From: Romo maryo “Sesungguhnya Kerajaan Surga ada di antara kamu." (Flm 7-20; Luk 17:20-25)
“Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Surga akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Elohim datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Surga ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya.Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini” (Luk 17:20-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan beberapa santo dan beato antara lain St.Stanislaus Kostka hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Kerajaan Surga atau Elohim yang meraja dan berkuasa memang tidak dapat dilihat secara langsung dengan mata tubuh ini, melainkan kita dapat melihat dan menikmati buah-buah karyaNya, antara lain menggejala dalam diri orang-orang suci atau yang mempersembah kan diri seutuhnya kepada Elohim di dalam hidup sehari-hari, dalam aneka kesibukan, pelayanan dan tugas pekerjaan. Ia datang seperti ‘kilat’, yang bercahaya sesaat serta mempengaruhi hidup orang yang melihatnya. Dalam pengalaman religius atau rohani saat kedatangan Elohim tersebut disebut sebagai ‘hiburan rohani’, yaitu “keadaan sewaktu dalam jiwa timbul suatu gerak batin, yang membuat jiwa jadi berkobar-kobar dalam cinta kepada Pencipta dan Tuhannya” atau “bertambahnya iman, harapan dan cinta; lagi pula semua kegembiraan batin yang mengajak dan menarik perhatian orang kea rah perkara-perkara surgawi serta keselamatan jiwanya dengan memenuhinya dengan damai dan ketenangan dalam Pencipta dan Tuhannya” (St.Ignatius Loyola: LR no 316). Secara konkret ‘hiburan rohani’ tersebut menggerakkan orang yang mengalaminya, antara lain sebagaimana dialami oleh St.Stanislaus Kostka, religius/ biarawan yang masih muda, untuk mempersembah kan hidupnya kepada Elohim dengan melayani mereka yang sedang sakit, menderita dan berkekurangan. Ia tidak dapat tinggal diam melihat orang-orang sakit, menderita dan berkekurangan, melainkan bekerja keras tanpa kenal lelah menolong mereka. Ia siap sedia dan rela berkorban demi keselamatan jiwa sesamanya. Bentuk perhatian tersebut mungkin hanya sederhana, misalnya kehadiran, sentuhan atau sapaan kasih yang sesaat saja. Rasanya kehadiraan, sentuhan atau sapaan kasih memang menyembuh kan dan menyelamatkan mereka yang menerimanya. Maka marilah kita sebagai orang beriman saling menghadirkan diri, menyentuh dan menyapa dalam kasih serta memperhatikan sesama dan saudara-saudari kita yang sakit, menderita dan berkekurangan. · “Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku” (Flm 7). Kutipan ini kiranya layak menjadi permenungan atau refleksi kita bersama. “Kasih yang membuat atau berbuah kegembiraan besar dan kekuatan”, inilah yang harus kita hayati dan sebarluaskan dalam hidup sehari-hari, dalam kesibukan pelayanan atau tugas pekerjaan kita. Ingat dan hayati bahwa masing-masing dari kita dapat hidup, tumbuh berkembang seperti saat ini hanya karena ‘kasih’: kita diciptakan (diadakan dan dikandung oleh ibu kita) dalam kasih, dibesarkan, dididik dan dibina dalam dan oleh kasih. Baiklah saya ajak anda sekalian mawas diri: Bukankah ketika menerima sesuatu dari sesama atau saudara-saudari kita (makanan, minuman, barang, uang, sapaan, sentuhan, ciuman dst..) kita menjawab atau menanggapi dengan berkata “terima kasih”? Berarti apa yang kita terima dari orang lain adalah ‘kasih’, entah itu enak atau tidak enak, nikmat atau tidak nikmat; jika orang tidak mengasihi kita maka mereka akan mendiamkan kita, tidak menyapa dan menyentuh. Hayatilah semua sapaan, sentuhan, perlakuan sesama terhadap anda sebagai perwujudan kasih, maka dengan demikain anda akan ‘memperoleh kegembiraan besar dan kekuatan’, sehingga mampu menghadapi aneka tantangan dan hambatan dalam kehidupan. Kegembiraan memang penting dalam hidup dan tugas perutusan kita masing-masing. Belajar atau bekerja dengan gembira akan sukses, berhasil sebagaimana kita harapkan atau cita-citakan. Tidak ada