Ringkasan khotbah Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney, Australia 
tanggal 14 September 2008
     The Act of Grace, Faithful, and Fruitful   
  oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
   
   
   
   
  Nats: 2 Kor. 9:6-15; 8:1-5
   
   
   
   
  Dalam suratnya kepada jemaat Korintus, Paulus memuji mereka karena di dalam 
pelayanan firman, jemaat Korintus memiliki ketaatan. “They praise God for your 
confession of the gospel of Jesus Christ which is faithful…” (2Kor. 9:13). Ini 
hal yang terpenting. Tetapi pelayanan hidup Kekristenan kita bukan saja perlu 
kesetiaan, tetapi juga perlu hidup yang berbuah. Not only faithful but also 
fruitful. Kita tidak hanya membuktikan kesetiaan kita, tetapi kita juga 
dipanggil untuk menyatakan satu hidup yang berkelimpahan. Paulus memuji jemaat 
Korintus di dalam pelayanan Injil, di dalam hidup mengikut Tuhan, mereka sudah 
menyatakan ketaatan terhadap pengakuan akan Injil Kristus. Tetapi bukan itu 
saja, sekarang Paulus ingin mendesak satu hal yaitu apakah mereka juga 
menyatakan hidup Kristen mereka adalah hidup Kristen yang berbuah dengan 
melimpah.
   
  Titus diutus oleh Paulus ke Korintus untuk membereskan persoalan yang berat 
yang terjadi di sana. Paulus kemudian mendengar beberapa kabar melalui Titus, 
ada good news tetapi ada juga bad news. Kabar baiknya ialah teguran Paulus yang 
keras melalui suratnya telah memberikan perubahan di dalam jemaat Korintus. 
Maka Paulus bersyukur untuk perkembangan baik ini. Dulu dia merasa menyesal 
karena teguran itu telah mendukakan hati mereka. Tetapi sekarang dia bersyukur 
karena ada hasil yang baik melalui berita yang disampaikan oleh Titus terjadi 
transformasi hidup, terjadi pertobatan, terjadi perubahan hidup.
   
  Tetapi ada kabar kurang baik yang disampaikan Titus. Kita akan melihat 
konteksnya terlebih dahulu di pasal 8 dan 9. Di pasal 9:1-2 kita melihat 
Korintus adalah ibukota dari negara bagian Akhaya, satu kota yang makmur dan 
jemaatnya rata-rata orang kaya. Sedangkan tidak jauh dari sana ada negara 
bagian Makedonia, di mana jemaatnya terdiri dari orang-orang yang sederhana. 
Jemaat Korintus yang kaya itu telah memulai satu proyek untuk mengirim bantuan 
uang kepada gereja di Yerusalem. Paulus mengatakan dengan bangga kepada jemaat 
di Makedonia dan daerah-daerah yang lain, “Akhaya sudah siap sejak tahun yang 
lalu…” Tetapi sekarang dia menjadi malu karena jemaat Korintus tidak lagi 
mengumpulkan uang untuk jemaat Yerusalem. Kita tidak tahu apa sebabnya. Maka 
dengan latar belakang ini, di pasal 8 dan 9 ini Paulus bicara mengenai konsep 
apa artinya kita memberi. Jadi sudah ada kerinduan, sudah ada hal yang baik 
untuk memulai karena mereka sadar mereka sudah mendapat berkat
 karena gereja Yerusalem mengutus misionari pergi sampai akhirnya mereka bangsa 
kafir bisa mendengar Injil. Tetapi ada perbedaan status sosial. Orang-orang 
Kristen non-Yahudi ini jauh lebih kaya daripada orang-orang Kristen Yahudi. 
Maka jemaat Korintus yang merasa berhutang budi dan berhutang Injil kepada 
jemaat Yerusalem memutuskan untuk mengirim uang kepada mereka. Ini yang membuat 
Paulus begitu bangga kepada mereka. Kerinduan ini lalu Paulus sampaikan juga ke 
daerah-daerah yang lain. Cuma akhirnya terjadi hal ini, Makedonia gereja yang 
begitu sederhana dan miskin justru bereaksi dengan sukacita dan merealisasikan 
proyek ini dengan baik. Mereka mengumpulkan uang, tetapi gereja Korintus justru 
tidak melakukannya. Maka Paulus bilang kepada mereka, jangan sampai 
kebanggaanku kepadamu menjadi luntur. Sebagai jemaat yang begitu berlimpah 
dengan kekayaan dan juga telah berinisiatif untuk melakukan sesuatu, tetapi 
tidak boleh berhenti sampai di angan-angan, cita-cita dan ide
 saja. Jadi seorang Kristen jangan hanya suka melontarkan ide, tetapi harus 
juga diselesaikan, dijalankan dan dilakukan.
   
