From: Romo maryo 

“Orang tidak mengenal dia dan memperlakukannya menurut kehendak mereka” (Sir 
48:1-4.9-11; Mat 17:10-13) 

“Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli 
Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?" Jawab Yesus: "Memang Elia akan 
datang dan
memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi
orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka.
Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka." 
Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes 
Pembaptis” (Mat 17:10-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Luisia, perawan dan 
martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang kaya yang hanya mengandalkan harta benda atau uangnya atau yang 
bersikap mental materialistis, pada umumnya hanya percaya apa yang kelihatan 
(Jawa: kasat moto) dan tidak atau kurang percaya  pada apa yang tidak kelihatan 
dan dengan demikian boleh dikatakan sebagai orang tidak beriman, tidak percaya 
pada Tuhan, pada Penyelenggaraan Ilahi. Maka ketika ada atau datang seorang 
‘nabi’, yang akan mewartakan kebenaran atau ‘wahyu Tuhan’ mereka memperlakukan 
seenaknya. Pengalaman ini kiranya terjadi dalam diri St.Lusia yang kita 
kenangkan hari ini. Lusia, perawan yang cantik, dilamar dan akan dijadikan 
isteri oleh seorang pemuda yang kaya raya, tetapi ia menolak dan mengatakan 
bahwa akan mempersembahkan keperawanan dan kecantikannya kepada Tuhan. Ia 
dituduh menjadi pengikut Yesus Kristus dan kemudian dibunuh dengan dipenggal 
lehernya. Marilah kita meneladan St.Lusia, tentu saja tidak harus bertahan 
sebagai perawan alias tidak menikah, melainkan mempersembahkan diri seutuhnya 
kepada Tuhan melalui hidup dan cara bertindak setiap hari. Marilah kita buka 
lebar-lebar, dengan rela dan siap berkorban, hati, budi, jiwa dan tubuh kita 
terhadap sapaan, sentuhan dan bisikan Tuhan melalui RohNya, yang
antara lain menggejala dalam diri sesama dan saudara-saudari kita yang
berkehndak baik, tanpa pandang bulu, SARA, usia, jabatan, kedudukan dst..  
Namun jika kita cermati dan perhatikan kiranya yang lebih berkehendak adalah 
mereka yang akan dataing, yaitu anak-anak atau generasi yang lebih muda 
dari.kita. Dengan kata lain perlakukan anak-anak atau generasi muda dengan baik 
dan memadai, dengarkan harapan, keluh kesah, cita-cita dan dambaan mereka. 
Tidak memperhatikan anak-anak atau generasi muda alias memperlakukan mereka 
menurut kehendak atau selera pribadi berarti akan membuat mereka menderita, 
baik masa kini maupun masa depan. 

·   “Berbahagialah orang yang telah melihat dikau, dan yang meninggal dengan 
kasih mereka, sebab kamipun pasti akan hidup pula” (Sir 48:11). “Dikau” disini 
adalah nabi Elia, yang datang “untuk meredakan kemurkaan sebelum meletus, dan 
mengembalikan hati bapa kepada anaknya serta memulihkan segala suku Yakub.”(Sir 
48:10).
“Mengembalikan hati bapa kepada anaknya”, inilah yang kiranya layak kita 
renungkan dan hayati, lebih-lebih bagi para orangtua, bapak-ibu atau pemimpin, 
atasan, dst.. Kita dipanggil meneladan Elia sebagai nabi, yang membawa dan 
menyebarluaskan suara/kehendak Roh Kudus, tentu saja kita harus hidup dari dan 
oleh Roh Kudus, sehingga menghasilkan atau membuahkan keutamaan-keutamaan 
seperti
“kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, 
kelemahlembutan, penguasaan diri.”
(Gal 5:22-23) . Hendaknya sikap orangtua terhadap anak-anaknya, guru terhadap
para peserta didiknya, pemimpin terhadap anggotanya, atasan terhadap bawahannya
dijiwai oleh keutamaan-keutamaan tersebut. 
Keutamaan mana yang mendesak atau up to date untuk dihayati dan disebarluaskan 
di lingkungan hidup atau kerja anda, silahkan dicermati dan dipilih! Mengingat 
dan memperhatikan berbagai kasus atau peristiwa yang sering terjadi masa kini 
rasanya ‘kasih yang dijiwai penguasaan diri’ mendesak dan up to date untuk kita 
hayati dan sebarluaskan. Barangsiapa tidak dapat menguasai diri maka sikap dan 
tindakan
terhadap yang lain berarti menindas atau melecehkan, sedangkan barangsiapa
dapat menguasai diri maka sikap dan tindakan terhadap yang lain berarti 
melayani. “Kasih yang dijiwai pengusaan diri” berarti dengan rendah hati 
melayani yang lain. Kasihlah anak-anak, para peserta didik anggota atau bawahan 
anda agar kelak ketika anda dipanggil Tuhan berarti ‘meninggal dengan kasih 
mereka’, artinya diperhatikan dan dirawat serta dimakamkan dengan baik, dan 
kiranya juga banyak saudara yang mengiringi pemakaman anda.  

“Ya Elohim semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan 
lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan 
kanan-Mu! Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak 
manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, maka kami tidak akan 
menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan 
nama-Mu” (Mzm
80:15-16.18-19).
=====================================================
From: Romo maryo 

"Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?”
(Bil 24:2-7,15-17; Mat 21:23-27) 

“Lalu Yesus masuk ke Bait Elohim, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah 
imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: "Dengan 
kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa 
itu kepada-Mu?" Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan satu 
pertanyaan kepadamu
dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu
dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes?
Dari sorga atau dari manusia?" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan 
berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau 
begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: 
Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap 
Yohanes ini nabi." Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu."
Dan Yesus pun berkata kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan 
kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.” (Mat 21:23-27),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:

·   Jika ada tokoh baru dan muda muncul, lebih berwibawa dan berpengaruh dalam 
kehidupan bersama, entah hidup bermasyarakat, bernegara, berbangsa atau 
beragama, maka tokoh-tokoh lama yang lebih tua sering merasa tersaing dan 
tersingkirkan dan kemudian berusaha menjatuhkan tokoh baru yang muncul dengan 
berbagai pertanyaan. Itulah kiranya yang terjadi secara sosio-politis apa yang 
diwartakan dalam bacaan Injil hari ini ketika ‘imam-imam kepala dan tua-tua 
bangsa Yahudi’ menyampaikan
pertanyaan kepada Yesus "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan 
siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?". 
Pertanyaan tersebut bukan karena kebodohan atau ketidak-tahuan mereka, 
melainkan dimasudkan untuk menjatuhkan Yesus, maka Yesuspun juga tidak menjawab 
pertanyaan mereka, bahkan menyampaikan pertanyaan kepada mereka: “Dari manakah 
baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari m,anusia?”. 
Mereka tidak berani menjawab karena takut. Baiklah bercermin dari dialog antara 
Yesus dengan imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di atas, kami mengajak 
anda sekalian sbb:
marilah kita terbuka terhadap aneka macam bentuk pembaharuan yang muncul atau
ada di sekitar kita, apalagi apa yang baru tersebut sungguh berpengaruh dan
bermanfaat bagi masyarakat umum atau orang kebanyakan/rakyat., entah datangnya
dari yang tua atau yang muda. Pada umum pembaharuan memang datang dari yang
kemudian, yang lebih muda, maka berilah kesempatan kepada mereka yang lebih
muda untuk lebih berperan dan berfungsi di dalam kehidupan dan kerja bersama.
Sadari dan hayati bahwa segala bentuk atau usaha pembaharuan yang bermanfaat
bagi orang banyak atau rakyat atau kebaikan umum adalah berasal dari Elohim atau
sorga, sebagai persiapan diri untuk menyambut kedatangan Penyelamat Dunia untuk
menyelamatkan seluruh dunia seisinya. 

·   "Tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya; tutur 
kata orang yang mendengar firman Elohim, dan yang beroleh pengenalan akan Yang 
Mahatinggi, yang
melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa, sambil rebah, namun dengan mata
tersingkap” (Bil 24:15-16). Kutipan ini layak menjadi permenungan atau refleksi 
kita. Apa yang baik indah, luhur dan mulia adalah berasal dari Elohim, dan ada 
dimana-mana, di dalam seluruh ciptaanNya, entah dalam binatang, tanaman, 
manusia atau di langit dan alam raya. Maka dalam rangka mempersiapkan diri 
untuk menyambut kedatangan Penyelamat Dunia ini, marilah kita lihat dan imani 
apa yang baik, indah, luhur dan mulia yang ada di sekitar kita, terutama atau 
pertama-tama dalam diri sesama manusia. Dengan kata lain marilah kita berpikir 
positif terhadap sesama manusia; kita sinerjikan apa yang baik, indah, luhur 
dan mulia yang ada dalam diri kita masing-masing untuk membangun dan 
mengembangkan hidup bersama yang damai sejahtera, persaudaraan atau 
persahabatan sejati, yang dambakan oleh seluruh umat manusia. Rasanya apa yang 
baik, indah, luhur dan mulia lebih-lebih ada dalam diri anak-anak atau generasi
muda daripada dalam diri orangtua. Perhatikan dan cermati keceriaan, kegairahan
dan kelincahan anak-anak, yang jarang marah dan menggerutu atau mengeluh serta
penuh dengan harapan bagi masa depan alias siap sedia untuk diperbaharui. Jika
ada mampu mengimani keceriaan, kegairahan, keincahan dan keterbukaan anak-anak
sebagai yang berasal dari Elohim, maka mata hati anda akan lebih terbuka untuk
melihat apa yang baik, indah, luhur dan mulia yang ada di sekitar anda, di 
dalam masyarakat maupun di tempat kerja.  

“Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu 
sudah ada sejak purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda dan 
pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai 
dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.TUHAN itu baik dan 
benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.Ia membimbing 
orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada 
orang-orang yang rendah hati “ (Mzm 25:6-9)   
====================================================
From: tinudh 

Anak Katak Dan Hujan

Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit 
tiba-tiba gelap. "Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?" 
ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut 
rangkulan itu dengan belaian lembut. 
"Anakku," ucap sang induk kemudian. "Itu bukan pertanda kebinasaan kita. 
Justru, itu tanda baik." jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak 
katak itu pun mulai tenang. 

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. 
Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan 
meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si 
katak kecil. "Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu?" tanya si 
anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya. 

"Anakku. Itu cuma angin," ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. "Itu juga 
pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!" tambahnya begitu menenangkan. 
Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang 
yang tampak menakutkan. 

"Blarrr!!!" suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian 
menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa 
bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. 
Tapi juga gemetar. "Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!" ucapnya sambil terus 
memejamkan mata. 

"Sabar, anakku!" ucapnya sambil terus membelai. "Itu cuma petir. Itu tanda 
ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi 
tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama 
lagi datang," ungkap sang induk katak begitu tenang. 

Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, 
memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran 
petir yang begitu menyilaukan. 
Tiba-tiba, ia berteriak kencang, "Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!"** 

Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak 
datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang 
nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian harum. 

Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan. Persis 
seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup 
kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya 
tanda-tanda hujan. 

Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi 
dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu, jika TUHAN 
berkehendak pasti akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, 
bersama kesukaran ada kemudahan.
----------------------------------------------------------
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata 

GBU all my friends .

Kirim email ke