From: Mauli Siahaan RAIH SEMUA APAYANG TUHAN SEDIAKAN! Ulangan 1:6-8 www.maulisiahaan.blogspot.com www.geocities.com/diaspora_gerizim Pikiran kita akan sangat menentukan tindakan kita. Dan tindakan kita akan sangat menentukan apa yang akan kita nikmati dalam hidup ini. Kalau kita berpikir bahwa kita tidak bisa, makan pikiran itu akan membuat kita tidak melakukan apa-apa dan itu tidak akan pernah menghasilkan apa-apa dalam kehidupan kita. Tetapi kalau kita berpikir bahwa kita bisa melakukannya tidak perduli apa yang terjadi, maka pikiran itu akan mendorong kita untuk berusaha melakukan sesuatu sehingga suatu saat kita akan mengalami apa yang kita pikirkan. Jauh sebelum bangsa Israel keluar dari Mesir, Elohim sudah menetapkan bahwa tanah Kanaan yang penuh dengan susu dan madunya akan mereka miliki. Tetapi generasai pertama dari bangsa itu tidak pernah sampai di tanah Perjanjian itu - kucuali Kaleb dan Yosua - karena pikiran mereka telah membelenggu langkah mereka untuk meraih apa ang Tuhan sediakan. Baru saja bangsa itu keluar dari negeri perbudakan dengan tanda-tanda ajaib yang Tuhan lakukan dengan 10 tulah, dan mereka meninggalkan negeri yang selama ini memperbudak mereka dengan tangan penuh sehingga tiba-tiba mereka bukan saja menjadi bangsa yang merdeka tetapi disertai dengan rampasan yang sangat banyak. Namun belum jauh mereka meninggalkan negeri yang selama ini memperbudak mereka, tiba-tiba mereka diperhadapkan kepada pasukan Firaun yang mencoba menyusul sementara di depan mereka laut Teberau yang tidak mungkin diseberangi. Di sinilah masalahnya, ketika mereka terdesak, pikiran mereka telah membutakan iman mereka untuk meraih Kanaan yang Tuhan sediakan. Menanggapi persoalan itu mereka berkata: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini?" (Keluaran 14:11). Mereka menggantikan Kanaan yang penuh dengan pengharapan itu menjadi kematian mereka di padang gurun. Pikiran itulah yang terus menghambat mereka untuk maju meraih apa yang Tuhan sediakan bagi mereka. Walaupun pada akhirnya Elohim memberikan jalan keluar dalam kondisi terjepit itu dengan menyatakan keajaiban-Nya lewat membelah laut Terberau menjadi dua bagian sehingga bangsa Israel bisa berjalan di tanah yang kering, sementara pasukan Firaun di tenggelamkan Tuhan, bangsa itu tetap tidak pernah menikmati tanah perjanjian itu karena pikiran mereka telah memenjara mereka dengan berkata bahwa mereka akan mati di pandang gurun. Sebab berkali-kali terjadi ketika mereka menghadapi masalah dalam perjalanan di pandang gurun itu yang ada dalam pikiran mereka adalah mati kehausan, mati kelaparan dan seterusnya. Jadi pada prinsipnya mereka tidak sampai di tanah yang Tuhan janjikan karena pikiran mereka telah dipenuhi dengan hal-hal yang berbeda dengan apa yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan bangsa itu. Kita akan jauh dari apa yang Tuhan rencanakan kalau pikiran kita diisi dengan hal-hal yang berbeda dengan apa yang Tuhan rencanakan. Tetapi sebaliknya, kita akan meraih semua apa yang Tuhan rencanakan tidak perduli kondisi hidup kita hari ini kalau kita mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang direncanakan Tuhan. Berpikirlah Positif Pengalaman pahit yang telah puluhan tahun menempa bangsa Israel membuat mereka apatis untuk meraih apa yang Tuhan sediakan untuk mereka. Itulah sebabnya Elohim ingin mengubah pikiran mereka yang telah memenjarakan mereka untuk tidak maju meraih rencaha Tuhan yaitu tanah Kanaan. Ituah sebanya Ia berfirman, "Telah cukup lama kamu tinggal di gunung ini" (ayat 6). Elohim ingin menyentakkan mereka untuk keluar dari kaadaan dan masa lalu yang telah membelenggu mereka. Elohim ingin agar mereka mencoba sesuatu yang baru tidak perduli apa yang telah terjadi dalam kehidupan mereka selama ini. Elohim ingin agar mereka memberikan ruang untuk rencana-Nya yang tidak pernah batal dalam kehidupan mereka. Elohim ingin agar mereka mengisi pikiran mereka dengan hal-hal yang positif bahwa mereka bisa memasuki negeri perjanjian bukan mati di padang gurun. Itulah sebabnya Elohim lebih jauh berfirman, "Majulah, berangkatlah, pergilah ke pegunungan orang Amori dan kepada semua tetangga mereka di Araba-Yordan, di Pegunungan, di Daerah Bukit, di