  Maka di pasal 8 dan 9 ini Paulus khusus bicara mengenai “persembahan kasih”, 
the act of grace. Jadi dari konteksnya ini bukan bicara mengenai persembahan 
syukur yang rutin dijalankan, tetapi persembahan bantuan kepada jemaat di 
Yerusalem. Paulus menyebutnya sebagai ‘the act of grace,’ istilah ini menjadi 
satu hal yang penting sekali. Pertama, pemberian kasih kita tidak mungkin 
keluar dari hidup kita kalau tidak didorong dengan satu perasaan bahwa kita 
terlebih dahulu sudah mendapatkan anugerah Allah. Yang kedua, semakin sadar 
kita betapa besar anugerah yang datang kepada kita itu maka kita akan merasa 
apa pun yang kita beri tidak bisa melampaui anugerah yang kita sudah terima 
itu. Itu sebab di pasal 9:15 Paulus menutup dengan satu kalimat yang saudara 
dan saya harus akui sampai kapanpun tetap berhutang kepada Tuhan. Paulus 
mengatakan, “thanks to the Lord for His unspeakable gift…” Syukur kepada Allah 
oleh karena kasih karuniaNya yang tak terkatakan itu.
 Apakah ‘the unspeakable gift’ itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah Yesus 
Kristus. Dia adalah the unspeakable gift dari Allah. Paulus sadar 
sesungguh-sungguhnya, ini adalah anugerah Tuhan yang tidak sanggup kita 
ungkapkan dengan kata-kata, yang hanya bisa melahirkan rasa syukur kita kepada 
Tuhan. Hidup kita sebagai orang Kristen dilandasi dengan pemahaman seperti itu. 
Sehingga pada waktu kita memberi sesuatu, itu adalah ‘the act of grace.’ karena 
kesanggupan untuk memberi itu bukan datang dari kita. Kita sanggup untuk 
memberi sebab kita terlebih dahulu sudah diberi. Dan berapa besar hati kita 
untuk bisa memberi itu depends on berapa besar kita menilai dan menghargai 
anugerah itu. Maka Paulus mengingatkan kita, that grace is the unspeakable gift.
   
