From: Suryanto Suharli 

 The Papal Tiara and the '666' Myth 

One common myth surrounding the papal tiara involves the claim that the words 
Vicarius Filii Dei exist on the side of one of the tiaras. 

The myth centres on the widely made claim that, when numerised (ie, when those 
letters in the 'title' that have roman numeral value are added together) they 
produce the number '666', described in the Book of Revelations as the number of 
the Antichrist. 

This claim has been made by some fundamentalist protestant sects who believe 
that the pope as head of the Roman Catholic Church is the antichrist. 

Four definitive sources are sometimes given:
- A protestant woman visiting Rome said she witnessed Pope Gregory XVI wearing 
a crown with the words on it, in or around 1832; 
- Pope Gregory XVI had worn a papal tiara with these words clearly visible on 
it at a Pontifical High Mass during Easter 1845;
- The 'existence' of a photograph of a papal funeral at the start of the 
twentieth century (which probably means the funeral of Pope Leo XIII in 1903 
but could possibly be Pope Pius X's in 1914) showing the words on a papal 
tiara. 
- The tiara (with the words mentioned) is always used to crown popes, but 
specifically was used in 1939 to crown Eugenio Pacelli as Pope Pius XII. 

The claim is demonstrably false. 
Whether or not the numerised total of the letters in Vicarius Filii Dei produce 
the total '666' is irrelevant because no such title actually exists for the 
papacy or the Holy See. 

While the words did feature in the Donation of Constantine (now known to be a 
forged document) they referred to St. Peter and not subsequent popes. 

In 1832, only two tiaras existed; one from the sixteenth century and one, given 
by Napoleon I to Pope Pius VII in 1804. Neither contain writing.

http://www.ebroadcast.com.au/lookup/encyclopedia/pa/Papal_tiara.html

With love in Christ.
=======================================
From: Secapramana 


Thank You Jesus, I am Home
 
 

 Sekilas mengenai saya
Nama saya adalah Maria Natalia Brownell (nama saya sebelum menikah: Maria 
Natalia Budiman). Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga Katolik. Sedari 
kecil, saya sudah tertarik untuk aktif di gereja Katolik. Saya sering ikut koor 
gereja, menjadi pengantar, dan cukup aktif di kegiatan Mudika. Walaupun 
demikian, kegiatan yang saya ikuti jarang yang bersifat pendalaman iman. Di 
sekolah Katolik, memang saya mendapat pelajaran agama Katolik, tetapi sifatnya 
sangat mendasar. 
Misalnya, saya tidak pernah diajar untuk membaca dan mengerti alkitab, saya 
kurang mengerti akan pentingnya doa dan devosi terhadap bunda Maria dan 
santo/santa, banyak hal di perayaan Misa kudus yang bagi saya adalah ritualitas 
biasa (tanpa mengerti akan artinya). Kurangnya pengertian saya terhadap iman 
Katolik membuat saya pergi ke gereja Katolik hanya karena 'memang begitulah 
seharusnya', bukan karena didasarkan atas motivasi hati dan keinginan saya 
untuk lebih dekat dengan Tuhan. 

Waktu saya di SMA, saya bertanya-tanya terhadap diri saya sendiri. Sepertinya 
semua orang itu melalui pola hidup yang sama: sekolah, bekerja, menikah, 
berkeluarga, pensiun, lalu meninggal. Sepertinya sangat monoton dan 
membosankan. Saya lalu bertanya, apakah ada arti kehidupan yang lebih dalam 
daripada hanya mengikuti pola yang monoton begitu saja? Kenapa Tuhan 
menghendaki saya untuk hidup di dunia ini? Saya berharap suatu saat saya dapat 
menjawab pertanyaan ini. 

