From: Romo maryo “Langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataanKu tidak akan berlalu.” (Why 20:1-4, 11-21:2; Luk 21:29-33)
“Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja.Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Ada atau kebanyakan orang, organisasi atau ‘badan hukum’ sering berusaha untuk mengumpulkan ‘dana abadi’ bagi masa depan. Maksud dari kata ‘abadi’ tersebut kiranya adalah tidak boleh dirubah atau dikurangi sedikitpun, syukur bertambah. Rasanya istilah yang benar adalah ‘modal’ bukan ‘abadi’, maklum sebesar apapun dana atau uang yang disimpan di bank pada suatu saat dapat hilang atau tidak ada artinya apa-apa, misalnya karena perang atau musibah besar. Segala sesuatu yang ada di bumi ini senantiasa berubah dan pada waktunya musnah. Kita, manusia juga senantiasa berubah, dan jika tidak bersedia berubah atau merubah diri pasti tidak akan mampu mengikuti perkembangan zaman. Yang tidak berubah adalah ‘Sabda Tuhan’, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, yang tertulis sekian abad yang lalu sampai kini masih up to date dan memadai. Maka marilah kita senantiasa merubah diri atau memperbaharui diri dengan mawas diri terus menerus dalam terang Sabda Tuhan atau iman. “Dalam terang/semangat iman Kristiani (kami) hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”, demikian kurang lebih isi azas aneka lembaga atau badan hukum publik kristiani/ katolik. Untuk itu maarilah kita mawas diri dengan bantuan semangat atau spiritualitas para pendiri hidup/ paguyuban bersama, misalnya : Ignatius Loyola -> “Ad Maiorem Dei Gloriam”(AMDG) = Demi bertambahnya kemuliaan Tuhan. Dalam bahasa Jawa singkatan AMGD = “Amrih Mulyo Dalem Gusti”. Maka marilah dalam cara hidup atau cara bertindak kita dimana pun dan kapan pun senantiasa demi kemuliaan Tuhan, artinya baik diri kita sendiri maupun sesama atau saudara-saudari kita yang kena dampak hidup dan tindakan kita semakin memuliakan Tuhan dalam hidup sehari-hari, menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan. Tanpa Tuhan kita dan dunia ini tidak mungkin tumbuh berkembang sebagaimana terjadi sampai saat ini dan kiranya akan terus tumbuh dan berkembang, sebaliknya hanya dalam Tuhan kita dapat mengikuti aneka perkembangan dan pertumbuhan yang sedang dan akan terjadi. · “Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Elohim; yang tidak menyembah binatang itu dan patung nya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun.”(Why 20:4). Apa yang dilihat oleh penulis Kitab Wahyu ini akan menjadi kenyataan atau terwujud dalam diri kita jika kita selama hidup di dunia ini senantiasa hidup bersama dengan Tuhan, melaksanakan kehendak Tuhan. Sebaliknya mereka yang ‘menyembah binatang dan patung’ alias menyembah atau berbakti pada berhala-berhala modern seperti harta benda/uang, pangkat/ kedudukan dan kehormatan duniawi selama hidup di dunia ini, maka mereka akan ‘dilemparkan ke dalam lautan api’, sehingga musnah dan tak berbekas serta tak akan dikenang oleh anak cucu atau penerus-penerusnya. Kita semua dipanggil untuk menjadi ‘suci’, agar setelah mati atau dipanggil Tuhan dianugerahi kuasa sebagai ‘raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun atau selamanya’, sebagaimana telah kita imani dalam diri para santo dan santa. Nama mereka diabadikan atau dipakai banyak orang beriman Kristiani atau Katolik, nama baptis. Maka baiklah di hari-hari akhir tahun liturgy saat ini kita mawas diri dengan atau melalui santo atau santa yang menjadi pelindung kita masing-masing. Marilah ‘back to basic’, kembali pada saat kita menerima rahmat baptisan, disucikan, dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan, dimana kita bernjanji ‘hanya mau mengabdi Tuhan Elohim saja dan menolak aneka macam godaan setan’. Janji inilah yang mendasari hidup iman, panggilan dan tugas pengutusan kita, baik awam, imam atau biarawan-biarawati pernah berjanji macam itu. Janji ini juga menjadi ikatan yang