PAHLAWAN-PAHLAWAN KRISTUS
oleh: Pdt. Buby N. Ticoalu, D.Min.
Nats: 1 Tawarikh 11:10-12:33
Dalam suasana Natal ini sekali lagi saya mau mengajak kita membaca firman
Tuhan dari 1 Tawarikh pasal 11 dan 12. Kalau saya bacakan bagian ini mungkin
saudara akan segera tertidur karena ada begitu banyak nama-nama yang disebutkan
dan sepertinya tidak ada cerita di sini. Tetapi kita akan melihat butir-butir
mutiara yang begitu indah di dalam bagian ini.
Di sini tertulis, “Inilah kepala-kepala para pahlawan yang mengiringi Daud,
yang telah memberi dukungan yang kuat kepadanya, bersama-sama seluruh Israel
guna mencapai kedudukan raja dan yang mengangkat dia sebagai raja, seperti yang
difirmankan Tuhan mengenai Israel..” Jadi jelas dia menduduki kedudukan raja
seperti yang difirmankan Tuhan mengenai Israel. Pahlawan-pahlawan Daud yang
ditunjukkan di sini adalah orang-orang yang sungguh-sungguh dengan jelas sekali
berjuang mati-matian. Dengan lelah mereka berjuang untuk berperang dengan
mempertaruhkan segala-galanya dan mereka tidak melihat ke kiri dan kanan.
Inilah karakter-karakter di dalam diri pahlawan yang menyatakan bagaimana
mereka berjuang dengan lelah di dalam mendukung Daud. Mereka berperang bagi
Tuhan. Pertanyaan kita di sini, bagaimana pahlawan-pahlawan dengan karakter
mereka ini?
1. Orang-orang yang gagah berani.
Sepintas lalu kelihatannya orang-orang yang mendukung Daud ini adalah
orang-orang yang luar biasa, mempunyai suatu kemampuan yang luar biasa. Mereka
sangat hebat, mereka terampil dan mereka sangat berani untuk berperang
menerobos pasukan-pasukan musuh. Mereka bukan nekad, tetapi benar-benar
mempunyai satu motivasi yang murni di dalam pelayanan. Mereka sungguh-sungguh
mendukung Daud. Kenapa? Karena mereka tahu bahwa Daud ini adalah orang yang
dipilih Tuhan, maka itu sebabnya mereka dengan berani mempertaruhkan
segala-galanya untuk berjuang dan mempertahankan apa yang mereka yakini sebagai
kehendak Tuhan.
Pada waktu kita memikirkan sifat yang seperti ini, di zaman ini di
tengah-tengah tantangan yang kita sedang hadapi maka kita sekarang perlu
berpikir di manakah sebenarnya orang-orang yang betul-betul sebagai
pahlawan-pahlawan yang berani di tengah-tengah dunia ini? Di manakah
pahlawan-pahlawan iman yang berkata sebagai orang Kristen yang benar-benar
mempertaruhkan hidupnya berjuang bagi Tuhan, bukan menjadi orang Kristen yang
hanya menikmati berkat-berkat Tuhan, tetapi menjadi orang-orang Kristen yang
benar-benar tangguh untuk berperang? Di sini yang saya maksudkan dengan
keberanian adalah dengan segala kemampuan yang ada pada kita yang berbeda-beda
berani kita berikan demi untuk mendukung pekerjaan Tuhan yang kita mengerti
sebagai satu kehendak Allah sesuai dengan firman-Nya. Maka itu sebabnya mereka
menyatakan keberanian mereka. Di manakah pahlawan-pahlawan yang begitu berani?
Dari sejak dulu kita lihat memang pekerjaan Tuhan membutuhkan orang-orang
yang mempunyai suatu niat dan hati yang berani berkorban. Omong kosong kita
berkata kita berani berkorban diri, omong kosong kita mengatakan bahwa kita
berani mengorbankan hidup kita jikalau apa yang Tuhan percayakan kepada kita
tidak berani kita berikan untuk Tuhan. Di sini perlu kita pikirkan baik-baik
pengorbanan Allah pada waktu memberikan Anak-Nya yang tunggal dengan luar biasa
itu bukan diresponi dengan semacam perasaan yang emosional, dengan kita merasa
begitu syahdu merayakan Natal, tetapi tidak ada hati yang terbakar untuk Tuhan.
Itu omong kosong merayakan Natal.
