From: Mauli Siahaan 

RAIH SEMUA APAYANG TUHAN SEDIAKAN!
Ulangan 1:6-8
 
www.maulisiahaan.blogspot.com
www.geocities.com/diaspora_gerizim
 
Pikiran kita akan sangat menentukan tindakan kita. Dan tindakan kita akan 
sangat menentukan apa yang akan kita nikmati dalam hidup ini. Kalau kita 
berpikir bahwa kita tidak bisa, makan pikiran itu akan membuat kita tidak 
melakukan apa-apa dan itu tidak akan pernah menghasilkan apa-apa dalam 
kehidupan kita. Tetapi kalau kita berpikir bahwa kita bisa melakukannya tidak 
perduli apa yang terjadi, maka pikiran itu akan mendorong kita untuk berusaha 
melakukan sesuatu sehingga suatu saat kita akan mengalami apa yang kita 
pikirkan.
 
Jauh sebelum bangsa Israel keluar dari Mesir, Elohim sudah menetapkan bahwa 
tanah Kanaan yang penuh dengan susu dan madunya akan mereka miliki. Tetapi 
generasai pertama dari bangsa itu tidak pernah sampai di tanah Perjanjian itu - 
kucuali Kaleb dan Yosua - karena pikiran mereka telah membelenggu langkah 
mereka untuk meraih apa ang Tuhan sediakan. Baru saja bangsa itu keluar dari 
negeri perbudakan dengan tanda-tanda ajaib yang Tuhan lakukan dengan 10 tulah, 
dan mereka meninggalkan negeri yang selama ini memperbudak mereka dengan tangan 
penuh sehingga tiba-tiba mereka bukan saja menjadi bangsa yang merdeka tetapi 
disertai dengan rampasan yang sangat banyak. Namun belum jauh mereka 
meninggalkan negeri yang selama ini memperbudak mereka, tiba-tiba mereka 
diperhadapkan kepada pasukan Firaun yang mencoba menyusul sementara di depan 
mereka laut Teberau yang tidak mungkin diseberangi. Di sinilah masalahnya, 
ketika mereka terdesak, pikiran mereka telah membutakan
iman mereka untuk meraih Kanaan yang Tuhan sediakan. Menanggapi persoalan itu 
mereka berkata: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa 
kami untuk mati di padang gurun ini?" (Keluaran 14:11). Mereka menggantikan 
Kanaan yang penuh dengan pengharapan itu menjadi kematian mereka di padang 
gurun. Pikiran itulah yang terus menghambat mereka untuk maju meraih apa yang 
Tuhan sediakan bagi mereka. Walaupun pada akhirnya Elohim memberikan jalan 
keluar dalam kondisi terjepit itu dengan menyatakan keajaiban-Nya lewat 
membelah laut Terberau menjadi dua bagian sehingga bangsa Israel bisa berjalan 
di tanah yang kering, sementara pasukan Firaun di tenggelamkan Tuhan, bangsa 
itu tetap tidak pernah menikmati tanah perjanjian itu karena pikiran mereka 
telah memenjara mereka dengan berkata bahwa mereka akan mati di pandang gurun. 
Sebab berkali-kali terjadi ketika mereka menghadapi masalah dalam perjalanan di 
pandang gurun itu yang ada dalam pikiran mereka adalah mati kehausan, mati 
kelaparan dan seterusnya. Jadi pada prinsipnya mereka tidak sampai di tanah 
yang Tuhan janjikan karena pikiran mereka telah dipenuhi dengan hal-hal yang 
berbeda dengan apa yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan bangsa itu. 
 
Kita akan jauh dari apa yang Tuhan rencanakan kalau pikiran kita diisi dengan 
hal-hal yang berbeda dengan apa yang Tuhan rencanakan. Tetapi sebaliknya, kita 
akan meraih semua apa yang Tuhan rencanakan tidak perduli kondisi hidup kita 
hari ini kalau kita mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang direncanakan 
Tuhan. 
 
