[ Obor Indonesia ] - Peninggalan Kerajaan Majapahit adalah GerejaPeninggalan 
Kerajaan Majapahit adalah Gereja
Dipublikasi pada 7 Juni 2006  

Lebih satu tahun penulis mengikuti dan memperhatikan berbagai berita tentang 
perkembangan lahan wisata terbesar di kawasan Asia Tenggara ini, tepatnya di 
wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Peninggalan purbakala yang maha luas 
dan amat megah itu tampaknya nyaris tak dikenali tentang jatidirinya sehingga 
menjadi teka-teki misteri sejak di era penjajahan kerajaan Nederland/ Belanda 
sampai memasuki masa kemerdekaan di bawah pemerintahan Presiden Sukarno dan 
Presiden Megawati Sukarno Putri sekarang ini, tetap terkunci dengan rapi.

Karena itulah sejarah serta peninggalan-peninggalan Majapahit masih terus 
dilacak dan digali oleh para pakar-pakar sejarah maupun para arkeologi baik 
dari dalam maupun luar negeri. Sehingga pada tahun 2002 yang baru lalu bahkan 
sampai tahun 2003 ini masih lahir berbagai pertanyaan-pertanyaan yang belum 
pernah terjawab oleh pihak-pihak yang berwenang, seperti pertanyaan dari para 
peserta Rally Wisata Bhayangkara Mojokerto yang heran mengapa di Taman Wisata 
Purbakala Majapahit yang amat indah ini sepi pengunjung, apa kurang 
diinformasikan . ? (Radar Mojo Edisi 24 Juni 2002); dalam masalah ini juga ada 
kritik dan saran dari Bpk. Bupati Mojokerto Drs. Achmady Msi, MM. untuk 
meningkatkan sektor wisata Majapahit, beliau mengharapkan agar semua pihak 
selalu memperhatikan beberapa fasilitas supaya tatap tampak terawat, 
terpelihara dan selalu diperbaharui. (Radar Mojo edisi 29 Juli 2002).

Mungkin juga banyak para wisatawan yang beranggapan sama seperti anggapan Bpk. 
Ir. Sriyono Kasubdin Humas Kab. Mojokerto yang menurut beliau 
peninggalan-peninggalan serta sejarah Majapahit itu masih penuh dengan berbagai 
misteri bahkan menakutkan.? (Radar Mojo edisi 4 September 2003); itulah 
sebabnya penting sekali pelurusan kembali sejarah Majapahit seperti gagasan 
Bpk. Drs. Bambang Sutiyono Waka Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto dalam 
program Mulok atau muatan lokal. (Radar Mojo edisi 16 September 2002); Sebab 
kenyataannya situs-situs peninggalan Majapahit sampai saat ini sebenarnya masih 
terus diburu bukan saja oleh para pencari wahyu, tetapi juga diserbu anak-anak 
ya adik-adik kita para siswa-siswi dari berbagai penjuru daerah bahkan dari 
segala ragam etnis membaur jadi satu dengan tujuan yang sama yaitu ingin tahu 
apa sebenarnya makna semua peninggalan-peninggalan Majapahit itu, seperti pada 
saat rombongan mereka secara berduyun-duyun mengunjungi petilasan yang disebut 
sebagai Sitiinggil baru-baru ini. (Radar Mojo edisi 17 Januari 2003); Demikian 
pula kita sangat memperhatikan dan mengaminkan himbauan bung Cholliq Baya 
kepada Pemerintah Kabupaten Mojokerto tentang penanganan situs-situs 
peninggalan Majapahit supaya dapat terealita secara transparan sehingga dapat 
disiarkan dan dipasarkan ke seluruh pelosok tanah air sampai ke segenap penjuru 
dunia. Untuk masalah itu bung Cholliq bersemboyan bahawa "BANGSA YANG BESAR 
ADALAH BANGSA YANG DAPAT MENGHARGAI SEJARAH BANGSANYA". (Radar Mojo edisi 18 
Mei 2003); Lebih unik lagi hal wisata ini sampai dibawa ke alam mimpi oleh Bpk. 
H. M. Arief Syaifudin, Beliau membayangkan betapa indah serta semaraknya kota 
Mojokerto kelak seandainya semua lahan wisata terutama situs-situs Majapahit 
menjadi benar-benar kembali bangkit, pasti akan lebih menarik bagi para 
turis-turis baik yang domistik terlebih lagi turis-turis asing, mungkin 
meriahnya tak mau lagi kalah dengan wisata pulau Bali. (Radar Mojo edisi 21 
Juli 2003); Namun sayang seribu sayang, mimpi indah tersebut tampaknya kembali 
pupus setelah selang baru sembilan hari muncul lagi berita sedih tentang nasib 
dari lahan pariwisata wilayah Kabupaten Mojokerto yang diprediksi semakin 
pemprihatinkan di masa depannya, mungkin termasuk lahan pariwisata purbakala 
Majapahit yang semakin terpuruk; demikian penilaian Bpk. Drs. Risdy Hariantoko 
Kabag, Perekonomian Kabupaten Mojokerto. (Radar Mojo edisi 30 Juli 2003).