2. Orang-orang yang berhikmat.
Kemudian kita melihat dukungan yang kedua dari pahlawan Daud di 1 Tawarikh
12:32 “dari bani Isakhar, orang-orang yang mempunyai pengertian tentang
saat-saat yang baik sehingga mereka mengetahui apa yang harus diperbuat oleh
orang Israel…” Inilah orang-orang yang bukan saja menyatakan keberanian mereka,
tetapi ini adalah orang-orang yang Tuhan berikan hikmat untuk menilai zaman,
untuk mengerti akan zaman ini dan tahu apa yang harus diperbuatnya. Ini penting
sekali. Mengetahui apa yang sedang terjadi dan mengetahui apa yang harus
dilakukan. Kita ingat bagaimana Yesus Tuhan pernah mengeritik dengan tajam
sekali dan berkata kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat, “Kamu dapat
menilai bagaimana cuaca, hari akan panas atau akan hujan, tetapi kamu tidak
dapat menilai zaman ini..” Tetapi orang-orang yang mendukung Daud ini hebat
sekali, mereka menilai zaman dan tahu apa yang harus diperbuat. Berarti ada
hikmat untuk mengerti di tengah-tengah situasi yang seperti ini
apa yang harus kita perbuat. Situasi dunia belum pernah dan tidak akan pernah
menjadi lebih baik, tetapi kita perlu tahu bukan hanya dengan keberanian,
tetapi perlu tahu apa yang harus kita perbuat.
Orang-orang Kristen yang dibutuhkan pada hari ini adalah orang-orang Kristen
yang mempunyai hikmat untuk mengerti dan tahu apa yang harus diperbuatnya di
tengah zaman ini. Saudara mungkin berada di tempat ini merasa semuanya berjalan
dengan aman dan baik, tetapi Kekristenan di seluruh dunia ini bukan berada
dalam keadaan yang aman. Bagaimana kita sebagai satu bagian dari Gereja yang
kudus dan am ini, satu Gereja di mana orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan
harus mempunyai hikmat, bukan cuma berani. Karena hari ini ada banyak orang
yang juga berani, ada banyak orang yang begitu bersemangat, tetapi sayang
sekali tidak punya hikmat. Maka itu sebabnya Paulus berkata, “Perhatikanlah
dengan seksama bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang yang tidak bijaksana,
tetapi hendaklah kamu jadi bijaksana. Jangan kamu menjadi bodoh dan tidak
mengerti, tetapi mengertilah akan kehendak Allah.” Ini satu hal yang saya kira
merupakan hal yang sungguh-sungguh serius sekali. Perhatikan
ini adalah pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa dan mereka berani berjuang,
inilah pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa dan mempunyai hikmat, tahu apa yang
harus diperbuat. Sayang sekali kalau saya harus berkata, banyak orang Kristen
di Indonesia ikut kebaktian ramainya bukan main, tetapi maaf kalau saya berkata
terlalu banyak yang bodoh, tidak mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan.
Rasanya puas bagi diri sendiri, mempunyai banyak pergumulan lalu datang
kebaktian merasa diberkati, senang dan ada damai lalu pulang, kemudian berhenti
sampai di sana. Kalau Yesus lahir hanya untuk kepentingan diri kita sendiri
diselamatkan, kalau Yesus lahir hanya supaya kita menikmati kehidupan ini dan
merasakan berkat-berkat-Nya, alangkah malangnya kita ini dan alangkah tidak
bernilainya kelahiran Kristus. Yesus lahir untuk keselamatan dunia ini. Kita
mendapatkan keselamatan itu, kita juga terpanggil untuk supaya menjadi berkat
bagi banyak orang. Menilai zaman ini dengan hikmat dan bukan
dengan bodoh. Bukan sekadar dengan semangat yang berkobar-kobar tetapi dengan
hikmat untuk tahu apa yang harus diperbuat.
Saya mau menantang saudara untuk berpikir apa yang harus saudara perbuat bagi
zaman ini bagi gereja saudara dan bagi kehidupan saudara. Apa yang harus
saudara perbuat? Jangan cuma datang ke gereja hanya untuk berdoa minta usaha
supaya lebih baik. Jangan datang ke gereja dan berdoa minta Tuhan memberkati
diri saudara, hanya itu yang saudara doakan. Tetapi hendaklah mengerti apa yang
menjadi kehendak Tuhan di tengah-tengah zaman ini. Tuhan membutuhkan
orang-orang seperti ini.