kuat di antara kita yang percaya pada Yesus Kristus/Tuhan, dan dengan demikian kita bergotong-royong, saling membantu atau menolong dalam penghayatan janji, dengan harapan kelak kita semua juga dianugerahi menjadi ‘raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun’ “Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Elohim yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Elohimku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau” (Mzm 84:3-5) =================================================== From: Romo maryo “Jagalah dirimu supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan duniawi” (Why 22:1-7; Luk 21:34-36) "Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”(Luk 21:34-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Hari ini adalah hari terakhir di dalam Tahun Litrugy dan dalam Warta Gembira hari ini kepada kita disampaikan pesan yang sangat bagus untuk kita renungkan dan hayati dalam hidup sehari-hari. Berbagai tawaran dan rayuan mendatangi kita semua, entah melalui iklan di media massa, spanduk atau secara langsung atau etalase toko dll., yang dapat mendorong atau memotivasi orang untuk hidup berpesta pora dan bermabuk-mabukan alias lebih mengutamakan kepentingan/kenikmatan duniawi daripada jiwanya. “Menurut survei yang dilakukan WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk, diperkirakan pada tahun 1995 terdapat 4,5 juta pengidap diabetes dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 12,4 juta penderita”(http://www.depkes.go.id). Penyakit diabetes antara lain disebabkan oleh gaya hidup yang sarat dengan pesta pora dan kemabukan atau kenikmatan-kenikmatan duniawi, dan dari diabetes muncul aneka penyakit dan kelemahan organ tubuh manusia yang mematikan. Maka baiklah kita senantiasa ‘berjaga-jaga dan berdoa’ agar kita tahan berdiri di hadapan Anak Manusia, tetap sehat dan segar bugar baik secara jasmani maupun rohani. Berjaga-jaga secara jasmani antara lain: mengkomsumsi makanan dan minuman yang sehat dan bergizi, olahraga dan istirahat teratur, dan tentu saja perlu diiringi secara rohani dengan berdoa setiap hari, saat sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan. Secara moral juga perlu antara lain senantiasa ‘berpikir positif’ (positive thinking) dalam menghadapi atau menyikapi segala sesuatu, artinya memetik hikmat yang baik dalam segala sesuatu yang kita hadapi. Maka kepada mereka yang suka berpesta pora dan bermabuk-mabukan serta malas bergerak atau berolahraga maupun berdoa, kami ajak untuk bertobat dan memperbaharui diri, agar pada suatu saat ketika dipanggil Tuhan senantiasa dalam keadaan ‘siap siaga’, tidak perlu gelisah. · "Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!”(Why 22:7) dan “ malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Elohim akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lama nya”(Why 22:5). Orang yang dalam hidup sehari-hari senantiasa hidup baik, menghayati atau melaksanakan kehendak Tuhan, ketika didatangi Tuhan secara khusus alias pribadi yaitu pada menit-menit atau detik-detik terakhir menjelang kematiannya tidak akan gelisah melainkan tersenyum gembira, ceria, sehingga ketika telah kaku menjadi jenasah nampak lebih cantik, tampan dan eeria. Tuhan Elohim pun juga menerangi saudara dan sanak-kerabatnya, sehingga mereka juga tetap gembira, ceria dan bersyukur. Maka marilah kita semua dengan rendah hati dan saling membantu ‘menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab’ yang telah kita baca, dengarkan maupun renungkan. Keunggulan hidup beriman terletak dalam ‘menuruti’ alias melaksanakan atau menghayati, bukan dalam omongan, kata-kata atau basa-basi. Dengan menghayati iman dalam hidup sehari-hari ketika kita harus menghadapi ‘malam’ alias kekacauan, kesemrawutan atau apapun yang amburadul, kita akan tetap tegar, segar bugar, sehingga kehadiran kita dapat menjadi ‘terang’ bagi mereka yang sedang menderita atau kacau balau. Orang yang unggul dalam penghayatan iman akan menjadi ‘raja’ alias panutan atau teladan bagi sesamanya dimana pun dan kapan pun. Marilah kita meneladan Bunda Maria, teladan umat beriman yang senantiasa ‘mendengarkan dan merenungkan dalam hati apa yang menjadi sabda Tuhan atau disampaikan oleh sesama dan saudara-saudari kita’. ‘Mendengarkan dan merenungkan dalam hati’ berarti ‘merasukkan’ apa yang kita dengar ke dalam tubuh kita, sehingga menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. “Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita.Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.Sebab TUHAN adalah Elohim yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala Elohim.Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunung pun kepunyaan-Nya. Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.” (Mzm 95:1-5) =================================================== From: Romo maryo Mg Adven I : Yes 63:16b-17; 64:1.3b-8; 1Kor 1:3-9; Mrk 13:33-37 “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang” Sebagai murid/pelajar/mahasiwa baru, suami-isteri/penganten baru, imam/bruder/suster baru, pekerja atau pejabat baru dst.. pada umumnya yang bersangkutan sarat atau penuh dengan harapan-harapan, impian-impian atau cita-cita. Sebagai ‘yang baru’ mereka juga senantiasa hidup bergairah, bersemangat, dinamis, terbuka dst…dalam menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan dan kewajiban-kewajibannya. Hari ini kita memasuki tahun baru kalendarium liturgy, masa Adven, yang diwarnai keutamaan pengharapan, harapan akan pemenuhan janji Elohim, kelahiran atau kedatangan Yesus, Penyelamat Dunia. Sebagaimana seorang ibu yang sedang mengandung serta menantikan kelahiran anak yang dikandungnya pada umumnya dijiwai keutamaan pengharapan serta bentuk-bentuk matiraga tertentu, demikian pula dalam masa Adven kita dipanggil untuk mawas diri perihal keutamaan pengharapan serta matiraga atau laku tapa yang kita butuhkan agar dapat hidup bahagia, damai sejahtera. “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur”(Mrk 13:35-36) Kutiipan di atas ini kirannya mengajak dan mengingatkan kita semua agar senantiasa siap sedia dan rela sewaktu-waktu dipanggil Tuhan alias meninggal dunia. Tidak ada seorangpun di dunia ini tahu kapan ia dipanggil Tuhan atau meninggal dunia, kecuali orang yang tak bermoral atau penjahat karena bunuh diri atau dihukum mati karena kejahatannya. Kita semua dipanggil untuk berjaga-jaga, yang antara lain senantiasa menghayati keutamaan pengharapan disertai keutamaan yang diperlukan dalam hidup sehari-hari, di dalam keluarga, tempat tugas/kerja maupun masyarakat pada umumnya: · Menghayati keutamaan pengharapan dan matiraga di dalam keluarga antara lain dengan hidup saling mengasihi antar anggota keluarga dengan teladan orangtua atau suami-isteri yang telah berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. Saling mengasihi berarti siap sedia untuk mengasihi dan dikasihi; rasanya yang kurang memperoleh perhatian dan penghayatan adalah ‘siap sedia dikasihi’. Kasih tidak selalu lembut tetapi dapat keras atau menyakitkan, misalnya diberitahu, ditegor, dinasihati, dikritik, diluruskan, dst… Dalam hal ‘dikasihi’ inilah kiranya orang dituntut matiraga atau rendah hati, karena dikasihi berarti dipandang atau dinilai rendah, kurang atau lemah dan pada umumnya orang tidak siap untuk diperlakukan demikian itu. Maka hendaknya ketika dikasihi tetap penuh pengharapan alias ceria dan gembira, meskipun karena dikasihi kita harus berkorban atau merasa ‘sakit’ atau ‘menderita’. Sakit atau derita anda pasti akan memperkuat atau memperteguh pengharapan anda, sehingga senantiasa rindu ‘pulang ke rumah’, berkumpul dengan segenap anggota keluarga. .