Nah begitulah sekilas gambaran satu tahun didalam pasang surutnya harapan kita 
tentang teka teki misteri ... harta karun Majapahit yang tetap tak terungkit, 
dan tak terjawab. Padahal (maaf) menurut hemat penulis, di era reformasi dan 
globalisasi seperti sekarang ini, baik peninggalan yang berupa 
bangunan-bangunan sakral maupun yang berwujud sejarah-sejarah ya kisah-kisah 
akbar dari Kerajaan Majapahit itu sudah kian berubah dan tidak selalu menjadi 
teka-teki misteri seperti selama ini.

Mengapa demikian., sebab bukankah almarhum Bpk. Prof. Mr. Moh. Yamin, SH. yang 
pakar sejarah nasional kita sudah pernah menulis bahwa nama Majapahit 
mengandung arti kiasan, yaitu melambangkan pait getirnya suatu perjuangan. 
Tetapi sayang sekali tidak dijelaskan oleh almarhum tentang siapa yang berjuang 
dan untuk siapa perjuangan tersebut dipersembahkan.

Namun begitu, pesan tersebut sudah dapat kita pakai sebagai landasan berpijak 
untuk menebak teka-teki misteri Majapahit menjadi transparan, menjadi terang 
seterang lambang-lambang atau kiasan-kiasan ya sandi-sandi nama dari rajanya 
yaitu Jejaka "Damar Wulan".

Arti Damar menurut leluhur masyarakat Mojokerto tempo dulu adalah alat 
penerang, suatu contoh ada yang disebut sebagai damar ublik, yang artinya ialah 
alat untuk menerangi kamar-kamar kecil atau bilik-bilik, ada lagi damar 
gantung, artinya alat untuk menerangi ruang-ruang besar seperti ruang tamu atau 
balairung dan seterusnya. Adapun arti Wulan sama dengan Rembulan, yang selalu 
diterangi memakai sinar bulan pada umumnya adalah jagad-raya atau dunia yang 
lagi mengalami kegelapan; jadi arti sebenarnya nama sandi Damar Wulan itu 
adalah sang Terang Dunia.