  Jemaat Korintus merupakan jemaat yang jauh berbeda dibandingkan dengan jemaat 
Makedonia. Paulus bukan ingin mempermalukan jemaat Korintus, tetapi dia ingin 
komparasi dengan jemaat Makedonia itu boleh menjadi cambukan kepada jemaat 
Korintus. Pertama, jemaat Korintus yang sudah memulai tetapi malah yang lain 
yang menyelesaikannya. Kedua, di pasal 8:7 Paulus jelas-jelas mengatakan jemaat 
Korintus ini adalah jemaat yang kaya dibandingkan jemaat yang lain. Mereka kaya 
di dalam segala sesuatu, di dalam iman, di dalam perkataan, di dalam 
pengetahuan, di dalam kesungguhan dan di dalam kasih. Dan sekarang hendaklah 
juga mereka kaya di dalam pelayanan kasih itu. Kalau kita membaca surat-surat 
Paulus kepada jemaat yang lain, saudara dansaya akan melihat jelas jemaat 
Korintus memang adalah jemaat yang penuh dengan karunia. Mereka adalah jemaat 
yang ‘high class,’ jemaat yang memiliki pendidikan yang tinggi. Maka sekarang 
Paulus katakan, mari engkau juga kaya di dalam hidup yang
 memiliki generosity. Hidup yang sanggup bisa memberi kepada orang lain. Paulus 
membandingkan mereka dengan jemaat Makedonia, yang Paulus begitu sungkan karena 
mereka jemaat yang sangat sederhana dan miskin. Tetapi Paulus bersaksi kepada 
Korintus bahwa jemaat Makedonia ini memberi melampaui apa yang mereka punya. 
Itu sebab di sini kita bisa belajar sebagaimana kesadaran gereja Makedonia di 
dalam dua hal ini. Pertama, saya bisa memberi bukan karena saya punya, tetapi 
karena saya sudah terlebih dahulu menerima. Kedua, saya bisa memberi berlebih 
karena saya menghargai anugerah itu begitu indah di dalam hidupku.
   
  Immanuel Kant, seorang filsuf yang mengajarkan “Imperative Ethics” bagi saya 
merupakan salah satu etika yang tinggi sekali, mengatakan, “Kalau engkau 
melakukan satu kebaikan for the goodness itself, itu baru suatu kebaikan yang 
benar. Sebab jikalau engkau melakukan satu kebaikan “karena”, kebaikanmu itu 
belum merupakan satu kebaikan tertinggi.” Ini adalah konsep yang luar biasa. 
Kalau engkau baik kepada seseorang “karena” dia sudah baik kepadamu, itu belum 
merupakan kebaikan yang tertinggi. Yang lebih rendah lagi adalah kalau engkau 
baik kepada seseorang “supaya” dia berbuat baik kepadamu. Kalau engkau memberi 
karena memberi itu sendiri , itu baru satu kebaikan tertinggi. Tuhan Yesus 
pernah mengatakan, kalau tangan kananmu memberi, janganlah tangan kirimu 
mengetahuinya (Mat. 6:3). Maksudnya apa? Mana ada tangan kanan memberi tanpa 
diketahui tangan kiri? Maksud Tuhan Yesus di sini, tangan kanan memberi, tangan 
kiri tidak boleh meminta balas. Jadi kalau
 kita memberi untuk mendapat balasan, itu bukan satu pemberian yang indah.
   
  Maka Paulus mengatakan, pemberianmu adalah the act of grace. Kita memberi 
karena kita sudah mendapatkan anugerah yang kaya dan melimpah dari Tuhan. 
Jemaat Makedonia walaupun di dalam kesulitan dan kemiskinan bisa melakukan 
sesuatu melampaui apa yang ada di dalam hidup mereka. Itu adalah suatu hal yang 
sangat indah. Paulus memberikan beberapa prinsip di mana hidup kita adalah 
hidup karena sudah ditopang oleh anugerah Allah yang tak terkatakan itu, yang 
hanya bisa melahirkan hati yang bersyukur. Tetapi kita tidak boleh hanya sampai 
kepada satu sensasi syukur atas apa yang Tuhan sudah beri kepada kita, tetapi 
kita belajar menyatakan secara nyata bagaimana menjadi orang Kristen yang lebih 
murah hati.
   
