From: Romo maryo 

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku  ia tidak dapat menjadi 
muridKu.” (Flp 2:12-18; Luk 14:25-33) 

“Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam 
perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang 
datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, 
anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki
atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi 
murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara 
tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk 
menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan 
tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, 
mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak 
sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang 
melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan 
sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua 
puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih 
jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap 
orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak 
dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:25-33), demikian kutipan Warta Gembira hari 
ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan ‘Pesta Semua Anggota SJ Yang 
Mulia Bersama Kristus’ hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana 
sebagai berikut:

·   Hidup terpanggil, entah hidup berkeluarga atau membujang/ tidak nikah, 
antara lain menjadi imam, bruder atau suster, merupakan bentuk tanggapan 
prositif atas panggilan Tuhan, dan bagi orang Kristen/ Katolik, yang beriman 
pada Yesus berarti ‘mengikuti
Yesus dalam perjalananNya” dan secara konkret berani memikul salib serta 
‘membenci orangtua, isteri/suami, anak-anak, saudara-saudari dan diri sendiri’ 
alias meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus serta menghayati 
sabda-sabda atau ajaran-ajaranNya di dalam hidup sehar-hari. Sebagai yang 
terpanggil kita diharapkan memiliki cara melihat, cara merasakan, cara 
berpikir, cara bersikap dan cara bertindak terhadap segala sesuatu sesuai 
dengan cara Yesus, bukan cara sendiri alias menurut selera pribadi (Jawa: sak 
penake wudhele dewe). 
“Memikul salib” antara lain berarti setia pada panggilan dan tugas perutusan 
yang telah
dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita. 
“Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian 
atas
perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman 
Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta  1997, hal 24). Maka marilah kita 
mawas diri
atas perjanjian-perjanjian yang telah kita buat atau kita ikhrarkan: janji 
baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji kepegawaian, janji pelajar, 
sumpah jabatan, dst.. Marilah kita kerahkan atau persembahkan seutuhnya diri 
kita maupun segala milik kita untuk menghayati atau melaksanakan janji-janji 
yang pernah kita buat atau ikhrarkan. Memang setia pada janji tidak akan pernah 
terlepas dari aneka macam bentuk perjuangan dan penderitaan sebagai konsewensi 
kesetiaan kita, sebagaimana telah dihayati oleh Yesus, Penyelamat Dunia, yang 
rela menderita dan wafat di kayu salib demi keselamatan dunia seisinya. 

·   “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan 
berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai 
anak-anak Elohim yang tidak bercela
di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga 
kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil 
berpegang pada firman kehidupan” (Flp 2:14-16a), demikian nasihat Paulus kepada 
umat di Filipi, kepada kita semua orang beriman, yang terpanggil. “Jangan 
bersungut-sungut dan berbantah-bantah” alias jangan mengeluh, menggerutu dalam 
menghayati atau melaksanakan panggilan dan tugas perutusan. Mengeluh dan 
menggerutu berarti berpikir negatif terhadap segala sesuatu, maka yang 
bersangkutan pasti tidak akan mampu menghayati dan melaksanakan panggilan dan 
tugas perutusan sebagaimana mestinya. Sebaliknya marilah kita senantiasa 
berpikir positif terhadap segala sesuatu, senantiasa melihat dan mengakui apa 
yang baik, mulia, indah dan luhur dalam segala sesuatu alias mengimani 
Penyelenggaraan Ilahi, karya Tuhan dalam segala sesuatu. Segala sesuatu ada 
dalam hadirat Tuhan atau Tuhan hidup dan berkarya di dalam segala sesuatu, 
itulah kebenaran iman yang harus kita hayati. Siapapun tidak menghayati 
kebenaran iman ini berarti ‘bengkok hatinya dan tersesat’, sebaliknya yang 
mengimani dan menghayati akan ‘bercahaya di antara mereka seperti 
bintang-bintang di dunia”. Sebagai orang beriman, kehadiran dan sepak terjang 
kita dimanapun dan kapanpun diharapkan menjadi ‘bintang yang bercahaya’, 
sehingga membantu siapapun dalam mengusahakan kebenaran-kebenaran dan 
menghayatinya. 

