From: Lusi 

Bersepeda bersama Jesus
        


            Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang 
hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku 
akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. 
Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui 
gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya. 


            Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. 

            Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi 
sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, 
membantu aku mengayuh pedal sepeda.


            Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi 
sejak itu hidupku jadi berubah. 

            Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. 

            Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi . biasanya, hal 
itu tak berlangsung lama. 

            Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang 
panjang dan menyenangkan. 

            Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang 
terjal dengan kecepatan yang menegangkan. 

            Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku 
sepenuhnya pada-Nya! 

            Terkadang rasanya seperti sesuatu yang 'gila', tetapi Ia berkata, 
"Ayo, kayuh terus pedalnya!"


            Aku takut, khawatir dan bertanya, "Aku mau dibawa ke mana?" 

            Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. 

            Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu 
petualangan baru yang mencengangkan. 

            Dan ketika aku berkata, "Aku takut!" Yesus menurunkan kecepatan, 
mengayuh santai sambil menggenggam tanganku. 


            Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang 
aku perlukan . 

            orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan 
memberiku sukacita. 

            Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk 
melanjutkan perjalanan . perjalananku bersama Tuhanku. 

            Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.


            Kemudian, Yesus berkata, "Berikan hadiah-hadiah itu kepada 
orang-orang yang membutuhkannya; jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi 
beban bagi kita." 

            Maka, aku pun melakukannya. 

            Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami 
jumpai, sesuai kebutuhan mereka. 

            Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang 
membahagiakan.


            Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya 
kepadaNya. 

            Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu 
rahasia mengayuh sepeda. 

            Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana 
melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat 
melewati tempat-tempat yang menakutkan. 

            Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh . menikmati 
pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama 
perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus.


            Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, 

            Yesus akan tersenyum dan berkata . 

            "Mengayuhlah terus, Aku bersamamu."

            sumber : Thoughts for the day, 19 Feb 2003 by Chuck Ebbs
           

     
     

<<image0011.jpg>>

<<image0032.gif>>

<<endless_sky2.jpg>>

Kirim email ke