3. Orang-orang yang tidak bercabang hati.
Dan yang ke tiga dari pahlawan-pahlawan ini ada di 1 Tawarikh 12:33, “..dari
Zebulon orang-orang yang sanggup berperang dengan berbagai senjata, 50.000
orang yang siap memberi bantuan dengan tidak bercabang hati.” Betapa luar biasa
kerajaan Daud ini, didukung oleh orang-orang yang berani, tetapi bukan
orang-orang bodoh. Orang-orang berani tetapi juga berhikmat yang tahu apa yang
harus diperbuat dan sekarang mereka dilengkapi dengan orang-orang yang tidak
bercabang hati. Ada integritas yang jelas sekali dalam kehidupan mereka.
Kesetiaan, loyalitas yang tidak bercabang hati, siap memberi bantuan, siap
untuk melayani, siap untuk melakukan kehendak Allah. Ini adalah yang dikatakan
di sini. Betapa indahnya tonggak-tonggak di dalam kerajaan Daud. Mereka
mendukungnya dengan keberanian, hikmat bijaksana, dan betul-betul dengan tidak
bercabang hati. Bagi saya hal yang ketiga ini serius sekali. Terlalu banyak
orang-orang yang berkata sebagai orang Kristen tetapi bercabang hati.
Di manakah pahlawan-pahlawan Kristus yang tidak bercabang hati pada zaman ini?
Itu yang Tuhan butuhkan. Bercabang hati adalah hal yang menjadi kebencian bagi
Tuhan. Yakobus berkata, “sucikan hidupmu, kuduskan hatimu dan jangan bercabang
hati.” Di tengah-tengah tantangan dunia ini terlalu gampang kita kemudian punya
hati bercabang. Di tengah-tengah merayakan Natal sekalipun banyak kali kita
bercabang hati. Bukan untuk kemuliaan nama Tuhan tetapi untuk kenikmatan kita
sendiri. Di mana integritas Kekristenan kalau demikian?
Daud didukung oleh orang-orang yang luar biasa, yang tidak bercabang hati,
siap memberikan bantuan kapan saja diperlukan dan mereka melakukannya dengan
tidak bercabang hati. Mengapa? Karena mereka tahu Daud adalah raja yang diurapi
oleh Allah. Mereka tahu kerajaan Israel itu adalah seturut dengan kehendak
Allah untuk menjadi berkat bagi banyak orang dan di situlah mereka mengambil
bagiannya. Dan kenapa mereka begitu berani? Satu ayat kunci yang kita baca
tadi: Tuhan yang memberikan mereka kemenangan. Bukan soal mereka, tetapi di
sini Tuhan memberikan mereka kemenangan yang besar. Mereka tahu mereka itu
disertai oleh Tuhan. Dalam Yesaya 9 yang kita baca tadi jelas sekali terlihat
theological connectionnya, “...kecemburuan Tuhan semesta alam akan melakukan
hal ini..” Di sini bukan soal cemburu yang kita mengerti, tetapi gairah dan
semangat yang luar biasa, keinginan yang dalam yang dinyatakan Tuhan yang akan
menggenapkannya. Daud sebagai raja didukung, dan Allah
menggenapkan rencana keselamatan melalui siapa? Jelas sekali melalui Anak Daud
itu yang dijanjikan di sini dan kerajaan-Nya yang tidak berkesudahan di sini
ditujukan kepada Tuhan Yesus Kristus, yang kerajaan-Nya tidak akan
berkesudahan. Kecemburuan Tuhan Allah sendiri yang akan menggenapkannya. Dan
kerajaan Daud itu menuju kepada kerajaan Allah, Yesus sebagai Raja dan itulah
yang kita rayakan, Yesus yang bukan lagi di palungan tetapi Yesus sebagai Raja
di dalam kerajaan Allah yang oleh kecemburuan Tuhan itu digenapkan. Betapa kita
lihat satu hal yang luar biasa. Kalau orang-orang ini bisa setia kepada raja
Daud, di sini ada Raja yang di atas segala raja yaitu Yesus Kristus. Kalau
mereka boleh setia kepada Daud, berapa banyak orang-orang Kristen yang kemudian
boleh setia kepada Tuhan, Raja yang di atas segala raja.
