From: Ronny Simatupang KEBENARAN YANG MEMBEBASKAN (Yohanes 8:30-36) oleh: Ronny Kehausan akan Kebenaran Aku ajarkan kepadamu: jadilah manusia agung. Pernah dosa yang terbesar adalah dosa melawan Tuhan; tetapi Tuhan sudah mati, dan bersama dia matilah pula pendosa-pendosa ini (Nietzsche) Mengapa manusia memerlukan kebenaran? Ketika Nietzsche mendeklarasikan kematian Tuhan lewat karyanya yang mengguncang ”thus spoke zarathustra”, ia tidak menegasikan hasrat manusia akan meaning atau kebenaran dalam hidupnya. Nietzsche ”membuang” Tuhan tetapi ia harus menggantikannya dengan filsafat Yunani dan pencarian akan pengganti Tuhan yaitu ”overman” yang berakhir pada kegilaan. Ketika peristiwa World Trade Centre - 911 terjadi, orang Amerika bertanya ”Di mana-kah Tuhan?”. Namun seharusnya orang-orang yang setia pada Tuhan dapat balik bertanya: ”Mengapa kamu orang Amerika mencari Tuhan? Bukankah kalian telah mengusir Tuhan dari ruang publik maupun ruang privat. Dari gedung-gedung pemerintahan, bisnis, universitas, komunitas dan bahkan rumah tangga dan menggantikannya dengan humanisme sekuler?” Walau manusia menolak Tuhan, namun manusia tidak dapat mengingkari kerinduan untuk dipuaskan dengan kebenaran, dengan meaning dalam hidupnya. Manusia tidak dapat bebas dari kebutuhan akan suatu arti dan jawaban. Dan dengan arti dan jawaban itu manusia berharap dapat bebas. Aristoteles menyatakan dengan tepat: ”Semua manusia menurut naturnya berhasrat untuk mengetahui”. Dalam konteks budaya saat ia menyatakan kalimat ini, memiliki arti bahwa: ”Semua manusia menurut naturnya berhasrat untuk mengetahui kebenaran”. John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menyatakan:”…Kita melihat bahwa telah ditanamkan di dalam akal budi manusia suatu hasrat khusus untuk meneliti kebenaran, dan akal budi tidak mungkin akan mencari kebenaran jika sebelumnya hasrat akan kebenaran itu tidak ada”. Hasrat kebenaran, menurut orang-orang theistis (yang beriman pada Elohim yang berpribadi), telah ditanamkan sang pencipta yaitu Elohim kepada satu-satunya mahluk ciptaan yang bernama manusia. Sehingga hanya manusia mahluk ciptaan yang memiliki hasrat kebenaran (Roma 1: 18). Sebaliknya orang-orang non theistis, memiliki beragam pendapat mengenai hasrat manusia akan kebenaran menurut versi mereka masing-masing. Misalnya kaum eksistensialis atheis menyatakan bahwa etika dibangun atas nilai kebenaran pribadi masing-masing, di mana setiap individu manusia harus menjadi otentik yaitu menjadi dirinya sendiri, hidup dengan nilai-nilainya dan membangun suatu dasar etika atas nilai pribadinya. Konsekwensinya akan ada kebenaran dan etika sebanyak jumlah manusia sehingga kebenaran dan etika akan menjadi relatif (dan mungkin saling berbenturan antar pribadi). Kebenaran adalah Elohim Tritunggal Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8:31-32) Namun apa sesungguhnya kebenaran itu? Alkitab menyatakan bahwa Kebenaran adalah Elohim sendiri. Ketika dosa belum menjadi bagian dari umat manusia, Adam dan Hawa bergaul akrab dengan Elohim dan mereka tidak mempertanyakan atau bingung akan kebenaran Elohim. Perintah Elohim adalah kebenaran bagi mereka dan mereka taat padaNya. Pada Injil Yohanes, ketika Yesus berkata bahwa: ”Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup...”, maka Yesus tidak berbicara akan konsep abstrak melangit mengenai kebenaran, melainkan Ia berbicara mengenai Kebenaran yang adalah Pribadi. Yaitu pribadi Elohim Tritunggal yang memiliki tiga pribadi namun beresensi satu yaitu Elohim. Dan Elohim Tritunggal inilah yang menciptakan manusia berdasar peta teladanNya, sehingga manusia dapat mengenal (kebenaran) Elohim. Namun karena manusia jatuh dalam dosa (fall) maka manusia tersesat dalam mencari kebenaran. Telah ditanamkan nilai-nilai moral dalam hati nurani, tetapi