwa kalau kita berkeinginan menjadi
   misionaris, mulai sekarang kita pelu berdoa untuk suku bangsa ke
   mana Elohim akan mengirimkan kita kelak. Ini masuk akal juga. Setiap
   hari aku berdoa, "Tuhan, persiapkanlah kiranya suku bangsa itu
   supaya mereka siap untuk Injil, sehingga mereka bisa percaya."

   Akan tetapi, pertanyaanku masih banyak: Apa sebenarnya yang menjadi
   tugas para misionaris? Bagaimana mereka tahu bahwa tugasnya sudah
   selesai? Apa yang dapat aku lakukan yang hasilnya bersifat kekal?
   Bagaimana kalau diketahui oleh suku bangsa itu tentang Tuhan hanya
   mereka dapat dari aku? Aku menyimak baik-baik ketika misionaris itu
   berbicara, namun tetap tidak dapat membayangkan diriku sebagai diri
   mereka. Aku merasa tidak mampu untuk tugas itu.

   Suatu hari aku mulai menyadari, bahwa "pergi ke seluruh dunia
   mengabarkan Injil" berarti aku akan hidup di hutan! Sepanjang
   pengetahuanku, di luar Amerika semuanya adalah hutan. Sebagai
   seorang murid Sekolah Menengah Tingkat Lanjutan, belum pernah aku
   keluar dari daerah asal kabupatenku.

   Aku melakukan tawar-menawar dengan Elohim. Bagaimana dengan impian
   rumah pertanianku, bukit-bukit dan menjadi perawat? Apa yang
   kulakukan terhadap diriku? Aku bergumul. Berulang kali aku berkata
   kepada Tuhan, "Aku tidak sanggup, barangkali pilhan-Mu salah, Tuhan.
   Aku tidak mengerti apa tugas seorang misionaris sebenarnya." Tetapi,
   tampaknya Elohim tidak terpengaruh seperti ayahku dulu, ketika aku
   mengatakan kepadanya tidak dapat membawa truk itu. Elohim tidak
   menerima alasan ketidaksanggupanku.

   Setelah berbulan-bulan bergumul, pada akhirnya aku menyerah dan
   berkata kepada Tuhan, "Baiklah Tuhan, aku akan melakukannya walaupun
   aku tidak menyenanginya."

   Aku berpisah dengan rumah pertenakan, karier, dan keluargaku --
   semua yang dulu kudambakan. Kubiarkan impian itu sirna.

   Setelah melepaskan impianku, semangat untuk menjadi seorang
   misionaris pun bertumbuh dalam diriku.

   * Perkemahan ini diadakan oleh Wycliffe Bible Translators, suatu
   perhimpunan para penerjemah Alkitab.

   Diambil dan disunting seperlunya dari:
   Judul Buku: Firman Itu Datang dengan Penuh Kuasa
   Penulis: Joanne Shelter dan Patricia Purvis
   Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta 1992
   Halaman: 10 -- 16
______________________________________________________________________
   "Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh,
   supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh.
   Sebab jikalau kamu melakukannya,
   kamu tidak akan pernah tersandung." (2 Petrus 1:10)
   < http://sabdaweb.sabda.org/?p=2Petrus+1:10 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

   1. Mengucapsyukurlah kepada Tuhan karena anugerah-Nya yang begitu
      besar dalam hidup Saudara sehingga Saudara bisa ada sebagaimana
      Saudara ada sekarang, melakukan setiap pekerjaan yang Dia
      percayakan kepada Saudara.

   2. Bagi yang sedang bergumul dalam mengambil sebuah keputusan,
      khususnya untuk menjadi penuai di ladang misi, berdoalah untuk
      meminta petunjuk Tuhan mengenai apa kehendak-Nya atas hidup kita.

   3. Apabila saat ini Saudara sedang menjalani panggilan Tuhan,
      teruslah mengucap syukur dan memohon tuntunan Tuhan dalam
      melaksanakan rencana-Nya, dan berdoalah agar segala sesuatu yang
      Saudara lakukan dapat terus memuliakan nama-Nya.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2008 YLSA
YLSA -- http://www.ylsa.org/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Redaksi Tamu: Hilda Dina Santoja
Kontak: < kisah(at)sabda.org >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/
______________________________________________________________________


 

Kirim email ke