“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang 
yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, 
nantikanlah TUHAN!” (Mzm  27:13-14)
==================================================
From: Yogi Triyuniardi 

My - Testimony  1 Nov 2008

"Pi, dotnya jgn lupa dicuci yaa...."

'Huh', aku mengeluh dalam hatiku. 'gak usah dibilangin juga aku laksanain koq'. 
sudah kewajibanku sebagai suami yang sayang isteri, untuk mencucikan dot yang 
sudah dipakai setiap malam, agar bisa digunakan lagi.

memang kadang-kadang aku melakukannya malam sekali, bukannya menunda-nunda 
pekerjaan, cuma memprioritaskan pekerjaan lain yang lebih penting dari hal ini. 
Isteriku seringkali kesal dengan sikapku ini, tetapi seharusnya dia mengerti 
bahwa memang beginilah aku, begitu pikirku.

'Tuhan, alangkah baiknya, ya, kalau isteriku tak se-rewel itu, tak menegorku 
dengan hal-hal yang tak perlu', keluh kesahku dalam hati, sembari mencuci dot 
di dapur. Tak lama kemudian, ada jawaban dalam hatiku:

'Apakah juga baik, jika Tuhanmu tak menegormu?'

Wah, saya termenung sesaat. membayangkan bagaimana rasanya jika Tuhan tidak 
pernah menegur saya. hmmmmm.... enak juga ya, saya bisa bebas melakukan apa 
saja yang menurut saya benar. tapi, kalau dipikir-pikir lagi, itu tidak ada 
bedanya dengan menyembah batu! 

Lagipula, Tuhan selalu menegur untuk kebaikan saya. Ketika saya hendak 
melakukan perbuatan yang tidak disukai Tuhan, Ia menegur saya. ketika saya 
bertengkar dengan isteri saya, Ia menegur saya. Ketika banyak pertanyaan dalam 
benak saya yang belum terjawab, Ia juga menegur saya. Hmmmm.... apa jadinya ya, 
kalau Tuhan tidak tegur saya? Pastilah hidup saya sudah kacau balau dan tak 
jelas mau kemana.

'Tapi Tuhan, Engkau memang selalu menegur untuk kebaikanku, sedangkan isteriku 
itu......', saya mulai berdalih untuk membenarkan diri saya sendiri. 'Satu hal 
yang tetap sama, yaitu ia menegurmu sebagai tanda bahwa ia masih 
mempedulikanmu', begitulah jawaban yang saya terima dalam hati.

'Iya Tuhan, terimakasih'. benar juga. apa jadinya punya isteri yang pendiam dan 
tak pernah menegurku? entah itu benar ataupun salah, toh itu menjadi tanda 
kepeduliannya terhadapku. Kadangkala, kita selalu menuntut bentuk kepedulian 
yang baik saja yang selalu ingin kita terima, tanpa menyadari apakah kita 
sendiri telah memberikan kepedulian yang baik itu kepada orang yang kita 
kasihi. 

Setelah selesai mencuci dot, saya mendatangi isteri saya di kamar dan 
menawarkan untuk dibuatkan minuman. Ia senang sekali, dan kesenangannya juga 
membuat saya bahagia, begitu pula dengan Tuhan saya. Happy ending.

Yeremia 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku 
mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan 
bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh 
harapan.

Wahyu 3:19 Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah 
hatimu dan bertobatlah!