manusia menindasnya (Roma 1:18). Manusia menyesatkan (dengan sengaja) dan disesatkan oleh Iblis dalam pencarian kebenaran sehingga manusia mencari dan merasa menemukannya dalam agama, filsafat, isme-isme, sampai kepada gaya hidup hedonisme yang memanjakan dan membuai. Akar masalahnya adalah dosa yang membuat manusia tidak dapat mengenal dan mencintai kebenaran. Sepanjang sejarah dan melalui Alkitab, Elohim telah menyatakan diriNya yang adalah Kebenaran yang sejati dan menyelesaikan bagi manusia, akar permasalahan yaitu dosa. Berita Injil yang sejati diringkaskan dengan baik oleh Rasul Paulus: ”sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci (I Kor 15: 3 dan 4); Ketika Tuhan Yesus berkata di kayu salib, ”Sudah selesai” (Yoh 19:30), sesungguhnya dosa manusia sudah ditebus, tirai bait Elohim sudah robek dan tidak ada lagi penghalang antara Elohim dengan manusia di dalam Yesus Kristus. Termasuk tirai penghalang manusia untuk mengenal dan mencintai kebenaran. Manusia dapat mengenal kebenaran Elohim melalui pimpinan Roh Kudus dengan belajar baik-baik Alkitab, menghargai warisan teologi yang telah dipelihara oleh para bapa Gereja, teolog-teolog dan guru-guru yang setia mengajarkan kebenaran. Manusia dalam dosa, tersesat dalam menentukan kebenaran yang akan dipercayainya. Maka ia akan lari kepada segala sesuatu yang dapat memuaskan dirinya di luar Elohim Tritunggal. Sebaliknya manusia dalam Kristus dapat mengenal kebenaran Elohim dan hidup sesuai dengan kehendak Elohim sehingga ia merdeka dari dosa. Mengenal Kebenaran yang Memerdekakan ”Jika seseorang tidak menjadi apa yang dia pahami, dia tidak benar-benar memahami hal tersebut” (Sǿren Kierkegaard) Lantas bagaimana agar kita dapat mengenal kebenaran yang memerdekakan dari dosa? Yaitu dengan mengenal dan mempraktekkannya. Kebenaran Elohim bukanlah kebenaran yang hanya proposisional (kebenaran dalam bentuk pernyataan atau statement yang dapat diuji benar atau salahnya) tetapi juga personal. Kebenaran proposisional-pun bersumber dari kebenaran Personal yaitu diri Elohim sendiri sehingga bersifat mutlak dan dapat dipercaya. Sehingga kebenaran yang kita ketahui tidak boleh menjadi akumulasi fakta-fakta mati yang impersonal, di luar pribadi kita, melainkan harus memiliki unsur keterlibatan pribadi yang mendalam. Arthur F. Holmes dalam bukunya Segala Kebenaran adalah Kebenaran Elohim (Momentum, 2001) membeberkan bahwa penulis Alkitab dalam menuliskan kebenaran, tidak menggunakan kata episteme (sering digunakan filsuf Yunani, yaitu pengetahuan dengan bentuk kata benda maupun maknanya menunjuk kepada sesuatu yang abstrak, obyektif, dan konklusif), atau theoria (sesuatu yang teoretis, atau sikap seorang penonton terhadap kehidupan), tetapi menggunakan ginosko dan epiginosko, yaitu kata kerja yang lebih menekankan kepada tindakan manusia yang mengetahui, baik mendengar maupun melihat, atau mendapatkan keyakinan moral, atau mengenal orang lain, atau mengenal Elohim. Bentuk kata kerjanya bahkan digunakan dalam Septuaginta tentang hubungan suami istri yang intim: jelas seorang pria tidak ”mengenal” istrinya tanpa keterlibatan pribadi, secara teoretis, demikian juga pengetahuan kita akan kebenaran Elohim dan anugerahNya bukan sesuatu yang tanpa keterlibatan pribadi dan hanya sesuatu yang teoretis. Mengetahui adalah mengetahui bagi dirinya, di mana ia menata apa yang telah dipelajarinya itu dalam struktur hidupnya, mempraktekkannya, dan menjadikannya sebagai bagian dalam dirinya. Pengetahuan (kebenaran), sebagai sesuatu yang yang personal dan mengandung keterlibatan pribadi mengandung tanggung jawab: seseorang harus berusaha hidup menurut kebenaran yang ia ketahui, atau kebenaran itu akan menghakiminya. Dia harus ”melakukan kebenaran” yang dia ketahui (1 Yoh 1:6, 8; 2:4; 3:18-19). Hal ini sangat