From: james widodo
Misi [David Flood]
Pengenalan Misi
�
Teologi vs Penginjilan, Teladan Paulus (Filipi 3: 17)
Siapakah Paulus, seorang teolog atau seorang penginjil?.
Melalui teladan yang diberikan oleh Paulus, sudah seharusnya dualisme antara
teologi dan penginjilan diakhiri. Sebagai seorang teolog dan penginjil
terbesar, Paulus tidak pernah mempertentangkan teologi dan penginjilan
sebaliknya dia memberikan contoh sebagai seorang teolog yang mengerti Kitab
Suci secara mendalam, yang berdasarkan pengenalannya akan Firman itulah Paulus
melakukan penginjilan. Berdasarkan teladan Paulus, saya menyimpulkan bahwa
teologi dan penginjilan sebenarnya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat
dipisahkan. Mengutip ucapan dosen saya: seorang yang belajar teologi yang benar
dan secara benar tidak bisa tidak pasti akan melakukan penginjilan.
Di sini kita melihat sebuah kebenaran yang tidak boleh dibalik: pertama
teologi, kedua penginjilan. Penginjilan harus berdasar pada teologi, dan
teologi harus berdasar pada wahyu Elohim dalam Alkitab. Pernyataan penginjilan
harus berdasar pada teologi tidaklah diartikan kita harus belajar teologi
secara mendalam, mendapat gelar STh, M. Div, MTh, Doktor barulah layak
memberitakan Injil. Setiap orang yang sudah mendapat anugrah keselamatan
seyogyanya membagikan bagian yang sudah diketahinya kepada orang lain. Sebuah
ilustrasi dapat membantu untuk lebih mengerti bagian ini: sebuah mobil yang
melakukan perjalanan dari Jogya ke Jakarta pada malam hari pasti menyalakan
lampu. Kita tidak akan menengur supirnya karena lampunya tidak bersinar sampai
ke Jakarta, melainkan hanya bersinar sepanjang kira-kira 60 meter. Jarak 60
meter adalah jarak yang memadai karena setelah berjalan 60 meter akan ada sinar
untuk 60 meter lagi. Sering dalam khotbah-khotbah diserukan agar kita menjadi
being like Christ, but you can not be liked Christ whithout doing like Christ.
Saudara-saudara, dalam sejarah peradaban manusia, belum pernah dunia menjadi
sedemikian terbuka seperti hari ini.
Kemajuan teknologi dan transportasi membuat dunia menjadi ‘borderless world’
dan semakin ‘kecil’. Malam ini kita mengadakan dinner meeting di Magelang,
kalau mau besok pagi kita dapat ikut breakfast meeting di Singapura, lunch
meeting di China. Inilah masa paling mudah bagi misi PI bukan?
Dewasa ini jumlah penduduk dunia ada kira-kira 6,5 milyar manusia, sedangkan
jumlah orang kristen dan katolik ada kira-kira 2 milyar. Di seluruh dunia ada
kira-kira 240 negara dengan 16.000 kelompok suku dengan kira-kira 9.100 diangap
terjangkau dan 6.900 masih terabaikan. Sebagian besar suku yang masih
terabaikan hidup dalam jendela 10/40 LU yaitu di sekitar Afrika Utara, Timur
sampai Asia.
Bila kita melihat sejarah misi, maka masa kini kita berada dalam era ketiga
misi modern. Era pertama menjangkau daerah-daerah pesisir (1792-1910 M) dengan
William Carey sebagai bapa misi modern, era kedua (1865-1980 M) menjangkau
daerah-daerah pedalaman dengan tokohnya yang terkenal, Hudson Taylor. Saudara,
siapakah Hudson Taylor? Dia adalah misionaris generasi pertama di China dan
sampai hari ini lima generasi Huson Taylor mengabdikan diri menjadi misionaris
di China. Ada dua buah ucapan Hudson Taylor yang sangat berkesan buat saya:
•� God's work, done in God's way, will never lack for supplies.
•� If I had a thousand pounds, China should have it. If I had a thousand lives,
China should have them.
Sekarang ini, setiap harinya ratusan ribu penduduk China menerima Kristus
sebagai Juruselamatnya.
Era ketiga dimulai 1934 sampai sekarang dengan strategi menjangkau suku-suku
bangsa yang tersembunyi dan terabaikan. Apa itu suku terabaikan, kita akan
lihat nanti.�
Mengapa saya bercerita banyak mengenai misi penginjilan?.