Berpikirlah Positif 
Pengalaman pahit yang telah puluhan tahun menempa bangsa Israel membuat mereka 
apatis untuk meraih apa yang Tuhan sediakan untuk mereka. Itulah sebabnya 
Elohim ingin mengubah pikiran mereka yang telah memenjarakan mereka untuk tidak 
maju meraih rencaha Tuhan yaitu tanah Kanaan. Ituah sebanya Ia berfirman, 
"Telah cukup lama kamu tinggal di gunung ini" (ayat 6). Elohim ingin 
menyentakkan mereka untuk keluar dari kaadaan dan masa lalu yang telah 
membelenggu mereka. Elohim ingin agar mereka mencoba sesuatu yang baru tidak 
perduli apa yang telah terjadi dalam kehidupan mereka selama ini. Elohim ingin 
agar mereka memberikan ruang untuk rencana-Nya yang tidak pernah batal dalam 
kehidupan mereka. Elohim ingin agar mereka mengisi pikiran mereka dengan 
hal-hal yang positif bahwa mereka bisa memasuki negeri perjanjian bukan mati di 
padang gurun. Itulah sebabnya Elohim lebih jauh berfirman, "Majulah, 
berangkatlah, pergilah ke pegunungan orang Amori dan kepada semua tetangga 
mereka di Araba-Yordan, di Pegunungan, di Daerah Bukit, di Tanah Negeb dan di 
tepi pantai laut, yakni negeri orang Kanaan, dan ke gunung Libanon sampai 
Efrat, sungai besar itu" (ayat 7).
 
Elohim  ingin Anda menikmati semua apa yang direncanakan 
Tuhan dalam kehidupan Anda asalkan Anda mengisi pikiran Anda dengan hal-hal 
yang Tuhan rencanakan itu. Kalau Anda ingin diberkati oleh Elohim, maka 
pikirkanlah berkat Elohim itu tidak perduli apa kondisi kehidupan Anda saat 
ini. Kalau Anda ingin dipulihkan oleh Elohim, maka pikirkanlah pemulihan Elohim 
itu tidak perduli sudah berapa kali Anda mencobanya. Kalau Anda ingin bangkit 
dari keterpurukan Anda, maka pikirkanlah kebangkitan Anda tidak pernduli sudah 
berapa kali Anda gagal ketika Anda mencobanya. Ingatlah Anda hanya akan sampai 
di apa yang Anda pikirkan. Jangan sampai keadaan dan kondisi kehidupan yang 
susah membuat pikiran Anda susah yang pada akhirnya membuat hidup Anda susah. 
Tetapi sebaliknya sekalipun sekeliling Anda sudah, mari berpikir dengan baik, 
maka suatu saat kehidupan Anda akan baik. Itulah sebabnya menjadi beralasan 
Rasul Paulus berkata. "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang
benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, 
semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, 
pikirkanlah semuanya itu. (Filipi 4:8) Kalau kita mengisi pikiran kita dengan 
hal-hal yang positif di atas maka kita akan digerakkan untuk menuju ke arah 
yang kita pikirkan itu.
 
Mungkin banyak pengalaman pahit yang telah Anda lalui sehingga membuat Anda 
menjadi pesimis melihat hidup ini. Namun jangan terpenjara dengan pengalaman 
hidup Anda di masa lalu, mari maju, berangkat, pergilah ke apa yang Tuhan 
rencanakan dalam kehidupan Anda. Ingatlah bahwa Elohim tidak pernah merencakan 
hidup Anda terpuruk, sakit, dan hancur. Karena itu pikirkanlah bahwa hidup Anda 
bangkit, sehat dan dipulihkan oleh Elohim. Jadi perangilah pikiran yang berkata 
bahwa Anda tidak bisa atau Anda tidak akan pernah bangkit. Dan berpikirlah 
bahwa Anda bisa meraih apa yang seharusnya Anda miliki dalam hidup ini. Jadi 
pikirkanlah kebahagiaan dan kedamaian sebab Anda berhak untuk memilikinya.
 