erat berkaitan dengan hasrat untuk mengenal kebenaran, sebagaimana yang diuraikan James W. Sire dalam Habits of the Mind (Momentum, 2007). Ia menulis bahwa seseorang tidak akan pernah mengetahui kebenaran sampai orang tersebut mau melakukan kebenaran tersebut. Kita hanya mengetahui (atau mempercayai) apa yang kita lakukan (atau taati). Banyak dari orang Kristen yang mengetahui kebeneran firman, namun berapa yang benar-benar taat melakukannya, menurut Sire, orang tersebut belum mengetahui (apalagi mempercayai) firman! Yakobus menyatakan, ”Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yak 1:22). Jadi untuk mengenal kebenaran yang memerdekakan adalah sangat sederhana: kita harus melakukan kebenaran! Sire menyatakan: ”Jika kita tidak bersikap seperti apa yang kita katakan kita percaya, atau tidak melakukan seperti apa yang kita ketahui, maka kita tidak mengetahui dan juga tidak percaya. Dan dengan demikian, jika kita tidak percaya, kita terkurung dalam teka-teki eksistensial yang lain:”Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Elohim (Yoh 3: 18). Mengenal kebenaran berarti percaya dan berarti melakukan kebenaran. Dengan melakukan kebenaran, maka anugerah Elohim bagi kita adalah kita makin mengenal kebenaran berarti kita makin percaya dan makin taat melakukan kebenaran. Kita sesungguhnya tidak mengenal kebenaran jika kita tidak melakukannya! ============================================= From: Mundhi Sabda H. Lesminingtyas
Tak Ringan Salibku Oleh : Mundhi Sabda H. Lesminingtyas Ini adalah yang ke 5 kalinya saya menyambut Jumat Agung hanya bersama anak-anak. Menjelang Natal 2001 suami saya meninggalkan Tuhan, menelantarkan saya dan ketiga anak kami demi kehidupan baru bersama anak dan istrinya yang baru. Sejak saat itulah, saya berjuang, mencoba merasakan luka-luka dan pengorbanan Tuhan Yesus untuk membalut luka hati saya dan anak-anak. Tidak mudah bagi saya menjalani kegagalan hidup berumah tangga. Terlebih pada awal-awal kepergian suami dari rumah. Rasa kecewa, marah, malu, terhina, cemburu, dan putus asa bercampur aduk jadi satu. Belum lagi saya harus menghadapi Dika (waktu itu masih berumur 9 tahun) yang menyimpan dendam dan kebencian teramat dalam kepada ayahnya. Sementara untuk membesarkan adik-adik Dika yang masih batita (bawah 3 tahun) juga tidak mudah. Waktu itu masyarakat di sekitar tempat tinggal kami tak henti-hentinya menggunjing dan mentertawakan saya. Rasanya tidak adil, keputusan suami yang meninggalkan Tuhan dan keluarganya justru mereka dukung dengan dalih beribadah "ala mereka". Sementara saya yang bertahan menghidupi ketiga anak dengan tetap memegang norma agama, hukum, dan etika moral disudutkan sebagai terdakwa yang tidak becus mengurus rumah tangga. Ketika masyarakat sekitar tak lagi memberi rasa nyaman, saya bermaksud mendekat kepada Tuhan. Sayapun mulai mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan rohani. Semula saya berpikir, orang-orang rohani yang saya jumpai akan membalut luka hati saya. Namun kenyataannya sangat berbeda. Di sanalah saya justru mendapatkan penghakiman yang menyakitkan. Mereka tidak mau tahu bagaimana perasaan saya dan anak-anak yang mengalami trauma berkepanjangan. Mereka justru menghujam saya dengan Firman Tuhan. "Kamu berdosa karena firman Tuhan berkata 'Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia" itulah kalimat standar yang selalu saya dengar dari mulut mereka. Mereka dengan enaknya memvonis saya telah melanggar firman Tuhan, tanpa mau bertanya apakah saya juga menginginkan perceraian. Kalau saya boleh memilih, tentu saya akan memilih sebagai istri yang dilindungi suami, dari pada harus menyandang status yang dimarginalkan, yaitu janda. Sayang sekali, orang-orang rohani itu hanya berbicara di awang-awang sambil terus menghitung dosa saya. Namun ketika