Di kalangan masyarakat kita yang majemuk alias campursari seperti sekarang ini 
sudah tidak asing lagi dengan sebutan nama Sang Terang Dunia itu, Dia adalah 
"Masihu Isabnu Maryama" ya Isa Almasih putra Maryam atau Yesus Kristus putra 
Bunda Maria. Sekarang yang menjadi teka-teki misteri dan harus dapat ditebak 
ialah mengapa kisah akbar Yesus Kristus sang Damar Wulan tersebut dapat 
tersebar luas dan berkembang subur di tengah-tengah masyarakat Mojokerto sejak 
jaman purbakala sampai saat ini? Soal inipun tidak sulit untuk menebaknya, 
sebab penulis pernah mendengar langsung dari almarhum buyut Supiati Sunandar 
Sastro Saputro seorang sesepuh dukuh Banong, desa Gerbangsari, kecamatan 
Jatirejo Mojokerto, beliau menerangkan bahwa peninggalan Majapahit itu 
sebenarnya yang menyolok hanyalah berupa pintu-pintu gapura mini yang tak 
terhitung banyaknya, sebab selalu dibangun pada tiap-tiap jalan masuk ke 
halaman-halaman milik warga Mojokerto secara umum, juga dibangun pada setiap 
jalan masuk ke halaman gedung-gedung pemerintahan, bahkan selalu dipajang pada 
tiap-tiap ujung jalan masuk ke perkotaan, ke kampung-kampung sampai ke 
pelosok-pelosok pedesaan secara turun temurun.

Gapura-gapura mini tersebut dibuat dari susunan batu-batu bata dengan bentuk 
yang sama, yaitu sebagian dibuat ala Adipura Majapahit bagian barat yang 
bernama "Ringin Lawang" yang wujudnya memang dibuat seperti tonggak pohon 
beringin dibelah menjadi dua sama besar, direnggangkan sebagai ambang pintunya. 
Dan yang sebagian lagi dibuat seperti Adipura Majapahit bagian timur yang 
disebut sebagai 'Jawi-jawi" atau "Jati", bentuknya juga menyerupai Tonggak Jati 
yang pada setiap sudut-sudutnya sudah tampak keluar tunas-tunas atau 
Terik-Teriknya.

Kedua adipura Majapahit tersebut terletak di wilayah kecamatan Trowulan, desa 
Jatipasar dan di wilayah kecamatan Prigen Pasuruan Jawa Timur. Dan satu lagi 
yang amat penting untuk diketahui yakni menurut almarhum Buyut Supiati pula, 
masyarakat Mojokerto dan sekitarnya sejak tempo dulu memberi nama pada semua 
pintu-pintu tersebut sebagai pintu "GEREJA". Nah dengan demikian terjawablah 
sudah mengapa sejarah Yesus Kristus dapat tersiar di wilayah Mojokerto dan 
sekitarnya sejak dulu sampai sekarang.

Lalu mengapa Gereja Purbakala Majapahit memakai nama kiasan atau ama sandi 
berbentuk Tonggak Beringin dan Tonggak Jawi-jawi (Jati)? Tampaknya memang dari 
kedua tonggak itulah yang merupakan tonggak sejarah tentang perikehidupan Yesus 
Kristus sang Damar Wulan disebar luaskan bahkan diperagakan sebagai sandi-sandi 
Sastra Wulan yang biasa disingkat menjadi sandi-sandi "Trowulan".

Kumpulan sandi-sandi Trowulan merupakan ciplikan-cuplikan dari Kitab Suci 
Gereja Purbakala, betapa tidak, bukankah kedua Gereja Agung Majapahit yang 
berbentuk Tonggak Beringin dan Tonggak Jawi-jawi itu menyimpan nubuat nabi 
Yesaya yang menyatakan bahawa dari tonggak beringin dan tonggak pohon jawi-jawi 
akan terbit tunas (TERIK) yang suci, yang memiliki berbagai sebutan seperti : 
Penasehat ajaib, Gembala yang baik, Raja Damai, Raja di atas segala raja-raja, 
Sang Hidup ya sang Wijaya dan lain-lainnya. Itulah sebabnya jika leluhur kita 
masyarakat Mojokerto tempo dulu ada yang mengatakan bahwa sang Wijaya berasal 
dari TERIK sangatlah benar, yaitu dari Terik/ Tunas Tonggak Jawi-jawi tersebut.