Tanah Negeb dan di tepi pantai laut, yakni negeri orang Kanaan, dan ke gunung Libanon sampai Efrat, sungai besar itu" (ayat 7). Elohim ingin Anda menikmati semua apa yang direncanakan Tuhan dalam kehidupan Anda asalkan Anda mengisi pikiran Anda dengan hal-hal yang Tuhan rencanakan itu. Kalau Anda ingin diberkati oleh Elohim, maka pikirkanlah berkat Elohim itu tidak perduli apa kondisi kehidupan Anda saat ini. Kalau Anda ingin dipulihkan oleh Elohim, maka pikirkanlah pemulihan Elohim itu tidak perduli sudah berapa kali Anda mencobanya. Kalau Anda ingin bangkit dari keterpurukan Anda, maka pikirkanlah kebangkitan Anda tidak pernduli sudah berapa kali Anda gagal ketika Anda mencobanya. Ingatlah Anda hanya akan sampai di apa yang Anda pikirkan. Jangan sampai keadaan dan kondisi kehidupan yang susah membuat pikiran Anda susah yang pada akhirnya membuat hidup Anda susah. Tetapi sebaliknya sekalipun sekeliling Anda sudah, mari berpikir dengan baik, maka suatu saat kehidupan Anda akan baik. Itulah sebabnya menjadi beralasan Rasul Paulus berkata. "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. (Filipi 4:8) Kalau kita mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang positif di atas maka kita akan digerakkan untuk menuju ke arah yang kita pikirkan itu. Mungkin banyak pengalaman pahit yang telah Anda lalui sehingga membuat Anda menjadi pesimis melihat hidup ini. Namun jangan terpenjara dengan pengalaman hidup Anda di masa lalu, mari maju, berangkat, pergilah ke apa yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan Anda. Ingatlah bahwa Elohim tidak pernah merencakan hidup Anda terpuruk, sakit, dan hancur. Karena itu pikirkanlah bahwa hidup Anda bangkit, sehat dan dipulihkan oleh Elohim. Jadi perangilah pikiran yang berkata bahwa Anda tidak bisa atau Anda tidak akan pernah bangkit. Dan berpikirlah bahwa Anda bisa meraih apa yang seharusnya Anda miliki dalam hidup ini. Jadi pikirkanlah kebahagiaan dan kedamaian sebab Anda berhak untuk memilikinya. Percalah akan janji Elohim Setelah Tuhan menyadarkan bangsa Israel dari tidurnya, Dia kemudian mengingatkan bangsa itu akan janji-Nya kepada mereka. Elohim berkata, "Ketahuilah, Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu; masukilah, dudukilah negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunannya." (ayat 8) Inilah sebenarnya mengapa Elohim ingin agar bangsa itu berpikir positfi sekalipun kondisi hidup mereka sangat negatif. Sebab mereka pasti memiliki tanah Kanaan bukan karena didasari oleh kondisi sekitar mereka, tetapi karena Elohim sudah memberikannya. Itulah sebabnya Elohim menyakinkan bangsa itu agar mereka memasuki dan menduduki negeri itu tidak perduli keadaan mereka saat itu dan kondisi negeri yang akan mereka miliki. Jaminan dari semuanya itu adalah pribadi Elohim yang Mahakuasa yang tidak akan mungkin mengingkari janji-Nya. Kalau ingin meraih semua apa yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan Anda, maka imanilah akan setiap janji-Nya dalam kehidupan ini. Mungkin janji-Nya terlalu jauh dari jangkauan pikiran kita apalagi mengingat kondisi kita yang tidak memungkinkan untuk meraihnya. Namun ingatlah bukan kita yang akan merealisasikan janji Tuhan, tetapi Dia sendiri yang melakukannya bagi kita. Adakah sesuatu yang mustahil bagi Tuhan? Bukankah firman Tuhan berkata, "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita," (Efesus 3:20). Jadi apapun kondisi Anda hari ini, tidak perduli sudah berapa kali Anda berusaha dan mencobanya, tetaplah percaya akan janji-Nya, maka Dia akan membawa Anda ke setiap rencana-Nya dalam hidup ini dan bahkan ke tempat yang belum pernah Anda banyangkan sebelumnya. Ingatlah, bahwa Elohim tidak memerlukan siapapun untuk mewujudkan janji-Nya dalam kehidupan Anda. Namun Dia menginginkan Anda percaya bahwa Dia tidak pernah ingkar janji. Mungkin saat ini kita diperhadapkan kepada sesuatu yang seolah-oleh tidak ada harapan lagi dan banyak tekanan untuk membuat kita menyerah. Namun percayalah bahwa Elohim belum selesai berurusan dengan Anda. Dia masih bekerja untuk menyelesaikan rencana-Nya dalam kehidupan Anda sampai Anda tiba di Kanaan kehidupan Anda. Jadi, percayalah kepada janji-Nya yang telah menyerahkan "negeri" itu