  Paulus mengatakan beberapa hal yang penting. Pertama, Tuhan tidak pernah 
menuntut orang untuk memberi melampaui apa yang dia tidak punya. Belajar 
memberi dari apa yang engkau punya (8:12). Kedua, belajar memberi karena engkau 
rela (9:7). Kata “rela” adalah kata yang tidak mudah. Rela itu merupakan kunci 
yang paling penting di dalam hidup kita yang membuat segala sesuatu menjadi 
enteng dan ringan. Kalau tidak rela, barang 1 kilo pun di tangan terasa berat 
bukan main. Jadi bukan berapa besar dan beratnya yang menentukan sesuatu tetapi 
berapa besar perasaan hati kita rela itu yang membuat keringanannya. Paulus 
bilang, kalau engkau punya hati yang rela, engkau memberi dengan sukacita. 
Kemudian Paulus memberikan prinsip bagaimana menjadi orang Kristen yang 
generous di pasal 9:6-15. Pertama, “camkanlah ini: orang yang menabur sedikit 
akan menuai sedikit, orang yang menabur banyak akan menuai banyak.” Artinya 
apa? Artinya, orang yang memberi tidak akan pernah kehilangan
 daripada apa yang dia sudah beri. Jadi pada waktu saudara memberi, saudara 
jangan berpikir ada sesuatu yang terhilang dari hidupmu. Prinsip ini 
memberitahukan kita, apa yang kita beri itu tidak akan pernah terhilang dari 
hidupmu. Sehingga the giver is never become the loser. Seorang yang memberi 
tidak akan pernah menjadi loser. Barangsiapa yang menabur banyak, dia akan 
menuai banyak. Barangsiapa menabur sedikit, dia akan menuai sedikit. Secara 
prinsip sederhana, logisnya kalau saudara tabur 10 benih padi, benih itu akan 
mengeluarkan 10 batang padi yang akan menghasilkan lebih banyak dari 10 benih 
yang tadi saudara tabur. Tetapi kalau yang kita tabur itu sesuatu yang abstrak, 
analogi tadi akan sulit untuk kita pahami.
   
  Banyak hamba Tuhan dari Prosperity “Theology” memakai ayat ini mengatakan, 
“Kalau saudara memberi $100, maka Tuhan akan memberkatimu $1000.” Itu 
penafsiran yang keliru, karena kalau kita membaca dengan teliti bagian ini 
Paulus tidak bicara seperti itu. Maksud ayat ini adalah apa yang engkau tabur 
itu tidak akan pernah hilang. Dia pasti akan menghasilkan buah. Buahnya adalah, 
pada waktu kita memberi sesuatu pasti akan mendapatkannya dengan berkelimpahan. 
Tetapi yang kita akan dapat itu tidak boleh dipersempit pengertiannya. Kalau 
saudara memberi perhatian dan waktu kepada orang, maka saudara mungkin akan 
mendapat bukan sekadar perhatian saja, tetapi hal-hal yang lain. Kalau saudara 
memberi bantuan uang kepada orang lain, saudara tidak hanya mendapat balik uang 
tetapi juga akan mendapatkan lebih daripada itu. Ayat 10, “engkau akan 
menghasilkan buah-buah kebenaran..” Dengan memberi sesuatu, the act of grace 
itu akan membuatmu lebih fruitful. Ada buah-buah
 kebenaran yang dihasilkan. Engkau menjadi orang yang kaya.
   
  Rockefeller sendiri mengatakan, “Orang yang paling miskin di dalam dunia ini 
adalah orang yang tidak punya apa-apa selain uangnya.” Kekayaan kita tidak 
boleh hanya diukur dari satu aspek saja. Maka Paulus bilang, engkau akan 
melipat-gandakan dan menumpukkan buah-buah kebenaran. Engkau akan menjadi kaya. 
Dalam hal apa? Melalui the act of grace itu, melalui perhatian, waktu, doa dan 
pelayanan, saudara memberi uangmu untuk membantu orang, semua itu tidak pulang 
dengan sia-sia tetapi akan menghasilkan begitu banyak buah-buah kebenaran. 
Engkau akan menjadi seorang Kristen yang kaya, kaya di dalam kasih dan 
generosity, kaya di dalam kemurahan hati, kaya di dalam hal membangkitkan 
syukur kepada Allah (ayat 11). Pelayanan kasihmu itu bukan saja mencukupkan 
keperluan orang tetapi melimpahkan ucapan syukur orang itu kepada Tuhan. Engkau 
akan berlimpah dengan begitu banyak teman yang berdoa bagimu (ayat 14). Kaya 
dengan orang-orang yang banyak mendoakanmu. Betapa besar kekayaan
 ini, kalau saudara memiliki banyak teman-teman yang mendukung dan mendoakanmu, 
bukan? Betapa kayanya kalau saudara bukan hanya merupakan orang yang berlimpah 
dengan kemurahan hati memberi kepada orang lain tetapi berlimpah karena 
kebesaran hatimu. Betapa kayanya kalau melalui hidup yang memberi kepada orang, 
begitu banyak orang mengucap syukur kepada Tuhan. Apa lagi yang kita butuhkan 
selain hasil dan buah yang indah seperti itu?
   