Kegiatan saya sewaktu di SMA sangat banyak, terutama di kelas III karena 
persiapan untuk masuk Universitas. Waktu itu, saya ingin sekali bersekolah di 
luar negeri. Walaupun mulanya berat bagi orang tua saya mengijinkan anak 
perempuan satu-satunya untuk pergi ke luar negeri pada umur 17 tahun, mereka 
akhirnya mengijinkan saya pergi juga. Waktu itu $1 masih seharga Rp 2000, tidak 
semahal sekarang. Walaupun mereka hanya bisa menjanjikan untuk menyekolahkan 
saya selama 2 tahun pertama, saya tetap nekat untuk pergi. Saya memutuskan 
untuk mengambil bidang Tehnik Kimia di Oregon State University, Amerika. Satu 
tahun kemudian, saya pindah ke University of Wisconsin, Madison, Wisconsin.
Kehidupan saya di Amerika
Di Madison, Universitasnya besar sekali, dan jauh lebih sulit daripada di 
Oregon. Untungnya banyak anak Indonesia yang bersekolah di sana. Saya mencoba 
untuk lebih ikut aktif di kegiatan Mudika. Alasan utamanya adalah karena ingin 
mendalami iman saya lebih lanjut. Jauh dari keluarga membuat saya lebih 
terpanggil untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Di Mudika, saya mengusulkan untuk 
belajar Alkitab, tetapi anak-anak Mudika semuanya protes. Mereka mengatakan 
bahwa mereka sudah capai belajar selama seminggu, dan mereka hanya mau 
berkumpul untuk bersosialisasi saja. Belajar Alkitab sifatnya terlalu serius. 
Walaupun tidak setuju, saya diam saja dan tidak memaksakan kehendak saya. Saya 
merasa seperti minoritas di kelompok Mudika itu, walaupun kita pergi ke gereja 
yang sama. 

Persaan seperti minoritas ini membuat saya mencari tahu kelompok anak Indonesia 
yang lain: ICF / Indonesian Christian Fellowship (Persekutuan Kristen 
Indonesia). Ini adalah kelompok mahasiswa Protestan. Waktu saya datang pertama 
kali, saya disambut dengan hangat. Pertemuannya dibuka dengan menyanyi pujian, 
kesaksian iman, dan presentasi dari speaker mengenai Alkitab. Saya sangat 
menikmati pertemuan ICF ini. Saya merasakan persahabatan dalam iman yang begitu 
kuat dan murni. Walaupun saya anak baru, saya sudah merasa seperti bagian dari 
keluarga besar ICF. Saya tidak pernah merasa bersalah mengikuti kegiatan ICF, 
karena bagi saya yang penting adalah saya menjadi lebih dekat dengan Tuhan. 
Walaupun ICF adalah kelompok Protestan, saat itu saya merasa kita mempunyai 
Tuhan yang sama, dan iman Kristiani yang sama. 

Membaca dan merenungkan firman Tuhan menjadi sumber kekuatan saya, yang 
menemani saya dalam kesendirian. Saya seperti menemukan air kehidupan baru yang 
menyegarkan kehidupan saya. Tidak pernah sebelumnya saya merasakan firman Tuhan 
begitu hidup dan mengena. Seperti orang sedang jatuh cinta, saya merasa jatuh 
cinta kepada Tuhan untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Sedikit demi sedikit 
saya mulai bisa menjawab pertanyaan saya waktu di SMA dulu, bahwa tujuan hidup 
saya adalah hidup bersama dengan Tuhan di Surga nantinya. Kehidupan saya di 
dunia ini adalah masa persiapan saya untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Ajaran 
Protestan sangat menitik beratkan pada 'lahir baru' dan 'keselamatan di Surga'. 
Saya yakin bahwa saat itu apabila saya meninggal, saya akan langsung masuk ke 
Surga. 

Keterlibatan saya dalam kelompok ICF berkembang dari sekedar hadir di pertemuan 
menjadi anggota kursus kepemimpinan Kristen, pemimpin group 'bible study' 
(pendalaman Alkitab), 'elder' (pemimpin) bagian evangelisasi, koordinator 
beberapa perayaan kampus, ikut serta dalam kelompok missionaris ke Guadalajara 
(Mexico) dan aktif terlibat dalam konferensi kelompok-kelompok ICF di Amerika.