alasan bagi kita semua untuk tidak gembira, karena kita telah menerima kasih melimpah ruah dari sesama dan saudara-saudari kita sampai saat ini. Orang yang sedih dan takut akan mudah kena penyakit, sedangkan orang yang senantiasa gembira dalam keadaan atau situasi apapun akan tetap sehat wal’afiat, segar bugar, menarik dan memikat. “TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya” (Mzm 146:7-10) ===================================================== From: Romo maryo “Orang yang sedang di ladang janganlah ia kembali” (2Yoh 4-9; Luk 17:26-37) “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan." [Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.] Kata mereka kepada Yesus: "Di mana, Tuhan?" Kata-Nya kepada mereka: "Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar."(Luk 17:26-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yosef Pignatelli, imam SJ, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Yosef Pignatelli adalah seorang imam Yesuit yang menghadapi tantangan berat, namun ia tetap setia pada panggilan dan perutusannya. Ketika Ordo Yesuit dibubarkan ia pun diusir oleh Raja Spanyol dari negerinya dan harus mengungsi ke tempat lain. Ia menguatkan rekan-rekannya yang berada di pengasingan, maka ia, sebagai superior, juga termasuk ‘restorator’/pembangunan kembali Ordo Serikat. Rasanya ia menghayati apa yang disabdakan oleh Yesus : “ Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkan nya” Tetap setia pada panggilan dan tugas perutusan dalam keadaan atau situasi apapun, dan tentu saja pertama-tama dan terutama dalam situasi yang berat, sarat dengan tantangan dan hambatan, itulah yang dihayati oleh Yosef Pignatelli, dan kiranya juga harus kita hayati sebagai orang-orang beriman. Tantangan dan hambatan menjadi kesempatan untuk memurnikan dan menguatkan iman, itulah kebenaran yang harus kita hayati. Maka jika dalam menghayati panggilan atau melaksanakan tugas perutusan anda harus menghadapi tantangan dan hambatan, hendaknya tetap setia pada janji semula, charisma, panggilan yang telah dipeluk dan sedang digeluti. Barangsiapa menghindari tantangan dan hambatan yang lahir karena kesetiaan, maka orang yang bersangkutan akan menjadi orang kerdil hati dan jiwanya, mudah ingkar janji tanpa alasan. · “Sekarang aku minta kepadamu, Ibu -- bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya -- supaya kita saling mengasihi. Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya” (2 Yoh 5-6) “Hidup dalam kasih” itulah yang menjadi panggilan dan tugas perutusan kita semua, sebagai bukti atau konsekwensi bahwa kita adalah orang beriman. Hidup kita sendiri merupakan ‘kasih atau anugerah Tuhan’ dan segala sesuatu yang kita miliki atau kuasai saat ini juga merupakan ‘kasih atau anugerah Tuhan’. Masing-masing dari kita adalah ‘kasih Tuhan’, maka panggilan untuk hidup dalam kasih alias saling mengasihi sebenarnya mudah sekali: bertemu dengan siapapun berarti ‘kasih’ bertemu dengan ‘kasih’, maka secara otomatis seharusnya saling mengasihi. Memang pertama-tama dan terutama masing-masing dari kita harus berani mengimani bahwa masing-masing dari kita adalah ‘kasih Tuhan’ alias ‘hidup menurut perintahNya’. Perintah Tuhan antara lain berupa aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan hidup dan tugas pekerjaan atau panggilan kita, maka marilah kita fahami dengan baik tatanan dan aturan tersebut, dan kemudian dengan rendah hati serta bantuan rahmat Tuhan kita hayati di dalam hidup sehari-hari. Marilah dalam keadaan atau kondisi macam apapun dan dimanapun kita tetap setia dan taat terhadap tatanan dan aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pekerjaan kita masing, meneladan St.Yosef Pignatelli yang kita kenangkan hari ini. “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati,” (Mzm 119:1-2) ================================================== From: Romo maryo “Adakah Ia mendapati iman di bumi?" (3Yoh:5-8; Luk 18:1-8) “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Elohim dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Elohim dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku." Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Elohim akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Luk 18:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Berdoa merupakan salah satu cirikhas hidup orang beriman, dan dapat dilakukan dimana saja, kapan saja serta dalam kondisi dan situasi apapun, entah sehat atau sakit. Di dalam Ordo Serikat Yesus mereka yang telah lanjut usia alias tak mampu bekerja lagi atau pension diberi jabatan atau tugas ‘ora pro sociate”, berdoa bagi Serikat atau sahabat-sahabat. Maka jika dalam Warta Gembira hari ini kita diingatkan agar ‘selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu’ , marilah kita mawas diri sejauh mana kita menghayati hidup doa kita. Selain doa atau ibadat bersama seperti doa lingkungan/ komunitas, perayaan ekaristi dll., kiranya kita hendaknya juga memperhatikan doa pribadi, sesuai dengan jati diri dan keberadaan kita masing-masing. Doa pribadi tidak perlu vocal dan dapat dihayati secara batin. Ketika berada di dalam kendaraan sebagai penumpang kita dapat berdoa mohon keselamatan dalam perjalanan, demikian juga dalam belajar atau bekerja ketika merasa berat dan malas, silahkan berhenti sejenak berdoa kepada Tuhan mohon rahmat kekuatan untuk melaksanakan tugas, dst.. Saya terkesan pada pimpinan biara kontemplatif Gedono, Salatiga-Jawa Tengah dimana pada suatu saat menanggapi pertanyaan para tamu perihal ‘acara rekreasi para suster/biarawati’, ia menjawab: “Kami berrekreasi sepanjang hari bersama dengan Tuhan”. Berrekreasi sepanjang hari bersama Tuhan berarti menghayati hidup sepanjang hari dalam dan bersama dengan Tuhan. Salah satu bentuk doa yang sebaiknya dilaksanakan setiap hari dan dapat dilakasanakan dimana saja dan dalam situasi dan kondisi apa saja ialah ‘pemeriksaan batin’ secara pribadi. Jika kita setia dan dengan benar melaksanakan pemerikasaan batin setiap hari, kami percaya kita akan mahir dalam pembedaan roh serta kemudian senantiasa tergerak untuk mengikuti dan melaksanakan kehendak roh baik, Roh Kudus, dan dengan demikian kita juga pasti ‘selalu berdoa dengan tak jemu-jemu’ alias sungguh beriman. Kita dapat menyatakan bahwa ada iman di bumi, yaitu dalam diri orang beriman yang ‘selalu berdoa dengan tak jemu-jemu’. · “Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, jikalau engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Elohim “(3Yoh: 5-6). Sebagai orang beriman melakukan atau berbuat segala sesuatu, tentu saja yang baik dan menyelamatkan, bagi saudara-saudara sekalipun mereka orang asing/kurang atau tidak kita kenal, itulah panggilan dan tugas perutusan kita semua sebagai orang beriman. Ajakan atau panggilan ini dapat kita laksanakan kapan saja dan dimana saja, lebih-lebih terhadap mereka yang membutuhkan pertolongan atau bantuan atau mereka yang tersesat di dalam perjalanan. Marilah kita fahami apa yang dimaksudkan dengan ‘dalam perjalanan’ tidak hanya secara territorial saja, melainkan juga secara fungsioanal, yaitu mereka yang sedang melaksanakan tugas perutusan atau melakukan kewajibannya, misalnya imam, bruder, suster, suami-isteri, pelajar, pekerja dst.. Kita berharap masing-masing dari kita dapat secara optimal menghayati fungsi kita masing-masing dan saling tolong-menolong ‘dalam perjalanan’ hidup, panggilan dan tugas perutusan kita. Jika kita saling tolong-menolong tanpa pandang bulu, maka hidup kita berkenan pada Elohim alias kita bersama dapat menanggapi bahwa ‘ada iman di bumi’, di antara kami orang yang beriman/percaya pada penyelenggaraan Ilahi. Ingatlah dan hayatilah bahwa segala sesuatu yang hidup di dunia ini sepenuhnya tergantung pada Elohim dan penyerahan diri total kita pada fungsi kita masing-masing di dalam kehidupan bersama. “Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya” (Mzm 112:4-6)