Tuhan Yesus memberkati. 
==================================================
From: Romo maryo 

“Bersukacitalah bersama dengan aku sebab dombaku yang hilang itu telah 
kutemukan.” (Flp 3:3-8a; Luk 15:1-10) 

“Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk 
mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli 
Taurat, katanya:
"Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 
Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang 
mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, 
tidak
meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi 
mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, 
ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia 
memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: 
Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah 
kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga 
karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena 
sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
"Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan 
satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya 
dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia 
memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: 
Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah 
kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada 
malaikat-malaikat Elohim karena satu orang berdosa yang bertobat." (Luk 
15:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:

·   Ketika sedang sehat, hidup dan bekerja baik-baik saja pada umumnya kurang 
memperoleh perhatian, namun ketika sedang sakit atau bekerja seenaknya 
bermalas-malasan pada umumnya menjadi perhatian atau sorotan khusus. Itulah 
kenayataan yang terjadi dalam kehidupan kita, entah secara bersama atau 
pribadi; secara pribadi misalnya ketika ada bagian dari anggota tubuh kita yang 
sakit atau tidak elok pasti senantiasa memperoleh perhatian.
Yesus adalah Penyelamat Dunia, yang datang untuk menyelamatkan dunia, maka
ketika ada bagian dari dunia atau penghunia dunia yang sedang sakit atau 
berdosa Ia datangi atau terima dan kemudian diampuni atau disembuhkan.
Sebaliknya cukup banyak tokoh masyarakat atau bangsa bersikap mental seperti
orang-orang Farisi atau ahli-ahli Taurat, yaitu bersungut-sungut atau 
menggerutu ketika ada orang atau LSM yang memperhatikan dan menolong atau hidup 
bersama dengan mereka yang sakit atau berdosa; mereka pada umumnya hanya 
menghendaki yang baik-baik saja, sedangkan yang tidak baik disingkirkan atau 
dihindari.
Sebagai orang beriman, khususnya yang beriman pada Yesus, kita dipanggil untuk
berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya, yaitu menyembuhkan mereka yang
sakit, menolong yang menderita, tersingkir dan terbuang, mengampuni yang 
berdosa dan bersalah. Dengan kata lain kita dipanggil untuk mendatangi dan 
menyelematkan bagian dunia atau para penghuni dunia yang sakit, berdosa dan 
menderita. Maka sekiranya kita hanya mampu menyembuhkan atau mengampuni satu 
orang yang sakit atau berdosa, bergembiralah dan bersyukurlah. Jika 
masing-masing dari kita menyembuhkan atau mengampuni satu orang saja sungguh 
menggembirakan, karena berarti kita saling mengampuni dan menyembuhkan. 

·   “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena 
Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus 
Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya.”(Flp 3:7-8a), demikian 
kesaksian iman
Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua orang beriman. Yang utama dan
pertama-tama adalah pengenalan akan Tuhan, dan jika orang sungguh kenal akan
Tuhan mau tidak mau ia pasti akan dikuasai atau dirajai olehNya, karena Tuhan 
maha segalanya. Dikuasai atau dirajai oleh Tuhan berarti menjadi orang baik; 
menjadi orang baik itulah hendaknya yang diusahakan atau diperjuangkan dalam 
berbagai kegiatan pelayanan pendidikan atau pembinaan, entah di dalam keluarga, 
sekolah/ tempat pendidikan maupun masyarakat pada umumnya. Secara khusus saya 
mengingatkan dan mengajak para orangtua maupun pendidik, guru atau pengelola 
sekolah, hendaknya yang diutamakan bagi anak-anak atau peserta didik adalah 
agar mereka tumbuh berkembang menjadi pribadi baik, cerdas beriman, bukan 
pandai secara intelektual. Memang membina atau mendidik anak-anak/peserta didik 
untuk menjadi manusia baik lebih sulit daripada menjadi pandai secara 
intelektual, namun hemat saya aneka ilmu pengetahuan dan keterampilan akan 
lebih mudah diusahakan dan diperkembangkan oleh orang-orang yang baik. Orang 
baik pada masa kini pasti akan proaktif dan kreatif untuk ‘auto didactic’ 
/mendidik dan membina diri melalui aneka macam cara yang ada. Pengenalan akan 
Tuhan, menjadi orang baik, berbudi pekerti luhur  ‘lebih mulia dari pada 
semuanya’. 
 
“Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala 
perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah 
bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN!
Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah 
perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan 
penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya “ (Mzm 105:2-5)

Kirim email ke