Saya menjadi Protestan
Saat itu, saya sangat yakin bahwa yang terpenting adalah hubungan langsung saya 
dengan Bapa, Kristus dan Roh Kudus. Hal ini membuat saya semakin yakin, saat 
itu, bahwa banyak tradisi di Gereja Katolik yang sebenarnya 'tidak perlu'; 
seperti penghormatan kepada Bunda Maria, santo/santa, otoritas Paus sebagai 
pemimpin gereja, pengakuan dosa terhadap pastor, tradisi dan simbol-simbol di 
gereja dll. Di samping itu, orang-orang Protestan juga saya nilai lebih serius 
terhadap iman Kristiani daripada orang-orang Katolik. Saya juga sangat 
tersentuh dengan Kebaktian di gereja Protestan; dengan lagu-lagu yang indah, 
dan pendalaman Alkitab yang sangat mengena. Saat itu saya merasa gereja 
Protestan begitu 'hidup' dengan musik, doa, dan firman Tuhan; dan saya melihat 
Gereja Katolik begitu penuh ritual, sulit dimengerti dan tidak bisa menjamah 
hati saya. Tanpa saya sadari, sedikit demi sedikit saya semakin meninggal kan 
Gereja Katolik. Mulai dari hanya sekedar sesekali datang ke gereja Protestan 
(inter-denominasi), menjadi anggota tetap gereja Protestan. Saya begitu 
terlibat di kelompok Protestan ini, sampai ingin menjadi seorang misionaris. 
Saya begitu mencintai Tuhan dan menginginkan banyak orang mengenal dan 
mencintai Tuhan seperti yang saya alami. 

Orang tua dan keluarga saya sangat menyesali keputusan yang saya ambil untuk 
pindah ke gereja Protestan. Mereka mencoba untuk mempengaruhi saya, tetapi 
selalu berakhir dengan perdebatan dan sakit hati. Ayah saya berkomentar "Lia, 
kamu sudah diajar di Gereja Katolik yang dimulai oleh Kristus, dan diteruskan 
oleh Petrus, rasul Kristus yang langsung diajar oleh Kristus sendiri, kenapa 
kamu masih pergi ke gereja lain?" Saya langsung menjawab dengan bersemangat, 
"Tetapi gereja Protestan bisa membuat saya lebih dekat dengan Tuhan, saya lebih 
mengerti akan Alkitab...". Perdebatan ini biasanya diakhiri oleh saya mengutip 
ayat Alkitab, dan orangtua saya tidak bisa menjawab lebih lanjut. Saya ingat 
bahwa hal ini membuat mereka sangat sedih dan menyesal. Akhirnya, orangtua saya 
hanya bisa berdoa agar suatu hari saya bisa kembali ke gereja Katolik. 

Tanpa terasa, sudah hampir 5 tahun lamanya saya menjadi anggota gereja 
Protestan. Selama studi saya di universitas, saya pernah kerja magang di 
Detroit (Michigan), dan mengambil Summer school di Houston (Texas). Di tempat 
yang berbeda ini, saya juga pindah ke gereja Protestan yang berbeda 
denominasinya. Di Detroit, saya pergi ke Gereja Baptis, di Houston saya pergi 
ke Gereja Pantekosta. Di tahun 1997, saya ditawarkan untuk bekerja di South 
Carolina. Saya pun pindah ke Gereja 'Southern Baptist'. Saya tidak tahu 
bagaimana caranya memilih suatu denominasi tertentu. Waktu saya tanya ke 
penasehat gereja saya yang dulu, dia hanya bisa menjawab, "Cari gereja yang 
cocok di hatimu dan bisa membuat kamu merasa senang".


Perjalanan pulang ke Roma
Di tahun 1996, Tuhan mempertemukan saya dengan calon suami saya: Kyle Brownell. 
Dia adalah seorang Amerika, dan seorang Katolik. Hampir semua teman Protestan 
saya tidak setuju akan hubungan saya dengan Kyle. Mereka mengganggap bahwa 
orang Katolik itu bukan 'orang percaya', sehingga harus diinjili. Saat itu saya 
pikir bahwa saya akan dipakai Tuhan untuk mengubahnya menjadi seorang 
Protestan, terutama karena dia (seperti banyak orang Katolik yang saya kenal) 
tidak begitu mengerti akan iman Katoliknya. Saya sangat yakin bahwa dalam waktu 
beberapa tahun, Kyle akan menjadi Protestan seperti saya. Tidak pernah saya 
bayangkan, bahwa ternyata saya keliru. Tuhan mempunyai rencana yang lain bagi 
kehidupan iman saya. 