Percalah akan janji Elohim 
Setelah Tuhan menyadarkan bangsa Israel dari tidurnya, Dia kemudian 
mengingatkan bangsa itu akan janji-Nya kepada mereka. Elohim berkata, 
"Ketahuilah, Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu; masukilah, dudukilah 
negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni 
Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka dan kepada 
keturunannya." (ayat 8) Inilah sebenarnya mengapa Elohim ingin agar bangsa itu 
berpikir positfi sekalipun kondisi hidup mereka sangat negatif. Sebab mereka 
pasti memiliki tanah Kanaan bukan karena didasari oleh kondisi sekitar mereka, 
tetapi karena Elohim sudah memberikannya. Itulah sebabnya Elohim menyakinkan 
bangsa itu agar mereka memasuki dan menduduki negeri itu tidak perduli keadaan 
mereka saat itu dan kondisi negeri yang akan mereka miliki. Jaminan dari 
semuanya itu adalah pribadi Elohim yang Mahakuasa yang tidak akan mungkin 
mengingkari janji-Nya.
 
Kalau ingin meraih semua apa yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan Anda, maka 
imanilah akan setiap janji-Nya dalam kehidupan ini. Mungkin janji-Nya terlalu 
jauh dari jangkauan pikiran kita apalagi mengingat kondisi kita yang tidak 
memungkinkan untuk meraihnya. Namun ingatlah bukan kita yang akan 
merealisasikan janji Tuhan, tetapi Dia sendiri yang melakukannya bagi kita. 
Adakah sesuatu yang mustahil bagi Tuhan? Bukankah firman Tuhan berkata, "Bagi 
Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau 
pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita," (Efesus 
3:20). Jadi apapun kondisi Anda hari ini, tidak perduli sudah berapa kali Anda 
berusaha dan mencobanya, tetaplah percaya akan janji-Nya, maka Dia akan membawa 
Anda ke setiap rencana-Nya dalam hidup ini dan bahkan ke tempat yang belum 
pernah Anda banyangkan sebelumnya. Ingatlah, bahwa Elohim tidak memerlukan 
siapapun untuk mewujudkan janji-Nya dalam kehidupan Anda. Namun Dia 
menginginkan Anda percaya bahwa Dia tidak pernah ingkar janji.
 
Mungkin saat ini kita diperhadapkan kepada sesuatu yang seolah-oleh tidak ada 
harapan lagi dan banyak tekanan untuk membuat kita menyerah. Namun percayalah 
bahwa Elohim belum selesai berurusan dengan Anda. Dia masih bekerja untuk 
menyelesaikan rencana-Nya dalam kehidupan Anda sampai Anda tiba di Kanaan 
kehidupan Anda. Jadi, percayalah kepada janji-Nya yang telah menyerahkan 
"negeri" itu kepada Anda. "Negeri" dalam bentuk apa yang Tuhan sudah janjikan 
kepada Anda hari ini? Itu bisa pemulihan kesehatan, finanansial, pekerjaan, 
pernikahan, karir, usaha dan lain sebagainya. Mari masuki dan duduki bersama 
Tuhan yang telah menyerahkannya bagi Anda.
 
Oleh karena itu, kalau ingin meraih semua apa yang Tuhan rencanakan dalam 
kehidupan Anda, jangan mau terpenjara dengan kondisi dan keadaan Anda sehingga 
pikiran Anda dibelenggu dengan kata-kata: tidak bisa, mustahil, tidak mungkin 
dan lain sebagainya. Tetapi ganti pikiran-pikiran yang melumpuhkan itu dengan 
pikiran yang positif seperti: aku bisa, aku akan mendapatkannya, aku pasti 
bangkit, aku aku pasti meraihnya. Sebab Anda hanya akan sampai di apa yang Anda 
pikirkan. Selain itu percayalah kepada janji Elohim yang sanggup dan mampu 
membawa Anda jauh lebih dari pada apa yang bisa Anda pikirkan tidak perduli apa 
yang terjadi dalam kehidupan Anda sebab Dia dan kuasa-Nya lah yang akan membawa 
Anda kepada apa yang direncanakan-Nya dalam kehidupan Anda sebagaimana yang 
dijanjikan-Nya.
===============================================
From: Romo maryo 

"Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?"
(Why 1:1-4; 2:1-5a; Luk 18:35-43) 

“Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir 
jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: 
"Apa itu?" Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat."
Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Maka mereka, yang 
berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: 
"Anak Daud,
kasihanilah aku!"
Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia 
telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya:
"Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" 
Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!"
Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan 
engkau!" Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil 
memuliakan Elohim. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Elohim” (Luk 
18:35-43), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. . 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Elisabeth dari 
Hungaria,
biarawati, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kekayaan dan kemilauan harta benda duniawi tanpa sadar atau dengan lembut 
perlahan-lahan sering membuat orang menjadi buta akan ‘nilai-nilai spiritual 
atau manusiawi’. Kalau dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan perihal orang 
buta, yang  terbuka hatinya serta mohon kasih penyembuhan Tuhan dan 
disembuhkan, rasanya hal senada terjadi dalam lingkungan hidup St.Elisabeth 
yang kita kenangkan hari ini. Elisabeth adalah puteri istana, dimana kekeyaan 
harta benda mewarnai hidup keluarga istana. Mereka buta terhadap penderitaan 
orang miskin dan berkekurangan, namun Elisabeth terbuka dan melihat serta 
memperhatikan mereka yang miskin dan ber-kekurangan. Maka marilah kita bersikap 
seperti orang buta yang mohon penyembuhan: ”Tuhan, supaya aku dapat melihat”, 
melihat sesama manusia sebagai ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini, 
sebagai gambar atau citra Elohim. Rasanya dalam diri orang miskin dan 
berkekurangan gambaran manusia sebagai citra Elohim lebih mudah dilihat 
daripada orang kaya yang bermewah-mewah, yang pada umumnya menggantungkan 
hidupnya pada kekayaan yang dimilikinya.
 “Melihat” atau indera penglihatan merupakan salah satu indera kita yang antara 
berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan hidup kita. Apa yang dilihat 
pada umumnya menggerakkan orang untuk berbuat sesuatu, dan jika yang 
bersangkutan orang beriman pasti melakukan perbuatan-perbuatan baik yang 
menyelamatkan dan membahagiakan.
Marilah kita melihat dan memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan,
dan biarlah siapapun yang melihat tindakan kita akhirnya ‘memuji-muji Elohim’. 
Kepada rekan-rekan yang kaya akan harta benda, kami ajak untuk meneladan 
St.Elisabeth, yang kita kenangkan hari ini: memperhatikan mereka yang miskin 
dan berkekurangan, meskipun untuk itu harus menghadapi tantangan dan hambatan 
dari saudara-saudari kita. 

·   “Engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak 
mengenal lelah.  Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah 
meninggalkan kasih mu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau 
telah jatuh” (Why2:3-5a).
Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita semua, terutama
mereka yang dengan sahar dan menderita bekerja keras mengejar dan mengusahakan
kekayaan. “Jangan meninggalkan kasihmu yang semula”, itulah peringatan yang 
harus kita perhatikan dan renungkan. Kasih merupakan ajaran yang utama dan 
pertama dari siapapun yang mengaku diri beriman, sejak masih berada dalam 
kandungan/rahim ibu masing-masing dari kita telah menikmati kasih yang melimpah 
ruah, sehingga kita dapat hidup, tumbuh dan berkembang sebagaimana kita alami 
sampai saat ini. “Aku memberi kan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu 
saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu 
harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu 
adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”(Yoh 13:34-35), 
demikian perintah Yesus kepada para murid, kepada kita semua yang beriman 
kepadaNya. Saling mengasihi berarti saling memberi dan menerima; rasanya kita 
telah menerima banyak kasih, dan kalau merasa tidak atau belum menerima kasih 
yang melimpah ruah, silakkan mawas diri ketika anda masih berada dalam 
kandungan dan masa balita. Jika kita telah menghayati kasih tersebut, maka 
panggilan dan tugas pengutusan kita adalah meneruskan atau menyebar-luaskan
kasih tersebut kepada sesama manusia, dimanapun dan kapanpun kita berada, hidup 
dan bekerja. Kasih yang sungguh nyata dan membahagiakan rasanya adalah kasih 
terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan.  