Kemudian kita lihat yang terakhir, cerita tadi kita lihat sebagai satu
perenungan, bukan penafsiran. Waktu itu Daud merindukan air yang ada dari sumur
Betlehem. Daud pada waktu itu seperti sedang homesick, seperti kita bicara mau
makan soto Sulung yang di Surabaya. Orang yang sudah lama di luar negeri mulai
pikir rujak cingur yang ada di Malang itu enaknya bukan main. Yang lain sudah
mau pulang ke Jakarta berpikir, bakmi Gajah Mada itu enak sekali. Daudpun
demikian. “Oh alangkah indahnya kalau ada orang yang mengambilkan air dari
sumur yang di Betlehem itu.” Padahal orang Filistin ada di sana.
Pahlawan-pahlawan ini tidak ada yang mengkomando. Mereka terobos pertahanan
orang Filistin, ambil air itu demi Daud dan membawanya kepada Daud. Tetapi Daud
tidak berani minum. “Bagaimana aku minum air ini? Saya tidak layak menerimanya.
Ini bukan air, ini darah.” Dan ia persembahkan air itu kepada Tuhan. Kenapa?
Yang layak menerima korban seperti ini, Daud tahu, bukan aku
tetapi Dia yaitu Raja yang di atas segala raja, yang lahir di Betlehem. Dialah
yang layak untuk menerima segala sesuatu itu. Dan kalau Daud mengatakan, oh
betapa rindu aku untuk minum air dari Betlehem itu, apa kata Tuhan Yesus?
“Barangsiapa yang haus baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” Yesus memanggil.
Tetapi pertanyaannya, berapa banyak orang yang bisa datang ke Air yang Hidup
itu? Bagaimana mereka bisa datang kalau tidak ada orang yang membawanya? Di
manakah pahlawan-pahlawan iman yang seperti pendukung Daud, bisa membawa orang
datang kepada Air Hidup itu? Kita tidak perlu menerobos tentara Filistin untuk
mengambil air, tetapi kita dibutuhkan sebagai orang-orang yang akan membawa
orang lain kepada Kristus yang berkata, barangsiapa haus baiklah ia datang
kepada-Ku dan minum. Pada waktu saya merenung sampai di sini hati saya
tergugah. Di hadapan Tuhan saya menangis, dan hati saya memang bertanya, di
tengah sekian banyak orang yang berteriak haus di tengah dunia
ini, yang tidak punya pengharapan, di tengah-tengah orang yang sedang minum
air mata dalam pergumulan kehidupan ini, di manakah pahlawan-pahlawan Kristus
yang rela berkorban membawa mereka kepada Air Hidup itu? Di manakah orang
Kristen yang bukan cuma berpuas diri, tetapi rela dengan sungguh-sungguh,
dengan berani dan tidak bercabang hati, dengan hikmat untuk membawa orang-orang
itu datang kepada Tuhan. Yesus mengundang orang-orang datang kepada-Nya, tetapi
pertanyaannya adalah: siapa yang membawa orang-orang itu? Siapa yang rela
menembus tantangan untuk membawa orang-orang itu kepada Tuhan? Itulah
pertanyaannya bagi kita. Saya berkata hari ini, omong kosong kita bicara Natal,
kalau Natal itu tidak menjadi bagian bagi orang lain. Kalau kita kemudian tidak
membawa arti Natal Air Hidup itu bagi orang lain. Kalau kita tidak bisa bawa
orang lain datang kepada Tuhan Yesus maka kita tahu Natal tidak ada arti
apa-apa lagi. Kalau pahlawan-pahlawan itu bisa mendukung Daud, di
manakah pahlawan-pahlawan iman pada hari ini? Saudara dan saya untuk rela
membawa orang-orang yang haus, dapati mereka, yang sedang minum air mata
menghadapi Natal untuk mereka datang ke Air Hidup, menerima-Nya, dan mempunyai
hidup yang berkelimpahan. Betapa manisnya Natal itu kalau didukung oleh
orang-orang yang sungguh sebagai pahlawan-pahlawan di dalam Tuhan. (Kz)
Sumber:
Ringkasan khotbah Pdt. Buby N. Ticoalu di Kebaktian Natal di Mimbar Reformed
Injili Indonesia (MRII) Sydney, Australia tanggal 7 Desember 2003.
Profil Pdt. Dr. Buby N. Ticoalu:
Pdt. Buby N. Ticoalu, D.Min. adalah Dosen Theologi Praktika dan Perjanjian
Baru di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau menyelesaikan
studi Sarjana Theologi (S.Th.) dari SAAT Malang; Master of Arts in Religion
(M.A.R.) dan Doctor of Ministry (D.Min.) dari Westminster Theological Seminary,
U.S.A.
Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio
""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
(1Sam. 16:7b)
---------------------------------
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!