Tinggal di South Carolina dengan lingkungan yang baru, jauh dari teman-teman 
ICF-Madison membuat saya merenung.. Untuk pertama kalinya saya bertanya-tanya 
di dalam hati, kenapa setiap saya pindah tempat, saya harus mencari gereja 
Protestan yang baru? Sebenarnya gereja Protestan mana yang lebih benar? Di 
Amerika sendiri gereja Protestan terdiri dari sekitar 20,000 denominasi. 
Semuanya menganggap denominasi-nya adalah yang benar, yang diinspirasikan 
langsung dari Roh Kudus. Kalau benar semuanya dari Roh Kudus, dan hanya ada 
satu Roh Kudus, kenapa ada 20,000 denominasi yang berbeda? Apakah cara orang 
memilih denominasi hanya didasarkan akan 'feeling good' (perasaan cocok/senang) 
saja? Apakah ada arti yang lebih mendalam daripada hanya sekedar 'feeling 
good'? Saya bertekat bahwa saya harus memutuskan untuk yang terakhir kalinya, 
gereja mana yang saya pilih. Kali ini saya harus benar-benar mengerti mengapa 
saya memilih gereja tersebut, dan bukan hanya sekedar 'feeling good' belaka. 

Hal lain yang membuat saya bertanya-tanya akan pengertian iman Protestan, 
adalah bahwa setelah seseorang "menerima Tuhan Yesus di dalam hati", seseorang 
langsung dijamin masuk surga. Walaupun dia melakukan dosa apapun selanjutnya, 
kekudusan Kristus akan menyelimuti hati orang tersebut. Dengan kata lain, 
seseorang akan tetap langsung masuk ke Surga kalau dia meninggal, walaupun dia 
tercemar akan dosa dan hidup dalam kegelapan, karena Kristus akan 
menyelimutinya dengan kekudusanNya. Kalau memang begitu, saya berpikir, apa 
alasan kita untuk menjadi lebih baik, menyucikan diri dan menjadi kudus? Di 
Alkitab jelas ditulis bahwa hanya orang kudus yang bisa masuk surga, bukan 
orang yang 'diselimuti' oleh kekudusan Kristus. Rasul Yakobus menulis secara 
jelas bahwa "Iman tanpa perbuatan adalah mati" (Yak 2:17, 26). Kalau begitu 
tidak cukup bahwa kita hanya mempunyai iman saja, tanpa disertai perbuatan. 
Perbuatan harus mengikuti iman, harus ada buah-buah iman yang terlihat lebih 
dari sekedar janji atau perkataan saja. Waktu saya tanyakan hal ini kepada 
pendeta/penasihat Protestan, mereka mengatakan bahwa apabila seorang yang 
'lahir baru' tidak menunjukkan perbuatan pertobatan, artinya dia tidak 
benar-benar diselamatkan. Tetapi, bagaimana gereja Protestan bisa dengan yakin 
mengatakan bahwa seseorang selamat atau tidak hanya berdasarkan pada 
pertanyaan, "Apakah kamu menerima Tuhan Yesus di dalam hatimu?" Bukankah 
keyakinan ini hanya berdasarkan iman saja? Saya melihat adanya pandangan yang 
tidak konsisten dari pernyataan iman Protestan ini. 

Gereja Protestan tidak memberikan penghormatan khusus kepada Bunda Maria. Maria 
hanya sekedar diakui sebagai bunda Yesus. Menghormati Bunda Maria dianggap 
sebagai pemujaan berhala. Apalagi pernyataan "Bunda Maria dikandung tanpa 
dosa". Ini dianggap sebagai pernyataan salah, karena di Alkitab ditulis semua 
orang jatuh ke dalam dosa (Rom 3:23). Ajaran Protestan akan Bunda Maria ini 
membuat saya bertanya-tanya. Bagaimana gereja Protestan menanggapi penampakan 
Bunda Maria yang terbukti terjadi di beberapa tempat di dunia, tentang banyak 
mukjijat yang terjadi sehubungan dengan penampakkan tersebut, dan dampak 
penampakan itu terhadap pertobatan jutaan orang yang kembali kepada Tuhan? Lalu 
bagaimana gereja Protestan mengartikan santo/santa yang telah meninggal ratusan 
tahun yang lalu, dan tubuhnya tetap utuh tidak berubah? 