· Para pekerja atau pegawai sering memiliki ‘penyakit hari Senin’, maksudnya setelah menikmati liburan ‘week-end’ terasa enggan masuk kerja dan rasanya ingin liburan terus, sehingga memasuki hari pertama dalam kerja/hari Senin ada rasa enggan alias kurang bergairah atau berpengharapan. Kepada mereka yang merasa enggan atau kurang bergairah memasuki hari Senin kami ajak untuk merenungkan dan menghayati kutipan ini: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu” (Rat 3:22-23). Kiranya tidak hanya hari Senin saja kita harus bergairah dan bersemangat, tetapi setiap pagi hari begitu bangun mengawali hari dan masuk kerja atau sekolah hendaknya tetap bergairah, penuh semangat dan pengharapan. Bukankah sedikit banyak hidup kita masa kini dan masa depan tergantung dari tempat kerja atau tempat belajar kita masing-masing? Mengawali hari dan kerja atau tugas pengutusan dengan gairah dan pengharapan akan lebih berhasil atau sukses daripada ‘ogah-ogahan’ atau tidak bergairah. · Masyarakat kita masa kini sarat dengan tantangan, hambatan dan godaan dalam berbagai bentuk atau cara. Aneka macam bentuk perbedaan (suku, ras., agama, jabatan/ pekerjaan/tugas, pengalaman dst..) dapat menjadi sumber permusuhan atau pertikaian Marilah kita hadapi dan sikapi aneka perbedaan yang ada di antara kita dengan gairah dan pengharapan; saling belajar dan memperkaya satu sama lain. Dengan rendah hati kita hayati sikap mental belajar terus menerus: belajar tidak hanya di sekolah atau perguruan tinggi atau membaca buku, mengkuti lokakarya, seminar dst.., tetapi dalam pergaulan bersama dengan siapapun kita dapat belajar. Ingat dan sadari bahwa ‘lingkungan hidup’ sangat mempengaruhi hidup, pertumbuhan dan perkembangan kita masing-masing. Kita harus saling mendengarkan dan memang mendengarkan butuh kerendahan hati dan pengorbanan. “Di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus “(1Kor 1:5-7) Jika kita mawas diri, mencermati dan memperhatikan diri kita masing-masing dengan baik dan memadai, kiranya masing-masing dari kita bertambah usia berarti semakin diperkaya ‘dalam segala hal, dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan’. Kita diperkaya oleh Elohim melalui orangtua, kakak-adik, saudara-saudari dan kenalan serta sahabat kita dalam berbagai kesempatan, entah berupa perkataan, pengetahuan maupun keterampilan. Maka selayaknya kita senantiasa hidup penuh syukur dan terima kasih serta kita wujudkan syukur dan terima kasih dengan kegairahan hidup bersama di manapun dan kapanpun, bersyukur dan berterima kasih kepada siapapun. Ingat, sadari dan hayati bahwa aneka macam perkataan, pengetahuan dan keterampilan yang disampaikan kepada kita adalah perwujudan ‘kasih’ mereka kepada kita orang lemah dan rapuh. “Kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus”, demikian peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua orang beriman. Kasih karunia yang kita terima antara lain berupa ‘harta benda/uang, jabatan/pangkat/kedudukan serta kehormatan duniawi’. Karena semuanya yang kita miliki, kuasai atau nikmati sampai saat ini adalah ‘kasih karunia’, maka selayaknya atau seharusnya semuanya itu kita fungsikan untuk saling mengasihi, bukan untuk diri sendiri. Maka baiklah memasuki masa Adven ini kita perhatikan saudara-saudari kita yang miskin dan berkekurangan dalam berbagai hal. Di dalam Gereja Katolik, di paroki-paroki ada kebiasaan menyenggarakan ‘Aksi Natal’, suatu bentuk gerakan solidaritas dan keberpihakan pada atau bersama dengan yang miskin dan berkekurangan. Hendaknya gerakan ini tidak hanya secara liturgis atau formal belaka: marilah melalui kesempatan dan kemungkinan yang ada kita hidup dan bekerja bersama atau bersama-sama dengan mereka yang miskin dan berkekurangan agar nanti kita dapat memahami dan mengimani bahwa ‘Penyelamat Dunia’ yang kita nantikan kedatanganNya lahir dalam puncak kemiskinan, dikandang hewan dan di malam gelap gulita. Marilah kita bersama Yesaya berdoa dan menghayati doa ini: “Sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu” (Yes 64:8). “Ya Elohim semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu! Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu” (Mzm 80:15-16.18-19)