kepada Anda. "Negeri" dalam bentuk apa yang Tuhan sudah janjikan kepada Anda hari ini? Itu bisa pemulihan kesehatan, finanansial, pekerjaan, pernikahan, karir, usaha dan lain sebagainya. Mari masuki dan duduki bersama Tuhan yang telah menyerahkannya bagi Anda. Oleh karena itu, kalau ingin meraih semua apa yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan Anda, jangan mau terpenjara dengan kondisi dan keadaan Anda sehingga pikiran Anda dibelenggu dengan kata-kata: tidak bisa, mustahil, tidak mungkin dan lain sebagainya. Tetapi ganti pikiran-pikiran yang melumpuhkan itu dengan pikiran yang positif seperti: aku bisa, aku akan mendapatkannya, aku pasti bangkit, aku aku pasti meraihnya. Sebab Anda hanya akan sampai di apa yang Anda pikirkan. Selain itu percayalah kepada janji Elohim yang sanggup dan mampu membawa Anda jauh lebih dari pada apa yang bisa Anda pikirkan tidak perduli apa yang terjadi dalam kehidupan Anda sebab Dia dan kuasa-Nya lah yang akan membawa Anda kepada apa yang direncanakan-Nya dalam kehidupan Anda sebagaimana yang dijanjikan-Nya. =============================================== From: Romo maryo
"Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" (Why 1:1-4; 2:1-5a; Luk 18:35-43) “Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?" Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat." Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Elohim. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Elohim” (Luk 18:35-43), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. . Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Elisabeth dari Hungaria, biarawati, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Kekayaan dan kemilauan harta benda duniawi tanpa sadar atau dengan lembut perlahan-lahan sering membuat orang menjadi buta akan ‘nilai-nilai spiritual atau manusiawi’. Kalau dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan perihal orang buta, yang terbuka hatinya serta mohon kasih penyembuhan Tuhan dan disembuhkan, rasanya hal senada terjadi dalam lingkungan hidup St.Elisabeth yang kita kenangkan hari ini. Elisabeth adalah puteri istana, dimana kekeyaan harta benda mewarnai hidup keluarga istana. Mereka buta terhadap penderitaan orang miskin dan berkekurangan, namun Elisabeth terbuka dan melihat serta memperhatikan mereka yang miskin dan ber-kekurangan. Maka marilah kita bersikap seperti orang buta yang mohon penyembuhan: ”Tuhan, supaya aku dapat melihat”, melihat sesama manusia sebagai ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini, sebagai gambar atau citra Elohim. Rasanya dalam diri orang miskin dan berkekurangan gambaran manusia sebagai citra Elohim lebih mudah dilihat daripada orang kaya yang bermewah-mewah, yang pada umumnya menggantungkan hidupnya pada kekayaan yang dimilikinya. “Melihat” atau indera penglihatan merupakan salah satu indera kita yang antara berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan hidup kita. Apa yang dilihat pada umumnya menggerakkan orang untuk berbuat sesuatu, dan jika yang bersangkutan orang beriman pasti melakukan perbuatan-perbuatan baik yang menyelamatkan dan membahagiakan. Marilah kita melihat dan memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan, dan biarlah siapapun yang melihat tindakan kita akhirnya ‘memuji-muji Elohim’. Kepada rekan-rekan yang kaya akan harta benda, kami ajak untuk meneladan St.Elisabeth, yang kita kenangkan hari ini: memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan, meskipun untuk itu harus menghadapi tantangan dan hambatan dari saudara-saudari kita. · “Engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasih mu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh” (Why2:3-5a). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita semua, terutama mereka yang dengan sahar dan menderita bekerja keras mengejar dan mengusahakan kekayaan. “Jangan meninggalkan kasihmu yang semula”, itulah peringatan yang harus kita perhatikan dan renungkan. Kasih merupakan ajaran yang utama dan pertama dari siapapun yang mengaku diri beriman, sejak masih berada dalam kandungan/rahim ibu masing-masing dari kita telah menikmati kasih yang melimpah ruah, sehingga kita dapat hidup, tumbuh dan berkembang sebagaimana kita alami sampai saat ini. “Aku memberi kan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”(Yoh 13:34-35), demikian perintah Yesus kepada para murid, kepada kita semua yang beriman kepadaNya. Saling mengasihi berarti saling memberi dan menerima; rasanya kita telah menerima banyak kasih, dan kalau merasa tidak atau belum menerima kasih yang melimpah ruah, silakkan mawas diri ketika anda masih berada dalam kandungan dan masa balita. Jika kita telah menghayati kasih tersebut, maka panggilan dan tugas pengutusan kita adalah meneruskan atau menyebar-luaskan kasih tersebut kepada sesama manusia, dimanapun dan kapanpun kita berada, hidup dan bekerja. Kasih yang sungguh nyata dan membahagiakan rasanya adalah kasih terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musim nya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mzm 1:1-3) ==================================================== From: Romo maryo “Setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." (Why 3:1-6,14-22; Luk 19:1-10) “Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."(Luk 19:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Zakheus, kepala pemungut cukai/pajak, kiranya orang baik yang terjebak dalam jaringan korupsi perpajakan. Sebagaimana terjadi di Indonesia manipulasi perpajakan terjadi di mana-mana, rasanya pada zaman Yesus pun juga telah terjadi, maka tidak mengherankan bahwa para petugas/pegawai perpajakan menjadi kaya raya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang terlibat dalam perpajakan, entah pembayar pajak ataupun penarik/pengumpul pajak untuk mawas diri. Ingatlah bahwa uang pajak sebesar apapun pada dasarnya berasal dari rakyat banyak; para pengusaha membayar pajak tinggi karena mereka telah menaikan harga produksi dan yang menikmati produksi adalah rakyat banyak. Memang Negara yang sejahtera pada umumnya memperoleh masukan pendapatan mayoritas dari pajak, dan menjadi kewajiban para pejabat Negara atau pemerintah untuk mengurus atau mengelola pajak dengan baik. Pajak berasal dari rakyat dan harus dikembalikan kepada rakyat. Seikiranya para pegawai pajak di Indonesia ini tidak korupsi, hemat saya rakyat Indonesia dapat dilayani dengan baik, sesuai dengan sila ke lima “Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Ada aneka bentuk ‘pajak/cukai/pungutan’ yang dikumpulkan dari rakyat, antara lain: pajak bumi dan bangunan, pajak pertambahan nilai, pajak kendaraan dst.., uang sekolah, iuraan anggota, dst.. Hendaknya aneka masukan yang diambil dari rakyat atau ‘konsumen’ tersebut difungsikan demi kesejahteraan bersama, bukan untuk memperkaya mereka yang mengurus atau mengelola. Kita semua adalah ‘anak-anak Abraham’, bapa dan teladan hidup beriman, maka marilah kita hayati iman kita dengan saling membangun dan membantu atau bergotong-royong demi kesejahteraan umum. · “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagai mana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Why 3:19-22). Sebagai ‘anak-anak Abraham’ kiranya kita semua adalah yang dikasihi oleh Elohim, maka marilah mempersembahkan hati seutuhnya kepada Elohim, membuka pintu dan telinga hati terhadap ‘tegoran dan hajaran Elohim’ yang disampaikan oleh Roh melalui atau kepada jemaat-jemaat, sesama umat beriman. Panggilan atau tugas pengutusan ini rasanya lebih kena bagi para pemimpin atau petinggi hidup bersama dalam bentuk apapun dan dimanapun. Kepada siapapun yang merasa menjadi pemimpin atau petinggi kami ajak untuk ‘mendengarkan apa yang dikatakan Roh melalui mereka yang dipimpin’; dengarkan dambaan, kerinduan, harapan, keluh kesah atau dukacita dan sukacita mereka, dan kemudian tanggapi sesuai dengan kemungkinan atau kesempatan yang ada. “Mendengarkan” merupakan keutamaan yang harus dihayati oleh para pemimpin atau petinggi, dan dengan demikian mereka menghayati kepemimpinan partisipatif dalam jabatan, tugas pekerjaan atau fungsinya. Untuk itu kiranya perlu atau harus diusahakan seoptimal mungkin berada ‘bersama-sama dengan yang dipimpin’, misalnya ‘makan bersama-sama’. Boros waktu dan tenaga bagi yang dipimpin itulah yang harus dihayati dengan gembira, gairah dan ceria. “Dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya” (Mzm 15:2-5)