Gereja Protestan juga mengartikan bahwa roti dan anggur yang diterima waktu di 
kebaktian, adalah simbol belaka untuk mengenang Kristus, tanpa ada arti yang 
lebih lanjut. Hal inipun membuat saya bertanya, bagaimana gereja Protestan 
mengartikan ayat Alkitab "Barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui Tubuh 
Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya" (1 Kor 11:29). Juga dalam kitab 
Rasul Yohanes setelah mereka mendengar Yesus mengajarkan hal Roti Hidup, banyak 
yang pergi meninggalkan-Nya (lih. Yoh 6:66), justru karena kesungguhan Yesus 
tentang hal ini. Apabila benar bahwa roti dan anggur hanya simbol biasa, 
mengapa menimbulkan akibat sampai sedemikian? Lalu bagaimana dengan banyak 
mukjijat yang terjadi sebubungan dengan 'hosti' kudus, yang buktinya masih 
dapat ditemukan saat ini? Sepertinya, saya berpikir, ada arti yang lebih 
daripada hanya sekedar simbol roti-anggur belaka. 

Semua pertanyaan ini membuat saya mulai ragu akan 'KEUTUHAN' iman Kristiani 
yang dipercayai oleh gereja Protestan. Hal ini membuat hati saya tidak damai. 
Sepertinya ada perdebatan di dalam hati saya, karena jawaban yang saya terima 
tidak memuaskan. Entah bagaimana, saya ingin berdoa dan menyembah Kristus dalam 
kedamaian. Saya tidak perduli lagi akan musik yang meriah, atau kotbah yang 
bersemangat. Yang saya butuhkan adalah kedamaian dan kebenaran yang utuh. Saya 
ingin merenungi kehidupan Kristus secara keseluruhan, termasuk kerendahan 
hati-Nya waktu membasuh kaki para murid-Nya dan sengsara-Nya di kayu salib. Di 
gereja Protestan, tidak ada upacara Kamis Putih atau Jumat Agung, mereka hanya 
merayakan Paskah. 

Di manapun saya berada, saya ingin pergi ke rumah Tuhan yang sama, yang percaya 
akan iman yang sama. Saya rindu akan gereja yang bisa menjawab pertanyaan saya 
di atas bukan dengan perdebatan, tetapi dengan pengertian yang utuh dan tidak 
mempertentangkan ayat yang satu dengan ayat yang lain. "Tuhan, mohon tunjukkan, 
saya harus ke gereja yang mana? Saya ingin ke gereja yang Engkau dirikan."


Gereja Katolik mempunyai jawaban 
Suatu hari, hal yang luar biasa terjadi dalam hidup saya. Sepertinya ada suara 
yang begitu lembut dalam hati saya memanggil saya untuk berdoa di Misa Gereja 
Katolik. Hal ini sangat aneh sekali bagi saya, karena saat itu sudah sekitar 6 
tahun saya meninggalkan Gereja Katolik. Ikut dalam perayaan Ekaristi kudus yang 
pertama kali setelah sekian lama memberikan kesan yang lain dalam hati saya. 
Fokus dari Misa adalah Kristus, Anak Domba Elohim. Saat inilah saya akhirnya 
dapat berdoa dengan damai dan menyatukan hati dengan pengorbanan Kristus. Di 
atas semua itu, ...bukan musik yang meriah, kotbah yang mengesankan, atau 
perasaan saya yang terpenting, tetapi kehadiran Yesus sendiri yang saya 
rindukan. Saya tidak dapat menjelaskan, tetapi saat itu untuk pertama kalinya 
saya merasa sangat rindu untuk menerima Tubuh Kristus di dalam Komuni kudus, 
sesuatu perasaan kehilangan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Suara 
yang lembut itu sepertinya memanggil saya untuk tidak meninggalkan Gereja 
Katolik. Sepertinya tidak adil, saya pikir, kalau saya memutuskan untuk 
meninggalkan Gereja Katolik tanpa benar-benar mengerti ajaran Gereja Katolik 
yang sebenarnya. Saya bertekat untuk mempelajari iman Katolik dengan lebih 
dalam, sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. 

Tuhan mempertemukan saya dengan pasangan suami-istri yang juga sedang ingin 
mendalami iman Katolik seperti saya. Mereka mengajak saya untuk belajar bersama 
dari buku-buku "Dr. Scott Hahn", seorang teolog Protestan ternama yang akhirnya 
menjadi Katolik. Dengan pengetahuan Alkitab yang sangat mendalam, Dr. Scott 
Hahn benar-benar menjawab pertanyaan saya dengan begitu jelas dan masuk akal. 
Selain Dr. Scott Hahn, kami juga belajar dari Katekismus Gereja Katolik, yang 
mengajarkan doktrin Gereja Katolik secara utuh dan sistimatis. Baru pernah saya 
melihat buku doktrin gereja yang setebal itu. Di gereja Protestan, mereka hanya 
belajar dari Alkitab saja, atau kalau ada buku doktrin, tidak pernah ada yang 
setebal buku doktrin Gereja Katolik. 