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang 
tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan 
pencemooh, tetapi yang
kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan 
malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan 
buahnya pada musim nya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya 
berhasil” (Mzm 1:1-3)
====================================================
From: Romo maryo 

“Setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada 
sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." (Why 
3:1-6,14-22; Luk 19:1-10)

“Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada 
seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.
Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil
karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang
banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata:
"Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu 
Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia 
menumpang di rumah orang berdosa." Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada 
Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan 
sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali 
lipat." Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah 
ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari 
dan menyelamatkan yang hilang."(Luk 19:1-10), demikian kutipan Warta Gembira 
hari ini 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:

·   Zakheus, kepala pemungut cukai/pajak, kiranya orang baik yang terjebak 
dalam jaringan korupsi perpajakan. Sebagaimana terjadi di Indonesia manipulasi 
perpajakan terjadi di mana-mana, rasanya pada zaman Yesus pun juga telah 
terjadi, maka tidak mengherankan bahwa para petugas/pegawai perpajakan menjadi 
kaya raya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang 
terlibat dalam perpajakan, entah pembayar pajak ataupun penarik/pengumpul pajak 
untuk mawas diri. Ingatlah bahwa uang pajak sebesar apapun pada dasarnya 
berasal dari rakyat banyak; para pengusaha membayar pajak tinggi karena mereka 
telah menaikan harga produksi dan yang menikmati produksi adalah rakyat banyak. 
Memang Negara yang sejahtera pada
umumnya memperoleh masukan pendapatan mayoritas dari pajak, dan menjadi
kewajiban para pejabat Negara atau pemerintah untuk mengurus atau mengelola
pajak dengan baik. Pajak berasal dari rakyat dan harus dikembalikan kepada
rakyat. Seikiranya para pegawai pajak di Indonesia ini tidak korupsi, hemat 
saya rakyat Indonesia dapat dilayani dengan baik, sesuai dengan sila ke lima 
“Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Ada aneka bentuk 
‘pajak/cukai/pungutan’ yang dikumpulkan
dari rakyat, antara lain: pajak bumi dan bangunan, pajak pertambahan nilai, 
pajak kendaraan dst.., uang sekolah, iuraan anggota, dst.. Hendaknya aneka 
masukan yang diambil dari rakyat atau ‘konsumen’ tersebut difungsikan demi 
kesejahteraan bersama, bukan untuk memperkaya mereka yang mengurus atau 
mengelola. Kita semua adalah ‘anak-anak Abraham’, bapa dan teladan hidup 
beriman, maka marilah kita hayati iman kita dengan saling membangun dan 
membantu atau bergotong-royong demi kesejahteraan umum. 

·   “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu 
dan bertobatlah! Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada 
orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk 
mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama 
dengan Aku. Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di 
atas takhta-Ku, sebagai mana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan 
Bapa-Ku di atas takhta-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa 
yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Why 3:19-22). Sebagai ‘anak-anak 
Abraham’ kiranya kita semua
adalah yang dikasihi oleh Elohim, maka marilah mempersembahkan hati seutuhnya
kepada Elohim, membuka pintu dan telinga hati terhadap ‘tegoran dan hajaran 
Elohim’ yang disampaikan oleh Roh melalui atau kepada jemaat-jemaat, sesama 
umat beriman. Panggilan atau tugas pengutusan ini rasanya lebih kena bagi para 
pemimpin atau petinggi hidup bersama dalam bentuk apapun dan dimanapun. Kepada 
siapapun yang merasa menjadi pemimpin atau petinggi kami ajak untuk 
‘mendengarkan apa yang dikatakan Roh melalui mereka yang dipimpin’; dengarkan 
dambaan, kerinduan, harapan, keluh kesah atau dukacita dan sukacita mereka, dan 
kemudian tanggapi sesuai dengan kemungkinan atau kesempatan yang ada.
“Mendengarkan” merupakan keutamaan yang harus dihayati oleh para pemimpin atau
petinggi, dan dengan demikian mereka menghayati kepemimpinan partisipatif dalam
jabatan, tugas pekerjaan atau fungsinya. Untuk itu kiranya perlu atau harus 
diusahakan seoptimal mungkin berada ‘bersama-sama dengan yang dipimpin’, 
misalnya ‘makan bersama-sama’. Boros waktu dan tenaga bagi yang dipimpin itulah 
yang harus dihayati dengan gembira, gairah dan ceria. 

“Dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang 
mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah 
dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak 
menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, 
tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, 
walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak 
menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, 
tidak akan goyah selama-lamanya” (Mzm 15:2-5)

Kirim email ke