Hal ini tidak bukan karena dua hal yaitu:
Pertama: Perintah Tuhan melalui Amanat Agung di Matius 28:19-20. “Karena itu
pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa
dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai
kepada akhir zaman."
Kata ‘semua bangsa’ dalam bahasa Yunani diartikan sebagai suku-suku bangsa.
Perintah artinya harus dilakukan oleh semua umat kristiani bukan hanya hamba
Tuhan dan penginjil.
Matius 28:16 seakan-akan menunjukkan bahwa Amanat Agung hanya diberikan kepada
sebelas murid-Nya, tetapi penelaahan lebih cermat menunjukkan bahwa bersama
sebelas murid itu ada “lebih daripada 500 saudara” (1Kor 15:6). Jelas bahwa
Amanat Agung diberikan kepada semua orang percaya dan tidak hanya ditujukan
kepada pendeta, penginjil, guru Injil saja.
Jadi sebagai inisiator, Elohim berkenan untuk melibatkan manusia dalam rencana
misi-Nya. Kita semua mendapat kehormatan untuk bekerja dan dipakai Elohim untuk
menggenapi Amanat Agung-Nya. Keselamatan kita adalah anugerah semata karena
kita yang berdosa sebenarnya tidak layak, tidak berhak untuk mendapatnya,
tetapi ternyata Elohim bahkan bertindak lebih dari itu dengan menjadikan semua
orang percaya menjadi co-worker-Nya, untuk menjadi alat-Nya bagi keselamatan
orang lain. Bukankah ini luar biasa?
Peran Sebagai Senders
Lalu apakah semua orang kristen harus menjadi misionari?
Dalam suratnya kepada jemaat Roma, Paulus mendefinisikan dengan indah
pengelompokan tugas orang percaya, yaitu mereka yang diutus (goers) dan mereka
yang mengutus (senders). Roma 10: 14-15 “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru
kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat
percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka
mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana
mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis:
“Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”.
Di sini kita melihat semua orang percaya diperintahkan untuk terlibat dalam
Amanat Agung, tetapi tidak semua orang harus menjadi misionari. Setiap kita
mempunyai peran masing-masing: sebagai misionari dan sebagai orang yang
mengirim, sebagai goers dan sebagai senders.
Saya ulangi: terlibat dalam misi bukan berarti harus menjadi misionaris tapi
terlibat dalam pekerjaan misi. Sebuah misi terdiri dari orang yang dikirim dan
orang-orang yang mengirim. Seperti sebuah team sepakbola, yang bermain
dilapangan hanya 11 orang tapi yang terlibat sebagai team management dll bisa
ratusan orang.
Neal Pirolo menulis bahwa ternyata bentuk dukungan dari para pengutus tidak
hanya sekedar dukungan finansial. Secara lengkap bentuk dukungan yang
diperlukan adalah sebagai berikut:
•� Dukungan moral.
•� Dukungan logistik
•� Dukungan finansial.
•� Dukungan doa.
•� Dukungan komunikasi.
•� Dukungan ketika pulang.
Semua dukungan di atas sangat penting karena sebagai seorang manusia normal,
seorang misionaris membutuhkan dukungan dari komunitasnya mulai dari sebelum
keberangkatannya ke ladang misi, selama di ladang misi, dan setelah
kepulangannya dari ladang misi. Sebagai contoh, seorang misinaris akan
menghadapi dua kali kejutan budaya. Pertama, di tempat ladang misi dan kedua,
ketika dia kembali pulang ke rumahnya. Jadi pekerjaan misi tidak se-simple
kelihatannya melainkan pekerjaan besar yang melibatkan banyak orang dalam
tingkat komitmen yang tinggi.
2/3 orang yang belum pernah mendengar Injil diberitakan hidup di negara-negara
yang paling miskin dan paling tertutup bagi para misionaris. Di sinilah kaum
awam profesional sekuler (tent-maker) yang mendapat pelatihan misi mempunyai
peran yang sangat penting bagi misi.
Contoh TKW Filipina, TKW di Arab Saudi.
Kedua: Matius 24: 3� “Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah
murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata
mereka: "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda
kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?". Murid-murid Yesus menanyakan
kapankah kiamat akan terjadi. Yesus menjawab dalam ayat 14: “Dan Injil Kerajaan
ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa,
sesudah itu barulah tiba kesudahannya." Jadi sebelum Injil diberitakan kepada
semua suku bangsa, kiamat belumlah akan tiba. Kalau mau cepat kiamat gampang,
semua orang kristiani se-dunia besok pagi menginjili 2-3 orang, sorenya mungkin
Yesus datang.
Amanat Agung diberikan Yesus setelah kebangkitan-Nya, jadi ada suatu masa di
antara Amanat Agung dan penggenapan Mat 24:14 yang disebut grace period. Inilah
masa sekarang di mana anugerah keselamatan masih dicurahkan. Sampai kapan?
Sampai semua suku di dunia mendengar pemberitaan Injil.
Megingat pentingnya misi PI, pertanyaan saya: sudah berapa banyak kita dan
gereja kita sudah melakukan sesuatu bagi misi penginjilan? Istilah penginjilan
sebenarnya berbeda dengan misi. Penginjilan biasanya� dilakukan dalam sebuah
budaya yang sama, sedangkan misi umumnya dilakukan secara lintas budaya.
Misalnya orang Magelang dikirim ke Afrika. Tetapi, misi lintas budaya tidak
harus pergi ke luar negeri. Misalnya di Jogya atau Jepara kan banyak orang
asing?
Mengapa gereja yang misioner langka? Karena dianggap mahal dan memang hanya
sedikit orang kristiani yang mempunyai visi akan PI. Sebenarnya misi tidak
mahal. Contoh gereja di Ngresep. Gereja itu hanya mempunyai 150 anggota yang
sebagian besar berstatus karyawan biasa. Kalau kita lihat pastorinya, wah,
bergaya modern yaitu minimalis. Saking minimalisnya sampai tidak ada
perabotnya!. Bahkan motor saja tidak punya. Tapi, mereka punya 7 cabang, mereka
gereja yang misioner di mana 30% pendapatannya digunakan untuk misi. Setiap
minggu setiap jemaat memberikan persembahan khusus untuk pekerjaan misi minimal
Rp. 100,- ternyata dalam satu tahn terkumpul lebih dari Rp. 20 juta. Coba kita
bandingkan dengan gereja kita.
Bila kita sudah menangkap visi Tuhan dan visi itu sudah menangkap diri kita,
pasti kita akan menjadi orang kristen yang misioner. Misi berbeda dengan
membagi sembako pada orang-orang di sekitar gereja. Membagi sembako itu
pelayanan kasih atau diakonia.
Alasan sebenarnya hanya dua: belum tahu perintah Tuhan atau sengaja
mengabaikannya.
Kemajuan dunia dewasa ini mau tidak mau mempunyai dampak pada kehidupan dan
gaya hidup masyarakat. Tanpa sadar kehidupan kita diarahkan untuk menjadi
semakin individualistis. Misalnya kalau kita perhatikan anak-anak kita sekarang
sukanya apa? nonton TV dan main game komputer bukan? Kita dulu suka main
sepakbola, main bareng-bareng bukan?. Kemajuan yang pada akhirnya membuat
sebagian masyarakat menjadi semakin makmur dan individulistis (terutama dunia
barat) ternyata mempunyai dampak pada kekristenan:
Tahun � 1972 � 1982 � 1992 � 2000
Jumlah misionaris
non-barat � 5.000 � 15.000 � 40.000 � 100.000
Tahun � 1800 � 1900 � 1950 � 1980
� 2000
% jumlah umat
Kristiani non-barat � 1% � 9% � 32% � 50%
� 80%
� Terjangkau � Belum
terjangkau � Total
Jumlah suku bangsa � 9.100 � 6.900
� 16.000
Jumlah misionaris � 74% � 26%
� 100%
Pikiran apa yang terbesit dalam benak saudara melihat data di atas?
Rick Warren dalam PDL secara tepat menyatakan bahwa manusia harus mempunyai
tujuan hidup dan tujuan hidup itu tidak akan kita temukan dalam diri kita
sendiri. Tujuan hidup itu harus kita temukan melalui Sang Pencipta karena Sang
Penciptalah yang paling tahu, Ia menciptakan sesuatu dengan tujuan apa.
Ada lima tujuan Elohim bagi hidup kita masing-masing yaitu:
1.� Kita direncanakan bagi kesenangan Elohim-Penyembahan.
2.� Kita dibentuk untuk keluarga Elohim-Persekutuan.
3.� Kita diciptakan untuk menjadi serupa dengan Kristus-Pemuridan.
4.� Kita dibentuk untuk melayani Elohim-Pelayanan.
5.� Kita diciptakan untuk sebuah misi-Penginjilan.
Saya menyimpulkan bahwa:
Penyembahan adalah gaya hidup kita dalam berhubungan dengan Elohim secara
vertikal, Tujuan 2 menjalin hubungan dengan saudara seiman, berkomunitas. T3
adalah ‘kawah candimuka’ di mana kita belajar teologi, doktrin dll. T4 kita
praktek untuk belajar melayani saudara seiman dalam lingkungan gereja. T5
adalah praktek melakukan Amanat Agung (Mat 28:19-20). Bukankah Elohim kita
adalah Elohim yang sangat sistematis? Urutan ini jangan dibalik-balik karena
urutan ini merupakan tahapan yang harus dilalui kita semua.
Gereja pada umumnya jarang yang melaksanakan 5 tujuan di atas secara terpadu.
Ada yang menekankan pemuridan, atau pelayanan, atau penyembahan, atau
persekutuan tapi gereja yang misioner sangatlah langka. Sebuah survey
menyatakan bahwa dari 100% penerimaan uang di gereja, 95,5% digunakan untuk
keperluan intern, 4% untuk membuka cabang, dan 0.5% untuk misi. Apakah gambaran
gereja yang Alkitabiah seperti ini?
Saya menutup renungan malam ini dengan sebuah kisah nyata yang diambil dari
sebuah milis:
Sebuah Kisah Dari Afrika
Pada tahun 1921, dua pasang suami istri dari Stockholm (Swedia), menjawab �
panggilan Elohim untuk melayani misi penginjilan diAfrika. Kedua pasang suami
istri ini menyerahkan hidupnya untuk mengabarkan Injil dalam suatu kebaktian
pengutusan Injil. Mereka terbeban untuk melayani negara Belgian Kongo, yang
sekarang bernama Zaire. Mereka adalah David dan Svea Flood, serta Joel dan
Bertha Erickson.
Setelah tiba di Zaire, mereka melapor ke kantor Misi setempat. Lalu dengan
menggunakan parang, mereka membuka jalan melalui hutan pedalaman yang dipenuhi
nyamuk malaria. David dan Svea membawa anaknya David Jr. yang masih berumur 2
tahun. Dalam perjalanan, David Jr. terkena penyakit malaria.
Tiba di tengah hutan, mereka menemukan sebuah desa di pedalaman. Namun penduduk
desa ini tidak mengijinkan mereka memasuki desanya.
Karena tidak menemukan desa lain, mereka akhirnya terpaksa tinggal di hutan
dekat desa tersebut. Setelah beberapa bulan tinggal di tempat itu, Mereka
menderita kesepian dan kekurangan gizi. Selain itu, mereka juga jarang mendapat
kesempatan untuk berhubungan dengan penduduk desa.
Setelah enam bulan berlalu, keluarga Erickson memutuskan untuk kembali ke
kantor misi. Namun keluarga Flood memilih untuk tetap tinggal, apalagi karena
saat Itu Svea baru hamil dan sedang menderita malaria yang cukup buruk.
Selama beberapa bulan Svea mencoba bertahan melawan demamnya yang Semakin
memburuk. Namun di tengah keadaan seperti itu ia masih menyediakan waktunya
untuk melakukan bimbingan rohani kepada seorang anak kecil penduduk asli dari
desa tersebut.
Dapat dikatakan anak kecil itu adalah satu-satunya hasil pelayanan Injil
melalui keluarga Flood ini. Saat Svea melayaninya, anak kecil ini Hanya
tersenyum kepadanya. Penyakit malaria yang diderita Svea semakin Memburuk
sampai ia hanya bisa berbaring saja. Tapi bersyukur bayi perempuannya berhasil
lahir dengan selamat tidak kurang suatu apa.
Namun Svea tidak mampu bertahan. Seminggu kemudian keadaannya sangat buruk dan
menjelang kepergiannya, ia berbisik kepada David, "Berikan nama Aina pada anak
kita," lalu ia meninggal.
David amat sangat terpukul dengan kematian istrinya. Ia membuat peti Mati buat
Svea, lalu menguburkannya. Saat dia berdiri di samping kuburan, ia memandang
pada anak laki-lakinya sambil mendengar tangis bayi Perempuannya dari dalam
gubuk yang terbuat dari lumpur. Timbul kekecewaan yang sangat dalam di hatinya.
Dengan emosi yang tidak terkontrol David berseru, "Tuhan, mengapa Kau ijinkan
hal ini terjadi? Bukankah kami datang kemari untuk memberikan hidup kami dan
melayani Engkau?! Istriku yang cantik dan pandai, sekarang telah tiada. Anak
sulungku kini baru berumur 3 tahun dan Nyaris tidak terurus, apalagi si kecil
yang baru lahir. Setahun lebih kami Ada di hutan ini dan kami hanya memenangkan
seorang anak kecil yang bahkan mungkin belum cukup memahami berita Injil yang
kami ceritakan. Kau telah mengecewakan aku, Tuhan. Betapa sia-sianya hidupku!"
Kemudian David kembali ke kantor misi Afrika. Saat itu David bertemu Lagi
dengan keluarga Erickson. David berteriak dengan penuh kejengkelan:
"Saya akan kembali ke Swedia! Saya tidak mampu lagi mengurus anak ini. Saya
ingin titipkan bayi perempuanku kepadamu." Kemudian David memberikan Aina
kepada keluarga Erickson untuk dibesarkan. Sepanjang perjalanan ke Stockholm,
David Flood berdiri di atas dek kapal. Ia merasa sangat kesal kepada Elohim. Ia
menceritakan kepada semua orang tentang pengalaman pahitnya, bahwa ia telah
mengorbankan segalanya tetapi berakhir dengan kekecewaan. Ia yakin bahwa ia
sudah berlaku setia tetapi Tuhan membalas hal itu dengan cara tidak
mempedulikannya.
Setelah tiba di Stockholm, David Flood memutuskan untuk memulai usaha di bidang
import. Ia mengingatkan semua orang untuk tidak menyebut nama Tuhan didepannya.
Jika mereka melakukan itu, segera ia naik pitam dan marah. David akhirnya
terjatuh pada kebiasaan minum-minuman keras.
Tidak lama setelah David Flood meninggalkan Afrika, pasangan suami-istri
Erikson yang merawat Aina meninggal karena diracun oleh kepala suku dari daerah
dimana mereka layani. Selanjutnya si kecil Aina diasuh oleh Arthur dan Anna
Berg. Pada saat-saat sendirian si Aggie sering bermain dengan khayalan.
Ia sering membayangkan bahwa ia memiliki empat saudara laki-laki dan satu
saudara perempuan, dan ia memberi nama kepada masing-masing saudara khayalannya.
Kadang-kadang ia menyediakan meja untuk bercakap-cakap dengan saudara
khayalannya. Dalam khayalannya ia melihat bahwa saudara perempuannya selalu
memandang dirinya. Keluarga Berg akhirnya kembali ke Amerika dan menetap di
Minneapolis.
Setelah dewasa, Aggie berusaha mencari ayahnya tapi sia-sia. Aggie menikah
dengan Dewey Hurst, yang kemudian menjadi presiden dari sekolah Alkitab
Northwest Bible College. Sampai saat itu Aggie tidak mengetahui bahwa ayahnya
telah menikah lagi dengan adik Svea, yang tidak mengasihi Elohim dan telah
mempunyai anak lima, empat putra dan satu putri (tepat seperti khayalan Aggie).
Suatu ketika Sekolah Alkitab memberikan tiket pada Aggie dan suaminya untuk
pergi ke Swedia. Ini merupakan kesempatan bagi Aggie untuk mencari ayahnya.
Saat transit di London, Aggie dan suaminya berjalan kaki di dekat Royal Albert
Hall.
Ditengah jalan mereka melihat ada suatu pertemuan penginjilan. Lalu mereka
masuk dan mendengarkan seorang pengkotbah kulit hitam yang sedang bersaksi
bahwa Tuhan sedang melakukan perkara besar di Zaire. Hati Aggie terperanjat.
Setelah selesai acara ia mendekati pengkotbah itu dan bertanya, "Pernahkah anda
mengetahui pasangan penginjil yang bernama David dan Svea Flood?"
Pengkotbah kulit hitam ini menjawab, "Ya, Svea adalah orang yang membimbing
saya kepada Tuhan waktu saya masih anak-anak.
Mereka memiliki bayi perempuan tetapi saya tidak tahu bagaimana keadaannya
sekarang."
Aggie segera berseru: "Sayalah bayi perempuan itu! Saya adalah Aggie - Aina!"
Mendengar seruan itu si Pengkotbah segera menggenggam tangan Aggie dan memeluk
sambil menangis dengan sukacita.
Aggie tidak percaya bahwa orang ini adalah bocah yang dilayani ibunya. Ia
bertumbuh menjadi seorang penginjil yang melayani bangsanya dan pekerjaan Tuhan
berkembang pesat dengan 110.000 orang Kristen, 32 Pos penginjilan, beberapa
sekolah Alkitab dan sebuah rumah sakit dengan 120 tempat tidur.
Esok harinya Aggie meneruskan perjalanan ke Stockholm dan berita telah tersebar
luas bahwa mereka akan datang. Setibanya di hotel ke-empat saudara laki-lakinya
telah menunggu mereka di sana dan akhirnya Aggie mengetahui bahwa ia
benar-benar memiliki saudara lima orang. Ketika Aggie bertanya tentang kabar
ayahnya, David Jr. menjadi marah. Ternyata semua saudaranya membenci ayahnya
dan sudah bertahun-tahun tidak membicarakan ayahnya.
Lalu Aggie bertanya: "Bagaimana dengan saudaraku perempuan?"
Tak lama kemudian saudara perempuannya datang ke hotel itu dan memeluk Aggie
dan berkata: "Sepanjang hidupku aku telah merindukanmu. Biasanya aku membuka
peta dunia dan menaruh sebuah mobil mainan yang berjalan di atasnya,
seolah-olah aku sedang mengendarai mobil itu untuk mencarimu kemana-mana."
Saudara perempuan nya itu juga telah menjauhi ayahnya, tetapi ia berjanji untuk
membantu Aggie mencari ayahnya.
Lalu mereka memasuki sebuah bangunan tidak terawat. Setelah mengetuk pintu
datanglah seorang wanita dan mempersilahkan mereka masuk. Di dalam ruangan itu
penuh dengan botol minuman, tapi di sudut ruangan nampak seorang terbaring di
ranjang kecil, yaitu ayahnya yang dulunya seorang penginjil.
Ia berumur 73 tahun dan menderita diabetes, stroke dan katarak yang menutupi
kedua matanya. Aggie jatuh disisinya dan menangis, "Ayah, aku adalah si kecil
yang kau tinggalkan di Afrika." Sesaat orang tua itu menoleh dan memandangnya.
Air mata membasahi matanya, lalu ia menjawab, "Aku tak pernah bermaksud
membuangmu, aku hanya tidak mampu untuk mengasuhnya lagi."
Aggie menjawab, "Tidak apa-apa, Ayah. Tuhan telah memelihara aku".
Tiba-tiba, wajah ayahnya menjadi gelap, "Tuhan tidak memeliharamu!" Ia
mengamuk.
"Ia telah menghancurkan seluruh keluarga kita! Ia membawa kita ke Afrika lalu
meninggalkan kita. Tidak ada satupun hasil di sana. Semuanya sia-sia belaka!"
Aggie kemudian menceritakan pertemuannya dengan seorang pengkotbah kulit hitam
dan bagaimana perkembangan penginjilan di Zaire. Penginjil itulah si anak kecil
yang dahulu pernah dilayani oleh ayah dan ibunya. "Sekarang semua orang
mengenal anak kecil, si pengkotbah itu. Dan kisahnya telah dimuat di semua
surat kabar."
Saat itu Roh Kudus turun ke atas David Flood. Ia sadar dan tidak sanggup
menahan air mata lalu bertobat.
Tak lama setelah pertemuan itu David Flood meninggal, tetapi Elohim telah
memulihkan semuanya, kepahitan hatinya dan kekecewaannya.
Sebagai penutup, dapatkah seseorang membaca Kisah 29:10?
Saudara, Kisah Para Rasul ditutup pada pasal 28. Dalam tanda kutip, pasal 29:1
adalah kisah Hudson Taylor, Don Richardson, Billy Graham dll. Ayat yang
kesepuluh adalah kisah saudara dan saya. Kisah seperti apa yang akan tercatat
disitu??
He must be greater, I must be less,
Hendra, 081108 at Magelang