Yang paling akhir masih ada satu teka-teki misteri, yaitu sebutan bagi Yesus 
Kristus ya sang Hidup (Wijaya) sebagai Raja Majapahit, apakah artinya Majapahit 
sebenarnya? Gelar sebagai sang Majapahit bagi Yesus Kristus adalah sangat tepat 
dan pas sekali, sebeb bukankah di kalangan umat gereja selalu menyebut Yesus 
Kristus adalah sang Putra Kesengsaraan (Putra Allah yang sengsara sebab 
dosa-dosa seisi dunia). Sebutan yang terakhir inilah jika kita pinjam bahasa 
pewayangan purbakala ya Wayang Purwo yang asli dari Mojokerto yaitu wayang cék 
dong Jawa Timuran, maka nama tersebut akan berubah menjadi sang AtMajapahit; 
Atmojo adalah buah keturunan, atau buah hati ya buah kasih, yaitu Anak atau 
sang Putra panggilan bagi keluarga raja-raja; adapun Pait adalah kiasan ya 
lambang kesengsaraan, jadi arti komplit AtMajapahit adalah Putra Kesengsaraan 
yaitu Yesus Kristus san Terang dunia atau Damar Wulan.

Sebutan AtMajapahit juga sering disingkat menjadi Majapahit sama seperti 
sebutan atmojo putri disingkat menjadi mojoputri, dan seterusnya.

Nah sampai disini dulu jawaban kita tentang teka-teki misteri Majapahit yang 
selama ini belum pernah muncul di atas permukaan media cetak. Semoga dengan 
munculnya Gereja Purbakala ini genaplah sudah wisata Rohani di Nusantara ini, 
yaitu Candi Borobudur (Budha) Candi Prambanan (Hindu), Masjid Demak (Islam) dan 
Gereja Majapahit (Kristen).

Jatirejo-Mojokerto, 1 Desember 2003
S.H. Putra Timur 

Catatan Redaksi :
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, dan cukup menarik. Namun demikian 
Redaksi membutuhkan masukan-masukan yang lebih dalam untuk menguji teori 
tersebut diatas. 
URL: http://ob.or.id/modules.php?name=News&file=article&sid=381

Dari Obor Indonesia

==================================================
From: Felix Purnomo 

Dengarkanlah Bisikan NYA !

============ ========= ========= =====
Sebuah kisah yang sangat menyentuh bagi siapa saja yang membacanya.
Bener2 bagus dan indah maknanya, serta sangat mengharukan.
============ ========= ========= =======

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman,
atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana.
Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah
saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi.
Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang 
memilikinya.
Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling."
Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga 
orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu 
setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang 
yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, 
saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu 
saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran 
McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan 
kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta 
agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih 
kosong.
Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap 
orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri 
dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa 
mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau 
badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua 
orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu 
bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih 
pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" kearah 
saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih 
sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 
'kehadirannya' ditempat itu.

Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa 
koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.
Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' 
yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan 
gerakan aneh berdiri di belakang temannya.
Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan 
lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin 
setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya 
bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya
pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan.
Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona."
Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh
mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam
restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli
sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku 
beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk 
yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati 
mereka.. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua 
mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat 
semua 'tindakan' saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga
kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta 
diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di 
counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami 
dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut 
kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya 
letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya 
di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya 
berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah 
ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya." Saya 
mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata 
"Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di 
sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan 
makanan ini kepada kalian."
Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki 
kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki 
itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka 
dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk 
mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil 
tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu 
menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan 
anak-2ku! " Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami 
benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah 
mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain 
yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan 
restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu 
menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami. Salah 
satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "*Tanganmu 
ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, 
jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang 
telah kamu contohkan tadi kepada kami."*

Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak 
meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan 
seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh 
kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam 
perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap 
kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir 
oleh saya.
Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu 
sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan 
saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, 
sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat 
kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang 
lain?" dengan senang hati saya mengiyakan. 
Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan 
paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita 
sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang 
dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir 
di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu 
berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya 
diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya
dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya.
"Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat'
dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh 
orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa 
yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus 
dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah 
manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."

Kirim email ke