From: Ronny Simatupang 

KEBENARAN YANG MEMBEBASKAN (Yohanes 8:30-36)  
oleh: Ronny 
 
Kehausan akan Kebenaran  
Aku ajarkan kepadamu: jadilah manusia agung. Pernah dosa yang terbesar adalah 
dosa melawan Tuhan; tetapi Tuhan sudah mati, dan bersama dia matilah pula 
pendosa-pendosa ini (Nietzsche) 
 
Mengapa manusia memerlukan kebenaran? Ketika Nietzsche mendeklarasikan kematian 
Tuhan lewat karyanya yang mengguncang ”thus spoke zarathustra”, ia tidak 
menegasikan hasrat manusia akan meaning atau kebenaran dalam hidupnya. 
Nietzsche ”membuang” Tuhan tetapi ia harus menggantikannya dengan filsafat 
Yunani dan pencarian akan pengganti Tuhan yaitu ”overman” yang berakhir pada 
kegilaan. Ketika peristiwa World Trade Centre - 911 terjadi, orang Amerika 
bertanya ”Di mana-kah Tuhan?”. Namun seharusnya orang-orang yang setia pada 
Tuhan dapat balik bertanya: ”Mengapa kamu orang Amerika mencari Tuhan? Bukankah 
kalian telah mengusir Tuhan dari ruang publik maupun ruang privat. Dari 
gedung-gedung pemerintahan, bisnis, universitas, komunitas dan bahkan rumah 
tangga dan menggantikannya dengan humanisme sekuler?” 
 
Walau manusia menolak Tuhan, namun manusia tidak dapat mengingkari kerinduan 
untuk dipuaskan dengan kebenaran, dengan meaning dalam hidupnya. Manusia tidak 
dapat bebas dari kebutuhan akan suatu arti dan jawaban. Dan dengan arti dan 
jawaban itu manusia berharap dapat bebas. Aristoteles menyatakan dengan tepat: 
”Semua manusia menurut naturnya berhasrat untuk mengetahui”. Dalam konteks 
budaya saat ia menyatakan kalimat ini, memiliki arti bahwa: ”Semua manusia 
menurut naturnya berhasrat untuk mengetahui kebenaran”. John Calvin dalam 
Institutes of the Christian Religion menyatakan:”…Kita melihat bahwa telah 
ditanamkan di dalam akal budi manusia suatu hasrat khusus untuk meneliti 
kebenaran, dan akal budi tidak mungkin akan mencari kebenaran jika sebelumnya 
hasrat akan kebenaran itu tidak ada”. 
 
Hasrat kebenaran, menurut orang-orang theistis (yang beriman pada Elohim yang 
berpribadi), telah ditanamkan sang pencipta yaitu Elohim kepada satu-satunya 
mahluk ciptaan yang bernama manusia. Sehingga hanya manusia mahluk ciptaan yang 
memiliki hasrat kebenaran (Roma 1: 18). Sebaliknya orang-orang non theistis, 
memiliki beragam pendapat mengenai hasrat manusia akan kebenaran menurut versi 
mereka masing-masing. Misalnya kaum eksistensialis atheis menyatakan bahwa 
etika dibangun atas nilai kebenaran pribadi masing-masing, di mana setiap 
individu manusia harus menjadi otentik yaitu menjadi dirinya sendiri, hidup 
dengan nilai-nilainya dan membangun suatu dasar etika atas nilai pribadinya. 
Konsekwensinya akan ada kebenaran dan etika sebanyak jumlah manusia sehingga 
kebenaran dan etika akan menjadi relatif (dan mungkin saling berbenturan antar 
pribadi). 
 