Dari pendalaman iman ini, saya belajar bahwa banyak sekali kesalah-pahaman 
tentang Gereja Katolik, yang tidak benar. Seperti contoh, Gereja Katolik banyak 
dipengaruhi oleh ritualitas manusia, yang tidak didasari Alkitab. Pengertian 
ini sangat salah sekali, sebab ternyata ajaran Gereja Katolik sangat 
Alkitabiah! Tetapi, karena ayat Alkitab mudah sekali untuk diinterpretasikan 
dari banyak sisi, Gereja Katolik juga percaya akan Tradisi Suci yang membantu 
menginterpretasikan ayat Alkitab dengan benar. Tradisi ini diturunkan dari 
Kristus kepada para rasul, Paus, uskup, dari generasi ke generasi. Hal inilah 
yang membuat Gereja Katolik tetap satu selama 2000 tahun lebih. Hal ini sangat 
masuk akal bagi saya, karena Kristus berkata kepada Petrus "Di atas batu karang 
ini saya akan dirikan GerejaKu", dan "Dia akan selalu beserta kita/GerejaNya 
sampai akhir" (Mat 16:18). Sebelum sengsaraNya, Kristus berdoa agar pengikutNya 
selalu bersatu. Karenanya, penting sekali bagi kita untuk mengakui otoritas 
dari Paus, sebagai pemimpin Gereja, dan mengikuti otoritas doktrin Gereja 
Katolik yang membahas iman Kristiani secara utuh, langsung diturunkan dari 
Kristus sendiri. 

Saya sangat terkagum waktu mengetahui bahwa ajaran Katolik tidak hanya 
berdasarkan Alkitab, dan juga sangat utuh mengupas penyempurnaan dari 
Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Contohnya adalah Misa Kudus sendiri. 
Pembagian Misa Kudus dari Liturgi Sabda and Liturgi Ekaristi berakar dari 
tradisi "pemecahan roti" yang dilakukan oleh rasul Kristus di Perjanjian Baru. 
Mereka berkumpul dan membahas ajaran Kristus dan 'memecahkan roti'. Kristus 
juga mengatakan bahwa "Inilah TubuhKu, dan inilah DarahKu. Lakukanlah ini 
sebagai kenangan akan Daku". Dia tidak mengatakan "Inilah simbol TubuhKu, dan 
inilah simbol DarahKu". Secara khusus, Kristus menginginkan kita untuk 
mengenangNya dengan melakukan perayaan Ekaristi. Suatu mukjijat terjadi saat 
itu, dimana roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Ini 
menjawab pertanyaan saya mengenai arti roti dan anggur yang lebih dari hanya 
sekedar simbol. "Kristus sebagai Anak Domba Elohim", adalah pemenuhan tradisi 
umat Yahudi di Perjanjian Lama, di mana anak domba dikorbankan untuk menjadi 
persembahan pengampunan dosa kepada Tuhan. Kristus adalah pemenuhan janji 
keselamatan Elohim, korban yang paling sempurna, yang menyelamatkan manusia 
dari dosa. 

Pertanyaan saya tentang Bunda Mariapun terjawab. Bunda Maria menempati tempat 
khusus di dalam rencana Keselamatan Elohim. Di kitab Kejadian, setelah manusia 
pertama jatuh dalam dosa, Bunda Maria sudah dinubuatkan, 'benih dari perempuan 
ini akan menjadi penyelamat dunia, dan bahwa iblis akan bertekuk lutut di 
kakinya" (Kej 3:15). Dan di akhir dunia, seperti disebutkan di kitab Wahyu, 
Bunda Maria dimahkotai di surga (Why 12: 1) yang melahirkan Sang Penyelamat. 
Melihat keutamaan Bunda Maria dalam rencana keselamatan Elohim, membuat saya 
yakin bahwa dia adalah seorang kudus yang harus kita hormati, seperti Kristus 
sendiri menghormatinya. Waktu Bunda Maria menampakkan diri kepada santa 
Bernadette, dia berkata "Akulah perawan yang dikandung tanpa noda", meyakinkan 
saya bahwa dia sungguh tidak berdosa. Seperti Malaikat Gabriel mengatakan 
"Salam Maria, penuh rahmat" (Luk 1:28), mengandung makna bahwa rahmat Tuhan 
sendirilah yang membuatnya tanpa dosa. Apabila Tuhan dapat membuat Anak-Nya 
lahir dari kandungan Bunda Maria, bukankah wajar kalau Diapun dapat membuat 
Kristus lahir di kandungan Bunda yang suci tanpa dosa? 