saya tanyakan tip-tip praktis bagaimana "membawa pulang" suami yang tidak lagi mengakui Tuhan Yesus, mereka hanya bungkam seribu bahasa. Kalaupun bersuara, mereka hanya memberikan ayat-ayat suci atau berteori muluk-muluk. Kadang-kadang saya lelah mendengarkan khotbah dan petuah dari orang-orang rohani yang tidak mau melihat saya dalam konteks kehidupan yang utuh. Mereka hanya melihat saya sepotong demi sepotong. Mereka hanya melihat dan menuduh saya sebagai istri yang tidak becus sehingga suami lari meninggalkan Tuhan dan keluarga. Mereka tidak mau melihat perjuangan saya membesarkan ketiga anak saya dalam keadaan yang sangat sulit. Mereka tidak bisa merasakan betapa sulitnya membalut luka hati saya sendiri sekaligus luka hati anak-anak. Semakin banyak orang yang menghakimi saya dengan berkata "Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia", saya semakin merasa jauh dengan Tuhan. Saya sama sekali tidak tertarik untuk mendengar ayat yang sebenarnya telah saya hafal di luar kepala dan sering saya gunakan untuk memohon supaya suami tidak meningg alkan kami. Saya benar-benar alergi dengan ayat tersebut. Saya bahkan merasa muak melihat kitab suci yang namanya Injil. Jumat Agung tahun 2002 saya benar-benar muak. Saya malas sekali pergi ke gereja. Pasalnya, setiap ke gereja, saya harus berbohong. Biasanya di depan pintu masuk gereja majelis yang tidak tahu masalah saya sering menyalami sambil bertanya "Mana papanya? Kok cuma sama anak-anak?" Untuk menyelamatkan muka, biasanya saya hanya menjawab "Sedang ke luar kota". Hati kecil saya memohon pengampunan Tuhan karena telah berbohong. Namun "hati licik" saya berkata "Kamu tidak bohong-bohong amat! Toh suamimu memang tinggal bersama anak dan istri barunya di luar kotamadya Bogor". Saya memang sering mempermainkan kata untuk menutupi keberadaan suami yang tinggal tak jauh dari rumah namun secara administratif masuk wilayah Kabupaten Bogor. Merasa lelah berbohong, saya ingin sekali menjauh dari persekutuan, hati kecil saya berkata "Coba sekali lagi datang ke gereja !" Puji Tuhan, waktu itu kebaktian dipimpin oleh pendeta yang setia melayani saya di ruang konseling pastoral sejak badai menerpa rumah tangga kami. Sebenarnya dua orang pendeta di gereja telah mengupayakan mediasi, namun suami merasa tidak perlu berurusan lagi dengan Tuhan Yesus dan gerejaNya, apalagi hanya dengan pendeta yang dipandangnya sebagai manusia biasa. Dengan memahami apa yang terjadi dalam kehidupan keluarga kami, pendeta itu bisa menerima saya apa adanya. Bahkan ketika saya minta untuk digembalakan secara khusus, pendeta itu menolak karena banyak hal yang terjadi bukan karena kesalahan atau kelalaian saya. Menurutnya apa yang saya lakukan tidak melanggar tata gereja. Kalaupun ada penggembalaan khusus, seharusnya suami saya yang harus menjalan inya. Satu hal yang dilakukan pendeta yang membuat saya merasa berharga. Ketika menyalami ratusan jemaat di akhir kebaktian, pendeta itu menyempatkan diri menatap mata saya dalam-dalam seolah ingin tahu apakah keadaan saya baik-baik saja. Saya yang semula sudah berniat undur diri dari kumpulan orang-orang kudus di gereja, merasa seperti maling yang hampir tertangkap. Saya hanya menunduk, takut ketahuan bahwa saya tidak nyaman berada di tengah-tengah orang kudus. Sedetik kemudian hati saya tersentuh dengan sapaan hangat pendeta itu "Bagaimana kabarnya Mbak Ning? Apakah anak-anak sehat?". Kontan hati saya berkata "O..ternyata nama saya masih disebut ! Ternyata saya dan anak-anak masih penting !" Sapaan pribadi dari pendeta pagi itu telah menyelamaatkan keputusan saya! Saya menjadi malu dengan niat saya untuk "ngambek" meninggalkan Tuhan, sedangkan Tuhan sendiri tetap menganggap saya penting. Dengan malu-malu saya kembali membeli kitab Injil di bagian kolportase gereja untuk