Kebenaran adalah Elohim Tritunggal  
Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu 
tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan 
mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8:31-32) 
 
Namun apa sesungguhnya kebenaran itu? Alkitab menyatakan bahwa Kebenaran adalah 
Elohim sendiri. Ketika dosa belum menjadi bagian dari umat manusia, Adam dan 
Hawa bergaul akrab dengan Elohim dan mereka tidak mempertanyakan atau bingung 
akan kebenaran Elohim. Perintah Elohim adalah kebenaran bagi mereka dan mereka 
taat padaNya. Pada Injil Yohanes, ketika Yesus berkata bahwa: ”Akulah Jalan dan 
Kebenaran dan Hidup...”, maka Yesus tidak berbicara akan konsep abstrak 
melangit mengenai kebenaran, melainkan Ia berbicara mengenai Kebenaran yang 
adalah Pribadi. Yaitu pribadi Elohim Tritunggal yang memiliki tiga pribadi 
namun beresensi satu yaitu Elohim. Dan Elohim Tritunggal inilah yang 
menciptakan manusia berdasar peta teladanNya, sehingga manusia dapat mengenal 
(kebenaran) Elohim. Namun karena manusia jatuh dalam dosa (fall) maka manusia 
tersesat dalam mencari kebenaran. Telah ditanamkan nilai-nilai moral dalam hati 
nurani, tetapi manusia menindasnya (Roma 1:18). Manusia menyesatkan (dengan 
sengaja) dan disesatkan oleh Iblis dalam pencarian kebenaran sehingga manusia 
mencari dan merasa menemukannya dalam agama, filsafat, isme-isme, sampai kepada 
gaya hidup hedonisme yang memanjakan dan membuai. Akar masalahnya adalah dosa 
yang membuat manusia tidak dapat mengenal dan mencintai kebenaran. 
 
Sepanjang sejarah dan melalui Alkitab, Elohim telah menyatakan diriNya yang 
adalah Kebenaran yang sejati dan menyelesaikan bagi manusia, akar permasalahan 
yaitu dosa. Berita Injil yang sejati diringkaskan dengan baik oleh Rasul 
Paulus: ”sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang 
telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, 
sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah 
dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci (I Kor 15: 3 dan 
4); 
Ketika Tuhan Yesus berkata di kayu salib, ”Sudah selesai” (Yoh 19:30), 
sesungguhnya dosa manusia sudah ditebus, tirai bait Elohim sudah robek dan 
tidak ada lagi penghalang antara Elohim dengan manusia di dalam Yesus Kristus. 
Termasuk tirai penghalang manusia untuk mengenal dan mencintai kebenaran. 
Manusia dapat mengenal kebenaran Elohim melalui pimpinan Roh Kudus dengan 
belajar baik-baik Alkitab, menghargai warisan teologi yang telah dipelihara 
oleh para bapa Gereja, teolog-teolog dan guru-guru yang setia mengajarkan 
kebenaran. 
 
Manusia dalam dosa, tersesat dalam menentukan kebenaran yang akan 
dipercayainya. Maka ia akan lari kepada segala sesuatu yang dapat memuaskan 
dirinya di luar Elohim Tritunggal. Sebaliknya manusia dalam Kristus dapat 
mengenal kebenaran Elohim dan hidup sesuai dengan kehendak Elohim sehingga ia 
merdeka dari dosa. 
 
Mengenal Kebenaran yang Memerdekakan  
”Jika seseorang tidak menjadi apa yang dia pahami, dia tidak benar-benar 
memahami hal tersebut” (Sǿren Kierkegaard) 
 
Lantas bagaimana agar kita dapat mengenal kebenaran yang memerdekakan dari 
dosa? Yaitu dengan mengenal dan mempraktekkannya. Kebenaran Elohim bukanlah 
kebenaran yang hanya proposisional (kebenaran dalam bentuk pernyataan atau 
statement yang dapat diuji benar atau salahnya) tetapi juga personal. Kebenaran 
proposisional-pun bersumber dari kebenaran Personal yaitu diri Elohim sendiri 
sehingga bersifat mutlak dan dapat dipercaya. Sehingga kebenaran yang kita 
ketahui tidak boleh menjadi akumulasi fakta-fakta mati yang impersonal, di luar 
pribadi kita, melainkan harus memiliki unsur keterlibatan pribadi yang 
mendalam. 
 