  Prinsip yang kedua, ayat 8 dan 10 “Dia yang menyediakan benih itu dan yang 
memberi roti untuk dimakan…” Prinsipnya, saya memberi sebab Tuhan yang provide 
terlebih dulu. Menjadi seorang Kristen adalah saya bersyukur kepada Tuhan. Saya 
memberi bukan karena saya berkelimpahan saja. Saya memberi oleh sebab Tuhan 
memberi dan menyediakannya kepada saya. Prinsip yang kedua, belajar menjadi 
seorang jurukunci yang setia terhadap apa yang Tuhan kasih kepada kita. Kenapa 
kita memberi? Sebab memang ini bukan punya kita, ini bukan milik saya 
selama-lamanya. Kita datang tidak membawa apa-apa, kita kembali kepada Tuhan 
kita juga tidak membawa apa yang kita punya selama di dunia. Kita datang dengan 
telanjang, waktu kita pergi kita hanya memakai stelan jas yang cukup baik. 
Paulus mengingatkan, semua yang kita punya itu Tuhan yang sediakan. Artinya, 
Tuhan memberi kepada kita, berarti kita hanya penatalayan Tuhan, orang yang 
belajar setia mengelola dan memakai apa yang sudah Tuhan
 beri kepada kita. Prinsip ini penting, prinsip ini menjadikan hidup orang 
Kristen menjadi hidup yang indah. Tuhan memberi kita anak, ini bukan anak kita. 
Tuhan memberi kita pekerjaan dan karir, ini bukan milik saya. Tuhan memberi 
kita keluarga, kita harus selalu berpikir ini semua adalah dari Tuhan dan saya 
mau kelak ini semua menjadi alat yang Tuhan pakai dan menjadi berkat bagi orang 
lain. Jiwa memberi selalu keluar dari hati seorang yang menyadari bahwa dia 
dipanggil Tuhan sebagai penatalayan yang setia terhadap apa yang Tuhan kasih.
   
  Prinsip yang ketiga, ayat 8 “Allahku sanggup melimpahkan segala kasih karunia 
kepadamu supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah 
berkelimpahan di dalam berbagai kebajikan.” Dalam Fil.4:19 Paulus mengatakan, 
“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu…” Ingat akan hal ini, Allah kita itu 
kaya dan mulia. Artinya, Dia punya unlimited resources dan Dia sanggup 
mencukupkan segala keperluanmu, tetapi bukan keinginanmu. Tuhan tidak berjanji 
untuk mencukupkan segalanya. Orang sering bilang, bukankah Dia Allah yang kaya 
berarti Dia bisa memberi sebanyak yang saya mau, bukan? Saudara perhatikan, 
kalau Allah hanya memberimu $100, bukan berarti uang-Nya cekak. Tetapi Dia 
berjanji memberikan dan memenuhi apa yang kau perlukan. Dia Allah yang kaya, 
yang sanggup mencukupkan segala sesuatu, sehingga engkau hidup di dalam 
berkecukupan. Jadi Paulus menggabungkan dua hal, Tuhan berjanji Tuhan tidak 
pernah lalai di dalam mem-provide anak-anak-Nya yang
 berada di dalam pemeliharaan-Nya. Jangan berpikir bahwa Tuhan itu careless. 
Dia berjanji akan memberikan danmencukupkan apa yang kau perlukan. Itu sebab 
kenapa menjadi orang Kristen yang selalu kuatir dan merasa harus menyimpan 
sesuatu karena takut tidak punya? Tetapi muncul hal kedua, Allah juga adalah 
Allah memberi supaya kita berkecukupan. Kata ‘berkecukupan’ di dalam bahasa 
aslinya ‘autarke’, mungkin diterjemahkan: kesanggupan untuk hidup cukup dan 
puas dari apa yang ada. Sanggup untuk bisa hidup dari apa yang ada di tangan 
kita. Kita kadang-kadang sudah pikir lebih dahulu, kita tidak bisa hidup kalau 
tidak punya ini dan itu di tangan kita.
   