mengganti kitab yang sudah terlanjur saya buang. Pendek kata, sejak saat itu saya mencoba memilah mana perkataan Tuhan yang membalut luka dan mana perkataan manusia yang semakin mengoyak luka batin saya. Menjelang paskah tahun 2006 ini, berat sekali beban saya. Dika yang mulai masuk usia remaja memerlukan perhatian ekstra. Keinginan saya untuk memfasilitasi Dika supaya bisa menikmati masa remajanya tanpa terseret arus dunia tentu merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Belum lagi Dika yang sempat kehilangan rasa percaya diri akibat perasaan tertolak dan dicampakkan oleh ayahnya, memerlukan kesabaran ekstra dan bukti nyata bahwa saya menerima dan mengasihi dia apa adanya. Anak kedua; Vika, yang masih duduk di TK kecil bukanlah anak yang mudah. Ia terlalu sensitif. Kalau saya sedang memperhatikan kakak dan adiknya, Vika sering ngambek karena merasa tidak diperhatikan. Si bungsu Mika juga memerlukan perhatian khusus. Saya tidak pernah bisa memberikan jawaban yang tepat setiap Mika menanyakan siapa ayahnya. Belum lagi kalau Mika bertanya mengapa begitu banyak orang yang baik kepadanya, tetapi tidak ada satupun yang bisa dipanggil ayah. Untuk menutup mulut Mika, tak jarang saya membayar dengan kemanjaan. Alhasil, Mika menjadi agak manja dan cengeng. Kecengengan Vika dan Mika seringkali menggoda Dika untuk mengganggunya. Dika,Vika dan Mika memang sering terlihat rukun, namun tak jarang juga mereka berantem ataupun berebut perhatian. Kalau saja bisa diatur, saya ingin membagi waktu dan membuat jadwal kapan saya harus melayani anak satu per satu. Namun dalam kenyataannya mereka lebih sering berebut dan minta perhatian dalam waktu yang sama. Anak-anak juga tidak tahu betapa berat saya mencari uang untuk mereka. Ketika saya lelah setelah seharian bekerja, anak-anak tetap menyambut saya dengan persoalaan mereka masing-masing. Sayapun tidak bisa menanggapinya sambil lalu karena kami terbiasa berkomunikasi dengan menatap mata (eye contact). Sekali saja saya meleng tidak mengarahkan pandangan mata ke mata mereka, anak-anak berusaha merubah posisi kepala saya. Repotnya kalau mereka sedang berebut, kepala saya juga diperebutkan. Tak jarang Dika menggerakkan wajah saya ke kanan, sedangkan adiknya menggerakkan kepala ke kiri. Masalah biaya pendidikan dan kesehatan anak-anak juga menjadi PR besar bagi saya. Tahun ajaran yang akan datang Mika membutuhkan biaya untuk masuk TK kecil. Tahun depannya Vika harus masu SD. Tahun berikutnya Dika membutuhkan biaya yang besar untuk masuk SMU. Saya sering bertanya dalam hati "Kapan saya bisa istirahat, tidak harus ngoyo mencari uang buat anak-anak?". Sebagai manusia, saya kadang berharap supaya Dika, Vika dan Mika diingat oleh ayahnya. Namun harapan saya itu terlalu tinggi. Walaupun suami tinggal tak jauh dari rumah, bukan berarti ia peduli dengan kehidupan anak-anaknya. Jangankan memberi bantuan keuangan, untuk menyapa darah dagingnyapun tidak pernah. Hati kecil saya sering berbisik kepada Tuhan "Tuhan, adilkah ini? Anak-anak ini hadir di dunia bukan karena kemauan saya saja, tetapi mengapa saya yang harus menanggungnya sendiri?" Jumat, 14 April 2006 saya membawa anak-anak ke gereja. Karena tidak ada Sekolah Minggu, saya menjadi lebih repot gara-gara harus mengurus anak-anak di ruang kebaktian. Dika tahu bahwa perjamuan kudus merupakan "acara" saya sehingga ia mau menjagai dan menenangkan adiknya. Walaupun cukup terbantu oleh Dika, namun hati kecil saya kembali "iri" melihat pasangan suami istri yang menjaga anaknya bersama-sama. Rasanya beban suami istri itu dalam mengurus anak tidak terlalu berat karena ditanggung berdua. Konsentrasi sayapun mulai dibuyarkan dengan pertanyaan-pertanyaan "Tuhan, adilkah ini? Mengapa saya harus menanggung beban sendiri? Mengapa suami bisa seenaknya mencampakkan anak-anak, tetapi saya yang harus menanggung semua akibatnya? Mengapa suami bisa seenaknya meninggalkan trauma pada anak-anak, tetapi saya yang harus berjuang memulihkan hati mereka? Mengapa suami bisa enak-enakan menikmati dunia, tetapi saya yang harus menerima penghakiman dan divonis berdosa? Mengapa saya sudah melakukan kehendakMu untuk mengampuni dan memberkati suami, tetapi saya malah menanggung banyak kerugian? Tuhan, kalau boleh saya berkata jujur, ini sungguh-sungguh tidak adil !" Ketika pikiran saya mengembara tidak karuan, dari atas mimbar pendeta berseru "Tuhan Yesus rela menerima siksa dan kematian untuk menangung dosa kita. Ia rela menanggung derita bukan karena perbuatanNya, tetapi akibat dosa kita" Saya benar-benar tersentak. Nurani saya seolah mendengar suara Tuhan "Semua yang terjadi dalam hidupmu itulah salibmu, maka pikullah!" "Tuhan, salib saya terlalu berat !" saya mengeluh. "Salibmu memang tidak ringan, tapi coba lihatlah salib-Ku?" pikiran saya diajak mengingat sengrasa Kristus. Sebelum mengakhiri kebaktian, pendeta mengajak jemaat menyanyikan NKB No 83 : 1-4 "Nun Di Bukit Yang Jauh" sbb : Nun di bukit yang jauh, tampak kayu salib; lambang kutuk nestapa, cela Salib itu tempat Tuhan Mahakudus menebus umat manusia Refrein : Salib itu kujunjung penuh,hingga tiba saat ajalku Salib itu kurangkul teguh dan mahkota kelak milikku Meski salib itu dicela, dicerca, bagiku tiada taranya Anak domba kudus masuk dunia gelap disalib kar'na dosa dunia Refrein : Salib itu kujunjung penuh,hingga tiba saat ajalku Salib itu kurangkul teguh dan mahkota kelak milikku Indahnya bagiku salib hina keji, berlumuran darahNya kudus Hilanglah dosaku, sucilah hatiku berkat kurban Yesus Penebus Refrein : Salib itu kujunjung penuh,hingga tiba saat ajalku Salib itu kurangkul teguh dan mahkota kelak milikku 'Ku setia tetap ikut jalan salib,meski dirku pun dicela Suatu saat kelak 'ku dibawa pergi ke tempat kemuliaanNya Refrein : Salib itu kujunjung penuh, hingga tiba saat ajalku Salib itu kurangkul teguh dan mahkota kelak milikku Setiap menyanyikan bagian refrein, saya tak kuasa menahan air mata seraya berkata "Tuhan, walau salib ini sungguh berat, tapi saya mau merengkuhnya demi mahkota dari-Mu" Setibanya di rumah, saya menemani anak-anak makan siang di meja makan. Siang itu Dika yang menggoreng lauk untuk kami. Kadang-kadang saya merasa kasihan karena banyak anak seumuran Dika yang masih dilayani, tetapi karena keadaan saya melatih Dika untuk mengambil tanggung jawab untuk hal-hal yang bisa dia lakukan. Hati kecil saya pun diingatkan "Bukan hanya salibmu yang berat ! Anak-anakmu juga memanggul salib yang tak ringan !" Begitu selesai makan, Mika langsung lari ke kamar karena ponsel saya berbunyi tanda ada SMS yang masuk. Beberapa detik kemudian Mika sudah kembali "Bu, SMS" katanya sambil menyerahkan ponsel. Ternyata Amangboru Walsinur Silalahi mengirim pesan singkat yang berbunyi "Kuyakin Tuhan memegangmu erat, malaikat-malaikat-Nya menjagamu ketat. Tak hanya membuatmu baik, tetapi supaya kau dapat yang terbaik. Selamat Jumat Agung" -- I believe in the sun even it's not shining I believe in love even when not feeling it I believe in G-d even when He is silent "an inscription found on the wall of a cellar in Cologne where jews hide from the Nazis" ===================================================== From: Martin T Prop 8 in Plain English Bagi mereka yang berdomisili di negara bagian California, silahkan saksikan tayangan video di bawah ini: Prop 8 in Plain English Informasi di video ini disampaikan dengan cara sederhana namun jelas tentang pemilihan yang akan diadakan bulan November ini berhubungan dengan legalisasi pernikahan sesama jenis (homoseks). Silahkan diteruskan kepada yang lain, terutama mereka yang dapat ikut memilih (voting). Terima kasih.