Arthur F. Holmes dalam bukunya Segala Kebenaran adalah Kebenaran Elohim 
(Momentum, 2001) membeberkan bahwa penulis Alkitab dalam menuliskan kebenaran, 
tidak menggunakan kata episteme (sering digunakan filsuf Yunani, yaitu 
pengetahuan dengan bentuk kata benda maupun maknanya menunjuk kepada sesuatu 
yang abstrak, obyektif, dan konklusif), atau theoria (sesuatu yang teoretis, 
atau sikap seorang penonton terhadap kehidupan), tetapi menggunakan ginosko dan 
epiginosko, yaitu kata kerja yang lebih menekankan kepada tindakan manusia yang 
mengetahui, baik mendengar maupun melihat, atau mendapatkan keyakinan moral, 
atau mengenal orang lain, atau mengenal Elohim. Bentuk kata kerjanya bahkan 
digunakan dalam Septuaginta tentang hubungan suami istri yang intim: jelas 
seorang pria tidak ”mengenal” istrinya tanpa keterlibatan pribadi, secara 
teoretis, demikian juga pengetahuan kita akan kebenaran Elohim dan anugerahNya 
bukan sesuatu yang tanpa keterlibatan pribadi dan hanya sesuatu yang teoretis. 
Mengetahui adalah mengetahui bagi dirinya, di mana ia menata apa yang telah 
dipelajarinya itu dalam struktur hidupnya, mempraktekkannya, dan menjadikannya 
sebagai bagian dalam dirinya. Pengetahuan (kebenaran), sebagai sesuatu yang 
yang personal dan mengandung keterlibatan pribadi mengandung tanggung jawab: 
seseorang harus berusaha hidup menurut kebenaran yang ia ketahui, atau 
kebenaran itu akan menghakiminya. Dia harus ”melakukan kebenaran” yang dia 
ketahui (1 Yoh 1:6, 8; 2:4; 3:18-19). 
 
Hal ini sangat erat berkaitan dengan hasrat untuk mengenal kebenaran, 
sebagaimana yang diuraikan James W. Sire dalam Habits of the Mind (Momentum, 
2007). Ia menulis bahwa seseorang tidak akan pernah mengetahui kebenaran sampai 
orang tersebut mau melakukan kebenaran tersebut. Kita hanya mengetahui (atau 
mempercayai) apa yang kita lakukan (atau taati). Banyak dari orang Kristen yang 
mengetahui kebeneran firman, namun berapa yang benar-benar taat melakukannya, 
menurut Sire, orang tersebut belum mengetahui  (apalagi mempercayai) firman! 
Yakobus menyatakan, ”Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan 
hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yak 
1:22). 
 
Jadi untuk mengenal kebenaran yang memerdekakan adalah sangat sederhana: kita 
harus melakukan kebenaran! Sire menyatakan: ”Jika kita tidak bersikap seperti 
apa yang kita katakan kita percaya, atau tidak melakukan seperti apa yang kita 
ketahui, maka kita tidak mengetahui dan juga tidak percaya. Dan dengan 
demikian, jika kita tidak percaya, kita terkurung dalam teka-teki eksistensial 
yang lain:”Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa 
tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam 
nama Anak Tunggal Elohim (Yoh 3: 18). 
 
Mengenal kebenaran berarti percaya dan berarti melakukan kebenaran. Dengan 
melakukan kebenaran, maka anugerah Elohim bagi kita adalah kita makin mengenal 
kebenaran berarti kita makin percaya dan makin taat melakukan kebenaran. Kita 
sesungguhnya tidak mengenal kebenaran jika kita tidak melakukannya! 
=============================================
From: Mundhi Sabda H. Lesminingtyas

Tak Ringan Salibku
Oleh : Mundhi Sabda H. Lesminingtyas

Ini adalah yang ke 5 kalinya saya menyambut Jumat Agung hanya bersama 
anak-anak. Menjelang Natal  2001 suami saya meninggalkan Tuhan, menelantarkan 
saya dan ketiga anak kami demi kehidupan baru bersama anak dan istrinya yang 
baru. Sejak saat itulah, saya berjuang, mencoba merasakan luka-luka dan 
pengorbanan Tuhan Yesus untuk membalut luka hati saya dan anak-anak. 

Tidak mudah bagi saya menjalani kegagalan hidup berumah tangga. Terlebih pada 
awal-awal kepergian suami dari rumah. Rasa kecewa, marah, malu, terhina, 
cemburu, dan putus asa bercampur aduk jadi satu. Belum lagi saya harus 
menghadapi Dika (waktu itu masih berumur 9 tahun) yang menyimpan dendam dan 
kebencian teramat dalam kepada ayahnya. Sementara untuk membesarkan adik-adik 
Dika yang masih batita (bawah 3 tahun) juga tidak mudah. 

Waktu itu masyarakat di sekitar tempat tinggal kami tak henti-hentinya 
menggunjing dan mentertawakan saya. Rasanya tidak adil, keputusan suami yang 
meninggalkan Tuhan dan keluarganya justru mereka dukung dengan dalih beribadah 
"ala mereka". Sementara saya yang bertahan menghidupi ketiga anak dengan tetap 
memegang norma agama, hukum, dan etika moral disudutkan sebagai terdakwa yang 
tidak becus mengurus rumah tangga. 

Ketika masyarakat sekitar tak lagi memberi rasa nyaman, saya bermaksud mendekat 
kepada Tuhan. Sayapun mulai mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan rohani. 
Semula saya berpikir, orang-orang rohani yang saya jumpai akan membalut luka 
hati saya. Namun kenyataannya sangat berbeda. Di sanalah saya justru 
mendapatkan penghakiman yang menyakitkan. Mereka tidak mau tahu bagaimana 
perasaan saya dan anak-anak yang mengalami trauma berkepanjangan. 

Mereka justru menghujam saya dengan Firman Tuhan. "Kamu berdosa karena firman 
Tuhan berkata 'Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia" 
itulah kalimat standar yang selalu saya dengar dari mulut mereka. Mereka dengan 
enaknya memvonis saya telah melanggar firman Tuhan, tanpa mau bertanya apakah 
saya juga menginginkan perceraian. Kalau saya boleh memilih, tentu saya akan 
memilih sebagai istri yang dilindungi suami, dari pada harus menyandang status 
yang dimarginalkan, yaitu janda. 

Sayang sekali, orang-orang rohani itu hanya berbicara di awang-awang sambil 
terus menghitung dosa saya. Namun ketika saya tanyakan tip-tip praktis 
bagaimana "membawa pulang" suami yang tidak lagi mengakui Tuhan Yesus, mereka 
hanya bungkam seribu bahasa. Kalaupun bersuara, mereka hanya memberikan 
ayat-ayat suci atau berteori muluk-muluk. 

Kadang-kadang saya lelah mendengarkan khotbah dan petuah dari orang-orang 
rohani yang tidak mau melihat saya dalam konteks kehidupan yang utuh. Mereka 
hanya melihat saya sepotong demi sepotong. Mereka hanya melihat dan menuduh 
saya sebagai istri yang tidak becus sehingga suami lari meninggalkan Tuhan dan 
keluarga. Mereka tidak mau melihat perjuangan saya membesarkan ketiga anak saya 
dalam keadaan yang sangat sulit. Mereka tidak bisa merasakan betapa sulitnya 
membalut luka hati saya sendiri sekaligus luka hati anak-anak. Semakin banyak 
orang yang menghakimi saya dengan berkata "Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak 
boleh diceraikan manusia", saya semakin merasa jauh dengan Tuhan. Saya sama 
sekali tidak tertarik untuk mendengar ayat yang sebenarnya telah saya hafal di 
luar kepala dan sering saya gunakan untuk memohon supaya suami tidak meningg 
alkan kami. Saya benar-benar alergi dengan ayat tersebut. Saya bahkan merasa 
muak melihat kitab suci yang namanya Injil. 

Jumat Agung tahun 2002 saya benar-benar muak. Saya malas sekali pergi ke 
gereja. Pasalnya, setiap ke gereja, saya harus berbohong. Biasanya di depan 
pintu masuk gereja majelis yang tidak tahu masalah saya sering menyalami sambil 
bertanya "Mana papanya? Kok cuma sama anak-anak?" Untuk menyelamatkan muka, 
biasanya saya hanya menjawab "Sedang ke luar kota". Hati kecil saya memohon 
pengampunan Tuhan karena telah berbohong. Namun "hati licik" saya berkata "Kamu 
tidak bohong-bohong amat! Toh suamimu memang tinggal bersama anak dan istri 
barunya di luar kotamadya Bogor". Saya memang sering mempermainkan kata untuk 
menutupi keberadaan suami yang tinggal tak jauh dari rumah namun secara 
administratif masuk wilayah Kabupaten Bogor. 

Merasa lelah berbohong, saya ingin sekali menjauh dari persekutuan, hati kecil 
saya berkata "Coba sekali lagi datang ke gereja !" Puji Tuhan, waktu itu 
kebaktian dipimpin oleh pendeta yang setia melayani saya di ruang konseling 
pastoral sejak badai menerpa rumah tangga kami. Sebenarnya dua orang pendeta di 
gereja telah mengupayakan mediasi, namun suami merasa tidak perlu berurusan 
lagi dengan Tuhan Yesus dan gerejaNya, apalagi hanya dengan pendeta yang 
dipandangnya sebagai manusia biasa. Dengan memahami apa yang terjadi dalam 
kehidupan keluarga kami, pendeta itu bisa menerima saya apa adanya. Bahkan 
ketika saya minta untuk digembalakan secara khusus, pendeta itu menolak karena 
banyak hal yang terjadi bukan karena kesalahan atau kelalaian saya. Menurutnya 
apa yang saya lakukan tidak melanggar tata gereja. Kalaupun ada penggembalaan 
khusus, seharusnya suami saya yang harus menjalan inya. 

Satu hal yang dilakukan pendeta yang membuat saya merasa berharga. Ketika 
menyalami ratusan jemaat di akhir kebaktian, pendeta itu menyempatkan diri 
menatap mata saya dalam-dalam seolah ingin tahu apakah keadaan saya baik-baik 
saja. Saya yang semula sudah berniat undur diri dari kumpulan orang-orang kudus 
di gereja, merasa seperti maling yang hampir tertangkap. Saya hanya menunduk, 
takut ketahuan bahwa saya tidak nyaman berada di tengah-tengah orang kudus. 
Sedetik kemudian hati saya tersentuh dengan sapaan hangat pendeta itu 
"Bagaimana kabarnya Mbak Ning? Apakah anak-anak sehat?". Kontan hati saya 
berkata "O..ternyata nama saya masih disebut ! Ternyata saya dan anak-anak 
masih penting !"

Sapaan pribadi dari pendeta pagi itu telah menyelamaatkan keputusan saya!  Saya 
menjadi malu dengan niat saya untuk "ngambek" meninggalkan Tuhan, sedangkan 
Tuhan sendiri tetap menganggap saya penting. Dengan malu-malu saya kembali 
membeli kitab Injil di bagian kolportase gereja untuk mengganti kitab yang 
sudah terlanjur saya buang. Pendek kata, sejak saat itu saya mencoba memilah 
mana perkataan Tuhan yang membalut luka dan mana perkataan manusia yang semakin 
mengoyak luka batin saya. 

Menjelang paskah tahun 2006 ini, berat sekali beban saya. Dika yang mulai masuk 
usia remaja memerlukan perhatian ekstra. Keinginan saya untuk memfasilitasi 
Dika supaya bisa menikmati masa remajanya tanpa terseret arus dunia tentu 
merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Belum lagi Dika yang sempat kehilangan 
rasa percaya diri akibat perasaan tertolak dan dicampakkan oleh ayahnya, 
memerlukan kesabaran ekstra dan bukti nyata bahwa saya menerima dan mengasihi 
dia apa adanya. 

Anak kedua; Vika, yang masih duduk di TK kecil bukanlah anak yang mudah. Ia 
terlalu sensitif. Kalau saya sedang memperhatikan kakak dan adiknya, Vika 
sering ngambek karena merasa tidak diperhatikan. Si bungsu Mika juga memerlukan 
perhatian khusus. Saya tidak pernah bisa memberikan jawaban yang tepat setiap 
Mika menanyakan siapa ayahnya. Belum lagi kalau Mika bertanya mengapa begitu 
banyak orang yang baik kepadanya, tetapi tidak ada satupun yang bisa dipanggil 
ayah.  Untuk menutup mulut Mika, tak jarang saya membayar dengan kemanjaan. 
Alhasil, Mika menjadi agak manja dan cengeng. Kecengengan Vika dan Mika 
seringkali menggoda Dika untuk mengganggunya. 

Dika,Vika dan Mika memang sering terlihat rukun, namun tak jarang juga mereka 
berantem ataupun berebut perhatian. Kalau saja bisa diatur, saya ingin membagi 
waktu dan membuat jadwal kapan saya harus melayani anak satu per satu. Namun 
dalam kenyataannya mereka lebih sering berebut dan minta perhatian dalam waktu 
yang sama. Anak-anak juga tidak tahu betapa berat saya mencari uang untuk 
mereka. Ketika saya lelah setelah seharian bekerja, anak-anak tetap menyambut 
saya dengan persoalaan mereka masing-masing. 

Sayapun tidak bisa menanggapinya sambil lalu karena kami terbiasa berkomunikasi 
dengan menatap mata (eye contact). Sekali saja saya meleng tidak mengarahkan 
pandangan mata ke mata mereka, anak-anak berusaha merubah posisi kepala saya. 
Repotnya kalau mereka sedang berebut, kepala saya juga diperebutkan. Tak jarang 
Dika menggerakkan wajah saya ke kanan, sedangkan adiknya menggerakkan kepala ke 
kiri. 

Masalah biaya pendidikan dan kesehatan anak-anak juga menjadi PR besar bagi 
saya. Tahun ajaran yang akan datang Mika membutuhkan biaya untuk masuk TK 
kecil. Tahun depannya Vika harus masu SD. Tahun berikutnya Dika membutuhkan 
biaya yang besar untuk masuk SMU. Saya sering bertanya dalam hati "Kapan saya 
bisa istirahat, tidak harus ngoyo mencari uang buat anak-anak?". 

Sebagai manusia, saya kadang berharap supaya Dika, Vika dan Mika diingat oleh 
ayahnya. Namun harapan saya itu terlalu tinggi. Walaupun suami tinggal tak jauh 
dari rumah, bukan berarti ia peduli dengan kehidupan anak-anaknya. Jangankan 
memberi bantuan keuangan, untuk menyapa darah dagingnyapun tidak pernah. Hati 
kecil saya sering berbisik kepada Tuhan "Tuhan, adilkah ini? Anak-anak ini 
hadir di dunia bukan karena kemauan saya saja, tetapi mengapa saya yang harus 
menanggungnya sendiri?" 

Jumat, 14 April 2006 saya membawa anak-anak ke gereja. Karena tidak ada Sekolah 
Minggu, saya menjadi lebih repot gara-gara harus mengurus anak-anak di ruang 
kebaktian. Dika tahu bahwa  perjamuan kudus merupakan "acara" saya sehingga ia 
mau menjagai dan menenangkan adiknya. Walaupun cukup terbantu oleh Dika, namun 
hati kecil saya kembali "iri" melihat pasangan suami istri yang menjaga anaknya 
bersama-sama. Rasanya beban suami istri itu dalam mengurus anak tidak terlalu 
berat karena ditanggung berdua. Konsentrasi sayapun mulai dibuyarkan dengan 
pertanyaan-pertanyaan "Tuhan, adilkah ini? 

Mengapa saya harus menanggung beban sendiri? Mengapa suami bisa seenaknya 
mencampakkan anak-anak, tetapi saya yang harus menanggung semua akibatnya? 
Mengapa suami bisa seenaknya meninggalkan trauma pada anak-anak, tetapi saya 
yang harus berjuang memulihkan hati mereka? Mengapa suami bisa enak-enakan 
menikmati dunia, tetapi saya yang harus menerima penghakiman dan divonis 
berdosa? Mengapa saya sudah melakukan kehendakMu untuk mengampuni dan 
memberkati suami, tetapi saya malah menanggung banyak kerugian? Tuhan, kalau 
boleh saya berkata jujur, ini sungguh-sungguh tidak adil !" 

Ketika pikiran saya mengembara tidak karuan, dari atas mimbar pendeta berseru 
"Tuhan Yesus rela menerima siksa dan kematian untuk menangung dosa kita. Ia 
rela menanggung derita bukan karena perbuatanNya, tetapi akibat dosa kita" 

Saya benar-benar tersentak. Nurani saya seolah mendengar suara Tuhan "Semua 
yang terjadi dalam hidupmu itulah salibmu, maka pikullah!" "Tuhan, salib saya 
terlalu berat !" saya mengeluh. "Salibmu memang tidak ringan, tapi coba 
lihatlah salib-Ku?" pikiran saya diajak mengingat sengrasa Kristus. 

Sebelum mengakhiri kebaktian, pendeta mengajak jemaat menyanyikan NKB No 83 : 
1-4 "Nun Di Bukit Yang Jauh" sbb : 

Nun di bukit yang jauh, tampak kayu salib; lambang kutuk nestapa, cela 
Salib itu tempat Tuhan Mahakudus menebus umat manusia

Refrein  :
Salib itu kujunjung penuh,hingga tiba saat ajalku
Salib itu kurangkul teguh dan mahkota kelak milikku

Meski salib itu dicela, dicerca, bagiku tiada taranya
Anak domba kudus masuk dunia gelap disalib kar'na dosa dunia 

Refrein  :
Salib itu kujunjung penuh,hingga tiba saat ajalku
Salib itu kurangkul teguh dan mahkota kelak milikku

Indahnya bagiku salib hina keji, berlumuran darahNya kudus 
Hilanglah dosaku, sucilah hatiku berkat kurban Yesus Penebus 

Refrein  :
Salib itu kujunjung penuh,hingga tiba saat ajalku
Salib itu kurangkul teguh dan mahkota kelak milikku

'Ku setia tetap ikut jalan salib,meski dirku pun dicela
Suatu saat kelak 'ku dibawa pergi ke tempat kemuliaanNya

Refrein  :
Salib itu kujunjung penuh, hingga tiba saat ajalku
Salib itu kurangkul teguh dan mahkota kelak milikku

Setiap menyanyikan bagian refrein, saya tak kuasa menahan air mata seraya 
berkata "Tuhan, walau salib ini sungguh berat, tapi saya mau merengkuhnya demi 
mahkota dari-Mu" 

Setibanya di rumah, saya menemani anak-anak makan siang di meja makan. Siang 
itu Dika yang menggoreng lauk untuk kami. Kadang-kadang saya merasa kasihan 
karena banyak anak seumuran  Dika yang masih dilayani, tetapi karena keadaan 
saya melatih Dika untuk mengambil tanggung jawab untuk hal-hal yang bisa dia 
lakukan. Hati kecil saya pun diingatkan "Bukan hanya salibmu yang berat ! 
Anak-anakmu juga memanggul salib yang tak ringan !"

Begitu selesai makan, Mika langsung lari ke kamar karena ponsel saya berbunyi 
tanda ada SMS yang masuk. Beberapa detik kemudian Mika sudah kembali "Bu, SMS" 
katanya sambil menyerahkan ponsel. Ternyata Amangboru Walsinur Silalahi 
mengirim pesan singkat yang berbunyi "Kuyakin Tuhan memegangmu erat, 
malaikat-malaikat-Nya menjagamu ketat. Tak hanya membuatmu baik, tetapi supaya 
kau dapat yang terbaik. Selamat Jumat Agung" 

-- 
I believe in the sun even it's not shining
I believe in love even when not feeling it
I believe in G-d even when He is silent

"an inscription found on the wall of a cellar in Cologne where jews hide from 
the Nazis" 
=====================================================
From: Martin T 

Prop 8 in Plain English

Bagi mereka yang berdomisili di negara bagian California, silahkan saksikan 
tayangan video di bawah ini:

Prop 8 in Plain English

Informasi di video ini disampaikan dengan cara sederhana namun jelas tentang 
pemilihan yang akan diadakan bulan November ini berhubungan dengan legalisasi 
pernikahan sesama jenis (homoseks). Silahkan diteruskan kepada yang lain, 
terutama mereka yang dapat ikut memilih (voting). Terima kasih.

Kirim email ke