Pertanyaan saya tentang keselamatan pun terjawab dalam pengajaran Gereja 
Katolik. Gereja Katolik percaya bahwa Kristus adalah Penyelamat manusia dari 
dosa. Dengan percaya kepadaNya kita menerima janji keselamatan di Surga. 
Tetapi, keselamatan ini dapat hilang, apabila iman kita tidak diikuti perbuatan 
(Yak 2:17,26). Tuhan ingin kita menjadi kudus, karena tanpa kekudusan kita 
tidak bisa masuk ke Surga (Ibr 12:14). Kekudusan ini harus dinyatakan dengan 
pemurnian iman dalam perbuatan kita sehari-hari, untuk lebih mencintai dan 
mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal ini kita lihat dari para rasul dan orang 
kudus yang meninggal dengan mengorbankan diri untuk Tuhan. Iman mereka bukan 
hanya berdasarkan perkataan saja, tetapi oleh pengorbanan yang dilakukan karena 
kasih kepada Kristus, mengikuti teladan Kristus yang rela mati di kayu salib 
untuk kita. Hal ini meyakinkan saya bahwa tidak cukup kita hanya "menerima 
Kristus di hati kita", tetapi kita juga harus mengikuti contoh Kristus dan 
mencintaiNya sedemikian rupa dalam pengorbanan hidup kita sehari-hari. Karena 
itulah Kristus mengajarkan, "Bukan mereka yang memanggil Tuhan, Tuhan, yang 
akan diselamatkan, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa di surga" (Mat 
7:21). Ajaran Gereja Katolik tentang keselamatan inilah adalah jawaban terakhir 
yang saya perlukan untuk kembali ke Gereja Katolik. 

Saya merasa sungguh bahagia sekali, sekarang saya sudah 'pulang' ke rumah Tuhan 
di Gereja Katolik. Ke manapun, saya tidak perlu bingung pergi ke gereja yang 
mana, karena di manapun Gereja Katolik tetap sama. Saya yakin bahwa Gereja 
Katolik ini bukan didirikan oleh orang biasa, tetapi oleh Kristus sendiri. 
Kristus berjanji bahwa "GerejaNya akan utuh sampai akhir", dan ini telah 
terbukti di dalam Gereja Katolik yang bertahan dari 2000 tahun yang lalu sampai 
sekarang. Deep inside my heart, I leapt for joy for I could finally say, "Here, 
I am, Lord. I am HOME.."
 
Tentang Penulis


Maria Brownell (Lia) menikah dengan seorang berkebangsaan Amerika dan dikarunia 
tiga anak laki-laki. Bersama dengan suami, Lia telah menyelesaikan master of 
theological study di Institute for Pastoral Theology - Ave Maria University, 
USA.
comment this article : 
http://katolisitas.org/2008/11/08/thank-you-jesus-i-am-home/

Visit us at  www.secapramana.net
The only Friendly Homepage that makes you feel comfortable, fresh, and peaceful
BY YOUR FAITH YOU HAVE SALVATION 

=====================================================

From: Dody 

Peninggalan Kerajaan Majapahit adalah Gereja

URL: http://ob.or.id/modules.php?name=News&file=article&sid=381

Anda bisa melihatnya di [ Obor Indonesia ]
http://ob.or.id

"Allah" Nama yang Dipermasalahkan
(Tanggal: 2008-01-28 11:40:30)
Topik: Artikel
URL: http://ob.or.id/modules.php?name=News&file=article&sid=546
http://www.ob.or.id/modules.php?name=News&file=article&sid=546

Anda bisa melihatnya di [ Obor Indonesia ]
http://ob.or.id


Download lagu2 rohani

http://www.indomp3z.us/forumdisplay.php?f=69
www.kidung.com 
www.airhidup.com

Kirim email ke