From: Julhan Hutabarat 

Faith Inspiring

Pernah ada seseorang yang tak punya makanan apapun untuk keluarganya. Ia masih
punya bedil tua dan tiga butir peluru. Jadi, ia putuskan untuk keluar dan 
menembak sesuatu untuk makan malam. Saat menelusuri jalan, ia melihat seekor 
kelinci dan ia tembak kelinci itu tapi luput. Lalu ia melihat seekor bajing, 
dia tembak tapi juga luput lagi. Ketika ia jalan lebih jauh lagi, dilihatnya 
seekor kalkun liar diatas pohon dan ia hanya punya sisa sebutir pelor, tapi 
terdengar olehnya suatu suara yang berkata begini "berdoalah dulu, bidik keatas 
dan tinggElohim tetap terfokus." Namun, pada saat bersamaan, ia melihat seekor 
rusa yang adalah lebih menguntungkan. Senapannya ia turunkan dan dibidiknya 
rusa itu. Tapi lantas ia melihat ada ular berbisa diantara
kakinya, siap-siap untuk mematuknya, jadi dia turunkan lebih kebawah lagi, 
mengarah untuk menembak ular itu. Tetap, suara itu masih berkata kepadanya, 
"Aku bilang 'berdoalah dulu, bidik keatas dan tinggElohim tetap terfokus.'"
Jadi orang itu memutuskan untuk menuruti suara itu. Ia berdoa, lalu mengarahkan 
senapan itu tinggi keatas pohon, membidik dan menembak kalkun liar itu. Peluru 
itu mental dari kalkun itu dan mematikan rusa. Pegangan senapan tua itu lepas, 
jatuh menimpa kepala si ular itu dan membunuhnya sekali. Dan, ketika senapan 
itu meletus, ia sendiri terpental kedalam kolam.
Saat ia berdiri untuk melihat sekelilingnya, ia dapatkan banyak ikan didalam 
semua kantungnya, seekor rusa, dan, seekor kalkun untuk bekal makanannya.
Ular (Iblis) mati konyol sebab orang itu mendengarkan suara Elohim.

- Berdoalah sebelum kau lakukan apapun, bidik dan arahkan keatas pada tujuanmu,
dan tinggElohim terpusat pada Elohim. Sebar luaskan ini agar ada seseorang lain 
yang bakal terberkati.

- Jangan kau dikecilhatikan oleh siapapun mengenai masa lampaumu. Masa lampau
itu memang tepatnya begitu - "sudah lewat, sudah lampau." Hidupilah setiap
hari sehari demi sehari. Dan ingatlah bahwa hanya Elohim yang tahu masa depan
kita dan bahwa Ia tidak akan membiarkanmu melewati daya tahanmu.

- Janganlah memandang pada sesamamu untuk meminta berkat melainkan lihat dan
bergantungkah pada Tuhan. Ia bisa membuka pintu2 bagimu yang cuma Ia saja
yang bisa lakukan. Pintu2 yang bukan kau masuki dengan menyelinap, melainkan
yang hanya Ia yang sudah persiapkan bagi dan demi kamu. Jadi, tunggulah,
tenanglah, sabarlah: dahulukan Elohim dan lain-lainnya akan nyusul dengan 
sendirinya.

Sumber : http://indonesia.heartnsouls.com
====================================================
From: rm_maryo 

"Kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan tetapi bagian dalammu 
penuh rampasan dan kejahatan."
(Gal 4:31b-5:6; Luk 11:37-41)

"Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk
makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan.
Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak
mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya:
"Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan
pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai
orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga
yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai
sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu" (Luk
11:37-41), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
. Gaya hidup formal atau liturgis rasanya marak di sana-sini, entah
dalam hidup beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Orang
lebih menekankan dan mengutamakan penampilan `phisik' daripada `hati'
alias `bersandiwara'. Berpakaian rapi, memakai jas dan dasi serta
minyak wangi yang harum sehingga nampak menarik dan menawan secara
phisik, tetapi sebenarnya ia adalah koruptor atau penjahat ; tampil
seksi dengan ornament yang aduhai serta pakaian bersih ternyata
pelacur, dst.. Ketika beribadat nampak khusuk dan penuh hormat melalui
doa dan nyanyian, tetapi begitu selesai ibadat langsung marah-marah
kepada orang lain. "Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya
semuanya akan menjadi bersih bagimu", demikian sabda Yesus yang harus
kita renungkan dan hayati. Marilah kita jujur dan transparant tentang
diri kita masing-masing dalam penampilan. "Jujur adalah sikap dan
perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata
apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk
kebenaran.Ini diwujudkan dalam perilaku yang tidak suka berbohong dan
berbuat curang serta rela berkorban untuk mempertahankan kebenaran.
Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan Tuhan dan diri
sendiri" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti
Luhur, Balai Pustaka - Jakarta 1997, hal 17). Kejujuran ini rasanya
baik sedini mungkin kita ajarkan atau binakan kepada anak-anak entah
di dalam keluarga atau sekolah, tentu saja pertama-tama dan terutama
dengan keteladanan orangtua atau para guru/pendidik. Di sekolah atau
perguruan tinggi hendaknya diberlakukan `dilarang menyontek baik dalam
ulangan maupun ujian'. Hemat saya aneka bentuk kebohongan atau
penampilan palsu atau sandiwara kehidupan dan korupsi terjadi antara
karena ketika dibiarkannya tindakan menyontek di sekolah-sekolah. 
. "Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang
kita harapkan. Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus
hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya
iman yang bekerja oleh kasih"(Gal 5:5-6), demikian kesaksian iman
Paulus. "Iman yang bekerja oleh kasih" itulah yang mempunyai arti,
nilai dan makna bagi hidup kita, bukan kekayaan, harta benda, pangkat,
kedudukan, jabatan atau kehormatan duniawi. "Jika iman itu tidak
disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati."(Yak
2:17), dan perbuatan itu adalah kasih. Masing-masing dari kita
diciptakan, dibesarkan dan dididik dalam dan oleh kasih, tanpa kasih
kita tidak dapat berada seperti sekarang ini. Kasih merupakan ajaran
yang pertama dan utama dari Yesus. Apa itu kasih? "Kasih itu sabar;
kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan
tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari
keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan
kesalahan orang lain.Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi
karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu,
mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (1Kor
13:4-7).. Kasih yang sering dilambangkan dengan cincin yang bulat
menunjukkan bahwa kita harus saling mengasihi secara total (dengan
segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap
kekuatan/tubuh) dan tanpa batas. Kasih tidak dapat dibatasi oleh SARA,
usia, pangkat, kedudukan dan jabatan. Kita semua dipanggil untuk
`bekerja oleh kasih' artinya dimanapun dan kapanpun serta dalam
kesibukan dan pelayanan apapun kita harus saling mengasihi. Dekati,
sikapi segala sesuatu dalam dan oleh kasih, jika anda mendambakan
hidup bahagia, damai sejahtera, selamat lahir dan batin. Apapun dan
siapapun yang disikapi dan diperlakukan dalam kasih akan sungguh
berarti, bermakna dan bernilai bagi kehidupan kita. 

"Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab
aku berharap kepada hukum-hukum-Mu. Aku hendak berpegang pada
Taurat-Mu senantiasa, untuk seterusnya dan selamanya. Aku hendak hidup
dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu. Aku hendak bergemar
dalam perintah-perintah-Mu yang kucintai itu. Aku menaikkan tanganku
kepada perintah-perintah-Mu yang kucintai, dan aku hendak merenungkan
ketetapan-ketetapan-Mu "(Mzm 119:43-45.47-48) 
===================================================
From: rm_maryo 

"Kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun"
(Gal 5:18-25; Luk 11:42-46)

"Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar
persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu
mengabaikan keadilan dan kasih Elohim. Yang satu harus dilakukan dan
yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi,
sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka
menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama
seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di
atasnya, tidak mengetahuinya." Seorang dari antara ahli-ahli Taurat
itu menjawab dan berkata kepada-Nya: "Guru, dengan berkata demikian,
Engkau menghina kami juga." Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga,
hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak
terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu
dengan satu jari pun" (Luk 11:42-46), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Teresia,
perawan dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
. Teresia di masa remajanya adalah seorang gadis cantik dan mempesona.
Orangtuanya khawatir akan kecantikannya, jangan-jangan ia mudah jatuh
ke dosa serta menjadi korban nafsu seksual dari pemuda-pemuda yang tak
bermoral, maka Teresia dititipkan di asrama putri yang dikelola oleh
para suster. Tentu saja terjadi gejolak dan perubahan selama tinggal
di asrama: ia merasa menderita dan akhirnya jatuh sakit. Namun dalam
penderitaan dan sakitnya ia merasa disentuh oleh Elohim, yang
memanggilnya untuk menjadi suster/biarawati. Ia meninggalkan kemilauan
duniawi serta tekun berdoa atau bersamadi. Ia memperbaharui gerakan
Karmel agar kembali ke semangat semula/asli, dan untuk itu harus
menghadapi banyak tantangan. Mungkin mereka yang menjadi pengikut
gerakan Karmel mengalami kemerosotan sebagaimana disabdakan oleh Yesus
kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat :"menghayati aturan
dengan mengabaikan keadilan dan kasih Elohim atau menasihati orang
lain, sementara itu mereka tidak menghayati apa yang mereka katakan
alias munafik". Teresia sebagai `perawan dan pujangga Gereja' dengan
mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan telah berhasil
memperbaharui semangat atau spiritualitas hidup, yang telah luntur
atau hancur karena gaya hidup liturgis atau formal/yuridis serta
munafik. Marilah kita dengan rendah hati dan bantuan rahmat Elohim
berusaha untuk setia dan konsekwen atas apa yang telah kita janjikan
atau ucapkan, lebih-lebih dalam hal `keadilan dan kasih Elohim'.
Keadilan dan kasih rasanya bagaikan mata uang bermuka dua, dapat
dibedakan namun tak dapat dipisahkan: berbuat adil berarti mengasihi,
mengasihi berarti berbuat adil, semakin berbuat adil berarti semakin
mengasihi, semakin mengasihi berarti semakin berbuat adil. Marilah
kita jauhkan dan berantas aneka gaya hidup liturgis atau
formal/yiridis melulu serta kemunafikan; marilah setia pada panggilan,
tugas perutusan dan pekerjaan kita masing-masing.
. "Jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak
hidup di bawah hukum Taurat .Buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai
sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri" (Gal 5:18.22-23), demikian peringatan Paulus kepada
umat di Galatia, kepada kita orang beriman. Ada Roh dan daging, dapat
dibedakan namun tak dapat dipisahkan sehingga menjadi `tubuh', daging
yang dijiwai atau dihidupi oleh Roh. Kita semua dipanggil untuk
memfungsikan anggota-anggota tubuh kita sedemikian rupa sehingga
menghasilkan keutamaan-keutamaan `kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan
diri'. Maka marilah kita kuasai anggota-anggota tubuh kita, bukan
menjadi hamba anggota tubuh, untuk menghayati dan menyebarluaskan
keutamaan-keutamaan tersebut. Jauhkan dan berantas aneka bentuk
komersialisasi anggota tubuh demi pemuasan atau kenikmatan duniawi
belaka atau kepentingan materialistis, seperti pelacuran atau
mensejajarkan manusia sama dengan alat-alat produksi/mesin, dst.. ,
sehingga lahir dan menyebarlah kebejatan moral seperti " percabulan,
kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan,
perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan,
roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya" (Gal
5:19-21) Marilah kita dengarkan dan tanggapi secara positif alias
kita hayati bisikan atau sentuhan dari Roh, ajakan-ajakan untuk
berbuat baik kapanpun dan dimanapun, sehingga kita semakin cerdas
secara spiritual. Keutamaan-keutamaan di atas hendaknya dibiasakan dan
dididikkan sedini mungkin kepada anak-anak, antara lain dengan
kesaksian atau keteladanan dari para orangtua atau orang-orang dewasa. 

"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam
kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan
yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang
ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya,
dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin."(Mzm 
1:1-4) 

Kirim email ke