  Berapa banyak sebenarnya yang kita rasa cukup untuk hidup satu hari? Orang 
sering berpikir bahwa yang dia perlu untuk hidup itu banyak sekali dan dia 
tidak bisa hidup kalau tidak punya semua itu. Coba kalau kita berada di dalam 
satu situasi di mana kita cuma punya satu potong roti untuk satu hari, kita 
baru sadar ternyata sepotong roti itu cukup untuk kebutuhan kita. Orang yang 
tersesat di hutan membuktikan dia bisa survive beberapa hari dengan dua potong 
permen di tasnya. Itu artinya bagaimana kita belajar hidup mencukupkan diri 
dengan yang kita perlu, itu artinya autarke. Tidak ada gunanya Tuhan kasih 
banyak kalau tidak ada hati yang berkecukupan. Hati yang berkecukupan itu 
membuat hati kita punya dasar dan alas. Kalau tidak, dia akan bocor terus, 
tidak pernah merasa cukup dikasih berapa banyakpun tidak akan penuh. Maka ayat 
ini menjadi indah sekali, Tuhan sanggup memenuhi segala sesuatu, namun engkau 
perlu belajar hidup berkecukupan. Bukan itu saja, engkau akan
 berlimpah di dalam kebajikan. Tanpa memiliki hati yang berkecukupan ini, maka 
prinsip untuk hidup menjadi berkat bagi orang lain menjadi tidak ada di dalam 
hidup kita. Itu sebab saya selalu mendefinisikan kata ‘cukup’ bukan kalau kita 
sudah mencapai satu standar tertentu sebab standar itu tidak akan pernah statis 
dan standar itu bersifat relatif pada setiap orang. Maka saya lebih setuju 
melihat cukup itu bukan berdasarkan apa yang saya bisa capai dan raih tetapi 
cukup itu ditandai dengan apa yang bisa keluar dari hidup seseorang. Kalau ada 
sesuatu mengalir dari hidup saudara, itu berarti saudara cukup dan puas dengan 
apa yang kau punya sehingga itu bisa mengalir keluar dari hidupmu.
   
  Bukan Allah tidak sanggup mencukupkanmu. Dia memberi kasih karunia yang 
membuatmu bisa hidup berkecukupan, bahkan hidup berkelimpahan. Kelimpahan itu 
keluar dari kecukupan. Itu rahasianya. Kelimpahan tidak akan keluar kalau orang 
berpikir dia dapat yang banyak dulu baru berlimpah keluar. Kalau hatimu tidak 
dipenuhi dengan hati yang puas, you tidak akan pernah merasa cukup. Kelimpahan 
mengalir dari kecukupan. Jadilah seorang Kristen yang setia dan jadilah seorang 
Kristen yang berbuah. Hidup sebagai orang Kristen yang faithful dan hidup 
sebagai orang Kristen yang fruitful. (kz)
   
   
   
  Sumber:
  
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/09/14/the-act-of-grace-faithful-and-fruitful/
   
  Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio
   


""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di 
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." 
(1Sam. 16:7b)

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke