“Theologi” Sukses, Penderitaan, dan Theologi Kenikmatan oleh: Ev. Ronald A.
H. Oroh, M.Div. “Theologi” sukses menjadi satu fenomena tersendiri
yang sangat mempengaruhi Kekristenan sejak abad ke 20. Hampir tidak ada orang
Kristen yang tidak dipengaruhi oleh “theologi” sukses. Bahkan yang menolak
theologi inipun sering kali tanpa sadar ataupun secara sadar sebenarnya
mempraktikkan dan mengakui theologi ini. Tapi harus menolaknya, karena merasa
theologi ini bertentangan dengan doktrin dan pengajaran di gereja/alirannya.
Sebenarnya lucu, menolak dan melawan, tapi mempraktikkan dan mempergunakan
nilai-nilai dari “theologi” sukses untuk menilai banyak hal.
Kapan sebenarnya “theologi” sukses muncul? Kalau mau diteliti lebih jauh,
sebenarnya dimulai sejak manusia jatuh dosa. Dalam keberdosaan, maka manusia
mengalami kesulitan dalam keluarga, pekerjaan, sakit-penyakit dan berbagai
masalah dan musibah. Maka kesuksesan, adalah kalau bisa lepas dari kesulitan,
bebas dari permasalahan keluarga, sakit-penyakit dan kemiskinan. Jadi,
sebenarnya dasar dari “theologi” sukses adalah respon dari kesulitan karena
manusia jatuh dalam dosa dan ingin lepas dari semua kesulitan itu. Sebenarnya
semua manusia dan agama apa pun adalah penganut “theologi” sukses.
Dari kecil, orang tua dari agama dan kepercayaan apa pun sudah mengajarkan
anak-anaknya, bagaimana caranya agar hidup tanpa masalah, menghindari sakit dan
bisa kaya. Ukuran kesuksesan seseorang dinilai dari berapa banyak gelar,
jabatan, uang, dan materi yang dimilikinya. Orang cacat, sakit-sakitan, orang
miskin, pekerja-pekerja rendahan tidak ada yang menghargai. Kecuali, kalau
tidak bisa mendapatkan hal-hal yang berharga, baru mulai memikirkan ukuran
kesuksesan yang lain.
Dalam Kekristenan, hanya dengan menambahkan Tuhan di dalamnya, bahwa Tuhan
menginginkan kita semua tidak pernah sakit, kaya dan tidak bermasalah, tidak
ada penderitaan, dan semuanya bisa diminta kepada Tuhan. Menjadikan theologi
ini bertumbuh dengan subur, karena kebutuhan akan kenikmatan yang semakin lama
semakin tinggi, serta budaya konsumerisme, semakin membuat “theologi” sukses
bertumubuh dengan pesat di dalam Kekristenan.
Masalahnya, apa betul Alkitab mengajarkan “theologi” sukses?
Pengajar-pengajar “theologi” sukses, biasanya dalam pengajarannya mengutip
bagian2 firman Tuhan dari Perjanjian Lama. Mengapa? Karena Perjanjian Lama
banyak bicara tentang berkat secara fisik dan kutuk. Sedangkan Perjanjian Baru
tidak lagi bicara berkat-berkat secara materi, tetapi secara rohani. Mengapa
kelihatannya PL banyak bicara berkat secara fisik? Karena bangsa Israel belum
bisa mengerti berkat secara keseluruhan. Maka dimulai dengan secara fisik dulu
untuk mengerti berkat spiritual. Nah semuanya itu sebenarnya digenapkan dalam
Kristus. Berkat-berkat secara fisik dan rohani itu hadir dalam Kristus.
Kalau kita betul-betul memeperhatikan dan membandingkan keseluruhan Alkitab,
maka akan mengambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa
seseorang yang percaya selama hidup di dunia pasti akan bebas dari kemiskinan,
sakit-penyakit, masalah rumah tangga dan masalah relasi, serta lepas dari
penderitaan dan penganiayaan. Justru sebaliknya, Kristus datang ke dunia, hidup
dalam penderitaan dan mati ditinggalkan pengikut-pengikut-Nya. Sesuaikah dengan
“theologi” sukses? Maka sebenarnya yang realistis adalah theologi penderitaan.
Sejak manusia jatuh dalam dosa, maka manusia akan terus mengalami penderitaan
sampai mati. Siapa pun dia, pasti akan mengalami saat sakit dan harus mati,
permasalahan keluarga, dan justru orang-orang yang betul-betul menjalankan
kehendak Allah, biasanya hidupnya menderita. Karena dunia yang berdosa ini
tidak menginginkan ada yang melakukan kehendak Allah. Orang-orang yang
kelihatan sukses dan memiliki banyak hal, kebanyakan (meskipun tidak semua)
adalah orang-orang yang kompromi, mengikuti arus dunia dan hanya memanfaatkan
Tuhan untuk dirinya. Maka, hidup ini hanyalah menghadapi satu penderitaan dan
penderitaan yang lain. Orang-orang yang kelihatan sukses dan kaya, juga
memiliki kesulitan dan permasalahan yang besar.Sehingga penderitaan tidak bisa
dilepaskan dari hidup ini sampai mati. Itu sebabnya, theologi Penderitaan
adalah theologi yang lebih realistis dibandingkan dengan “theologi” sukses.
Meskipun demikian, theologi yang paling realistis adalah theologi Kenikmatan.
Sejak dari penciptaan, yang ada hanyalah kenikmatan. Bebas dari dosa dan
penderitaan dan Tuhan sediakan semua kenikmatan. Tuhan memberikan segala
kenikmatan yang membuat manusia pertama bisa memuliakan dan menikmati Tuhan.
Sayang sekali, sejak manusia jatuh dalam dosa maka kenikmatan pemberian Tuhan
sepertinya menghilang dan manusia mencari kenikmatan yang berbeda dan
sementara. Tetapi, bagi orang-orang pilihan yang percaya kepada Kristus,
kenikmatan yang merupakan anugerah Tuhan dipulihkan kembali dan terus bertumbuh
sebagai persiapan untuk kekekalan, sampai selama-lamanya.
Theologi Kenikmatan tidak membuang penderitaan dalam kesementaraan ini.
Bahkan biasanya penderitaan yang membuat banyak orang percaya bisa melihat
sumber kenikmatan yang sejati dan menikmatinya. Dan penderitaan dan kekurangan
menjadi pelajaran yang berharga bagaimana menikmati semua pemberian Tuhan dalam
sehat dan kelimpahan. Meskipun demikian theologi kenikmatan, menyadari bahwa
penderitaan hanya diperlukan dalam kesementaraan ini dan bukan untuk kekekalan.
Karena dari penciptaan, Tuhan tidak menciptakan manusia untuk menderita
selama-lamanya, tapi justru mempersiapkan manusia untuk kenikmatan sampai
selama-lamanya. Masalahnya manusia tidak bisa mengerti kalau langsung menikmati
sampai selama-lamanya, maka ada proses yang dipakai oleh Tuhan untuk membentuk
manusia, dan Tuhan mengijinkan penderitaan yang dipakai sebagai alat dalam
proses ini.
Jadi, mari kita melihat kenikmatan yang sejati sebagai anugerah Tuhan dan
kita betul-betul bisa menikmatinya, sekalipun dunia mengatakan kita tidak
sukses, menderita dan banyak masalah, tapi justru kita bisa lebih menikmati
segala sesuatu pemberian Tuhan baik dalam kekurangan atau kelimpahan, sehat
atau sakit, sampai maut memisahkan kita dari penderitaan dan kita bisa
menikmati segala kelimpahan yang disediakan Tuhan. Dari sekarang kita harus
belajar menikmati, sebagai persiapan untuk kekekalan di mana kita bisa
menikmati semua pemberian Tuhan dengan bebas, dan lebih khusus lagi, sumber
berkat itu sendiri yang harus kita nikmati.
What is the chief end of man?
Man’s chief end is to glorify God, and to ENJOY him forever
Westminster Shorter Catechism
Sumber:
http://roielministry.org/2007/03/theologi-sukses-penderitaan-dan-theologi.html
Profil Ev. Ronald A. H. Oroh:
Ev. Ronald Arthur Horald Oroh, S.Si., M.Div. lahir pada tanggal 8 Juni 1972
di Manado. Beliau menyelesaikan studi Master of Divinity (M.Div.) di Institut
Reformed, Jakarta.
Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.
""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
(1Sam. 16:7b)
---------------------------------
Mencari semua teman di Yahoo! Messenger?
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!